Beranda blog Halaman 436

Poltekkes Kemenkes Aceh dan Mitra Peringati Pekan Menyusui Sedunia 2025 di Banda Aceh

0
Poltekkes Kemenkes Aceh dan Mitra Peringati Pekan Menyusui Sedunia 2025 di Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Poltekkes Kemenkes Aceh bersama sejumlah mitra strategis menggelar peringatan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week/WBW) 2025 di kawasan Car Free Day Kota Banda Aceh, Minggu (3/8/2025). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif demi membentuk generasi sehat, kuat, dan cerdas.

Mengangkat tema global “Prioritaskan Menyusui, Membangun Dukungan Sistem Berkelanjutan” (Prioritise Breastfeeding, Create Sustainable Support System), acara ini diinisiasi oleh Poltekkes Kemenkes Aceh dengan menggandeng UNICEF Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), DPD Persagi Aceh, AIMI Aceh, dan Flower Aceh.

Sekitar 200 mahasiswa dan dosen Poltekkes Kemenkes Aceh turut ambil bagian. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti edukasi menyusui kepada masyarakat, pemeriksaan kesehatan gratis, penilaian status gizi keluarga, hingga lomba pantun bertema dukungan menyusui yang mendapat sambutan hangat dari para pengunjung Car Free Day.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP, M.Si, secara langsung membuka kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Banda Aceh untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mencegah stunting dan obesitas.

“Melalui sinergi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Kanwil Kemenag, organisasi profesi, dan lembaga swadaya masyarakat, kita akan memperluas jangkauan edukasi dan intervensi gizi yang tepat sasaran. Kami juga mendorong agar fasilitas publik, tempat kerja, dan institusi pendidikan menjadi ruang yang mendukung praktik menyusui dan pola hidup sehat sejak dini. Dalam waktu dekat, kami ingin mewujudkan ‘Banda Aceh Kota Ramah Anak dan Ibu Menyusui’ sebagai bentuk nyata dari komitmen ini, serta memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak melalui Posyandu digital,” ujar Wahyudi.

Sementara itu, Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh, Dr. Abdurrahman, S.Kp, M.Pd, menegaskan pentingnya menciptakan ekosistem yang mendukung ibu menyusui.

“Dukungan menyusui harus melibatkan semua pihak—tenaga kesehatan, pemerintah, komunitas, dan dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Poltekkes Kemenkes Aceh berkomitmen meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui pendidikan berkualitas dan program-program pro-menyusui.

“Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung dan memberdayakan ibu untuk menyusui, serta memberikan akses terhadap dukungan dan informasi yang dibutuhkan. Ayo kita dukung Pekan Menyusui Sedunia ini dengan mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya menyusui dan memberikan dukungan kepada ibu menyusui,” tambahnya.

Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Aceh, Dr. Aripin Ahmad, S.Si.T, M.Kes, Dietisien, yang juga hadir dalam kegiatan ini, kepada Nukilan.id menekankan pentingnya dukungan kolaboratif dalam praktik menyusui.

“Peringatan Pekan Menyusui Sedunia merupakan momentum bagi semua pihak untuk terus memberikan dukungan kepada ibu agar dapat menyusui anak secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. ASI adalah makanan terbaik bagi anak, sumber zat gizi lengkap, dan mengandung antibodi yang sangat dibutuhkan untuk melindungi dari penyakit. Mendukung ibu menyusui berarti kita telah berkontribusi dalam mencegah stunting dan mencetak generasi Aceh yang sehat, kuat, dan menjadi generasi emas di masa mendatang,” ucap Aripin.

Kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat dan menjadi contoh kolaborasi strategis antara institusi pendidikan, organisasi profesi, pemerintah, serta masyarakat sipil untuk menciptakan lingkungan yang ramah ibu menyusui.

Sebagai informasi, Pekan Menyusui Sedunia diperingati setiap 1–7 Agustus dan menjadi bagian dari kampanye global untuk melindungi, mempromosikan, serta mendukung praktik menyusui sebagai investasi penting bagi kesehatan ibu dan anak, serta pembangunan berkelanjutan. (XRQ)

Reporter: AKil

Fraksi Golkar Minta 1 Persen Dana Otsus Aceh untuk Riset dan Inovasi Daerah

0
Ketua Fraksi Golkar di parlemen DPRA, Muhammad Rizky alias Adek. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fraksi Partai Golkar DPR Aceh mendorong agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) digunakan secara lebih strategis dengan mengalokasikan minimal 1 persen untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) di Aceh.

Hal ini disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPR Aceh, Muhammad Rizky alias Adek, dalam pandangan akhir Fraksinya terhadap Rancangan Qanun Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA 2024 pada Sidang Paripurna DPRA, pada Rabu (31/7/2025) lalu.

Dalam keterangannya kepada Nukilan.id, Rizky mengungkapkan bahwa selama ini riset belum menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan. Banyak kebijakan pemerintah daerah dinilai instingtif dan minim basis data ilmiah. Padahal, kata dia, pembangunan yang berbasis riset dan kajian akademik jauh lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Riset bukan lagi pelengkap. Riset harus menjadi fondasi. Kami mendorong agar minimal satu persen Dana Otsus dialokasikan khusus untuk kegiatan litbang di Aceh,” tegas Rizky, Minggu (3/8/2025).

Ia menilai, hasil riset dari perguruan tinggi di Aceh selama ini kerap diabaikan. Masalahnya bukan pada minimnya penelitian, tetapi lemahnya kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga riset lokal.

“Keputusan anggaran dan program pembangunan tidak bisa hanya berdasarkan asumsi atau tren sesaat. Harus berbasis data, dan itu hanya mungkin kalau ada riset yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Fraksi Golkar menyoroti bahwa Dana Otsus selama ini lebih banyak digunakan untuk belanja fisik yang belum tentu memberi dampak sosial jangka panjang. Rizky meyakini, investasi pada riset justru akan membantu Aceh menetapkan prioritas pembangunan, mencegah pemborosan, dan mendorong inovasi di sektor strategis seperti pertanian, perikanan, energi, hingga pendidikan.

“Belanja besar tak menjamin hasil besar kalau perencanaan kita lemah. Riset adalah alat ukur, bukan pelengkap,” tambahnya.

Tak hanya mendukung pembangunan fisik, Fraksi Golkar juga melihat pentingnya riset dalam menunjang reformasi birokrasi dan peningkatan layanan publik. Rizky menyebutkan bahwa indeks layanan publik Aceh masih rendah dan digitalisasi birokrasi belum menunjukkan kemajuan berarti.

“Kalau kita ingin mempercepat reformasi birokrasi, sistem merit, dan pelayanan berbasis digital, riset kebijakan dan evaluasi layanan harus jadi kebiasaan baru,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar Pemerintah Aceh membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, LSM riset, dan lembaga independen guna melakukan audit sosial terhadap layanan publik dan efektivitas program-program pemerintah.

Menurut Fraksi Golkar, kekhususan Aceh termasuk dalam hal penerapan syariat Islam dan ekonomi berbasis wakaf perlu ditopang dengan pendekatan akademik dan riset sosial-budaya agar lebih berdampak.

“Keistimewaan Aceh akan kehilangan daya ungkit jika tak ditopang dengan riset mendalam dan analisis ilmiah,” ucap Rizky.

Ia menegaskan bahwa riset juga menjadi kunci untuk menjawab tantangan global, mulai dari perubahan iklim, krisis energi, hingga transformasi pertanian dan ketimpangan pembangunan antarwilayah.

“Riset akan memperkuat trust antara pemerintah dan rakyat. Ini bukan semata kritik, tapi ajakan membangun sistem pemerintahan yang belajar dan beradaptasi,” tandasnya.

Rizky menutup pernyataannya dengan harapan agar Pemerintah Aceh menjadikan riset sebagai instrumen wajib dalam siklus anggaran demi menghadirkan roadmap pembangunan yang berbasis data dan berkelanjutan.

“Dengan memasukkan riset sebagai bagian dari instrumen wajib dalam siklus anggaran, Fraksi Golkar berharap Aceh bisa memiliki roadmap pembangunan jangka panjang yang berbasis data, inklusif, dan berkelanjutan. Sebab, tanpa arah dan pemetaan yang valid, pembangunan hanya akan seperti berlayar tanpa kompas,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: AKil

Edarkan Kosmetika Berbahaya, Pemuda Sigli Divonis 3 Tahun 3 Bulan Penjara

0
Ilustrasi kosmetik ilegal. (Foto: Antara)

Nukilan | Sigli – Seorang pelaku penjualan kosmetik ilegal yang mengandung bahan berbahaya berhasil diamankan oleh aparat penegak hukum. Pemilik toko kosmetik di kawasan Sigli, Kabupaten Pidie, itu diketahui menjual berbagai produk kecantikan tanpa izin edar dan tidak memenuhi standar keamanan.

Tersangka, Muhammad Uzir (26), warga Sigli, akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun dan 3 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sigli. Vonis tersebut dibacakan dalam sidang yang berlangsung pada Kamis (24/7/2025).

Berdasarkan salinan putusan perkara Nomor 53/Pid.Sus/2025/PN Sigli yang dikutip Nukilan, majelis hakim menyatakan Muhammad Uzir terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 435 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023. Ia dinyatakan bersalah karena dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.

Dalam amar putusannya, hakim juga menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan dari total hukuman. Terdakwa pun dinyatakan tetap ditahan hingga putusan berkekuatan hukum tetap.

Barang bukti yang diamankan dalam kasus ini mencakup ratusan produk kosmetika ilegal berbagai merek. Beberapa di antaranya terbukti mengandung bahan berbahaya. Produk-produk tersebut antara lain Temulawak Day & Night Cream, Tabita Glow, Collagen Cream, RDL Hydroquinone, Glowing Beauty Skincare, dan Natural 99.

Selain itu, sejumlah perangkat elektronik berupa dua unit telepon seluler turut disita karena digunakan dalam aktivitas penjualan produk ilegal. Seluruh barang bukti tersebut dirampas untuk dimusnahkan.

Putusan ini menjadi peringatan keras terhadap praktik penjualan kosmetika tanpa izin edar yang masih marak, terutama produk-produk yang tidak melalui uji keamanan dan berpotensi merugikan kesehatan masyarakat. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membeli produk kecantikan, serta memastikan legalitas dan izin edar dari setiap produk yang dikonsumsi. []

Reporter: Sammy

Refleksi 80 Tahun RI, Ekonomi Dinilai Tertinggal dan Ketimpangan Semakin Buruk

0
Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof Didin Damanhuri. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof Didin Damanhuri, menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Dalam refleksi 80 tahun Indonesia merdeka, ia menyebut Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara tetangga, sementara ketimpangan ekonomi justru kian melebar.

Dalam keterangnnya kepada Nukilan.id, Prof Didin membandingkan capaian produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia dengan beberapa negara yang dahulu sepadan, seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.

“Banyak negara lain, yang sebelumnya sepadan dengan Indonesia, yang pada tahun 1970-an membangun secara sistematis seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand mulai meninggalkan Indonesia. Korea Selatan saat ini PDB per kapitanya sudah Rp30 ribu, Malaysia sudah Rp14 ribu, dan Thailand sudah Rp8 ribu. Sementara Indonesia masih Rp5 ribu,” kata Prof Didin, Minggu (3/8/2025).

Ia mengakui bahwa PDB per kapita bukanlah ukuran tunggal kesejahteraan, namun bisa menjadi indikator awal kemajuan sebuah negara.

“Indonesia pun mengalami ketertinggalan dalam hal kesejahteraan masyarakat bawah. Tiga negara itu dulu sama, tapi saat ini kondisinya di atas kita. Bisa diukur dari Gini Ratio atau index oligarki Jeffrey Winters. Saat dirilis tahun 2014, index oligarki Indonesia adalah nomor dua terburuk. Bisa saja saat ini Indonesia adalah yang terburuk,” ucapnya.

Lebih jauh, Prof Didin menyinggung soal konsentrasi kekayaan yang ekstrem di Indonesia. Ia mengutip pemaparan dalam buku Oligarchy (2011) karya Jeffrey Winters, yang menyatakan bahwa jarak kekayaan antara 40 orang terkaya Indonesia dengan GDP rata-rata penduduk Indonesia pada 2024 mencapai 1.056.000 kali lipat. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang ‘hanya’ 20.000 kali lipat.

“Jadi sudah lah tertinggal, ketimpangannya pun terburuk,” ujarnya.

Prof Didin juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca reformasi yang rata-rata berada di angka 5 persen per tahun. Menurutnya, angka tersebut tidak serta-merta berdampak positif bagi masyarakat secara umum.

“Kenyataannya, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi itu, hanya banyak dimanfaatkan oleh sekelompok kecil orang, yang kita sebut oligarki itu. Bahkan Credit Suisse pada tahun 2003 mengeluarkan data, kekayaan 4 orang paling kaya Indonesia setara dengan 100 juta orang Indonesia. Mungkin sekarang lebih parah lagi,” kata dia.

Ia menyebutkan bahwa dampak paling nyata dari ketimpangan ini adalah penurunan daya beli masyarakat kelas bawah. Nilai tukar petani, pekebun, peternak, dan nelayan bahkan tercatat berada di bawah angka 100.

“Gini Ratio kita yang 0,4, mencerminkan ketimpangan yang buruk. Dan tiga tahun belakangan ini, 10 juta kelas menengah kita menurun ke kelas nyaris miskin. Indikator World Bank juga menunjukkan hal itu. Ya memang tidak selamanya pernyataan World Bank itu benar. Tapi yang perlu kita cermati adalah pengeluaran 2 Dollar per hari itu, tidak seperti yang BPS nyatakan hanya sekitar 9 persen, ternyata menyentuh hampir 40 persen. Kalau kita menggunakan varietas daya beli, maka 3/4 penduduk Indonesia masuk ke bawah garis kemiskinan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi pasar tradisional yang semakin sepi bisa menjadi indikator penurunan daya beli masyarakat. Ia lalu membandingkan dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto, yang menurutnya lebih menjamin keterjangkauan sembilan bahan pokok.

“Jika kita bandingkan dengan zaman Soeharto, masyarakat bawah itu terjamin sembilan bahan pokoknya dengan harga yang terjangkau. Karena ada strategi swasembada pangan cerdas sejak 1984 hingga akhir masa jabatannya,” tuturnya.

Menurutnya, setelah reformasi, strategi tersebut hanya berjalan sebentar.

“Sementara paska reformasi, hanya satu atau dua tahun saja, kalau tidak salah pada masa Mentan Anton Apriantono. Dan setelah itu tidak pernah lagi. Terlepas dari tindakan represif hingga pseudo demokrasi, kenyataannya saat Soeharto perekonomian kita yang terbaik sepanjang sejarah. Akses pada perekonomian, industrialisasi berjalan, dan mengalami peningkatan yang bisa dilihat pada pertumbuhan ekonomi yang pernah menyentuh 7,5 hingga 8 persen,” kata Prof Didin. (XRQ)

Reporter: Akil

Aktivitas Gunung Burni Telong Meningkat, Status Naik Jadi Waspada

0
Gunung Burni Telong. (Foto: Instagram)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Status aktivitas vulkanik Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, resmi dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Peningkatan status ini diumumkan Badan Geologi setelah mencatat lonjakan aktivitas kegempaan sepanjang sebulan terakhir.

Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan peningkatan aktivitas terpantau cukup signifikan, terutama pada periode 22–24 Juli 2025.

“Hal ini menunjukkan aktivitas magma atau sistem hidrotermal mengalami peningkatan, meskipun tidak terus menerus,” ujar Wafid dalam keterangannya, Sabtu (2/8/2025).

Gunung Burni Telong memiliki ketinggian 2.624 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan salah satu gunung api aktif bertipe stratovolcano di Aceh. Dalam periode 1 Juli hingga 2 Agustus 2025, tercatat 11 kali gempa vulkanik dangkal, 121 kali gempa vulkanik dalam, 24 kali gempa tektonik lokal, dan 60 kali gempa tektonik jauh.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas gunung secara intensif. Wafid mengimbau masyarakat maupun pengunjung agar tidak memasuki kawasan kawah dalam radius 1,5 kilometer.

“Tidak berada di daerah fumarol dan solfatara saat cuaca mendung atau hujan karena konsentrasi gas dapat membahayakan kehidupan,” ujarnya.

Sementara itu, perhatian juga tertuju pada Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang masih menunjukkan potensi erupsi susulan dengan jeda waktu pendek. PVMBG menyebut pola erupsi gunung ini mengalami perubahan signifikan.

Jika sebelumnya jeda antara tanda-tanda kegempaan dan erupsi sekitar empat jam, kini menyusut menjadi dua jam.

“Kondisi ini menunjukkan peningkatan suplai magma menuju permukaan secara cepat,” kata Kepala PVMBG Hadi Wijaya, dikutip dari Antara, Sabtu (2/8/2025).

Hadi meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan aktivitas gunung secara ketat. Sejak awal 2024, Gunung Lewotobi Laki-laki telah enam kali berada dalam status Awas.

Gunung dengan ketinggian 1.584 mdpl ini dikenal memiliki karakter erupsi eksplosif dan potensi menghasilkan aliran lava serta awan panas guguran. Erupsi yang terjadi pada Jumat malam lalu bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar sepanjang tahun ini, dengan kolom abu mencapai 18 kilometer. Beberapa jam setelahnya, terjadi erupsi susulan dengan kolom abu setinggi 10 kilometer, berdampak hingga wilayah selatan NTT.

Mahasiswa USK dan UIM Kembangkan Sistem Tumpangsari Cabai–Nilam di Lahan Marginal Aceh Besar

0

NUKILAN.ID | JANTHO — Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Universitas Iskandar Muda (UIM) melaksanakan program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Program ini berfokus pada optimalisasi lahan pertanian marginal melalui sistem intercropping atau tumpangsari antara tanaman cabai dan nilam.

Kegiatan yang melibatkan 22 mahasiswa USK dan 3 mahasiswa Universitas Iskandar Muda ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal secara berkelanjutan. Program didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pelaksanaan program diawali dengan serah terima mahasiswa PMM secara resmi kepada masyarakat yang berlangsung di Meunasah Desa Lambadeuk, Sabtu (tanggal tidak disebutkan), pukul 09.00 hingga 11.30 WIB. Acara tersebut dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan, perangkat desa, dua kelompok mitra masyarakat, serta seluruh mahasiswa peserta.

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pelatihan sosialisasi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si. Ia memaparkan tentang faktor-faktor penyebab lahan menjadi marginal serta pendekatan pencegahan berbasis agroekologi. Sosialisasi ini menjadi landasan penting bagi masyarakat dan mahasiswa dalam merancang solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Selanjutnya, seluruh peserta melakukan peninjauan ke lokasi lahan marginal yang akan menjadi pusat pelaksanaan program. Di lokasi ini, para mahasiswa dan masyarakat akan menerapkan sistem tanam tumpangsari cabai dan nilam yang tidak hanya diharapkan meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperbaiki kondisi tanah secara bertahap.

Program ini diketuai oleh Mujiburrahmad, SP, M.Si dari Universitas Syiah Kuala, dengan anggota pelaksana Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si dari USK dan Ir. Elviani, MP dari Universitas Iskandar Muda.

Melalui kolaborasi ini, para pelaksana berharap lahirnya inovasi lokal yang mampu menjadi model pengelolaan lahan marginal berbasis masyarakat. Di sisi lain, program ini juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial masyarakat, sekaligus memperkuat kapasitas pemuda dan petani dalam membangun ekonomi lokal yang tangguh dan berkelanjutan.

Bunda PAUD Kota Banda Aceh Tekankan Pentingnya Kesehatan Anak Sejak Dini di TK & SD Methodist

0
Para siswa TK dan SD Methodist Banda Aceh antusias menyambut kedatangan Wali Kota sekaligus Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam rangkaian kegiatan edukatif dan pemeriksaan kesehatan anak usia dini, Sabtu (2/8/2025). (Foto: ANTARA/HO)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Kota sekaligus Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengunjungi TK dan SD Methodist Banda Aceh dalam rangka kegiatan edukatif dan pemeriksaan kesehatan anak usia dini, Sabtu (2/8/2025).

Kunjungan itu disambut antusias oleh para siswa. Mereka menampilkan sejumlah pertunjukan seperti tari barongsai, ranup lampuan, dan atraksi karate yang memukau para tamu.

Illiza hadir bersama Bunda Literasi Kota Banda Aceh, Dessy Maulidha Azwar, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda PAUD menyapa dan berinteraksi langsung dengan anak-anak. Ia juga turut melakukan pemeriksaan screening mata secara simbolis, didampingi dokter mata anak sekaligus Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh, Dr. dr. Siti Hajar, M.Kes., M.Ked(Oph)., SpM.

Pemeriksaan mata ini merupakan bagian dari program “Dokter Mata Saweu Sikula” yang digagas oleh PERDAMI Aceh dalam rangka memperingati hari jadi organisasi tersebut.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga mencakup sosialisasi pengukuran LILA (Lingkar Lengan Atas) serta pengukuran tinggi dan berat badan anak. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari monitoring tumbuh kembang dan status gizi anak secara menyeluruh.

Kegiatan ini menunjukkan bentuk nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia kesehatan, serta komitmen Pemerintah Kota Banda Aceh dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan ramah bagi anak.

Polisi Terbitkan DPO Pembunuhan Warga Ujong Baroh Aceh Barat

0
Polisi Terbitkan DPO Pembunuhan Warga Ujong Baroh Aceh Barat. (Foto: Polres Aceh Barat)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Aceh Barat resmi menerbitkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap terduga pelaku pembunuhan Khairuddin (65), warga Lorong Kuini, Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, yang ditemukan tewas di dalam rumahnya.

Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan—telungkup, bersimbah darah, dan mengalami luka di bagian telinga serta bibir yang diduga akibat pukulan benda tumpul. Saat ditemukan, Khairuddin masih mengenakan pakaian rapi dan berada di area dapur rumahnya.

Dalam DPO tersebut, polisi menetapkan M (35), warga Desa Nambojaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, sebagai terduga pelaku pembunuhan. Polisi juga merilis ciri-ciri fisik M, yakni tinggi badan 160 sentimeter, kulit agak kehitaman, rambut pendek dan ikal, serta wajah bulat dengan hidung bulat.

Kepala Satreskrim Polres Aceh Barat, AKP Roby Afrizal, membenarkan penerbitan DPO tersebut.

“Iya benar. Saat ini kita masih melakukan pengejaran terhadap tersangka terduga pembunuhan,” kata AKP Roby Afrizal, Kamis (31/7/2025).

Roby menjelaskan, pengejaran terhadap pelaku dipimpin langsung olehnya dan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah kepolisian daerah yang diduga menjadi lokasi persembunyian pelaku.

Dalam perkembangan penyelidikan, polisi juga berhasil menemukan mobil milik korban yang sebelumnya sempat dibawa kabur oleh tersangka.

“Untuk mobil korban yang dibawa kabur pelaku Alhamdulillah sudah kita temukan, dan telah kita amankan. Mobilnya kita temukan di wilayah Medan [Sumatera Utara],” ujar Roby.

Ia pun mengimbau dan memohon dukungan doa dari masyarakat agar tersangka dapat segera ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku.

Sebelumnya, warga Ujong Baroh dikejutkan dengan penemuan jenazah Khairuddin di dalam rumahnya. Mayat korban pertama kali ditemukan oleh pekerja bangunan yang tengah merenovasi rumah tersebut. Polisi sempat mengamankan tiga orang pekerja untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Atas perbuatannya, terduga pelaku M dijerat dengan Pasal 339 jo 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup.

Editor: Akil

Dinas ESDM Aceh Tegaskan Tak Ada Kewenangan Bupati Tutup Tambang

0
Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara (Minerba) Dinas ESDM Aceh, Khairil Basyar. (Foto: Nukilan/Azril)

NUKILAN.ID | Banda Aceh. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Aceh menegaskan bahwa kewenangan mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) berada sepenuhnya di tangan Pemerintah Aceh, bukan pemerintah kabupaten.

“Kewenangan memberikan, menghentikan, maupun mencabut IUP di Aceh mutlak berada di tangan Pemerintah Provinsi, dalam hal ini Gubernur Aceh bukan pemerintah kabupaten,” kata Kabid Mineral dan Batubara Dinas ESDM Aceh, Khairil Basyar kepada wartawan, Minggu (3/8/2025).

Penegasan ini disampaikan menyusul keputusan Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan, yang melalui surat Nomor 540/790 tertanggal 21 Juli 2025 menghentikan sementara seluruh aktivitas pertambangan dan pengangkutan bijih besi milik Koperasi Serba Usaha (KSU) Tiega Manggis dan PT Pinang Sejati Utama (PSU) di kawasan Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah.

Menurut Khairil, keputusan tersebut tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), kewenangan pengelolaan sektor minerba berada di Pemerintah Aceh. Hal ini semakin dipertegas melalui UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009, serta UU Nomor 23 Tahun 2014.

“Sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), kewenangan pengelolaan sektor minerba sudah menjadi ranah Pemerintah Aceh. Ini diperkuat lagi dengan UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009, serta UU Nomor 23 Tahun 2014,” jelasnya.

Ia menambahkan, Qanun Aceh Nomor 15 Tahun 2017 tentang perubahan atas Qanun Nomor 15 Tahun 2013 juga mengatur secara tegas bahwa bupati hanya berwenang memberikan rekomendasi kepada gubernur, bukan menghentikan atau mencabut IUP.

“Semua ada mekanismenya. Tidak bisa langsung dicabut. Ini untuk menjaga asas kepastian hukum,” tegas Khairil, seraya menjelaskan bahwa pencabutan izin harus melalui prosedur sanksi administratif, mulai dari surat peringatan (SP) pertama hingga ketiga, sebelum gubernur bisa mencabut IUP secara sah.

Khairil turut mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak sesuai prosedur berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan berdampak negatif pada iklim investasi.

“Keputusan Bupati yang keluar dari koridor hukum bisa menimbulkan ketidakpastian dan memperburuk citra investasi di Kabupaten Aceh Selatan. Investor butuh perlindungan dan kepastian hukum. Kalau ini tidak dijaga, bisa jadi preseden buruk bagi masa depan pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.

Beras Jadi Penyumbang Utama Inflasi Aceh Sebesar 0,68 Persen pada Juli 2025

0
Ilustrasi Beras. (Foto: pertanian.go.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,68 persen pada Juli 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan harga beras menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.

“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan tertinggi adalah makanan, minuman, dan tembakau, memberikan andil inflasi sebesar 0,56 persen,” kata Plt Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, di Banda Aceh, Jumat (1/8/2025).

Tasdik menjelaskan, sejumlah komoditas turut memengaruhi inflasi bulanan di Aceh, di antaranya beras dengan andil 0,31 persen, bawang merah 0,11 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan bandeng 0,05 persen, dan bensin 0,03 persen.

Sementara itu, kelompok lain seperti pakaian dan alas kaki mencatat andil 0,08 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen, serta transportasi 0,03 persen.

“Selain itu, terdapat kontribusi dari kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 0,01 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,01 persen, dan pendidikan 0,03 persen,” ujar Tasdik.

Namun demikian, beberapa komoditas justru memberi andil terhadap deflasi bulanan, seperti udang basah, cabai merah, tomat, serta biaya sekolah menengah pertama dan atas.

Secara tahunan, inflasi di Aceh tercatat sebesar 3,00 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan Juli tahun sebelumnya.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil 2,14 persen. Beberapa komoditas yang mendorong kenaikan ini antara lain beras (0,56 persen), emas perhiasan (0,46 persen), sigaret kretek mesin (0,28 persen), ikan dencis (0,21 persen), dan ikan tongkol (0,18 persen).

“Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan pengaruh deflasi, di antaranya cabai merah, tarif air minum PAM, cabai rawit, kentang, dan cabai hijau,” jelas Tasdik.

Lima wilayah di Aceh yang menjadi titik penghitungan inflasi adalah Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Meulaboh sebesar 3,82 persen, sedangkan yang terendah berada di Banda Aceh dengan 1,97 persen.

Untuk inflasi bulanan, Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi sebesar 1,00 persen, sementara Meulaboh menjadi yang terendah dengan 0,39 persen.

“Berdasarkan data tersebut, pada Juli 2025, terjadi inflasi bulanan sebesar 0,68 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,00 persen di Aceh. Penyumbang utamanya, baik bulanan maupun tahunan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” tutup Tasdik Ilhamudin.

Editor: Akil