Beranda blog Halaman 249

Aceh Berstatus Waspada: BMKG Peringatkan Potensi Hujan Sedang hingga Lebat 5–7 Januari 2026

0
Ilustrasi Hujan. (foto: Shutterstock)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan peringatan dini cuaca yang berlaku selama tiga hari, terhitung mulai 5 hingga 7 Januari 2026. Dalam rilis tersebut, Provinsi Aceh kembali masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem, terutama hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Dihimpun Nukilan.id berdasarkan peta peringatan cuaca BMKG, Aceh berada pada level WASPADA untuk seluruh periode tersebut. Rinciannya, pada Senin (5/1/2026), Selasa (6/1/2026), dan Rabu (7/1/2026), wilayah Aceh diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Risiko Bencana dan Imbauan Kesiapsiagaan

BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat dipicu oleh tingginya curah hujan. Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain banjir, tanah longsor—khususnya di kawasan perbukitan dan lereng—pohon tumbang, serta kondisi jalan licin dan tergenang.

Untuk meminimalkan dampak, warga diminta melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan, seperti rutin memantau perkembangan cuaca melalui situs resmi BMKG maupun aplikasi InfoBMKG, membersihkan saluran air di lingkungan sekitar, serta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor apabila hujan lebat berlangsung dalam waktu lama.

BMKG menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

“Kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem. Jika Sobat melihat atau terdampak bencana di sekitar, mari bergotong royong dengan melaporkannya melalui bit.ly/laporbencabot,” demikian imbauan resmi dari BMKG.

Untuk mendapatkan informasi cuaca yang lebih rinci hingga tingkat kelurahan atau desa, masyarakat dapat mengakses layanan informasi pada laman resmi BMKG. (XRQ)

Reporter: Akil

Muswil PPP Aceh Didorong Hasilkan Program Nyata untuk Pemulihan Pascabencana

0
Ketua Umum DPP PPP Muhamad Mardiono secara resmi membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) X DPW PPP Aceh. (Foto: Dok.Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhamad Mardiono secara resmi membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) X DPW PPP Aceh yang digelar di Bireuen, Minggu (4/1/2025). Muswil kali ini dikemas dengan nuansa kepedulian terhadap masyarakat Aceh yang terdampak bencana serta diarahkan untuk melahirkan program konkret guna mempercepat pemulihan pascabencana.

“Muswil ini kami kemas sebagai bentuk kepedulian nyata PPP kepada masyarakat Aceh, khususnya saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah. Muswil dirangkai dengan doa bersama, pelepasan relawan, dan penyaluran bantuan,” ujar Mardiono.

Dalam keterangannya kepada Nukilanid, ia menegaskan Muswil bukan hanya forum konsolidasi organisasi, tetapi juga momentum empati dan keberpihakan partai terhadap rakyat. PPP, kata Mardiono, bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga terkait dalam penanganan bencana, sembari tetap menghadirkan kader-kadernya langsung di tengah masyarakat sebagai wujud tanggung jawab sosial dan politik.

“PPP bekerja sama dengan pemerintah serta lembaga dan badan yang ditunjuk dalam penanganan bencana. Namun demikian, kader-kader PPP juga tetap hadir langsung di tengah masyarakat sebagai wujud tanggung jawab sosial dan politik partai,” ungkapnya.

Mardiono berharap Muswil X DPW PPP Aceh melahirkan gagasan strategis yang tidak hanya menjadi masukan bagi pemerintah, tetapi juga dirumuskan sebagai program kerja partai, terutama dalam mempercepat proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.

“Muswil ini harus melahirkan gagasan dan program yang solutif. PPP ingin ikut berkontribusi aktif dalam mempercepat recovery pascabencana, sehingga masyarakat Aceh bisa segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Utara Lakukan Penanganan Mendesak Tanggul Krueng Keureuto di Lhoksukon

0
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Minggu (4/1/2026) melakukan penanganan darurat terhadap tanggul Sungai Krueng Keureuto yang mengalami pengikisan di Gampong Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon. (Foto/ Dok Pemda)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan penanganan darurat terhadap tanggul Sungai Krueng Keureuto yang mengalami pengikisan di Gampong Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon, Minggu (4/1/2026).

Langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi banjir susulan, menyusul meningkatnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Penanganan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, SE., MM, yang akrab disapa Ayahwa, agar dilakukan mitigasi dini di sejumlah titik rawan bencana.

Kepala Dinas PUPR Aceh Utara, Jaffar, ST, menjelaskan bahwa kondisi tanggul di kawasan tersebut tergolong kritis akibat tergerus arus deras Sungai Keureuto, sehingga membutuhkan penanganan segera.

“Bapak Bupati memerintahkan agar dilakukan pemetaan dan penanganan cepat pada titik-titik tanggul yang tergerus. Hari ini, alat berat sudah dikerahkan untuk menutup dan memperkuat bagian tanggul yang rusak di kawasan Lhoksukon,” ujar Jaffar.

Penanganan darurat difokuskan pada penguatan struktur tanggul dengan melakukan penimbunan tanah serta penambahan material pendukung lainnya untuk menahan laju arus sungai. Langkah ini diharapkan mampu mencegah luapan air yang berpotensi menggenangi kawasan permukiman warga di sekitarnya.

“Penguatan tanggul ini kita lakukan secara maksimal agar mampu menahan beban arus. Prioritas utama adalah memastikan air sungai tidak meluap ke kawasan permukiman masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sungai dan cuaca secara intensif. Masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai juga diimbau agar tetap waspada dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kerusakan tanggul atau peningkatan debit air secara signifikan.

TNI Salurkan 1.800 Paket Perlengkapan Sekolah untuk Anak Korban Banjir di Aceh

0
TNI mendistribusikan 1.800 paket peralatan sekolah kepada anak-anak korban banjir di wilayah Provinsi Aceh, Minggu (4/1/2026). (Foto: Puspen TNI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyalurkan sebanyak 1.800 paket peralatan sekolah kepada anak-anak korban banjir di sejumlah wilayah Provinsi Aceh, Minggu (4/1/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelangsungan pendidikan anak-anak di tengah situasi pascabencana.

Distribusi dilakukan secara bertahap di beberapa titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara.

“Paket bantuan berisi perlengkapan sekolah dasar yang dibutuhkan anak-anak agar tetap dapat belajar meskipun berada dalam kondisi darurat,” demikian keterangan pers Puspen TNI kepada SindoNews, Senin (5/1/2026).

Di Kabupaten Pidie Jaya, Kodim 0102/Pidie menyalurkan 836 paket ke dua lokasi pengungsian, yakni Masjid Attaqwa Desa Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, yang menampung 430 anak, serta Desa Pante Geulima, Kecamatan Meureudu, dengan jumlah penerima 406 anak. Seluruh paket di wilayah ini telah tersalurkan kepada anak-anak terdampak banjir.

Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, Kodim 0111/Bireuen mendistribusikan 452 paket bantuan kepada anak-anak di lokasi pengungsian Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan.

Adapun di Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 512 paket peralatan sekolah telah disiapkan untuk anak-anak di Desa Gedumbak, Kecamatan Langkahan. Penyaluran di wilayah ini dijadwalkan dilakukan keesokan harinya akibat kondisi cuaca yang masih diguyur hujan lebat.

Melalui kegiatan tersebut, TNI menegaskan kehadirannya tidak hanya sebagai garda pertahanan negara, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial dalam membantu masyarakat dan mendukung masa depan generasi muda. TNI menyatakan akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana serta memastikan kebutuhan dasar warga, khususnya anak-anak, dapat terpenuhi dengan baik.

Menhan Pimpin Rapat Persiapan Satgas Kuala di Aceh Tamiang

0
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) dan Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita (kanan) saat menggelar rapat koordinasi Satgas Kuala di Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (4/1/2026). (Foto: ANTARA/Ho-Istimewa)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memimpin rapat koordinasi persiapan pelaksanaan Satuan Tugas (Satgas) Kuala di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (4/1/2026). Rapat tersebut digelar guna memastikan kesiapan teknis dan operasional satgas dalam mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana.

Dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, disebutkan bahwa fokus utama rapat adalah sinkronisasi rencana teknis, kesiapan alat berat, dukungan logistik, serta integrasi program Satgas Kuala dengan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Wakil Panglima TNI, Staf Khusus Presiden Bidang Infrastruktur, Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kementerian Pertahanan, Pangdam Iskandar Muda, serta Bupati Aceh Tamiang. Rapat dilaksanakan di Kantor Desa Tangsi Lama, Kecamatan Seruway.

“Rapat ini difokuskan pada sinkronisasi rencana teknis, kesiapan alat berat, dukungan logistik, serta integrasi program Satgas Kuala dengan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” demikian bunyi siaran pers tersebut.

Dalam kesempatan itu, Sjafrie menegaskan bahwa pengerahan alat berat oleh Satgas Kuala direncanakan mulai dilakukan dalam dua pekan ke depan. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat proses normalisasi sungai dan muara yang terdampak bencana.

Ia menjelaskan bahwa normalisasi sungai memiliki peran penting dalam mempercepat pemulihan wilayah karena dapat meningkatkan ketersediaan pasokan air yang selanjutnya diolah menjadi air bersih bagi masyarakat.

Lebih jauh, Sjafrie menekankan bahwa keberadaan Satgas Kuala tidak hanya bertujuan untuk menormalisasi sungai, tetapi juga untuk mendukung pemulihan serta penguatan perekonomian masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan kawasan muara Tamiang.

Pemerintah Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh dan Sumatera, Anggaran Rekonstruksi Disiapkan Rp 51 Triliun

0
Tumpukan gelondongan kayu pasca bajir di Aceh Tamiang. (Foto: CNN INDONESIA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Indonesia dilanda duka besar di penghujung 2025 setelah banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana tersebut menghancurkan rumah warga, fasilitas umum, serta menelan banyak korban jiwa.

Berdasarkan data BNPB per Minggu, 4 Januari 2026, jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.177 orang.

“Kemarin rekapitulasi kita di-cut-off pukul 16.00 itu 1.167, hari ini bertambah 10 menjadi 1.177 jiwa meninggal dunia,” ujar Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Jumlah pengungsi tercatat 242.174 orang, sedangkan korban hilang sebanyak 148 orang, dengan rincian Aceh 31 orang, Sumut 43 orang, dan Sumbar 74 orang.

Presiden Prabowo Subianto telah beberapa kali meninjau langsung lokasi terdampak. Saat Sidang Kabinet Paripurna pada 15 Desember 2025, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah.

“Kita berdoa saudara-saudara kita segera bisa pulih dan kita bekerja keras untuk memulihkan keadaan sehingga rekonstruksi dan rehabilitasi bisa segera dimulai,” kata Presiden Prabowo.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah telah mencairkan dana awal sebesar Rp 268 miliar melalui Dana Kemasyarakatan Presiden.

“Ini program Pak Presiden, Rp 4 miliar per kabupaten atau kota. Itu sudah dicairkan semua,” ungkap Purbaya.

Selain itu, pemerintah menyiapkan dana siap pakai bencana Rp 1,51 triliun untuk digunakan BNPB, serta mengalokasikan Rp 51 triliun dalam APBN 2026 untuk rekonstruksi wilayah terdampak, ditambah DAK Rp 1,63 triliun.

Dalam percepatan pemulihan infrastruktur, pemerintah fokus pada perbaikan jalan, jembatan, listrik, dan fasilitas pendidikan. BNPB menargetkan pemulihan akses lintas provinsi hingga desa sepanjang 2026, sekaligus mengurangi risiko bencana susulan melalui normalisasi sungai.

Di sektor perumahan, pemerintah menyiapkan hunian sementara dan bantuan perbaikan rumah. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan skema bantuan untuk korban.

“Konsep utamanya untuk yang ringan dan sedang ini akan diberikan biaya dukungan sebanyak Rp15 juta untuk yang ringan, yang sedang Rp30 juta,” ujar Tito.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan tambahan berupa perabot Rp 3 juta per keluarga, bantuan ekonomi Rp 5 juta, serta bantuan lauk pauk Rp 15.000 per hari selama tiga bulan bagi keluarga terdampak.

Bupati Aceh Utara Pastikan Ratusan Sekolah Terdampak Banjir Mulai Aktif Belajar 5 Januari

0
Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil, SE, MM. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mempercepat pembersihan lumpur di sekolah dan fasilitas umum pascabanjir agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan pada awal semester. Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa memastikan sebanyak 516 sekolah terdampak banjir kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar mulai Senin (5/1/2026).

Proses pembersihan melibatkan masyarakat, relawan, TNI/Polri, serta Aparatur Sipil Negara (ASN). Langkah tersebut dilakukan seiring dimulainya tahun ajaran baru.

“Saya pastikan 516 sekolah berbagai jenjang pendidikan terdampak banjir sudah mulai belajar. Ini sesuai dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) RI,” ujar Ayahwa dlam keterangannya kepada Nukilan.id, Minggu (4/1/2026).

Dari total sekolah tersebut, 345 sekolah dapat melaksanakan pembelajaran secara normal, 242 sekolah melaksanakan pembelajaran dengan sistem lesehan, tiga sekolah menggunakan tenda darurat, 20 sekolah menjalankan sistem belajar bergantian, dan lima sekolah melakukan kunjungan belajar ke lokasi pengungsian.

Untuk menunjang kegiatan belajar, pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kebutuhan perlengkapan sekolah bagi para siswa.

“Kita butuh 73 ribu perlegkapan sekolah (seragam, sepatu, tas, buku),” kata Ayahwa.

Ia juga menjelaskan bahwa sebanyak 345 sekolah menggunakan kurikulum reguler, sementara sisanya menerapkan kurikulum darurat.

“Kurikulum darurat artinya, guru dan peserta didik boleh datang ke sekolah tanpa seragam, gunakan pakaian sehari-hari dan boleh juga pakai sandal,” jelasnya.

Ayahwa turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara.

“Terima kasih pada semua pihak atas dukungan selama banjir di Kabupaten Aceh Utara. Semua kerja keras itu tentu sangat membantu meringankan beban rakyat Aceh Utara,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Cegah Penyebaran Campak dan TBC Pascabanjir, Dinkes Aceh Kerahkan Tim Vaksinasi ke Wilayah Terdampak

0
Tim Vaksinasi dan Tim Inventaris Alkes yang rusak akibat banjir, yang dilepas oleh Plt Kadinkes Aceh, Ferdiyus, SKM, M.Kes. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dinas Kesehatan Aceh menurunkan tim vaksinasi ke sejumlah daerah terdampak banjir dan longsor mulai Minggu (4/1/2026) sebagai upaya mengantisipasi penyebaran penyakit menular, khususnya campak dan tuberkulosis (TBC).

Vaksinasi tambahan ini menyasar anak usia 9–59 bulan atau balita berusia 9 bulan hingga 5 tahun, terutama di lokasi pengungsian yang memiliki risiko tinggi penularan akibat kepadatan dan keterbatasan sarana sanitasi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, kepada Nukilan.id menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah mencegah meluasnya penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.

“Besok kita akan turunkan Tim untuk vaksinasi untuk mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi, sehingga tidak menjadi penularan yang lebih besar lagi, seperti Campak TBC”, jelas Ferdiyus.

Ia menambahkan, kondisi pengungsian yang padat membuat anak-anak sangat rentan tertular penyakit menular, terutama campak yang mudah menyebar di kerumunan. Anak-anak juga sulit dibatasi aktivitasnya di dalam tenda pengungsian.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, memastikan bahwa imunisasi tambahan akan dimulai pada Senin (5/1/2026).

“Mulai 5 Januari ini kita akan melakukan imunisasi tambahan kepada anak usia 9-59 bulan, atau anak usia 9 bulan sampai dengan usia 5 tahun untuk mendapatkan kekebalan, karena sudah mendapatkan kasus Campak di Aceh Tamiang, Aceh Utara, di Pidie, di Bireuen, dan juga di Pidie Jaya, sehingga sehingga kita perlu melaksanakan imunisasi tambahan tersebut agar penularannya tidak semakin meluas”, jelas dr. Iman.

Selain tim vaksinasi, Dinas Kesehatan Aceh juga menurunkan tim perbaikan dan inventarisasi alat kesehatan. Dua tim tersebut diberangkatkan dalam kegiatan pelepasan resmi yang dipimpin Ferdiyus di halaman Dinkes Aceh pada Minggu pagi (4/1/2026).

Ferdiyus menjelaskan bahwa pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri memprioritaskan penanganan dampak kesehatan pascabencana di tujuh wilayah, yakni Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Meski demikian, pihaknya juga menaruh perhatian pada daerah lain yang terdampak, seperti Aceh Singkil.

Ia juga meminta seluruh tim yang turun ke lapangan agar mengumpulkan data penderita TBC secara detail dan akurat.

“Kami berharap tim bisa membawa pulang data yang valid, by name by address hingga tingkat gampong. Data ini penting agar dapat digunakan pada saat pelaksanaan vaksinasi berikutnya data yang didapat sudah benar-benar tepat sasaran,” tegas Ferdiyus.

Pemerintah Aceh bersama tenaga kesehatan terus memperkuat pemantauan kesehatan, pelayanan medis di posko pengungsian, serta edukasi kepada masyarakat untuk menekan potensi penyebaran penyakit menular di wilayah terdampak bencana. (xrq)

Reporter: Akil

Target 15 Ribu Unit dalam Tiga Bulan, Presiden Prabowo Tinjau Proyek Hunian Danantara di Aceh Tamiang

0
Presiden RI Prabowo Subianto meninjau progres pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). (ist)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Presiden Prabowo Subianto melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan rumah hunian Danantara di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Kamis, 1 Januari 2026. Kunjungan ini dilakukan guna memastikan percepatan penyediaan hunian layak bagi masyarakat terdampak bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.

Setibanya di lokasi, Presiden meninjau salah satu unit rumah berukuran 4,5 × 4,5 meter yang telah dilengkapi berbagai fasilitas dasar penunjang kenyamanan penghuni, mulai dari tempat tidur, kipas angin, lemari, akses jaringan internet, hingga sambungan listrik.

Hunian Danantara dirancang sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak bagi warga terdampak selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan. Penyediaan hunian ini menjadi prioritas pemerintah agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih stabil.

Pembangunan hunian di Aceh Tamiang sendiri telah dimulai sejak 24 Desember 2025. Pada tahap awal, sebanyak 600 unit rumah dibangun di Kampung Simpang 4, Kecamatan Karang Baru.

Secara keseluruhan, pemerintah melalui Danantara menargetkan pembangunan hingga 15.000 unit rumah dalam waktu tiga bulan di berbagai wilayah terdampak bencana, meliputi Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Program ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Selain fasilitas dasar di dalam rumah, kawasan hunian Danantara juga dilengkapi berbagai fasilitas komunal, seperti dapur bersama, toilet, taman bermain anak, serta musala yang berfungsi sebagai ruang ibadah dan interaksi sosial warga.

Pembangunan tahap pertama hunian Danantara merupakan hasil kolaborasi tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang mencerminkan komitmen pemerintah dan BUMN dalam menghadirkan solusi cepat serta berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah.

UGM Bangun 100 Huntara di Aceh Utara, Warga Dibekali Keterampilan Konstruksi

0
UGM Bangun 100 Huntara di Aceh Utara. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus berkontribusi dalam upaya pemulihan pascabanjir di Sumatra, salah satunya melalui pembangunan 100 unit hunian sementara (huntara) di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan pemberdayaan, menempatkan warga sebagai pelaku utama pembangunan dengan pendampingan keilmuan dari kampus.

Sebagai bagian dari program tersebut, UGM menggelar pelatihan keterampilan konstruksi bagi warga pada 31 Desember 2025, melibatkan tim ahli konstruksi dan kebencanaan dari Tim Tangguh Fakultas Teknik UGM. Kegiatan ini diikuti oleh 14 peserta dari Desa Geudumbak dan wilayah sekitar.

Ketua Tim Tangguh FT UGM, Ashar Saputra, Ph.D., menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar warga menguasai keterampilan konstruksi kayu sesuai desain hunian yang dikembangkan UGM.

“Kami berangkat dari Yogyakarta dan langsung mendampingi pelatihan agar warga siap membangun hunian ini bersama-sama,” ujarnya, Jumat (2/1).

Desain huntara mengusung konsep konstruksi sederhana agar mudah dipahami dan direplikasi. Tim UGM membimbing warga membangun rumah papan berukuran 6×6 meter yang dapat diselesaikan dalam waktu relatif cepat sehingga mempercepat penyediaan hunian bagi penyintas banjir.

“Kami melihat warga sangat cepat memahami teknologi konstruksi yang kami perkenalkan,” kata Ashar.

Dalam pelaksanaannya, pembangunan di lapangan menghadapi sejumlah kendala nonteknis, seperti keterbatasan listrik, air bersih, serta kondisi jalan yang berlumpur akibat hujan. Meski demikian, proses pendampingan tetap berjalan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia.

“Di lokasi ini tantangan utamanya memang listrik, air bersih, dan akses, tapi itu masih bisa kami atasi bersama warga,” tuturnya.

Antusiasme warga menjadi faktor penting dalam kelancaran pembangunan. Mereka terlibat aktif dalam setiap tahapan pekerjaan sehingga mempercepat proses sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap hunian yang dibangun.

“Warga sangat bersemangat karena mereka bisa ikut membangun rumahnya sendiri dan melihat hasilnya secara langsung,” ujar Ashar.

Program ini juga didukung oleh kolaborasi dengan Rumah Zakat, yang membantu pendanaan serta fasilitasi kebutuhan dasar selama proses pembangunan. Perwakilan Rumah Zakat, Ar Razi Izzatul Yazid, menyebut sinergi tersebut memungkinkan pendekatan keilmuan dari UGM diterapkan secara efektif di lapangan.

“Kami menyiapkan genset serta mengupayakan sumur dan toren air agar pembangunan huntara dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Selain menyediakan hunian, kolaborasi ini turut mendorong peningkatan kapasitas warga melalui transfer pengetahuan konstruksi yang bermanfaat dalam jangka panjang.

“Bagi warga di sini, ini menjadi wawasan baru bahwa dengan papan pun bisa membangun rumah yang kuat dan layak,” ungkap Yazid.

Keberadaan huntara memberi dampak signifikan bagi penyintas banjir dalam fase pemulihan. Warga dapat kembali tinggal dengan aman dan nyaman, menjaga privasi keluarga, sekaligus membuka peluang pemulihan ekonomi lokal.

“Warga sangat bersyukur karena bisa kembali memiliki hunian yang aman dan melanjutkan penghidupan mereka setelah bencana,” pungkas Yazid.