Beranda blog Halaman 548

Andhyta Firselly Utami Jadi Pemateri dalam Pertemuan Alumni YPA di Jakarta

0

NUKILAN.id | Jakarta – Dalam acara Pertemuan Alumni Yayasan Pendidikan Aceh (YPA) yang berlangsung di Hotel Mercure Jakarta, Cikini, Andhyta Firselly Utami, Founder & CEO Think Policy, menjadi narasumber utama dengan materi bertajuk “Berpikir Sistemik untuk Mendorong Perubahan.”

Amatan Nukilan.id, perempuan yang akrab disapa Afu ini mengajak para peserta untuk melihat permasalahan dengan perspektif yang lebih luas, mengungkapkan bahwa seringkali masalah tidak terselesaikan karena diagnosa yang tidak tepat.

Dalam pembukaannya, Afu menyampaikan bahwa banyak masalah yang terjebak dalam lingkaran tak berujung disebabkan oleh pendekatan yang salah dalam memahami penyebabnya.

“Banyak masalah tidak selesai karena diagnosa penyakit dan persepsi obat yang tidak tepat,” ujarnya.

Afu kemudian mengajukan sebuah pertanyaan penting kepada para peserta, “Kenapa ada masalah yang tidak bisa diselesaikan?”

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah budaya yang sudah mengakar kuat dalam masyarakat, sehingga sulit untuk diubah.

“Budaya yang telah lama tertanam membuat perubahan menjadi tantangan besar,” jelasnya.

Selain itu, cakupan masalah yang terlalu besar juga menjadi hambatan utama dalam upaya menyelesaikan masalah tersebut.

Tak hanya membahas tantangan, Afu juga memberikan solusi konkret untuk para aktivis yang ingin mendorong perubahan. Dalam setiap permasalahan, kata dia, terdapat berbagai faksi dengan persepsi yang berbeda-beda. Untuk itu, diperlukan aktivis yang mampu menyatukan faksi-faksi tersebut agar memiliki persepsi yang sama dalam mengatasi masalah.

Afu mengibaratkan proses perubahan seperti merebus ayam.

“Perubahan itu seperti merebus ayam, butuh suhu yang pas. Jika suhunya terlalu rendah, perubahan tidak akan terjadi. Namun, jika terlalu tinggi, akan meluap. Tapi jika suhu tepat, maka perubahan akan produktif,” ungkapnya, memberikan gambaran jelas tentang pentingnya pendekatan yang tepat dalam mendorong perubahan.

Acara ini tidak hanya menjadi sarana bagi para alumni untuk berbagi wawasan, tetapi juga memberikan pemahaman lebih dalam tentang pentingnya berpikir sistemik dalam menghadapi permasalahan sosial. Afu berharap para aktivis dan peserta dapat membawa pemikiran ini dalam tindakan nyata untuk mendorong perubahan yang lebih baik di masyarakat. (xrq)

Reporter: Akil

Ekonom: Aceh Harus Prioritaskan Pertanian dan Perikanan di Tengah Efisiensi Anggaran

0
Guru Besar Ekonomi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), Prof Said Munasdi. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.idBanda Aceh – Pemerintah Aceh didorong untuk memfokuskan anggaran pada sektor pertanian dan perikanan guna menghadapi efisiensi belanja sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Ekonomi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), Prof Said Munasdi, di Banda Aceh, Jumat (14/2).

“Anggaran yang ada harus diarahkan untuk mendukung sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi Aceh, bukan untuk belanja birokrasi yang kurang produktif,” katanya dikurtip dari ANTARA.

Instruksi efisiensi ini muncul di tengah kebijakan pemotongan dana transfer daerah bagi Aceh. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) RI Nomor 29 Tahun 2025, dana transfer yang sebelumnya dialokasikan sebesar Rp8,25 triliun turun menjadi Rp7,93 triliun. Sementara itu, dana otonomi khusus (otsus) untuk Aceh juga mengalami pengurangan dari Rp4,466 triliun menjadi Rp4,309 triliun, atau berkurang sebesar Rp156 miliar.

Fokus pada Sektor Unggulan

Prof Said menegaskan bahwa perekonomian Aceh sangat bergantung pada sektor pertanian dan perikanan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 4,66 persen, dengan sektor pertanian menyumbang 30,97 persen.

Namun, ia menyayangkan sektor tersebut masih menghadapi berbagai kendala. Para petani kesulitan mendapatkan pupuk, terbatasnya alat pertanian seperti traktor, serta infrastruktur irigasi yang belum memadai.

Di sektor perikanan, tantangan serupa juga terjadi. Banyak nelayan hanya mampu beroperasi di perairan dangkal akibat keterbatasan peralatan. Selain itu, sumber daya ikan semakin bergeser ke laut lepas akibat perubahan iklim dan pencemaran.

“Jika kita serius ingin membangun ekonomi Aceh, maka anggaran harus difokuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jangan sampai pemotongan anggaran justru memperparah kondisi sektor-sektor yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan ekonomi kita,” ujarnya.

Evaluasi Infrastruktur dan Strategi Investasi

Prof Said juga menilai bahwa strategi menarik investor ke Aceh masih kurang efektif. Menurutnya, Aceh sebaiknya lebih fokus membangun ekonomi berbasis keahlian dan sumber daya lokal.

“Daripada bergantung pada investor yang belum tentu datang, lebih baik kita fokus memperkuat sektor yang sudah kita kuasai. Dengan kebijakan yang tepat, Aceh bisa menciptakan ketahanan ekonomi tanpa harus terus berharap pada dana dari pusat,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya evaluasi terhadap pembangunan infrastruktur yang kurang produktif, seperti gedung-gedung terbengkalai dan proyek yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Kita harus memastikan bahwa anggaran digunakan untuk proyek yang benar-benar berdampak pada masyarakat, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan tertentu,” tegasnya.

Advokasi ke Pemerintah Pusat

Meski menekankan pentingnya efisiensi anggaran, Prof Said tetap meminta Pemerintah Aceh untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah pusat agar pemotongan dana transfer tidak menghambat upaya pengentasan kemiskinan.

“Pemerintah Aceh dan anggota dewan harus melakukan negosiasi dengan pusat agar efisiensi anggaran ini tidak serta-merta berarti pengurangan dana bagi Aceh. Jika pemotongan tetap dilakukan, maka anggaran yang tersisa harus dialokasikan secara efektif,” katanya.

Dengan strategi yang tepat dan fokus pada sektor unggulan, Aceh diyakini mampu mengatasi tantangan ekonomi meskipun menghadapi keterbatasan anggaran dari pemerintah pusat.

Editor: Akil

Gelombang Laut di Perairan Aceh Berpotensi Mencapai 2,5 Meter, Nelayan Diminta Waspada

0
Ilustrasi gelombang tinggi (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gelombang tinggi berpotensi terjadi di sejumlah perairan Aceh dalam beberapa hari ke depan. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca di perairan Aceh diperkirakan mengalami perubahan signifikan mulai 15 Februari 2025 pukul 07.00 WIB hingga 18 Februari 2025 pukul 07.00 WIB. Ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di beberapa wilayah laut.

“Perairan yang berisiko meliputi Perairan Sabang – Banda Aceh, Perairan Aceh Besar – Meulaboh, Perairan Aceh Barat Daya – Simeulue, Perairan Aceh Singkil – Pulau Banyak, dan Perairan Selatan Simeulue,” kata Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Khairul Akbar, Jumat (14/2/2025). ​

Menurut Khairul, pola angin yang bergerak dari Utara hingga Timur Laut dengan kecepatan berkisar antara 4 hingga 20 knot menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi kondisi laut dan keselamatan pelayaran di sejumlah perairan tersebut. Ia mengimbau para nelayan serta pelaku pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi perahu nelayan dan kapal tongkang.

“Bagi perahu nelayan, gelombang tinggi lebih dari 1,25 meter dan kecepatan angin mencapai 15 knot dapat membahayakan keselamatan pelayaran. Sementara kapal tongkang juga berisiko apabila kecepatan angin mencapai 16 knot dengan gelombang mencapai 1,5 meter,” jelasnya.

BMKG juga menekankan pentingnya langkah antisipatif bagi pelaut dan nelayan untuk meminimalkan risiko akibat cuaca buruk. Para pelaut diimbau untuk memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut dan memastikan alat keselamatan tersedia di kapal.

“Peringatan dini ini bertujuan untuk menghindari potensi kecelakaan yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran di perairan Aceh dalam periode cuaca buruk ini,” ujarnya.

Dengan adanya peringatan ini, diharapkan pemerintah dan instansi terkait dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mengurangi dampak buruk akibat kondisi cuaca ekstrem. Para nelayan dan pemilik kapal diharapkan lebih berhati-hati dalam menentukan waktu berlayar guna menghindari risiko kecelakaan di laut.

Editor: Akil

Kejati Aceh Tangkap DPO Perdagangan Imigran Rohingya

0
Ilustrasi DPO. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh berhasil mengamankan Mujiono (42), terpidana kasus perdagangan imigran etnis Rohingya yang selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Mujiono ditangkap di Kampung Tandean, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (15/2/2025).

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Aceh, Ali Rasab Lubis, menyampaikan bahwa operasi penangkapan ini dipimpin langsung oleh Asisten Intelijen Kejati Aceh, Mukhzan. Setelah diamankan, Mujiono segera diserahkan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe untuk menjalani eksekusi hukuman.

Mujiono, warga Desa Alue Ie Itam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, terbukti terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. Ia membawa 20 imigran etnis Rohingya dari tempat penampungan di eks Kantor Imigrasi Lhokseumawe menuju Tanjung Balai, Sumatera Utara, menggunakan minibus. Aksi tersebut dilakukan demi mendapatkan sejumlah imbalan.

Pada awalnya, Pengadilan Negeri Lhokseumawe memutuskan membebaskan Mujiono dari dakwaan. Namun, jaksa penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung yang akhirnya mengabulkan permohonan tersebut. Mujiono dijatuhi hukuman tiga tahun penjara serta denda Rp120 juta dengan subsidair tiga bulan kurungan.

Ketika Kejaksaan hendak mengeksekusi putusan Mahkamah Agung, Mujiono tidak menunjukkan itikad baik dan berpindah-pindah tempat untuk menghindari penangkapan. Sejak Januari 2024, ia resmi masuk dalam daftar buronan.

Ali Rasab Lubis menegaskan bahwa Kejati Aceh terus memburu para buronan guna memastikan hukum tetap ditegakkan dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat.

“Kami juga mengingatkan kepada seluruh buronan untuk segera menyerahkan diri guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak ada tempat bagi DPO atau buronan dan hukum harus tetap ditegakkan,” ujar Ali Rasab Lubis.

Selain itu, Kejati Aceh mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melaporkan keberadaan buronan yang masih berkeliaran. Dengan adanya partisipasi masyarakat, proses penegakan hukum dapat berjalan lebih efektif demi mewujudkan keadilan bagi semua.

Editor: Akil

BMKG Aceh Pastikan Pelayanan Tetap Optimal di Tengah Kebijakan Efisiensi

0
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Aceh Muhajir. (Foto: dokumen pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh memastikan bahwa pelayanan informasi kepada publik tetap berjalan normal meskipun menerapkan sistem kerja kombinasi antara Work from Office (WFO) dan Work from Anywhere (WFA). Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari program efisiensi anggaran sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja Anggaran.

Mulai pekan ini, BMKG Aceh menerapkan pola kerja baru di mana pegawai bekerja dari kantor selama tiga hari, yakni Senin hingga Rabu, sementara pada Kamis dan Jumat menjalankan tugas secara fleksibel dari lokasi mana pun dengan sistem shift.

“Pimpinan pusat melalui Sekretaris Utama BMKG mengeluarkan surat edaran tentang pelaksanaan WFO dan WFA untuk pegawai dalam rangka menindaklanjuti program efisiensi penggunaan anggaran. Ini sebagai pedoman bagi ASN di BMKG dan telah kami jalankan di daerah. WFO berlaku tiga hari, Senin, Selasa, dan Rabu, sedangkan WFA berlaku pada Kamis dan Jumat. Kebijakan ini sudah mulai berjalan sejak minggu ini,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Aceh, Muhajir, pada Jumat (14/2/2025).

Menurut Muhajir, BMKG turut merasakan dampak dari kebijakan efisiensi ini, terutama dalam hal pengurangan anggaran operasional seperti belanja alat tulis kantor (ATK), kegiatan sosialisasi, serta berbagai pertemuan. Secara nasional, pemangkasan anggaran BMKG mencapai 50,3 persen. Namun, ia memastikan bahwa layanan informasi cuaca dan iklim tetap tersedia selama 24 jam dalam tujuh hari seminggu.

“Efisiensi anggaran memang ada, namun kami menjamin layanan publik tetap hadir 24 jam nonstop selama tujuh hari, baik melalui media sosial maupun situs web resmi BMKG. Informasi akan selalu kami perbarui tanpa henti. Dengan teknologi yang telah kami kembangkan, petugas tetap dapat memperbarui dan memantau data informasi secara online kapan pun dan di mana pun,” tambahnya.

Muhajir optimistis bahwa teknologi yang selama ini dibangun oleh BMKG dapat mendukung kelancaran tugas di lapangan. Ia menegaskan bahwa penerapan sistem kerja kombinasi WFO dan WFA tidak akan menghambat kinerja institusi, terutama dalam menyediakan data observasi harian yang sangat krusial bagi masyarakat.

Selain itu, BMKG juga telah mengusulkan restrukturisasi dan relaksasi anggaran sebagai langkah antisipasi untuk mengatasi dampak dari pemangkasan dana. Dengan langkah-langkah tersebut, BMKG Aceh berharap dapat tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat tanpa kendala berarti.

Editor: Akil

Aceh Kembali Terima Aset Rampasan KPK, Diharapkan Jadi Sumber Pendapatan Daerah

0
Plt. Sekda Aceh, Drs. Muhammad Diwarsyah, M.Si, saat memberikan sambutan pada acara Serah Terima Barang Rampasan Negara Melalui Penetapan Status Penggunaan. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta— Pemerintah Aceh kembali menerima hibah aset berupa tanah dan bangunan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Aset tersebut merupakan hasil rampasan dari kasus tindak pidana korupsi dan berlokasi di Jakarta Selatan.

Penyerahan aset ini dilakukan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol No. 29, Jakarta Pusat, pada Jumat (14/2/2025). Selain Pemerintah Aceh, KPU juga menerima hibah aset hasil rampasan KPK dalam kesempatan yang sama.

Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Muhammad Dirwansyah, hadir langsung dalam prosesi serah terima, didampingi Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, serta Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Aceh, T. Aznal Zahri. Ia mewakili Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, dalam menerima aset tersebut.

Dalam sambutannya, Dirwansyah menyampaikan apresiasi kepada KPK atas hibah yang diberikan kepada Pemerintah Aceh. Ia menilai aset ini dapat menjadi momentum bagi daerah dalam meningkatkan sumber pendapatan dari luar Aceh guna mewujudkan kemandirian ekonomi.

“Dan kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengelola dan mengoptimalkan aset tersebut semata-mata hanya untuk kepentingan dan kemajuan bagi Pemerintah Aceh dan khususnya bagi rakyat Aceh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dirwansyah menegaskan komitmen Pemerintah Aceh dalam mengelola aset hibah ini secara tertib dan transparan agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

“Tak lupa juga saya sampaikan Pemerintah Aceh dengan senang hati masih sangat bersedia untuk menerima hibah atas barang-barang rampasan negara lainnya,” tutupnya.

Serah terima aset rampasan KPK kepada berbagai pihak, termasuk Pemerintah Aceh, diharapkan dapat memperkuat tata kelola aset negara serta mendukung pembangunan daerah secara lebih optimal.

Editor: Akil

Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil Dilantik Hari Ini, Gubernur Aceh Dijadwalkan Hadir

0
Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Singkil – Prosesi pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil terpilih untuk masa jabatan 2025-2030 akan digelar hari ini, Sabtu (15/2/2025), di Gedung Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil. Safriadi atau yang akrab disapa Oyon bersama wakilnya, Hamzah Sulaiman, akan resmi menjabat setelah dilantik oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

Plh Sekretaris Dewan Aceh Singkil, Muhammad Yunus, mengungkapkan bahwa pelaksanaan pelantikan difasilitasi oleh Sekretariat Dewan Aceh Singkil. Namun, untuk urusan protokoler, akan ditangani langsung oleh Pemerintah Provinsi Aceh guna memastikan kelancaran acara yang dihadiri oleh pejabat tinggi.

“Diambil alih ini, karena kehadiran Gubernur. Kita yang melaksanakan, tapi atas arahan-arahan dari mereka. Karena harus keprotokoleran dalam hal kunjungan pejabat. Jadi kita harus sesuaikan bagaimana sistem pelaksanaannya. Kita sifatnya memfasilitasi,” ujar Muhammad Yunus dikutip dari RRI, Jumat (14/2/2025).

Menurut Yunus, pelantikan dijadwalkan berlangsung pada pukul 09.00 WIB. Undangan resmi telah disebarkan sejak pagi hari ini untuk memastikan kehadiran para tamu undangan dan kelancaran acara.

“Pelantikan besok jam 9 pagi. Undangan sudah diedarkan mulai pagi ini,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tim protokoler dari Provinsi Aceh telah tiba di Aceh Singkil untuk mempersiapkan rangkaian acara. Pada sore ini, sekitar pukul 15.00 WIB, dijadwalkan akan digelar gladi resik sebagai bagian dari persiapan akhir sebelum prosesi pelantikan berlangsung.

“Seluruh persiapan sudah dilaksanakan semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Dengan segala persiapan yang telah dimatangkan, prosesi pelantikan diharapkan berjalan dengan lancar dan khidmat. Masyarakat Aceh Singkil pun menantikan kepemimpinan baru Safriadi dan Hamzah Sulaiman untuk membawa daerah ini menuju kemajuan dalam lima tahun ke depan.

Editor: Akil

Profil Muzakir Manaf, Mantan Panglima GAM yang Kini Jadi Gubernur Aceh 2025-2030

0
Muzakir Manaf-Fadhlullah saat menyampaikan pidato perdananya. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem resmi dilantik sebagai Gubernur Aceh periode 2025-2030 dalam rapat paripurna istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Rabu (12/2/2025). Ia dilantik bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Gedung Utama DPRA, Banda Aceh.

Pelantikan ini berlangsung sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang mengatur bahwa pelantikan Gubernur Aceh digelar dalam rapat paripurna istimewa DPRA dan tidak serentak dengan provinsi lain di Indonesia.

Perjalanan Karier Muzakir Manaf

Dihimpun Nukilan.id dari berbagai sumber, Muzakir Manaf merupakan sosok yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik dan sejarah Aceh. Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak 1986. Setelah perjanjian damai Helsinki pada 2005, ia memainkan peran penting dalam transisi politik Aceh dengan menjadi Ketua Komite Peralihan Aceh.

Perjalanan politiknya terus berlanjut dengan menduduki sejumlah posisi strategis, di antaranya:

  • Ketua Umum Partai Aceh (2007)
  • Ketua Umum Pramuka Aceh (2013)
  • Ketua Umum KONI Aceh (2015)
  • Wakil Gubernur Aceh (2012-2017)
  • Waliyul ‘Ahdi Lembaga Wali Nanggroe Aceh (sejak 27 Desember 2022)

Pria kelahiran Aceh Timur, 3 April 1964, ini dikenal sebagai pemimpin dengan karakter tegas dan komitmen kuat dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh.

Gebrakan Awal: Minta Hapus Sistem QR Code di SPBU

Dalam pidato perdananya usai resmi menjabat sebagai Gubernur Aceh, Muzakir Manaf mengejutkan tamu undangan dengan pernyataan tegas terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM) di Aceh. Ia mengumumkan bahwa selama masa kepemimpinannya, sistem QR Code untuk pengisian BBM di SPBU seluruh Aceh akan dihapus.

“Yang perlu digarisbawahi adalah, karena sesuai dengan sumpah tadi, kami ingin mensejahterakan rakyat, menyenangkan rakyat, bukan menyusahkan rakyat. PR hari ini, semua SPBU di Aceh tidak ada lagi istilah barcode. Mohon digarisbawahi,” tegasnya.

Menurutnya, sistem QR Code dalam pembelian BBM telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Bahkan, ia menyebut ada warga yang marah dan mengancam membakar SPBU akibat kebijakan tersebut.

“Maka saya ambil kesimpulan untuk menghapuskan semua barcode yang ada di SPBU di Aceh,” katanya.

Pernyataan itu sontak disambut tepuk tangan meriah dari para pendukungnya. Kebijakan ini menjadi gebrakan awal yang menunjukkan komitmen Mualem dalam menata kebijakan ekonomi dan sosial di Aceh.

Dengan berbagai pengalaman dan latar belakangnya, banyak pihak menaruh harapan besar pada kepemimpinan Muzakir Manaf dan Fadhlullah untuk membawa Aceh keluar dari berbagai permasalahan, termasuk kemiskinan dan pembangunan ekonomi yang lebih inklusif. (XRQ)

Reporter: Akil

Jalan Diselimuti Kabut Asap, Satlantas Aceh Barat Siaga

0

NUKILAN.id | Meulaboh – Kabut asap tebal menyelimuti ruas jalan nasional Meulaboh-Banda Aceh, tepatnya di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, pada Jumat (14/2/2025) pagi. Kondisi ini membuat jarak pandang pengendara terbatas hingga hanya sekitar 50 meter, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Sikutip dari RRI, Kapolres Aceh Barat AKBP Andi Kirana, SIK, M.H, melalui Kasatlantas Iptu Yusrizal, S.E., mengimbau pengendara untuk lebih berhati-hati saat melintasi kawasan yang terdampak kabut asap.

“Kami menghimbau pengendara untuk berhati-hati saat melintasi jalan nasional Meulaboh – Banda Aceh, tepatnya di titik kita berada saat ini,” ujar KBO Satlantas Polres Aceh Barat, Ipda Novi Asriadi, S.AB.

Personel Satlantas Aceh Barat segera diterjunkan ke lokasi untuk mengatur arus lalu lintas dan memberikan aba-aba kepada pengendara. Petugas juga menyalakan lampu sirine mobil patroli guna memberi tanda bagi pengguna jalan agar mereka dapat menyesuaikan kecepatan kendaraannya.

Upaya ini dilakukan sebagai langkah preventif dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas, terutama saat jam sibuk warga yang hendak menuju pusat Kota Meulaboh. Para pengendara juga diimbau untuk menyalakan lampu kendaraan agar lebih terlihat di tengah pekatnya kabut asap.

“Seperti kita lihat, jarak pandang sudah tidak aman bagi pengendara. Sekitar 50 meter itu mengganggu jarak pandang pengendara. Kita himbau agar selalu berhati-hati dan kurangi kecepatan kendaraan karena jarak pandang yang tidak aman,” tambah Ipda Novi Asriadi.

Sebelum bergerak ke lokasi terdampak kabut asap, Satlantas Aceh Barat terlebih dahulu membagikan brosur imbauan kepada para pengendara di beberapa titik strategis di Kota Meulaboh. Kegiatan ini merupakan bagian dari Operasi Keselamatan Seulawah 2025 yang berlangsung sejak 10 hingga 23 Februari 2025.

Editor: Akil

Alumni YPA Tampilkan Keanekaragaman Budaya Nusantara

0
Penampilan seni dari Alumni YPA asal Papua, Yoksan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Malam Pertunjukan Seni Budaya Daerah yang digelar oleh para alumni Young Progressive Academy (YPA) pada Jumat malam (14/2/2025) berlangsung meriah. Acara yang menghadirkan alumni dari berbagai angkatan ini menampilkan kekayaan budaya Nusantara dari Sabang hingga Merauke.

Dalam acara tersebut, para alumni YPA dikelompokkan berdasarkan daerah asal dan suku masing-masing. Mereka menampilkan seni, adat, dan budaya yang menjadi identitas daerahnya. Para alumni YPA dari angkatan 1, 2, dan 3 yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia turut serta dalam perhelatan ini.

Amatan Nukilan.id, alumni dari Aceh menampilkan keanggunan busana adat Suku Gayo yang kaya akan motif dan warna khas. Sementara itu, alumni dari Sumatera Utara membawakan Tari Matortor, sebuah tarian tradisional Batak yang kental dengan unsur ritual dan kebersamaan.

Tidak ketinggalan, alumni dari Jakarta dan Jawa Barat menghadirkan pertunjukan pantun serta lagu Manuk Dadali, yang dikenal sebagai lagu kebanggaan masyarakat Sunda. Dari Jawa Timur, Reog Ponorogo tampil megah dengan kostum besar dan gerakan energik, mengundang decak kagum penonton. Sementara itu, alumni dari Papua menampilkan nyanyian tradisional yang diiringi petikan gitar Sapu Sna, menciptakan suasana syahdu dan penuh makna.

Karlo, salah satu peserta dari Aceh, mengungkapkan kebanggaannya bisa menampilkan budaya daerahnya di acara ini.

“Saya sangat senang bisa memperkenalkan budaya Aceh, khususnya baju adat Suku Gayo. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan kekayaan budaya yang kami miliki,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Yoksan, alumni asal Papua, yang merasa bangga bisa membawakan nyanyian tradisional di hadapan para peserta dari berbagai daerah.

“Budaya adalah identitas kita. Dengan acara seperti ini, kita bisa lebih mengenal dan menghargai keberagaman yang ada di Indonesia,” katanya.

Malam Pertunjukan Seni Budaya Daerah oleh alumni YPA ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan dan mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada generasi muda. Dengan semangat kebersamaan dan cinta budaya, acara ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dirayakan bersama. (XRQ)

Reporter: Akil