Beranda blog Halaman 98

Bupati Aceh Timur: 124 Hunian Sementara Korban Bencana Telah Dihuni

0
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky (kiri) meninjau hunian sementara korban bencana hidrometeorologi di Aceh Timur, Senin (26/1/2026). (Foto: Humas Pemkab Aceh Timur)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Pemerintah Kabupaten Aceh Timur menyatakan sebanyak 124 unit hunian sementara (huntara) bagi korban bencana hidrometeorologi telah selesai dibangun dan saat ini sudah ditempati warga.

“Sebanyak 124 unit huntara selesai dibangun dan sudah ditempati. Sedang 732 unit lainnya masih dalam proses pembangunan,” kata Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky saat dihubungi dari Banda Aceh, Senin (26/1).

Bupati menjelaskan, dari 732 unit huntara yang masih dalam tahap pembangunan, 410 unit di antaranya telah mencapai progres lebih dari 50 persen. Sementara 322 unit lainnya masih berada di bawah 50 persen penyelesaian.

Menurut Iskandar, total huntara yang saat ini sedang dibangun di Aceh Timur berjumlah 856 unit, yang terdiri atas 744 unit huntara insitu atau dibangun di lokasi rumah warga yang rusak, serta 112 unit huntara komunal yang dibangun di satu kawasan terpusat.

Dari 124 unit huntara yang telah rampung, sebanyak 102 unit merupakan huntara komunal dan 22 unit huntara insitu. Huntara insitu tersebut tersebar di beberapa kecamatan, yakni Madat (tujuh unit), Pante Bidari (tiga unit), dan Peureulak Barat (12 unit).

Sementara itu, huntara komunal tersebar di Kecamatan Julok sebanyak 10 unit, Simpang Ulim 63 unit, Idi Rayeuk 24 unit, serta Pante Bidari lima unit. Huntara komunal tersebut dibangun oleh BUMN Adhi Karya dan Hutama Karya serta BNPB.

“Sedangkan huntara komunal tersebar di Kecamatan Julok sebanyak 10 unit, Simpang Ulim 63 unit, Idi Rayeuk 24 unit, serta Pante Bidari lima unit. Huntara komunal tersebut dibangun BUMN Adhi Karya dan Hutama Karya serta BNPB,” katanya.

Iskandar menambahkan, secara keseluruhan kebutuhan huntara di Kabupaten Aceh Timur mencapai 3.413 unit, yang terdiri atas 2.592 unit huntara insitu dan 821 unit huntara komunal.

Adapun huntara yang belum memasuki tahap pembangunan masih berjumlah 2.557 unit, terdiri dari 1.848 unit huntara insitu dan 709 unit huntara komunal yang tersebar di 10 kecamatan terdampak bencana.

“Huntara yang belum dibangun tersebut tersebar di 10 kecamatan terdampak bencana di Kabupaten Aceh Timur. Kami berharap pembangunan huntara ini segera dilakukan, sehingga korban bencana hidrometeorologi mendapatkan tempat tinggal layak,” kata Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky.

Ahok Usul Jaksa Periksa Jokowi Terkait Kasus Dugaan Korupsi Pertamina

0
Politikus PDIP, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengusulkan agar Jaksa Penuntut Umum memeriksa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah Pertamina dan anak usahanya periode 2018–2023.

Usulan tersebut disampaikan Ahok saat memberikan kesaksian dalam persidangan. Ia merujuk pada keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung.

Amatan Nukilan.id dai video persidangan tersebut, Ahok dalam kesaksiannya menyoroti pencopotan Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional periode 2021–2022 Joko Priyono dan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga periode 2020–2021 Mas’ud Khamid oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurut Ahok, keduanya merupakan figur dengan kapasitas terbaik di lingkungan Pertamina, namun dicopot tanpa alasan yang jelas.

Ia pun meminta jaksa untuk memeriksa pihak Kementerian BUMN, termasuk Jokowi yang dinilai mengetahui proses pencopotan tersebut.

“Makanya saya selalu bilang sama Pak Jaksa kenapa saya mau lapor pada jaksa? Periksa tuh sekalian BUMN, periksa tuh Presiden bila perlu, kenapa orang terbaik dicopot?” ungkap Ahok.

Ahok menyebut Joko dan Mas’ud sebagai pimpinan anak usaha Pertamina yang berupaya menjalankan perubahan dan kebijakan yang ia dorong. Namun, justru keduanya menjadi sasaran pencopotan.

Ia juga mengungkapkan momen emosional saat mengetahui pencopotan tersebut.

“Ketika dia dicopot, saya pun mau nangis saya telepon dia. Dia bilang gini, ‘Pak sudahlah, saya di Jogja saja kerja las saja Pak,’ dia bilang,” kata Ahok.

Menurut Ahok, pencopotan tersebut mencerminkan praktik yang tidak berbasis meritokrasi di tubuh BUMN.

“Saya pikir BUMN ini keterlaluan gitu loh mencopot orang yang bukan meritokrasi. Kenapa orang yang mau melakukan apa yang saya ingin lakukan dicopot?” tanyanya.

Ia menilai Mas’ud dikenal sebagai sosok yang bersih karena enggan menandatangani keputusan yang terindikasi penyimpangan, sementara Joko disebut memiliki kemampuan terbaik di bidang kilang. (XRQ)

UIN Ar-Raniry Perkuat Kerja Sama Akademik dengan Universitas Turki

0
UIN Ar-Raniry Banda Aceh memperkuat langkah internasionalisasi melalui partisipasi dalam pertemuan perguruan tinggi Indonesia–Turki yang digelar di Ruang Heritage Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI, Jakarta, Senin (26/1/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memperkuat langkah internasionalisasi melalui partisipasi dalam pertemuan perguruan tinggi Indonesia–Turki yang digelar di Ruang Heritage Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Dalam agenda tersebut, UIN Ar-Raniry diwakili Rektor Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., Kepala Pusat Layanan Internasional Prof. Dr. Phil. Saiful Akmal, M.A., serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FISIP Reza Idria, M.A., Ph.D.

Pertemuan ini dihadiri sejumlah pemangku kepentingan strategis, antara lain Duta Besar Turki untuk Indonesia H.E. Prof. Talip Küçükcan, perwakilan Kemenko PMK RI, Kementerian Agama RI, serta pimpinan universitas dari kedua negara. Forum tersebut menjadi wadah dialog dan penjajakan kerja sama konkret di bidang pendidikan tinggi, riset, dan mobilitas akademik.

Dalam sesi University-to-University (U2U), dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UIN Ar-Raniry dan Alanya Alaaddin Keykubat University (ALKU). Kesepakatan itu ditandatangani langsung oleh Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., dan Rektor ALKU Prof. Dr. Kenan Ahmet Turkdogan sebagai bentuk komitmen pengembangan kerja sama berkelanjutan.

Selain penandatanganan MoU, UIN Ar-Raniry juga menjajaki penguatan kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi Turki lainnya. Dengan Turkish German University, kerja sama diarahkan pada riset bersama dan publikasi ilmiah. Sementara dengan ALKU, kolaborasi yang direncanakan mencakup joint supervision, pertukaran dosen dan tenaga kependidikan, serta program magang mahasiswa.

Adapun dengan Istanbul Sabahattin Zaim University, peluang kerja sama difokuskan pada mobilitas akademik, Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) internasional, penyelenggaraan summer school, serta skema beasiswa wakaf, baik penuh maupun parsial.

Keikutsertaan UIN Ar-Raniry dalam forum ini merupakan bagian dari strategi penguatan jejaring global guna meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi. Melalui kolaborasi internasional tersebut, UIN Ar-Raniry diharapkan mampu memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pengalaman akademik global serta berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing internasional.

Usai Terima UHC Awards 2026, Plt Bupati Aceh Selatan Tegaskan Kekompakan dengan H. Mirwan MS

0
Baital Mukadis juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan H. Mirwan MS, Bupati Aceh Selatan definitif yang saat ini tengah menjalani sanksi administratif. (FOTO: 86News.co)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan kembali mencatatkan prestasi di level nasional setelah berhasil meraih Universal Health Coverage (UHC) Awards 2026. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Aceh Selatan, H. Baital Mukadis, dalam agenda nasional yang dihadiri para kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.

UHC Awards 2026 diberikan kepada pemerintah daerah yang dinilai mampu menjamin akses layanan kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakatnya. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen Pemkab Aceh Selatan dalam memperkuat sektor pelayanan kesehatan.

Plt Bupati Aceh Selatan, H. Baital Mukadis, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen pemerintahan daerah.

“Penghargaan ini adalah hasil kerja kolektif. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di Aceh Selatan terus berjalan dan semakin membaik,” kata Plt Bupati Aceh Selatan H. Baital Mukadis, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga menjadi gambaran bahwa roda pemerintahan daerah tetap berjalan stabil di tengah berbagai dinamika yang dihadapi.

“Yang terpenting bagi kami adalah memastikan roda pemerintahan tetap berjalan dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” ujarnya.

Usai menerima penghargaan tersebut, Baital Mukadis juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan H. Mirwan MS, Bupati Aceh Selatan definitif yang saat ini tengah menjalani sanksi administratif. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

Menurut Baital Mukadis, silaturahmi itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan pemerintahan serta memperkuat koordinasi kebijakan daerah.

“Kami menjaga komunikasi agar arah pembangunan tetap sejalan dengan visi yang telah ditetapkan,” katanya.

Pertemuan tersebut dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas pemerintahan di Aceh Selatan. Pemerintahan yang lahir dari pasangan MANIS (Mirwan–Baital Mukadis) menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan program pembangunan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

Saat ini, fokus utama pemerintah daerah tetap diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan publik, khususnya di sektor kesehatan, serta menjaga stabilitas sosial dan politik di tengah masyarakat.

Raihan UHC Awards 2026 di tengah situasi pemerintahan yang dinamis menunjukkan bahwa birokrasi Pemkab Aceh Selatan tetap mampu bekerja secara profesional dan terkoordinasi.

Melalui capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pembangunan menuju visi Aceh Selatan Maju, Produktif, dan Madani, dengan mengedepankan persatuan dan kekompakan sebagai fondasi pemerintahan.

Perubahan Iklim Memperparah Risiko Bencana, KLHK Kaji Ulang Tata Ruang Sejumlah Provinsi

0
Ilustrasi Hutan Adat. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai rencana tata ruang di sejumlah wilayah Indonesia tidak lagi cukup kuat dalam menghadapi dampak bencana yang kian meningkat akibat perubahan iklim. Kondisi ini mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang menjadi dasar perencanaan tata ruang daerah.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, evaluasi KLHS tata ruang saat ini difokuskan pada sejumlah provinsi yang memiliki tingkat kerentanan lanskap tinggi. Evaluasi tersebut mencakup wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bali.

“Kemudian yang terakhir, kami juga sedang melakukan evaluasi kajian lingkungan hidup strategis tata ruang pada tiga provinsi. Sebenarnya kita lakukan pada empat provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bali,” kata Hanif Faisol Nurofiq saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (26/1/2026).

Ia menegaskan bahwa kondisi lanskap di wilayah-wilayah tersebut tergolong sangat rentan sehingga memerlukan langkah cepat dari pemerintah. “Sangat ringkih lanskapnya memerlukan kita bertindak cepat untuk melakukan evaluasi kembali terhadap kajian lingkungan hidup strategis,” ujarnya.

Menurut Hanif, evaluasi ini merupakan tahap lanjutan dari analisis KLHS yang berbasis pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi. Tata ruang dinilai memegang peran penting dalam menekan risiko bencana yang saat ini semakin kompleks.

“Kita sedang menganalisa kajian lingkungan hidup strategis berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi terutama. Karena tentu timbulnya potensi bencana perparahan dari tiga hal utama: hidrometeorologi, kemudian antropogenik, dan geomorfologi, memang salah satu hal yang paling penting adalah rencana tata ruang wilayahnya,” jelas Hanif.

Pemerintah menargetkan proses analisis KLHS tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. “Kami menargetkan tiga bulan dari sekarang, di bulan Maret, maka analisis terhadap kajian lingkungan hidup strategis ini bisa selesai dan memberikan arah kepada seluruh pemerintah daerah untuk kemudian mencermati kembali rencana tata ruang wilayahnya,” lanjutnya.

Dalam pelaksanaannya, KLHK akan menelaah kesesuaian antara dokumen KLHS dengan dokumen tata ruang daerah. Selama ini, perbedaan rekomendasi antara pemerintah pusat dan daerah masih kerap terjadi.

“Apabila memang tata ruang dan KLHS sudah selaras, maka kita akan melihat gap antara tata ruang dan pemanfaatan ruang aktual. Bilamana tidak masih juga selaras, maka kita akan menyusun rekomendasi persetujuan revisi tata ruang,” tutur Hanif.

Ia menekankan bahwa evaluasi tata ruang ini bersifat mendesak, mengingat meningkatnya bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan iklim. “Karena tentu tata ruang yang terjadi ternyata tidak mampu lagi menanggung beban bencana hidrometeorologi yang mungkin bukan merupakan yang suatu kegiatan yang berakhir, tapi merupakan awal dari konsekuensi perubahan iklim yang akan kita alami, akan kita tangani,” katanya.

Hanif menambahkan, hasil evaluasi KLHS nantinya akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk meninjau ulang RTRW masing-masing, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi. “Karena Indonesia berada di negara tropis, tentu merupakan suatu negara yang sangat rentan dengan perubahan iklim, apalagi dengan bentuk lanskap kita yang merupakan lanskap kepulauan dan bukan kontinen, sehingga sangat mudah sekali mendapat tekanan dari perubahan iklim, baik itu berupa hidrometeorologi maupun kenaikan permukaan air laut,” tutupnya.

Sekda Aceh Kukuhkan 201 Kepala Sekolah, Tekankan Tanggung Jawab Besar Dunia Pendidikan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, melantik sebanyak 201 kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di lingkungan Pemerintah Aceh. Pelantikan berlangsung di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Senin (26/1/2026).

Dalam sambutannya, M Nasir menegaskan bahwa kepala sekolah memegang peran strategis dalam menentukan arah dan masa depan pendidikan Aceh. Ia menyebut, jabatan tersebut bukan sekadar amanah administratif, melainkan tanggung jawab besar yang berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang.

Sekda Aceh juga mengapresiasi capaian pendidikan Aceh yang berhasil masuk lima besar nasional dalam kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025. Menurutnya, prestasi tersebut merupakan buah dari dedikasi dan kerja keras seluruh insan pendidikan di Aceh.

“Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah mendorong peringkat Aceh di tingkat nasional,” ujar M Nasir.

Meski demikian, ia mengingatkan masih adanya persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Pada tahun 2025, Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan semua jenjang pendidikan. Namun, di saat yang sama, sekitar 56 ribu anak usia 16 hingga 18 tahun masih tercatat tidak mengenyam pendidikan formal.

“Kalau ini tidak cepat kita tangani, maka akan menjadi bom waktu bagi proses pembangunan Aceh,” tegas M Nasir.

Ia berharap, para kepala sekolah yang baru dilantik dapat berkontribusi nyata menekan angka anak putus sekolah secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Menurut M Nasir, pelantikan kepala sekolah tidak dapat dimaknai sebagai rotasi biasa, melainkan bentuk kepercayaan negara kepada para pemimpin satuan pendidikan. Kepala sekolah dinilai memiliki peran sentral dalam menciptakan iklim belajar yang sehat serta menentukan kualitas lulusan.

“Sekolah tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni dan berkualitas,” katanya.

Selain itu, Sekda Aceh juga menyoroti kondisi sejumlah sekolah yang masih menghadapi tantangan pascabencana. Ia mendorong kepala sekolah untuk menjadi penggerak utama pemulihan pendidikan sekaligus peningkatan prestasi peserta didik.

“Ciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi anak,” pesan Sekda.

Tak hanya itu, M Nasir turut meminta seluruh kepala sekolah mendukung dan menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mencetak generasi yang unggul, cerdas, dan terbebas dari stunting.

Pelantikan tersebut turut dihadiri Anggota DPRA Yahdi Hasan, Asisten Pemerintahan Setda Aceh Drs. Syakir, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, Kepala Badan Kepegawaian Aceh Abdul Qohar, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Akkar Arafat.

Plt Kadisdik Aceh Ajak Sekolah Kelola Aset Secara Produktif, Dorong Mental Kewirausahaan

0
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, mendorong kepala sekolah dan jajaran pendidikan untuk mengubah cara pandang dalam mengelola aset dan potensi sekolah. Aula SMKN 3 Banda Aceh. Selasa, 27 Januari 2026. (FOTO: DISDIK ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, mendorong para kepala sekolah dan jajaran pendidikan untuk mengubah pola pikir dalam mengelola aset serta potensi yang dimiliki sekolah.

Menurutnya, berbagai fasilitas yang diberikan negara—seperti gedung, listrik, hingga peralatan—tidak seharusnya dibiarkan stagnan, tetapi perlu dikelola secara produktif dan berorientasi pada hasil.

Hal itu disampaikan Murthalamuddin saat menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Global Mandiri USK dengan BLUD SMKN 1, SMKN 2, dan SMKN 3 Banda Aceh di Aula SMKN 3 Banda Aceh, Selasa (27/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti masih lemahnya mental kewirausahaan di kalangan aparatur pendidikan. Menurutnya, banyak sekolah sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang, namun belum mampu memaksimalkannya karena kurang berani membaca peluang pasar serta mengelola potensi secara profesional.

“Kalau semua biaya dasar sudah ditanggung negara, seharusnya sekolah punya ruang besar untuk menciptakan keuntungan. Ini soal mental,” ujarnya.

Murthalamuddin menilai sekolah kejuruan, khususnya SMK, memiliki peluang usaha yang sangat luas melalui berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki siswa dan sekolah.

Ia mencontohkan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, seperti jasa produksi, bengkel, hingga pemanfaatan lahan dan limbah organik yang bisa memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan pendekatan bisnis yang tepat.

“Bukan asal jalan, tapi harus untung. Kalau tidak, sama saja seperti lembu makan plastik—masuk, keluar, tidak pernah gemuk,” tegasnya.

Dalam arahannya, Murthalamuddin juga membagikan pengalaman pribadinya ketika sempat mengalami kesulitan ekonomi pada masa pandemi. Ia mengaku dapat bangkit kembali melalui dunia sales dan kewirausahaan.

Dari pengalaman tersebut, ia menilai kemampuan membaca peluang, menjual gagasan, serta membangun jejaring menjadi kunci penting dalam meraih keberhasilan.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi juga oleh kecakapan dalam mengelola potensi yang ada.

“Sekolah jangan takut berinovasi. Kalau tidak mampu menjalankan, beri ruang kepada yang mau dan mampu,” katanya.

Menutup arahannya, Murthalamuddin mengajak para kepala sekolah untuk membangun mental game uang, yakni cara berpikir yang realistis dan produktif dalam mengelola sumber daya yang tersedia.

“Kalau orang tanpa modal bisa hidup, kenapa kita yang sudah dimodali negara tidak bisa?” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan komitmen pihaknya untuk terus memperkuat kerja sama dengan sekolah menengah kejuruan, khususnya dalam pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Menurutnya, pengelolaan BLUD yang baik dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

“Pengelolaan BLUD yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan, karena hasilnya dapat dikembalikan untuk pengembangan sekolah,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Bisnis dan Dana Lestari USK, Dr. Syaifullah Muhammad, serta Direktur Utama PT Global Mandiri USK, Rizalsyah.

Kanwil Ditjenpas Aceh Laporkan Penanganan UPT Terdampak Bencana ke Pusat

0
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh, Yan Rusmanto, melaporkan perkembangan pemulihan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pasca-bencana banjir dan tanah longsor di Aceh kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan saat kunjungan kerja ke Jakarta, Senin (26/01/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh, Yan Rusmanto, melaporkan perkembangan pemulihan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pasca-bencana banjir dan tanah longsor di Aceh kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan saat kunjungan kerja ke Jakarta, Senin (26/01/2026).

Kepada Nukilan.id, Yan Rusmanto mengungkapkan isi pertemuannya dengan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, beserta jajaran pimpinan Ditjenpas. Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan kondisi terkini unit pelaksana teknis (UPT) yang terdampak bencana. Yan menegaskan bahwa aspek keamanan serta pemenuhan hak-hak dasar warga binaan tetap terjamin meskipun berada dalam situasi darurat.

“Kami berkomitmen penuh memastikan layanan pemasyarakatan di Aceh segera kembali normal. Langkah-langkah strategis telah kami ambil, mulai dari pengamanan warga binaan, mitigasi risiko, hingga koordinasi intensif dengan pihak terkait,” tegas Yan Rusmanto.

Dirjenpas Mashudi mengapresiasi respons cepat Kanwil Ditjenpas Aceh dalam menangani dampak bencana. Menurutnya, langkah mitigasi yang dilakukan telah berjalan terukur dan efektif.

“Kami sangat mengapresiasi respons cepat Kakanwil Aceh dan jajaran. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan akan memberikan dukungan penuh agar seluruh fasilitas dan pelayanan di Aceh dapat segera beroperasi seratus persen,” ujar Mashudi.

Sebagai bentuk akuntabilitas, Yan Rusmanto turut menyerahkan laporan rinci terkait penyaluran bantuan logistik dan donasi dari Kemenimipas ke UPT terdampak. Kunjungan ini menjadi wujud sinergi pusat dan daerah dalam mempercepat pemulihan layanan pemasyarakatan di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Selatan Raih UHC Award 2026 Berkat Komitmen Dukung JKN

0
Plt Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis didampingi Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tapaktuan, Mahmul Ahyar menerima penghargaan UHC Award 2026. (Foto: Humas Pemkab Asel)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Award Tahun 2026 atas komitmennya dalam mendukung pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Plt Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, di Jakarta, Selasa (27/1/2026). Dalam kesempatan itu, Baital Mukadis turut didampingi Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tapaktuan, Mahmul Ahyar.

Ajang UHC Awards 2026 memberikan apresiasi kepada kepala daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang dinilai berhasil menghadirkan perlindungan kesehatan bagi masyarakat melalui Program JKN. Selain Pemkab Aceh Selatan, penghargaan serupa juga diberikan kepada 31 pemerintah provinsi serta 396 pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Menurut Ghufron, Program JKN merupakan instrumen negara dalam memastikan akses perlindungan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh warga. Keberhasilan pelaksanaan program ini, kata dia, tidak terlepas dari peran aktif dan komitmen kuat pemerintah daerah.

“Hingga 31 Desember 2025, jumlah kepesertaan Program JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau lebih dari 98 persen dari total penduduk Indonesia, dengan tingkat kepesertaan aktif sebesar 81,45 persen,” sebutnya.

“Capaian tersebut sekaligus melampaui target nasional yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025-2029,” tegas Ghufron.

Ghufron menambahkan, kepala daerah memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan Program JKN, khususnya dalam mendorong masyarakat untuk terdaftar serta memastikan kepesertaan tetap aktif melalui dukungan kebijakan dan penganggaran daerah.

TII Soroti Minimnya Isu Demokrasi dalam Pidato Presiden di WEF 2026

0
Felia
Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia Primaresti. (Foto: TII)

NUKILAN.ID | JAKARTA — The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) menilai pidato Presiden Republik Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, lebih menekankan stabilitas ekonomi dan politik sebagai indikator utama capaian pembangunan nasional.

Manajer Riset dan Program TII, Felia Primaresti, dalam keterangannya kepada Nukilan.id menyebut pidato Presiden menunjukkan arah kebijakan publik yang menitikberatkan pada stabilitas ekonomi, efisiensi birokrasi, serta ekspansi program sosial berskala besar.

Namun, di balik narasi capaian tersebut, ia menilai masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya terkait kualitas demokrasi, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Felia menilai Presiden terlalu menempatkan stabilitas politik dan ekonomi sebagai prasyarat utama pertumbuhan dan investasi. Padahal, menurutnya, stabilitas tidak dapat dilepaskan dari demokrasi yang sehat.

“Demokrasi tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pendukung pembangunan, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol terhadap kekuasaan agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat.” kata Felia.

Selain itu, Felia juga menyoroti kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan yang dinilai berisiko melemahkan akuntabilitas pemerintahan. Ia mencatat dominasi peran presiden dalam pidato tersebut, sementara fungsi lembaga negara lainnya nyaris tidak disinggung.

“Ada 78 kata ‘saya’ di dalam transkripnya, sementara fungsi lain dalam pemerintahan seperti legislatif, yudikatif, peran eksekutif lain, dan partisipasi masyarakat sipil tidak disebutkan.” ujar Felia.

Menurutnya, meskipun pendekatan tersebut menunjukkan kepemimpinan yang tegas, pola pengambilan keputusan yang terlalu terpusat berpotensi mengurangi ruang partisipasi publik. Dalam prinsip good governance, kata Felia, kebijakan publik yang berkelanjutan seharusnya dibangun melalui institusi yang kuat, bukan semata bertumpu pada figur kepemimpinan.

Felia juga menyoroti pernyataan Presiden yang mengaitkan hasil survei kebahagiaan global dengan pengakuan bahwa masih banyak warga yang hidup tanpa akses air bersih, sanitasi layak, dan pangan memadai. Ia menilai pernyataan tersebut sebagai upaya membangun narasi moral tentang ketahanan dan optimisme rakyat di tengah keterbatasan.

“Narasi ini menghadirkan empati simbolik, yaitu pengakuan emosional atas penderitaan Masyarakat, namun tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kerangka kebijakan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat.” ungkap Felia.

Terkait klaim swasembada beras yang disampaikan Presiden sebagai bukti keberhasilan kebijakan, Felia menilai capaian tersebut perlu dikritisi secara lebih menyeluruh.

“Demikian pula, capaian swasembada beras yang disampaikan sebagai bukti keberhasilan kebijakan perlu dikritisi secara lebih komprehensif.” lanjut Felia.

Ia menegaskan bahwa swasembada produksi tidak serta-merta menjawab persoalan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Tanpa jaminan distribusi yang adil, keterjangkauan harga, serta pemenuhan standar gizi, swasembada berisiko menjadi bagian dari narasi moral keberhasilan negara, alih-alih solusi struktural atas kerentanan pangan yang masih dialami kelompok miskin dan rentan.

Di akhir pernyataannya, Felia menilai pidato Presiden di WEF 2026 secara umum lebih menekankan pemenuhan hak ekonomi dan sosial, sementara isu hak sipil dan politik—seperti kebebasan berekspresi, kebebasan pers, perlindungan kelompok minoritas, serta penyelesaian konflik struktural—belum mendapat perhatian yang memadai.

Felia mendorong agar ke depan pemerintah memastikan agenda pembangunan dan stabilitas ekonomi berjalan seiring dengan penguatan demokrasi, perlindungan HAM, serta tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif. Tanpa fondasi tersebut, ia menilai capaian kebijakan publik berisiko tidak berkelanjutan dan rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. (XRQ)

Reporter: Akil