Beranda blog Halaman 461

1.339 Guru di Nagan Raya Sudah Miliki Sertifikasi Kompetensi

0
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | SUKAMAKMUE – Sebanyak 1.339 guru di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, telah memiliki sertifikasi kompetensi sebagai tenaga pendidik. Angka ini setara dengan 69,2 persen dari total 1.935 guru di daerah tersebut.

“Alhamdulillah, saat ini 69,2 persen guru di Nagan Raya sudah memiliki sertifikasi kompetensi. Hal ini sesuatu yang membanggakan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, Jumat (18/7/2025).

Sertifikasi ini merupakan upaya Dinas Pendidikan Nagan Raya dalam meningkatkan kualitas dan profesionalitas tenaga pendidik, mulai dari jenjang PAUD, PKBM, TK, SD hingga SMP. Adapun 596 guru atau sekitar 30,8 persen lainnya masih dalam proses untuk memperoleh sertifikasi.

Menurut Zulkifli, sebagian besar guru yang belum tersertifikasi saat ini tengah mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sebanyak 375 guru telah dinyatakan lulus untuk mengikuti PPG tahap pertama tahun 2025, sedangkan 212 guru lainnya sedang menjalani seleksi untuk gelombang kedua tahun ini.

“Jika nantinya dua gelombang guru ini lulus sertifikasi kompetensi guru, maka jumlah guru yang belum lulus sertifikasi kompetensi di Kabupaten Nagan Raya Aceh pada tahun 2025 ini tersisa sebanyak sembilan orang lagi,” katanya.

Zulkifli menjelaskan, sertifikasi kompetensi guru adalah proses pemberian pengakuan resmi kepada guru yang telah memenuhi standar profesional di bidang pendidikan. Sertifikasi ini bertujuan untuk memastikan para guru memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas mendidik.

Sebagai informasi, PPG merupakan program pendidikan lanjutan bagi lulusan S1 atau D4, baik dari jurusan pendidikan maupun non-kependidikan, yang ingin menjadi guru profesional. Program ini dirancang untuk membekali calon guru dengan kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Zulkifli menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Nagan Raya akan terus mendorong peningkatan kompetensi guru agar kualitas pendidikan di daerah semakin baik.

“Kami juga mendorong para guru di Nagan Raya agar semua lulus kompetensi, sehingga dalam melaksanakan tugas mengajar semakin lebih mudah, efektif dan profesional,” ucapnya.

Editor: Akil

HUT ke-74 IBI di Aceh: Bidan, Garda Terdepan Jaga Kesehatan Ibu dan Anak

0
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp.OG (K), saat menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-74 di Provinsi Aceh berlangsung di Orion Hall. (Foto: Dinkes Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Provinsi Aceh berlangsung khidmat di Orion Hall, Jalan Soekarno–Hatta, Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Sabtu (19/7/2025).

Mengusung tema “Peran Strategis Bidan Dalam Memenuhi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan di Setiap Kondisi Krisis, Menuju Indonesia Emas 2045”, peringatan ini menjadi momentum reflektif atas dedikasi para bidan, terutama dalam menyelamatkan nyawa ibu dan anak di tengah tantangan medan dan terbatasnya fasilitas layanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp.OG (K), yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya peran bidan dalam sistem pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah-wilayah pelosok.

“Kontribusi para bidan di Aceh sangat signifikan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Mereka adalah pahlawan kesehatan di garis terdepan,” ujar Munawar.

Menurutnya, seiring transformasi sistem kesehatan nasional, tantangan yang dihadapi para bidan semakin kompleks. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Aceh berkomitmen mendukung penguatan kapasitas para bidan melalui berbagai program pendidikan berkelanjutan, pelatihan, serta kerja sama lintas sektor.

“Kami percaya, dengan sinergi antara pemerintah dan IBI, kita bisa meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menciptakan masyarakat Aceh yang lebih sehat,” tambah Munawar.

Peringatan HUT IBI ke-74 ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh bidan di Aceh untuk terus menjalankan peran penting mereka: mendampingi ibu dan anak dalam setiap fase kehidupan serta menjadi fondasi dalam sistem kesehatan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Editor: Akil

Kakanwil Kemenag Aceh Serahkan Buku Nikah dan Sertifikat Wakaf Tunai Catin

0
Kakanwil Kemenag Aceh Serahkan Buku Nikah dan Sertifikat Wakaf Tunai Catin. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi, menyerahkan langsung Buku Nikah dan Sertifikat Wakaf Tunai Calon Pengantin (WTC) kepada sepasang pengantin di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (18/7/2025).

Penyerahan dokumen tersebut menjadi simbol komitmen dan partisipasi Kemenag Aceh dalam menggalakkan program gerakan wakaf tunai, khususnya bagi calon pengantin.

“Jadi, wakaf uang ini, juga bagian dari program kita,” ujar Azhari.

Menurutnya, gerakan wakaf uang kini terus digalakkan, termasuk menyasar pasangan calon pengantin (catin). Azhari menyebut potensi wakaf dari catin di Aceh sangat besar dan dapat dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi keluarga serta menekan angka perceraian.

“Jumlah angka perkawinan di Aceh, misal pada 2024 berjumlah 30.786. Apabila setiap pasang catin menderma wakaf senilai Rp100.000 maka dalam satu tahun punya potensi terhimpun Rp3.078.600.000 (tiga milyar lebih). Ini apabila dikelola, imbal hasilnya nanti dapat dimanfaatkan (mauquf ‘alaih-nya) untuk pemberdayaan ekonomi keluarga prasakinah sehingga dapat menekan angka perceraian yang faktor ekonomi ini menduduki urutan kedua dari faktor tertinggi penyebab perceraian di Indonesia, dan juga kemanfaatan kemaslahatan lainnya disesuaikan dengan kontribusi dari masing-masing KUA secara proporsional,” jelasnya.

Program WTC sendiri telah diluncurkan oleh Kakanwil saat pelantikan Pengurus Wilayah Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi Aceh periode 2025–2028 di Kyriad Muraya Hotel, Banda Aceh, Kamis (26/6/2025) lalu.

Dalam momen penyerahan dokumen tersebut, Azhari menyerahkan Buku Nikah (Kutipan Akta Nikah) dan Sertifikat WTC kepada dua mempelai, yakni Muamar Hafizh BA, putra dari Muarifin SE dan Nursanni, serta Intan Rizkina SH, putri dari H Rizal Mulyadi SAg MA dan Afni SAg.

Diketahui, Rizal Mulyadi merupakan staf di Bidang Pendaftaran dan Dokumen Haji, Kantor Wilayah Kemenag Aceh, yang kerap diutus sebagai rohaniwan.

Penyerahan dilakukan dalam suasana khidmat yang juga dihadiri oleh Kabid Urusan Agama Islam (Urais) Dr H Mukhlis MPd, Kepala KUA Nasruddin SAg, jajaran Kanwil Kemenag Aceh, serta pengurus Masjid Raya Baiturrahman. Acara tersebut bertepatan dengan 22 Muharram 1447 H.

Sementara itu, walimatul ‘ursy atau resepsi pernikahan pasangan mempelai dilangsungkan di UPT Asrama Haji Banda Aceh pada Ahad (18/7/2025).[]

Editor: Akil

Akademisi di Singkil Soroti Ketimpangan Dana Otsus Aceh

0
Ilustrasi Dana Otsus. (Foto: Google News)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Isu perpanjangan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh dan revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) kembali mencuat. Suara dari wilayah perbatasan pun mulai terdengar, mengusung harapan terhadap pemerataan anggaran dan pembangunan.

Salah satu yang menyuarakan hal tersebut adalah akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Abdurrauf (STAISAR) Aceh Singkil, Andika Novriadi Cibro. Ia menilai, selama ini distribusi Dana Otsus masih timpang dan belum menyentuh daerah-daerah di kawasan pinggiran.

“Penguatan Dana Otsus semestinya memperhatikan ketimpangan distribusi yang selama ini terjadi, khususnya terhadap wilayah kabupaten yang berada di kawasan pinggiran,” kata Andika kepada wartawan, Jumat (18/7/2025).

Menurut kandidat doktor dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) itu, mayoritas Dana Otsus terserap di wilayah tengah dan utara Aceh. Sementara daerah perbatasan seperti Aceh Singkil, justru masih minim perhatian dalam pembangunan strategis.

Ia menegaskan, wilayah seperti Aceh Singkil membutuhkan pendekatan afirmatif dalam kebijakan fiskal, terutama untuk penguatan sektor pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur dasar, dan pemberdayaan masyarakat pesisir serta kepulauan.

Andika mencontohkan, masih banyak sekolah di wilayah terpencil dan pulau-pulau kecil di Aceh Singkil yang mengalami keterbatasan guru, fasilitas belajar, hingga akses internet. Kondisi ini dinilai memperparah kesenjangan pembangunan.

“Pembangunan tidak akan pernah merata jika daerah seperti Singkil terus diposisikan sebagai halaman belakang,” ujarnya.

Padahal, kata Andika, Aceh Singkil merupakan kawasan wajah Aceh yang berada langsung di garis perbatasan. Oleh karena itu, ia menilai penting bagi pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap potensi ekonomi daerah ini, seperti sektor perikanan, pariwisata bahari, dan perkebunan.

Ia juga menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam skema Dana Otsus agar lebih berpihak pada kebutuhan wilayah, bukan sekadar pemerataan nominal.

“Keadilan anggaran bukan berarti setiap daerah mendapat jumlah yang sama, melainkan daerah yang lebih membutuhkan harus mendapat porsi lebih, termasuk untuk Aceh Singkil,” pintanya.

Lebih lanjut, Andika mendorong Pemerintah Aceh untuk menyusun peta jalan pembangunan berbasis kawasan. Ia menilai penguatan wilayah perbatasan harus menjadi prioritas utama karena peran strategisnya secara geografis maupun geopolitik.

“Wilayah Kabupaten Aceh Singkil tidak boleh hanya dipandang sebagai wilayah administratif, namun karena peran Aceh Singkil yang strategis secara geografis dan geopolitik, seharusnya menjadikannya sebagai prioritas dalam agenda pembangunan Aceh ke depan,” tandasnya.

Editor: Akil

Mengenang 52 Tahun Wafatnya Bruce Lee, Misteri Kematian Sang Legenda Kung Fu

0
Bruce Lee. (Foto: fanpop.com)

NUKILAN.ID | JAKARTA Hari ini, 20 Juli 2025, genap 52 tahun sejak dunia kehilangan sosok Bruce Lee, aktor sekaligus ahli bela diri yang namanya melegenda di seluruh dunia. Meski telah berlalu lebih dari setengah abad, kematian Bruce Lee pada 1973 masih menyisakan tanda tanya besar.

Bruce Lee lahir dengan nama Lee Jun Fan pada 27 November 1940 di San Fransisco, Amerika Serikat. Ia lahir ketika sang ayah, Lee Hoi Chueen, tengah melakukan tur seni ke Negeri Paman Sam. Sementara ibunya, Grace Ho, dikenal sebagai sosok wanita sederhana.

Masa kecil Bruce Lee dihabiskan di Hong Kong. Sang ayah yang berprofesi sebagai penyanyi opera sekaligus aktor paruh waktu telah memperkenalkannya pada dunia hiburan sejak dini. Bahkan, Bruce Lee sudah tampil sebagai figuran dalam film Golden Gate Girl saat usianya baru tiga bulan.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Edison dan Washington, Bruce Lee melanjutkan kuliah di jurusan filsafat di salah satu universitas di Washington. Di waktu yang sama, ia mulai mengajar seni bela diri Wing Chun—ilmu yang ia pelajari langsung dari Master Ip Man di Hong Kong.

Lewat aktivitas mengajarnya itu, Bruce Lee bertemu dengan Linda Emery, perempuan yang kemudian menjadi istrinya pada tahun 1964. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak, Brandon dan Shannon.

Nama Bruce Lee mulai dikenal luas melalui serial televisi The Green Hornet yang tayang pada 1966 hingga 1967. Dalam serial itu, ia tampil sebagai Kato, partner Green Hornet, dengan gaya bertarung yang akrobatik dan penuh energi.

Menjelang akhir 1972, Bruce Lee telah menjadi bintang film terbesar di Asia. Bersama Raymond Chow, ia mendirikan rumah produksi film sendiri bernama Concord Productions. Di bawah bendera itulah Bruce Lee menyutradarai dan merilis film Return of the Dragon.

Kariernya terus menanjak. Bruce Lee pun mendapat kesempatan emas untuk membintangi film Hollywood berjudul Enter the Dragon. Sayangnya, proyek ambisius itu tak sempat ia nikmati. Satu bulan sebelum film itu dirilis, Bruce Lee mengeluh sakit kepala dan kemudian dilarikan ke Queen Elisabeth Hospital, Hong Kong. Ia meninggal dunia pada 20 Juli 1973.

Berdasarkan penelusuran digital Nukilan.id, hingga kini penyebab kematian Bruce Lee masih menjadi teka-teki. Ada yang menyebutkan ia diracun, sementara sebagian lain percaya ia meninggal karena kutukan.

Apa pun penyebabnya, kepergian Bruce Lee tetap meninggalkan duka mendalam bagi para penggemarnya di seluruh dunia. Legenda itu telah pergi selamanya, namun namanya tetap bersinar terang dalam sejarah perfilman dan dunia seni bela diri. (xrq)

Reporter: Akil

Aryos Nivada: Orang Cerdas Belum Tentu Sadar saat Sebar Hoaks

0
Aryos Nivada (tengah) dalam kegiatan diskusi publik. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh menggelar diskusi publik “Ngopi Aceh Damai Tahun 2025″ bertajuk “Fenomena dan Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial” di Moorden Cafe Beurawe, Banda Aceh, Sabtu (19/7/2025).

Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Akademisi Universitas Abulyatama Wiratmadinata, Pegiat Media Sosial dan Pengamat Seni Jauhari Ilyas, serta Owner Dialeksis.com dan Nukilan.id Aryos Nivada.

Dalam paparannya, Aryos Nivada menyampaikan materi tentang “Langkah Cerdas Lawan Hoax”. Menurutnya, langkah cerdas secara filosofis berarti orang yang dipercayai dalam menulis informasi harus benar-benar memahami data yang akan disajikan dan dipublikasikan kepada publik.

“Orang yang dipercayai mendistribusikan informasi dan data serta mempublikasikannya ke publik harus memiliki kecerdasan dalam memahami produk yang akan dipublikasi,” ujar Aryos.

Namun, fenomena yang memprihatinkan adalah tidak semua orang cerdas memiliki kesadaran untuk tidak menjadi pelaku penyebar informasi negatif atau black campaign. Menurut Aryos, beberapa indikator utama yang menyebabkan hal tersebut.

“Pertama kebencian personal. Kalau orang sudah benci itu susah berpikir sadar, padahal orang tersebut berpendidikan S1 S2, tapi tidak menjadi pilar utama dalam memperkokoh pondasi berdemokrasi,” jelasnya.

Kemudian, adanya kepentingan terselubung, terutama dalam dunia politik di mana kemampuan pengelolaan media menjadi alat propaganda dan motor pemicu konflik. Hal ini terjadi karena media mampu membentuk opini publik.

Lebih Lanjut, Aryos menekankan pentingnya membaca informasi secara menyeluruh dan tidak setengah-setengah.

Berdasarkan pengamatannya, Aryos menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi linear antara kecerdasan seseorang dengan praktik perilaku penyebaran hoaks.

Untuk melawan hoaks, Aryos merekomendasikan beberapa langkah verifikasi, antara lain mengecek referensi informasi apakah jelas, memverifikasi sumber apakah dapat dipercaya, dan tidak mudah mempercayai informasi tanpa menelusuri validitas sumbernya.

“Kita harus paham dan bijak dalam memahami informasi yang kita tangkap, jangan semudahnya langsung mempercayai tanpa bijak menelusuri sumber informasinya secara valid,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Ular King Cobra Sepanjang 3 Meter Dievakuasi di Suka Makmur

0
seekor ular jenis king cobra sepanjang sekitar tiga meter dievakuasi di Desa Weusiteh, Kecamatan Suka Makmur, Sabtu (19/7/2025). (Foto: Dok BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | JANTHO – Petugas Pemadam Kebakaran BPBD Aceh Besar berhasil mengevakuasi seekor ular jenis king cobra sepanjang sekitar tiga meter dari bawah balai panggung di Desa Weusiteh, Kecamatan Suka Makmur, Sabtu (19/7/2025), sekitar pukul 11.35 WIB.

Kepala Pusdalops BPBD Aceh Besar, Iqbal, menyebutkan, informasi awal diterima dari warga bernama Nurul Husna (33), yang melihat ular berada di bawah balai rumah panggung miliknya.

“Setelah menerima laporan pukul 11.09 WIB, petugas piket BPBD dari Pos Induk Sibreh segera dikerahkan ke lokasi. Sesampainya di lokasi, petugas langsung melakukan pengintaian terhadap keberadaan ular,” ujar Iqbal dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (19/7/2025).

Dengan menggunakan alat khusus berupa stick penangkap ular, tim berhasil mengamankan ular berbisa tersebut tanpa kendala. Proses evakuasi dinyatakan selesai pada pukul 11.35 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Ular king cobra yang telah dievakuasi kemudian dibawa ke tempat aman oleh petugas.

BPBD Aceh Besar mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan hewan liar berbahaya di lingkungan tempat tinggal, serta tidak mencoba menangkap sendiri tanpa bantuan petugas berwenang. []

Reporter: Sammy

Pohon Tumbang Timpa Kabel Listrik di Aceh Besar, Lalu Lintas Sempat Terganggu

0
Pohon tumbang akibat angin kencang di Jalan Laksamana Malahayati, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu pagi (19/7/2025). (Foto: Dok BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | JANTHO – Sebuah pohon tumbang akibat angin kencang di Jalan Laksamana Malahayati, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu pagi (19/7/2025), sekitar pukul 10.10 WIB. Pohon tersebut menimpa kabel listrik dan sempat mengganggu arus lalu lintas menuju Pelabuhan Krueng Raya.

Peristiwa terjadi saat kondisi lalu lintas sedang sepi, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Aceh Besar, Iqbal, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan dari Camat setempat tidak lama setelah kejadian.

“Tim reaksi cepat BPBD bersama sejumlah unsur langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” ujar Iqbal dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (19/7/2025).

Dia menambahkan, petugas langsung melakukan penanganan di lokasi. Proses pembersihan juga dibantu oleh personel TNI, Polri, pihak PLN, dan masyarakat sekitar

Proses penanganan dan pembersihan selesai sekitar pukul 11.25 WIB. Setelah itu, arus lalu lintas kembali normal dan aliran listrik secara bertahap dipulihkan oleh petugas PLN.

BPBD Aceh Besar mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah. []

Reporter: Sammy

Jauhari Ilyas: Media Sosial Harus Jadi Sarana Menebar Hal Positif

0
JAUHARI ILYAS
Wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wartawan senior Aceh, Jauhari Ilyas, menyoroti peran media dalam konteks kenegaraan yang kian kompleks seiring perkembangan teknologi informasi. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk Ngopi Aceh Damai yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh pada Sabtu, 19 Juli 2025, di Moorden, Beurawe, Banda Aceh.

Amatan Nukilan.id dalam forum yang dihadiri sejumlah pegiat media, akademisi, serta tokoh masyarakat itu, Jauhari menjelaskan bahwa saat ini setidaknya ada dua jenis media yang mendominasi ruang publik.

“Saat ini ada dua jenis media yang sering kita kenal. Pertama, media konvensional, yang dilindungi oleh undang-undang. Kedua, media sosial, yang hingga kini saya belum menemukan payung hukum yang secara khusus mengaturnya,” katanya.

Ia menekankan bahwa keberadaan media sosial yang begitu terbuka dan mudah diakses telah mengubah lanskap komunikasi publik secara signifikan. Kini, siapa pun bisa menjadi ‘penyiar informasi’, namun tanpa regulasi yang ketat, hal ini dapat menjadi pedang bermata dua.

“Semua orang sekarang menjadi pengguna media sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami mengapa dan bagaimana kita bermedia sosial,” lanjutnya.

Jauhari kemudian membandingkan situasi media masa kini dengan kondisi di masa Orde Baru. Menurutnya, pada era tersebut, pers sangat dibatasi oleh aturan negara. Untuk bisa menerbitkan media, dibutuhkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang pemberiannya dikendalikan oleh rezim saat itu.

“Kalau melihat ke belakang, di masa Orde Baru, media konvensional itu sangat diatur oleh undang-undang. Dulu, kalau mau menerbitkan media, harus punya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), dan surat izin ini sangat terbatas,” kenang Jauhari.

Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, hanya segelintir pihak yang bisa memperoleh SIUPP karena proses penerbitannya sangat dikendalikan oleh pemerintah. Ini membuat ruang kebebasan pers menjadi sempit dan cenderung bersifat satu arah.

“Hanya sedikit yang bisa mendapatkannya karena prosesnya dikendalikan oleh rezim saat itu. Beda dengan sekarang, jauh lebih mudah dan terbuka. Negara memberi kelonggaran yang cukup besar,” sambungnya.

Namun, kemudahan dan keterbukaan yang diberikan negara pada masa kini justru menghadirkan tantangan baru, terutama dalam ranah media sosial yang tidak lagi dikendalikan oleh regulasi seketat media konvensional.

Jauhari menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya kebebasan mengakses informasi, tetapi juga tanggung jawab dalam menggunakannya.

“Nah, dalam konteks media sosial saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap individu harus menyadari bahwa konten yang dibagikan memiliki dampak, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas. Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam menyebarkan informasi sangat diperlukan.

“Kita harus memahami betul konten yang kita tayangkan, jangan asal membagikan informasi tanpa tahu duduk persoalannya,” tegas Jauhari.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan ancaman tersembunyi dalam penyalahgunaan media sosial, terutama yang berkaitan dengan isu SARA serta penyebaran hoaks yang bersumber dari informasi yang tidak terverifikasi.

“Kemudian, jangan sampai kita terjerat hal-hal yang berkaitan dengan SARA, atau menyebarkan hoaks karena tidak menguasai data dan fakta,” ujarnya.

Karena itu, Jauhari menegaskan pentingnya verifikasi sebelum membagikan informasi ke ruang publik. Ketepatan dan akurasi menjadi kunci agar media sosial tidak berubah menjadi sumber kekacauan informasi.

“Jadi, sebelum membagikan sesuatu, pastikan dulu informasi itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Di akhir pemaparannya, Jauhari mengajak masyarakat untuk memandang media sosial bukan sebagai alat provokasi, melainkan sebagai medium untuk menyebarkan inspirasi dan nilai-nilai positif.

“Maka media sosial ini seharusnya menjadi sarana untuk mempublikasikan hal-hal positif, bukan sebaliknya,” pungkasnya.

Diskusi ini menjadi ruang reflektif bagi peserta untuk memahami kembali posisi media—baik konvensional maupun digital—dalam menjaga harmoni sosial serta mendorong peran aktif warga dalam mewujudkan kedamaian di Aceh. (XRQ)

Reporter: AKil

Kebakaran Hanguskan Lima Rumah di Aceh Besar, Korban Mengungsi ke Tenda Darurat

0
Kebakaran melanda kawasan permukiman di Desa Baet Meusago, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu dini hari (19/7/2025). Foto: Dok BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | JANTHO – Kebakaran melanda kawasan permukiman di Desa Baet Meusago, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu dini hari (19/7/2025), sekitar pukul 04.30 WIB. Peristiwa tersebut menghanguskan lima unit rumah milik warga dan menyebabkan 11 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Kepala Pusdalops BPBD Aceh Besar, Iqbal, mengatakan seluruh rumah yang terbakar terdiri dari bangunan kayu dan satu unit rumah permanen.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun seluruh korban kini harus mengungsi ke tempat penampungan sementara yang disiapkan oleh aparatur desa setempat,” ujar Iqbal dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (19/7/2025).

Korban pertama adalah Jalinah (60 tahun), yang tinggal seorang diri di rumah panggung berkonstruksi kayu. Bangunan tempat tinggalnya ludes terbakar dan ia kini mengungsi ke tenda darurat yang disiapkan oleh aparatur desa.

Korban kedua, Basiron (43 tahun), bersama keluarganya yang terdiri dari empat jiwa juga kehilangan rumah panggung yang habis terbakar. Nasib serupa dialami Harun Ahmad (86 tahun), yang tinggal sendiri di rumah permanen. Meski bangunannya bukan berbahan kayu, rumah milik Harun tetap tak luput dari amukan api dan rata dengan tanah.

Korban berikutnya adalah Asma (90 tahun) yang tinggal bersama tiga anggota keluarga lainnya. Mereka menghuni rumah panggung kayu yang juga habis dilalap api. Sementara itu, Syarkawi (50 tahun) kehilangan rumah shelter yang dihuni dua kepala keluarga dengan total empat jiwa. Rumahnya pun habis terbakar dalam kejadian tersebut.

Seluruh korban saat ini mengungsi ke tenda darurat (teratak) yang sedang disiapkan oleh aparat desa. Petugas pemadam kebakaran dan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar dilaporkan telah turun ke lokasi untuk membantu proses pemadaman serta mendata kerugian.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Pemerintah setempat juga tengah mengupayakan bantuan logistik bagi warga terdampak. []

Reporter: Sammy