Beranda blog Halaman 388

Ketua DPP PDIP Sentil Gubernur Sumut dan Bupati Tapteng soal Klaim Empat Pulau Aceh

0
Politikus PDIP, Deddy Yevri Hanteru Sitorus. (Foto: Dok. DPR RI).

NUKILAN.ID | JAKARTA — Anggota Komisi II DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, mengingatkan Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution dan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu agar tidak menambah persoalan baru dengan mengklaim empat pulau di Aceh.

Menurutnya, anggaran yang dimiliki pemerintah daerah belum mampu mengelola wilayah tambahan tersebut.

Hal itu disampaikan Deddy melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Senin (9/6/2025). Ia mempertanyakan urgensi dari rencana pemindahan administrasi empat pulau tersebut.

“Apakah Sumut sudah mampu membiayai seluruh pembangunan di daerahnya?” tanya Deddy, sebagaimana dikutip Nukilan.id.

Ia menilai, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut yang hanya sekitar Rp13 triliun, pemerintah provinsi masih kesulitan dalam mengelola wilayah yang ada, termasuk Pulau Nias.

“Anda (lebih baik) besarkan Pulau Nias, Danau Toba. Itu yang harus dikerjakan, bukan bikin masalah baru klaim pulau segala macam, nanti Mentawai sekalian anda minta juga,” ujar Deddy.

Politikus PDIP ini juga menyentil Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, yang disebutnya tidak perlu ikut campur dalam urusan pemindahan wilayah tersebut. Ia mengingatkan bahwa Tapteng juga memiliki keterbatasan anggaran.

“Bupati Tapteng nggak usah ikut-ikutan, APBD anda juga kecil. Nambah empat pulau mau dapat apa? Saya kira semua harus kembali kepada akal sehat,” pungkasnya. (xrq)

Reporter: Akil

Deddy Sitorus Kritik Mendagri Terkait Pemindahan Empat Pulau dari Aceh ke Sumut

0
Deddy Sitorus Kritik Mendagri Terkait Pemindahan Empat Pulau dari Aceh ke Sumut. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, menyampaikan kritik keras terhadap keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian yang menetapkan pemindahan empat pulau dari wilayah Provinsi Aceh ke Sumatera Utara (Sumut).

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendagri Nomor 300.2.2-2138/2025, yang mencantumkan empat pulau—Pulau Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek—sebagai bagian dari wilayah administrasi Sumatera Utara.

Melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Senin (9/6/2025), Deddy mempertanyakan urgensi dari kebijakan penetapan empat pulau menjadi wilayah Sumatera Utara.

“Tidak ada urgensinya jika empat pulau itu langsung diputuskan menjadi milik Sumut tanpa melalui musyawarah bersama,” ujarnya, seperti dikutip Nukilan.id.

Deddy menyoroti berbagai aspek, mulai dari sejarah, kondisi sosial, hingga kemampuan fiskal Sumatera Utara yang menurutnya belum cukup untuk mengelola wilayah tambahan.

“Apakah Sumut sudah mampu membiayai seluruh pembangunan di daerahnya?” tanya Deddy.

Ia juga menyinggung kemampuan fiskal daerah tersebut, menyebutkan bahwa APBD Sumut sebesar Rp13 triliun belum mampu menjangkau daerah-daerah terpencil seperti Pulau Nias.

Dalam pernyataannya, Deddy juga menyarankan Gubernur Sumut, Bobby Nasution, agar lebih fokus pada pembangunan wilayah yang sudah ada.

“Anda besarkan dulu Pulau Nias, Danau Toba. Itu yang harus dikerjakan, bukan bikin masalah baru klaim pulau segala macam,” tegasnya.

Tak hanya itu, Deddy turut menyindir Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, agar tidak terlibat dalam polemik ini.

“Bupati Tapteng nggak usah ikut-ikutan, APBD anda juga kecil. Nambah empat pulau mau dapat apa?” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan yang menyangkut batas wilayah dan administrasi.

“Saya kira semua harus kembali kepada akal sehat,” tutup Deddy. (XRQ)

Reporter: Akil

Makam Teuku Tjoet Ali Terancam Abrasi, PRM Desak Pemerintah Bertindak

0
Ketua Umum Perhimpunan Rakyat Merdeka (PRM), Robi Annamal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Ketua Umum Perhimpunan Rakyat Merdeka (PRM), Robi Annamal, mengecam keras lambannya respons pemerintah terhadap ancaman abrasi yang menggerus situs makam pejuang Teuku Tjoet Ali di Gampong Suaq Bakung, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan.

Dalam keterangan persnya, Robi menyoroti pembangunan tanggul batu gajah yang dinilai tidak tuntas karena tidak tersambung hingga ke bagian hulu. Akibatnya, arus deras sungai langsung menghantam patahan tanggul dan terus mengikis tebing di sekitar makam.

Abrasi ini, menurut Robi, berpotensi menyeret makam mendekati aliran sungai. Bahkan, jika tidak segera ditangani, situs tersebut dikhawatirkan akan “berpindah ke tengah sungai.”

“Kita bicara tentang salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan Aceh terhadap kolonialisme. Ketika makamnya nyaris hilang ditelan abrasi dan pemerintah hanya diam, ini bukan hanya pengabaian, tapi pengkhianatan terhadap sejarah bangsa,” kata Robi.

Robi menilai pemerintah selama ini kurang serius dalam menjaga situs-situs sejarah, terutama yang berada di luar kota besar. Ia menekankan pentingnya pelestarian sejarah yang tidak diskriminatif dan bersifat menyeluruh.

Atas situasi ini, PRM menyampaikan tiga tuntutan utama:

  1. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan segera menetapkan makam Teuku Tjoet Ali sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi.

  2. Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan Kementerian PUPR diminta segera mengalokasikan dana tanggap darurat untuk pembangunan lanjutan tanggul penahan abrasi.

  3. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan diharapkan turun langsung ke lokasi untuk melakukan audit pelestarian situs sejarah di Aceh.

Selain itu, Robi juga menyerukan dukungan dari masyarakat sipil, akademisi, dan aktivis kebudayaan agar turut bersuara dan mendesak pemerintah bertindak cepat.

“Jangan tunggu makam ini hanyut baru kita pasang papan peringatan. Kita tidak butuh tugu peringatan kehancuran, kita butuh tindakan nyata hari ini,” tegas Robi.

Makam Teuku Tjoet Ali merupakan salah satu warisan sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme. Kini, situs tersebut berada di ambang kepunahan jika tidak segera diselamatkan.

Editor: Akil

Satlantas Polres Aceh Barat Lakukan Pengamanan di Tiga Pantai Wisata

0
Satlantas Polres Aceh Barat Lakukan Pengamanan di Tiga Pantai Wisata. (Foto; RRI)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Barat melakukan pengamanan dan pengaturan arus kendaraan di tiga lokasi wisata pantai saat libur panjang Iduladha 1446 Hijriah, Sabtu (7/6/2025).

Tiga destinasi wisata yang menjadi fokus pengamanan yakni Pantai Lhok Bubon, Pantai Suak Geudeubang, dan Pantai Suak Pante Breuh. Ketiganya merupakan tujuan favorit masyarakat untuk menghabiskan waktu libur, terutama pada momen hari besar keagamaan.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, S.I.K., M.I.K., melalui Kasat Lantas Iptu Yusrizal, S.E., menyampaikan bahwa pengamanan dilakukan untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan warga yang berkunjung ke kawasan wisata.

“Personel kami sudah dikerahkan sejak pagi untuk mengatur arus kendaraan dan membantu masyarakat di lokasi wisata. Sejauh ini, kegiatan berjalan aman, lancar, dan situasi terkendali,” ujar Iptu Yusrizal.

Ia menyebutkan, potensi kepadatan lalu lintas kerap terjadi pada masa libur panjang, sehingga kehadiran petugas di lapangan diperlukan guna mencegah kemacetan maupun kecelakaan.

“Selain melakukan pengaturan, kami juga memberikan imbauan kepada para pengendara untuk tetap mematuhi aturan lalu lintas dan menjaga keselamatan bersama,” tambahnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, arus kendaraan menuju dan dari ketiga pantai tersebut terpantau lancar tanpa adanya laporan kemacetan atau insiden selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan pengamanan ini menjadi bagian dari upaya preventif Polres Aceh Barat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat selama libur nasional dan keagamaan.

Editor: AKil

MAN 3 Aceh Besar Sembelih 6 Sapi dan 2 Kambing, 420 Paket Daging Dibagikan

0
MAN 3 Aceh Besar Sembelih 6 Sapi dan 2 Kambing, 420 Paket Daging Dibagikan. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | JANTHO — Keluarga besar MAN 3 Aceh Besar kembali melaksanakan ibadah qurban sebagai bentuk kepedulian sosial dan semangat berbagi. Tahun ini, sebanyak enam ekor sapi dan dua ekor kambing disembelih pada Minggu, 8 Juni 2025 atau bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1446 H, di halaman madrasah yang terletak di Jalan Banda Aceh–Medan, Simpang Krueng Jreu, Indrapuri, Aceh Besar.

Tradisi qurban ini rutin digelar setiap tahun dan melibatkan seluruh elemen madrasah, mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan. Proses penyembelihan hingga pembagian daging dikoordinasikan oleh panitia yang diketuai Sibran, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Humas.

Menurut Sibran, pelaksanaan qurban tahun ini berjalan dengan lancar. Sebanyak 42 shahibul qurban berpartisipasi, dan panitia berhasil menyalurkan 420 paket daging kepada para mustahik, termasuk siswa, guru, dan masyarakat sekitar.

Pelaksana Tugas Kepala MAN 3 Aceh Besar, Ismail, S.Pd.I., M.Ag., menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai, qurban bukan sekadar ibadah, melainkan juga sarana pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai sosial di lingkungan madrasah.

Distribusi daging dilakukan secara tertib dan merata kepada mustahik yang sebelumnya telah didata. Panitia juga memastikan kebersihan dan kelayakan konsumsi tetap terjaga selama proses berlangsung.

Melalui kegiatan ini, MAN 3 Aceh Besar tidak hanya menjalankan ibadah qurban, tetapi juga mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar sebagai bentuk nyata kepedulian sosial.

Editor: AKil

Drama Pelarian Napi Rutan Aceh Singkil Berakhir di Kebun Sawit

0
Drama Pelarian Napi Rutan Aceh Singkil Berakhir di Kebun Sawit. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | SINGKIL — Pelarian seorang narapidana yang kabur dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Aceh Singkil berakhir pada Minggu pagi, 8 Juni 2025. RJ, warga asal Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang tersandung kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), ditemukan dalam kondisi lemah di area kebun sawit milik warga di Desa Pea Bumbung, Kecamatan Singkil.

Penangkapan berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB. RJ tidak mampu melanjutkan pelariannya lantaran mengalami luka serius pada bagian kaki.

Menurut Awaluddin, warga setempat yang turut membantu penangkapan, RJ berada dalam kondisi memprihatinkan saat ditemukan.

“Ia ditangkap tanpa perlawanan. Selain karena kelaparan, kedua kakinya tampak tidak bisa berfungsi dengan baik, kemungkinan besar patah,” ujar Awaluddin.

Ia menambahkan bahwa tubuh RJ tampak penuh luka, terutama di bagian pinggang dan kaki. Luka tersebut diduga akibat terjatuh dari becak motor yang digunakan untuk melarikan diri.

Sebelumnya, keberadaan RJ sempat terpantau warga pada Sabtu malam. Namun pencarian belum membuahkan hasil hingga akhirnya pada Minggu pagi, tim gabungan dari petugas Rutan dan warga berhasil mengamankan yang bersangkutan setelah melakukan pengintaian intensif.

Karena kondisi fisik RJ yang lemah dan lokasi penemuan yang sulit dijangkau, proses evakuasi dilakukan dengan tandu sebelum dibawa ke fasilitas medis dan kemudian diamankan kembali ke Rutan Kelas IIB Aceh Singkil.

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya peningkatan pengawasan di dalam lingkungan Rutan, khususnya dalam situasi rawan pelarian.

Editor: Akil

Dua Anak Tenggelam di Pantai Ulee Rubek, Kini Dirawat di RSUCM Aceh Utara

0
Ilustrasi tenggelam. (Foto: Joglosemar)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Dua anak dilaporkan tenggelam saat berenang di Pantai Ulee Rubek, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (8/6/2025). Mereka adalah Ainasya Azahra (10), warga Desa Pante Gaki Bale, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, dan Kaisya (9), warga Desa Alue Rambong, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara.

Peristiwa terjadi saat keduanya berenang dan diduga lepas dari pengawasan keluarga. Kepala Seksi Humas Polres Aceh Utara, AKP Bambang, mengatakan dua nelayan yang kebetulan berada di lokasi, Abu Bakar (45) dan Saiful Azhar (40), melihat kejadian itu dan langsung memberikan pertolongan.

Kedua anak tersebut awalnya dibawa ke Puskesmas Seunuddon, sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara untuk perawatan lebih lanjut.

“Kami imbau orangtua untuk mengawasi anak-anaknya saat membawa mereka ke lokasi wisata,” ujar AKP Bambang.

Sementara itu, Humas RSUCM Aceh Utara, Harry Laksamana, menjelaskan bahwa keduanya sempat dirawat di ruang ICU karena mengalami sesak napas.

“Korban mengalami sesak napas, sehingga ditangani secara intensif. Sekarang mulai membaik kondisinya,” kata Harry. Ia menambahkan bahwa kedua anak masih dalam pemantauan dan menggunakan alat bantu oksigen, namun diperkirakan akan pulih dalam waktu dekat.

Editor: AKil

Cuaca Buruk, Pelayaran Sabang-Banda Aceh Dibatalkan

0
Cuaca Buruk, Pelayaran Sabang-Banda Aceh Dibatalkan. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | SABANG – Jadwal pelayaran kapal cepat rute Sabang–Banda Aceh pada Minggu (8/6/2025) terpaksa dibatalkan akibat cuaca buruk yang melanda perairan setempat.

Kepala Cabang PT Pelayaran Sakti Inti Makmur, Rudi, menyebutkan bahwa pembatalan dilakukan demi keselamatan penumpang menyusul kondisi gelombang tinggi dan angin kencang di wilayah perairan tersebut.

“Cuaca kurang bersahabat, ombak tinggi dan angin kencang. Demi keselamatan, jadwal ini kami hentikan,” ujar Rudi saat dikonfirmasi media.

Gelombang laut dilaporkan mencapai ketinggian hingga 2,5 meter, dengan jarak pandang yang sangat terbatas, yakni sekitar 15 meter. Situasi ini dinilai terlalu berisiko bagi pelayaran kapal cepat, termasuk untuk jadwal keberangkatan pukul 16.30 WIB dari Sabang yang akhirnya turut dibatalkan.

“Terkait jadwal keberangkatan selanjutnya, terutama untuk keberangkatan pukul 16.30 WIB dari Sabang, setelah kita memantau kondisi dan perkembangan cuaca di lapangan, tidak diberangkatkan juga,” jelas Rudi.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna mendapatkan informasi cuaca terbaru sebelum mengambil keputusan lanjutan.

“Untuk jadwal keberangkatan besok, semuanya tergantung dengan info update cuaca yang terbaru. Apabila cuaca aman dan tidak beresiko untuk keselamatan pelayaran, maka kapal cepat akan kita berangkatkan seperti jadwal pada hari biasanya,” tambahnya.

Rudi juga mengimbau penumpang untuk tetap memantau informasi resmi dari operator kapal maupun otoritas pelabuhan sebelum merencanakan perjalanan laut.

Kemenkum Aceh Salurkan Ratusan Paket Daging Kurban kepada Warga

0
Kemenkum Aceh Salurkan Ratusan Paket Daging Kurban kepada Warga. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Aceh menyalurkan ratusan paket daging kurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah. Sebanyak empat ekor sapi disembelih di kawasan Lubok Sukon, Aceh Besar, Minggu (8/6/2025).

Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan sebagai bentuk semangat berbagi di hari raya kurban. Tahun ini, pelaksanaan kurban dilakukan bersama jajaran Kanwil Kemenkum Aceh, Kanwil Ditjen Imigrasi Aceh, dan Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Aceh.

Ratusan paket daging hasil penyembelihan didistribusikan kepada para purnabakti, anak-anak di panti asuhan, anak didik pemasyarakatan, serta masyarakat kurang mampu di sekitar wilayah Aceh Besar.

Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, Meurah Budiman, hadir langsung dan menyerahkan secara simbolis paket daging kurban kepada salah satu purnabakti sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka.

“Idul Adha bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga momentum untuk menebarkan kepedulian. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa nilai keadilan sosial hadir hingga ke lapisan masyarakat yang paling bawah,” ujar Meurah.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antar sesama. Menurutnya, Kemenkumham Aceh berkomitmen menjadikan momentum Idul Adha sebagai ajang konsolidasi nilai kemanusiaan, bukan sekadar seremonial tahunan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan Kemenkum bukan hanya hadir dalam urusan hukum, tapi juga dalam kepedulian sosial,” kata dia.

Proses penyembelihan dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan oleh panitia kurban. Setelah dikemas dalam paket-paket, daging kurban langsung disalurkan kepada para penerima. Sejumlah pegawai turut membantu dalam proses pembagian, mencerminkan semangat kebersamaan di lingkungan Kemenkum Aceh.

Kilas Balik 9 Juni 1977: Toyota Kijang Resmi Diluncurkan

0

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pada 9 Juni 1977, sejarah besar dunia otomotif Indonesia tercipta di Ballroom Hotel Hilton Jakarta. Di hadapan Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, PT Toyota Astra Motor secara resmi meluncurkan Toyota Kijang. Kendaraan niaga sederhana ini kelak dikenal sebagai mobil keluarga legendaris di Indonesia.

Dilansir Nukilan.id dari artikel Gaikindo.or.id, peluncuran Kijang bukan sekadar memperkenalkan model baru. Lebih dari itu, Kijang lahir sebagai bagian dari program pemerintah yang dikenal dengan nama Basic Utility Vehicle (BUV). Program ini bertujuan mendorong terciptanya kendaraan multiguna dengan harga terjangkau, guna menunjang pembangunan dan mobilitas masyarakat, khususnya di daerah terpencil.

Awal Mula: Pikap Sederhana Bermesin Kecil

Dalam artikel berjudul Review Toyota Kijang 1977: Kijang Generasi Pertama Sang Pembesar Toyota Indonesia, disebutkan bahwa Kijang generasi pertama dikenal dengan sebutan “Kijang Buaya”. Julukan ini muncul karena kap mesinnya terbuka ke samping, menyerupai mulut buaya yang sedang menganga.

Mobil ini hadir dengan desain kotak, kapasitas tiga penumpang, dan dirancang sebagai kendaraan pikap ringan untuk keperluan angkut barang. Konsepnya sederhana, namun keberadaannya menjadi pondasi kuat bagi perkembangan Toyota di Indonesia hingga kini.

Di balik bodinya yang minimalis, Kijang generasi pertama (kode KF10) dibekali mesin bensin 4-silinder OHV seri 3K berkapasitas 1.166 cc (1.2 liter), dengan tenaga maksimum 48,5 Hp pada 6.000 rpm dan torsi maksimum 93,2 Nm pada 3.800 rpm.

Transmisinya manual 4 percepatan dengan penggerak roda belakang. Dimensinya pun terbilang ringkas: panjang 4.070 mm, lebar 1.550 mm, tinggi 1.760 mm, dengan tangki berkapasitas 50 liter.

Meskipun hanya diproduksi sebanyak 1.168 unit di tahun pertamanya, Toyota Kijang langsung mendapatkan sambutan positif. Tingkat kandungan lokal saat itu mencapai 19 persen—angka yang kemudian terus meningkat seiring perkembangan industri otomotif nasional.

Makna di Balik Nama “Kijang”

Yang menarik, nama “Kijang” bukan diambil dari hewan khas Indonesia, melainkan merupakan singkatan dari “Kerja Sama Indonesia Jepang”. Penamaan ini diperoleh melalui sayembara yang dimenangkan oleh Jusuf Kalla, CEO NV Hadji Kalla (kini PT Haji Kalla), salah satu mitra Toyota di Indonesia.

Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Ia mencerminkan semangat gotong royong lintas negara dalam membangun industri otomotif nasional yang mandiri, berdaya saing, dan berakar pada kebutuhan masyarakat Indonesia sendiri.

Tak butuh waktu lama bagi Toyota Kijang untuk bertransformasi dari kendaraan niaga menjadi mobil keluarga. Seiring perubahan kebutuhan pasar, desain dan teknologi Kijang pun berevolusi. Dari model pikap dan minibus sederhana, Kijang menjelma menjadi kendaraan keluarga serbaguna yang modern—hingga kini hadir dalam bentuk MPV premium seperti Kijang Innova.

Kijang telah mencatatkan diri sebagai salah satu model terlaris Toyota sepanjang masa di Indonesia. Ia bukan hanya simbol keberhasilan industri otomotif, tapi juga bagian dari sejarah sosial masyarakat Indonesia. Di setiap sudut kota dan desa, nama Kijang menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita perjalanan hidup keluarga Indonesia.

Hingga hari ini, warisan Toyota Kijang tetap hidup. Lebih dari sekadar kendaraan, ia menjadi simbol keandalan, efisiensi, dan kedekatan emosional dengan penggunanya. Tak berlebihan jika menyebut Kijang sebagai “mobil sejuta umat”—gelar yang pantas disematkan bukan karena angka penjualannya semata, tetapi karena makna historis dan sosial yang menyertainya. (XRQ)

Reporter: Akil