Beranda blog Halaman 99

Perubahan Iklim Memperparah Risiko Bencana, KLHK Kaji Ulang Tata Ruang Sejumlah Provinsi

0
Ilustrasi Hutan Adat. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai rencana tata ruang di sejumlah wilayah Indonesia tidak lagi cukup kuat dalam menghadapi dampak bencana yang kian meningkat akibat perubahan iklim. Kondisi ini mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang menjadi dasar perencanaan tata ruang daerah.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan, evaluasi KLHS tata ruang saat ini difokuskan pada sejumlah provinsi yang memiliki tingkat kerentanan lanskap tinggi. Evaluasi tersebut mencakup wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bali.

“Kemudian yang terakhir, kami juga sedang melakukan evaluasi kajian lingkungan hidup strategis tata ruang pada tiga provinsi. Sebenarnya kita lakukan pada empat provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bali,” kata Hanif Faisol Nurofiq saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (26/1/2026).

Ia menegaskan bahwa kondisi lanskap di wilayah-wilayah tersebut tergolong sangat rentan sehingga memerlukan langkah cepat dari pemerintah. “Sangat ringkih lanskapnya memerlukan kita bertindak cepat untuk melakukan evaluasi kembali terhadap kajian lingkungan hidup strategis,” ujarnya.

Menurut Hanif, evaluasi ini merupakan tahap lanjutan dari analisis KLHS yang berbasis pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi. Tata ruang dinilai memegang peran penting dalam menekan risiko bencana yang saat ini semakin kompleks.

“Kita sedang menganalisa kajian lingkungan hidup strategis berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi terutama. Karena tentu timbulnya potensi bencana perparahan dari tiga hal utama: hidrometeorologi, kemudian antropogenik, dan geomorfologi, memang salah satu hal yang paling penting adalah rencana tata ruang wilayahnya,” jelas Hanif.

Pemerintah menargetkan proses analisis KLHS tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. “Kami menargetkan tiga bulan dari sekarang, di bulan Maret, maka analisis terhadap kajian lingkungan hidup strategis ini bisa selesai dan memberikan arah kepada seluruh pemerintah daerah untuk kemudian mencermati kembali rencana tata ruang wilayahnya,” lanjutnya.

Dalam pelaksanaannya, KLHK akan menelaah kesesuaian antara dokumen KLHS dengan dokumen tata ruang daerah. Selama ini, perbedaan rekomendasi antara pemerintah pusat dan daerah masih kerap terjadi.

“Apabila memang tata ruang dan KLHS sudah selaras, maka kita akan melihat gap antara tata ruang dan pemanfaatan ruang aktual. Bilamana tidak masih juga selaras, maka kita akan menyusun rekomendasi persetujuan revisi tata ruang,” tutur Hanif.

Ia menekankan bahwa evaluasi tata ruang ini bersifat mendesak, mengingat meningkatnya bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan iklim. “Karena tentu tata ruang yang terjadi ternyata tidak mampu lagi menanggung beban bencana hidrometeorologi yang mungkin bukan merupakan yang suatu kegiatan yang berakhir, tapi merupakan awal dari konsekuensi perubahan iklim yang akan kita alami, akan kita tangani,” katanya.

Hanif menambahkan, hasil evaluasi KLHS nantinya akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk meninjau ulang RTRW masing-masing, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi. “Karena Indonesia berada di negara tropis, tentu merupakan suatu negara yang sangat rentan dengan perubahan iklim, apalagi dengan bentuk lanskap kita yang merupakan lanskap kepulauan dan bukan kontinen, sehingga sangat mudah sekali mendapat tekanan dari perubahan iklim, baik itu berupa hidrometeorologi maupun kenaikan permukaan air laut,” tutupnya.

Sekda Aceh Kukuhkan 201 Kepala Sekolah, Tekankan Tanggung Jawab Besar Dunia Pendidikan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, melantik sebanyak 201 kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di lingkungan Pemerintah Aceh. Pelantikan berlangsung di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Senin (26/1/2026).

Dalam sambutannya, M Nasir menegaskan bahwa kepala sekolah memegang peran strategis dalam menentukan arah dan masa depan pendidikan Aceh. Ia menyebut, jabatan tersebut bukan sekadar amanah administratif, melainkan tanggung jawab besar yang berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang.

Sekda Aceh juga mengapresiasi capaian pendidikan Aceh yang berhasil masuk lima besar nasional dalam kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025. Menurutnya, prestasi tersebut merupakan buah dari dedikasi dan kerja keras seluruh insan pendidikan di Aceh.

“Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah mendorong peringkat Aceh di tingkat nasional,” ujar M Nasir.

Meski demikian, ia mengingatkan masih adanya persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Pada tahun 2025, Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan semua jenjang pendidikan. Namun, di saat yang sama, sekitar 56 ribu anak usia 16 hingga 18 tahun masih tercatat tidak mengenyam pendidikan formal.

“Kalau ini tidak cepat kita tangani, maka akan menjadi bom waktu bagi proses pembangunan Aceh,” tegas M Nasir.

Ia berharap, para kepala sekolah yang baru dilantik dapat berkontribusi nyata menekan angka anak putus sekolah secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Menurut M Nasir, pelantikan kepala sekolah tidak dapat dimaknai sebagai rotasi biasa, melainkan bentuk kepercayaan negara kepada para pemimpin satuan pendidikan. Kepala sekolah dinilai memiliki peran sentral dalam menciptakan iklim belajar yang sehat serta menentukan kualitas lulusan.

“Sekolah tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni dan berkualitas,” katanya.

Selain itu, Sekda Aceh juga menyoroti kondisi sejumlah sekolah yang masih menghadapi tantangan pascabencana. Ia mendorong kepala sekolah untuk menjadi penggerak utama pemulihan pendidikan sekaligus peningkatan prestasi peserta didik.

“Ciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi anak,” pesan Sekda.

Tak hanya itu, M Nasir turut meminta seluruh kepala sekolah mendukung dan menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mencetak generasi yang unggul, cerdas, dan terbebas dari stunting.

Pelantikan tersebut turut dihadiri Anggota DPRA Yahdi Hasan, Asisten Pemerintahan Setda Aceh Drs. Syakir, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, Kepala Badan Kepegawaian Aceh Abdul Qohar, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Akkar Arafat.

Plt Kadisdik Aceh Ajak Sekolah Kelola Aset Secara Produktif, Dorong Mental Kewirausahaan

0
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, mendorong kepala sekolah dan jajaran pendidikan untuk mengubah cara pandang dalam mengelola aset dan potensi sekolah. Aula SMKN 3 Banda Aceh. Selasa, 27 Januari 2026. (FOTO: DISDIK ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, mendorong para kepala sekolah dan jajaran pendidikan untuk mengubah pola pikir dalam mengelola aset serta potensi yang dimiliki sekolah.

Menurutnya, berbagai fasilitas yang diberikan negara—seperti gedung, listrik, hingga peralatan—tidak seharusnya dibiarkan stagnan, tetapi perlu dikelola secara produktif dan berorientasi pada hasil.

Hal itu disampaikan Murthalamuddin saat menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Global Mandiri USK dengan BLUD SMKN 1, SMKN 2, dan SMKN 3 Banda Aceh di Aula SMKN 3 Banda Aceh, Selasa (27/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti masih lemahnya mental kewirausahaan di kalangan aparatur pendidikan. Menurutnya, banyak sekolah sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang, namun belum mampu memaksimalkannya karena kurang berani membaca peluang pasar serta mengelola potensi secara profesional.

“Kalau semua biaya dasar sudah ditanggung negara, seharusnya sekolah punya ruang besar untuk menciptakan keuntungan. Ini soal mental,” ujarnya.

Murthalamuddin menilai sekolah kejuruan, khususnya SMK, memiliki peluang usaha yang sangat luas melalui berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki siswa dan sekolah.

Ia mencontohkan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, seperti jasa produksi, bengkel, hingga pemanfaatan lahan dan limbah organik yang bisa memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan pendekatan bisnis yang tepat.

“Bukan asal jalan, tapi harus untung. Kalau tidak, sama saja seperti lembu makan plastik—masuk, keluar, tidak pernah gemuk,” tegasnya.

Dalam arahannya, Murthalamuddin juga membagikan pengalaman pribadinya ketika sempat mengalami kesulitan ekonomi pada masa pandemi. Ia mengaku dapat bangkit kembali melalui dunia sales dan kewirausahaan.

Dari pengalaman tersebut, ia menilai kemampuan membaca peluang, menjual gagasan, serta membangun jejaring menjadi kunci penting dalam meraih keberhasilan.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi juga oleh kecakapan dalam mengelola potensi yang ada.

“Sekolah jangan takut berinovasi. Kalau tidak mampu menjalankan, beri ruang kepada yang mau dan mampu,” katanya.

Menutup arahannya, Murthalamuddin mengajak para kepala sekolah untuk membangun mental game uang, yakni cara berpikir yang realistis dan produktif dalam mengelola sumber daya yang tersedia.

“Kalau orang tanpa modal bisa hidup, kenapa kita yang sudah dimodali negara tidak bisa?” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan komitmen pihaknya untuk terus memperkuat kerja sama dengan sekolah menengah kejuruan, khususnya dalam pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Menurutnya, pengelolaan BLUD yang baik dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

“Pengelolaan BLUD yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan, karena hasilnya dapat dikembalikan untuk pengembangan sekolah,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Bisnis dan Dana Lestari USK, Dr. Syaifullah Muhammad, serta Direktur Utama PT Global Mandiri USK, Rizalsyah.

Kanwil Ditjenpas Aceh Laporkan Penanganan UPT Terdampak Bencana ke Pusat

0
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh, Yan Rusmanto, melaporkan perkembangan pemulihan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pasca-bencana banjir dan tanah longsor di Aceh kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan saat kunjungan kerja ke Jakarta, Senin (26/01/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh, Yan Rusmanto, melaporkan perkembangan pemulihan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pasca-bencana banjir dan tanah longsor di Aceh kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan saat kunjungan kerja ke Jakarta, Senin (26/01/2026).

Kepada Nukilan.id, Yan Rusmanto mengungkapkan isi pertemuannya dengan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, beserta jajaran pimpinan Ditjenpas. Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan kondisi terkini unit pelaksana teknis (UPT) yang terdampak bencana. Yan menegaskan bahwa aspek keamanan serta pemenuhan hak-hak dasar warga binaan tetap terjamin meskipun berada dalam situasi darurat.

“Kami berkomitmen penuh memastikan layanan pemasyarakatan di Aceh segera kembali normal. Langkah-langkah strategis telah kami ambil, mulai dari pengamanan warga binaan, mitigasi risiko, hingga koordinasi intensif dengan pihak terkait,” tegas Yan Rusmanto.

Dirjenpas Mashudi mengapresiasi respons cepat Kanwil Ditjenpas Aceh dalam menangani dampak bencana. Menurutnya, langkah mitigasi yang dilakukan telah berjalan terukur dan efektif.

“Kami sangat mengapresiasi respons cepat Kakanwil Aceh dan jajaran. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan akan memberikan dukungan penuh agar seluruh fasilitas dan pelayanan di Aceh dapat segera beroperasi seratus persen,” ujar Mashudi.

Sebagai bentuk akuntabilitas, Yan Rusmanto turut menyerahkan laporan rinci terkait penyaluran bantuan logistik dan donasi dari Kemenimipas ke UPT terdampak. Kunjungan ini menjadi wujud sinergi pusat dan daerah dalam mempercepat pemulihan layanan pemasyarakatan di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Selatan Raih UHC Award 2026 Berkat Komitmen Dukung JKN

0
Plt Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis didampingi Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tapaktuan, Mahmul Ahyar menerima penghargaan UHC Award 2026. (Foto: Humas Pemkab Asel)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Award Tahun 2026 atas komitmennya dalam mendukung pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Plt Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, di Jakarta, Selasa (27/1/2026). Dalam kesempatan itu, Baital Mukadis turut didampingi Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tapaktuan, Mahmul Ahyar.

Ajang UHC Awards 2026 memberikan apresiasi kepada kepala daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang dinilai berhasil menghadirkan perlindungan kesehatan bagi masyarakat melalui Program JKN. Selain Pemkab Aceh Selatan, penghargaan serupa juga diberikan kepada 31 pemerintah provinsi serta 396 pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Menurut Ghufron, Program JKN merupakan instrumen negara dalam memastikan akses perlindungan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh warga. Keberhasilan pelaksanaan program ini, kata dia, tidak terlepas dari peran aktif dan komitmen kuat pemerintah daerah.

“Hingga 31 Desember 2025, jumlah kepesertaan Program JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau lebih dari 98 persen dari total penduduk Indonesia, dengan tingkat kepesertaan aktif sebesar 81,45 persen,” sebutnya.

“Capaian tersebut sekaligus melampaui target nasional yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025-2029,” tegas Ghufron.

Ghufron menambahkan, kepala daerah memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan Program JKN, khususnya dalam mendorong masyarakat untuk terdaftar serta memastikan kepesertaan tetap aktif melalui dukungan kebijakan dan penganggaran daerah.

TII Soroti Minimnya Isu Demokrasi dalam Pidato Presiden di WEF 2026

0
Felia
Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia Primaresti. (Foto: TII)

NUKILAN.ID | JAKARTA — The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) menilai pidato Presiden Republik Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, lebih menekankan stabilitas ekonomi dan politik sebagai indikator utama capaian pembangunan nasional.

Manajer Riset dan Program TII, Felia Primaresti, dalam keterangannya kepada Nukilan.id menyebut pidato Presiden menunjukkan arah kebijakan publik yang menitikberatkan pada stabilitas ekonomi, efisiensi birokrasi, serta ekspansi program sosial berskala besar.

Namun, di balik narasi capaian tersebut, ia menilai masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya terkait kualitas demokrasi, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Felia menilai Presiden terlalu menempatkan stabilitas politik dan ekonomi sebagai prasyarat utama pertumbuhan dan investasi. Padahal, menurutnya, stabilitas tidak dapat dilepaskan dari demokrasi yang sehat.

“Demokrasi tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pendukung pembangunan, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol terhadap kekuasaan agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat.” kata Felia.

Selain itu, Felia juga menyoroti kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan yang dinilai berisiko melemahkan akuntabilitas pemerintahan. Ia mencatat dominasi peran presiden dalam pidato tersebut, sementara fungsi lembaga negara lainnya nyaris tidak disinggung.

“Ada 78 kata ‘saya’ di dalam transkripnya, sementara fungsi lain dalam pemerintahan seperti legislatif, yudikatif, peran eksekutif lain, dan partisipasi masyarakat sipil tidak disebutkan.” ujar Felia.

Menurutnya, meskipun pendekatan tersebut menunjukkan kepemimpinan yang tegas, pola pengambilan keputusan yang terlalu terpusat berpotensi mengurangi ruang partisipasi publik. Dalam prinsip good governance, kata Felia, kebijakan publik yang berkelanjutan seharusnya dibangun melalui institusi yang kuat, bukan semata bertumpu pada figur kepemimpinan.

Felia juga menyoroti pernyataan Presiden yang mengaitkan hasil survei kebahagiaan global dengan pengakuan bahwa masih banyak warga yang hidup tanpa akses air bersih, sanitasi layak, dan pangan memadai. Ia menilai pernyataan tersebut sebagai upaya membangun narasi moral tentang ketahanan dan optimisme rakyat di tengah keterbatasan.

“Narasi ini menghadirkan empati simbolik, yaitu pengakuan emosional atas penderitaan Masyarakat, namun tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kerangka kebijakan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat.” ungkap Felia.

Terkait klaim swasembada beras yang disampaikan Presiden sebagai bukti keberhasilan kebijakan, Felia menilai capaian tersebut perlu dikritisi secara lebih menyeluruh.

“Demikian pula, capaian swasembada beras yang disampaikan sebagai bukti keberhasilan kebijakan perlu dikritisi secara lebih komprehensif.” lanjut Felia.

Ia menegaskan bahwa swasembada produksi tidak serta-merta menjawab persoalan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Tanpa jaminan distribusi yang adil, keterjangkauan harga, serta pemenuhan standar gizi, swasembada berisiko menjadi bagian dari narasi moral keberhasilan negara, alih-alih solusi struktural atas kerentanan pangan yang masih dialami kelompok miskin dan rentan.

Di akhir pernyataannya, Felia menilai pidato Presiden di WEF 2026 secara umum lebih menekankan pemenuhan hak ekonomi dan sosial, sementara isu hak sipil dan politik—seperti kebebasan berekspresi, kebebasan pers, perlindungan kelompok minoritas, serta penyelesaian konflik struktural—belum mendapat perhatian yang memadai.

Felia mendorong agar ke depan pemerintah memastikan agenda pembangunan dan stabilitas ekonomi berjalan seiring dengan penguatan demokrasi, perlindungan HAM, serta tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif. Tanpa fondasi tersebut, ia menilai capaian kebijakan publik berisiko tidak berkelanjutan dan rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. (XRQ)

Reporter: Akil

Menikmati Mie Aceh Bakso di Liza Cafe, Sajian Pedas di Tepi Sungai Kluet

0
Mie Aceh Bakso di Liza Cafe, Sajian Pedas di Tepi Sungai Kluet. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Liza Cafe yang berlokasi di Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, menjadi salah satu tujuan kuliner favorit masyarakat untuk menikmati kuliner. Kafe ini berada di lokasi strategis di pinggir Jalan Tapaktuan–Medan dan berhadapan langsung dengan aliran Sungai Kluet, sehingga menawarkan pengalaman bersantap dengan pemandangan alam terbuka.

Pantauan di lokasi menunjukkan, Liza Cafe ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari anak muda, keluarga, hingga orang tua. Selain mencicipi menu andalan, tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen kebersamaan mereka menggunakan ponsel, dengan latar sungai yang menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satu pengunjung, Fawwaz, mengaku kerap datang ke Liza Cafe bersama teman-temannya. Kali ini, ia memilih menu mie Aceh bakso yang dikenal dengan cita rasa pedas khas Aceh.

“Saya cukup sering ke sini sama teman-teman. Mie Aceh baksonya pedas, rasanya enak, dan harganya juga ramah di kantong,” ujar Fawwaz kepada Nukilan.id, Senin (26/1/2026)

Keberadaan Liza Cafe di jalur lintas Tapaktuan–Medan dinilai memudahkan akses pengunjung, baik warga sekitar maupun pelintas jalan. Pemandangan Sungai Kluet yang langsung terlihat dari area kafe menjadi nilai tambah yang membuat pengunjung betah berlama-lama.

Dengan sajian kuliner khas Aceh dan lokasi yang strategis, Liza Cafe terus menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati waktu santai sambil menyantap hidangan bercita rasa pedas. (XRQ)

Reporter: Akil

Lansia di Desa Atu Payung Terisolasi, Butuh Perhatian Pemerintah

0
Sepasang lansia, M Tamrin dan istrinya bersama Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga. (Foto: Dok Relawan Kecamatan Bintang)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Sepasang lanjut usia (lansia) di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah serta pihak terkait.

Pasangan tersebut, M Tamrin dan istrinya, tinggal berdua di rumah sederhana yang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu berpindah tempat tinggal meski akses menuju rumah mereka rusak akibat longsor dan pohon tumbang.

Kondisi kesehatan keduanya juga memprihatinkan. M Tamrin menderita rematik yang membatasi aktivitasnya, sementara sang istri mengalami kepikunan akibat faktor usia.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kondisi pasangan lansia tersebut membutuhkan perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah.

“Pasangan lansia ini hidup dalam keterbatasan dan akses ke rumah mereka cukup sulit karena jalan rusak dan tertutup longsor. Kami berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk memperbaiki akses jalan serta memberikan bantuan yang dibutuhkan,” kata Wedy Sastra Yoga kepada Nukilan, Senin (26/1/2026).

Selain perbaikan akses jalan, pasangan lansia tersebut juga menyampaikan harapan untuk mendapatkan bantuan berupa bibit pertanian dan pupuk agar tetap bisa bertahan hidup secara mandiri.

“Mereka berharap ada bantuan bibit padi, jagung, kacang-kacangan, cabai, serta pupuk untuk menunjang kebutuhan sehari-hari,” ujar Wedy.

Relawan berharap kondisi ini dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, dinas sosial, serta instansi terkait agar pasangan lansia tersebut mendapatkan bantuan sosial, perbaikan infrastruktur, dan pendampingan kesehatan yang layak. []

Reporter: Sammy

Relawan Laksanakan Pos Schooling bagi Anak Desa Terisolasi di SD Negeri 10 Bintang

0
Kegiatan Pos Schooling bagi anak-anak Desa Jamur Konyel pada Senin (26/1/2026) di SD Negeri 10 Bintang, Aceh Tengah. (Foto: Dok Relawan Kecamatan Bintang)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Relawan pendidikan melaksanakan kegiatan Pos Schooling bagi anak-anak Desa Jamur Konyel pada Senin (26/1/2026) di SD Negeri 10 Bintang, Aceh Tengah. Kegiatan ini bertujuan membantu memperluas akses layanan pendidikan bagi anak-anak di wilayah desa terisolasi yang memiliki keterbatasan terhadap pendidikan formal.

Sejak pagi hari, para relawan bersama siswa mengikuti kegiatan pembelajaran yang berlangsung di lingkungan sekolah. Anak-anak terlihat antusias mengikuti berbagai aktivitas belajar yang dipandu oleh para relawan.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kegiatan Pos Schooling merupakan bentuk kepedulian relawan terhadap kondisi pendidikan di wilayah terpencil.

“Pos Schooling ini kami laksanakan untuk memastikan anak-anak di desa terisolasi tetap mendapatkan pendampingan belajar. Meskipun akses dan sarana terbatas, kami ingin anak-anak tetap semangat dan tidak tertinggal dalam proses pendidikan,” ujar Wedy Sastra Yoga kepada Nukilan, Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, metode pembelajaran yang digunakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak. Selain materi dasar, kegiatan juga difokuskan pada penguatan motivasi belajar dan pembentukan karakter.

“Kami tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan semangat belajar anak-anak. Harapannya, kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak desa,” katanya.

Pihak SD Negeri 10 Bintang menyambut baik keterlibatan relawan dalam kegiatan Pos Schooling tersebut. Kehadiran relawan dinilai membantu sekolah dalam memberikan layanan pendidikan tambahan bagi siswa di tengah keterbatasan sarana dan akses.

Melalui kegiatan ini, relawan berharap Pos Schooling dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk mendukung pemerataan akses pendidikan di wilayah Kecamatan Bintang, khususnya bagi anak-anak di desa terisolasi. []

Reporter: Sammy

56 Ribu Remaja Aceh Belum Sekolah, Sekda Dorong Kepala Sekolah Ambil Peran Aktif

0
Ilustrasi Siswa SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali masuk sekolah. (Foto: Tim Media Presiden)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menyoroti masih tingginya angka anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan. Tercatat sekitar 56 ribu remaja usia 16–18 tahun di Aceh tidak bersekolah, meski berbagai program bantuan pendidikan telah dijalankan.

Amatan Nukilan.id, hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, saat melantik 201 kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB di lingkungan Pemerintah Aceh, Senin (26/1/2026), di Anjong Mon Mata, Komplek Meuligoe Gubernur Aceh.

Menurut M Nasir, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena berpotensi menghambat pembangunan sumber daya manusia Aceh.

“Kalau ini tidak cepat ditangani, maka akan menjadi bom waktu bagi pembangunan Aceh,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pada 2025 Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan pada semua jenjang pendidikan. Namun, tingginya angka anak tidak sekolah menunjukkan perlunya penguatan peran satuan pendidikan.

Karena itu, M Nasir menekankan posisi kepala sekolah sebagai garda terdepan dalam memastikan anak-anak tetap mengakses pendidikan.

“Kepala sekolah tidak hanya mengelola administrasi, tetapi menjadi pemimpin yang menentukan arah dan masa depan peserta didik,” ujarnya.

Ia menargetkan dalam lima tahun ke depan angka anak putus sekolah dapat ditekan melalui kepemimpinan sekolah yang aktif, responsif, dan berpihak pada kepentingan anak.

Sekda juga mengapresiasi capaian pendidikan Aceh yang masuk lima besar nasional kelulusan SNBP 2025, namun menegaskan pentingnya pemerataan akses pendidikan.

“Prestasi penting, tetapi pemerataan jauh lebih penting. Tidak boleh ada anak yang tertinggal,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan masih adanya sekolah yang terdampak pascabencana dan meminta kepala sekolah menjadi motor pemulihan pendidikan. Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ditekankan sebagai upaya meningkatkan gizi peserta didik dan mencegah stunting.

“Sekolah harus menjadi ruang aman, sehat, dan inklusif bagi anak,” ujar Sekda.

Pelantikan kepala sekolah ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan Aceh secara menyeluruh. (XRQ)

Reporter: Akil