Beranda blog Halaman 424

Selundupkan Sabu 1,5 Kg, Tiga Penumpang Bus ALS Asal Aceh Ditangkap di Bukittinggi

0
Ilustrasi Sabu. (Foto: Polda Aceh)

NUKILAN.id | Padang — Upaya penyelundupan narkotika kembali digagalkan. Kali ini, tiga penumpang Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) asal Aceh ditangkap aparat setelah kedapatan membawa sabu-sabu seberat 1,5 kilogram. Barang haram itu disembunyikan secara rapi di dalam sepatu dan celana dalam pelaku.

Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatra Barat di Pool ALS Bukittinggi. Penggerebekan berlangsung setelah dilakukan pengintaian dan pemeriksaan selama setengah jam.

Modus Lama yang Masih Dipakai

Ketiga pelaku yang ditangkap berinisial AL (41), seorang perempuan; N (24), perempuan; dan S (38), laki-laki. Ketiganya diketahui berasal dari Aceh.

Dalam pemeriksaan tubuh, petugas menemukan tiga paket besar narkotika jenis sabu yang disembunyikan di berbagai tempat, terutama di sepatu dan pakaian dalam. Total berat barang bukti mencapai kurang lebih 1,5 kilogram.

Kepala BNNP Sumatra Barat, Brigjen Ricky Yanuarfi, menyampaikan bahwa pelaku akan dijerat dengan pasal-pasal berat dalam Undang-Undang Narkotika.

“Ketiga pelaku dijerat pasal 114 ayat 2 junto pasal 112 ayat 2 junto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati,” kata Brigjen Ricky, Selasa, 13 Mei 2025.

Pintu Masuk Aceh Masih Rawan

Kasus ini kembali mengungkap potensi wilayah Aceh sebagai pintu masuk peredaran sabu-sabu di Indonesia. Modus penyelundupan melalui jalur darat menggunakan bus antarkota tampaknya masih jadi pilihan favorit bagi jaringan pengedar. Karena itu, aparat diminta meningkatkan pengawasan, terutama pada kendaraan umum yang melintasi lintas Sumatra.

Pihak BNNP masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap jaringan yang lebih besar di balik ketiga pelaku. Hingga saat ini, ketiganya telah diamankan untuk proses hukum lebih lanjut di kantor BNNP Sumbar.

Editor: Akil

Aceh Film Festival Gelar Pelatihan Programmer Gampong Film

0
Aceh Film Festival
Aceh Film Festival (AFF) resmi memulai rangkaian kegiatan tahunannya dengan menggelar pelatihan programmer Gampong Film. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Sigli – Aceh Film Festival (AFF) resmi memulai rangkaian kegiatan tahunannya dengan menggelar pelatihan programmer Gampong Film. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Minggu hingga Senin, 11–12 Mei 2025, bertempat di ruang Dinas Perpustakaan dan Arsip Pidie.

Direktur AFF 2025, Jamaluddin Phonna, mengatakan bahwa Pidie menjadi lokasi pertama dari rangkaian pelatihan ini.

“Ini adalah rangkaian pertama dari AFF 2025 dan kota pertama yang kami singgahi untuk kegiatan pelatihan programmer Gampong Film,” ujarnya.

Latihan Khusus untuk Layar Tancap

Gampong Film sendiri merupakan program utama AFF 2025, dengan konsep pemutaran film secara layar tancap di pelosok kampung di Aceh. Program ini telah berjalan selama lebih dari 13 tahun.

Melalui pelatihan ini, AFF berupaya mencetak para programmer film dari kalangan pemuda kampung. Tujuannya agar mereka mampu menyelenggarakan pemutaran film secara mandiri di desa masing-masing.

“Gampong Film usianya sudah 13 tahun lebih. Pelatihan programmer Gampong Film adalah upaya kami mengajarkan pemuda kampung bagaimana cara memutarkan film, khususnya layar tancap. Jadi, nanti mereka bisa mengadakan pemutaran film di kampung mereka secara mandiri,” lanjut Jamal.

Materi Pelatihan Lengkap dan Kontekstual

Programmer film memiliki peran penting dalam sebuah acara pemutaran film. Ia bertanggung jawab memilih film yang tepat serta menyusun konsep acara.

Pelatihan ini pun dirancang dengan materi yang relevan. Di antaranya adalah pemilihan film sesuai konteks lokal, pemahaman tentang programmer film, lisensi dan hak cipta, akses terhadap film legal, keberlanjutan pendanaan, hingga aspek teknis pemutaran film.

“Materi yang kami ajarkan berupa cara memilih film yang sesuai konteks lokal masing-masing, apa itu programmer film, linsensi dan hak cipta film, sumber dan akses film legal, keberlanjutan pendanaan kegiatan, dan teknis pemutaran film,” kata Jamal.

Salah satu peserta pelatihan, Amarullah Yacob dari komunitas Beulagong Tanoh, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. Ia menyebut pelatihan ini bukan sekadar teknis, melainkan juga menyentuh nilai edukatif dan sosial dari pemutaran film.

“Pelatihan ini sangat memberitahu kami bagaimana cara memutar film yang mampu memberi nilai edukatif dan memberi pemahaman baru untuk masyarakat terhadap sebuah isu yang sedang berkembang,” ungkapnya.

Berlanjut ke Empat Daerah Lain

Setelah sukses digelar di Pidie, pelatihan programmer Gampong Film akan dilanjutkan ke empat daerah lainnya: Bireuen, Lhokseumawe, Takengon, dan ditutup di Aceh Besar.

“Setelah melakukan pelatihan ini, para peserta akan terlibat langsung dalam program Gampong Film, pemutaran layar tancap yang kita lakukan di kampung mereka. Tunggu tanggalnya!” tutup Jamal.

Editor: Akil

Soal Adat Lamaran yang Kian Menyimpang, Dr. Masrizal: Kearifan Lokal Harus Diperkuat Kembali

0
Ilustrasi Lamaran. (Foto: Weddingmarket.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, mengingatkan pentingnya kearifan lokal dalam menjaga dan memperkuat struktur sosial masyarakat. Hal ini disampaikan menyusul sorotan Bupati Aceh Besar, Muharram Idris atau yang akrab disapa Syech Muharram, terkait maraknya praktik adat lamaran atau pertunangan yang menampilkan pasangan calon pengantin duduk bersanding di pelaminan sebelum sah secara agama.

Menurut Dr. Masrizal, praktik tersebut tidak hanya menyalahi nilai-nilai adat dan agama, tetapi juga menunjukkan terjadinya pergeseran makna dalam prosesi pernikahan yang sakral.

“Dalam konteks Aceh, pernikahan bukan hanya urusan individu antara laki-laki dan perempuan. Lebih dari itu, pernikahan memperkuat struktur sosial, norma, dan tradisi masyarakat,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Nukilan.id pada Selasa (13/5/2025).

Ia menekankan bahwa pernikahan dalam adat Aceh memiliki dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar penyatuan dua insan. Pernikahan merupakan ruang pewarisan nilai dan penanaman pemahaman terhadap budaya lokal.

“Kearifan lokal yang melekat pada proses pernikahan sangat memengaruhi seluruh rangkaian prosesi, termasuk bagaimana calon pengantin diberikan pengetahuan dan pemahaman akan nilai-nilai adat dan agama,” lanjutnya.

Untuk menjaga nilai-nilai tersebut, Sekjen ISI Aceh tersebut menilai perlu adanya kolaborasi antara lembaga-lembaga yang memiliki peran strategis di masyarakat, khususnya pada tingkat kecamatan.

“Kehadiran Kantor Urusan Agama (KUA) di setiap kecamatan sangat penting dalam memberikan edukasi ini. Ditambah lagi peran Majelis Adat Aceh (MAA) dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) di tingkat kecamatan juga sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Ia percaya bahwa sinergi antarlembaga ini bukan hanya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai adat dan agama, tetapi juga menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi perubahan sosial yang bisa menggerus identitas lokal.

“Kolaborasi mereka menjadi kekuatan untuk menjaga struktur sosial dan budaya masyarakat Aceh,” tutup Kabid Agama dan Sosial Budaya FKPT Aceh tersebut. (XRQ)

Reporter: Akil

Program BASAGA Pemkab Aceh Selatan Dinilai Belum Merata

0
Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan secara resmi meluncurkan program Bajak Sawah Gratis (Basaga) pada Selasa, 13 Mei 2025. (Foto: Facebook)

NUKILAN.ID | Tapaktuan — Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melalui Dinas Pertanian meluncurkan Program Bajak Sawah Gratis (BASAGA) dengan total anggaran Rp 1,1 miliar pada tahun 2025. Program ini ditujukan untuk membantu petani dalam menggarap lahan pertanian, dengan cakupan awal seluas 650 hektare.

Tak berhenti di situ, Dinas Pertanian juga melakukan penambahan anggaran melalui DPA pergeseran sebesar Rp 350 juta. Tambahan ini memungkinkan perluasan layanan hingga 225,53 hektare. Secara keseluruhan, program BASAGA akan mencakup total 875,53 hektare lahan di delapan kecamatan.

“Total rencana layanan BASAGA yang akan dilaksanakan seluas 875,53 hektare dan tersebar di delapan kecamatan,” ujar Kepala Dinas Pertanian Aceh Selatan, Nyaklah sebagaimana dilansir dari SerambiNews.com.

Kedelapan kecamatan tersebut adalah Labuhanhaji, Labuhanhaji Barat, Labuhanhaji Timur, Meukek, Samadua, Pasie Raja, Kluet Tengah, dan Trumon Tengah.

Timbul Pertanyaan dari Masyarakat

Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya diterima dengan antusias. Sebab, dari total 18 kecamatan yang ada di Aceh Selatan, hanya delapan kecamatan yang menjadi wilayah sasaran program BASAGA. Hal ini menimbulkan tanda tanya, terutama dari masyarakat di kecamatan-kecamatan yang juga dikenal sebagai sentra produksi padi.

Pantauan Nukilan.id di media sosial seperti Facebook menunjukkan bahwa banyak warga dari Kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, dan Kluet Timur mempertanyakan alasan wilayah mereka tidak masuk dalam program, meskipun setiap tahun tetap memproduksi padi dalam jumlah signifikan.

Tiga Kecamatan Produktif Justru Terlewat

Pertanyaan dari masyarakat ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan penelusuran Nukilan.id yang mengacu pada data produksi padi tahun 2021 dari laman resmi data.acehselatankab.go.id, Kecamatan Kluet Utara tercatat sebagai penghasil padi terbesar di Aceh Selatan dengan total produksi mencapai 12.506,4 ton.

Sementara itu, Kecamatan Kluet Selatan memproduksi 5.785,48 ton dan Kluet Timur 5.566,59 ton. Meski demikian, ketiga kecamatan ini justru tidak termasuk dalam wilayah yang mendapatkan layanan bajak sawah gratis.

Harapan Akan Penjelasan Pemerintah

Dengan adanya ketimpangan ini, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai dasar penetapan delapan kecamatan penerima program. Mengingat pentingnya sektor pertanian dalam mendukung ketahanan pangan daerah, keadilan dalam distribusi program seperti BASAGA menjadi sangat krusial.

Transparansi dalam perencanaan dan pelaksanaan program publik seperti ini dinilai penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh petani, tanpa kecuali. (xrq)

Reporter: Akil

Bulog Klaim Aceh Surplus Beras, Pakar Ingatkan Tantangan Distribusi dan Kesejahteraan Petani

0
AKADEMISI USK
Akademisi Fakultas Pertanian USK, Mujiburrahmad, SP.,M.Si. (Foto: Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Aceh mengklaim stok beras di Aceh mengalami surplus. Panen raya yang berlangsung di sejumlah daerah membuat ketersediaan beras dinilai mencukupi hingga 14 bulan ke depan.

Pemimpin Perum Bulog Kanwil Aceh, Ihsan, mengatakan serapan gabah dari petani telah mencapai target maksimal. Sejak akhir Januari 2025, proses penyerapan mengalami beberapa penyesuaian, seiring meningkatnya realisasi gabah yang diserap.

Pada Senin (5/5/2025) lalu, Ia mengatakan bahwa serapan gabah telah beberapa kali mengalami perubahan sejak dilakukan pada akhir Januari 2025. Hal ini dikarenakan realisasi serapan gabah dari petani telah mencapai 100 persen.

Namun, capaian tersebut mendapat catatan kritis dari kalangan akademisi. Mujiburrahmad, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), menilai bahwa surplus beras merupakan indikator positif dalam sektor produksi, tetapi bukan berarti persoalan ketahanan pangan Aceh telah selesai.

“Surplus beras di Aceh menunjukkan keberhasilan dalam sektor produksi, namun ketahanan pangan tidak hanya soal pasokan,” ujarnya kepada Nukilan.id, Selasa (13/5/2025).

Ia mengingatkan bahwa ketersediaan stok yang melimpah tidak otomatis menjamin masyarakat mendapatkan akses yang merata terhadap bahan pangan. Menurutnya, keberhasilan sektor pangan harus dinilai dari banyak aspek, termasuk keadilan distribusi, peran lembaga seperti Bulog, dan nasib petani sebagai pelaku utama produksi.

“Faktor distribusi yang adil, kestabilan harga, dan akses yang terjangkau tetap menjadi tantangan untuk memastikan keberhasilan ini berkelanjutan,” katanya.

Ia menyebut, meski serapan gabah tinggi, struktur sistem pangan Aceh belum sepenuhnya solid. Ketergantungan terhadap Bulog dan belum optimalnya kesejahteraan petani menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah.

“Meskipun serapan gabah tinggi, keberhasilan sistem ketahanan pangan Aceh perlu dilihat dari distribusi yang efektif, ketergantungan pada Bulog, dan kesejahteraan petani,” katanya lagi.

Karena itu, Mujiburrahmad merekomendasikan sejumlah langkah strategis yang perlu segera diambil oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan agar surplus beras ini tidak menjadi bom waktu dalam sistem distribusi pangan Aceh.

“Kebijakan ini perlu diikuti dengan kebijakan yang memperhatikan harga dan kesejahteraan petani,” tegasnya.

Pertama, ia menekankan pentingnya pengelolaan surplus dengan teknologi yang memadai agar hasil panen tidak terbuang sia-sia.

“Pertama, Manajemen Surplus. Gunakan teknologi penyimpanan dan pengeringan beras yang efisien,” jelasnya.

Selanjutnya, ia mendorong perluasan jaringan distribusi agar petani tidak hanya bergantung pada satu jalur pemasaran. Teknologi digital juga dinilai dapat memainkan peran penting dalam mempertemukan petani dan konsumen.

“Diversifikasi Distribusi juga diperlukan guna membangun jaringan distribusi yang lebih luas, termasuk aplikasi yang menghubungkan petani dengan pasar,” ujarnya.

Selain itu, ia menggarisbawahi perlunya penguatan hubungan antara petani dan Bulog agar kedua pihak mendapat keuntungan yang berkeadilan.

“Pemberdayaan Petani juga harus dilakukan. Perkuat kerja sama antara petani dan Bulog dengan harga yang adil,” sambungnya.

Terakhir, Mujiburrahmad menekankan pentingnya integrasi perencanaan pangan secara menyeluruh dengan melibatkan komoditas lain selain beras.

“Terakhir, Perencanaan Pangan Terpadu. Sertakan berbagai komoditas pangan lain dan stabilkan harga pangan,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

SUKAT Desak Kebijakan Kebudayaan Masuk RPJM Aceh 2025–2029

0
FGD Urun Saran Pemajuan Kebudayaan untuk RPJM Aceh 2025-2029 di Banda Aceh, Selasa (13/5/2025). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id | Banda Aceh Puluhan seniman dan pelaku budaya yang tergabung dalam Suara untuk Kebudayaan Aceh Terarah (SUKAT) mendesak agar isu dan program strategis kebudayaan mendapat perhatian serius dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2025–2029. Desakan ini disuarakan dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar SUKAT bersama fasilitator Duek Pakat Kebudayaan Aceh yang dilaksanakan beberapa waktu lalu oleh SUKAT dan tim penyusun RPJM Aceh di Banda Aceh, Selasa (13/5/2025).

Koordinator SUKAT, Iskandar Tungang, menegaskan pentingnya memasukkan usulan dari ekosistem kebudayaan ke dalam RPJM. Ia menyebut, SUKAT memanfaatkan keterlibatan anggotanya dalam tim RPJM Aceh sebagai jalur strategis untuk menyuarakan kepentingan kebudayaan.

“Usulan ini harus diperkuat dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. SUKAT berharap ada komunikasi lebih lanjut dengan Disbudpar untuk menyelaraskan program kerja dan memastikan kebijakan kebudayaan terakomodasi dalam RPJM,” kata Iskandar kepada Nukilan, Selasa (13/5/2025).

Menurutnya, RPJM mendatang perlu menyentuh aspek indikator tujuan dan program yang berpengaruh pada Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Aceh, yang saat ini masih berada di posisi 22 nasional dengan nilai 53,33—di bawah rata-rata nasional 57,13.

Dalam FGD tersebut, SUKAT juga menyampaikan sejumlah rekomendasi penting, antara lain evaluasi indikator IPK, penguatan sumber daya manusia di bidang kebudayaan, pengembangan lembaga dan ekosistem kebudayaan, serta dukungan terhadap ekonomi budaya dan pelestarian cagar budaya sebagai bagian dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

Selain itu, SUKAT mendorong pemerintah daerah membentuk Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri, lepas dari struktur Disbudpar, sebagaimana telah dilakukan di tingkat nasional lewat pembentukan Kementerian Kebudayaan RI.

“Kebijakan pembangunan kebudayaan membutuhkan perangkat tersendiri agar lebih fokus dan berdampak nyata,” ujarnya. []

Reporter: Sammy

Irwansyah: Lapangan Kerja Jadi PR Besar Kota Banda Aceh

0
irwansyah
Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah. (Foto: Dok. Humas DPRK)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah, mengungkapkan sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar yang masih harus diselesaikan dalam upaya membangun dan memajukan Kota Banda Aceh. Hal ini ia sampaikan dalam Podcast SagoeTv yang tayang baru-baru ini.

Ketika ditanya apa saja tantangan utama yang dihadapi pemerintah kota saat ini, Irwansyah menyoroti persoalan klasik yang kian kompleks dari tahun ke tahun: penyediaan lapangan kerja yang memadai, terutama bagi generasi muda.

“PR kita masih banyaklah. Misalnya yang paling sederhana saja bagaimana membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” ujar Irwansyah dikutip Nukilan.id pada Selasa (13/5/2025).

Ia menilai, tingginya angka lulusan perguruan tinggi tidak diimbangi dengan kapasitas dunia kerja yang mampu menampung mereka. Ketimpangan ini menurutnya menjadi tantangan serius yang perlu segera dicarikan solusi.

“Bagi anak muda, seperti lulusan kuliah makin banyak. Siapa yang tampung lulusan kuliah? Di satu sisi produksi alumni kita semakin tinggi. Tapi penampungan untuk alumni ini makin kecil,” lanjutnya.

Lebih jauh, Irwansyah mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah pusat membatasi peluang kerja di sektor pemerintahan, yang selama ini menjadi salah satu harapan besar para pencari kerja di Aceh.

“Karena terbaru saja regulasi pemerintah pusat kita itu ‘mengharamkan’ untuk kontrak baru dan honor baru. Jadi ketika pemerintah enggak bisa menyediakan ruang bagi lulusan-lulusan baru, lulusan lama juga masih butuh kerja. Ini kan PR besar,” tegasnya.

Menurut Irwansyah, pemerintah daerah perlu mencari jalan keluar dengan menciptakan lebih banyak peluang kerja yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini tak bisa lepas dari adaptasi terhadap perubahan teknologi dan tren ekonomi global.

“Nah, jadi ini tantangan kita, bagaimana membuat lapangan kerja sebesar-besarnya. Tentu penyesuaian dengan perkembangan zaman, itu yang mungkin harus menjadi perhatian pemerintah,” kata dia.

Dalam konteks ini, Irwansyah menyebut bahwa pemanfaatan teknologi dan penguatan sektor ekonomi kreatif menjadi kunci utama dalam menekan angka pengangguran, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih adaptif terhadap perubahan digital.

“Bagaimana mengakselerasi dunia kerja anak muda dengan kemajuan teknologi. Ekonomi kreatif harus lebih berkembang,” ucapnya.

Ia juga mengakui bahwa Kota Banda Aceh tidak memiliki basis industri besar yang bisa menyerap tenaga kerja dalam skala luas. Oleh karena itu, pemberdayaan UMKM dan sektor ekonomi kreatif berbasis digital menjadi solusi yang realistis dan berkelanjutan.

“Kita enggak punya industri besar di Banda Aceh. Iya kan? Enggak punya pabrik. Kebanyakan UMKM, ekonomi kreatif ini yang harus dikaryakan. Bagaimana digital, teknologi informasi ini harus dikuatkan,” pungkas Irwansyah.

Pernyataan Irwansyah ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk membangun ekosistem kerja yang inklusif dan adaptif. Transformasi ekonomi melalui inovasi dan kreativitas diyakini menjadi jawaban atas tantangan besar yang dihadapi kota ini di masa depan. (XRQ)

Reporter: Akil

BASAGA Resmi Diluncurkan, Tgk. Sumardy: Ini Bukti Nyata Komitmen Pemerintah untuk Petani

0
Plt. Direktur Pondok Pesantren Darul Aitami Aceh Selatan, Teungku Sumardy Tarmisal,. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Aceh Selatan — Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan resmi meluncurkan Program Bantuan Bajak Sawah Gratis (BASAGA) yang menjadi bagian dari 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Aceh Selatan. Peresmian program ini dilakukan langsung oleh Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS, SE, M.Sos, di hamparan sawah depan SMA Negeri 1 Labuhanhaji Timur, Gampong Tengah Peulumat, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Selasa (13/5/2025).

Acara tersebut berlangsung meriah. Ribuan warga tampak memadati lokasi peresmian, mulai dari unsur Forkopimda, Ketua TP PKK, Wakil Bupati H. Baital Mukadis, SE, para Kepala SKPK, hingga para camat dari seluruh kecamatan di Aceh Selatan.

Program yang Sudah Lama Dinanti

Program BASAGA menjadi angin segar bagi para petani. Sejak awal dicanangkan, masyarakat sudah menaruh harapan besar. Salah satu suara dukungan datang dari Pelaksana Tugas Direktur Pondok Pesantren Terpadu Darul Aitami, Tgk. Sumardy Tamrisal.

“Program bajak sawah gratis ini sangat bermanfaat dan sudah lama dinanti masyarakat. Ini bukti nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah. Terima kasih Bapak Bupati Mirwan atas realisasi program mulia ini,” ujar Tgk. Sumardy kepada Nukilan.id pada Selasa, (13/5/2025).

Menurutnya, kehadiran BASAGA tak hanya memberikan dampak pada sektor pertanian. Lebih dari itu, program ini membawa manfaat langsung bagi keluarga besar pesantren yang dipimpinnya.

Meringankan Beban Ekonomi Keluarga Santri

Sebagian besar wali santri di Pondok Pesantren Darul Aitami berasal dari kalangan petani dengan ekonomi menengah ke bawah. Kehadiran BASAGA disambut haru oleh Tgk. Sumardy.

“BASAGA adalah anugerah luar biasa bagi keluarga para santri kami. Ketika biaya bajak sawah ditanggung pemerintah, maka orang tua santri bisa sedikit bernapas lega dan lebih fokus mendukung pendidikan anak-anaknya di pesantren. Ini benar-benar berkah yang patut disyukuri,” ungkapnya.

Pernyataan ini menggambarkan betapa pentingnya kehadiran kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat bawah. Tidak hanya mempermudah aktivitas bertani, program ini juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperhatikan sektor pendidikan anak-anak mereka.

Ajak Masyarakat Menjadi Pelaku Perubahan

Lebih lanjut, Tgk. Sumardy menyampaikan dukungan penuhnya terhadap seluruh program kerja Bupati dan Wakil Bupati Aceh Selatan. Ia menegaskan pentingnya partisipasi publik untuk menyukseskan seluruh visi dan misi pemerintahan daerah.

“Mari kita bangkit bersama, bersatu dalam semangat perubahan, dan menjadi bagian dari kemajuan Aceh Selatan. Jangan hanya menjadi penonton, tapi jadilah pelaku sejarah pembangunan daerah kita sendiri. Dengan kerja keras, keikhlasan, dan kebersamaan, insya Allah masa depan Aceh Selatan akan lebih cerah dan penuh harapan.”

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong dan kepedulian sosial sebagai fondasi menuju Aceh Selatan yang lebih sejahtera dan penuh keberkahan.

Sebagai penutup, Tgk. Sumardy kembali menyampaikan pesan motivasi untuk masyarakat agar terus mengawal dan mendukung agenda pembangunan yang dirancang pemerintah.

“Mari kita kawal dan dukung setiap program yang lahir dari visi dan misi pemimpin kita. Karena program-program ini bukan sekadar agenda birokrasi, tapi wujud nyata harapan rakyat. Dengan niat yang tulus, kerja kolektif, dan semangat perubahan, kita pasti bisa wujudkan Aceh Selatan yang Maju, Produktif, dan Madani.” (XRQ)

Reporter: Akil

Tingkatkan Tata Kelola Dana Hibah, KONI Aceh Hadirkan Mantan Deputi KPK Sebagai Pemateri

0
Gedung KONI Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh akan menggelar Pelatihan Tata Kelola Administrasi dan Dana Hibah selama dua hari, yakni 14–15 Mei 2025 di Banda Aceh. Menariknya, salah satu narasumber utama yang dihadirkan adalah mantan Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ranu Miharja SH. Hum.

Mantan Kepala Pusat Diklat Manajemen dan Kepemimpinan pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI itu akan berbagi pengalaman dan wawasan terkait pengelolaan dana hibah secara transparan dan akuntabel.

Selain Ranu, pelatihan juga menghadirkan tiga narasumber kredibel lainnya. Mereka adalah Kepala Inspektorat Aceh Jamaluddin SE, MSi, Ak, Aspidsus Kejati Aceh Ali Akbar SH, MH, serta Raihan Mauliner dari Kantor Pajak Pratama Banda Aceh. Adapun dari internal KONI, tampil pula Sayid Azhari, Wakil Ketua Umum VI KONI Aceh yang juga pernah menjabat sebagai Kepala ULP Setda Aceh.

Peserta Dibagi Dalam Dua Klaster

Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Saleh SE, MM, menyampaikan bahwa pelatihan ini dibagi dalam dua klaster. Klaster pertama, yang berlangsung pada 14 Mei, ditujukan bagi Ketua Umum dan Bendahara Pengurus Provinsi Cabang Olahraga serta anggota KONI Aceh.

Sementara itu, klaster kedua yang digelar 15 Mei akan diikuti oleh Ketua dan Bendahara KONI dari kabupaten dan kota se-Aceh.

“Khusus untuk peserta KONI Aceh yang berasal dari seluruh Aceh, panitia menyediakan akomodasi dan konsumsi selama pelatihan yang dipusatkan di Gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN), Banda Aceh,” jelas Muhammad Saleh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum III (Bidang Litbang) KONI Aceh, Selasa, 13 Mei 2025.

Dorong Transparansi dan Hindari Jerat Hukum

Saleh mengakui, pelatihan ini menjadi penting karena banyaknya kasus hukum yang menjerat pengurus KONI di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, hal ini terjadi akibat lemahnya tata kelola dana hibah.

“Harus diakui ada faktanya miris menunjukkan bahwa, sejumlah KONI Provinsi dan Kabupaten serta Kota di Indonesia, sedang bermasalah dengan aparat penegak hukum. Ini terkait soal tata kelola dana hibah,” ungkap Shaleh.

Untuk itu, pihaknya mengambil inisiatif melaksanakan pelatihan dengan beberapa tujuan strategis. Pertama, mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik, terutama dana hibah dari pemerintah daerah atau sponsor. Kedua, meningkatkan kapasitas pengurus KONI dan cabang olahraga yang sebagian besar tidak berlatar belakang keuangan.

“Karena itu, pelatihan ini membantu mereka memahami prinsip dasar akuntansi, pencatatan, dan pelaporan keuangan,” ujar Shaleh.

Selanjutnya, pelatihan ini juga memastikan para pengurus patuh terhadap regulasi keuangan seperti Permendagri dan aturan hibah. Di samping itu, pelatihan juga bertujuan agar para peserta mampu melakukan perencanaan dan penganggaran yang efektif.

Terakhir, pengelolaan keuangan yang profesional diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan, baik dari pemerintah daerah, sponsor, maupun masyarakat luas.

KONI Aceh: Dana Hibah Harus Dikelola dengan Prinsip Hukum

Pelaksana Tugas Ketua Umum KONI Aceh, Tgk Anwar Ramli SPd, MM, menegaskan bahwa penyaluran dana hibah kepada KONI Provinsi maupun Kabupaten/Kota telah diatur dalam sejumlah peraturan perundang-undangan. Dalam praktiknya, pengelolaan tersebut harus memperhatikan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan kepatuhan terhadap hukum.

“Faktanya, muncul sejumlah praktik pelanggaran hukum. Itu bisa terjadi karena berbagai faktor, terutama jika tidak ada transparansi, akuntabilitas, atau kepatuhan terhadap peraturan,” ungkap Ketua Fraksi Partai Aceh (PA) di DPR Aceh itu.

Menurutnya, pelatihan ini menjadi sangat relevan, mengingat masih banyak pengurus KONI dan cabor yang berasal dari latar belakang non-keuangan.

“Itulah alasan mengapa pelatihan Tata Kelola Administrasi dan Dana Hibah penting untuk dilaksanakan. Sasarannya adalah, Pengurus Cabor dan KONI Kabupaten dan Kota dapat mengelola dana hibah secara benar dan tidak melanggar hukum,” sebut Tgk Anwar Ramli.

Editor: Akil

IAI Wilayah Aceh Bentuk Pengurus IAI Muda Pertama, Dorong Regenerasi Akuntan Mahasiswa

0
IAI Wilayah Aceh Bentuk Pengurus IAI Muda Pertama, Dorong Regenerasi Akuntan Mahasiswa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Aceh resmi membentuk kepanitiaan awal untuk mewujudkan kepengurusan IAI Muda pertama di Aceh. Pembentukan ini diputuskan pada rapat pengurus Dewan Pengurus Harian (DPH) IAI Wilayah Aceh, yang digelar pada Selasa, 13 Mei 2025.

Kepanitiaan ini diketuai oleh Alil Harjanudin, dengan Ahmad Rinaldi sebagai sekretaris. Sementara itu, Najma Gina, Wanda Fauziah, dan Satiya Aderima Fitria dipercaya sebagai bendahara dan anggota. Mereka berasal dari sejumlah kampus yang tersebar di Provinsi Aceh.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh jajaran pengurus IAI Wilayah Aceh, yakni Dr. Fazli Syam BZ, SE., M.Si., Ak., CA., Cert. DA (Ketua IAI Wilayah Aceh), Mahlizar Arbas, CPA., CPI., ASEAN CPA., CA., SE., Ak (Wakil Ketua I), Muslim Hasan Birga, SE., M.Si., Ak., CA., RSA., ASEAN CPA (Wakil Ketua II), dan Saiful Bahgia, SE., M.Si., Ak., CA (Koordinator Bidang Organisasi dan Keanggotaan).

Menumbuhkan Ekosistem Akuntansi di Kalangan Mahasiswa

Pembentukan IAI Muda ini diyakini menjadi langkah strategis untuk menciptakan ekosistem berkelanjutan bagi para akuntan muda. Tidak hanya sebagai regenerasi, inisiatif ini juga bertujuan memperkuat fondasi akuntansi sejak di bangku kuliah.

Melalui rapat ini pengurus berharap kepada panitia yang telah dibentuk tersebut dapat menjadi pemeran utama dalam terbentuknya kepengurusan IAI Muda Wilayah Aceh yang pertama di Aceh.

IAI Muda merupakan wadah bagi mahasiswa yang berlatar belakang akuntansi, perpajakan, dan perbankan. Berbeda dari organisasi mahasiswa pada umumnya, anggota IAI Muda akan memperoleh pengetahuan terkini di bidang akuntansi serta pengalaman langsung dari para akademisi dan praktisi.

Peluang Pengembangan Diri dan Karier

Keanggotaan dalam IAI Muda membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan, jaringan, dan wawasan profesional. Mereka juga akan dibekali pemahaman tentang pemanfaatan teknologi dalam profesi akuntansi yang kian berkembang pesat.

Menjadi bagian dari anggota muda IAI adalah keunggulan tersendiri yang tidak dapat dimiliki oleh mahasiswa lainnya, sebab anggota muda IAI akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga bukan hanya dalam kepanitiaan layaknya organisasi mahasiswa pada umumnya, akan tetapi mereka akan dibekali dengan informasi dan pengetahuan terbarukan dalam dunia akuntansi, pemanfaatan teknologi dalam azaz kebermanfaatan sebagai anggota muda IAI, dan tentunya mendapatkan relasi yang luas dan bisa lebih dekat dengan para akademisi dan praktisi yang sangat bermanfaat ketika mahasiswa sudah menyelesaikan studinya.

Apresiasi dari Kampus

Rapat ini turut dihadiri oleh perwakilan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang (STIES) Banda Aceh, yakni Kaprodi Akuntansi Ibu Farah Ivana dan Dosen Prodi Akuntansi Bapak Endra Gunawan. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pembentukan IAI Muda di Aceh.

Pengurus IAI Wilayah Aceh menyampaikan apresiasi atas partisipasi STIES. Dalam pandangan mereka, kolaborasi ini sangat penting dalam mendukung kemajuan dunia akuntansi di kalangan mahasiswa.

Perwakilan STIES juga menyatakan dukungan serupa. Menurut mereka, mahasiswa akuntansi perlu dipersiapkan secara serius agar mampu bersaing di tengah kompleksitas dunia kerja.

Mahasiswa akuntansi sudah sepatutnya mengetahui arah dan tujuannya sebagai seorang akuntan dan setiap mahasiswa sangat dianjurkan untuk memiliki sertifikasi ditengah kompleksitas persaingan dunia kerja saat ini.

Lebih jauh lagi, peningkatan kualitas mahasiswa akan berkontribusi terhadap reputasi kampus. Lulusan yang tersertifikasi dan siap kerja menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan.

Pembuka Jalan Menuju Profesionalisme

Disampaikan juga bahwa dengan bergabungnya mahasiswa STIES kedalam kepengurusan ini dapat menjadi pembuka jalan bagi mereka dalam meniti karir sebagai seorang akuntan dan mampu menarik minat mahasiswa lainnya untuk bergabung kedalam kepengurusan.

Langkah awal pembentukan IAI Muda ini menjadi tonggak penting bagi masa depan profesi akuntan di Aceh. Ke depan, kolaborasi antara kampus dan IAI diharapkan terus terjalin erat guna mencetak generasi akuntan muda yang unggul, kompetitif, dan tersertifikasi.