Beranda blog Halaman 462

Dr. Wiratmadinata: Peran Media dalam Konteks Kenegaraan Telah Bergeser

0
Dr. Wiratmadinata
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Dr. Wiratmadinata, SH, MH, (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Dr. Wiratmadinata, SH, MH, menyampaikan pandangannya terkait posisi media dalam konteks kenegaraan. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh, Sabtu, 19 Juli 2025, di Moorden, Beurawe, Banda Aceh.

Dalam pantauan Nukilan.id, Wiratmadinata menyampaikan bahwa di masa lalu media massa dipandang sebagai alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, peran media telah mengalami pergeseran. Kini, media menjadi ruang bagi beragam kepentingan dan tidak lagi bersuara tunggal seperti dahulu.

“Dalam konteks negara yang sudah merdeka, pendekatan media sebagai alat perjuangan seperti masa lalu sudah tidak relevan lagi. Dulu, media massa digunakan sebagai alat perjuangan untuk kemerdekaan. Tapi sekarang, perjuangan itu sudah berpindah ke masyarakat, ke tengah-tengah kita, melalui berbagai saluran,” ujar Wiratmadinata.

Dalam narasinya, ia menggambarkan bagaimana perubahan pola kepemilikan media turut memengaruhi independensi dan objektivitas pemberitaan. Media, menurutnya, bukan lagi milik publik secara utuh, melainkan berafiliasi dengan berbagai kepentingan politik dan kekuasaan.

“Misalnya, partai politik seperti NasDem punya MetroTV, lalu CNN dimiliki oleh siapa, TVOne juga punya siapa. Hampir semua media sekarang punya pemilik yang punya afiliasi politik,” jelasnya.

Wiratmadinata juga mengajak peserta untuk menengok kembali sejarah media di masa Orde Baru. Saat itu, negara memiliki media resmi yang bertugas menyuarakan narasi tunggal pembangunan dan program pemerintah.

“Dulu, di zaman Orde Baru, negara punya media sendiri seperti Suara Rakyat, Pelita, dan lain-lain. Semuanya satu suara, untuk mendukung pembangunan dan program pemerintah,” katanya mengenang masa lalu.

Menurutnya, saat itu kontrol negara terhadap media sangat kuat sehingga pemberitaan lebih bersifat seragam dan diarahkan untuk menyukseskan agenda negara. Namun seiring dengan reformasi dan terbukanya kebebasan pers, kontrol tersebut melemah, digantikan oleh kepemilikan media yang semakin tersebar.

“Tapi sekarang tidak. Semua kelompok masyarakat, semua partai politik, bahkan ormas, punya medianya masing-masing. Jadi perjuangannya pun jadi sendiri-sendiri, sesuai kepentingannya masing-masing,” lanjutnya.

Ia menilai bahwa fragmentasi kepemilikan ini menyebabkan media tidak lagi berjalan dalam satu narasi kolektif seperti dahulu. Masing-masing media hadir dengan misi yang berbeda, merepresentasikan suara dan aspirasi pemiliknya.

Dalam konteks itu, Wiratmadinata pun menyoroti pergeseran mendasar dalam identitas media. Fungsi idealis media sebagai alat perjuangan perlahan memudar, digantikan oleh fungsi pragmatis yang lebih dekat pada urusan kekuasaan dan kepentingan kelompok.

“Karena itu, media sekarang rasanya sudah nggak pas lagi disebut alat perjuangan. Lebih tepat disebut sebagai alat untuk bisnis. Tapi bisnis di sini bukan cuma soal dagang, tapi soal urusan. Urusan politik, urusan kekuasaan, dan sebagainya,” papar dia.

Ia menjelaskan bahwa istilah “bisnis” dalam konteks media saat ini tidak bisa dipahami secara sempit sebagai aktivitas ekonomi semata. Lebih dari itu, media telah menjadi instrumen politik yang digunakan untuk memengaruhi opini publik dan memperjuangkan kepentingan tertentu.

“Karena kondisinya begitu, media massa hari ini sarat dengan kepentingan yang sifatnya subjektif. Partai A punya kepentingannya sendiri, Partai B juga begitu, Partai C pun sama,” ujarnya.

Diskusi ini tidak hanya mengungkap fenomena komunikasi digital masa kini, tetapi juga mengajak publik untuk berpikir lebih kritis terhadap konten yang dikonsumsi sehari-hari. Kegiatan Ngopi Aceh Damai kembali menunjukkan peran penting forum-forum terbuka sebagai ruang untuk memperkuat literasi media dan demokrasi di kalangan masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Kesbangpol Aceh Gelar Diskusi Ngopi Damai, Bahas Perilaku Komunikasi Pengguna Medsos

0
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh menggelar diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai pada Sabtu, 19 Juli 2025. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh kembali menggelar diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai pada Sabtu, 19 Juli 2025. Diskusi yang berlangsung di Moorden, Beurawe, Banda Aceh, itu mengangkat tema “Fenomena dan Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial” dan menghadirkan tiga narasumber yang aktif dalam kajian media serta sosial politik.

Ketiganya adalah Wiratmadinata, Jauhari Ilyas, dan Aryos Nivada. Acara yang dimulai pukul 14.30 WIB itu dipandu oleh wartawan senior, Adi Warsidi.

Algoritma, Echo Chamber, dan Penyempitan Ruang Publik

Dalam pemaparannya, Wiratmadinata menyoroti perubahan mendasar dalam cara kerja media di era digital. Ia menyebut bahwa media kini telah menjadi bagian dari sistem bisnis yang dikendalikan algoritma.

“Mungkin hari ini kita harus mengakui bahwa algoritma media sudah menjadi bagian dari bisnis. Coba lihat saja di internet atau media sosial—ada istilah echo chamber, di mana apa yang kita klik, apa yang kita tonton, akan terbaca sebagai hal yang kita sukai. Kalau kita klik soal mobil, maka yang muncul selanjutnya semuanya tentang mobil,” katanya.

Lebih jauh, Wiratmadinata menilai bahwa fenomena echo chamber bukan semata perkara teknis algoritma, melainkan telah membentuk ulang cara publik mengakses informasi. Alih-alih memperluas wawasan, media sosial justru menciptakan ruang yang sempit.

“Jadi ruang kita sebenarnya makin sempit, karena diarahkan oleh algoritma,” tambahnya.

Peran Media dan Tanggung Jawab Sosial

Sementara itu, wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas, menyoroti pergeseran fungsi media dalam konteks kenegaraan. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah menjadikan hampir semua orang sebagai pengguna media sosial aktif.

“Semua orang sekarang menjadi pengguna media sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami mengapa dan bagaimana kita bermedia sosial,” ujarnya.

Menurut Jauhari, tantangan terbesar bukan lagi soal kebebasan informasi, melainkan bagaimana masyarakat dapat bersikap bijak dalam mengelola informasi tersebut.

“Nah, dalam konteks media sosial saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab atas konten yang dibagikannya.

“Kita harus memahami betul konten yang kita tayangkan, jangan asal membagikan informasi tanpa tahu duduk persoalannya,” tegas Jauhari.

Melawan Hoaks dengan Kebiasaan Verifikasi

Di sesi terakhir, Ketua AMSI Aceh, Aryos Nivada, menyoroti persoalan hoaks yang masih menjadi tantangan besar di tengah arus informasi yang deras. Ia memaparkan materi berjudul “Langkah Cerdas Lawan Hoaks”, dan menegaskan bahwa hoaks tidak hanya menyasar masyarakat awam, tetapi juga kalangan berpendidikan.

“Kecerdasan seseorang tidak selalu linier dengan kemampuannya menyaring informasi. Banyak orang cerdas yang tetap menyebarkan hoaks karena tidak punya habit verifikasi,” jelas Aryos.

Ia mengungkapkan bahwa penyebaran hoaks lebih banyak didorong oleh emosi dan kebencian, serta minimnya kesabaran dalam menyaring informasi.

Budaya “nguping” atau menerima informasi setengah-setengah juga menjadi celah rawan untuk manipulasi. Karena itu, Aryos mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan verifikasi dan memperkuat literasi media.

“Kalau tidak punya kualitas pemahaman informasi, maka akan mudah dikendalikan orang lain,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

PT PEMA Ajukan Proposal Kelola Wilayah Kerja South Block A ke BPMA

0
PT PEMA Ajukan Proposal Kelola Wilayah Kerja South Block A ke BPMA. (Foto: PT PEMA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) pada Kamis (17/7/2025). Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama sekaligus penyerahan proposal minat pengelolaan Wilayah Kerja (WK) South Block A.

WK South Block A merupakan blok migas terminasi dari Kontrak Kerja Sama (KKS). PT PEMA menyatakan kesiapannya untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi blok tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan serta peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Aceh.

Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, mengatakan langkah ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Aceh melalui perusahaan daerah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam di sektor migas.

“PT PEMA selaku mitra strategis BPMA ingin mendorong sama-sama terhadap pembangunan ekonomi daerah melalui pengelolaan Wilayah Kerja Migas dengan dapat membantu peningkatan PAD Aceh dan juga pembukaan lapangan kerja,” ujar Mawardi.

Dalam pertemuan itu hadir jajaran direksi PT PEMA, mulai dari Direktur Utama, Direktur Pengembangan Bisnis, Direktur Komersial, Sekretaris Perusahaan, hingga Manajer Eksekutif Pengembangan Bisnis.

Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA, Naufal Natsir Mahmud, menjelaskan proposal yang diajukan telah disusun secara komprehensif. Menurutnya, dokumen tersebut mempertimbangkan potensi wilayah kerja, aspek teknis, serta rencana pengembangan jangka panjang yang berkelanjutan.

Hal ini, kata Naufal, selaras dengan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2015 yang memberi peluang bagi BUMD untuk mendapatkan prioritas dalam pengelolaan WK migas terminasi.

“Kami yakin bahwa pengelolaan Wilayah Kerja South Block A akan membuka peluang besar bagi peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja di Aceh,” ujar Naufal.

Sementara itu, Direktur Komersial PT PEMA, Faisal Ilyas, menegaskan bahwa pengelolaan WK tersebut tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, melainkan juga memperhatikan aspek keberlanjutan serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Untuk memperkuat posisi, PT PEMA telah mengantongi dua rekomendasi penting dari pemerintah daerah. Pertama, rekomendasi Penjabat Gubernur Aceh Nomor 500.10.7.1/1481 tentang Pengelolaan WK South Block A. Rekomendasi ini dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap langkah PT PEMA mengelola blok migas tersebut.

Selain itu, Gubernur Aceh juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memprioritaskan BUMD dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk blok migas yang telah diterminasi.

“Rekomendasi ini menjadi landasan kuat bagi kami untuk melanjutkan tahapan pengelolaan Wilayah Kerja South Block A. Kami sangat mengapresiasi dukungan penuh dari dari Bapak Gubernur, yang menunjukkan komitmennya dalam mendorong partisipasi BUMD terhadap pengelolaan sumber daya alam,” tutup Mawardi.

Pemko Banda Aceh Jalin Kolaborasi dengan UII, Dorong Pendidikan dan Ekonomi Kreatif

0
Pemko Banda Aceh Jalin Kolaborasi dengan UII, Dorong Pendidikan dan Ekonomi Kreatif. (Foto: Pemko Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Kota Banda Aceh menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam bidang pendidikan dan ekonomi kreatif. Kolaborasi tersebut dibahas dalam rapat yang digelar secara daring melalui Zoom pada Rabu (16/7/2025) dari Ruang Rapat Pendopo Wali Kota Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, memimpin langsung pertemuan tersebut. Hadir pula Sekretaris Daerah Jalaluddin, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Muhammad Ridha, Kepala Bappeda Rosdi, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni UII Rohidin. Sejumlah unsur perangkat UII dan pejabat Pemko Banda Aceh lainnya juga ikut serta.

Pertemuan tersebut membahas dua fokus utama kerja sama, yakni program Beasiswa Hafiz Quran serta pengembangan ekonomi kreatif dengan mem-branding Banda Aceh sebagai kota parfum Indonesia.

Dalam arahannya, Illiza menegaskan komitmen Pemko untuk menjadikan Banda Aceh sebagai kota unggulan di sektor pendidikan dan kewirausahaan.

“Banda Aceh akan menjadi kota pendidikan dan kewirausahaan yang kreatif, inovatif dan selalu berkolaboratif. Dan tidak hanya unggul dalam segi akademik namun juga harus unggul dalam bidang spiritual atau keagamaan,” sebut Illiza.

Ia juga menyoroti potensi sumber daya alam Banda Aceh yang dinilai sangat menjanjikan untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Banda Aceh juga memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Maka dari itu, kami memilih parfum sebagai ekonomi kreatif. Sebagai contoh, minyak nilam dari Aceh sudah diakui sebagai minyak nilam terbaik di dunia,” ungkapnya.

Melalui kemitraan ini, Illiza berharap terbangun sinergi kuat antara Pemko Banda Aceh dan UII, baik dalam hal peningkatan kualitas pendidikan maupun pengembangan sektor ekonomi berbasis sumber daya lokal.

”Harapannya kita dapat saling memberikan sinergi yang kuat, dalam memajukan sumber daya yang unggul dalam pendidikan dan juga ekonomi melalui beasiswa Hafidz Quran dan kemitraan parfum ini,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: Akil

Resmi Diresmikan, Empat Satuan Baru TNI Hadir di Aceh

0
Sebanyak 4 satuan baru Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), pasukan Infanteri di jajaran Kodam Iskandar Muda diresmikan. (Foto: Dok/Penrem 011 LW)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) meresmikan empat satuan baru pasukan Infanteri di jajaran Kodam Iskandar Muda. Salah satunya adalah Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon-TP) 855/Raksaka Dharma yang bermarkas di Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Yon-TP 855/Raksaka Dharma kini menjadi rumah bagi 420 prajurit organik TNI yang dipimpin oleh Mayor Inf Irvan Nugraha Rodin sebagai Komandan Batalyon. Para prajurit tersebut resmi menjadi bagian dari batalyon usai menjalani prosesi tradisi penerimaan warga baru satuan.

Upacara penyambutan yang berlangsung di Lapangan Kompi B, Yonif 114/SM, Kecamatan Dabun Gelang itu dipimpin langsung oleh Bupati Gayo Lues, Suhaidi, yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Suhaidi menyampaikan bahwa kehadiran pasukan TNI di wilayahnya merupakan suatu kebanggaan dan tonggak baru dalam kolaborasi lintas sektor.

“Atas nama pribadi dan pemerintah Kabupaten Gayo Lues, serta seluruh masyarakat, saya mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di tengah-tengah kami,” sebutnya.

Suhaidi menekankan bahwa satuan ini bukan sekadar kekuatan tempur, melainkan juga mitra pembangunan daerah.

“Konsep Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan yang diusung menunjukkan, TNI kini hadir lebih dekat, bukan hanya sebagai alat pertahanan negara, melainkan juga sebagai mitra pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun berharap sinergi antara TNI dan seluruh elemen daerah akan mempercepat kemajuan Kabupaten Gayo Lues.

“Gayo Lues adalah kabupaten yang kaya akan potensi, namun juga memiliki tantangan mempercepat pembangunan, kami percaya, dengan semangat kebersamaan sinergi antara TNI dan pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat, kita akan mampu mengatasi setiap tantangan dalam mewujudkan Gayo Lues yang lebih maju, aman, dan sejahtera,” harapnya.

Tak hanya di Gayo Lues, Kodam Iskandar Muda juga meresmikan tiga satuan infanteri lainnya. Brigade Infanteri (Brigif) 90/Yudha Giri Dhanu dan Yonif TP 854/Dharma Kersaka disambut dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si di Lapangan Kompi D, Yonif 114/Satria Musara, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.

Sementara itu, 423 prajurit Yonif TP 853/Bawar Reje Bur diterima secara resmi melalui prosesi tradisi yang digelar di Kompi Senapan A, Yonif 111/Karma Bhakti, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur. Wakil Bupati Aceh Timur, T. Zainal Abidin, bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam prosesi di Gayo Lues, tampak hadir sejumlah pejabat daerah dan militer seperti Dandim 0113/GL Letkol Inf Agus Satrio Wibowo, Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo, dan Danyonif TP 855/RD Mayor Inf Irvan Nugraha Rodin, bersama tamu undangan lainnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Petugas Puskesmas di Banda Aceh Dilatih Bikin Konten Imunisasi di Medsos

0
Peserta Pelatihan sedang praktek membuat video edukasi tentang imunisasi. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Untuk menjawab tantangan rendahnya cakupan imunisasi di Banda Aceh, UNICEF bersama mitra lokal menggelar pelatihan pengelolaan media sosial bagi petugas puskesmas, Kamis (17/7/2025), di N.O.Y Cafe, Lambhuk, Banda Aceh.

Pelatihan ini bertujuan mendorong petugas puskesmas agar mampu memproduksi dan menyebarkan konten edukatif seputar imunisasi melalui media sosial, guna menjangkau masyarakat yang masih ragu atau enggan melakukan imunisasi pada anak.

“Kita semua sepakat imunisasi itu penting. Tapi kenyataannya, masih banyak orang tua yang tahu tentang imunisasi tapi belum tergerak membawa anaknya untuk diimunisasi. Artinya bukan hanya soal layanan tersedia, tapi bagaimana kita menyampaikan pesannya,” ujar Andi Yoga Tama dari Perwakilan UNICEF Aceh dalam sambutannya.

Andi menyoroti bahwa cakupan imunisasi di Banda Aceh, yang merupakan ibu kota provinsi, justru masih tertinggal dibandingkan daerah lain seperti Kota Langsa. Hal ini menurutnya menandakan perlunya pendekatan komunikasi yang lebih menyentuh langsung ke masyarakat.

“Pesan saya bagaimana mengajak masyarakat, kalau pelayanan ada, tapi kalau pelayanan yang ada tidak diakses, hasilnya sama saja, indikator kesehatan tetap seperti itu aja dan tentunya kejadian Kejadian Luar Biasa (KLB) akan terus terjadi di Aceh,” jelasnya.

Selain memproduksi konten, Andi juga mengimbau agar para peserta tidak berhenti sampai di pelatihan ini. Ia mendorong para petugas puskesmas untuk membagikan ilmu yang didapat kepada kader Posyandu di wilayah masing-masing.

“Semakin banyak yang terlibat, semakin besar pengaruhnya ke cakupan imunisasi,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya penggunaan media sosial di masyarakat, Andi berharap petugas puskesmas bisa menjadi agen perubahan dengan konsisten menyebarkan konten ajakan imunisasi.

“Harapannya setiap puskesmas bisa minimal membuat satu konten seminggu. Ini bisa diperluas ke kader Posyandu agar dampaknya makin luas,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara UNICEF, Yayasan Inovasi Bangun Negeri, dan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh sebagai bagian dari upaya menekan angka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti polio dan difteri, yang sempat merebak di Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Editor: AKil

Wali Nanggroe Aceh Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Singapura

0
Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Al Haythar bersama para guru saat bertemu dengan perwakilan Pemerintah Singapura, di Aceh Besar, Jumat (18/7/2025). (Foto: Humas Wali Nanggroe Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Al Haythar menjalin kerja sama pendidikan dengan Pemerintah Singapura, setelah upaya inisiasi yang telah dilakukan sejak lima tahun lalu akhirnya menemukan momentum.

“Apa yang kita lakukan ini sudah lama sekali dinanti-nanti dan sangat perlu,” kata Tgk Malik Mahmud Al Haythar saat menyampaikan keterangan di Aceh Besar, Jumat (18/7/2025).

Sebagai langkah awal, pihak Wali Nanggroe memfasilitasi pertemuan antara Kementerian Pendidikan Singapura dan para pimpinan serta perwakilan guru tingkat SMP se-Kota Banda Aceh dalam sebuah workshop khusus. Kegiatan ini berlangsung di Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar.

Dari Singapura, hadir langsung Manajer Utama Kementerian Pendidikan Singapura Willy Kurniawan, Konsul Konsulat Jenderal Singapura Jerrica Yap Wee Ping, serta Manajer Kementerian Pendidikan Singapura Wei Kit.

Workshop ini menjadi tindak lanjut konkret dari kerja sama pendidikan yang telah lama diupayakan oleh Wali Nanggroe Aceh bersama Pemerintah Singapura, dan telah melalui proses diskusi sejak lima tahun lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Pendidikan Singapura memaparkan sistem pendidikan mereka, termasuk berbagai peluang kerja sama, beasiswa, dan program pertukaran pelajar.

“Kami ingin mengeksplorasi potensi kerja sama dengan sekolah di Aceh, mengenal lebih dekat para pimpinan pendidikan di Banda Aceh, sekaligus memperkenalkan program kami termasuk beasiswa dari Kementerian Pendidikan Singapura,” ujar Willy Kurniawan.

Tgk Malik Mahmud menegaskan bahwa sejak berakhirnya masa konflik, sektor pendidikan menjadi perhatian utama pemerintah Aceh. Oleh karena itu, berbagai peluang kerja sama internasional terus dijajaki, termasuk dengan negara-negara yang memiliki sistem pendidikan maju.

Menurutnya, Aceh memiliki keistimewaan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Hal ini, kata dia, menjadi peluang strategis untuk mendorong kualitas pendidikan di daerah.

“Keistimewaan ini menjadi peluang besar bagi Aceh untuk membangun pendidikan yang lebih baik dan berdaya saing melalui kerja sama luar negeri,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa kerja sama ini dapat mencakup program beasiswa, magang, pertukaran siswa, pemberian premi bagi guru dan tengku dayah, serta penguatan kurikulum dan penyelenggaraan forum diskusi pendidikan modern.

“Termasuk upaya perbaikan kurikulum hingga penyelenggaraan FGD dan lokakarya pendidikan modern seperti yang dilakukan dengan Kementerian Pendidikan Singapura hari ini,” katanya.

Tgk Malik Mahmud berharap Pemerintah Aceh melalui dinas terkait segera menindaklanjuti kerja sama ini agar dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan dunia pendidikan di Tanah Rencong.

“Saya minta agar Pemprov Aceh, melalui dinas terkait untuk segera menindaklanjuti kerja sama ini agar membawa dampak nyata bagi kemajuan pendidikan Aceh,” ujar Tgk Malik Mahmud.

Editor: Akil

Pakar: Pengaruh Besar Aceh Bentuk Sejarah Islam di Pahang

0
Para pembicara dalam webinar bertajuk Kajian Islam: Tamadun di Pahang dan Hubungannya dengan Aceh” (Foto: Humas UIN Ar Raniry)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Sejarah perkembangan Islam di Pahang disebut tidak bisa dilepaskan dari peran penting Aceh, khususnya dalam pembentukan sistem hukum Islam dan pengaruh keulamaan di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan oleh pakar sejarah dari Pusat Kajian Bahasa Arab dan Tamadun Islam Fakultas Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr Farid Mat Zain, dalam webinar internasional bertajuk “Kajian Islam: Tamadun di Pahang dan Hubungannya dengan Aceh”, Jumat (18/7/2025).

“Sejarah perkembangan Islam di Pahang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar Aceh, khususnya dalam pembentukan ulama lokal dan sistem hukum Islam seperti qanun Pahang,” kata Dr Farid Mat Zain.

Webinar yang digelar Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu bertujuan membahas hubungan strategis antara Aceh dan Pahang, terutama sejak abad ke-16.

Dalam pemaparannya, Dr Farid menjelaskan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Pahang memiliki ikatan erat yang tercermin dari aspek sejarah, budaya, pendidikan, hingga keagamaan.

Salah satu bukti historis hubungan keduanya, lanjutnya, terlihat dari pernikahan politik antara Sultan Aceh Iskandar Muda dengan Puteri Kamaliah dari Pahang.

Ia juga menyoroti banyaknya peninggalan peradaban seperti manuskrip fikih, tasawuf, hingga arsitektur masjid dan adat istiadat yang menunjukkan kemiripan signifikan antara kedua kawasan. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti kuat adanya jaringan tamadun Islam Melayu yang saling memengaruhi.

Lebih jauh, Dr Farid turut menyinggung pentingnya Selat Malaka sebagai jalur strategis penyebaran peradaban Islam.

“Jalur tersebut tidak hanya menjadi lalu lintas perdagangan, tetapi juga pertukaran naskah keagamaan, gagasan, serta jaringan ulama,” kata Farid.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rijal, mengatakan webinar ini merupakan upaya membangun diskursus ilmiah yang komprehensif.

“Ini merupakan bagian dari upaya kami membangun diskursus ilmiah yang tidak hanya membahas aspek keislaman secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual, terutama dalam lanskap sejarah dunia Melayu,” ujar Syamsul.

Editor: AKil

Pemerintah Aceh Tegaskan Dukungan bagi Penguatan PKK sebagai Mitra Strategis Pembangunan Daerah

0
Pemerintah Aceh Tegaskan Dukungan bagi Penguatan PKK sebagai Mitra Strategis Pembangunan Daerah. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sebagai mitra strategis pembangunan yang berfokus pada pemberdayaan keluarga.

Penegasan itu disampaikan Asisten Sekda Aceh, Muhammad Diwarsyah, saat mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam pembukaan Rapat Konsultasi TP PKK se-Aceh sekaligus Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 di Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur Aceh, Jumat (18/7/2025).

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Diwarsyah, disebutkan bahwa PKK memiliki peran penting dalam pembangunan daerah karena menyentuh langsung fondasi masyarakat, yaitu keluarga.

“Pemerintah Aceh menyadari bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada kerja birokrasi. Perlu ada sinergi dan kemitraan erat dengan organisasi kemasyarakatan seperti PKK, yang memiliki struktur kuat hingga ke tingkat desa,” ujar Diwarsyah.

Ia juga menekankan pentingnya keselarasan program antara pemerintah daerah dan PKK agar pembangunan berjalan tepat sasaran dan memberikan dampak luas kepada masyarakat.

Rapat Konsultasi TP PKK se-Aceh tahun ini dinilai penting sebagai forum konsolidasi dan perencanaan bersama untuk menjawab beragam tantangan sosial yang berasal dari ranah keluarga. Beberapa persoalan yang disoroti antara lain tingginya angka stunting, penyalahgunaan narkoba, dan permasalahan ekonomi rumah tangga.

“PKK memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut, terutama melalui peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan teknologi informasi, serta pelatihan dan regenerasi kader yang berkelanjutan,” lanjut Diwarsyah.

Kegiatan ini juga menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen gerakan PKK di Aceh untuk memperkuat jejaring kerja, menyatukan langkah, serta merancang program-program yang kontekstual dan inovatif sesuai tantangan zaman.

Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, dalam arahannya meminta seluruh struktur PKK dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk menjaga kekompakan dalam menjalankan tugas organisasi.

“Semoga ke depan semuanya bisa semakin kompak dan menjaga semangat kebersamaan dalam mewujudkan tanggung jawab,” kata Marlina.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Staf Ahli PKK Aceh, Mukarramah, yang juga istri Wakil Gubernur Aceh, turut membacakan sambutan Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian. Dalam sambutannya, Tri Suswati menekankan pentingnya komitmen dalam menjalankan 10 program pokok PKK. Sambutan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan HKG PKK ke-53 yang sebelumnya dipusatkan secara nasional di Kalimantan Timur.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pengumuman pemenang lomba Gampong Mawaddah Warahmah tingkat Provinsi Aceh Tahun 2024, yang menilai pelaksanaan 10 program pokok PKK di seluruh kabupaten/kota.

Daftar Pemenang Gampong Mawaddah Warahmah Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2024:

  1. Peringkat I – Gampong Alur Mentawak, Kejuruan Muda, Aceh Tamiang (Nilai: 891)

  2. Peringkat II – Gampong Kajhu, Baitussalam, Aceh Besar (Nilai: 803)

  3. Peringkat III – Gampong Paya Seunara, Suka Karya, Kota Sabang (Nilai: 802)

  4. Harapan I – Gampong Ujong Kalak, Johan Pahlawan, Aceh Barat (Nilai: 759)

  5. Harapan II – Gampong Mane, Mane, Pidie (Nilai: 751)

  6. Harapan III – Gampong Lauke, Simeulue Tengah, Simeulue (Nilai: 725)

  7. Kategori Hiburan:
     • Gampong Bukit Gadeng, Kota Bahagia, Aceh Selatan (717)
     • Gampong Samuti Aman, Gandapura, Bireuen (698)
     • Gampong Naleung, Julok, Aceh Timur (685)
     • Gampong Blang Rongka, Timang Gajah, Bener Meriah (653)

Penghargaan ini diharapkan menjadi penyemangat bagi gampong-gampong lain di Aceh untuk terus mengoptimalkan peran PKK dalam memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Editor: AKil

Aceh Selatan Dapat Bantuan Alsintan dari Kementan, Dukung Program Bajak Sawah Gratis

0
Bupati Aceh Selatan H Mirwan MS dijamu langsung di kediaman Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Andi Amran Sulaiman, MP. (Foto: Humas Aceh Selatan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Di tengah tekanan fiskal yang masih membayangi, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan terus bergerak mencari dukungan pusat demi menjaga kesinambungan program daerah. Bupati Aceh Selatan H Mirwan MS kembali menjalin komunikasi strategis dengan kementerian, kali ini bersama Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Andi Amran Sulaiman, MP.

Pada Selasa, 16 Juli 2025, Bupati Mirwan dijamu langsung di kediaman Menteri Pertanian. Dalam pertemuan tersebut, ia memaparkan sejumlah agenda penting terkait pengembangan sektor pertanian di wilayahnya.

“Alhamdulillah, sembari ngopi Banda shubuh tadi di kediaman Menteri Pertanian Bapak Amran Sulaiman, kita telah memaparkan berbagai agenda untuk memajukan sektor pertanian Aceh Selatan salah satunya adalah program unggulan Pemkab Aceh Selatan yakni Bajak Sawah Gratis,” kata Mirwan, Kamis (17/7/2025).

Sebagai tindak lanjut, Bupati Mirwan mengajukan permohonan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta bantuan bibit padi dan jagung, sejalan dengan program nasional Ketahanan Pangan yang diamanatkan Presiden RI Prabowo Subianto dan program daerah Bajak Sawah Gratis.

Usulan tersebut disambut positif oleh Menteri Pertanian. Menurut Mirwan, Kementerian Pertanian akan mengalokasikan bantuan berupa 10 unit traktor 4WD, satu unit combine padi, bibit padi untuk luasan 1.000 hingga 2.000 hektare, serta bibit jagung untuk luasan serupa. Seluruh bantuan ini akan masuk dalam skema anggaran Kementerian Pertanian tahun 2025.

Tak hanya itu, Bupati Mirwan juga mengusulkan bantuan bibit kopi dan jenis pangan lainnya, guna mendorong diversifikasi hasil pertanian di Aceh Selatan. Ia turut menyampaikan aspirasi terkait kelangkaan dan distribusi pupuk bersubsidi yang masih menjadi keluhan petani.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Pertanian memberikan respons yang membesarkan hati.

“Salam hangat dari Pak Menteri kepada seluruh masyarakat dan petani di Aceh Selatan. Alhamdulillah, Bapak Menteri akan memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor dan combine dalam rangka mendukung program Bajak Sawah Gratis serta bantuan bibit padi juga bibit jagung,” jelas Mirwan.

Bupati Mirwan mengungkapkan bahwa ia akan terus memperkuat komunikasi dan melakukan lobi ke berbagai kementerian untuk memastikan program-program strategis Aceh Selatan mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

“Insya Allah dengan berkat do’a dan dukungan masyarakat Aceh Selatan kita sangat yakin berbagai program dan kegiatan yang bermanfaat untuk pembangunan dan kemajuan daerah akan dapat diwujudkan, serta mendapat dukungan dari pemerintah pusat,” pungkasnya.

Editor: Akil