Beranda blog Halaman 580

Prabowo Sambut Hangat Mualem di Istana, Simbol Rekonsiliasi Politik?

0
Prabowo Sambut Hangat Mualem di Istana. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyambut Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dengan penuh kehangatan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/2/2025). Momen kedekatan ini terekam jelas ketika Prabowo menyalami para kepala daerah yang hadir dalam acara pelantikan. Tak sekadar berjabat tangan, Prabowo merangkul Mualem dengan erat, lalu keduanya tampak berbincang sejenak sambil tersenyum.

Pertemuan ini menjadi sorotan, mengingat hubungan keduanya yang di masa lalu berada di posisi berseberangan. Namun, politik selalu menyisakan ruang bagi rekonsiliasi. Kedekatan Prabowo dan Mualem pun semakin terlihat dalam beberapa kesempatan, termasuk saat acara Silaturahmi Kebangsaan Koalisi Indonesia Maju (KIM) di Hambalang, Jawa Barat, Jumat (14/2/2025). Kala itu, Prabowo secara terbuka mengungkapkan kebanggaannya terhadap sosok Mualem.

“Dua panglima bermusuhan, tapi sekarang bisa berangkulan dan sekarang jadi Gubernur. Saya bangga dengan Mualem,” ujar Prabowo yang disambut riuh tawa para hadirin.

Kehadiran Mualem di Istana Kepresidenan kali ini dalam rangka pelantikan kepala daerah terpilih hasil Pilkada 2024. Bersama wakilnya, Fadhlullah, Mualem resmi menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2025-2030 setelah dilantik di DPR Aceh pada 12 Februari 2025.

Pelantikan ini menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Untuk pertama kalinya, sebanyak 33 gubernur, 33 wakil gubernur, 363 bupati, 362 wakil bupati, 85 wali kota, dan 85 wakil wali kota dilantik secara serentak dalam satu upacara yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo.

Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa jabatan kepala daerah adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

“Saya ingin mengingatkan atas nama negara dan bangsa Indonesia bahwa saudara dipilih sebagai pelayan rakyat. Saudara harus membela kepentingan rakyat, menjaga kesejahteraan mereka, serta berjuang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah masing-masing,” tegas Prabowo.

Usai pelantikan, Mualem dan Fadhlullah dijadwalkan mengikuti retret kepemimpinan di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, pada 21 hingga 28 Februari 2025. Program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo ini bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Langkah ini dinilai sebagai strategi Presiden untuk membangun harmoni dan mempererat hubungan antara kepala daerah dengan pemerintah pusat. Dengan latar belakang militer yang kental, Prabowo tampaknya ingin menanamkan kedisiplinan dan semangat nasionalisme kepada para kepala daerah terpilih.

Momen keakraban Prabowo dan Mualem di Istana Kepresidenan pun menambah catatan baru dalam perjalanan politik nasional. Apakah ini menjadi simbol rekonsiliasi yang lebih luas? Hanya waktu yang akan menjawab.

Editor: AKil

Aceh Masih Miskin Jelang Berakhirnya Otsus, Mungkinkah Penyaluran Langsung ke Masyarakat Diterapkan?

0
Ilustrasi Dana Otsus. (Foto: Google News)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, meminta Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI untuk memperjuangkan agar dana otonomi khusus (Otsus) Aceh tidak mengalami pemotongan dalam upaya efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat. Bahkan, ia mengusulkan agar dana Otsus Aceh ditambah, mengingat tingginya angka kemiskinan di provinsi tersebut serta masih tertinggalnya Aceh dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Permintaan itu disampaikan Fadhlullah saat menerima kunjungan kerja Komite II DPD RI di Kantor Gubernur Aceh, Senin (17/2/2025). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Dana Otsus Aceh sendiri akan berakhir pada tahun 2027, namun hingga kini kemiskinan masih menjadi masalah serius. Sebelumnya, almarhum Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pernah mengkritik mekanisme penyaluran dana Otsus yang dianggap tidak efektif. Menurutnya, birokrasi yang korup menyebabkan bantuan tidak sampai ke masyarakat secara optimal.

“Jadi harus kita tinggalkan cara penyaluran lewat birokrasi, karena birokrasinya korup,” ungkap Rizal pada tahun 2019. Ia menilai bahwa Indonesia seharusnya meniru model penyaluran dana di Alaska, Amerika Serikat.

Di Alaska, kata Rizal, pemerintah pusat menyalurkan dana kesejahteraan langsung ke rekening-rekening penduduk asli, seperti suku Indian, sehingga masyarakat memiliki akses langsung terhadap bantuan tersebut.

“Akhirnya setiap bulan ditransfer aja lewat Bank dana kesejahteraan, mereka masih bisa tetap hidup, kapan mau enak mereka punya uang,” jelasnya.

Namun, apakah model tersebut bisa diterapkan di Aceh? Untuk mengupas lebih dalam, Nukilan.id berbincang dengan Nicholas Siagian, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Menurutnya, sistem seperti yang diterapkan di Alaska tidak dapat dilakukan di Indonesia karena berbenturan dengan regulasi keuangan negara.

“Jadi kalau misalnya mau mengadopsi kayak di Alaska itu tidak memungkinkan, karena yang namanya dana apapun itu alokasi baik umum maupun khusus itu harus ditransfernya ke badan publik, badan publik itu apa? ya pemerintah daerah. Karena di undang-undang pemerintah daerah maupun keuangan negara pun pasti cara seperti itu bertentangan,” jelas Nicholas kepada Nukilan.id pada Kamis (20/2/2025).

Lebih lanjut, direktur eksekutif Asah Kebijakan Indonesia ini menyebut bahwa jika pemerintah ingin menyalurkan dana langsung ke masyarakat, maka mekanismenya harus melalui pengurangan dana transfer ke daerah dan memperbesar anggaran perlindungan sosial.

“Kalau memang mau ditransfer ke masyarakat langsung opsinya itu adalah dana transfer ke daerahnya dikurangi, nanti jumlah perlinsos untuk ditransfer ke masyarakat itu diperbesar,” tambahnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa skema ini memiliki konsekuensi lain. Jika masyarakat menerima bantuan langsung, maka layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan kemungkinan besar harus mereka tanggung sendiri.

“Jadi pelayanan-pelayanan dasar kepada masyarakat itu nanti mereka bayar sendiri, misalnya kayak biaya pendidikan, kesehatan. Selebihnya pemerintah daerah bisa menyiapkan hal-hal administratif,” tuturnya.

Polemik mengenai efektivitas dana Otsus Aceh terus menjadi perdebatan. Di satu sisi, pemerintah daerah berharap adanya tambahan anggaran untuk mengejar ketertinggalan, namun di sisi lain, muncul kritik terhadap efektivitas penggunaan dana tersebut. Dengan sisa waktu yang tinggal dua tahun sebelum Otsus berakhir, Aceh dihadapkan pada tantangan besar dalam memastikan kesejahteraan masyarakatnya benar-benar meningkat. (XRQ)

Reporter: Akil

Sebut Alhudri Praja Senior, Dr. Muhammad Diwarsyah Ajak Elite Tinggalkan Polemik

0
Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Dr. Muhammad Diwarsyah. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Polemik terkait pengangkatan Alhudri sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh terus menjadi perbincangan. Namun, mantan Plt Sekda Aceh, Dr. Muhammad Diwarsyah, M.Si, menegaskan bahwa perdebatan tersebut sebaiknya dihentikan demi fokus pada pembangunan Aceh.

Dalam pernyataannya yang diterima pada Kamis (20/2/2025), Diwarsyah mengajak semua pihak untuk bersinergi dan bekerja sama dalam membangun Aceh ke arah yang lebih baik.

“Bagi saya itu tidak ada masalah sedikit pun, terpenting bagaimana kita semua bisa berkolaborasi untuk Aceh yang lebih baik,” ujarnya.

Sebagai Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Diwarsyah menilai bahwa pergeseran atau mutasi dalam organisasi adalah hal yang wajar dan diperlukan untuk penyegaran serta peningkatan etos kerja.

“Terkait dengan Pelaksana Tugas (Plt) sebagai Sekda, itu merupakan otoritas gubernur selaku Kepala Daerah. Kepada siapa beliau mandat, itu merupakan wewenang beliau, pada prinsipnya kita siap membantu untuk berkolaborasi dan bersinergi,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa Alhudri merupakan praja senior sekaligus kakak asuhnya, sehingga dinilai tepat untuk mengemban amanah sebagai Plt Sekda Aceh.

“Tinggalkan saja semua polemik, mari bersama-sama kita membangun Aceh untuk lebih baik ke depannya,” pungkas Diwarsyah.

Editor: Akil

13 Talenta Muda Aceh Timur Peroleh Ilmu Sepak Bola Standar Nasional

0
13 Talenta Muda Aceh Timur Peroleh Ilmu Sepak Bola Standar Nasional. (Foto: SerambiNews)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Sebanyak 13 anak usia 15 tahun dan dua pelatih dari sekolah sepak bola di Aceh Timur telah menyelesaikan program pelatihan intensif di PSS Development Centre, Sleman, Yogyakarta. Selama dua minggu, mereka digembleng dengan latihan fisik, teknik, dan mental di pusat pembinaan pemain muda milik klub Liga 1, PSS Sleman.

Pelatihan ini diharapkan menjadi modal bagi para peserta untuk mengembangkan karier di dunia sepak bola. Senior Manager Communications Medco E&P, Leony Lervyn, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen PT Medco E&P Malaka untuk mendukung masyarakat Aceh Timur, khususnya generasi muda yang berbakat di bidang olahraga.

‘’Kami percaya bahwa sepak bola tidak hanya dapat membantu meningkatkan kesehatan dan kemampuan fisik mereka, tetapi juga dapat membentuk karakter dan meningkatkan kesadaran pentingnya kerja sama, disiplin, dan sportivitas,’’ ujar Leony dalam acara penutupan pelatihan di Sleman.

Sebelum berangkat ke Sleman, ke-13 pemain dan dua pelatih ini telah melalui seleksi ketat yang melibatkan beberapa sekolah sepak bola di daerah operasi Medco E&P Malaka. Seleksi ini memastikan bahwa para peserta yang terpilih adalah talenta terbaik yang siap menerima pembinaan lebih lanjut.

Kepala PSS Development Centre, Anang Hadi Saputra, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberikan pelatihan teknis dan mental bagi para peserta, tetapi juga memperkenalkan berbagai aturan terbaru dalam sepak bola nasional.

‘’Kami juga mengajak mereka nonton langsung di stadion pertandingan antara PSS Sleman melawan Bali United. Hal ini supaya mereka tahu atmosfer saat pertandingan profesional di level nasional,’’ terang Anang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur juga menyambut baik program ini. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Aceh Timur, Syahril, S.STP, M.AP, berpesan agar para peserta terus mengasah kemampuan mereka setelah kembali ke daerah asal. Ia berharap mereka dapat berkontribusi dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat provinsi tahun depan.

‘’Adik-adik harus terus berlatih karena untuk dapat ikut dalam tim sepak bola di POPDA nanti, tetap dilakukan seleksi,’’ jelas Syahril.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Timur. Sekretaris Umum KONI, Agussalem, SH, mengapresiasi kontribusi Medco E&P Malaka dalam pengembangan olahraga di Aceh Timur.

‘’Kami mengetahui keberadaan Medco E&P Malaka di Aceh Timur selama ini memberikan kontribusi positif. Bahkan sebelum berproduksi pun, perusahaan sudah membangun rumah sakit. Terkait dengan program pelatihan sepak bola kerja sama antara MedcoEnergi dengan PSS Sleman, kami berharap program ini dapat benar-benar dimanfaatkan secara maksimal oleh para peserta,’’ tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Askab PSSI Aceh Timur, Hasbi, menilai bahwa program ini sangat membantu dalam mencari bibit unggul sepak bola di daerah tersebut.

‘’Medco telah melakukan kegiatan ini sebanyak dua kali. Hal ini membantu kami dalam menemukan talenta-talenta muda di Aceh Timur,’’ ujarnya.

Bagi para peserta, pengalaman berlatih di Sleman menjadi sesuatu yang berharga. Salah satu peserta, Ibqar, mengungkapkan kebahagiannya bisa mendapatkan kesempatan langka ini.

‘’Saya sangat beruntung dapat berlatih di Sleman sehingga mendapatkan ilmu, di antaranya paham tentang aturan dan posisi dalam bermain sepak bola,’’ ujarnya.

Keberhasilan para peserta tak berhenti di situ. Tim PSS Medco Aceh Timur berhasil meraih gelar juara dalam Mini Turnamen Super Elja yang diadakan oleh PSS Sleman. Turnamen ini diikuti oleh empat tim U14, yakni PSS Medco Aceh Timur, Sleman Timur FA, Bintang Putra Melati, dan Seyegan FC. Setelah melalui pertandingan penuh semangat dan sportivitas, tim asal Aceh Timur akhirnya keluar sebagai juara.

Dengan pengalaman berharga ini, para pemain muda Aceh Timur diharapkan mampu melangkah lebih jauh dalam dunia sepak bola, membawa nama daerah mereka ke kancah yang lebih tinggi.

Editor: Akil

Menguatnya Militarisme dan Melemahnya Demokrasi di 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran

0
Prabowo-Gibran (Foto: Google)

NUKILAN.id | Opini – Seratus hari pemerintahan Prabowo Subianto telah cukup memberi gambaran tentang arah perjalanan Indonesia ke depan. Tanda-tanda menguatnya peran militer dalam pemerintahan semakin nyata, sementara supremasi sipil perlahan melemah. Demokrasi, yang selama satu dekade terakhir sudah mengalami degradasi, kini terancam jatuh lebih dalam ke jurang otoritarianisme.

Langkah awal pemerintahan Prabowo menunjukkan pola yang tidak bisa diabaikan. Militer kembali dilibatkan dalam berbagai urusan negara di luar perannya yang semestinya. Pengerahan tentara untuk proyek lumbung pangan, penertiban kawasan hutan, pelaksanaan program makan bergizi gratis, hingga penyelenggaraan haji menjadi contoh nyata bagaimana militer semakin merambah ranah sipil. Padahal, tugas-tugas semacam itu tidak termasuk dalam operasi militer selain perang sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam lima tahun ke depan, cengkeraman militer tampaknya akan semakin kuat. Kementerian Pertahanan berencana menambah jumlah Komando Daerah Militer (Kodam) dari 15 menjadi 37 hingga 2029. Setiap tahun, pemerintah juga berencana membentuk 100 Batalion Infanteri Teritorial yang akan diberi tugas khusus, mulai dari peternakan hingga kesehatan. Lebih dari itu, batalion-batalion ini akan diperkuat oleh dua batalion komponen cadangan yang direkrut dari masyarakat sipil.

Jika revisi Undang-Undang TNI yang saat ini masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional disahkan, ruang bagi militer untuk menduduki jabatan sipil akan semakin terbuka lebar. Ini bukan sekadar penguatan peran militer, tetapi sebuah ancaman bagi demokrasi itu sendiri. Dengan semakin luasnya pengaruh tentara dalam berbagai bidang, masyarakat sipil akan semakin kehilangan ruang untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.

Demokrasi dalam Ancaman Otoritarianisme Kompetitif

Menguatnya dominasi militer hanyalah satu sisi dari ancaman terhadap demokrasi. Fenomena lain yang mengkhawatirkan adalah pola pemerintahan yang menyerupai “otoritarianisme kompetitif”—sebuah konsep yang diperkenalkan oleh ilmuwan politik Steven Levitsky dan Lucan Way. Dalam model ini, pemilihan umum tetap berlangsung, tetapi lapangan pertarungan politik dimiringkan untuk menguntungkan pihak yang berkuasa. Masyarakat masih memiliki hak pilih, tetapi pilihan mereka telah dikondisikan sebelumnya.

Tanda-tanda ke arah itu telah tampak jelas dalam Pemilihan Presiden 2024. Presiden Joko Widodo secara terang-terangan menggunakan sumber daya negara untuk memenangkan pasangan yang diinginkannya. Manuver hukum dilakukan untuk meloloskan anaknya sebagai calon wakil presiden. Aparat negara dikerahkan, bantuan sosial digelontorkan, dan pengondisian suara dilakukan jauh sebelum hari pencoblosan. Pemilihan umum yang seharusnya menjadi perwujudan demokrasi malah berubah menjadi sebuah sandiwara.

Polanya berulang dalam pemilihan kepala daerah. Kandidat-kandidat kuat dijegal, aturan main diubah mendadak, dan aparat digunakan untuk mengamankan kemenangan pihak tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritarianisme kompetitif bukan lagi sekadar teori atau ancaman yang jauh, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung.

Tanpa Oposisi, Demokrasi Kian Runtuh

Saat dilantik menjadi Presiden, Prabowo langsung mengonsolidasikan kekuasaannya dengan menghimpun hampir semua partai politik ke dalam pemerintahannya. Tanpa kekuatan oposisi yang signifikan, tidak ada lagi rem yang bisa menghambat laju otoritarianisme. Demokrasi yang sudah lemah selama pemerintahan Jokowi kini semakin terpojok. Yang terjadi mungkin bukan sekadar otoritarianisme kompetitif, tetapi lebih jauh lagi: kembalinya otoritarianisme penuh dengan wajah baru.

Di tengah kondisi ini, pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: apakah kita masih memiliki ruang untuk melawan? Apakah masyarakat sipil, media, dan kelompok pro-demokrasi bisa bertahan menghadapi gelombang ini? Atau, kita hanya akan menjadi saksi dari runtuhnya demokrasi yang sudah babak belur?

Sejarah menunjukkan bahwa otoritarianisme tidak pernah bertahan selamanya. Namun, semakin lama kita membiarkan supremasi sipil melemah, semakin sulit pula kita mengembalikan demokrasi ke jalur yang seharusnya. (XRQ)

Penulis: Akil

Fatih Putri Sukses Gelar Science Fair Perdana, Tumbuhkan Minat Sains Sejak Dini

0
Fatih Putri Sukses Gelar Science Fair Perdana, Tumbuhkan Minat Sains Sejak Dini. (Foto: SerambiNews)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School (Fatih Putri) sukses meluncurkan program pameran sains perdana yang bertajuk Fatih Science Fair di Banda Aceh. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 15 Februari 2025, bekerja sama dengan Gramedia, dan berlangsung di lobi Gramedia Banda Aceh. Pameran ini terbuka untuk umum dan berhasil menarik perhatian banyak pengunjung.

Fatih Science Fair menghadirkan karya-karya sains inovatif dari para siswa tingkat SD, SMP, dan SMA Fatih Putri. Lebih dari 20 proyek sains dipamerkan, di antaranya Plug and Play, Interactive Poster using Scratch and Makey Makey, Medical Operation, BitSonic, dan Gas Leakage Detector. Keunikan acara ini terletak pada presentasi yang dilakukan dalam bahasa Inggris oleh para peserta didik, yang semakin menambah daya tarik bagi pengunjung.

Selain menampilkan proyek sains, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai hadiah doorprize yang semakin menyemarakkan suasana. Kepala Sekolah SMA Fatih Putri, Muhammad Iqbal, mengungkapkan bahwa selama ini sains sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh sebagian besar siswa.

“Hal ini dikarenakan asumsi yang melekat pada peserta didik bahwa sains mempelajari sesuatu yang abstrak dan sulit untuk diimajinasikan,” ujarnya.

Dengan pemahaman tersebut, pihak sekolah berupaya menyajikan pendekatan yang lebih menarik dan menyenangkan dalam pembelajaran sains.

Lebih lanjut, Muhammad Iqbal menambahkan bahwa Science Department SD-SMP-SMA Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School ingin menghadirkan pengalaman belajar sains yang lebih interaktif dan menggugah rasa ingin tahu siswa.

“Dengan semangat inilah, ide Fatih Science Fair ini lahir dan diharapkan sebagai salah satu upaya mengenalkan sains melalui kacamata yang berbeda. Menarik, sederhana, dan menyenangkan. Walaupun kemampuan peserta didik tidak akan meningkat secara drastis, namun diharapkan minat dan motivasi mereka terhadap pembelajaran sains meningkat,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa di Fatih Putri, tetapi juga diharapkan dapat menginspirasi siswa di sekolah lain agar semakin tertarik dengan dunia sains.

Fatih Science Fair menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran sains dapat dikemas dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan, sehingga dapat menghilangkan anggapan bahwa sains adalah mata pelajaran yang sulit. Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan semakin banyak siswa yang memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi bidang sains sejak dini.

Editor: Akil

Cerita Edi Suwarno, Perantau Jawa Tengah yang Menjadi Sopir Taksi di Jakarta

0
Sopir Taksi Onine di Jakarta. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Edi Suwarno tak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan membawanya menjadi sopir taksi daring di Jakarta. Perantau asal Jawa Tengah itu merantau ke ibu kota sejak 1998 dan kini telah menjalani profesi sebagai pengemudi taksi daring selama empat tahun terakhir.

Saat ditemui di perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (16/2/2025) lalu, Edi berbagi kisahnya kepada Nukilan. Ia mengaku bisa meraih penghasilan bersih sekitar Rp 300 ribu per hari di hari biasa, sedangkan pada akhir pekan, pendapatannya bisa mencapai Rp 500 ribu.

“Alhamdulillah, hasil dari kerja ini cukup untuk menyekolahkan anak dan bahkan saya sudah bisa beli rumah sendiri di Jakarta,” ujar Edi.

Meski jalanan Jakarta kerap macet, Edi mengaku tetap menikmati pekerjaannya. Berinteraksi dengan penumpang dari berbagai latar belakang menjadi salah satu hal yang ia sukai.

“Setiap hari ketemu orang baru, ngobrol macam-macam. Ada yang kerja, ada yang pulang kampung seperti Mas ini,” katanya.

Di tengah persaingan transportasi daring yang semakin ketat, Edi tetap bersyukur dengan pekerjaannya saat ini. Baginya, yang terpenting adalah tetap bekerja keras dan mencari rezeki yang halal.

“Saya selalu berusaha melayani penumpang sebaik mungkin. Kalau rezeki, insya Allah selalu ada,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Jubir Mualem Dek Fadh: SK Gubernur Aceh Sahkan Pengangkatan Alhudri, Tidak Cacat Prosedur

0
ampon man
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.idBanda Aceh – Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman, atau yang lebih dikenal sebagai Ampon Man atau Jubir Mualem Dek Fadh, menegaskan bahwa pengangkatan Alhudri sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh telah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Hal ini disampaikannya dalam klarifikasi resmi pada Kamis (20/2/2025), menanggapi pernyataan Ketua DPRA, Zulfadli, yang sebelumnya menyebut bahwa pengangkatan tersebut cacat prosedur dan batal demi hukum.

Menurut Ampon Man, keputusan pengangkatan Alhudri merupakan hasil pertimbangan langsung dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

“Klarikasi ini menegaskan bahwa prosedur administrasi yang ditempuh dalam pengangkatan Alhudri telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dasar hukum pengangkatan Alhudri tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh yang telah dikeluarkan dan ditandatangani oleh gubernur. SK tersebut, kata Ampon Man, memiliki kekuatan hukum sebagai Keputusan Tata Usaha Negara.

“Prinsip presumptio iustae causa menegaskan bahwa setiap keputusan pemerintah harus dianggap sah dan benar secara hukum,” jelasnya.

Namun, ia juga menambahkan bahwa apabila di kemudian hari terbukti terdapat cacat prosedur dalam pengangkatan Alhudri, maka pembatalan SK tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak.

“Jika di kemudian hari pengangkatan Alhudri ternyata terbukti cacat prosedur, pembatalan SK Gubernur tersebut harus dilakukan melalui mekanisme peradilan, yakni melalui putusan Hakim Tata Usaha Negara, atau dapat pula dibatalkan oleh Gubernur Aceh yang memiliki wewenang hukum dalam pengangkatan Pelaksana Tugas Sekda,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi bantahan resmi terhadap tudingan bahwa pengangkatan Alhudri tidak sah secara hukum. Pemerintah Aceh menegaskan bahwa seluruh prosedur administrasi telah dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Editor: AKil

Pengalaman Terbang dengan Pelita Air: Nyaman, Aman, dan Praktis

0
Ilustrasi Pelita Air. (Foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Jakarta – Pelita Air semakin menjadi pilihan bagi penumpang yang mencari kenyamanan dan kemudahan dalam perjalanan udara. Pada Kamis (20/2/2025), tim Nukilan.id menjajal penerbangan Pelita Air dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh.

Pukul 09.00 WIB, penumpang sudah tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Tanpa membawa koper, proses check-in dapat dilakukan secara digital melalui monitor yang tersedia, dibantu oleh petugas bandara. Setelah itu, penumpang langsung menuju ruang tunggu hingga pukul 10.20 WIB, saat dipanggil untuk memasuki pesawat melalui Gate 17.

Proses persiapan penerbangan berlangsung cukup lama karena berbagai prosedur keamanan, termasuk pemeriksaan pesawat dan penumpang. Pesawat akhirnya lepas landas pukul 11.00 WIB. Saat awal penerbangan, pesawat sempat mengalami turbulensi ringan akibat cuaca mendung di sekitar bandara. Namun, setelah sekitar 10 menit di udara, kondisi cuaca berangsur cerah hingga mencapai wilayah Aceh.

Dalam penerbangan ini, tim Nukilan.id berbincang dengan beberapa penumpang mengenai keunggulan Pelita Air dibandingkan maskapai lain. Setidaknya ada lima hal yang mereka soroti:

1. Proses Check-in Mudah
Pelita Air menawarkan berbagai opsi check-in yang memudahkan penumpang, termasuk:

  • Aplikasi Mobile: Penumpang dapat check-in secara online melalui aplikasi Pelita Air yang tersedia di Google Play Store dan App Store.
  • Kiosk Check-in: Layanan check-in mandiri di bandara tanpa perlu antre panjang.
  • Website Resmi: Penumpang juga bisa check-in melalui situs resmi Pelita Air untuk kemudahan akses.

2. Standar Keselamatan Tinggi
Pelita Air mengutamakan keselamatan dengan mengoperasikan armada pesawat modern yang rutin dirawat oleh GMF AeroAsia. Perawatan ini mengacu pada standar global IATA Operational Safety Audit (IOSA), yang memastikan keandalan dan keamanan operasional maskapai.

3. Kenyamanan di Dalam Pesawat
Dari saat memasuki kabin, penumpang langsung disambut dengan suasana nyaman, suhu ruangan sejuk, serta aroma yang menyegarkan. Kursi yang ergonomis dan memiliki jarak yang cukup membuat perjalanan lebih nyaman.

4. Layanan Makanan di Dalam Pesawat
Pelita Air menyajikan makanan ringan kepada penumpang selama penerbangan, termasuk roti yang lezat sebagai bagian dari layanan di udara.

5. Hiburan Inflight
Untuk menghindari kebosanan selama perjalanan, Pelita Air menyediakan layanan hiburan “Starlight” yang menghadirkan film, acara TV, musik, vlog, hingga podcast bagi penumpang.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, Pelita Air terus berkomitmen memberikan pengalaman penerbangan terbaik bagi penumpangnya. Bagi yang ingin bepergian untuk keperluan bisnis maupun liburan, Pelita Air bisa menjadi pilihan maskapai yang nyaman dan andal. (XRQ)

Reporter: Akil

Leuser Coffee, Menyeruput Kopi Sambil Berkontribusi untuk Lingkungan

0
Suasana pelanggan yang sedang ngopi di Leuser Coffee. (Foto: Nukilan0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Leuser Coffee, kedai kopi yang terletak di Jalan Panglima T Nyak Makam No. 108, Banda Aceh, menawarkan pengalaman menikmati kopi berkualitas dengan harga terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp30 ribu.

Berbagai pilihan minuman tersedia, mulai dari Espresso, Americano, hingga Teh Madu Leuser. Namun, dua menu yang paling diminati pelanggan adalah Kalimansi Kopi seharga Rp17 ribu dan Redhoney Wine Kopi dengan harga Rp16 ribu.

Lika, salah satu pelanggan setia Leuser Coffee, mengungkapkan bahwa Kalimansi Kopi menjadi favoritnya.

“Aku selalu beli kopi ini setiap kali berkunjung ke Banda Aceh. Kali ini, aku bahkan memborong delapan botol untuk dibawa ke Jakarta besok,” katanya kepada Nukilan.id pada Kamis (20/2/2025)

Tak hanya soal rasa, Lika juga tertarik dengan misi lingkungan yang diusung Leuser Coffee. Ia mengapresiasi inisiatif pemilik kedai yang secara rutin menyumbangkan dana untuk pelestarian lingkungan setiap tiga hingga enam bulan sekali.

“Setiap pembelian kopi ukuran 100 gram hingga 250 gram di sini, kita turut menyumbang Rp2.500 untuk upaya pelestarian hutan, penanaman pohon, serta perlindungan empat satwa kunci di Kawasan Ekosistem Leuser, yakni harimau, gajah, orangutan, dan badak,” jelasnya.

Daftar menu di Leuser Coffee. (Foto: Nukilan)

Selain minuman kopi, Leuser Coffee juga menawarkan dua jenis kopi bubuk, yakni Bubuk Kopi Aceh Original seharga Rp78 ribu dan Bubuk Kopi Luwak Original yang dibanderol Rp185 ribu.

Adriana, pelanggan lain yang ditemui di kedai tersebut, mengaku baru pertama kali mencoba Kalimansi Kopi dan langsung jatuh hati.

“Rasanya unik, ada perpaduan antara kopi dan jeruk yang menyegarkan. Ditambah lagi, saya senang bisa berkontribusi pada pelestarian lingkungan dengan membeli kopi di sini,” katanya.

Dengan konsep yang tidak hanya menjual kopi berkualitas tetapi juga turut menjaga alam, Leuser Coffee semakin menjadi pilihan bagi para pecinta kopi yang peduli terhadap lingkungan. (XRQ)

Reporter: AKil