Beranda blog Halaman 423

Sosiolog Aceh Soroti Peran MAA dan Tuhapeut dalam Edukasi Calon Pengantin

0
Sosiolog Beberkan Alasan
Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, mengingatkan pentingnya memberikan edukasi bagi calon pengantin sebagai respons terhadap maraknya praktik pertunangan yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai syariat Islam.

Fenomena ini menjadi sorotan setelah Bupati Aceh Besar, Muharram Idris atau yang akrab disapa Syech Muharram, mengkritisi tren pasangan bertunangan yang duduk bersanding di pelaminan, meski belum sah menjadi suami istri.

Tradisi tersebut kini kian menjamur di berbagai wilayah Aceh, terutama di Aceh Besar, dan dinilai berpotensi menggeser makna adat istiadat yang selama ini mengakar kuat dalam masyarakat.

Dr. Masrizal menilai bahwa praktik semacam ini bukan sekadar penyimpangan bentuk, melainkan mengancam esensi dari tradisi Islam yang telah lama menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Aceh.

“Dampaknya jelas terhadap kelangsungan tradisi dalam masyarakat. Oleh karena itu, edukasi terhadap calon pengantin menjadi sangat penting. Jika tidak dilakukan, dikhawatirkan adat istiadat Aceh akan terus mengalami pergeseran nilai,” tegasnya.

Sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Sosiolog Indonesia (ISI) Aceh, Dr. Masrizal juga menyoroti peran strategis berbagai elemen adat dan pemerintahan lokal dalam merespons persoalan ini, termasuk di antaranya para Tuhapeut dan Keuchik di tingkat gampong (desa), serta Majelis Adat Aceh (MAA) di tingkat kecamatan.

“MAA juga harus lebih aktif dalam menyikapi berbagai persoalan yang muncul akhir-akhir ini. Di tingkat gampong, misalnya, keberadaan tuhapeut—terutama tuhapeut perempuan—memiliki peran yang sangat signifikan dalam membimbing dan mendampingi calon pengantin,” ujarnya.

Menurutnya, pendampingan terhadap calon pengantin tidak cukup hanya pada aspek administratif semata. Perlu ada peran aktif dalam membangun pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai adat dan budaya lokal, agar generasi muda tidak kehilangan arah dalam menjalani tahapan kehidupan menuju pernikahan.

“Mereka tidak hanya mengurus aspek administrasi, tetapi juga harus aktif memberikan pemahaman tentang adat dan budaya,” sambungnya.

Sebagai Kepala Bidang Agama dan Sosial Budaya di Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Dr. Masrizal juga menekankan bahwa struktur pemerintahan gampong sesungguhnya memiliki ruang yang cukup untuk mengatur persoalan adat istiadat secara khusus.

“Oleh karena itu, perlu ada aturan-aturan di tingkat gampong yang secara khusus mengatur hal-hal semacam ini, agar adat tetap hidup dan menjadi bagian yang utuh dalam kehidupan masyarakat Aceh,” pungkasnya.

Fenomena pertunangan bergaya pernikahan yang kian marak menjadi refleksi betapa pentingnya peran pendidikan budaya di tengah arus perubahan sosial. Menurut Dr. Masrizal, menjaga keberlangsungan nilai adat tidak hanya tanggung jawab para tokoh adat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan budaya Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemko Banda Aceh Pasang 27 Lampu Tenaga Surya di Kawasan Pantai Ulee Lheue

0
Proses pemasangan lampu lampu tenaga surya (solar panel) di sepanjang jalan menuju Pantai Ulee Lheue, pada Rabu 14 Mei 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh melakukan pemasangan lampu tenaga surya atau solar panel di sepanjang jalan menuju Pantai Ulee Lheue. Pemasangan 27 titik lampu tersebut ditargetkan selesai pada Jumat (16/5/2025).

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menjelaskan, pemasangan lampu ini merupakan upaya meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung pantai, terutama di malam hari.

“Kita tidak bisa melarang masyarakat menikmati keindahan Pantai Ulee Lheue, tapi kita bisa memberikan fasilitas agar mereka tetap aman. Salah satunya dengan memasang lampu penerangan, pos penjagaan dari Satpol PP dan WH, serta CCTV,” ujar Wali Kota kepada Nukilan usai meninjau salah satu titik lokasi pemasangan, pada Rabu (14/5/2025).

Menurutnya, selama ini kawasan tersebut dikenal rawan gelap pada malam hari sehingga berpotensi menimbulkan masalah keamanan dan kecelakaan. Dengan penerangan yang memadai, diharapkan masyarakat tidak lagi merasa tidak aman saat berkunjung.

Lebih lanjut, kata Illiza, lampu solar panel yang dipasang memiliki garansi pemeliharaan selama dua tahun. Penggunaan energi terbarukan ini juga menjadi bagian dari strategi penghematan energi dan pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil.

“Tenaga surya kita cukup baik di Banda Aceh, khususnya di kawasan Ulee Lheue. Bahkan angin juga bagus, tapi untuk saat ini kita mulai dari solar panel karena biayanya lebih efisien,” terangnya.

Selain fokus pada penerangan, Pemko juga berencana membangun fasilitas musala di sekitar kawasan pantai. Langkah ini bertujuan untuk memudahkan pengunjung dan pedagang dalam melaksanakan ibadah salat.

“Tidak ada lagi alasan untuk tidak salat karena masjid terlalu jauh. Kita siapkan musala agar masyarakat bisa tetap beribadah saat menikmati kawasan ini,” kata Wali Kota.

Terkait potensi aktivitas malam di kawasan pantai, Pemko akan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat untuk menetapkan batasan waktu yang wajar. Wali Kota Illiza juga mengingatkan masyarakat, terutama usia sekolah, terkait imbauan gubernur untuk tidak beraktivitas di luar rumah melewati pukul 22.00 WIB.

“Kita ingin masyarakat bisa menikmati kotanya, tapi tetap menjaga ketertiban, syariat Islam, lalu lintas, dan etika sosial. Kota ini rumah kita bersama, mari kita jaga bersama-sama,” tutupnya.

Ke depan, Pemko Banda Aceh berencana untuk memperluas penggunaan lampu tenaga surya ke wilayah-wilayah wisata lainnya serta permukiman warga sebagai bagian dari upaya penghematan energi yang lebih luas di kota ini.

Reporter: Rezi

Raker Forum BKK SMK Aceh Evaluasi Program dan Rumuskan Agenda Kerja 2025

0
Raker Forum BKK SMK Aceh Evaluasi Program dan Rumuskan Agenda Kerja 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Forum Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK se-Provinsi Aceh menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2025 di Aula Dinas Pendidikan Aceh. Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis, S.E., DE.A., dan dihadiri oleh pengurus Forum BKK SMK dari seluruh Aceh secara luring maupun daring.

Selain itu, hadir pula perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (DisnakerMobduk) Aceh serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh yang turut memberikan materi dan arahan dalam forum tersebut.

Dorong Evaluasi dan Penguatan Data Alumni SMK

Dalam sambutan pembuka, Marthunis menekankan pentingnya penguatan BKK SMK melalui proses evaluasi menyeluruh, terutama dalam aspek pendataan alumni.

“Data menjadi penting karena dari data yang baik kita dapat mengetahui alumni SMK yang sudah bekerja dan sebaliknya. Baik melalui aplikasi ataupun manual,”

ungkap Marthunis. Ia juga menekankan perlunya program BKK untuk beradaptasi dengan perubahan struktur pekerjaan akibat perkembangan teknologi, sehingga dapat menciptakan keterhubungan antara suplai dan permintaan tenaga kerja.

Tantangan Dunia Kerja dan Urgensi Peran BKK

Sementara itu, Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja DisnakerMobduk Aceh, Qifti Reza Kesuma, S.T., menyoroti tantangan yang dihadapi pasar kerja saat ini, khususnya terkait tingginya angka pengangguran di tengah meningkatnya jumlah angkatan kerja.

“Bagaimana dalam kondisi kesenjangan jumlah DUDI di Aceh, kita semua bersama-sama dapat menjalankan tugas memberikan lapangan kerja kepada masyarakat melalui berbagai program dan kerjasama,”

katanya. Ia menambahkan, salah satu langkah nyata yang bisa diambil adalah memperluas program pemagangan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Data BPS per Triwulan I Tahun 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh berada di angka 5,50 persen, sementara jumlah angkatan kerja terus meningkat hingga mencapai 100.000 orang.

Raker Fokus pada Evaluasi dan Penetapan Program

Forum Raker BKK SMK tahun ini memiliki peran yang bukan hanya penting dalam ekosistem pendidikan menengah, tetapi juga strategis bagi seluruh pemangku kepentingan. Raker ini menjadi momentum untuk mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya bersama para mitra dan sekaligus merumuskan agenda kerja Forum BKK untuk satu tahun ke depan.

Hingga akhir sesi, sejumlah rumusan program dan kegiatan untuk tahun 2025 berhasil dirancang. Beberapa poin utama yang disepakati antara lain:

  • Penguatan fungsi kelembagaan BKK

  • Peningkatan kapasitas SDM pelaksana

  • Penegasan legalitas kelembagaan

  • Pengembangan database alumni

  • Integrasi aplikasi “Siapkerja”

  • Penguatan sistem evaluasi program

Kadin: Dunia Usaha Sedang Berubah, BKK Harus Responsif

Dalam sesi arahannya, perwakilan Kadin Aceh, Teuku Jailani, menekankan bahwa dunia usaha dan industri saat ini tengah mengalami perubahan besar. Hal itu dipicu oleh perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup masyarakat, serta situasi geopolitik dan ekonomi global.

“Semua itu berdampak kepada struktur kerja di perusahaan. Oleh karenanya melalui Raker Forum BKK perlu mencermati fenomena tersebut dan dapat disikapi secara up-to-date kemudian diintegrasikan ke dalam program BKK ke depannya, sehingga peran dan fungsi BKK SMK dapat lebih dioptimalkan,”

jelas Jailani. Ia juga menegaskan komitmen Kadin untuk mendukung kelancaran kolaborasi antara BKK dan DUDI melalui komunikasi serta koordinasi yang lebih efektif.

Anggota Komisi III DPRA Dorong Pendirian BUMA Pangan

0
Anggota Komisi III
Anggota Komisi III DPRA, Eddi Shadiqin, SH. (Foto: Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pemerintah Aceh didesak untuk segera membentuk Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) di sektor pangan. Dorongan ini datang dari Anggota Komisi III DPRA dari Partai Darul Aceh (PDA), Eddi Shadiqin, SH, yang menilai kehadiran BUMA sangat strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menyejahterakan petani.

Menurut Eddi, potensi pangan Aceh sebenarnya sangat melimpah. Namun, hingga kini belum dikelola secara maksimal. Karena itu, ia mendorong pendirian BUMA Pangan sebagai solusi konkret yang bisa menjawab berbagai persoalan di sektor pertanian dan distribusi komoditas lokal.

“Pendirian BUMA Pangan merupakan langkah konkret yang harus segera direalisasikan. Aceh memiliki potensi pangan yang melimpah, namun belum dikelola secara optimal, badan usaha seperti adalah kebutuhan mendesak dan penting bagi Aceh. Dengan kekayaan potensi pertanian dan perkebunan Aceh, kita perlu lembaga usaha yang dikelola secara profesional untuk menyerap hasil petani, menjaga harga tetap stabil, dan memperkuat distribusi pangan lokal,” ujar Eddi Shadiqin dalam keterangannya di Banda Aceh, Rabu (14/5/2025).

Lebih lanjut, Eddi menyebut BUMA Pangan tidak hanya penting untuk menyerap hasil pertanian masyarakat, tetapi juga berperan dalam menstabilkan harga komoditas strategis. Di samping itu, badan usaha ini berpeluang besar menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD) bila dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

“Aceh tidak boleh terus bergantung pada pasokan pangan dari luar. Kita butuh kemandirian, dan itu hanya mungkin jika ada Badan Usaha Milik Daerah yang kuat di sektor pangan,” tegasnya.

Menurutnya, landasan hukum dan nomenklatur untuk membentuk BUMD Pangan di Aceh sejatinya sudah tersedia. Yang dibutuhkan saat ini hanyalah komitmen serta sinergi lintas sektor untuk segera merealisasikannya.

Ia juga menegaskan bahwa Komisi III DPRA siap memberikan dukungan penuh, baik dari sisi anggaran, pengawasan, maupun kebijakan.

“Selaku Anggota Komisi III DPRA, saya siap mengawal dan memfasilitasi proses pendirian BUMA Pangan sebagai bentuk komitmen terhadap kedaulatan dan keadilan ekonomi bagi petani kita,” pungkas Eddi.

Editor: Akil

Dana Otsus Aceh Tahap Pertama Rp1,2 Triliun Segera Cair Jumat Ini

0
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP, M.Si, (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh memastikan Dana Otonomi Khusus (Otsus) tahap pertama tahun anggaran 2025 akan mulai dicairkan pada Jumat, 16 Mei 2025. Kepastian ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Tanah Rencong.

“Alokasi tahap pertama ini mencakup 30% dari total anggaran dan akan segera ditransfer ke rekening pemerintah provinsi serta kabupaten/kota di Aceh,” ujar Reza, Rabu (14/5/2025).

Reza menjelaskan, jumlah dana yang akan disalurkan pada tahap pertama mencapai Rp1,2 triliun dari total Dana Otsus Aceh tahun 2025 sebesar Rp4,3 triliun. Saat ini, kata dia, proses pencairan tengah memasuki tahap finalisasi oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“Kami telah memenuhi seluruh persyaratan administratif. Tinggal menunggu proses teknis transfer dari pusat. Kami berharap tidak ada kendala sehingga dana dapat digunakan sesuai rencana,” tegasnya.

Dana Otsus tersebut akan menjadi penopang utama bagi sejumlah program prioritas pemerintah Aceh, mulai dari pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Dana ini menjadi stimulus penting untuk mengurangi kesenjangan dan mengakselerasi pertumbuhan inklusif di Aceh,” tambah Reza.

Sejak 2023, besaran Dana Otsus Aceh mengalami penyesuaian sebagaimana diatur dalam Pasal 183 Ayat (1) Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Pada 15 tahun pertama (2008–2022), Aceh menerima alokasi sebesar 2 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) nasional. Namun, mulai tahun ke-16 hingga ke-20 (2023–2027), persentase tersebut turun menjadi 1 persen.

Meski mengalami penurunan, Pemerintah Aceh berkomitmen menjaga agar penggunaan dana tetap tepat sasaran dan fokus pada program yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.

“Kami akan mengawal ketat setiap rupiah agar tepat sasaran,” tegas Reza.

Dengan pencairan tahap pertama ini, Reza berharap seluruh pemerintah kabupaten dan kota dapat segera merealisasikan program strategis sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2025.

Asrama Haji Aceh Siap Sambut Jemaah, 500 Tempat Tidur Disiapkan

0
asrama haji
Asrama Haji Aceh Siap Sambut 4.378 Calon Jamaah. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang keberangkatan ke Tanah Suci, Asrama Haji Embarkasi Aceh bersiap menyambut kedatangan para calon jemaah haji. Tahun ini, sebanyak 500 tempat tidur telah disiapkan guna memastikan kenyamanan jemaah sebelum mereka terbang ke Makkah, Arab Saudi.

Kloter pertama dijadwalkan masuk pada Sabtu, 17 Mei 2025. Mereka akan menginap satu malam di asrama, lalu berangkat keesokan harinya, Minggu (18/5).

Kamar Sudah Siap, Fasilitas Terus Dicek

Menurut Plt Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Aceh, Irsyadi, pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan penting demi kenyamanan para jemaah.

“Kamar-kamar yang akan diisi jemaah sudah ready, teknisi kita selalu memantau dan memperbaiki kalau ada kamar yang bocor, servis AC, kamar mandi mandek, dan lainnya. Ini selalu menjadi perhatian kita sejak awal,” kata Irsyadi kepada wartawan, Rabu (14/5/2025).

Tak hanya itu, semua seprei dan selimut juga telah diperbaharui. Langkah ini diambil agar jemaah merasa lebih bersih dan terhindar dari penyakit selama berada di penginapan.

Secara keseluruhan, tersedia 147 kamar dengan kapasitas 500 tempat tidur. Kamar-kamar tersebut tersebar di Gedung Muzdalifah dan Madinatulhujjaj sebanyak 110 unit, serta Gedung A1 sebanyak 37 unit.

Aula hingga Layanan Kesehatan Disiapkan

Tak hanya penginapan, aula, tempat ibadah, dan layanan kesehatan juga telah disiapkan. Semua ini dilakukan agar jemaah merasa aman dan nyaman selama menanti keberangkatan ke Tanah Suci.

“InsyaAllah kita siap menyambut kedatangan dhuyufurrahman yang akan menuju Tanah Suci tahun 1446 H ini. Alhamdulillah kita telah matangkan persiapan agar jemaah dapat terlayani dengan baik,” jelas Irsyadi.

Mobil Golf untuk Lansia, Teknologi untuk Pelayanan

Salah satu fasilitas baru yang cukup menarik adalah mobil golf yang akan digunakan untuk mengantar jemaah lansia dari area kedatangan ke kamar masing-masing. Fasilitas penunjang lainnya juga telah diperiksa dan ditingkatkan.

“Fasilitas penunjang telah diperiksa dan ditingkatkan guna memastikan kenyamanan jemaah calon haji. Persiapan mulai dari membersihkan ruangan dan lingkungan asrama, serta memastikan kelancaran sanitasi telah dilakukan. Selain itu, juga menyiapkan sarana prasarana ruangan bagi jamaah terutama jamaah lansia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irsyadi menyampaikan bahwa Asrama Haji Aceh kini mengusung konsep pelayanan one stop service. Layanan ini memadukan pendekatan manual dan digital, guna memudahkan akomodasi para jemaah, termasuk dalam hal penempatan tas kabin dan kamar.

“Pada musim haji ini kita kombinasikan dua bentuk layanan manual dan juga digital. Pemanfaatan teknologi ini untuk mengatur akomodasi jemaah termasuk lansia dan prioritas termasuk penempatan tas kabin dan juga kamar di asrama haji,” jelasnya.

“Ikhtiar kita bersama untuk pelayanan terbaik kepada jamaah, kita terus berkoordinasi dengan bapak Kakanwil Kemenag Aceh dan jajaran serta stakeholder terkait,” lanjut Irsyadi.

Dengan kesiapan ini, Asrama Haji Embarkasi Aceh berharap seluruh jemaah haji dari provinsi paling barat Indonesia itu dapat menjalani perjalanan spiritual dengan tenang dan penuh khusyuk.

Editor: AKil

Tiga Kecamatan Kluet Raya Tak Masuk BASAGA, Ini Penjelasan Kadistan Aceh Selatan

0
Tiga Kecamatan Kluet
Tugu Simpang Empat Kluet Raya Tak. (Foto: Krusial)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Kepala Dinas Pertanian Aceh Selatan, Nyaklah, angkat bicara soal tidak masuknya tiga kecamatan Kluet Raya—yaitu Kluet Utara, Kluet Selatan, dan Kluet Timur—dalam program layanan bajak sawah gratis (BASAGA) tahun 2025.

Menurut Nyaklah, delapan kecamatan yang masuk dalam program BASAGA kali ini hanya dijadikan sebagai proyek percontohan. Program ini merupakan bagian dari gebrakan 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan dan Baital Mukadis.

“InsyaAllah tahun 2026 sudah masuk semua lahan sawah di 14 Kecamatan,” kata Nyaklah sebagaimana dikutip dari SaranNews.Net, Rabu, 14 Mei 2025.

Lebih jauh, Nyaklah menjelaskan bahwa pelaksanaan BASAGA tahun ini masih bersifat uji coba. Oleh karena itu, cakupan wilayahnya disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. Hal ini dilakukan mengingat pemerintah daerah sedang menerapkan kebijakan efisiensi.

“Makanya ini harus sama-sama kita dukung, apalagi gabah sudah dibeli oleh Bulog dengan harga 6.500 per kilogramnya,” lanjut Nyaklah.

Menariknya, tiga kecamatan yang belum terlibat dalam program BASAGA justru memiliki lahan sawah yang cukup luas. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No. 02/KPTS/RC.040/M/01/2025 tentang Kawasan Pertanian Nasional, total luas lahan sawah di Aceh Selatan mencapai 6.949 hektare. Lahan ini tersebar di 14 kecamatan dari total 18 kecamatan yang ada.

Kecamatan Kluet Utara memiliki luas lahan paling besar, yaitu 1.589,03 hektare. Disusul oleh Kluet Timur seluas 999,91 hektare dan Kluet Selatan 826,38 hektare.

Adapun kecamatan lain yang juga memiliki lahan sawah adalah Pasie Raja (651,67 ha), Labuhan Haji Barat (572,44 ha), Kota Bahagia (433,77 ha), dan Meukek (375,70 ha). Berikutnya, Kluet Tengah (319,96 ha), Labuhan Haji Timur (292,51 ha), Sawang (268,32 ha), Samadua (235,04 ha), Bakongan Timur (172,27 ha), dan Trumon Tengah (55,61 ha).

“Dari 18 Kecamatan di Aceh Selatan hanya 14 Kecamatan yang masuk lahan persawahan, sedangkan 4 kecamatan lagi Tapaktuan, Bakongan, Trumon dan Trumon Timur tidak masuk,” tutup Nyaklah.

Meski belum tersentuh pada 2025, para petani di wilayah Kluet diharapkan bersabar dan mendukung program ini agar berjalan sukses. Pemerintah menjanjikan seluruh lahan sawah di 14 kecamatan akan tercakup dalam program BASAGA pada tahun 2026 mendatang.

Langkah ini dinilai penting untuk menunjang ketahanan pangan sekaligus meringankan beban petani. Apalagi, dengan adanya kepastian harga pembelian gabah oleh Bulog, keuntungan petani juga lebih terjamin.

Editor: Akil

Teknik Kimia USK Gandeng Universiti Sains Malaysia Hadirkan Kuliah Tamu Internasional

0
Teknik Kimia USK Gandeng Universiti Sains Malaysia Hadirkan Kuliah Tamu Internasional. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Departemen Teknik Kimia (DTK) Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) terus memperkuat jalinan akademik lintas negara. Kali ini, mereka menggandeng Universiti Sains Malaysia (USM) untuk menggelar kuliah tamu internasional yang berlangsung selama enam hari, dari 7 hingga 13 Mei 2025, langsung di kampus Fakultas Teknik USK.

Tampil sebagai narasumber utama, Prof Madya Dr. Mohammad Hafidz Mohammad Kassim dari Pusat Pengajian Teknologi Industri (PPTI) USM, hadir menyapa mahasiswa dan sivitas akademika USK dalam sejumlah sesi interaktif yang padat ilmu dan inspirasi.

“Acara ini mencerminkan komitmen yang tinggi dari USK untuk menghadirkan perkuliahan yang berkualitas bagi mahasiswa. Tingkat internasional dari USM Pulau Pinang sebagai calon sarjana Teknik Kimia FT USK,” ungkap Ketua Departemen Teknik Kimia USK, Prof Dr. Ir Sri Aprilia, MT, IPU.

Menggugah Jiwa Wirausaha Mahasiswa

Sebanyak 57 mahasiswa semester akhir Program Studi Teknik Kimia USK antusias mengikuti sesi kuliah bertajuk Technopreneurship, sebuah mata kuliah yang mengajarkan strategi membangun usaha berbasis inovasi teknologi.

Prof Madya Hafidz membawakan tema “Win the Market: How Technopreneurship Maximize Innovation of Differentiate Our Products” dengan pendekatan yang menggabungkan teori, praktik, dan refleksi nilai personal.

“Kehadiran Prof Madya Mohammad Hafidz telah memotivasi dan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa kami, selain membagikan tema ‘Win the Market…’ Ia menyoroti pentingnya menumbuhkan jiwa mandiri dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi,” jelas moderator sekaligus pengampu mata kuliah, Dr. Ir. Nasrulillah RCL, ST.

Menurutnya, kuliah ini bukan hanya soal teori bisnis, tetapi juga bagaimana membangun karakter wirausahawan yang mampu beradaptasi di tengah arus perubahan teknologi yang pesat.

Dari Kampus ke Rektorat: Jalin Silaturahmi Akademik

Tak hanya mengisi kelas, Prof Madya Hafidz juga melakukan kunjungan kehormatan ke Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, di ruang kerja rektorat. Pertemuan ini menjadi momen strategis untuk memperkuat relasi akademik antara USK dan USM yang telah berlangsung sejak era 90-an.

Diskusi lanjutan juga digelar bersama Dekan Fakultas Teknik USK, Prof Dr. Ir. Alfiansyah Yuliansyah, BC, IPU, ASEAN.ENG, yang turut didampingi Ketua DTK, Prof Sri Aprilia, dan Ketua Prodi Teknik Kimia, Dr. Fauzi, ST, MT. Dari pertemuan ini lahir sejumlah rencana kolaborasi ke depan, termasuk peluang pertukaran dosen dan mahasiswa.

Kupas Tuntas Strategi Menembus Jurnal Internasional

Selama kunjungannya, Prof Madya Hafidz juga menjadi pembicara dalam International Guest Lecture and Workshop bertema “Writing and Publishing Scientific Articles in Reputable Journals”. Acara ini diikuti oleh mahasiswa Program Magister Teknik Kimia dan mendapat sambutan hangat dari peserta.

“Kuliah tamu Penulisan Jurnal bereputasi internasional bersama Prof Madya Dr. Mohammad Hafidz telah berjalan sukses dan memberikan ilmu strategi penulisan artikel bagi mahasiswa S2 Teknik Kimia USK,” ujar Ketua Prodi Magister Teknik Kimia USK, Dr. Hesti Meilina, ST, MT.

Ia menambahkan, ke depan pihaknya juga merencanakan kunjungan akademik ke kampus USM Pulau Pinang agar mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di lingkungan internasional.

Diskusi Lanjutan Bersama Pengelola JAT USK

Kegiatan akademik ditutup dengan diskusi ilmiah bersama pengelola Journal of Applied Technology (JAT) USK. Diskusi ini dipimpin oleh Prof Dr. Medyan Riza, M.Eng, dan diikuti oleh sejumlah dosen DTK USK seperti Prof Dr. Syahidin DS, MT; Prof Dr. Ir. Darmadi, MT; Dr. Ir. Adi Salamun, MT; Dr. Nasrullah RCL, MT; Ir. Muhlisien, MSc; dan Dr. Fakhrizal, ST, MT.

Diskusi tersebut menyoroti peluang riset kolaboratif dan peningkatan kualitas publikasi ilmiah USK ke tingkat internasional.

Melalui kegiatan ini, USK menunjukkan keseriusannya dalam membangun atmosfer akademik yang dinamis, inovatif, dan mendunia. Kolaborasi ini tak hanya memberi nilai tambah bagi mahasiswa, tetapi juga mendorong pertumbuhan kualitas akademik USK ke level yang lebih tinggi.

Wakili Gubernur Aceh, Asisten III Setda Aceh Luncurkan Aplikasi SIKULA

0
Wakili Gubernur Aceh, Asisten III Setda Aceh Luncurkan Aplikasi SIKULA. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh Pemerintah Aceh resmi meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Tugas Belajar (SIKULA), Rabu (14/5/2025), sebagai bagian dari transformasi digital dalam pengelolaan kepegawaian. Peluncuran ini dilakukan oleh Asisten III Setda Aceh, Muhammad Diwarsyah, mewakili Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, di Kantor BPSDM Aceh.

Aplikasi SIKULA diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan administratif yang selama ini menghambat proses tugas belajar Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aceh. Peluncuran ini menjadi langkah konkret dalam upaya mewujudkan ASN yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi dinamika zaman.

Strategi Tingkatkan Daya Saing ASN

Dalam sambutannya, Muhammad Diwarsyah menegaskan pentingnya pengembangan ASN melalui program tugas belajar. Ia menyebut bahwa upaya ini bukan semata soal pendidikan formal, melainkan juga membentuk aparatur yang visioner dan responsif.

“Salah satu strategi penting pengembangan ASN adalah melalui program tugas belajar. Ini bukan hanya soal pendidikan formal, tapi membentuk aparatur yang visioner dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Muhammad Diwarsyah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa SIKULA hadir sebagai solusi atas sistem manual yang selama ini memperlambat pelayanan. Melalui digitalisasi ini, perencanaan sumber daya manusia di setiap Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dapat dilakukan secara lebih tepat, transparan, dan terukur.

Menurut Diwarsyah, aplikasi ini juga merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Selain itu, SIKULA menjadi bagian penting dari pembangunan Sistem Informasi Aceh Terpadu (SIAT).

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras seluruh tim. Semoga aplikasi ini jadi inspirasi bagi SKPA lainnya untuk terus berinovasi dalam pelayanan publik,” tambahnya.

Jawaban atas Kelemahan Sistem Manual

Plh Kepala BPSDM Aceh, Henny Sri Wahyunungasih, menjelaskan bahwa pengembangan aplikasi ini dilakukan oleh BPSDM Aceh bersama Dinas Komunikasi dan Persandian Aceh. Aplikasi SIKULA menghadirkan sistem digital yang mengatur seluruh siklus tugas belajar ASN—mulai dari perencanaan, pengajuan, monitoring, hingga evaluasi.

Menurut Henny, selama ini pengelolaan tugas belajar kerap menemui kendala, terutama dalam hal monitoring dan akurasi pelaporan. Sistem yang belum terintegrasi membuat pimpinan kesulitan mendapatkan data yang dibutuhkan secara cepat.

“Selama ini pemantauan tugas belajar belum optimal. Data tidak real-time, pelaporan ke pimpinan tidak akurat, dan proses pengajuan terlalu lambat. Inilah yang coba kita benahi melalui SIKULA,” ujar Henny.

Dengan hadirnya SIKULA, Henny menambahkan bahwa proses pengajuan kini lebih efisien dan transparan. Tak hanya itu, pelaporan pun menjadi sistematis dan dapat dipantau secara real-time. Hal ini tentu akan sangat membantu dalam perencanaan pengembangan SDM di tiap instansi.

“Dengan SIKULA, pengajuan tugas belajar menjadi lebih cepat. Proses izin dapat diotomatisasi, pemantauan bisa dilakukan secara real-time, dan pelaporan lebih sistematis. Ini juga akan memudahkan perencanaan pengembangan SDM di masing-masing instansi,” lanjutnya.

Pelatihan dan Komitmen Berkelanjutan

Guna memastikan implementasi berjalan lancar, BPSDM Aceh telah menyiapkan pelatihan bagi admin operator di setiap instansi. Para admin ini akan berperan sebagai pengelola data sekaligus penghubung antara instansi dengan sistem SIKULA.

Henny juga mengajak seluruh ASN di Aceh untuk aktif memanfaatkan aplikasi ini. Sebab, menurutnya, SIKULA bukan sekadar platform teknis, melainkan juga simbol dari semangat reformasi birokrasi dan upaya serius meningkatkan kualitas layanan publik.

Editor: Akil

Selundupkan Sabu 1,5 Kg, Tiga Penumpang Bus ALS Asal Aceh Ditangkap di Bukittinggi

0
Ilustrasi Sabu. (Foto: Polda Aceh)

NUKILAN.id | Padang — Upaya penyelundupan narkotika kembali digagalkan. Kali ini, tiga penumpang Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) asal Aceh ditangkap aparat setelah kedapatan membawa sabu-sabu seberat 1,5 kilogram. Barang haram itu disembunyikan secara rapi di dalam sepatu dan celana dalam pelaku.

Penangkapan dilakukan oleh tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatra Barat di Pool ALS Bukittinggi. Penggerebekan berlangsung setelah dilakukan pengintaian dan pemeriksaan selama setengah jam.

Modus Lama yang Masih Dipakai

Ketiga pelaku yang ditangkap berinisial AL (41), seorang perempuan; N (24), perempuan; dan S (38), laki-laki. Ketiganya diketahui berasal dari Aceh.

Dalam pemeriksaan tubuh, petugas menemukan tiga paket besar narkotika jenis sabu yang disembunyikan di berbagai tempat, terutama di sepatu dan pakaian dalam. Total berat barang bukti mencapai kurang lebih 1,5 kilogram.

Kepala BNNP Sumatra Barat, Brigjen Ricky Yanuarfi, menyampaikan bahwa pelaku akan dijerat dengan pasal-pasal berat dalam Undang-Undang Narkotika.

“Ketiga pelaku dijerat pasal 114 ayat 2 junto pasal 112 ayat 2 junto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati,” kata Brigjen Ricky, Selasa, 13 Mei 2025.

Pintu Masuk Aceh Masih Rawan

Kasus ini kembali mengungkap potensi wilayah Aceh sebagai pintu masuk peredaran sabu-sabu di Indonesia. Modus penyelundupan melalui jalur darat menggunakan bus antarkota tampaknya masih jadi pilihan favorit bagi jaringan pengedar. Karena itu, aparat diminta meningkatkan pengawasan, terutama pada kendaraan umum yang melintasi lintas Sumatra.

Pihak BNNP masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap jaringan yang lebih besar di balik ketiga pelaku. Hingga saat ini, ketiganya telah diamankan untuk proses hukum lebih lanjut di kantor BNNP Sumbar.

Editor: Akil