Beranda blog Halaman 407

ACSTF: Revisi UUPA Harus Pertegas Kekhususan dan Kewenangan Aceh

0

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Achehnese Civil Society Task Force (ACSTF) menilai upaya revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh merupakan langkah penting dan strategis. Langkah ini dinilai relevan dengan perkembangan politik Aceh dan nasional saat ini, serta krusial untuk memperjelas kekhususan Aceh sebagaimana diamanatkan dalam perjanjian damai Helsinki.

Koordinator Program ACSTF, Novi, menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan resminya, Sabtu (25/5/2025), menyikapi paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada 21 Mei lalu yang menetapkan usulan revisi UUPA dan telah mengirimkannya ke DPR RI dua hari kemudian.

Menurut Novi, ACSTF menyambut baik keputusan DPRA yang semula mengusulkan 18 pasal untuk direvisi, namun dalam draft akhirnya hanya mengubah 8 pasal dan menambahkan satu pasal baru.

Meski demikian, Novi menekankan pentingnya keterbukaan informasi terhadap isi perubahan tersebut. Menurutnya, publik harus memahami arah dan semangat dari revisi ini agar pelaksanaan UUPA dapat lebih efektif ke depan.

“Pemerintah Aceh terutama aparatur pemerintah Aceh bertindak jauh dari mentalitas bahwa Pemerintah Aceh memiliki kekhususan daripada provinsi lainnya di Negara Republik Indonesia ini,” jelas Novi.

Lebih lanjut, Novi mengingatkan agar semangat revisi tidak sekadar mengejar perpanjangan Dana Otonomi Khusus (Otsus). Ia menilai, orientasi fiskal semata dapat melalaikan elite politik dan birokrasi dari tujuan utama: memperbaiki kualitas hidup rakyat.

Menurutnya, selama 19 tahun pelaksanaan UUPA, alokasi dana Otsus tidak berdampak signifikan karena penggunaannya yang tidak tepat sasaran.

“Namun, kita harapkan pengelolaan dana Otsus ke depan dapat diarahkan pada pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh dan peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh dengan menitikberatkan sektor riil,” ujar Novi.

Ia menambahkan, penguatan infrastruktur dan hilirisasi hasil produksi pertanian dinilai penting agar tata niaga Aceh tumbuh lebih cepat. Pasalnya, selama ini sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.

“Ingat, selama 19 tahun terakhir, sektor pertanian berkontribusi tinggi dalam pertumbuhan ekonomi Aceh, menciptakan lapangan kerja dan menekan angka pengangguran, karena 70 persen penduduk Aceh tinggal di pedesaan dan petani,” lanjutnya.

Dalam konteks implementasi UUPA ke depan, ACSTF mengusulkan delapan poin penting yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, memperluas partisipasi publik dalam pembangunan. Kedua, memperkuat transparansi pengelolaan dana Otsus.

Ketiga, menjalankan penyelesaian sengketa berbasis masyarakat adat. Keempat, merevisi Pasal 15 dan 23 UUPA untuk mempertegas hak masyarakat adat atas tanah ulayat. Kelima, mewajibkan keterbukaan dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk izin tambang dan perkebunan.

Keenam, menyempurnakan mekanisme resolusi konflik pertanahan dengan melibatkan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh (KKRA). Ketujuh, melindungi hak kepemilikan tanah perempuan, terutama dalam konteks warisan. Dan terakhir, menegakkan sanksi pidana bagi korporasi yang merampas tanah atau merusak lingkungan.

ACSTF menilai, ketegasan kewenangan Aceh perlu didukung oleh penguatan produk legislasi daerah seperti qanun. Oleh karena itu, proses revisi UUPA harus dikawal dengan melibatkan berbagai pihak.

“ACSTF melihat ini sebagai kemajuan signifikan, tapi ini baru awal,” ujar Novi.

Ia pun berharap agar DPR Aceh, anggota DPR/DPD RI dari Aceh, dan Pemerintah Aceh benar-benar mengawal proses pembahasan revisi UUPA di tingkat nasional. Terlebih, pengalaman advokasi tahun 2005-2006 membuktikan pentingnya peran masyarakat sipil.

“Maka DPR Aceh dapat memimpin pengawalan ini dengan melibatkan pula organisasi masyarakat sipil Aceh, karena kekuatan OMS dengan jaringan di luar institusi politik dapat menjadi daya pengaruh alternatif dalam meyakinkan Pemerintah Nasional,” tutup Novi.

Banda Aceh Apresiasi Tokoh dan Komunitas Inspiratif di HUT ke-820

0
Banda Aceh Apresiasi Tokoh dan Komunitas Inspiratif di HUT ke-820. (Foto: Diskominfo BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-820 Kota Banda Aceh menjadi ajang penuh apresiasi. Pemerintah Kota Banda Aceh menganugerahkan Collaboration Award kepada puluhan tokoh, komunitas, hingga badan usaha yang dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa dalam membangun dan mengharumkan nama kota.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dan Wakil Wali Kota, Afdhal Khalilullah, di Taman Bustanussalatin, Sabtu malam, 24 Mei 2025.

22 Tokoh Terpilih, Dari Keuchik Hingga Konten Kreator

Sebanyak 22 sosok dari berbagai latar belakang menerima penghargaan atas kiprah inspiratif mereka. Mulai dari keuchik inovatif, pelestari budaya, hingga petugas kebersihan yang berdedikasi.

Salah satunya adalah Alm. Alta Zaini, Keuchik Lampulo, yang diganjar sebagai Keuchik Inspiratif berkat keberhasilannya membawa gampongnya meraih predikat “Desa Sadar Hukum” dari Kementerian Dalam Negeri pada awal tahun ini.

Kemudian, ada Riazil, S.Sos, Keuchik Lamteumen Timur, yang dikenal luas karena kepeduliannya terhadap anak yatim. Ia rutin mengajak mereka berbelanja baju Lebaran setiap tahun, hingga mendapat penghargaan sebagai Keuchik Peduli Yatim.

Tak hanya itu, Deo Fiscia Erjiansyah, Keuchik Gampong Pande, juga diapresiasi lewat gerakannya yang mendorong anak-anak mencintai orang tua melalui aksi simbolik seperti mencuci kaki ibu-bapak. Ia pun layak menyandang predikat Keuchik Peduli Parenting.

Tokoh Humanis, Budaya, dan Sosial

Tokoh lainnya yang turut diakui adalah Sunardi, S.Fil.I, Komandan Tim Kalong Satpol PP/WH Kota Banda Aceh. Ia mendapatkan penghargaan sebagai Penegak Trantibum dan Syariat Islam berkat pendekatan santun dan humanis dalam setiap operasi.

Sementara itu, penghargaan Sosok Disabilitas Muda Peduli Sesama diberikan kepada Aldi DJ (Zulfadhli Aldiansyah), yang dikenal sebagai konten kreator aktif dan dermawan bagi anak yatim.

Di bidang seni budaya, Rahmi Ariani berhasil menyita perhatian. Ia dikenal sebagai Koreografer Muda Pelestari Tari Tradisi dan Kreasi, dengan prestasi hingga kancah internasional, termasuk di Melbourne dan Phuket.

Penghargaan Pelestari Budaya Debus dan Relawan Kebudayaan juga diberikan kepada Alm. T Nazaruddin (Zal Debus) atas dedikasinya yang tak tergantikan.

Komunitas-Komunitas Berdaya dan Berdampak

Tak hanya individu, Pemerintah Kota juga memberikan penghargaan kepada delapan komunitas yang dinilai membawa dampak positif bagi masyarakat Banda Aceh.

Komunitas seperti Sahabat Hijau (SAHI) dinobatkan sebagai Komunitas Peduli Lingkungan, karena aktif melakukan penanaman pohon dan penghijauan kota. Di sisi lain, Komunitas Gerakan Pemuda Subuh berhasil menginspirasi anak muda lewat gerakan safari subuh yang konsisten.

Adapun Yayasan Rumoh Pangan Aceh menerima penghargaan Komunitas Inspirasi Ketahanan Pangan berkat program food rescue dan donation mereka yang menyasar ribuan penerima manfaat.

Sementara itu, Komunitas Berucap.Id dan Komunitas Inong Carong juga tak kalah menarik. Keduanya dinilai sebagai komunitas yang mendorong peningkatan kapasitas diri, literasi berbicara, hingga pemberdayaan perempuan secara kreatif dan produktif.

Badan Usaha dan Mitra CSR Juga Diganjar

Apresiasi juga ditujukan kepada tiga Badan Usaha Paling Tertib Pajak Daerah, yakni Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Magurame UDON, dan PT Aneka Solusi Pangan (Simpang Lima Grocery).

Tak ketinggalan, 19 lembaga dan perusahaan mitra kerja dalam program 100 Hari Kinerja Wali Kota turut diberi penghargaan atas kolaborasi dan kontribusinya, khususnya dalam optimalisasi dana CSR.

Mitra tersebut di antaranya: PT Bank Aceh Syariah, Bank Indonesia, PT PLN, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Pertamina, serta sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry.

Ucapan Terima Kasih dari Wali Kota

Dalam sambutannya, Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas segala bentuk kontribusi masyarakat.

“Kami atas nama pemerintah Kota Banda Aceh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh elemen warga kota. Terima kasih atas kerja keras dan kinerja aparatur pemerintahan,” katanya.

Lebih lanjut, Illiza juga menyampaikan penghargaan kepada para guru, tenaga kesehatan, pelaku usaha, hingga para petugas kebersihan.

”Kepada para petugas kesehatan, saya ucapkan terimakasih atas pengabdiannya merawat kesehatan seluruh warga. Kepada para petugas kebersihan atas semangatnya membersihkan setiap sudut kota, para imum mukim, keuchik dan aparatur gampong, kami ucapkan terima kasih atas sumbangsih dalam mewujudkan kemandirian gampong,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai kunci pembangunan kota yang berkelanjutan.

Editor: Akil

BKSDA Aceh Tutup Sementara Kunjungan ke Tugu Nol Kilometer Sabang

0
BKSDA Aceh Tutup Sementara Kunjungan ke Tugu Nol Kilometer Sabang. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menutup sementara akses wisatawan ke Tugu Nol Kilometer yang terletak di Taman Wisata Alam Pulau Weh, Kota Sabang. Penutupan ini dilakukan mulai 22 Mei 2025 hingga waktu yang belum ditentukan.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyampaikan alasan penutupan tersebut. “Kunjungan ke Tugu Nol Kilometer di Taman Wisata Alam, Kota Sabang, ditutup sementara demi keamanan pengunjung karena ada potensi bahaya terhadap ornamen tugu yang sudah rusak,” ujarnya di Banda Aceh, Sabtu (24/5).

Menurut Ujang, saat ini sedang dilakukan perbaikan pada tugu tersebut. Oleh karena itu, penutupan akan berlangsung sampai perbaikan selesai dan tugu dinyatakan aman untuk dikunjungi. “Penutupan kunjungan ini untuk mengantisipasi bahaya bagi pengunjung atau wisatawan terhadap ornamen tugu yang sudah rusak dan dapat jatuh sewaktu-waktu,” tambahnya.


Kondisi Tugu Nol Kilometer Memprihatinkan

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh, Azwani Awi, menilai kondisi Tugu Nol Kilometer di Pulau Weh sangat memprihatinkan. Ia menekankan bahwa bangunan tugu yang sudah rusak itu dapat membahayakan pengunjung.

“Kami berharap ada perhatian serius terhadap kondisi Tugu Nol Kilometer tersebut, sehingga tidak membahayakan pengunjung dan timbul korban jiwa,” kata Azwani Awi. Ia menyampaikan hal ini setelah berkunjung ke tugu tersebut pada Jumat (23/5) bersama sejumlah wisatawan.

Lebih lanjut, Azwani menjelaskan bahwa beberapa ornamen kerawang atau motif khas Aceh yang ada di atas tugu sudah lepas. Selain itu, ornamen rencong juga sudah bergelantungan dan tinggal menunggu waktu untuk terjatuh.

Sebagai ikon pariwisata utama di Provinsi Aceh khususnya Kota Sabang, keberadaan tugu ini tentu sangat penting. Oleh sebab itu, perhatian serius dari semua pihak menjadi sangat dibutuhkan agar keselamatan pengunjung tetap terjaga.

Akademisi USK Sebut Fasilitas Kampus di UK Sangat Komprehensif: Ada yang Cuma-cuma

0
Akademisi USK
Akademisi FISIP USK, Saddam Rassanjani. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – United Kingdom atau Inggris masih menjadi salah satu negara tujuan favorit bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi. Tak hanya karena reputasi institusi pendidikannya yang mendunia, tetapi juga karena fasilitas kampus yang sangat mendukung dan perhatian besar terhadap kesejahteraan mahasiswa internasional.

Hal ini disampaikan oleh Saddam Rassanjani, akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala yang saat ini sedang melanjutkan program doktoralnya di UK. Dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Minggu (25/5/2025), Saddam membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

“Fasilitas di kampus UK sangat mendukung proses belajar. Perpustakaan digital lengkap banget, dari e-book sampai jurnal-jurnal terbaru,” ungkapnya.

Menurutnya, dukungan akademik yang diberikan kampus di Inggris tidak berhenti pada penyediaan sumber belajar semata. Ada banyak layanan penunjang lain yang bisa diakses secara cuma-cuma oleh mahasiswa.

“Selain itu, ada academic writing support, career service, sampai mental health support. Mereka cukup perhatian sama kondisi mental mahasiswa, apalagi untuk mahasiswa internasional yang jauh dari negara asalnya,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan pentingnya layanan konseling dalam menunjang kesehatan mental mahasiswa, terutama mereka yang tengah mengalami tekanan akademik atau kerinduan terhadap kampung halaman.

“Ada layanan konseling yang bisa diakses gratis kalau butuh ngobrol atau butuh bantuan,” katanya.

Saddam menekankan bahwa dukungan sosial dari komunitas pelajar Indonesia juga menjadi elemen penting yang membuat mahasiswa merasa lebih nyaman dan tidak terasing selama tinggal di luar negeri.

“Yang juga bikin betah adalah komunitas pelajar Indonesia yang aktif. Di sini kami sering ngumpul, masak bareng, makan makanan Indonesia, bahkan bikin pengajian. Jadi rasa home-sick bisa berkurang karena tetap merasa punya keluarga di rantau,” jelasnya.

Namun demikian, di balik berbagai kenyamanan yang ditawarkan, Saddam tak menampik bahwa ada tantangan yang cukup besar harus dihadapi oleh mahasiswa Indonesia saat pertama kali menjejakkan kaki di Inggris. Salah satunya adalah persoalan bahasa.

“Tantangan utama yang sering dialami adalah kendala bahasa terutama di awal-awal,” katanya.

Menurutnya, meskipun banyak mahasiswa Indonesia telah belajar bahasa Inggris sejak kecil, tetap saja adaptasi akademik tidak mudah. Diskusi ilmiah dan penulisan akademik memerlukan keahlian yang berbeda dari sekadar kemampuan komunikasi dasar.

“Meski kita sudah belajar (Bahasa Inggris) dari kecil, tetap beda rasanya ketika harus nulis akademik atau berdiskusi di forum ilmiah,” ujarnya.

Tantangan lainnya datang dari iklim dan lingkungan yang jauh berbeda dengan Indonesia. Cuaca ekstrem, terutama saat musim dingin, kerap memengaruhi suasana hati dan semangat belajar.

“Cuaca juga cukup ekstrem, terutama pas winter. Siang cepat gelap, suhu bisa minus derajat, dan ini yang kadang bikin mood belajar turun,” kata Saddam.

Bagi mahasiswa muslim, perubahan ekstrem pada waktu ibadah juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga rutinitas spiritual di tengah padatnya jadwal kuliah dan riset.

“Bagi muslim, tantangannya juga ada di perubahan waktu shalat. Misalnya pas summer, isya bisa jam 11 malam ke atas. Subuh jam 2 kurang udah mulai, jam 4 lewat itu udah terang benderang. Jadi ritme tidur sangat kacau,” terangnya.

Meski demikian, semua tantangan tersebut sebanding dengan berbagai keuntungan besar yang bisa diperoleh mahasiswa selama menempuh studi di Inggris.

“Tapi di balik tantangan itu, banyak banget keuntungannya. Kita bisa belajar dari sistem pendidikan yang sangat berkualitas, fasilitas memadai, memperluas jaringan internasional, dan mengembangkan kapasitas riset kita,” tutupnya.

Pengalaman Saddam menjadi gambaran bagaimana Inggris mampu menghadirkan lingkungan belajar yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga manusiawi dan inklusif. Ini menjadi alasan mengapa negeri ini tetap menjadi magnet kuat bagi pelajar Indonesia yang ingin meningkatkan kapasitas diri di panggung global. (XRQ)

Reporter: Akil

UIN Ar-Raniry Resmi Buka Program Doktor Ekonomi Syariah

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi membuka Program Doktor Ekonomi Syariah, setelah memperoleh izin dari Kementerian Agama RI. Izin tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 465 Tahun 2025.

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan pendidikan tinggi ekonomi syariah di Aceh. Apalagi, pembukaan program doktor ini telah melalui proses evaluasi dan akreditasi yang ketat.

Didahului Visitasi dan Evaluasi Ketat

Sebelum izin diterbitkan, UIN Ar-Raniry lebih dulu menjalani proses visitasi lapangan oleh tim evaluator Kementerian Agama. Kegiatan ini berlangsung pada 23–26 Februari 2025 dan melibatkan Prof. Tulus Suryanto serta Prof. Amilin, yang didampingi Dr. Lukman Nugraha, Kasubtim Bina Prodi Subdit Pengembangan Akademik.

Selanjutnya, Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) menyatakan UIN Ar-Raniry memenuhi seluruh persyaratan. Hal ini dituangkan dalam surat Nomor 331/DE/A.3/OT.1/III/2025 tertanggal 21 Maret 2025.

Relevan dengan Qanun LKS

Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, menyebut kehadiran prodi baru ini sebagai langkah strategis yang sejalan dengan kebutuhan daerah.

“Dengan hadirnya program S3 Ekonomi Syariah, kami ingin melahirkan SDM unggul yang dapat memperkuat implementasi sistem ekonomi berbasis syariah di Aceh,” ujar Mujiburrahman.

Ia juga menegaskan, pembukaan prodi ini relevan dengan implementasi Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang saat ini berlaku di Aceh. Menurutnya, kebutuhan akan tenaga ahli ekonomi syariah semakin mendesak.

“Kami berharap proses perkuliahan dapat segera dimulai tanpa hambatan, karena prodi ini bukan hanya menjawab kebutuhan akademik internal, tetapi juga kebutuhan masyarakat Aceh secara luas,” tambahnya.

Siap Terima Mahasiswa Baru

Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Eka Srimulyani, juga menyambut baik izin resmi ini. Ia menyebutnya sebagai pencapaian luar biasa yang memperkuat kapasitas institusi dalam bidang akademik.

“Ini adalah tonggak penting dalam memperkuat kapasitas akademik Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Kami siap berkontribusi nyata untuk pengembangan ekonomi syariah, baik secara regional maupun nasional,” kata Eka.

Eka menambahkan, program ini akan segera menerima mahasiswa baru. Ia optimistis bahwa kehadiran program doktor ini akan menghasilkan lulusan berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Kami optimistis, program ini akan segera menerima mahasiswa baru dan menghasilkan lulusan berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman serta memperkuat posisi Aceh sebagai pelopor ekonomi syariah di Indonesia.”

Editor: Akil

Saddam Rassanjani Ceritakan Sistem Akademik di Negeri Ratu Elizabeth

0
saddam rassanjani
Saddam Rassanjani. (Foto: Instagram @sani.armn)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Saddam Rassanjani, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Inggris, berbagi pengalamannya mengenai sistem akademik dan metode pembelajaran di Negeri Ratu Elizabeth. Saddam yang juga merupakan akademisi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala ini menceritakan sejumlah perbedaan dan keunggulan sistem pendidikan tinggi di Inggris.

Sebagai informasi, Inggris (United Kingdom/UK) menjadi salah satu destinasi studi luar negeri yang semakin diminati oleh mahasiswa Indonesia. Berdasarkan data Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2023, Inggris menempati posisi ketiga sebagai negara tujuan favorit bagi pelajar Indonesia.

Dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Minggu (25/5/2025), Saddam menyoroti sistem pembelajaran yang sangat berbeda dibandingkan dengan sistem di Indonesia.

“Sistem pembelajaran di UK itu student-centered, artinya mahasiswa yang memegang kendali atas proses belajarnya,” ujar Saddam.

Meski berpusat pada mahasiswa, Saddam menegaskan bahwa bukan berarti para dosen melepas begitu saja proses pembelajaran. Justru sebaliknya, interaksi antara dosen dan mahasiswa di UK berjalan sangat dinamis dan bersifat profesional.

“Tapi bukan berarti dibiarkan begitu aja. Dosen di sini sangat suportif dan terbuka. Kita bisa berdiskusi langsung, bahkan via email atau janji temu. Relasinya nggak kaku, justru setara dan profesional,” tambahnya.

Menurut Saddam, salah satu hal yang paling ia sukai dari sistem akademik di UK adalah dorongan kuat terhadap partisipasi aktif mahasiswa. Bukan sekadar menyerap materi dari dosen, mahasiswa justru ditantang untuk terlibat lebih jauh dalam proses akademik, baik dalam kegiatan riset maupun pengajaran.

“Yang saya suka, mahasiswa didorong untuk aktif terlibat, bukan cuma menyerap. Kalau beruntung kita bisa ikut riset dosen, ngajar anak S1, bahkan ada diminta mengkritisi materi kuliah. Jadi benar-benar melatih berpikir kritis dan mandiri,” ungkapnya.

Saddam juga menyoroti atmosfer akademik yang terbuka, di mana ruang diskusi dan perbedaan pendapat menjadi bagian integral dari proses belajar.

“Suasana akademiknya juga lebih terbuka dan kritis. Di kelas atau seminar, kita didorong untuk berani mengemukakan pendapat,” katanya.

Di tengah budaya akademik yang menjunjung keterbukaan, mahasiswa tidak dibebani dengan ketakutan akan kesalahan. Sebaliknya, logika dan dasar argumentasi menjadi tolok ukur dalam setiap pendapat yang disampaikan.

“Nggak ada istilah takut salah, yang penting argumen kita logis dan punya dasar,” tutup Saddam.

Dengan pendekatan pembelajaran yang menekankan kemandirian, keterbukaan, serta relasi egaliter antara dosen dan mahasiswa, sistem pendidikan di UK memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya akademis, tetapi juga membentuk karakter berpikir kritis dan profesionalisme pada setiap individunya. (XRQ)

Reporter: Akil

Jakarta dan Banda Aceh Teken MoU Transformasi Digital Lintas Daerah

0
Jakarta dan Banda Aceh Teken MoU Transformasi Digital Lintas Daerah. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Banda Aceh resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait kolaborasi lintas daerah dalam bidang transformasi digital. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi.

Penandatanganan tersebut berlangsung dalam rangkaian acara malam resepsi Hari Ulang Tahun ke-820 Kota Banda Aceh, pada Jumat (23/5/2025). Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Sekretaris Menteri BUMN, sejumlah tokoh masyarakat, serta perwakilan dari berbagai pemerintah daerah.

Sambutan Hangat dari Banda Aceh

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta, Budi Awaludin, hadir mewakili Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi atas penerimaan hangat yang diberikan oleh tuan rumah.

“Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Ibu Illiza Sa’aduddin Djamal, dan jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh, yang telah menerima kami dengan sangat baik. Kami juga mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-820 untuk Kota Banda Aceh,” ujar Budi Awaludin dalam keterangan tertulis, Jumat (23/5/2025).

Menurutnya, momen ini menjadi titik awal bagi kolaborasi yang lebih erat antara Jakarta dan Banda Aceh, khususnya dalam mempercepat layanan publik yang adaptif dan berbasis teknologi.

Teknologi sebagai Keniscayaan

Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ia melihat bahwa Jakarta dan Banda Aceh memiliki visi yang sejalan dalam mendorong inovasi pelayanan publik.

“Sepanjang perjalanan kami ke Banda Aceh, kami melihat kesamaan visi dan semangat. Di tengah derasnya laju teknologi, transformasi digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan,” katanya.

Perkenalkan Aplikasi Super JAKI

Dalam forum tersebut, Budi juga memperkenalkan aplikasi super andalan milik Pemprov DKI Jakarta, yaitu JAKI (Jakarta Kini). Aplikasi ini telah menyatukan berbagai layanan publik dalam satu kanal digital yang mudah diakses.

“Masyarakat kini menuntut kemudahan dan kecepatan. JAKI adalah upaya kami menjawab kebutuhan itu. Kami akan sangat bangga, jika JAKI dapat dikembangkan secara kolaboratif dengan Banda Aceh, tentunya dengan penyesuaian terhadap nilai-nilai lokal,” katanya.

Sinergi Berbasis Inovasi

Penandatanganan MoU ini menjadi simbol kuat atas komitmen dua daerah dalam membangun sinergi lintas wilayah. Tak hanya soal teknologi, kerja sama ini juga menekankan pentingnya berbagi pengalaman dan memperkuat tata kelola pemerintahan yang responsif.

“Kolaborasi ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga berbagi pengalaman, solusi, dan memperkuat tata kelola pemerintahan yang adaptif dan kolaboratif. Kami menyambut kerja sama ini dengan antusias dan penuh harapan,” ucap Budi.

Dengan semangat ini, Jakarta dan Banda Aceh menatap masa depan yang lebih terhubung, efisien, dan inklusif melalui transformasi digital yang kolaboratif.

Editor: Akil

UK Jadi Favorit Mahasiswa Indonesia, Ini Alasan Akademisi USK Pilih Kuliah Doktoral di Negeri Ratu Elizabeth

0
UK jadi favorit
Menara Big Ben, Inggris. (Foto: WW You Go)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Inggris atau United Kingdom (UK) terus memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Berdasarkan data Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2023, Inggris menempati peringkat ketiga negara tujuan favorit penerima beasiswa, bersaing ketat dengan Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan Jepang.

Fenomena ini bukan semata-mata soal tren atau popularitas. Di balik angka statistik itu, terdapat sejumlah alasan mendasar yang membuat negeri Ratu Elizabeth ini begitu menarik di mata para pencari ilmu dari Indonesia.

Untuk memahami lebih dalam daya tarik tersebut, Nukilan.id mewawancarai Saddam Rassanjani, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala, yang kini sedang menempuh pendidikan doktoral di salah satu universitas terkemuka di Inggris.

Menurut Saddam, reputasi akademik yang telah lama mengakar kuat di negara-negara Barat, termasuk Inggris, menjadi salah satu faktor kunci yang tak bisa diabaikan ketika membahas kualitas pendidikan tinggi global.

“Kalau bicara soal pendidikan, kita nggak bisa menafikan bahwa kiblat akademik dunia saat ini memang masih dipegang oleh negara-negara barat, termasuk UK,” katanya pada Minggu (25/5/2025).

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Inggris dikenal sebagai rumah bagi sejumlah universitas papan atas dunia, yang kerap menjadi rujukan utama dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk kebijakan sosial, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan berkelanjutan—bidang yang saat ini ia tekuni.

“Banyak kampus di sini yang masuk jajaran top dunia versi QS World University Rankings atau Times Higher Education. Kampus tempat saya studi sekarang, juga punya reputasi bagus di bidang social policy, governance, dan pembangunan berkelanjutan,” jelas Saddam.

Namun demikian, orientasi akademik bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih tempat studi. Bagi Saddam, pengalaman studi di luar negeri juga erat kaitannya dengan aspek personal dan kebudayaan yang memperkaya kehidupan sebagai individu.

“Selain pertimbangan akademik, saya juga punya alasan personal. Salah satunya karena sepakbola. Inggris ini surganya para pecinta bola. Saya bisa tur ke sejumlah lapangan sepakbola Premier League,” katanya.

Sepak bola, yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Inggris, ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa internasional, terutama mereka yang memang menggemari olahraga ini. Saddam menilai, elemen ini memberi warna tersendiri dalam pengalaman tinggal di Inggris.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kenyamanan hidup sebagai seorang muslim di Inggris sebagai faktor lain yang membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah. Meski tinggal di negara non-muslim, Saddam merasa tetap bisa menjalankan ajaran agamanya dengan leluasa.

“Hal lain yang bikin nyaman adalah kemudahan menjalani hidup sebagai muslim. Di kota tempat saya tinggal, masjid lumayan banyak, toko halal gampang ditemukan, dan ada komunitas muslim yang aktif. Ini semua sangat membantu untuk tetap bisa menjalankan ibadah dengan tenang sambil kuliah,” tuturnya.

Dari sisi akademik, pengalaman belajar di Inggris memberikan nuansa yang sangat berbeda dibandingkan dengan atmosfer kampus di Indonesia. Saddam menekankan bahwa salah satu kekuatan pendidikan tinggi di Inggris terletak pada iklim akademik yang inklusif dan mendorong keterbukaan berpikir.

“Belajar di UK itu terasa banget bedanya. Suasana akademiknya lebih terbuka dan kritis,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya didorong untuk menghafal teori, tetapi juga untuk aktif berdialektika, menguji argumen, dan membangun kerangka berpikir yang mandiri. Di ruang-ruang diskusi, kesalahan bukanlah aib, melainkan bagian dari proses intelektual.

“Di kelas atau seminar, kita didorong untuk berani mengemukakan pendapat. Nggak ada istilah takut salah, yang penting argumen kita logis dan punya dasar. Salah saja tetap dapat pujian apalagi betul,” imbuhnya.

Saddam juga menyoroti pendekatan interdisipliner sebagai ciri khas lain dalam sistem pendidikan tinggi Inggris. Isu-isu kompleks seperti kemiskinan, katanya, tidak cukup dibedah hanya dari satu sudut pandang, melainkan perlu dianalisis dari berbagai perspektif agar lebih komprehensif.

“Pendekatannya juga lebih interdisipliner. Misalnya, ketika membahas isu kemiskinan, kita nggak cuma pakai pendekatan ekonomi, tapi juga sosial, politik, bahkan etika. Akses ke jurnal internasional sangat luas, dan banyak seminar atau konferensi yang bisa diikuti untuk memperluas wawasan,” paparnya.

Melalui pengalamannya, Saddam Rassanjani menjadi salah satu representasi dari generasi muda Indonesia yang tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga menjelajahi cakrawala baru dalam berpikir, berinteraksi, dan membentuk pemahaman lintas budaya. (XRQ)

Reporter: Akil

Begini Terobosan Pemerintah Aceh Mitigasi Agen Rumah Layak Huni

0
Ilustrasi. (Foto: Kolase)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menargetkan pembangunan 3.000 unit Rumah Layak Huni (RLH). Namun, karena adanya rasionalisasi anggaran serta berkurangnya dana otonomi khusus pada finalisasi APBA 2025, jumlah itu dikurangi menjadi 2.000 unit.

Langkah transparansi menjadi perhatian serius pemerintah. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh, T. Aznal Zahri, mengatakan pihaknya mengumumkan calon penerima RLH di media massa sebagai bagian dari proses verifikasi dan validasi oleh tim teknis lapangan.

“Ini kita lakukan agar terpenuhi aspek transparansi sekaligus langkah mitigasi masalah, termasuk pungli,” ujar T. Aznal Zahri, Minggu (25/5/2025).

Menurutnya, terobosan ini merupakan yang pertama sejak program pembangunan rumah layak huni dimulai di Aceh pada 2008. Tahap pertama, sebanyak 1.000 nama calon penerima diumumkan pada 11 Desember 2024. Sementara tahap kedua, juga sebanyak 1.000 unit, diumumkan melalui Pengumuman Nomor: 600.2.8/1152 tertanggal 30 Desember 2024.

Program RLH sendiri sudah berjalan di beberapa periode pemerintahan. Pada masa Irwandi–Nazar terbangun 10.843 unit rumah, Zaini–Mualem 9.812 unit rumah, dan Irwandi–Nova 16.734 unit rumah. Sedangkan selama masa tiga Pj Gubernur Aceh, tercatat 2.296 unit RLH dibangun.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem, bahkan meninjau langsung rumah calon penerima bantuan di Gampong Simpang Abail, Kecamatan Teupah Tengah, Simeulue, pada awal Maret lalu. Selain itu, Pemerintah Aceh juga telah mengajukan usulan 100 ribu unit RLH ke pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.

Terkait proses verifikasi, Dinas Perkim Aceh menegaskan larangan pungli. Calon penerima tidak diperbolehkan memberikan imbalan dalam bentuk apa pun selama proses verifikasi, validasi, hingga pelaksanaan pembangunan. Begitu juga petugas verifikasi, dilarang meminta atau menerima uang, barang, maupun fasilitas lainnya.

Tim teknis Dinas Perkim Aceh dibekali surat tugas resmi untuk melakukan verifikasi lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar penetapan calon penerima RLH melalui Keputusan Gubernur Aceh.

ASPRINDO Gandeng UNIDO Kembangkan Kampung Industri Perikanan di Kaltim

0
ASPRINDO Gandeng UNIDO Kembangkan Kampung Industri Perikanan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Jakarta — Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) resmi menyatakan kesiapannya untuk mengimplementasikan Global Quality and Standard Programme (GQSP) Indonesia Fase 2. Program ini bertujuan mendukung peningkatan produktivitas budidaya perikanan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, melalui model percontohan Kampung Industri.

Langkah strategis tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum ASPRINDO, Jose Rizal, dan National Chief Technical Advisor GQSP Indonesia, Sudari Pawiro. Proses penandatanganan berlangsung di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan RI pada Kamis, 22 Mei, dan turut disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Ditjen PDSPKP, Machmud, SP, MSc.

GQSP Indonesia Fase 2 merupakan kolaborasi antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai mitra utama. Selain itu, Badan Standardisasi Nasional (BSN) turut ambil bagian sebagai co-partner.

Menariknya, program ini merupakan bagian dari Global Quality and Standards Programme yang didanai oleh pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO). Pelaksanaannya dijadwalkan sejak 2024 hingga pertengahan 2026.

Kampung Industri merupakan program unggulan ASPRINDO yang ingin menciptakan kawasan berbasis ekosistem usaha terpadu. Kawasan tersebut dikelola mayoritas penduduk lokal bekerja sama dengan para pengusaha ASPRINDO. Seluruh proses, mulai dari produksi hingga produk akhir, dilakukan secara terintegrasi dengan prinsip pembagian manfaat secara adil.

“Karena ini adalah pilot project dengan target pasar global, tentu membutuhkan bimbingan khusus agar proyek ini mampu menerapkan international best practice dan nantinya bisa didiplikasi untuk wilayah lain,” terang Jose.

Adapun GQSP Indonesia Fase 2 dirancang untuk memperkuat akses pasar—baik domestik maupun internasional—dengan meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam rantai nilai perikanan budidaya. Program ini juga memperkuat prasarana mutu (quality infrastructures), membantu pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) agar mampu memenuhi standar yang berlaku, serta menumbuhkan kesadaran pentingnya mutu.

“Pada Kampung Industri ASPRINDO, tiga rantai nilai perikanan budidaya unggulan yang akan disasar, meliputi bididaya udang, bandeng, dan rumput laut. Pendampingan yang dilakukan GQSP mulai dari hulu yakni pada fase pembenihan dan budidaya, sampai pada hilir, yaitu pada fase pengolahan. Pelaku usaha ASPRINDO nantinya akan dilatih dan didampingi tenaga ahli untuk memahami cara-cara berproduksi yang baik, produktif, berkelanjutan, sehingga memenuhi syarat pasar global, termasuk di dalamnya sertifikasi,” papar Jose.

Dalam jangka panjang, ASPRINDO berharap model Kampung Industri ini bisa direplikasi ke wilayah lain yang memiliki potensi produk unggulan serupa. Terlebih, mengingat dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan, potensi sektor perikanan dinilai sangat besar namun belum tergarap maksimal.

“Saya bermimpi dan berusaha mewujudkan agar setiap DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) ASPRINDO di setiap provinsi memiliki Kampung Industri. Baik di bidang perikanan, pertanian/peternakan atau pariwisata. Mungkin dengan cara ini, ASPRINDO membantu anggotanya – pengusaha pribumi – naik kelas, sekaligus menjadi pengusaha yang kuat. Dan semoga kelak Program Kampung Industri menjadi legacy ASPRINDO untuk negeri ini,” pungkas Jose.

Editor: Akil