Beranda blog Halaman 783

Wisdom, Burung Liar Tertua di Dunia Bertelur Lagi di Usia 74 Tahun

0
Wisdom, Burung Liar Tertua di Dunia Bertelur Lagi di Usia 74 Tahun. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Jakarta – Sebuah keajaiban alam kembali hadir di Midway Atoll, kawasan perairan Pasifik Utara. Wisdom, burung albatros Laysan yang dikenal sebagai burung liar tertua di dunia, bertelur lagi pada usia 74 tahun. Momen ini tak hanya menunjukkan ketahanan hidup luar biasa burung laut besar ini, tetapi juga menjadi bukti keajaiban ekosistem yang terjaga.

Wisdom pertama kali diidentifikasi pada 1956, ketika ia menetaskan telur pertamanya di Midway Atoll National Wildlife Refuge. Kala itu, usia Wisdom diperkirakan sekitar lima tahun, umur di mana albatros Laysan mencapai kematangan seksual. Kini, 74 tahun kemudian, Wisdom telah menjadi simbol ketahanan spesies dan peringatan tentang pentingnya konservasi lingkungan.

Jonathan Plissner, ahli biologi satwa liar yang memantau kawasan perlindungan tersebut, mengungkapkan optimisme bahwa telur terbaru Wisdom akan menetas.

“Kami optimistis telur itu akan menetas. Ini adalah bukti luar biasa dari daya tahan dan keajaiban alam,” katanya, dikutip dari kantor berita AFP.

Albatros dikenal sebagai burung yang monogami, dan Wisdom telah berkembang biak selama puluhan tahun dengan pasangan yang sama. Namun, beberapa tahun terakhir, pasangan lamanya tidak lagi terlihat. Dalam perjalanan hidupnya yang panjang, Wisdom telah bertelur lebih dari 50 butir, dan kini ia kembali memulai lembaran baru bersama pasangan baru yang ditemuinya belum lama ini.

Tahun ini, Wisdom kembali ke Midway Atoll dan bersama pasangan barunya, ia merawat telur yang akan menjadi tambahan baru dalam kisah luar biasa hidupnya. Foto dan video dari US Fish and Wildlife Service menunjukkan momen mengharukan ketika Wisdom berceloteh lembut dengan telurnya sebelum sang jantan membantu mengerami.

Dengan lebar sayap yang dapat mencapai hingga 203 sentimeter, albatros Laysan adalah penerbang ulung. Mereka sanggup menempuh jarak lebih dari 1.500 kilometer untuk mencari makanan. Meskipun rata-rata burung laut memiliki umur hingga 40-50 tahun, Wisdom telah melampaui batas tersebut, menjadikannya burung liar tertua yang diketahui di dunia.

Wisdom bukan hanya sekadar burung albatros, tetapi juga simbol harapan dan ketahanan hidup spesies di tengah tantangan ekologi modern.

“Kehidupan Wisdom adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya perlindungan habitat dan konservasi burung laut yang terus menghadapi berbagai ancaman,” tambah Plissner.

Keberhasilan Wisdom terus bertahan hidup dan berkembang biak di usianya yang luar biasa tua ini menjadi inspirasi bagi para pegiat lingkungan di seluruh dunia. Sebagai penghuni tetap Midway Atoll yang setiap tahunnya menjadi rumah bagi jutaan burung laut, Wisdom adalah bukti nyata tentang pentingnya kawasan perlindungan seperti ini untuk mendukung keberlanjutan alam.

Dengan kisah yang tak lekang oleh waktu, Wisdom tak hanya memecahkan rekor umur panjang, tetapi juga menyematkan makna mendalam tentang keajaiban kehidupan. Kini, dunia menantikan kelahiran anak terbaru dari Wisdom, sang legenda sayap Pasifik.

Disdik Aceh Gelar Workshop Strategi Peningkatan Literasi dan Numerasi untuk SMA se-Aceh

0
Disdik Aceh Gelar Workshop Strategi Peningkatan Literasi dan Numerasi untuk SMA se-Aceh. (Foto: Disdik)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh, Dinas Pendidikan Aceh menggelar Workshop Strategi Peningkatan Literasi dan Numerasi untuk guru jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Aceh. Kegiatan ini berlangsung pada 6–9 Desember 2024 di Banda Aceh dan diikuti oleh 46 peserta dari berbagai daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis, ST, D.E.A., menyampaikan bahwa workshop ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa, sekaligus memperkuat kapasitas para pendidik.

“Kami percaya bahwa pelatihan berbasis data yang terstruktur dapat membawa perubahan signifikan dalam kualitas pengajaran. Harapan kami, siswa Aceh tidak hanya siap menghadapi ujian nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Marthunis dalam pembukaan acara pada Sabtu (7/12/2024).

Ketua panitia, Luqmanulhakim, menjelaskan bahwa dalam workshop ini, peserta ditargetkan menyusun 1.290 soal berbasis literasi dan numerasi, dengan masing-masing guru menghasilkan 30 soal sesuai standar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

“Soal-soal yang disusun tidak hanya untuk evaluasi rutin, tetapi juga sebagai alat pemetaan kemampuan siswa dalam menghadapi ujian perguruan tinggi. Kami memastikan soal tersebut relevan dengan kurikulum dan efektif dalam mengukur kompetensi literasi dan numerasi siswa,” jelas Luqmanulhakim.

Peserta workshop terdiri dari guru mata pelajaran, pengawas sekolah, komunitas belajar, dan guru inti dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Dengan pendekatan ini, Disdik Aceh berharap dapat memperkuat kemampuan guru dalam merancang pembelajaran berbasis literasi dan numerasi secara efektif.

Dinas Pendidikan Aceh terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kompetitif dan berprestasi.

“Kami ingin generasi Aceh menjadi generasi unggul yang mampu membawa Aceh ke arah kemajuan yang lebih baik,” tegas Marthunis.

Workshop ini juga menjadi bagian dari strategi menyeluruh untuk menjadikan pendidikan di Aceh lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dengan kolaborasi antara guru, pengawas, dan komunitas belajar, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi kualitas pendidikan di provinsi ujung barat Indonesia ini.

Para peserta dijadwalkan menyelesaikan rangkaian pelatihan hingga 9 Desember 2024, dengan hasil yang diharapkan dapat segera diimplementasikan di sekolah masing-masing.

Kankemenag Aceh Besar Luncurkan 12 Program Unggulan Sambut HAB Ke-79

0
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H Saifuddin SE. (Foto: Kemenag Aceh Besar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama RI ke-79, Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Aceh Besar meluncurkan 12 program unggulan. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk mempererat solidaritas, memperkuat moderasi beragama, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kepala Kantor Kemenag Aceh Besar, H. Saifuddin, SE, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tahun ini, terutama dengan terealisasinya program rehabilitasi rumah bagi honorer Kemenag.

“Alhamdulillah, tahun ini kami dapat merehabilitasi 22 unit rumah bagi honorer Kemenag Aceh Besar,” ujarnya, Jumat (6/12/2024).

Saifuddin menekankan bahwa keberhasilan program ini tak lepas dari kepedulian ASN Kemenag Aceh Besar.

“Seluruh proses rehabilitasi ini terlaksana berkat solidaritas ASN yang tulus membantu sesama. Kami sangat berterima kasih kepada mereka yang telah sukarela meringankan beban saudara-saudara kita yang telah lama mengabdi,” tuturnya.

Ia berharap program ini menjadi ladang amal yang diberkahi Allah SWT.

“Semoga ini menjadi amal ibadah bagi kita semua, sekaligus menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama,” tambahnya.

Ketua Panitia HAB, H. Nazaruddin, SE, menyebutkan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema “Umat Rukun Menuju Indonesia Emas”. Tema ini tidak hanya sebagai simbol peringatan, tetapi juga representasi nyata pelayanan dan pengabdian Kemenag kepada masyarakat.

“Berbagai kegiatan akan digelar mulai 6 Desember 2024 hingga puncaknya pada 3 Januari 2025 di Lapangan Karya Utama Lamreung, Jalan Makam Teuku Nyak Arief,” jelas Nazaruddin.

Berikut 12 program unggulan HAB ke-79:

1. Rehab/Bedah Rumah untuk fakir miskin.

2. Lomba Seni Islami untuk pegawai (10–11 Desember 2024).

3. Bakti Sosial “Cinta Masjid” di lima lokasi (12 Desember 2024).

4. Santunan dan pembagian sembako untuk fakir miskin dan anak yatim (12 Desember 2024).

5. Safari Dakwah untuk meningkatkan spiritualitas umat (13 Desember 2024).

6. Olimpiade Sains Kemenag Aceh Besar 2024 (15 Desember 2024).

7. Lomba Masak “Dapur Bapak Ceria” (16 Desember 2024).

8. Lomba Olahraga Gembira untuk ASN (21–26 Desember 2024).

9. Jalan Santai untuk umum (28 Desember 2024).

10. Upacara HAB ke-79 (3 Januari 2025).

11. Donor Darah bekerja sama dengan instansi kesehatan (3 Januari 2025).

12. Malam Tasyakuran dan Apresiasi untuk siswa serta guru berprestasi (8 Januari 2025).

Puncak acara pada 3 Januari 2025 akan dimeriahkan dengan upacara resmi, diikuti kegiatan sosial seperti donor darah. Malam tasyakuran pada 8 Januari 2025 menjadi penutup perayaan dengan penyerahan apresiasi kepada siswa dan guru berprestasi di jajaran Kemenag Aceh Besar.

Saifuddin menegaskan bahwa HAB ke-79 ini menjadi momen refleksi penting bagi seluruh pegawai Kementerian Agama.

“Kegiatan ini mengingatkan kita untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan,” pungkasnya.

Dengan serangkaian program unggulan ini, Kankemenag Aceh Besar membuktikan komitmennya dalam mewujudkan pelayanan yang tidak hanya administrasi, tetapi juga penuh kepedulian dan kebermanfaatan nyata.

Aceh International Forum 2024: Mengenang 20 Tahun Tsunami, Membangun Masa Depan Aceh

0
Aceh International Forum 2024: Mengenang 20 Tahun Tsunami, Membangun Masa Depan Aceh. (Foto: Humas UTU)

NUKILAN.id | Meulaboh – Dalam memperingati 20 tahun bencana tsunami Aceh 2004, Universitas Teuku Umar (UTU) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh akan menggelar Aceh International Forum 2024 (AIF 2024). Forum ini bertema “Religion, Togetherness, and Humanity” dan akan berlangsung pada 23–25 Desember 2024 di Meulaboh dan Banda Aceh.

Rektor UTU, Prof. Dr. Ishak Hasan, M.Si, menegaskan pentingnya AIF 2024 sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas dan visi masa depan Aceh. “Meulaboh adalah salah satu wilayah terdampak parah tsunami. Melalui AIF 2024, kami ingin menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun Aceh, terutama di bidang kemanusiaan, pendidikan, dan ekonomi,” ujar Prof. Ishak.

Ia juga menekankan peran forum ini sebagai inspirasi bagi generasi muda Aceh untuk terus berkontribusi membangun daerah. “Kami berharap kegiatan ini menjadi motivasi bagi anak muda agar terlibat aktif dalam membangun Aceh,” tambahnya.

Refleksi Dua Dekade Pascabencana

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, menjelaskan bahwa AIF 2024 dirancang sebagai refleksi dua dekade perjalanan Aceh setelah tsunami. Forum ini bertujuan mengevaluasi progres pembangunan sekaligus menyusun strategi untuk mempercepat kemajuan Aceh ke depan.

“Dua puluh tahun ini menjadi momen tepat untuk merenungkan apa yang telah dicapai dan apa yang harus dilakukan ke depan. AIF 2024 akan menjadi wadah berbagi pengalaman dan gagasan dari tokoh-tokoh kebencanaan serta perdamaian Aceh,” ujar Prof. Mujiburrahman.

Tokoh-tokoh kebencanaan yang telah berkontribusi pada rehabilitasi Aceh pasca-tsunami akan diundang untuk berbicara kepada generasi muda. Hal ini bertujuan untuk menanamkan semangat kolaborasi dan kemanusiaan yang dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Mengenang Tsunami Aceh 2004

Bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di dunia. Data PBB mencatat lebih dari 230.000 korban jiwa, setengah juta orang kehilangan tempat tinggal, dan kerugian material mencapai USD 4,5 miliar.

“Tragedi ini menunjukkan bagaimana kemanusiaan mampu melampaui perbedaan. Semangat solidaritas global yang luar biasa saat itu menjadi inspirasi utama tema AIF 2024,” ungkap Dr. Rahmad Syah Putra, Koordinator Program AIF 2024.

Puncak acara AIF 2024 akan berupa Internasional Forum dan Round Table Meeting dengan tema “Religious Moderation, Humanities, and Global Partnership”. Kegiatan ini akan membahas isu-isu penting seperti moderasi beragama dan kerja sama internasional dalam menghadapi bencana, yang akan digelar di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh.

Semangat Kolaborasi dan Langkah Strategis

Ketua Panitia AIF 2024, Saifuddin A. Rasyid, menilai kerja sama antara UTU dan UIN Ar-Raniry sebagai simbol semangat kebersamaan. “Banda Aceh dan Meulaboh sebagai pusat bencana menjadi representasi kolaborasi untuk langkah maju ke depan,” jelasnya.

Saat ini, persiapan acara telah dimulai dengan melibatkan pemerintah, komunitas lokal, dan pemangku kepentingan lainnya. Informasi lebih lanjut mengenai AIF 2024 dapat diakses melalui situs resmi aif.ar-raniry.ac.id atau akun Instagram @acehinternationalforum2024.

Membangun Masa Depan Aceh

Melalui AIF 2024, Aceh diharapkan mampu menjadikan refleksi tragedi tsunami sebagai pijakan untuk bangkit dan berkontribusi dalam pembangunan global. Acara ini menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas, keberagaman, dan kemanusiaan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Keindahan Pantai Lampuuk: Surga Selancar dan Relaksasi di Aceh

0
Pantai Lampuuk, Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Feature – Di ujung barat Pulau Sumatra, tersembunyi sebuah pantai yang tak hanya menawarkan pasir putih yang mempesona, tetapi juga angin laut yang menyapa setiap pengunjung dengan kelembutan yang sulit diungkapkan. 

Pantai Lampuuk, sebuah permata yang tersembunyi di dalam pelukan Aceh Besar, adalah tempat di mana alam dan kedamaian bertemu, menciptakan simfoni alam yang begitu memikat.

Setibanya aku di sana, langkah-langkahku terasa lebih ringan. Udara segar yang membawa aroma laut menyapa, seolah menghapus segala kegelisahan yang tertinggal di belakang. Pantai Lampuuk adalah dunia yang berbeda, jauh dari keramaian kota, di mana segala sesuatu seakan bergerak dalam ritme alam yang begitu harmonis.

Begitu aku menginjakkan kaki di pasir yang halus, aku dapat merasakan getaran keindahan yang mengalir di sepanjang garis pantai. Di kejauhan, ombak besar datang menggulung, menantang para peselancar untuk menghadapinya. Pantai Lampuuk bukan hanya sebuah tempat wisata, melainkan sebuah surga bagi para pecinta selancar.

Surfing di Lampuuk. (Foto: Net)

Aku menatap gelombang yang datang dengan anggun, menghantam bibir pantai dengan kekuatan yang memukau. Para peselancar lokal, dengan keahliannya, menunggangi ombak dengan kelincahan yang luar biasa, seolah ombak adalah teman lama yang mereka kenal dengan baik. Mereka meluncur di atas air dengan kegembiraan yang tak terhingga, seakan-akan alam telah memberikan mereka kebebasan untuk menari dengan ombak.

“Ini surga bagi para peselancar,” ujar Andi, seorang pemuda lokal yang aku temui di tepi pantai. “Ombaknya konsisten sepanjang tahun. Banyak peselancar dari berbagai penjuru datang ke sini untuk menikmati keindahan alam dan tantangan ombak yang luar biasa.”

Aku menyaksikan para peselancar itu dengan rasa takjub. Setiap gerakan mereka begitu mengalir, seperti sebuah tarian yang mengikuti irama ombak. Lampuuk bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang kebebasan, tentang bagaimana tubuh bersatu dengan alam yang tak terduga. Ombak yang datang dan pergi dengan sendirinya adalah sebuah pelajaran tentang siklus kehidupan yang tak pernah berhenti.

Relaksasi di Ujung Barat

Namun, meskipun Pantai Lampuuk dikenal sebagai tempat yang mengundang para peselancar, pesona alamnya tidak hanya berhenti pada ombak yang menantang. Di sisi lain pantai, terdapat hamparan pasir putih yang begitu lembut, dan air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Tempat ini menjadi pelabuhan bagi mereka yang mencari ketenangan dan relaksasi.

Di bawah pohon kelapa yang melambai lembut, aku duduk sejenak, membiarkan angin laut menyapu wajahku. Suara deburan ombak, yang tak pernah henti-hentinya menghempas pantai, menciptakan ketenangan yang luar biasa. Terasa begitu damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di sini, memberi ruang untuk menarik napas dalam-dalam dan menikmati setiap detik yang berlalu.

Pantai Lampuuk menawarkan lebih dari sekadar keindahan visual. Ia memberikan rasa damai yang menyentuh jiwa. Setiap pasir yang kukinjak adalah tempat yang penuh makna. Setiap hembusan angin adalah napas alam yang mengingatkanku pada pentingnya keheningan. Di sini, aku bisa melupakan sejenak segala hiruk-pikuk dunia, hanya dengan duduk diam di tepi pantai, membiarkan laut membisikkan rahasia-rahasianya.

Namun, Pantai Lampuuk juga menyimpan keindahan yang tak tampak oleh mata biasa. Di balik pantai yang mempesona ini, tersembunyi sebuah dunia yang lebih dalam, dunia yang hanya bisa dilihat dengan mata hati yang jernih. Lampuuk adalah tempat di mana alam menunjukkan kekuatannya dalam bentuk yang paling sederhana namun mengagumkan.

Di sekitar pantai, terhampar perbukitan hijau yang terjal, dengan pepohonan lebat yang tumbuh subur. Tumbuhan tropis yang menyelimuti bukit-bukit itu menjadi rumah bagi berbagai fauna yang hidup di sini. Burung-burung laut terbang rendah di atas permukaan air, sesekali menukik untuk menangkap ikan, sementara ikan-ikan kecil bermain di bawah permukaan air yang jernih.

“Di sini, kami menjaga alam dengan sangat hati-hati,” ujar Andi lagi. “Karena di balik keindahan Pantai Lampuuk, ada ekosistem yang harus dijaga. Kami berusaha menjaga keseimbangan alam agar generasi berikutnya juga bisa merasakan apa yang kita rasakan hari ini.”

Mendengar kata-kata itu, aku teringat pada pentingnya menjaga alam, menjaga keseimbangan yang sudah terjalin sejak ribuan tahun lalu. Pantai Lampuuk adalah contoh bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan dengan harmonis, jika kita tahu bagaimana cara menghargai dan melindunginya.

Matahari Terbenam di Lampuuk: Simfoni Alam yang Tak Terlupakan

Saat senja mulai merayap, Pantai Lampuuk menawarkan pemandangan yang sulit untuk dilupakan. Matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala menciptakan langit yang dipenuhi warna oranye dan merah muda yang memukau. Cahayanya yang lembut memantul di atas permukaan air, menciptakan sebuah lukisan alam yang begitu indah, seakan-akan dunia berhenti sejenak untuk mengagumi keajaiban itu.

Aku duduk diam di atas pasir, menikmati setiap detik dari matahari yang perlahan menghilang. Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan keindahan ini. Hanya ada rasa syukur yang dalam, karena aku bisa berada di sini, di tempat yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, tentang keindahan yang tidak bisa dibeli, tetapi harus dihargai.

Pantai Lampuuk, dengan segala keindahannya, mengingatkanku bahwa alam memiliki cara yang unik untuk berbicara. Di balik ombak yang menggulung, di balik pasir yang halus, di balik pepohonan yang berbisik, terdapat pelajaran berharga tentang kehidupan. Sebuah pelajaran tentang bagaimana kita harus hidup dengan lebih bijaksana, lebih menghargai, dan lebih menghormati alam yang memberi kita segalanya.

Sebelum aku meninggalkan pantai itu, aku berjalan perlahan di sepanjang garis pantai, meresapi setiap langkah yang kutinggalkan di atas pasir putih. Laut biru yang tenang, angin yang berdesir lembut, dan langit yang semakin gelap semakin membuatku merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tempat ini.

Pantai Lampuuk bukan hanya sebuah destinasi wisata. Ia adalah sebuah warisan alam yang harus dijaga dan dilestarikan. Keindahannya yang murni, yang masih terjaga dari sentuhan tangan-tangan manusia yang merusaknya, adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap pasir yang menghampar, setiap ombak yang datang dan pergi, adalah bagian dari keseimbangan alam yang harus dipertahankan.

“Semoga keindahan ini akan terus ada, untuk anak cucu kita,” gumamku, sambil menatap langit yang kini dipenuhi bintang. Lampuuk adalah sebuah tempat yang mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga dan merawat bumi, tentang bagaimana hidup berdampingan dengan alam, dan bagaimana kita bisa menemukan ketenangan di dalam keindahan alam yang tak ternilai harganya.

Pantai Lampuuk adalah tempat di mana ombak dan angin menyatu, tempat di mana jiwa bisa menemukan kedamaian, dan tempat di mana alam mengajarkan kita untuk hidup dengan lebih sederhana, namun lebih berarti. Di sini, di ujung barat Indonesia, segala hal terasa mungkin, dan keindahan itu akan tetap ada, tak lekang oleh waktu.

BPTD Aceh Tanggapi Usulan Pembangunan Dermaga di Pulo Aceh

0
BPTD Aceh Tanggapi Usulan Pembangunan Dermaga di Pulo Aceh. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Aceh bersama Dinas Perhubungan Aceh dan Aceh Besar menggelar pertemuan dengan perangkat desa dari Pulo Aceh, Jumat (6/12/2024). Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Dishub Aceh itu membahas solusi transportasi bagi Pulo Aceh, salah satu kawasan terluar yang selama ini menghadapi kendala logistik akibat minimnya fasilitas dermaga.

Kepala BPTD Kelas II Aceh, Tofan Muis, mengungkapkan bahwa masyarakat Pulo Aceh telah lama bergantung pada kapal nelayan untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Namun, keterbatasan kapasitas kapal membuat pengangkutan barang menjadi tidak efisien. Dalam pertemuan itu, warga melalui perangkat desa mengusulkan pembangunan dermaga yang memadai sebagai solusi jangka panjang.

“Warga mengusulkan pembangunan dermaga yang efisien agar kapal-kapal dapat bersandar dengan aman. Saat ini, mereka sangat membutuhkan alternatif transportasi dalam jangka pendek untuk mengatasi masalah logistik,” ujar Tofan.

Ia menambahkan, usulan ini sangat mendesak mengingat kapal feri KMP Papuyu yang sebelumnya melayani rute Pulo Aceh tak lagi beroperasi akibat ketiadaan dermaga yang layak. Akibatnya, aksesibilitas ke pulau itu semakin terhambat.

Harapan Masyarakat
Pulo Aceh, yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, memiliki posisi strategis sebagai wilayah terluar Indonesia. Namun, keterbatasan fasilitas transportasi telah menjadi keluhan utama warga selama bertahun-tahun. Camat Pulo Aceh, Lurah, hingga Panglima Laut menyuarakan harapan agar usulan pembangunan dermaga ini dapat segera direalisasikan.

“Kami ingin adanya dermaga yang bukan hanya mempermudah akses transportasi tetapi juga mendukung perekonomian warga. Kebutuhan logistik kami selama ini sangat bergantung pada kapal kecil yang kapasitasnya terbatas,” ujar salah satu perwakilan perangkat desa.

Tofan menyatakan pihaknya mendukung penuh usulan ini dan akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk merealisasikan rencana tersebut.

“Konektivitas Pulo Aceh ke daratan Aceh harus ditingkatkan. Dermaga akan menjadi solusi jangka panjang, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat,” katanya.

BPTD Aceh juga menyampaikan rencana untuk mengupayakan layanan kapal sementara guna mengatasi kebutuhan mendesak warga. Namun, keberadaan dermaga yang memadai tetap menjadi prioritas utama.

Dampak Sosial dan Ekonomi
Pembangunan dermaga di Pulo Aceh diharapkan tidak hanya memudahkan transportasi tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi, seperti sektor pariwisata dan perikanan. Lokasi Pulo Aceh yang potensial sebagai destinasi wisata dapat dioptimalkan jika akses transportasi lebih baik tersedia.

Masyarakat Pulo Aceh kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk mewujudkan dermaga yang telah lama mereka impikan.

“Kami sangat berharap, ini bukan sekadar rencana di atas kertas,” kata seorang warga Pulo Aceh.

Pembangunan infrastruktur transportasi yang layak di Pulo Aceh diharapkan dapat menjadi titik balik bagi kemajuan kawasan tersebut, sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di wilayah terluar Indonesia.

Pemerintah Aceh Luncurkan Klinik Hewan Keliling, Langkah Strategis Jaga Kesehatan Masyarakat

0
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M. Si, didampingi Kadis Peternakan Aceh, Zalsufran, ST, M.Si, saat meluncurkan Klinik Kesehatan Hewan dan Dokter Hewan Masuk Gampong Dinas Peternakan Aceh, di Gampong Geuceu Komplek, Banda Aceh,. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan Aceh resmi meluncurkan program Klinik Kesehatan Hewan Keliling dan Dokter Hewan Masuk Gampong. Program ini diresmikan pada Jumat (6/12/2024) di Gampong Geuceu Komplek, Banda Aceh.

Peluncuran tersebut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Zulkifli, yang menyampaikan sambutan mewakili Pj Gubernur Aceh. Dalam pidatonya, Zulkifli menyebut program ini sebagai langkah strategis yang tidak hanya fokus pada kesehatan hewan, tetapi juga berkontribusi besar terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

“Perhatian terhadap kesejahteraan hewan berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat. Program ini menyediakan layanan kesehatan hewan gratis untuk masyarakat, terutama di Banda Aceh dan sekitarnya,” kata Zulkifli.

Dukung Pemilik Hewan hingga Tangani Kucing Liar

Program ini memberikan berbagai layanan, seperti konsultasi kesehatan, pemeriksaan rutin, vaksinasi, serta penanganan kucing liar, khususnya di lokasi wisata.

“Jika hewan tidak dapat ditangani di klinik keliling, pemilik dapat membawa hewan mereka ke Klinik Hewan Dinas Peternakan Aceh,” tambah Zulkifli.

Kerjasama lintas sektor turut menjadi kekuatan utama program ini. Dinas Peternakan Aceh menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (USK) dan berbagai pihak di tingkat kabupaten/kota.

“Kolaborasi ini diharapkan menjadi model inovasi pelayanan kesehatan hewan yang dapat diadopsi daerah lain,” ujarnya.

Pelajaran dari Pandemi dan Wabah PMK

Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zalsufran, menegaskan bahwa program ini berfungsi sebagai langkah pencegahan kesehatan hewan untuk menghindari dampak besar di kemudian hari. Ia mengingatkan pentingnya pelajaran dari pandemi COVID-19 dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu.

“Ketika PMK mewabah, Aceh mampu menjadi daerah zero PMK pada Oktober 2022 berkat kerja keras lintas sektor. Kita tidak ingin kembali menghadapi situasi darurat seperti itu. Karena itu, pencegahan menjadi kunci,” ujar Zalsufran.

Program ini menargetkan penurunan angka Brucellosis hingga 0,02 persen pada 2026. Klinik keliling dan Dokter Hewan Masuk Gampong akan rutin melayani masyarakat setiap Jumat di awal bulan.

Langkah Nyata di Lapangan

Pada peluncuran perdana, tim kesehatan hewan memeriksa 59 ekor hewan, memberikan vaksinasi kepada 10 ekor, dan melakukan pengobatan pada 18 ekor. Layanan yang disediakan meliputi vaksinasi rabies, pengobatan parasit, konsultasi kesehatan, dan penanganan penyakit kulit seperti scabies.

Selain itu, Dinas Peternakan Aceh bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan USK untuk menangani kucing liar. Kucing-kucing yang dirawat akan disiapkan untuk diadopsi oleh pecinta hewan.

“Kami berharap program ini mendapat dukungan penuh dari DPRA dan masyarakat, khususnya para peternak dan pemilik hewan peliharaan. Bersama-sama, kita bisa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan melalui upaya yang berkesinambungan,” tutup Zalsufran.

Dengan program ini, Pemerintah Aceh tidak hanya menunjukkan komitmen terhadap kesejahteraan hewan, tetapi juga memastikan lingkungan dan masyarakat tetap sehat.

Pj Ketua PKK Aceh Buka Pekan Raya Leuser 2024: Perempuan di Garda Terdepan Konservasi

0
Pj Ketua PKK Aceh Buka Pekan Raya Leuser 2024. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Penjabat Ketua PKK Aceh, Hj. Safriati, membuka secara resmi Pekan Raya Leuser 2024 yang diadakan oleh Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), Jumat (6/12/2024). Mengusung tema Woman in Conservation, acara ini diikuti peserta dari 15 kabupaten/kota di Aceh, mayoritas di antaranya adalah perempuan.

Dalam sambutannya, Safriati menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pelestarian lingkungan. Ia menyebut perempuan sebagai garda terdepan dalam memastikan keberlanjutan alam bagi generasi mendatang.

“Sebagai ibu, kita tidak hanya menjaga keluarga tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan. Air bersih dan makanan berasal dari alam. Oleh karena itu, pembangunan harus sejalan dengan pelestarian lingkungan,” ujar Safriati di hadapan peserta.

Ia juga menekankan perlunya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait konservasi. Menurutnya, perempuan sering kali dipinggirkan meski memiliki kemampuan multitasking yang luar biasa.

“Perempuan memiliki kapasitas besar dalam menjaga alam. Sudah saatnya perempuan diberi ruang untuk ikut mengambil peran strategis dalam upaya konservasi,” tegasnya.

Safriati mengajak masyarakat untuk memberikan akses yang lebih luas kepada perempuan dalam pelatihan berbasis lingkungan. Ia juga mendorong pembentukan jaringan komunikasi yang solid untuk berbagi informasi dan mencari solusi bersama dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Kolaborasi untuk Pelestarian Aceh
Pekan Raya Leuser 2024 diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan untuk memperkuat upaya pelestarian hutan di Aceh. Sekretaris Yayasan HAkA, Badrul Irfan, dalam kesempatan yang sama memaparkan bahwa Aceh memiliki 3,5 juta hektare kawasan hutan yang menjadi habitat bagi spesies langka seperti gajah, badak, orang utan, dan harimau.

“Hutan Aceh adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita. Sayangnya, ancamannya juga besar. Pada 2023 saja, Aceh kehilangan 8.906 hektare tutupan hutan, yang turut menyebabkan 97 kasus banjir di berbagai wilayah,” ujar Badrul.

Ia menegaskan bahwa hilangnya tutupan hutan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, menjaga hutan melalui upaya konservasi aktif menjadi agenda yang sangat mendesak.

Perempuan Sebagai Motor Perubahan
Pekan Raya Leuser 2024 menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Acara ini juga membuka ruang komunikasi lintas daerah guna mencari solusi bersama atas berbagai tantangan konservasi yang dihadapi Aceh.

“Kita membutuhkan sinergi. Dengan jaringan yang kuat, perempuan dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga warisan alam ini untuk masa depan,” kata Safriati menutup sambutannya.

Upaya pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak yang hadir. Harapannya, Pekan Raya Leuser 2024 mampu menciptakan gerakan nyata demi menjaga hutan Aceh tetap lestari, sekaligus memberdayakan perempuan sebagai motor perubahan dalam konservasi.

20 Tahun Tsunami Aceh, Film Dokumenter “Smong Aceh” Tampil di JAFF 2024

0
20 Tahun Tsunami Aceh, Film Dokumenter "Smong Aceh" Tampil di JAFF 2024. (Foto: Republika)

NUKILAN.id | Yogyakarta – Film dokumenter “Smong Aceh” menjadi salah satu sorotan di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024. Dipilih sebagai Official Selection, film ini ditayangkan perdana dalam sesi Special Screening terbatas di Empire XXI Yogyakarta, Kamis (5/12/2024).

Disutradarai oleh sineas kawakan Tonny Trimarsanto dan diproduseri oleh aktris senior Christine Hakim, film berdurasi 31 menit ini membawa penonton menelusuri peristiwa gempa dan tsunami yang menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004, dua dekade silam. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 200 ribu jiwa dan menjadi salah satu tragedi alam paling mematikan dalam sejarah modern Indonesia.

Mengangkat Kisah Penyintas dan Kearifan Lokal

Film ini mengisahkan perjalanan dua tokoh asli Aceh, Sharina dan Juman, yang membawa perspektif berbeda dalam menghadapi tsunami.

  • Sharina, penyintas dari Banda Aceh, mendedikasikan hidupnya untuk edukasi kebencanaan. Pengalamannya kehilangan keluarga dan teman-teman terdekat menginspirasinya untuk melakukan riset dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
  • Juman, musisi tradisional dari Simeulue, memanfaatkan seni nandong untuk menyebarkan kisah dan pesan kewaspadaan terhadap tsunami.

“Smong” sendiri berasal dari bahasa lokal Simeulue yang berarti tsunami. Istilah ini mencerminkan kearifan lokal yang berhasil menyelamatkan banyak nyawa pada bencana tsunami 2004.

Pendekatan Ilmiah dan Emosional

Selain mengangkat kisah personal, film ini juga dilengkapi testimoni dari peneliti, pengamat, dan tokoh masyarakat. Salah satu sorotan adalah temuan riset OceanX yang meneliti megathrust di perairan barat Sumatera pada Mei 2024.

“Kearifan lokal seperti ‘Smong’ sangat berharga dalam edukasi publik nasional. Kita perlu menjadikannya bagian dari pengetahuan lintas generasi,” ujar Tonny Trimarsanto.

Christine Hakim menambahkan bahwa “Smong Aceh” dirancang bukan hanya sebagai refleksi atas tragedi, tetapi juga sebagai simbol harapan. “Tragedi ini harus diubah menjadi narasi kekuatan agar masyarakat siap menghadapi bencana serupa di masa depan,” katanya.

Kolaborasi untuk Edukasi

Film ini diproduksi oleh Cinesurya, Rumah Dokumenter, dan Christine Hakim Film melalui dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta beberapa perusahaan seperti PT Pupuk Indonesia dan Bank Syariah Indonesia.

Christine berharap film ini bisa ditayangkan di kampus, komunitas, dan bahkan menjadi bagian dari kurikulum ekstrakurikuler di sekolah. “Edukasi kebencanaan harus menyentuh generasi muda agar mereka siap menghadapi situasi serupa di masa depan,” katanya.

Langkah Lanjutan

Setelah JAFF 2024, tim produksi berencana memutarkan “Smong Aceh” secara lebih luas. “Kami ingin film ini menjadi bahan diskusi akademis di kampus-kampus dan komunitas,” ujar Tonny.

Penayangan ini juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Aceh yang jatuh pada 26 Desember 2024. Melalui dokumenter ini, masyarakat diajak untuk tidak melupakan sejarah dan belajar dari pengalaman masa lalu.

“Smong Aceh” bukan sekadar film dokumenter, melainkan ajakan untuk memahami, mengingat, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan alam yang mungkin datang kapan saja.

KIP Aceh Gelar Pleno Penetapan Hasil Pilgub 2024 Hari Ini

0
Ketua KIP Aceh, Agusni AH. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dijadwalkan mulai menggelar rapat pleno rekapitulasi suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2024 pada Kamis (7/12/2024). Proses ini akan berlangsung hingga Sabtu (9/12/2024) di Banda Aceh, melibatkan perwakilan dari seluruh kabupaten/kota se-Aceh, peserta pemilu, serta pemantau independen.

Ketua KIP Aceh, Agusni, menyatakan rasa syukur atas selesainya rekapitulasi suara di tingkat kabupaten/kota.

“Alhamdulillah, pleno rekapitulasi suara di tingkat kabupaten/kota telah selesai,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (6/12/2024).

Agusni menegaskan, pleno rekapitulasi di tingkat provinsi merupakan tahap krusial dalam menetapkan hasil Pilgub Aceh 2024.

Rapat pleno ini digelar di bawah pengawasan ketat pemantau independen untuk menjaga kepercayaan publik terhadap integritas hasil pemilu. Seluruh dokumen rekapitulasi suara dari kabupaten/kota telah diterima oleh KIP Aceh, yang kini bersiap menetapkan hasil akhir pemilihan.

Momen penetapan hasil Pilgub Aceh 2024 ini menjadi sorotan publik. Hasil akhirnya akan menentukan arah kepemimpinan Aceh untuk lima tahun ke depan. Selain itu, masyarakat berharap pleno ini dapat menjadi bukti nyata dari demokrasi yang sehat dan terbuka.

KIP Aceh mengimbau semua pihak untuk tetap menjaga kondusivitas selama proses berlangsung.

“Kami harap masyarakat, peserta pemilu, dan seluruh pemangku kepentingan dapat bersabar hingga hasil resmi diumumkan,” pungkas Agusni.

Pleno ini diharapkan berjalan sesuai jadwal dengan hasil yang mampu diterima oleh semua pihak, mencerminkan pilihan rakyat Aceh secara utuh.