Safrizal Dorong Aceh Terapkan Paradigma Growth with Nature dalam Pembangunan

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal Zakaria Ali, menegaskan bahwa masa depan pembangunan Aceh harus dibangun dengan pendekatan yang selaras dengan alam, bukan dengan cara mengeksploitasinya.

Pesan tersebut disampaikan Safrizal dalam lokakarya bertajuk Growth with Nature yang digelar di The Pade Hotel, Senin (11/5/2026).

Dalam paparannya, Safrizal mengingatkan bahwa Aceh memiliki pengalaman pahit menghadapi bencana besar, mulai dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi sepanjang 2025. Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi dasar dalam merumuskan arah pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Ia menilai konsep Growth with Nature layak menjadi paradigma baru pembangunan Aceh. Kawasan Kawasan Ekosistem Leuser, kata dia, merupakan aset ekologis bernilai global yang memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi sangat besar setiap tahunnya. Karena itu, pelestarian hutan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan hambatan pembangunan.

Safrizal juga menyoroti kuatnya akar kearifan lokal masyarakat Aceh dalam menjaga keseimbangan alam. Ia mengutip Hadih Maja:

“Di bineh pasi ta pula aron, di dalam neuheun ta pula bangka…”

Ungkapan tersebut, menurutnya, menggambarkan pentingnya menjaga kawasan pesisir dan tambak agar masyarakat terlindungi dari ancaman air pasang.

Selain itu, Safrizal menyebut pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, dan Keujruen Blang sebagai bukti bahwa masyarakat Aceh telah menerapkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum konsep sustainability dikenal secara luas.

Untuk mewujudkan pembangunan hijau yang tangguh, ia mendorong sejumlah langkah konkret, mulai dari penguatan tata ruang berbasis mitigasi bencana, perlindungan kawasan konservasi, pengembangan proyek berbasis solusi alam, pemberdayaan masyarakat adat, hingga pembiayaan hijau yang melibatkan kerja sama lintas wilayah dan lintas sektor.

“Tidak cukup sama-sama bekerja, tetapi harus bekerja sama,” tegasnya.

Menurut Safrizal, kolaborasi menjadi kunci utama untuk menghadirkan pembangunan Aceh yang inklusif, tahan bencana, dan berkelanjutan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News