Beranda blog Halaman 580

Jaksa Agung Lantik Yudi Triadi sebagai Kajati Aceh

0
Jaksa Agung Lantik Yudi Triadi sebagai Kajati Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta — Jaksa Agung ST Burhanuddin resmi melantik Yudi Triadi sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh. Prosesi pelantikan berlangsung di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, pada Rabu (23/4/2025).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Harli Siregar, menyampaikan informasi ini melalui keterangan pers.

Dalam sambutannya, Jaksa Agung menegaskan bahwa rotasi dan promosi jabatan merupakan bagian dari strategi institusional dalam memperkuat kinerja lembaga sekaligus sebagai langkah regenerasi sumber daya manusia.

Ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap para pejabat yang dilantik, termasuk Yudi Triadi, yang dinilai memiliki integritas, kapabilitas, dan pengalaman untuk menjalankan tugas dengan baik.

“Khusus kepada Kepala Kejaksaan Tinggi yang baru, saya tekankan pentingnya memahami dinamika hukum di wilayah serta memperkuat upaya pemberantasan tindak pidana korupsi hingga ke tingkat Kejaksaan Negeri dan cabangnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jaksa Agung juga mengingatkan pentingnya membangun sinergi dengan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), mengoptimalkan pengawasan internal, serta memastikan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tepat sasaran.

Ia turut menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan publik yang saat ini berada pada angka 75 persen berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Menurutnya, pelantikan bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan ikrar moral yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan integritas.

“Jangan ada yang menyalahgunakan kewenangan, saya tidak akan ragu mencopot jabatan bagi yang melanggar,” tegasnya.

Refleksi Perjuangan Kartini untuk FKPAR yang Mandiri dan Menginspirasi

0
Refleksi Perjuangan Kartini untuk FKPAR yang Mandiri dan Menginspirasi. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Medan — Dalam semangat memperingati Hari Kartini, Konsorsium PERMAMPU menyelenggarakan perayaan sekaligus konsolidasi Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) se-Sumatera. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid pada 22 April 2025, melibatkan 33 titik Zoom di 33 kabupaten/kota di delapan provinsi di Pulau Sumatera.

Tak kurang dari 415 peserta hadir dalam kegiatan ini, yang terdiri atas 392 perempuan dan 19 laki-laki. Di antaranya, terdapat 22 lansia, 29 perempuan muda, 65 perwakilan pemerintah daerah, 11 femokrat, 33 tokoh agama/adat, 15 jaringan NGO, dua media, serta 91 anggota Credit Union (CU) yang menjadi fondasi FKPAR, termasuk 11 peserta dengan disabilitas.

Menurut Dina Lumbantobing, Koordinator PERMAMPU, peringatan Hari Kartini kali ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan semangat dan tantangan yang dihadapi Kartini pada masanya serta bagaimana nilai-nilai itu masih relevan hingga hari ini.

“Berangkat dari sejarah perjuangan Kartini, kita tahu bahwa Kartini merupakan pejuang emansipasi perempuan. Melalui tulisan-tulisannya, ia memperjuangkan hak pendidikan perempuan dan keterlibatan perempuan dalam masyarakat. Namun ironisnya Kartini sendiri menjadi korban Kematian Ibu, ia meninggal ketika melahirkan. Hal ini merefleksikan begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh perempuan khususnya dalam aspek Kesehatan Reproduksi, hingga kini. Sebagai contoh, di pulau Sumatera kasus AKI tertinggi terdapat di provinsi Aceh sebanyak 201 kasus, Sumatera Utara sebanyak 195 kasus dan Lampung 192 kasus. Demikian pula dengan perlawanan Kartini terhadap poligami, tetapi dirinya sendiri terpaksa menjadi isteri ketiga, demi Ayahnya”, tambah Dina.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Sumatera Selatan, Fitriana, S.Sos., M.Si, turut menyoroti tingginya kasus kekerasan terhadap anak perempuan, terutama di Jambi, Palembang, dan Bengkulu yang melebihi rata-rata nasional. Senada dengan itu, dr. Nessi Yunita, M.M. dari Dinas P3A Kabupaten Lampung Selatan mencatat 25 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta maraknya perkawinan anak yang masih sering terjadi.

Sementara itu, Sri Wijayanti dari FKPAR Aceh menuturkan bahwa diskusi-diskusi kritis yang digelar secara serentak di seluruh kabupaten/kota peserta berhasil menggali makna perjuangan Kartini dalam berbagai konteks lokal. Di antaranya:

  • Kartini yang memperjuangkan hak atas pendidikan bagi perempuan, menjadi inspirasi FKPAR dalam mendorong akses pendidikan kritis, terutama untuk mencegah perkawinan usia anak dan mendukung perempuan yang putus sekolah. Misalnya, di Bengkulu tercatat 202 anak putus sekolah yang harus terus diperjuangkan hak pendidikannya.

  • Di daerah-daerah 3T seperti Nias, Mentawai, dan Pesisir Barat, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar.

  • Kartini juga memperjuangkan kesetaraan gender di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Ini menjadi panggilan bagi para tokoh agama, adat, dan pemerintah untuk turut ambil bagian dalam mewujudkan masyarakat yang setara.

  • Beban ganda yang ditanggung perempuan karena harus bekerja sekaligus mengurus rumah tangga juga menjadi sorotan penting dalam refleksi ini.

  • Perempuan muda di Sumatera pun terinspirasi untuk menjadi pemimpin dan agen perubahan, sekaligus menjadi garda depan dalam mencegah perkawinan usia dini.

  • Namun, tantangan terhadap kepemimpinan perempuan masih besar, terutama ketika adat masih menjadi penghalang bagi perempuan untuk tampil di ruang publik.

  • Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak juga menjadi perhatian. Di Sumatera Utara, misalnya, WCC Sinceritas PESADA mencatat 42 kasus pada triwulan pertama 2025, dengan mayoritas kasus berupa KDRT dan pelecehan seksual terhadap anak.

  • Ketimpangan upah, diskriminasi gender, serta meningkatnya angka kematian ibu dan anak, seperti 82 kasus di Bengkulu, memperlihatkan bahwa perjuangan Kartini masih sangat relevan hingga kini.

Forum ini juga menghasilkan Rencana Kerja FKPAR Sumatera yang mencakup berbagai langkah strategis, antara lain:

  1. Mendorong pendidikan bagi perempuan melalui program Paket A, B, dan C, dengan terlebih dahulu melakukan pendataan di tingkat CU mengenai perempuan putus sekolah.

  2. Melakukan pendataan penyandang disabilitas di desa-desa dan mengajak mereka bergabung sebagai anggota CU.

  3. Mengajak perempuan muda desa untuk bergabung dalam CU dan menggali potensi usaha lokal demi penguatan ekonomi.

  4. Mempromosikan kesetaraan gender dari lingkup keluarga melalui pendekatan “Keluarga Pembaharu”.

  5. Mendorong kepemimpinan perempuan dengan mendata potensi perempuan pemimpin di setiap desa.

  6. Mengadvokasi kebijakan desa untuk mencegah dan menangani perkawinan usia anak.

  7. Memperkuat fungsi komunikasi dan pelaporan FKPAR secara berjenjang.

  8. Menyelenggarakan diskusi kebijakan pemerintah secara rutin bersama anggota FKPAR.

Kegiatan peringatan Hari Kartini ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus mengampanyekan pentingnya pencegahan perkawinan usia anak dan perempuan di bawah 19 tahun sepanjang tahun 2025.

Perempuan Sumatera: Otonom, Sehat, dan Inovatif.

Isu Matahari Kembar: Ketika Silaturahmi Dijadikan Intrik Politik

0
Ilustrasi Matahari Kembar. (Foto: SabangmeraukeNews)

NUKILAN.id | Opini – Isu soal ijazah palsu yang diarahkan kepada Joko Widodo belum lagi lenyap sepenuhnya dari ruang digital, kini publik kembali digemparkan oleh narasi baru: “matahari kembar”. Isu ini muncul setelah sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju menyambangi kediaman Jokowi di Solo, tepat di saat Presiden terpilih Prabowo Subianto sedang melakukan kunjungan luar negeri. Dalam sekejap, peristiwa itu digiring menjadi polemik politik, seolah-olah Jokowi tengah membangun kekuatan tandingan di luar pemerintahan yang sah.

Metafora “matahari kembar” dalam politik bukanlah istilah baru. Ia merujuk pada kemungkinan munculnya dua pusat kekuasaan yang saling bertabrakan. Dalam konteks Indonesia pasca-Pilpres 2024, narasi ini dimainkan seakan-akan Jokowi enggan mundur dari panggung kekuasaan, sementara Prabowo tengah menata langkah sebagai kepala negara baru. Tapi pertanyaannya, benarkah demikian?

Kunjungan sejumlah menteri ke rumah Jokowi terjadi dalam suasana Lebaran. Secara kultural, peristiwa itu adalah hal yang lumrah dalam tradisi Indonesia. Silaturahmi adalah nilai yang dijunjung tinggi, apalagi antara atasan dan mantan atasan, sesama pejabat negara, apalagi dalam konteks hubungan kerja yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Namun sayangnya, konteks ini justru dikesampingkan oleh sebagian pihak. Media sosial dijejali dengan narasi tendensius, bahkan disertai tudingan bahwa para menteri tersebut mengabaikan etika pemerintahan karena tidak meminta izin kepada Presiden Prabowo sebelum bertemu Jokowi. Beberapa politisi bahkan menyarankan agar pertemuan semacam itu seharusnya dilakukan secara resmi dan terbuka.

Tudingan ini terdengar janggal. Silaturahmi pribadi saat hari raya dimaknai seolah konspirasi kekuasaan. Padahal, dalam sistem presidensial, loyalitas kepada presiden bukan berarti memutus hubungan dengan mantan presiden atau tokoh politik lainnya. Bahkan, menjaga komunikasi lintas tokoh adalah bagian dari etika kebangsaan.

Perlu dicatat, tidak ada tanda-tanda keberatan dari Prabowo terkait pertemuan tersebut. Malah, sejumlah menteri yang hadir telah memberikan klarifikasi. Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebut bahwa pertemuan itu membahas hal teknis soal pertanian. Bahlil Lahadalia dari Kementerian Investasi menegaskan bahwa mereka semua tetap berada di bawah komando Presiden Prabowo. Bahkan Ketua DPR, Puan Maharani, dengan tegas mengatakan bahwa matahari hanya satu: Presiden Prabowo Subianto.

Jokowi sendiri akhirnya buka suara. Dengan nada tenang, ia menyebut bahwa tudingan soal “matahari kembar” itu tidak berdasar. “Matahari itu satu. Presiden kita Prabowo Subianto,” katanya, menutup celah spekulasi. Jokowi juga menegaskan bahwa silaturahmi saat Lebaran adalah hal wajar, bukan pertemuan politik yang sarat kepentingan kekuasaan.

Yang menarik, narasi ini muncul setelah upaya sebelumnya untuk menggoyang legitimasi Jokowi lewat isu ijazah palsu gagal total. Maka tak heran jika publik menilai bahwa isu “matahari kembar” adalah lanjutan dari strategi lama: mengguncang lewat opini publik setelah gagal lewat jalur hukum.

Strategi ini bukan barang baru dalam politik. Ketika pendekatan hukum atau administratif tak berhasil, arena opini publik menjadi senjata berikutnya. Tujuannya bukan sekadar menyerang, tapi membangun persepsi negatif dan memperlemah ikatan politik yang sudah terbentuk, dalam hal ini kedekatan Jokowi dan Prabowo.

Namun publik perlu semakin cerdas. Kita tak bisa lagi menjadi korban framing politik yang dangkal dan manipulatif. Demokrasi bukan hanya soal hak suara, tapi juga soal kedewasaan berpikir. Tak semua yang viral di media sosial layak dipercaya. Tak semua narasi yang lantang mencerminkan kebenaran.

Jokowi dan Prabowo selama ini menunjukkan relasi yang stabil. Bahkan dalam banyak hal, visi mereka selaras—baik dalam pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, hingga modernisasi pertahanan. Mengguncang relasi keduanya bukanlah perkara mudah. Terlalu prematur jika ada pihak yang mengira hubungan keduanya bisa digoyang hanya karena pertemuan lebaran yang hangat.

Tantangan terbesar pemerintahan Prabowo ke depan bukanlah Jokowi, melainkan mereka yang mencoba memecah belah lewat spekulasi dan sentimen politik. Pemerintah harus sigap mengantisipasi isu-isu liar semacam ini agar tidak menjadi bola liar yang menggerus kepercayaan publik. Di sisi lain, masyarakat juga harus belajar memilah: mana kritik yang rasional, mana yang hanya permainan persepsi.

Masyarakat perlu bertanya, siapa sebenarnya yang gemar menyebar isu tak berdasar ini? Apa motif mereka? Jika sudah tahu jawabannya, maka jangan beri panggung lagi bagi para pemecah belah bangsa.

Isu “matahari kembar” hanyalah bayangan yang diciptakan oleh mereka yang tak tahan melihat stabilitas politik tetap terjaga. Dan seperti bayangan, ia akan hilang begitu cahaya kebenaran meneranginya. (XRQ)

Penulis: Akil

Rugikan Negara Rp298 Juta, Dua Tersangka Kasus Korupsi Gudang Arsip di Aceh Timur Ditahan

0
dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Gudang Arsip UPTD Aceh Timur Tahun Anggaran 2022. (Foto: Dok. Kejari Aceh Timur)

NUKILAN.id | Aceh Timur – Kejaksaan Negeri Aceh Timur telah menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Gudang Arsip UPTD Aceh Timur Tahun Anggaran 2022. 

Proyek pembangunan gudang arsip yang dikelola oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Provinsi Aceh itu bernilai kontrak sebesar Rp1,76 miliar. Meski seluruh anggaran telah dicairkan, proyek tersebut diketahui tidak rampung, sehingga memicu sorotan publik.

Plh Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Timur, Akbar Pradhana, S.H, mengungkapkan bahwa dua orang tersangka yang ditetapkan adalah berinisial MA selaku Penyedia dan BH selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), yang diduga memiliki peran sentral dalam terjadinya penyimpangan tersebut.

“Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim Kejaksaan, ditemukan indikasi kuat terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan, antara lain berupa manipulasi progres fisik, rekayasa administrasi, serta kelalaian dalam pengawasan teknis oleh pihak- pihak terkait,” terang Akbar kepada Nukilan, Kamis (24/4/2025) .

Akbar menjelaskan, berdasarkan Laporan Hasil Audit Inspektorat Kabupaten Aceh Timur dengan dokumen Nomor 21/ITDAKAB–LHAPKKN/2024 tertanggal 30 Desember 2024, kerugian negara akibat proyek ini mencapai Rp298,4 juta.

“Kedua tersangka telah ditahan di Lapas Kelas II B Idi selama 20 hari terhitung mulai 23 April hingga 12 Mei 2025 berdasarkan Surat Perintah Penahanan yang dikeluarkan Kejaksaan,” tutupnya.

Reporter: Rezi

FSH UIN Ar-Raniry Gelar Diskusi Internasional Bahas Konflik dan Terorisme

0
FSH UIN Ar-Raniry Gelar Diskusi Internasional Bahas Konflik dan Terorisme. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar International Expert Roundtable Discussion bertajuk “Aceh Post Conflict and Global Geopolitics”, Kamis (24/4/2025). Diskusi berlangsung di Ruang Kuliah Umum Gedung A lantai 2 FSH, menghadirkan para akademisi internasional yang tengah meneliti isu konflik dan terorisme di berbagai belahan dunia.

Tiga narasumber utama hadir dalam forum ini, yakni Mr. Noah Enggeleken dari The University of Amsterdam, Mr. Kenneth Yec dari Nanyang Technological University of Singapore, dan Mis. Unaesah Rahmah dari Leiden University, Belanda.

Ketiganya membagikan hasil riset terbaru mereka terkait konflik di Aceh, Thailand Selatan, Suriah, hingga wilayah-wilayah lain yang masih bergolak. Diskusi yang berlangsung selama beberapa jam itu menyedot perhatian dosen dan mahasiswa, terutama dalam melihat posisi Aceh dalam dinamika geopolitik global pasca-konflik.

Dalam pemaparannya, Mr. Noah Enggeleken menyoroti kiprah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan dinamika Partai Aceh. Ia menyebut bahwa konflik masa lalu antara Aceh dan pemerintah pusat menjadi salah satu fokus risetnya.

“Hal ini dipicu oleh segelintiran orang yang punya kuasa, punya uang untuk memuaskan keinginan kebebasan dari suatu kelompok. Disebabkan ada kepentingan individu atau hak-hak yang tidak terpenuhi,” ungkapnya.

Ia juga menggarisbawahi kecenderungan eksklusivitas dalam kepemimpinan politik lokal sejak kemunculan Partai Aceh pada 2009.

Sementara itu, Mr. Kenneth Yec mengulas dinamika konflik di Mindanao, Aceh, dan Thailand Selatan. Ia menjelaskan bahwa konflik kerap dimulai dari lingkup paling kecil, lalu meluas melalui propaganda dan narasi separatis.

“Pergerakan konflik diawali dengan pergerakan-pergerakan kecil yang dimulai dari keluarga. Membuat narasi-narasi pergerakan separatisme, lalu disebarluaskan untuk mempengaruhi orang lain, entah itu melalui media ataupun komunikasi lainnya,” katanya.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Salah satu mahasiswa mengangkat isu tentang 12 Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga bergabung dengan ISIS di Suriah kepada Mis. Unaesah Rahmah.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Unaesah menyebut bahwa para WNI kini telah diamankan oleh pihak Mabes Polri di sebuah panti sosial di Jakarta Timur. Dalam penelitiannya yang berfokus pada terorisme di Timur Tengah, ia menemukan sejumlah faktor yang mendorong seseorang tertarik bergabung dengan kelompok radikal.

“Ada beberapa faktor orang-orang tertentu tertarik bergabung teroris karena tidak ada hubungan baik antara masyarakat sipilnya dengan pemerintah dan aparat penegak hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya upaya bersama untuk menciptakan perdamaian dunia demi masa depan yang lebih baik, serta mengakhiri konflik yang masih melanda banyak negara.

Diskusi ini menjadi ruang refleksi akademik yang penting, mengingat Aceh sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah konflik bersenjata dan kini tengah menjalani proses konsolidasi damai. Kehadiran para ahli internasional membuka perspektif baru bagi civitas akademika UIN Ar-Raniry dalam melihat isu-isu global yang kompleks, namun saling terhubung.

Editor: AKil

Kejari Aceh Timur Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Proyek Dermaga TPI Kuala Leuge

0
Tersangka korupsi proyek dermaga TPI di Gampong Kuala Leuge, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. (Foto: Dok. Kejari Aceh Timur)

NUKILAN.id | Aceh Timur – Kejaksaan Negeri Aceh Timur menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek lanjutan rekonstruksi pembangunan Dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Gampong Kuala Leuge, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, tahun anggaran 2023.

Plh Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Timur, Akbar Pradhana, S.H, mengungkapkan bahwa kedua tersangka berinisial SB yang berperan sebagai Pelaksana Kegiatan dan ES selaku Konsultan Pengawas proyek tersebut.

“Proyek yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus senilai Rp709.361.500 ini dilaksanakan oleh CV. Bungie Jaya Nusantara dan dikelola oleh Dinas Perikanan Aceh Timur,” ujar Akbar dalam keterangannya kepada Nukilan, Kamis (24/4/2025).

Dijelaskannya, penetapan tersangka dilakukan setelah tim penyidik menemukan sejumlah penyimpangan berdasarkan hasil audit fisik dan mutu oleh Tim Ahli Forensik Teknik Sipil serta audit Inspektorat. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara volume dan mutu beton dengan dokumen kontrak serta tidak memenuhi standar SNI 2847-2019.

“Beberapa bagian struktur bangunan dinyatakan tidak layak digunakan dan membahayakan daya layan dermaga. Addendum kontrak yang menurunkan spesifikasi mutu beton juga dilakukan tanpa perhitungan teknis yang valid,” jelasnya.

Berdasarkan laporan audit Inspektorat Kabupaten Aceh Timur, kerugian keuangan negara/daerah akibat penyimpangan tersebut mencapai Rp156.685.939,50.

Kedua tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Para tersangka telah ditahan di Lapas Kelas II B Idi selama 20 hari terhitung mulai tanggal 23 April 2025 hingga 12 Mei 2025 berdasarkan Surat Perintah Penahanan (T-2) yang telah dikeluarkan,” pungkasnya.

Kejaksaan Negeri Aceh Timur menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap bentuk penyalahgunaan anggaran negara, khususnya dana Otonomi Khusus, guna menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam pembangunan daerah.

Reporter: Rezi

Mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry dan Warga Lambaro Sukon Sukses Gelar Festival Anak Sholeh 2025

0
Mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry dan Warga Lambaro Sukon Sukses Gelar Festival Anak Sholeh 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang tergabung dalam kelompok 06 Gampong Lambaro Sukon, bekerja sama dengan masyarakat setempat, sukses menyelenggarakan Festival Anak Sholeh 2025.

Kegiatan bertema “Membangun Karakter Islami Melalui Prestasi dan Kreativitas Sejak Dini” ini berlangsung pada 20-23 April 2025 di Meunasah Lambaro Sukon, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.

Festival ini diramaikan oleh sekitar 90 anak-anak dari Gampong Lambaro Sukon yang mengikuti berbagai cabang perlombaan, mulai dari lomba adzan, mewarnai, rangking 1, hingga hafalan doa harian dan surah pendek.

Tujuan utama dari penyelenggaraan festival ini adalah untuk menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan kreativitas, dan memperdalam pemahaman nilai-nilai keislaman sejak usia dini, agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Panitia, Atsal kepada Nukilan.id mengungkapkan berharapannya akan semangat yang dibawa oleh kegiatan ini dapat terus tumbuh di tengah anak-anak Lambaro Sukon.

“Saya ingin dengan adanya kegiatan ini, semangat belajar dan pengetahuan anak-anak semakin bertambah giat serta bermanfaat dikemudian hari,” ujar Atsal.

Menurut keterangan dari Atsal, Keuchik Gampong Lambaro Sukon, Saffarudin, mengapresiasi kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menyukseskan kegiatan ini. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi.

Ketua KPM Gampong Lambaro Sukon, Alvi, turut menyampaikan terima kasih atas dukungan dan keramahan masyarakat selama program pengabdian berlangsung. Ia menilai kebersamaan ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh anggota KPM.

Sebagai penutup, Rabu malam (23/4/2025), mahasiswa KPM bersama warga menggelar malam penutupan Festival Anak Sholeh. Acara ditutup langsung oleh Keuchik Saffarudin, dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba, makan bersama, dan sesi foto bersama dengan seluruh masyarakat.

Festival ini sekaligus menjadi penutup rangkaian program KPM yang telah berjalan selama 45 hari di Gampong Lambaro Sukon. (XRQ)

Reporter: AKil

Tambang Ilegal di Aceh Tengah Kembali Disorot, YAC Desak Tindakan Tegas dari Polda Aceh

0
Excavator di Tanoh Depet, Celala, Aceh Tengah. (Foto: Lintasgayo.com)

NUKILAN.id | Takengon – Dugaan aktivitas tambang ilegal di kawasan Tanoh Depet, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah, kembali mencuat ke permukaan. Organisasi Youth Against Corruption (YAC) menyatakan telah menerima informasi terbaru mengenai maraknya praktik tambang tanpa izin di wilayah tersebut.

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kepala Divisi Investigasi YAC, Ikhlas Hairi, mereka menilai bahwa aktivitas tambang ilegal yang terjadi di lokasi berbeda dari sebelumnya mengindikasikan masih adanya pembiaran dari pihak berwenang.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa aktivitas tambang ilegal ini berlangsung di depan mata, namun hingga kini belum ada tindakan nyata. Kami mempertanyakan mengapa aparat setempat belum mampu menuntaskannya,” ujar Ikhlas pada Kamis (23/04/2025).

YAC mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Aceh untuk segera mengambil langkah tegas terhadap aktivitas ilegal ini. Mereka menilai lambannya penanganan menimbulkan keraguan publik terhadap komitmen aparat penegak hukum di Aceh Tengah.

Menurut Ikhlas, pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada Polda Aceh sejak 16 April 2025. Namun hingga kini belum ada jawaban atau informasi lanjutan dari pihak kepolisian. Kondisi ini, kata YAC, hanya akan memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap sistem penegakan hukum.

“Jika tidak ada perkembangan konkret dalam waktu dekat, kami akan melanjutkan upaya ini dengan menyurati langsung Kapolri. Kasus ini tidak bisa terus dibiarkan,” tegasnya.

YAC juga mengungkapkan kecurigaan mereka terhadap potensi praktik tidak sehat dalam proses penanganan tambang ilegal tersebut.

“Kami mencium adanya potensi permainan yang bisa mengarah pada konflik kepentingan atau penyalahgunaan wewenang. Dugaan akan terjadinya praktik koruptif perlu dijawab secara terbuka oleh institusi terkait,” katanya.

Sebagai penutup, Ikhlas menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam.

“Ini bukan sekadar persoalan hukum, tapi juga menyangkut marwah institusi. Jika tidak segera ditangani dengan tegas, kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di Aceh Tengah bisa terkikis,” pungkasnya.

Editor: Akil

USK Tempati Peringkat Ketujuh Nasional PTN dengan Dosen Terbanyak

0
Universitas Syiah Kuala. (Foto: usk.ac.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) menempati peringkat ketujuh sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) dengan jumlah sumber daya manusia (SDM) dosen terbanyak di Indonesia. Hal ini berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh platform penyaji informasi berbasis angka, Goodstats.

USK tercatat memiliki 1.887 dosen yang menangani sekitar 38.700 mahasiswa. Dengan jumlah tersebut, USK tidak hanya masuk jajaran 10 besar nasional, tetapi juga menjadi PTN dengan dosen terbanyak di Pulau Sumatra.

Peringkat teratas dalam daftar tersebut ditempati Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan 3.066 dosen yang mengajar 60.500 mahasiswa. Disusul oleh Universitas Indonesia (UI) di posisi kedua dengan 2.468 dosen dan Universitas Brawijaya (UB) di posisi ketiga dengan 2.336 dosen.

Jika melihat rasio jumlah dosen terhadap mahasiswa, UGM memiliki rasio 1:20, yaitu satu dosen melayani 20 mahasiswa. Sementara itu, USK memiliki rasio 1:21, artinya satu dosen mengajar 21 mahasiswa.

Rasio jumlah dosen terhadap mahasiswa ini menjadi indikator penting dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi. Ketidakseimbangan antara jumlah dosen dan mahasiswa dapat mempengaruhi langsung kualitas lulusan yang dihasilkan.

Hasil penelusuran Nukilan.id menemukan bahwa pemerintah telah menetapkan standar ideal rasio dosen dan mahasiswa. Di mana berdaskan UU Pendidikan Tinggi No.12/2012 serta PP No.4/2014 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi, bahwa rasio ideal antara dosen dan mahasiswa adalah 1:20 untuk Ilmu Eksakta dan 1:30 untuk Ilmu Sosial.

Data lengkap 10 besar PTN dengan jumlah dosen terbanyak yang dirilir oleh Goodstats adalah sebagai berikut:

  1. Universitas Gadjah Mada (UGM): 3.066 dosen dengan 60.500 mahasiswa

  2. Universitas Indonesia (UI): 2.468 dosen dengan 52.400 mahasiswa

  3. Universitas Brawijaya (UB): 2.336 dosen dengan 78.900 mahasiswa

  4. Universitas Hasanuddin (Unhas): 2.115 dosen dengan 45.400 mahasiswa

  5. Universitas Padjadjaran (Unpad): 2.043 dosen dengan 40.100 mahasiswa

  6. Universitas Airlangga (Unair): 2.036 dosen dengan 43.500 mahasiswa

  7. Universitas Syiah Kuala (USK): 1.887 dosen dengan 38.700 mahasiswa

  8. Universitas Sebelas Maret (UNS): 1.848 dosen dengan 52.700 mahasiswa

  9. Universitas Udayana (Unud): 1.845 dosen dengan 32.400 mahasiswa

  10. Universitas Sumatera Utara (USU): 1.720 dosen dengan 48.200 mahasiswa

Keberadaan dosen dalam jumlah yang memadai sangat penting untuk menunjang proses akademik yang berkualitas. Rasio yang ideal akan memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung lebih optimal, serta mendukung pengembangan riset dan inovasi di lingkungan kampus. (XRQ)

Reporter: AKil

Pemerintah Aceh Dorong Pemberangkatan Umrah Melalui Bandara SIM

0
Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh terus mendorong agar seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah di daerah tersebut memberangkatkan jemaah melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blang Bintang, Aceh Besar.

Penegasan itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, usai melantik Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh Tahun 1446 Hijriah/2025 di aula Asrama Haji Aceh, Selasa (22/4/2025).

“Kita terus mengimbau agar travel-travel penyelenggara Umrah memberangkatkan jamaahnya melalui Bandara SIM,” ujar M. Nasir di hadapan awak media.

Ia menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi Bandara SIM sebagai pintu utama keberangkatan masyarakat Aceh menuju tanah suci. Pemerintah juga berencana mengundang sejumlah pihak travel dalam waktu dekat guna mencari solusi bersama terkait tantangan yang dihadapi.

“Dalam waktu dekat, kita juga akan mengundang pihak travel untuk membahas hal ini,” lanjutnya.

Menurut M. Nasir, secara geografis Bandara SIM memiliki keunggulan strategis dengan waktu tempuh ke Arab Saudi yang relatif singkat, berkisar antara tujuh hingga delapan jam penerbangan langsung. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak jemaah umrah asal Aceh yang memilih berangkat dari luar daerah, bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia.

Hal tersebut dinilai sebagai kerugian bagi potensi daerah, baik dari sisi layanan penerbangan maupun dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Insya Allah, dengan duduk bersama, kita akan menemukan masalah dan solusi agar semakin banyak travel umrah yang membuka paket perjalanan umrah via SIM. Ini tentu akan berimbas pada bertambahnya aktivitas di Bandara kita yang secara langsung juga akan berimbas positif bagi denyut perekonomian masyarakat,” pungkasnya.