Beranda blog Halaman 594

Judi Online dan Cemooh Terhadap Penegakan Hukum

0
Ilustrasi judi online. (Foto: Media Indonesia)

NUKILAN.id | Opini – Di tengah gegap gempita kampanye pemberantasan judi online, publik justru disuguhi ironi: aparat penegak hukum tampak setengah hati, bahkan seolah enggan menyentuh akar persoalan. Yang ditangkap hanya pemain kelas teri dan bandar ecek-ecek, sementara para bos besar dan pelindung mereka dari kalangan elite politik serta aparat keamanan tetap melenggang bebas.

Penjelasan polisi yang kerap mengelak dengan dalih server judi online berada di luar negeri tak lebih dari alasan usang yang mencerminkan kemalasan, atau bahkan potensi keterlibatan. Jika penegakan hukum tunduk pada batas geografis, maka kejahatan transnasional seperti narkotika dan terorisme pun seharusnya tak bisa ditangani. Namun faktanya, aparat bisa sigap bila ingin dan bersungguh-sungguh. Mengapa berbeda dalam hal perjudian?

Kisah tentang aliran uang dari bandar judi ke aparat bukanlah isapan jempol. Kasus Irjen Ferdy Sambo membuka tabir tentang apa yang disebut sebagai “Konsorsium 303” — jaringan gelap yang diduga menjadi jalur setoran dari para pengusaha judi ke aparat dan elit tertentu. Angka 303 sendiri merujuk pada pasal KUHP tentang perjudian. Dalam konteks ini, judi online bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan disalahgunakan dan hukum dilecehkan.

Yang lebih mencemaskan, ada indikasi bahwa dana haram dari judi online turut digunakan untuk mendanai aktivitas politik, termasuk kampanye pemilihan umum 2024. Jika benar, ini bukan lagi sekadar kejahatan biasa, melainkan ancaman serius terhadap demokrasi. Keterlibatan politikus dalam struktur perusahaan pengelola judi menjadi sinyal kuat bahwa permainan kotor ini dilindungi oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi.

Sementara itu, laporan investigasi dari Tempo menunjukkan bahwa kota-kota judi seperti Sihanoukville dan Poipet di Kamboja telah menjadi markas operasi para pengusaha judi asal Indonesia. Melalui situs daring yang diinduk ke kasino-kasino ini, perjudian lintas batas menyasar masyarakat Indonesia secara masif. Para pekerja bahkan direkrut dari Indonesia, menciptakan potensi perdagangan orang dan eksploitasi tenaga kerja.

Sayangnya, respons aparat terhadap laporan masyarakat soal judi online cenderung mengecewakan. Alih-alih menindaklanjuti dengan penyelidikan, polisi justru meminta barang bukti lengkap dari pelapor. Padahal, laporan awal, investigasi media, dan analisis digital bisa menjadi petunjuk awal untuk membuka kasus. Ketika sikap ini berlangsung terus-menerus, publik tak bisa tidak curiga bahwa ada yang sedang dilindungi.

Penelusuran aliran dana digital, yang hari ini bisa dilakukan dengan teknologi canggih, menjadi langkah strategis dalam membongkar jaringan judi online. Namun, tanpa kemauan politik dan keberanian untuk menindak siapa pun—termasuk mereka yang bercokol di elite kekuasaan—maka upaya ini hanya akan menjadi drama sandiwara penegakan hukum.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pun tak luput dari sorotan. Tugas mereka menyaring dan memblokir akses ke situs-situs judi daring tampaknya hanya dijalankan secara sporadis. Setelah lebih dari sepuluh pegawai kementerian ditangkap karena diduga menerima bayaran dari pengelola situs judi, kepercayaan publik makin terkikis. Sekitar seribu situs diketahui rutin membayar agar leluasa beroperasi. Maka tak heran, promosi judi online tetap berseliweran di media sosial tanpa pengawasan ketat.

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintahan Prabowo Subianto yang acap beretorika tentang nasionalisme dan kesejahteraan rakyat. Judi online telah mengalirkan uang triliunan rupiah ke luar negeri—sebuah kebocoran besar yang ironisnya dikeluhkan oleh Prabowo sendiri sejak lama. Pada 2024 saja, sebanyak Rp51 triliun uang rakyat Indonesia mengalir ke rekening penyedia judi online. Ini bukan angka remeh.

Dampaknya nyata. Judi menyebabkan kemiskinan, dan kemiskinan mendorong kriminalitas. Sejumlah studi menunjukkan korelasi kuat antara keduanya. Saat rumah tangga kehilangan penghasilan karena kepala keluarganya kecanduan judi, maka efek domino pun terjadi: anak putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga meningkat, dan masyarakat terjebak dalam lingkaran keterpurukan.

Kini bukan saatnya lagi bagi aparat untuk banyak cingcong. Penegakan hukum tak boleh pilih kasih. Pemerintah harus menunjukkan keberanian politik untuk menindak tegas para bandar, pelindung, dan pelaku di balik industri judi online, betapapun tinggi jabatan dan elitnya posisi mereka. Jika tidak, maka pemberantasan judi hanya akan menjadi panggung sandiwara—dan keadilan tak lebih dari ilusi belaka. (XRQ)

Penulis: Akil

Seluruh Calon Haji Aceh 2025 Telah Lunasi Bipih, Kloter Pertama Terbang 18 Mei

0
Kakanwil Kemenag Aceh, Azhari. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh mengumumkan bahwa seluruh calon jamaah haji asal Aceh tahun 2025 telah menyelesaikan pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih).

“Total jumlah calon haji Aceh tahun ini sebanyak 4.329 orang, dan semuanya sudah melunasi Bipih,” kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, di Banda Aceh, Senin (14/4/2025).

Jumlah tersebut belum termasuk Tim Petugas Haji Daerah (TPHD) sebanyak 36 orang dan 13 orang dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH). Jika ditotal, kuota keberangkatan dari Aceh mencapai 4.378 orang.

Visa dan Keberangkatan

Azhari menuturkan bahwa proses pengajuan visa haji masih berlangsung, khususnya untuk jamaah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) pertama dan kedua. Sesuai jadwal, kloter pertama akan mulai masuk Asrama Haji Embarkasi Aceh pada 17 Mei dan diberangkatkan ke Tanah Suci pada 18 Mei 2025 melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.

“Diperkirakan, kloter pertama masuk asrama 17 Mei dan berangkat pada 18 Mei 2025 via Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, dan langsung terbang ke Jeddah,” ujar Azhari.

Persiapan Maksimal

Guna mendukung kelancaran ibadah haji, berbagai persiapan telah dilakukan oleh Kemenag Aceh. Mulai dari pelatihan petugas, manasik haji, hingga kesiapan sarana dan prasarana di Asrama Haji.

“Asrama Haji Embarkasi Aceh sudah disiapkan. Kemudian, kita juga telah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk persiapan apa yang harus dimaksimalkan dalam pelayanan jamaah nanti,” ungkap Azhari.

Lansia Mendominasi, Tanpa Kuota Disabilitas

Dari total kuota jamaah tahun ini, sebanyak 219 orang merupakan lanjut usia, bahkan yang termuda berusia 80 tahun. Sementara itu, untuk kategori penyandang disabilitas, Aceh tidak mendapatkan kuota pada musim haji kali ini.

Imbauan untuk Jaga Kesehatan

Menjelang keberangkatan, Azhari mengimbau seluruh calon jamaah untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap prima selama menjalani ibadah di Tanah Suci.

“Kita berharap jamaah calon haji agar menjaga kesehatan dengan olahraga ringan mulai dari sekarang, dan juga harus serius mengikuti manasik, sehingga benar-benar dapat memahaminya,” ujarnya.

Dengan seluruh calon haji yang telah melunasi Bipih, Kemenag Aceh berharap proses keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar dan penuh khidmat.

Editor: Akil

122 Pelajar Aceh Selatan Lolos Seleksi Paskibraka Tahap Awal

0
Ketua Pengurus Kabupaten Purna Paskibraka Indonesia Aceh Selatan, Azwar bersama dengan Anggota Pengurus. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan Semangat kebangsaan generasi muda Aceh Selatan kembali berkobar. Sebanyak 122 siswa-siswi terbaik dinyatakan lolos dalam seleksi tahap awal Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Aceh Selatan tahun 2025. Mereka terseleksi dari total 151 peserta yang sebelumnya lulus administrasi.

Seleksi awal yang digelar pada Senin, 14 April 2025, di Aula Pariwisata Kabupaten Aceh Selatan itu mencakup Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Tes Intelijensi Umum (TIU). Dari hasil seleksi tersebut, terpilih 76 putra dan 46 putri yang dinilai layak melaju ke tahapan selanjutnya.

Ketua Pengurus Kabupaten Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Aceh Selatan, Azwar, kepada Nukilan.id menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dan seluruh panitia seleksi.

“Seleksi yang transparan dan berbasis online sejak 2023 telah menjangkau potensi anak-anak di seluruh pelosok Aceh Selatan tanpa diskriminasi. Ini adalah bukti komitmen kita dalam menjaring bibit-bibit terbaik bangsa,” ujar Azwar.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran Paskibraka dalam momentum kenegaraan, khususnya saat peringatan Detik-Detik Proklamasi pada 17 Agustus.

“Para calon Paskibraka ini adalah representasi harapan kita, mereka akan menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, kami memohon dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan agar persiapan mereka dapat optimal, sehingga mereka dapat mengharumkan nama Aceh Selatan di tingkat Provinsi dan Nasional,” ungkapnya.

Azwar juga berharap agar pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap alokasi anggaran bagi kegiatan Paskibraka, mengingat besarnya nilai edukatif dan patriotik yang dibawa oleh program ini.

Setelah melewati TWK dan TIU, para calon Paskibraka akan kembali diuji lewat serangkaian tahapan seleksi lanjutan, mulai dari seleksi kesehatan dan parade, peraturan baris-berbaris (PBB), kesamaptaan jasmani, hingga tes kepribadian. Dari proses itu, dua peserta terbaik akan dipilih untuk mewakili Aceh Selatan ke tingkat Provinsi dan, jika lolos, ke tingkat Nasional.

Pada tahun 2024, Aceh Selatan sukses mengirimkan perwakilan hingga ke tingkat Nasional, sebuah capaian yang kini menjadi motivasi bagi angkatan 2025. Para peserta dan pendamping berharap, tahun ini pun akan menjadi momentum kebanggaan baru bagi Kabupaten Aceh Selatan.

“Ini bukan sekadar baris-berbaris, tapi tentang menjadi simbol semangat perjuangan dan kecintaan terhadap tanah air,” ujar salah seorang pelatih Paskibraka setempat.

Pengumuman resmi calon Paskibraka tingkat Kabupaten akan dilakukan setelah proses seleksi di tingkat Provinsi dan Nasional rampung. Namun semangat dan harapan para peserta telah menyatu dalam tekad yang sama: kibarkan Merah Putih, harumkan nama Aceh Selatan. (XRQ)

Reporter: AKil

Larangan Merokok di Kalangan ASN Aceh Barat, Sosiolog Soroti Pentingnya Sosialisasi

0
sisiolog aceh
Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Meulaboh — Kebijakan Bupati Aceh Barat yang melarang aparatur sipil negara (ASN) merokok di lingkungan kantor pemerintahan mulai menuai perhatian publik. Sejumlah pihak menyambut positif langkah tersebut, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan efektivitas serta dampak sosial dari implementasinya.

Untuk menggali lebih dalam dari sudut pandang sosiologis, Nukilan.id menghubungi Dr. Masrizal, seorang sosiolog Aceh. Menurutnya, kebijakan ini memang tidak akan serta-merta diterima semua pihak, terutama oleh kalangan ASN yang masih memiliki kebiasaan merokok.

“Tentu akan ada juga kelompok yang tidak sepakat. Terutama mereka yang merokok. Insya Allah lama kelamaan akan mulai berubah sedikit demi sedikit,” ungkapnya pada Senin (14/4/2025).

Ia mencontohkan kebijakan serupa yang pernah diberlakukan di Banda Aceh. Menurut Masrizal, pengalaman di ibu kota provinsi tersebut bisa menjadi cerminan bagi Aceh Barat bahwa perubahan perilaku sosial tidak terjadi dalam waktu singkat, namun bisa berkembang seiring waktu dengan pendekatan yang tepat.

“Seperti di Banda Aceh dulunya juga demikian, sekarang (ASN) sudah mulai sadar larangan merokok,” katanya menegaskan.

Akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala tersebut menambahkan bahwa pada awal penerapan Peraturan Wali Kota (Perwali) Banda Aceh terkait larangan merokok, sempat terjadi penolakan dari berbagai pihak. Namun lambat laun, aturan tersebut diterima secara luas karena masyarakat mulai merasakan manfaatnya.

“Awalnya Perwali (Banda Aceh) terkait rokok ditolak, sekarang setelah melihat dampak positifnya maka sudah mulai diterima oleh semua kalangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Masrizal menekankan pentingnya pendekatan edukatif dalam mensukseskan kebijakan larangan merokok di lingkungan ASN. Sosialisasi yang menyeluruh, menurutnya, menjadi kunci agar kebijakan ini tidak sekadar menjadi aturan administratif semata, tetapi mampu mengubah pola pikir dan budaya kerja para pegawai.

“Diperlukan sosialisasi di setiap OPD atau SKPD, baik di website dan media sosial instansi Pemerintahan,” ungkapnya.

Ia juga mendorong agar kebijakan ini diterapkan secara menyeluruh hingga ke tingkat pemerintahan terendah, agar konsistensi dalam pelaksanaannya bisa terjaga.

“Bila perlu larangan ini juga diterapkan hingga ke kantor terendah yakni kantor desa atau gampong,” pungkasnya.

Kebijakan larangan merokok ini dinilai menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Meski tidak lepas dari tantangan sosial, banyak pihak optimistis bahwa melalui sosialisasi dan edukasi yang tepat, ASN di Aceh Barat dapat beradaptasi dan mendukung langkah ini sebagai bentuk komitmen terhadap kesehatan dan etika pelayanan publik. (XRQ)

Reporter: AKil

Mahfudz Y Loethan: Film Aceh-Ottoman Harus Setara Hollywood

0
Mahfudz Y Loethan, Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Aceh. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Aceh, Mahfudz Y Loethan, menyambut antusias rencana produksi film kolaborasi antara Indonesia dan Turki yang akan mengangkat kisah sejarah hubungan Kesultanan Aceh dengan Kekaisaran Ottoman. Baginya, film tersebut tak sekadar proyek hiburan, melainkan langkah strategis untuk mengangkat kembali peran Aceh dalam sejarah dunia.

“Kita tidak bicara tentang sejarah biasa. Kita bicara tentang peradaban besar yang pernah berdiri sejajar dengan kekuatan dunia. Film ini bukan sekadar film. Ini adalah upaya untuk memperkenalkan kembali Aceh sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia yang lebih besar,” tegas Mahfudz saat diwawancarai, Senin (14/4/2025).

Menurut Mahfudz, film menjadi medium paling efektif untuk menyampaikan warisan sejarah kepada generasi masa depan. Karena itu, ia mendorong agar proyek film sejarah ini digarap dengan standar tertinggi.

“Film ini harus diproduksi dengan standar tertinggi, setara film-film internasional. Jika ingin dunia tahu siapa kita, maka karyanya juga harus berkelas dunia. Aceh adalah bagian dari Indonesia, dan kisah besar Aceh adalah kisah besar bangsa ini,” ujarnya.

Rencana produksi film ini menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali semangat sejarah lewat karya sinema. Bagi Mahfudz, sejarah besar tak hanya milik masa lalu, tetapi juga masa depan—dan film menjadi jembatan untuk menghadirkannya di tengah masyarakat global.

Selain kisah hubungan Aceh dan Ottoman, Mahfudz juga menilai banyak potensi cerita sejarah dari bumi Serambi Mekkah yang layak diangkat ke layar lebar. Salah satunya adalah sosok Laksamana Keumalahayati, panglima perempuan pertama di dunia yang berasal dari Aceh.

“Keumalahayati adalah simbol ketangguhan Aceh dan Indonesia. Kisahnya layak diangkat ke layar lebar dan dikenalkan ke seluruh dunia. Kita punya banyak cerita luar biasa yang harus hidup dalam bentuk karya sinema,” katanya.

Ia menegaskan, keberhasilan produksi film sejarah semacam ini harus diawali dengan persiapan yang matang, mulai dari riset, penulisan naskah, visualisasi, hingga strategi distribusi internasional.

“Aceh adalah bagian dari Indonesia yang harus dibanggakan dunia. Film ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan sejarah Indonesia yang besar ke panggung dunia. Dan itu tidak boleh setengah-setengah,” tutup Mahfudz.

Koalisi Keberagaman Serahkan Rekomendasi Pembangunan Inklusif 2025–2030 kepada Wali Kota Banda Aceh

0
Koalisi Keberagaman Serahkan Rekomendasi Pembangunan Inklusif 2025–2030 kepada Wali Kota Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Koalisi Keberagaman yang terdiri dari lebih dari 25 organisasi masyarakat sipil di Banda Aceh menyerahkan dokumen kertas kebijakan Rekomendasi Pembangunan Kota Banda Aceh Periode 2025–2030 kepada Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal dan Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah, Senin (14/4/2025), di Balai Kota Banda Aceh.

Koalisi yang terdiri dari beragam unsur—mulai dari LSM lingkungan, akademisi, aktivis, seniman, komunitas minoritas, media, hingga kelompok perempuan dan disabilitas—menggelar audiensi sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan kota yang lebih inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

Dalam pembukaan, perwakilan Koalisi Keberagaman, Destika Gilang Lestari dari GeRAK Aceh, menyampaikan bahwa audiensi ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara masyarakat sipil dan pemerintah.

“Dokumen ini merupakan masukan strategis bagi Pemerintah Kota Banda Aceh dalam menyusun arah pembangunan lima tahun ke depan yang lebih berpihak kepada semua kalangan, tanpa terkecuali,” ujar Destika.

Sorotan Isu Perempuan, Pemuda, dan Disabilitas

Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu krusial disuarakan oleh perwakilan koalisi. Dari sektor perlindungan perempuan, Wanti Maulidar dari PKBI menekankan pentingnya layanan gratis bagi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual. Ia juga mengusulkan pembentukan reusam gampong untuk perlindungan perempuan dan anak, serta pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir melalui pengelolaan hasil laut seperti tiram, kerang, ikan asin, dan keumamah.

Tak hanya itu, Wanti juga menekankan perlunya penguatan forum Musrenbang Perempuan sebagai kanal partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Sementara itu, dari kelompok pemuda, Dwy Alfina dari KAMu DemRes mendorong lahirnya kebijakan mitigasi terhadap judi online dan rokok di kalangan remaja. Ia juga mengusulkan penyelenggaraan lomba game edukatif dan olahraga tradisional di tingkat gampong serta pengembangan ruang ekspresi untuk konten kreator muda, penyandang disabilitas, dan komunitas minoritas.

“Kami juga mendorong pelatihan konten kreator pemula, integrasi pendidikan seksualitas di sekolah diniyah, dan penguatan forum Musrenbang Pemuda,” jelas Dwy.

Dari perspektif penyandang disabilitas, Erlina Marlinda dari CYDC Aceh mengajukan usulan beasiswa afirmatif dan penerapan prinsip aksesibilitas di semua sektor layanan publik.

“Mulai dari trotoar, toilet wisata, rumah ibadah, hingga taman kota—semua harus inklusif bagi disabilitas,” ungkapnya. Ia juga mendorong pembentukan forum Disabilitas dan peningkatan kapasitas aparatur gampong dalam penanganan bencana yang inklusif.

Perwakilan orang muda dari kelompok minoritas, Kevin Leonardy, turut menyuarakan pentingnya pelatihan inklusif bagi aparatur gampong serta keterbukaan data penerima bantuan sosial seperti DTKS untuk kelompok minoritas, lansia, dan disabilitas.

“Forum Minoritas juga perlu dibentuk sebagai ruang kolaborasi yang adil dan setara,” ujarnya.

Wali Kota: Peran CSO Sangat Penting

Menanggapi masukan-masukan tersebut, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam proses pembangunan kota.

“Kertas kebijakan yang diberikan sangatlah penting bagi pemerintahan kota. Dokumen ini langsung saya kirimkan ke perumus yang lagi berdiskusi tentang rencana pembangunan daerah Kota Banda Aceh, dan kita akan berupaya mengakomodir masukan-masukan yang tertera di dalam kertas kebijakan yang telah diberikan,” kata Illiza.

Ia juga menekankan bahwa peran organisasi masyarakat sipil sangat strategis untuk menyatukan ide, membangun kepercayaan, dan mempercepat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, turut menyambut baik audiensi tersebut. Keduanya menyatakan komitmen untuk membuka ruang-ruang dialog serupa secara berkelanjutan sebagai bentuk sinergi dan keterbukaan pemerintah.

Hasil dari audiensi ini akan dirangkum dalam dokumen tindak lanjut yang akan didistribusikan ke dinas-dinas teknis terkait. Menariknya, Pemerintah Kota Banda Aceh juga meminta GeRAK Aceh untuk menjadi leading sector dalam membentuk Forum Suara Warga Kota Banda Aceh—sebuah inisiatif baru untuk menampung aspirasi masyarakat dari berbagai latar belakang secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

Editor: Akil

Mahasiswa Unaya Unjuk Rasa, Rektor Nurlis: Mereka Harus Berani Bersuara

0
Mahasiswa Unaya Unjuk Rasa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Puluhan mahasiswa Universitas Abulyatama (Unaya) menggelar aksi unjuk rasa di pintu gerbang kampus di kawasan Lampoh Keudee, Aceh Besar, Senin (14/4/2025). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan tuntutan atas hak mereka dalam menempuh pendidikan, sembari membakar ban di depan gerbang sebagai bentuk protes.

Menanggapi aksi tersebut, Rektor Universitas Abulyatama, Dr Nurlis Effendi, menilai unjuk rasa adalah bagian dari dinamika demokrasi di lingkungan kampus.

“Mereka bisa menyuarakan apa saja sepanjang itu sesuai dengan fakta dan data yang mereka terima,” ujar Nurlis saat dikonfirmasi.

Namun demikian, ia mempertanyakan dasar tuntutan yang disampaikan para mahasiswa. Menurutnya, penting untuk mengetahui secara jelas siapa yang sebenarnya menghambat hak mereka sebagai mahasiswa.

“Data itulah yang perlu mereka berikan kepada saya,” lanjutnya.

Nurlis menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika terbukti ada pihak yang menghalangi mahasiswa untuk mengakses pendidikan di Unaya.

“Siapapun pasti saya ambil tindakan tegas, tidak pandang bulu,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan dalam menata kembali proses akademik, Nurlis telah mengeluarkan pengumuman resmi bernomor 024.01.03 tertanggal 14 April 2025. Pengumuman tersebut menginstruksikan seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk kembali menjalankan kegiatan akademik dan administrasi seperti biasa.

Dalam surat edaran itu, Rektor juga meminta seluruh civitas akademika untuk melanjutkan proses belajar mengajar demi memberikan layanan pendidikan yang maksimal. Para dosen juga diminta untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Dekan dan Ketua Program Studi diminta segera melakukan distribusi mata kuliah kepada dosen, serta memperbarui roster perkuliahan, terutama bagi dosen yang belum mendapatkan beban mengajar.

Nurlis mengungkapkan, langkah-langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap berbagai bentuk intimidasi yang sebelumnya dialami dosen dan mahasiswa di lingkungan kampus.

“Bahkan puluhan dosen diintimidasi agar tidak masuk kampus. Dihadang di pintu gerbang. Bahkan gajinya pun tidak dibayar. Inilah yang perlu diubah,” ungkapnya.

Menurut Nurlis, pihak yang melakukan intimidasi tersebut sudah diketahui identitasnya dan telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh Yayasan Abulyatama Aceh, selaku penyelenggara Universitas Abulyatama.

Ia pun mengajak mahasiswa untuk bersikap terbuka dan berani dalam menyampaikan persoalan yang sebenarnya terjadi.

“Sebagai calon intelektual mereka harus memperjuangkan kebenaran, juga bertindak jujur, serta punya keberanian untuk mengatakan yang jujur,” tutup Nurlis.

Repnas dan Forbina Desak Pemerintah Bangkitkan Potensi Kawasan Sabang

0
Ilustrasi impor dan ekspor. (Foto: Antara)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Sabang, kota paling barat Indonesia yang menyimpan segudang potensi, kembali menjadi sorotan. Dua organisasi penggerak ekonomi, Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) Aceh dan Forum Bangun Investasi Aceh (Forbina), kompak mendesak pemerintah pusat untuk tidak lagi memandang sebelah mata kawasan strategis ini.

Ketua Repnas Aceh, Mahfudz Y Loethan, menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mempermudah sistem ekspor-impor. Namun, ia mengingatkan bahwa upaya tersebut perlu diimbangi dengan pemerataan pembangunan, terutama ke wilayah-wilayah yang memiliki nilai strategis tinggi seperti Sabang.

“Sabang adalah titik strategis di ujung barat Indonesia. Jika digarap serius, ini bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi kawasan barat Indonesia. Kami mendorong Sabang menjadi bagian dari prioritas nasional,” ujar Mahfudz, Kamis (10/4/2025).

Sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Wilayah, Mahfudz juga menyoroti kinerja Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) yang dinilai belum optimal menjalankan mandat sebagai pengelola kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Menurutnya, selain regulasi yang mendukung, Sabang juga membutuhkan tambahan anggaran yang signifikan.

“Sabang butuh dukungan nyata, tidak hanya kemudahan perizinan, tetapi juga kucuran anggaran yang cukup agar BPKS bisa berfungsi optimal sebagai simpul logistik dan gerbang perdagangan internasional dari barat Indonesia,” tegasnya.

Desakan serupa juga datang dari Direktur Forbina, Muhammad Nur SH. Ia menyoroti posisi geografis Sabang yang berada di jalur pelayaran tersibuk dunia, yakni Selat Malaka. Sayangnya, posisi strategis ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sabang bisa menjadi pusat ekonomi yang menguntungkan bagi Aceh dan Indonesia, jika dikelola dengan serius. Padahal kapal-kapal barang masih melewati Selat Malaka menuju pelabuhan internasional di Sabang sampai detik ini, tapi dampak ekonominya sangat minim,” kata M. Nur, Sabtu (12/4/2025).

Menurutnya, Aceh memiliki komoditas unggulan seperti kopi Gayo, kelapa sawit, kakao, cengkeh, hingga hasil perikanan yang diminati pasar global. Dengan infrastruktur yang memadai dan akses perdagangan yang terbuka, Sabang diyakini mampu menjadi pusat distribusi penting di barat Indonesia.

“Potensi besar ini harus diolah secara serius oleh pemerintah. Aceh punya semua syarat: lokasi strategis, komoditas unggulan, dan akses pelayaran internasional. Tinggal butuh keseriusan dalam pengelolaan,” ujar M. Nur.

Repnas dan Forbina menilai, era kepemimpinan Presiden Prabowo merupakan momentum emas untuk mengangkat kembali Sabang dari tidurnya. Keduanya mendesak agar kawasan ini dimasukkan dalam skema pembangunan strategis nasional demi pemerataan pertumbuhan ekonomi hingga ke wilayah terluar Indonesia.

Polri Gagalkan Penyelundupan 192 Kg Sabu Jaringan Internasional

0
Ilustrasi Sabu. (Foto: Polda Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil menggagalkan penyelundupan ratusan kilogram narkotika jenis sabu dari jaringan internasional Malaysia-Indonesia. Pengungkapan ini terjadi di wilayah Bireuen, Aceh, dan satu orang tersangka yang berperan sebagai kurir berhasil diamankan.

“Benar, telah diamankan barang bukti narkoba berupa sabu seberat 192 kilogram,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (14/4/2025).

Brigjen Eko menjelaskan, satu orang kurir diamankan dalam operasi ini. Namun, pihaknya belum berhenti sampai di situ. Penelusuran terhadap jaringan narkotika lintas negara ini masih terus dilakukan.

Berawal dari Informasi Intelijen

Kasus ini diungkap oleh Tim Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai RI. Operasi bermula dari informasi intelijen yang diterima pada awal April 2025, terkait rencana pengiriman sabu ke Aceh melalui jalur laut perairan Selat Malaka.

Pada Minggu (6/4), tim mendapat kabar bahwa sindikat narkoba telah bergerak menggunakan sebuah boat untuk menjemput sabu dari wilayah perairan. Merespons hal tersebut, Satgas kemudian membagi personel menjadi dua tim: tim laut dan tim darat.

Tim laut yang melibatkan kapal patroli Bea Cukai bertugas melakukan pengawasan di perairan, sementara tim darat dikerahkan untuk melakukan profiling terhadap jaringan dan memantau jalur darat di sekitar pesisir pantai Aceh.

Penyergapan Dini Hari

Selang dua hari kemudian, pada Selasa (8/4) sekitar pukul 02.20 WIB, tim mendapatkan informasi bahwa boat yang membawa paket sabu telah mendarat dan barang haram tersebut sudah diserahkan kepada pihak penerima di darat.

Tim darat segera melakukan penyisiran di sekitar wilayah pesisir Pandrah, Bireuen. Dari hasil pantauan, polisi mencurigai satu unit mobil yang diduga membawa paket sabu. Pengejaran pun dilakukan hingga ke Jalan Raya Banda Aceh-Medan, tepatnya di kawasan Pandrah Kandeh, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen.

Mobil Honda City berpelat nomor BL 1339 VZ berhasil dihentikan. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan 10 karung berisi narkotika jenis sabu yang dibawa oleh tersangka berinisial M.

“Kami mengamankan satu orang kurir dan kami masih melakukan pengembangan,” imbuh Brigjen Eko.

Pengembangan Jaringan

Penangkapan ini menjadi pintu masuk bagi Bareskrim Polri untuk menguak lebih jauh struktur jaringan narkoba lintas negara tersebut. Dugaan kuat menyebutkan sabu tersebut berasal dari Malaysia dan dikirim melalui jalur laut menuju pesisir Aceh, untuk kemudian didistribusikan ke wilayah lain di Indonesia.

Hingga kini, penyidik masih mendalami jaringan yang terkait dengan tersangka dan menelusuri pihak-pihak lain yang terlibat dalam pengiriman serta distribusi sabu dalam jumlah besar ini.

Editor: Akil

Larangan Merokok bagi ASN di Aceh Barat Dinilai Positif dari Perspektif Sosiologis

0
Ilustrasi Larangan Merokok. (Foto: TribunLampung)

NUKILAN.id | Meulaboh – Kebijakan Bupati Aceh Barat yang melarang aparatur sipil negara (ASN) merokok di lingkungan kantor pemerintahan menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Dari sudut pandang sosiologis, larangan tersebut dinilai sebagai langkah strategis yang patut diapresiasi, meski implementasinya tetap memerlukan dukungan dari seluruh elemen birokrasi.

Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, menilai bahwa larangan merokok di ruang lingkup perkantoran pemerintah memiliki dimensi sosial yang penting, terutama dalam menciptakan perubahan perilaku di lingkungan birokrasi.

“Secara sosiologis kebijakan larangan merokok bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok, menciptakan lingkungan sehat, dan mengubah perilaku masyarakat,” ungkap Masrizal kepada Nukilan.id, Senin (14/4/2025).

Akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala tersebut menambahkan bahwa kantor pemerintahan sebagai ruang publik idealnya menjadi contoh dalam mendorong budaya hidup sehat, termasuk dalam upaya pengendalian konsumsi rokok di ruang kerja.

“Tentu ini suatu hal yang baik yang harus didukung, karena pada ruang publik seperti dikantor-kantor pemerintahan,” lanjut Masrizal.

Namun demikian, menurutnya efektivitas regulasi ini tidak semata-mata bergantung pada larangan tertulis, tetapi sangat ditentukan oleh sikap dan komitmen dari para pemangku kebijakan serta lingkungan kerja itu sendiri.

“Namun apakah larangan tersebut akan efektif atau tidak, tentu ini perlu dicontohkan terlebih dahulu oleh pimpinan di masing-masing OPD atau SKPD, serta ada kemauan dari semua untuk saling mengingatkan,” tegasnya.

Masrizal menekankan pentingnya keteladanan dari para pejabat struktural, agar aturan ini tidak hanya menjadi formalitas, melainkan mampu membentuk budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.

Meski tidak mudah, perubahan budaya merokok di kalangan ASN dinilai mungkin tercapai bila disertai kontrol sosial yang kuat, pengawasan berjenjang, serta adanya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan kerja yang bebas asap rokok. (XRQ)

Reporter: Akil