Beranda blog Halaman 97

BMKG: Sejumlah Perairan Aceh Berpotensi Dilanda Gelombang Hingga 2,5 Meter

0
Ilustrasi gelombang tinggi, gelombang pasang, gelombang ekstrem. Perubahan iklim dan siklus Bulan dapat menyebabkan bencana ganda di Bumi, yakni banjir besar.(FOTO: SHUTTERSTOCK/andrejs polivanovs)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Aceh pada periode 12–13 Mei 2026. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi aktivitas pelayaran, khususnya bagi nelayan, kapal kecil, hingga wisatawan yang beraktivitas di kawasan pesisir.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, M. Jamal mengatakan, gelombang laut di beberapa titik perairan Aceh diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter.

“Kami menghimbau Masyarakat untuk waspada potensi gelombang tinggi,” ujarnya.

Menurut analisis BMKG, potensi cuaca laut tersebut dipengaruhi adanya belokan angin dan zona konvergensi di wilayah Aceh. Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat maupun timur Aceh juga dinilai meningkatkan penguapan, sehingga mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

BMKG mencatat pola angin di wilayah perairan Aceh bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 4 sampai 27 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di jalur perairan Sabang–Banda Aceh serta Aceh Besar–Meulaboh.

Beberapa wilayah yang diperkirakan mengalami gelombang sedang hingga tinggi meliputi perairan Aceh Besar–Meulaboh, Aceh Singkil–Pulau Banyak, Sabang–Banda Aceh, perairan selatan Simeulue, hingga kawasan perairan Aceh Barat Daya dan sekitarnya.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan operator kapal kecil, agar meningkatkan kewaspadaan sebelum melaut. Wisatawan yang berencana melakukan aktivitas di kawasan pantai dan laut juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG demi keselamatan bersama.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pria di Bireuen Jadi Tersangka usai Tuduh Sekda Tilap Dana Bencana Rp132 Miliar

0
Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Seorang pria berinisial J, warga Kabupaten Bireuen, Aceh, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun. Penetapan tersangka itu bermula dari unggahan video di TikTok dan Facebook yang berisi tuduhan bahwa Sekda Aceh menggelapkan dana bantuan bencana senilai Rp132 miliar.

“Ia memfitnah Sekda Nasir menggelapkan uang bantuan bencana Rp 132 miliar. Tayangan itu mengandung penghinaan, fitnah, dan tuduhan tanpa dasar hukum maupun bukti yang sah,” kata Koordinator Tim Hukum Pemerintah Aceh Fadjri dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Video tersebut diketahui diunggah J pada Januari 2026 dan sempat viral di media sosial. Setelah itu, laporan terhadap J masuk ke Unit Cyber Polda Aceh.

Fadjri menyebut proses hukum terhadap kasus tersebut masih terus berlangsung. Aparat kepolisian juga disebut telah mengidentifikasi sejumlah pihak lain yang diduga memiliki keterlibatan dengan peran berbeda.

“Setelah ditetapkan sebagai tersangka, J memposting pengakuan bersalah telah menuduh Sekda Nasir. Dalam videonya dia meminta maaf dan memohon pak Sekda dapat mencabut laporannya,” jelas Fadjri.

Hingga kini, menurut Fadjri, M Nasir belum memberikan respons atas permintaan maaf yang disampaikan tersangka. Meski demikian, ia menegaskan Sekda Aceh tidak anti terhadap kritik.

“Namun kritik harus disampaikan secara objektif, berdasarkan fakta, dan tidak mengandung fitnah maupun pencemaran nama baik yang dapat merugikan kehormatan seseorang,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mayoritas Jamaah Haji Aceh Tahun 2026 Merupakan Korban Banjir dan Longsor

0
Ilustrasi kondisi Kabupaten Aceh Tamiang usai banjir bandang yang terjadi akhir November 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Keberangkatan ribuan jamaah haji asal Aceh tahun ini menyimpan kisah perjuangan yang menggetarkan. Di tengah kondisi daerah yang baru saja diterpa bencana banjir dan longsor, para calon tamu Allah tetap mantap menunaikan ibadah haji.

Sebanyak 5.500 jamaah asal Aceh, termasuk petugas kelompok terbang, dipastikan berangkat menuju Tanah Suci. Di balik proses keberangkatan itu, banyak jamaah harus meninggalkan kampung halaman yang porak-poranda akibat bencana alam.

“(Jamaah korban bencana) hampir 70% karena 18 kabupaten/kota yang terdampak,” terang Jamaluddin Affan Asyi, Koordinator dan Pengendali Jamaah Haji Aceh di Makkah, Minggu (10/5) malam waktu Arab Saudi.

Jamaluddin menuturkan, proses pelunasan biaya haji tahun ini menjadi salah satu yang paling emosional. Ia bersama tim harus turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak untuk menemui para jamaah dan memastikan proses administrasi tetap berjalan.

Di sejumlah daerah, kata dia, banyak calon jamaah kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan dokumen penting akibat banjir dan longsor. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi di Aceh Tamiang, saat sebagian besar calon jamaah mengalami kerugian besar.

“Yang paling menyedihkan saya itu di (Aceh) Tamiang. Rumah sudah enggak ada, dan waktu itu hanya satu yang bisa melunasi biaya haji,” tuturnya lirih.

Di tengah situasi tersebut, Jamaluddin mengaku sempat bertanya kepada salah seorang jamaah terkait alasan tetap berangkat meski baru saja tertimpa musibah.

“Kami tetap berangkat haji karena panggilan Allah. Tidak mungkin kami menunda haji ini,” ucapnya menirukan jamaah haji.

Selain kehilangan rumah dan barang berharga, banyak jamaah juga kehilangan dokumen kependudukan maupun dokumen perjalanan seperti paspor, KTP, dan kartu keluarga.

Pemerintah Aceh bersama pihak imigrasi kemudian bergerak cepat dengan membuka layanan jemput bola di lokasi terdampak. Bahkan, pelayanan administrasi sempat dilakukan dari sebuah warung kopi yang masih memiliki akses internet.

Untuk pengurusan paspor yang hilang, para jamaah tidak lagi diwajibkan melalui prosedur administrasi normal. Identitas mereka cukup diverifikasi ulang melalui pencocokan sidik jari di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

“Dari situ datanya langsung keluar semua,” tutur Jamal.

Berkat berbagai upaya tersebut, seluruh jamaah haji Aceh akhirnya berhasil menyelesaikan proses pelunasan biaya haji. Aceh bahkan disebut menjadi provinsi pertama yang seluruh administrasi jamaahnya tuntas sebelum keberangkatan.

Kini, para jamaah asal Serambi Mekkah mulai tiba secara bertahap di Tanah Suci, sebagian besar melalui pemberangkatan gelombang kedua. Mereka datang bukan hanya membawa niat ibadah, tetapi juga kisah perjuangan, luka, dan harapan dari tanah Aceh yang baru saja diuji bencana.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Sebanyak 2.352 Calon Haji Aceh Telah Tiba di Tanah Suci

0
Jemaah haji Aceh. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID BANDA ACEH — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh melaporkan sebanyak 2.352 jamaah calon haji asal Aceh kini telah berada di Arab Saudi dari total keseluruhan 5.426 jamaah yang dijadwalkan berangkat pada musim haji tahun ini. Hingga Senin (11/5), sebanyak enam kelompok terbang (kloter) telah diberangkatkan menuju Tanah Suci.

“Sampai hari ini, jumlah calon haji yang sudah tiba di Arab Saudi sebanyak 2.352 orang, dan sudah terbang sebanyak enam kloter,” kata Arijal.

Dari total jamaah yang telah tiba, sebagian besar sudah berada di Makkah, sementara 393 jamaah lainnya masih berada di Madinah. Kloter pertama diketahui mendarat di Madinah, sedangkan kloter kedua hingga kloter ke-14 dijadwalkan langsung menuju Bandara Jeddah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.

“Insyaallah, kloter satu sudah berada di Madinah, dan insyaallah hari Kamis (14/5) mereka sudah menuju ke Makkah,” ujar Arijal.

Seluruh jamaah calon haji asal Aceh ditempatkan di sektor enam kawasan Jarwal, dengan jarak sekitar 2,6 kilometer dari Masjidil Haram.

Selain perkembangan keberangkatan, PPIH juga mencatat adanya enam jamaah yang mengalami penundaan keberangkatan meski sebelumnya telah mendapatkan kursi penerbangan. Penundaan tersebut disebabkan oleh faktor kesehatan. Rinciannya, tiga jamaah berasal dari kloter enam, dua jamaah dari kloter dua, dan satu jamaah dari kloter tiga.

“Jumlah keseluruhan open seat atau tertunda keberangkatan karena alasan kesehatan ada enam orang, yaitu tiga orang di kloter enam, dua dari kloter dua, dan satu orang dari kloter tiga,” katanya.

PPIH Embarkasi Aceh juga mengimbau keluarga maupun masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada para jamaah beristirahat selama berada di asrama haji, dan tidak terlalu lama melakukan pertemuan sebelum keberangkatan.

“Berikan ruang dan waktu kepada jamaah yang sedang berada Embarkasi Aceh, jangan memaksakan diri untuk bertemu atau bercengkrama terlalu lama dengan jamaah di Asrama Haji,” demikian Arijal.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Safrizal Dorong Aceh Terapkan Paradigma Growth with Nature dalam Pembangunan

0
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA paparkan arah pembangunan Aceh ke depan. (Foto: ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal Zakaria Ali, menegaskan bahwa masa depan pembangunan Aceh harus dibangun dengan pendekatan yang selaras dengan alam, bukan dengan cara mengeksploitasinya.

Pesan tersebut disampaikan Safrizal dalam lokakarya bertajuk Growth with Nature yang digelar di The Pade Hotel, Senin (11/5/2026).

Dalam paparannya, Safrizal mengingatkan bahwa Aceh memiliki pengalaman pahit menghadapi bencana besar, mulai dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi sepanjang 2025. Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi dasar dalam merumuskan arah pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Ia menilai konsep Growth with Nature layak menjadi paradigma baru pembangunan Aceh. Kawasan Kawasan Ekosistem Leuser, kata dia, merupakan aset ekologis bernilai global yang memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi sangat besar setiap tahunnya. Karena itu, pelestarian hutan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan hambatan pembangunan.

Safrizal juga menyoroti kuatnya akar kearifan lokal masyarakat Aceh dalam menjaga keseimbangan alam. Ia mengutip Hadih Maja:

“Di bineh pasi ta pula aron, di dalam neuheun ta pula bangka…”

Ungkapan tersebut, menurutnya, menggambarkan pentingnya menjaga kawasan pesisir dan tambak agar masyarakat terlindungi dari ancaman air pasang.

Selain itu, Safrizal menyebut pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, dan Keujruen Blang sebagai bukti bahwa masyarakat Aceh telah menerapkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara luas.

Untuk mewujudkan pembangunan hijau yang tangguh, ia mendorong sejumlah langkah konkret, mulai dari penguatan tata ruang berbasis mitigasi bencana, perlindungan kawasan konservasi, pengembangan proyek berbasis solusi alam, pemberdayaan masyarakat adat, hingga pembiayaan hijau yang melibatkan kerja sama lintas wilayah dan lintas sektor.

“Tidak cukup sama-sama bekerja, tetapi harus bekerja sama,” tegasnya.

Menurut Safrizal, kolaborasi menjadi kunci utama untuk menghadirkan pembangunan Aceh yang inklusif, tahan bencana, dan berkelanjutan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

USK dan UiTM Malaysia Ubah Limbah Ikan Jadi Nutrisi Tanaman, Dukung SDGs lewat Program LPDP

0
USK dan UiTM Malaysia Ubah Limbah Ikan Jadi Nutrisi Tanaman, Dukung SDGs lewat Program LPDP. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui kolaborasi internasional bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Pulau Pinang, Malaysia, dan Koperasi Produksi Fish Jelly Aceh sukses melaksanakan program Community Development International Inbound (CDII-E) berjudul “Inovasi Teknologi Tepat Guna: Mengolah Limbah Sisik Ikan Menjadi Ekstraksi Kalsium Nutrisi Tanaman.”

Program ini merupakan bagian dari Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) yang didukung oleh LPDP untuk memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi, pemberdayaan masyarakat, serta implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengabdian berbasis inovasi.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya limbah hasil pengolahan perikanan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, khususnya limbah sisik dan sisa ikan dari aktivitas produksi Koperasi Fish Jelly Aceh.

Melalui pendekatan teknologi tepat guna dan ekonomi sirkular, limbah tersebut diolah menjadi ekstraksi kalsium untuk nutrisi tanaman serta pupuk organik ramah lingkungan yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas koperasi dan masyarakat dalam mengelola limbah perikanan menjadi produk produktif, memperkenalkan inovasi pengolahan berbasis sains terapan, memperkuat jejaring akademik internasional, serta mendorong model pembangunan masyarakat yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan lokal.

Tim pelaksana dari USK diketuai oleh Dr. Sofia, S.Si., M.Sc., bersama Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU., ASEAN Eng., Mujiburrahmad, S.P., M.Si., dan Ir. Cut Nilda, S.TP., M.Sc. Sementara mitra internasional dari UiTM Pulau Pinang terdiri atas Dr. Muhammad Zahiruddin bin Ramli, Prof. Dr. Abdul Hadi, serta mahasiswa Fuad Ainuddin Bin Ismail Shah dari Fakulti Kejuruteraan Kimia.

Program ini juga menjadi sarana pembelajaran kolaboratif lintas disiplin dan lintas negara melalui keterlibatan aktif mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala, khususnya Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Pendidikan Dokter, serta mahasiswa Universiti Teknologi MARA (UiTM) Pulau Pinang dari Fakulti Kejuruteraan Kimia.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memperkuat implementasi experiential learning melalui penerapan ilmu pengetahuan secara langsung di masyarakat, sekaligus mendorong pertukaran wawasan akademik internasional, pengembangan kepedulian sosial, serta peningkatan kapasitas generasi muda dalam mendukung inovasi berbasis keberlanjutan.

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pelatihan langsung mengenai:teknik pengolahan limbah sisik ikan menjadi ekstrak kalsium untuk nutrisi tanaman, pengolahan limbah sisa ikan menjadi pupuk organik, konsep ekonomi sirkular berbasis komunitas, peningkatan nilai tambah produk lokal melalui inovasi teknologi tepat guna, serta penguatan wawasan keberlanjutan dan SDGs dalam usaha koperasi.

Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota koperasi dalam memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berpotensi dikembangkan sebagai unit usaha baru. Program ini juga memperluas perspektif masyarakat terhadap pentingnya inovasi, efisiensi sumber daya, dan kolaborasi internasional dalam pengembangan ekonomi lokal.

Secara strategis, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Melalui pemanfaatan limbah sisa pengolahan ikan menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi, program ini mendukung peningkatan kapasitas masyarakat dan koperasi dalam menciptakan peluang usaha baru, memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, meningkatkan kesejahteraan ekonomi komunitas, serta mendorong praktik produksi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Keberhasilan program ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi, mitra internasional, koperasi, dan dukungan pemerintah melalui LPDP mampu menghadirkan solusi inovatif bagi masyarakat berbasis potensi lokal Aceh.

Selain menjadi wadah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan ini juga memperkuat posisi USK dalam internasionalisasi pendidikan tinggi dan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.

Tim pelaksana menyampaikan apresiasi atas dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang dijalankan dengan Program EQUITY (Kontrak No. 4318/B3/DT.03.08/2025 dan No. 491/UN11/HK.02.06/2025) dengan lebih rinci lagi melalui Program Community Development International Inbound (CDII-E) yang dijalankan berdasarkan Kontrak No. 556/UN11.2.4/WCU.06.02/CDII-E/2026.

Dukungan ini diharapkan terus mendorong lahirnya program-program kolaboratif internasional yang berdampak langsung bagi masyarakat dan penguatan reputasi global pendidikan tinggi Indonesia.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kapolresta Banda Aceh Pastikan Pengamanan Ketat Massa yang Menginap di Kantor Gubernur

0
Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Andi Kirana. (Foto: Nukilan/Sammy)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Andi Kirana memastikan aparat keamanan akan melakukan pengawasan ketat terhadap massa aksi Aliansi Rakyat Aceh (ARA) yang diizinkan menginap di Kantor Gubernur Aceh saat demonstrasi penolakan Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) Jilid II, Senin (11/5/2026) malam.

Pernyataan itu disampaikan Andi Kirana usai melakukan audiensi tertutup dengan sembilan perwakilan mahasiswa di dalam kompleks Kantor Gubernur Aceh. Dalam pertemuan tersebut, pihak kepolisian menyetujui permintaan massa aksi untuk bertahan dan menginap dengan syarat situasi tetap kondusif dan tidak terjadi tindakan anarkis.

“Kegiatan malam ini tidak menjadi sesuatu hal yang tidak kita harapkan,” kata Andi Kirana kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan pihak kepolisian telah menyiapkan personel pemantau untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya provokator di tengah massa aksi. Menurutnya, aparat akan membedakan provokator berdasarkan perilaku dan tindakan yang terjadi di lapangan.

Andi menyebut aparat keamanan telah menyebar tim monitoring di sejumlah titik di kawasan Kantor Gubernur Aceh guna memantau perkembangan situasi selama massa aksi bertahan hingga malam hari.

“Tentunya kita sudah menyiapkan juga tim yang sudah menyebar dan melihat dan memantau kalau memang ada terjadi hal-hal yang sifatnya provokatif,” katanya.

Selain pengamanan dari kepolisian, kata Andi, perwakilan mahasiswa juga menyatakan kesiapan membantu menjaga kondusivitas demonstrasi. Sembilan orang perwakilan massa aksi yang mengikuti audiensi disebut ikut menjamin keamanan selama aksi berlangsung.

“Dari rekan-rekan perwakilan lembaga tadi, sembilan orang itu juga akan menjamin dan mereka juga akan melakukan penangkapan atau pun pengeksposan apabila terjadi provokator di aliansi mahasiswa,” ujar Andi.

Terkait jumlah personel yang diterjunkan, Andi Kirana mengatakan pengamanan melibatkan unsur Satpol PP Provinsi Aceh, personel Sabhara, serta jajaran Polresta Banda Aceh.

Sebelumnya, massa aksi ARA memutuskan bertahan dan menginap di Kantor Gubernur Aceh hingga Pemerintah Aceh mencabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang JKA. Massa juga mengancam akan menutup seluruh gerbang kantor gubernur apabila hingga pukul 22.00 WIB tidak ada pejabat Pemerintah Aceh yang menemui mereka. []

Reporter: Sammy

Desakan Cabut Pergub JKA Masih Diabaikan, Massa akan Menginap di Kantor Gubernur Aceh

0
Jubir ARA, Habibi. (Foto: Nukilan/Sammy)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sejumlah sembilan orang perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Aceh (ARA) melakukan audiensi tertutup dengan Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Andi Kirana di dalam kompleks Kantor Gubernur Aceh saat demonstrasi penolakan Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) Jilid II, Senin (11/5/2026).

Pertemuan berlangsung di salah satu ruangan di kantor gubernur dan tidak dapat diakses awak media. Sejumlah jurnalis yang berada di lokasi tidak diperkenankan masuk selama pembicaraan berlangsung.

Audiensi tersebut dilakukan setelah massa aksi menyatakan akan bertahan di Kantor Gubernur Aceh hingga tuntutan pencabutan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 direspons langsung oleh Pemerintah Aceh. Mahasiswa meminta izin kepada pihak kepolisian untuk menginap di area kantor gubernur sebagai bentuk tekanan politik agar tuntutan mereka tidak diabaikan.

Usai pertemuan, Juru Bicara Aliansi Rakyat Aceh (ARA) menyampaikan bahwa pihak kepolisian mengizinkan massa aksi bertahan dan menginap di kawasan Kantor Gubernur Aceh dengan sejumlah syarat yang telah disepakati bersama.

“Ya, sudah berkordinasi dengan Kapolres tadi. Kami ingin menginap di kantor gubernur dan alhamdulillah permintaan dari rekan-rekan aliansi itu diindahkan oleh pihak Polresta dengan kesepakatan bahwasanya baik dari Polresta dan juga massa aksi sama-sama menjaga kondusivitas, tidak ada tindakan anarkis,” ujar jubir ARA, Habibi kepada wartawan, Senin (11/5/2026).

Ia menegaskan bahwa massa aksi juga berkomitmen menjaga situasi tetap aman apabila muncul pihak luar yang mencoba memprovokasi demonstrasi.

“Seandainya nanti ada penyusup, provokator dan siapa pun itu, maka kami dari massa aksi juga akan berkomitmen untuk menjaga kondusivitas. Jadi siapa pun nanti yang akan menjadi provokator ataupun menyusup yang tidak kami ketahui dari luar massa aksi, karena dari massa aksi sudah sepakat tidak ada tindakan tersebut, maka sama-sama akan kami amankan,” katanya.

Menurutnya, massa aksi akan tetap bertahan di halaman Kantor Gubernur Aceh hingga Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, atau Sekretaris Daerah Aceh menemui mereka secara langsung untuk membahas tuntutan pencabutan Pergub JKA.

“Yang intinya malam ini kami akan bertahan. Kami akan menunggu Gubernur, Wakil Gubernur dan Sekda menjumpai kami sampai malam nanti. Dengan catatan, kami tidak akan melakukan tindakan apapun,” ujarnya.

Selama bertahan di lokasi, massa aksi berencana menggelar berbagai kegiatan damai seperti pembacaan puisi, doa bersama, hingga mimbar bebas sambil menunggu respons pemerintah.

Jubir ARA juga menyampaikan ultimatum apabila hingga pukul 22.00 WIB tidak ada pejabat Pemerintah Aceh yang menemui massa aksi. Menurutnya, mahasiswa berencana menutup akses masuk ke Kantor Gubernur Aceh sebagai bentuk eskalasi aksi.

“Tadi kesepakatan kami dengan massa aksi, seandainya nanti tidak dijumpai maka besok pagi kami akan mengunci, merantai gerbang, ada tiga gerbang di kantor gubernur. Itu akan kami kunci agar yang di luar tidak bisa masuk, yang di dalam tidak bisa keluar,” katanya.

Hingga malam, ratusan massa aksi masih bertahan di kawasan Kantor Gubernur Aceh dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Situasi demonstrasi terpantau kondusif. []

Reporter: Sammy

Desak Pergub JKA Segera Dicabut, Massa Gelar Demo Jilid II di Kantor Gubernur

0
Aksi demonstrasi menolak Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang JKA di Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (11/5/2026). (Foto: Nukilan/Sammy)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Ratusan mahasiswa dan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Aceh (ARA) Kembali menggelar aksi demonstrasi jilid II di halaman Kantor Gubernur Aceh, Senin (11/5/2026).

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang dinilai membatasi akses layanan kesehatan masyarakat.

Pantauan Nukilan di lokasi, massa aksi memadati pintu masuk kantor gubernur sambil membawa tuntutan agar pemerintah segera mencabut regulasi tersebut. Aparat kepolisian tampak berjaga ketat untuk mengamankan jalannya aksi dan mengantisipasi terjadinya kericuhan. Sejumlah peserta aksi terlihat berdesakan dengan aparat keamanan di area lobi kantor gubernur sambil merekam situasi menggunakan telepon genggam.

ARA menilai Pergub tersebut berpotensi mengurangi cakupan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat Aceh. Demonstran juga menyoroti penggunaan sistem desil dalam penentuan penerima manfaat JKA yang dianggap tidak akurat dan berisiko membuat masyarakat kecil kehilangan akses pengobatan.

Sejumlah mahasiswa dan aktivis menyebut kebijakan itu bertentangan dengan semangat awal program JKA yang selama ini dikenal sebagai jaminan kesehatan universal bagi warga Aceh. Massa bahkan mengancam akan bertahan di Kantor Gubernur Aceh hingga pemerintah mencabut Pergub tersebut.

Hingga sore hari, situasi di Kantor Gubernur Aceh masih dipenuhi massa aksi. Aparat keamanan terus melakukan penjagaan di sejumlah titik untuk memastikan demonstrasi berlangsung kondusif. []

Reporter: Sammy

Dinkes Aceh Barat Daya Vaksinasi 93 Jamaah Calon Haji Jelang Keberangkatan ke Tanah Suci

0
dinkes abdya
Sebanyak 93 jamaah calon haji asal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengikuti vaksinasi sebagai bagian dari persiapan kesehatan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Aceh Barat Daya di aula Dinas Kesehatan Abdya pada Senin (11/5/2026). (Foto: Humas Abdya)

NUKILAN.ID | BLANGPIDIE – Sebanyak 93 jamaah calon haji asal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengikuti vaksinasi sebagai bagian dari persiapan kesehatan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Aceh Barat Daya di aula Dinas Kesehatan Abdya pada Senin (11/5/2026).

Pelaksanaan vaksinasi berlangsung tertib dan mendapat antusiasme tinggi dari para jamaah calon haji yang hadir. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memastikan kondisi kesehatan jamaah tetap terjaga selama menjalankan rangkaian ibadah haji di Arab Saudi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Abdya, Mansuri, S.K.M., kepada Nukilan.id mengatakan vaksinasi merupakan langkah penting dalam memberikan perlindungan kesehatan kepada jamaah mengingat tingginya aktivitas fisik dan mobilitas selama berada di Tanah Suci.

“Vaksinasi ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada jamaah calon haji agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit menular selama menjalankan ibadah haji,” ujar Mansuri.

Dalam kegiatan tersebut, para jamaah menerima sejumlah vaksin yang menjadi syarat wajib sebelum keberangkatan, yakni vaksin meningitis, polio, Covid-19, dan influenza. Pemberian vaksin ini bertujuan untuk mengurangi risiko penularan penyakit selama pelaksanaan ibadah haji.

Selain mendapatkan vaksinasi, para jamaah juga memperoleh edukasi kesehatan yang mencakup penerapan pola hidup sehat, pentingnya menjaga kebugaran tubuh, serta pemahaman mengenai protokol kesehatan yang perlu diterapkan selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

Proses vaksinasi dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah dipersiapkan secara khusus dengan mengedepankan standar pelayanan medis yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta. Para jamaah tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat dan antusias.

Dinas Kesehatan Aceh Barat Daya berharap melalui pelaksanaan vaksinasi ini seluruh jamaah calon haji dapat menjalankan ibadah dengan lancar, tetap sehat selama berada di Tanah Suci, serta kembali ke tanah air dalam keadaan selamat dan memperoleh haji yang mabrur.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News