Beranda blog Halaman 223

PPIH Aceh: Satu Lagi Jemaah Haji Wafat di Mekkah

0
Satu Lagi Jemaah Haji Aceh Wafat di Makkah. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | MEKKAH – Kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Seorang jemaah haji asal Aceh, Burhanuddin (67), yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-03, meninggal dunia di Makkah, Arab Saudi, pada Sabtu malam, 31 Mei 2025, pukul 22.35 waktu setempat.

Informasi mengenai wafatnya almarhum disampaikan langsung oleh Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari. Ia menerima kabar tersebut dari Ketua Kloter 3, Syahri Ramadhan, melalui pesan daring.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiun, telah berpulang ke rahmatullah jemaah haji BTJ-03, Burhanuddin Bin Muhammad Bin Muhammad Budiman, alamat Atuek Deah Teungoh kota Banda Aceh,” tulis Syahri kepada Azhari.

Menurut Azhari, berdasarkan sertifikat kematian (Certificate of Death/CoD), almarhum mengalami penyakit jantung iskemik. Selain itu, ia juga memiliki riwayat diabetes melitus.

Lebih lanjut, Azhari menjelaskan bahwa almarhum sudah mulai merasakan nyeri dada sejak 27 Mei lalu. Meski telah mendapatkan penanganan medis, nyawanya tak terselamatkan.

“Menurut tim kesehatan di sana, almarhum sudah mulai merasakan nyeri dada sejak 27 Mei. Beliau wafat di Saudi National Hospital Abeer. Semoga almarhum diampuni segala dosa dan ditempatkan disisiNya bersama anbiya dan shalihin,” ujar Azhari.

Meskipun berpulang di negeri orang, fardhu kifayah untuk almarhum telah ditunaikan dengan baik. Ketua Kloter 3, Syahri Ramadhan, memastikan seluruh proses dilakukan sesuai syariat.

“Alhamdulillah shalat jenazah dilaksanakan di Masjidil Haram dan almarhum sudah dimakamkan di pemakaman Syaraya,” kata Syahri.

Dengan wafatnya Burhanuddin, tercatat sudah dua jemaah haji asal Aceh yang meninggal dunia di Arab Saudi pada musim haji tahun ini. Sebelumnya, Rusli Sulaiman (62), jemaah dari kloter 8, wafat pada Senin, 26 Mei 2025, pukul 13.30 waktu setempat.

Pihak PPIH Embarkasi Aceh berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah. Musim haji memang menjadi ujian fisik dan mental, terutama bagi jemaah lanjut usia dengan riwayat penyakit bawaan.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan kekuatan, serta semua jemaah lainnya diberikan kesehatan hingga dapat menyelesaikan rangkaian ibadah dengan lancar.

Editor: Akil

Wakil Gubernur Aceh Hadiri Penyaluran Dana Wakaf Habib Bugak di Mekkah

0
Wakil Gubernur Aceh Hadiri Penyaluran Dana Wakaf Habib Bugak di Mekkah. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | MEKKAH – Suasana khidmat menyelimuti Mushalla Hotel 910 Misfalah, Mekkah, Sabtu (31/5/2025) sore waktu Arab Saudi. Di tempat itulah berlangsung momen penting: penyaluran dana wakaf Habib Bugak kepada jamaah calon haji asal Aceh, khususnya kloter BTJ 12.

Wakil Gubernur Aceh, H Fadlullah SE, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia tampak berdampingan dengan Staf Ahli Menteri Agama, Dr H Faisal Ali Hasyim SE MSi CA CSEP, serta tim nazir wakaf yang dipimpin oleh Dr Abdul Latief Muhammad Balthu, atau yang dikenal dengan nama Syaikh Balto.

Wakaf yang Terus Memberi Manfaat

Dalam sambutannya, Fadlullah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pengelolaan dana wakaf Habib Bugak yang dinilainya sangat bermanfaat.

“Alhamdulillah, wakaf ini dikelola dengan amanah sehingga maslahatnya dirasakan masyarakat Aceh, terutama jamaah haji. Saya juga sangat senang atas undangan Pemerintah Aceh, insyaallah saya akan menghadirinya,” ujarnya.

Dana wakaf tersebut, sebagaimana diketahui, telah menjadi bentuk nyata keberlanjutan semangat filantropi ulama Aceh tempo dulu. Bahkan, hingga kini manfaatnya tetap dirasakan oleh jamaah haji Aceh yang sedang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci.

Doa dan Harapan untuk Jamaah Haji Aceh

Sebelum prosesi penyaluran dana dimulai, suasana khusyuk tercipta saat Syaikh Balto memimpin doa.

“Semoga Allah mengumpulkan kita di surga, sebagaimana kita dikumpulkan di tempat ini,” ucapnya, menutup sesi pembukaan.

Tak hanya jamaah kloter BTJ 12 yang menerima manfaat. Dana wakaf Habib Bugak juga turut disalurkan kepada petugas haji non-kloter asal Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa keberkahan wakaf tak dibatasi oleh kloter maupun posisi.

Penyerahan Cenderamata Penuh Kehangatan

Sebagai penutup acara, Wakil Gubernur Aceh menyerahkan cenderamata secara simbolis kepada Syaikh Balto. Momen tersebut turut disaksikan oleh Dr Faisal Ali Hasyim dan seluruh peserta yang hadir, termasuk para petugas haji dari Aceh.

Kehadiran para tokoh penting ini tak hanya mempererat hubungan spiritual antara Aceh dan Mekkah, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah Aceh dalam menjaga warisan wakaf ulama.

Editor: Akil

Plt Sekda Aceh: Pancasila adalah Jiwa Bangsa, Bukan Sekadar Simbol

0
Plt Sekda Aceh saat upacara peringatan hari lahir Pancasila. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pancasila bukan hanya deretan kalimat dalam naskah sejarah. Lebih dari itu, Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia. Ia menjadi bintang penuntun dalam perjalanan menuju cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, saat bertindak sebagai Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Gubernur Aceh, Minggu (1/6/2025) pagi. Dalam kesempatan itu, ia membacakan pidato resmi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi.

“Hari ini, kita kembali memperingati momentum yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Hari Lahir Pancasila bukan sekedar mengenang rumusan dasar negara, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar M Nasir.

Pancasila, Rumah Besar Keberagaman

Melalui pidato tersebut, M Nasir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merenungkan bahwa Pancasila adalah rumah besar bagi keberagaman. Di dalamnya, terangkum nilai-nilai yang mampu menyatukan lebih dari 270 juta jiwa dengan latar belakang budaya, agama, ras, dan bahasa yang berbeda-beda.

“Dalam Pancasila, kita belajar bahwa kebinekaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Dari sila pertama hingga sila kelima, terkandung prinsip-prinsip yang menuntun kita membangun bangsa dengan semangat gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” kata Plt Sekda.

Asta Cita: Pancasila sebagai Agenda Prioritas

Dalam konteks pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah telah menetapkan delapan agenda prioritas nasional atau Asta Cita. Salah satu yang paling fundamental adalah memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia.

M Nasir mengingatkan bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan rapuh. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan teknologi harus berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.

“Ini menjadi prioritas karena kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” ungkap M Nasir.

Menjawab Tantangan Zaman: Revitalisasi Pancasila

Plt Sekda juga mengingatkan bahwa tantangan terhadap ideologi Pancasila semakin nyata, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Menurutnya, ekstremisme, intoleransi, dan disinformasi kini menjadi ancaman serius terhadap kohesi sosial.

“Dalam dunia pendidikan, kita perlu menanamkan Pancasila sejak dini, bukan sekadar dalam pelajaran formal, tetapi dalam praktik keseharian. Sekolah dan universitas harus menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara karakter, dan kuat dalam integritas moral,” ujar M Nasir berpesan.

Pancasila dalam Kebijakan Publik dan Ekonomi

Tak hanya dalam dunia pendidikan, nilai-nilai Pancasila juga perlu dihadirkan secara nyata di pemerintahan. Plt Sekda berharap pelayanan publik dilakukan secara adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.

“Di bidang ekonomi, kita perlu memastikan bahwa pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi menjadi berkah bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial, sebagaimana termaktub dalam sila kelima, harus menjadi orientasi utama. UMKM, ekonomi kerakyatan, dan koperasi harus terus diberdayakan agar tidak ada warga yang tertinggal dalam kemajuan bangsa,” ucap M Nasir.

Literasi Digital dengan Semangat Pancasila

Plt Sekda juga menyoroti pentingnya menjaga nilai dalam ruang digital. Menurutnya, etika dan toleransi harus tetap menjadi fondasi dalam berinteraksi secara daring.

“Pancasila harus menjadi panduan dalam berinteraksi di media sosial maupun platform digital lainnya. Mari kita perangi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi dengan literasi digital dan semangat gotong royong,” kata M Nasir.

Menanamkan, Menjalankan, dan Menghidupi

Dalam upaya membumikan Pancasila, BPIP telah menjalankan berbagai program strategis. Di antaranya pelatihan bagi ASN, penguatan kurikulum Pancasila, hingga kolaborasi lintas sektor.

“Semua ini bertujuan agar Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupi dan dijalankan dalam tindakan nyata. Namun, tugas ini tentu tidak bisa dijalankan sendiri. Kita semua, seluruh elemen bangsa, dari pusat hingga daerah, dari pejabat hingga masyarakat, dari tokoh agama hingga pemuda, memiliki peran untuk menjadi pelaku utama pembumian Pancasila,” sebut M Nasir.

Momentum Bukan Sekadar Seremonial

Plt Sekda mengajak masyarakat agar peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan. Ia ingin momentum ini menjadi pemantik semangat untuk menanamkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Raya, maka tidak ada jalan lain selain memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi jiwa dalam setiap denyut nadi pembangunan. Marilah kita terus bergotong royong, menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan. Jadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, berbangsa, dan bernegara,” pungkas Plt Sekda Aceh.

Upacara peringatan ini turut dihadiri oleh para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), aparatur sipil negara, serta tamu undangan lainnya. Suasana upacara berlangsung khidmat dan penuh makna, menandai tekad bersama untuk menjaga Pancasila sebagai pijakan utama dalam membangun masa depan Indonesia.

Editor: Akil

Kentaro Ogawa: Kaya Raya Berkat Semangkuk Nasi Daging Sapi

0
Kentaro Ogawa. (Foto: Forbes)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tak selamanya makanan tradisional harus berada di bawah bayang-bayang sajian modern. Bahkan, dalam beberapa kasus, kuliner klasik justru mampu menyingkirkan dominasi makanan cepat saji global. Itulah yang terjadi pada Kentaro Ogawa.

Lewat seporsi gyudon—nasi hangat berisi daging sapi ala Jepang—Ogawa membuktikan bahwa kekayaan bisa diraih dari sesuatu yang sederhana.

Dari Demonstran ke Pengusaha

Kentaro Ogawa bukan berasal dari keluarga konglomerat. Ia lahir pada 29 Juli 1948 di Jepang. Saat muda, Ogawa tercatat kuliah di Universitas Tokyo pada era 1960-an. Di masa itu, ia dikenal sebagai mahasiswa kritis yang aktif berorganisasi.

Namun, pandangan ideologis yang tajam membuatnya meninggalkan kampus terbaik di Jepang. Setelah itu, ia bekerja sebagai buruh galangan kapal dan aktif dalam serikat pekerja. Tetapi, pekerjaan tersebut tak bertahan lama.

Perjalanan hidupnya berubah saat ia bekerja di Yoshinoya, restoran cepat saji yang populer di Jepang. Dari pengalaman itu, Ogawa melihat peluang besar di dunia kuliner.

Mendirikan Zensho dengan Modal Terbatas

Dalam waktu lima tahun, Ogawa mengambil langkah berani. Ia keluar dari Yoshinoya dan mendirikan usaha sendiri. Bermodal 5 juta yen, ia membangun Zensho—perusahaan jasa makanan yang bermarkas di Prefektur Kanagawa.

Mimpinya sederhana namun besar: menciptakan infrastruktur pangan yang menjamin makanan aman dan terjangkau untuk semua orang.

Tak hanya itu, ia juga membawa dua misi besar. “Menciptakan dunia yang bebas dari kelaparan dan kemiskinan serta menjadi perusahaan makanan terkemuka di dunia.”

Menu pertama yang ditawarkan adalah bento, kotak makan siang khas Jepang. Usahanya berkembang cepat. Hanya empat bulan setelah didirikan, Ogawa membuka restoran Sukiya di Yokohama.

Menyaingi Raksasa, Menguasai Pasar

Restoran Sukiya menjadi titik balik. Menu gyudon yang murah dan cepat menjadi primadona. Hanya dalam waktu lima tahun, pangsa pasar gyudon Zensho melesat ke angka 67 persen—mengalahkan Yoshinoya dan Matsuya.

Meski sukses besar di Jepang, Ogawa tak lantas berpuas diri. Ia menyadari bahwa profil demografi Jepang yang menua bisa menghambat pertumbuhan.

Karena itu, ia mulai melirik pasar internasional.

Ekspansi ke Mancanegara

Ekspansi dimulai ke Tiongkok. Awalnya, Zensho hanya memiliki 13 gerai Sukiya. Jumlah itu jauh di bawah Yoshinoya yang sudah memiliki lebih dari 250 gerai di Tiongkok dan Hong Kong.

Namun, Ogawa tak berhenti di sana. Ia terus melebarkan sayap ke Amerika Serikat dan Brasil. Sepanjang tahun 1990-an hingga 2000-an, ekspansi dilakukan secara agresif.

Zensho tak hanya fokus pada gyudon. Mereka juga mengakuisisi dan meluncurkan berbagai merek restoran lain. Beberapa di antaranya adalah Coco’s Japan, Big Boy, Nakau (udon dan mangkuk nasi), Hanaya Yohei (sushi), dan Jolly-Pasta.

Dengan strategi ini, Ogawa ingin meningkatkan porsi penjualan dari luar negeri menjadi 20 persen dalam lima hingga sepuluh tahun. Impian itu kini menjadi kenyataan.

Mengalahkan McDonald’s di Jepang

Pada 2017, Sukiya semakin bersinar. Rantai restoran 24 jam ini menawarkan gyudon seharga hanya US$3 per porsi. Popularitasnya melonjak tajam.

Berkat performa tersebut, Zensho berhasil mencetak pendapatan tahunan sekitar US$4,7 miliar—angka yang bahkan mengalahkan pendapatan McDonald’s di Jepang.

Tiga bulan pertama tahun 2025 mencatatkan prestasi baru. Penjualan Zensho melonjak 17,7 persen menjadi 1,136 triliun yen. Untuk pertama kalinya, perusahaan makanan di Jepang mencatatkan penjualan lebih dari 1 triliun yen.

Hartanya Tembus Rp57 Triliun

Capaian bisnis yang luar biasa ini membuat Ogawa masuk dalam jajaran orang terkaya di Jepang. Forbes mencatat bahwa Ogawa memiliki kekayaan mencapai US$3,5 miliar atau setara Rp57,02 triliun (kurs Rp16.294 per dolar AS).

Dengan kekayaan sebesar itu, ia duduk di posisi ke-14 sebagai orang paling tajir di Jepang.

Editor: Akil

Seminar Nasional Grapensi Angkat Deeplearning, Kacabdin Bireuen Tuai Apresiasi

0
Kacabdin Bireuen Gelar Seminar Nasional Grapensi Angkat Deeplearning. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru di era pendidikan berbasis karakter, Grapensi menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk The Power of Teaching dengan tema “Menjadi Guru Berpengaruh dan Inspiratif dengan Pendekatan Deeplearning”. Kegiatan ini berlangsung sejak 31 Mei hingga 1 Juni 2025, bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen. Seminar diselenggarakan di Aula Universitas Islam Aceh.

Dihadiri Narasumber Nasional

Seminar ini menghadirkan para pembicara nasional yang berpengalaman di bidang pendidikan. Mereka adalah Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd. (Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia), Saad Budiman Lubis, S.Pd.I., M.M. (Motivator Nasional), serta Dr. Erwin Yunaz, S.E., M.M. (Penggerak Sekolah Vokasi Nasional).

Kehadiran ketiga tokoh ini menjadi magnet tersendiri bagi ratusan peserta. Para guru yang datang dari berbagai wilayah Bireuen tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Apresiasi untuk Kacabdin Bireuen

Dalam sambutannya, Dr. Azaki Khoirudin memberikan apresiasi khusus kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, seminar ini merupakan bentuk nyata dari respons cepat terhadap kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Mu’ti, yang sedang mendorong pendekatan deeplearning dalam proses belajar-mengajar.

“Pendekatan deeplearning sangat relevan dalam upaya mencapai delapan profil lulusan yang menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional,” ujar Azaki.

Apresiasi senada juga datang dari Saad Budiman Lubis, yang dikenal sebagai motivator nasional sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Grapensi.

“Abdul Hamid merupakan sosok kepala cabang dinas yang visioner dan selangkah lebih maju dibandingkan daerah lain dalam merespons isu strategis pendidikan, khususnya terkait pengembangan konsep deeplearning,” katanya.

Sosok yang Menginspirasi

Tak hanya aktif dalam merancang kebijakan peningkatan kompetensi guru, Abdul Hamid juga dikenal dengan keteladanan pribadinya. Salah satu tindakannya yang sempat viral adalah ketika ia menukarkan sepatunya dengan milik seorang siswa yang robek.

Meski sederhana, tindakan itu mendapat sambutan positif dari masyarakat dan dianggap sebagai bentuk kepedulian nyata seorang pemimpin di dunia pendidikan.

Harapan Grapensi

Grapensi berharap seminar ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkenalkan pendekatan deeplearning kepada para pendidik di Aceh. Mereka ingin konsep ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diterapkan dalam kelas-kelas.

“Dengan terselenggaranya seminar ini, Grapensi berharap pendekatan deeplearning dapat semakin dikenal dan diterapkan secara luas oleh para pendidik, serta menjadi salah satu upaya strategis dalam mencetak generasi pembelajar yang berdaya saing tinggi dan berkarakter,” ujarnya.

Editor: Akil

Desi Hartika Nahkodai Kopri PKC PMII Aceh 2025–2027

0
Desi Hartika Nahkodai Kopri PKC PMII Aceh 2025–2027. (Foto; Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XII PKC PMII Aceh resmi berakhir. Dalam forum yang digelar sejak 30 Mei hingga 1 Juni tersebut, Desi Hartika terpilih sebagai Ketua Kopri PKC PMII Aceh untuk periode 2025–2027.

Kemenangan Desi tak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga simbol semangat kolektif kader perempuan PMII. Dalam sambutannya usai pemilihan, Desi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh kader yang telah memberikan kepercayaan besar kepadanya.

“Saya percaya, bersama-sama kita bisa memperkuat peran PMII Putri sebagai garda terdepan perjuangan perempuan,” katanya seraya menyebutkan kemenangannya sebagai kemenangan seluruh kader putri PMII.

Komitmen untuk Gerakan Progresif dan Responsif

Lebih lanjut, Desi menegaskan komitmennya untuk membawa Kopri PKC PMII Aceh menjadi organisasi yang progresif dan responsif terhadap isu-isu perempuan dan kemahasiswaan. Ia percaya, perubahan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui sinergi dan semangat kolektif di antara kader.

Konkoorcab XII juga menjadi penanda berakhirnya masa kepemimpinan Widia Fitri sebagai Ketua Kopri PKC PMII Aceh sebelumnya. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan membawa energi baru bagi gerakan perempuan di lingkungan PMII Aceh.

Duet Baru Pemimpin PKC PMII Aceh

Selain Desi, forum Konkoorcab XII juga menetapkan Teuku Raysoel Akram sebagai Ketua PKC PMII Provinsi Aceh. Keduanya kini memikul tanggung jawab besar untuk menakhodai organisasi ke depan, di tengah dinamika sosial dan tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ketua PKC PMII Aceh demisioner, Reza Rizki, menyampaikan ucapan selamat dan harapan kepada kedua sosok terpilih tersebut.

“Saya ucapkan selamat kepada sahabat Teuku Raysoel Akram dan Desi Hartika atas terpilihnya sebagai Ketua PKC PMII Aceh dan Ketua Kopri PKC PMII Aceh,” ujarnya.

Menurut Reza, amanah ini menuntut integritas, dedikasi, dan semangat kebersamaan. Ia berharap keduanya mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat kaderisasi, serta menjadikan PMII lebih dekat dengan persoalan rakyat dan dunia akademik.

Harapan Kader dan Tantangan ke Depan

Di sisi lain, Reza menekankan pentingnya kesinambungan organisasi melalui semangat kolektif-kolegial. Menurutnya, ruang gerak PMII harus terus diperluas di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks.

Dengan terpilihnya Desi Hartika, para kader PMII di Aceh menyimpan harapan besar. Mereka menantikan terwujudnya visi dan misi yang telah Desi paparkan dalam forum Konkoorcab. Harapan itu bukan sekadar ucapan, melainkan dorongan nyata agar PMII Putri semakin solid, progresif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Editor: Akil

Sosiolog Aceh Minta Pemda Gunakan Data Empirik untuk Cegah Pengemis Menjamur

0
sisiolog aceh
Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, menilai bahwa kemunculan pengemis dan pengamen di Aceh harus dibaca sebagai sinyal kegagalan sistemik dalam pemberdayaan masyarakat di tingkat paling bawah. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam merespons situasi ini secara serius dan terstruktur.

“Pemerintah perlu serius menggali potensi-potensi lokal yang ada di masyarakat. Setiap gampong (desa) di Aceh sebaiknya memiliki data profil yang menggambarkan potensi masing-masing secara akurat,” ungkapnya saat diwawancarai Nukilan.id pada Minggu (1/6/2025).

Menurutnya, pengumpulan data tersebut tidak hanya berhenti pada aspek potensi ekonomi semata, namun juga harus mencakup dimensi sosial dan kultural dari masyarakat setempat. Hal ini penting agar program yang dirancang tidak bersifat seragam, melainkan kontekstual dan tepat sasaran.

“Selain itu, diperlukan pula pemetaan sosial di setiap daerah untuk memahami karakter dan mentalitas masyarakat secara lebih menyeluruh,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan kebijakan yang berbasis pemetaan sosial akan mampu mengenali beragam pola tantangan yang dihadapi masyarakat, baik di wilayah pesisir, pegunungan, maupun perkotaan.

“Mentalitas dan tantangan sosial antara satu daerah dan daerah lain bisa sangat berbeda, sehingga pendekatannya pun harus disesuaikan,” katanya lagi.

Dalam konteks pembangunan daerah, Masrizal menyayangkan masih minimnya penggunaan data empirik dalam perencanaan pembangunan. Padahal, data tersebut sangat penting untuk memastikan arah pembangunan tidak menyimpang dari kebutuhan riil masyarakat.

“Pemerintah daerah, terutama para bupati dan walikota, harus menjadikan pemetaan sosial sebagai dasar dalam menyusun kebijakan,” ungkap akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa Aceh hingga kini masih menyandang status sebagai salah satu daerah termiskin di Pulau Sumatra. Kondisi ini menurutnya menuntut kebijakan yang lebih berbasis bukti dan bukan sekadar rutinitas administratif belaka.

“Penting untuk menggunakan data-data empirik agar pembangunan masyarakat Aceh benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Apalagi Aceh hingga kini masih menyandang status sebagai salah satu daerah termiskin di Sumatra,” jelasnya.

Masrizal juga mengkritik penyusunan dokumen perencanaan pembangunan yang selama ini cenderung formalistik dan tidak mengakar pada dinamika sosial masyarakat.

“Oleh karena itu, dokumen perencanaan seperti RPJM harus benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar formalitas administratif,” pungkasnya.

Fenomena sosial yang kian kompleks seperti menjamurnya pengemis dan pengamen di Banda Aceh, menurut Masrizal, seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk lebih responsif dan berbasis pada realitas lapangan. Tanpa itu, potensi daerah akan terus terkubur dan masalah sosial akan terus membesar tanpa solusi jangka panjang. (XRQ)

Reporter: Akil

Sosiolog Beberkan Alasan Banda Aceh Diserbu Pengemis

0
Sosiolog Beberkan Alasan
Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen di sudut-sudut Kota Banda Aceh serta sejumlah kabupaten lain di Aceh belakangan ini mengundang keprihatinan berbagai kalangan.

Mereka tak lagi hanya hadir di persimpangan lampu merah, tetapi mulai memasuki ruang-ruang privat seperti warung dan kafe, menyuguhkan alunan musik dengan harapan imbalan uang dari pengunjung.

Fenomena ini mengindikasikan persoalan sosial yang lebih dalam, yang tak sekadar soal pilihan hidup di jalanan. Untuk menelusuri akar masalah tersebut, Nukilan.id mewawancarai Dr. Masrizal, sosiolog dari Aceh, pada Minggu (1/6/2025).

Menurutnya, kemunculan pengemis dan pengamen di ruang publik sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi lokal yang rapuh dan tidak stabil.

“Tentu saja ada. Lemahnya ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor utama munculnya pengemis dan pengamen di ruang-ruang publik,” ujar Dr. Masrizal.

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan masyarakat Aceh terhadap sektor ekonomi tradisional yang tidak memiliki daya tahan terhadap fluktuasi pasar, memperparah situasi tersebut.

Ketika komoditas mengalami penurunan produksi, dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari warga.

“Misalnya, di Aceh Selatan, saat pala mulai mati, ekonomi masyarakat pun langsung terdampak. Daya beli menurun, aktivitas ekonomi lesu. Hal serupa terjadi di Pidie, di mana produksi muling (melinjo) tidak sebaik dulu,” sambungnya.

Kondisi ini, menurut Dr. Masrizal, mencerminkan betapa rapuhnya ketahanan ekonomi masyarakat Aceh dalam menghadapi perubahan, baik yang bersifat lokal maupun global.

“Semua ini memperlihatkan betapa rentannya masyarakat kita terhadap fluktuasi ekonomi,” tambahnya.

Namun, akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala ini menekankan bahwa penyebab tumbuh suburnya praktik mengemis dan mengamen di ruang publik tidak hanya berpangkal pada faktor ekonomi semata.

Ada dimensi sosiokultural yang juga memainkan peran signifikan, khususnya yang berkaitan dengan keluarga dan pendidikan.

“Dari sisi keluarga, dulu nilai-nilai keharmonisan dan rasa saling memiliki dalam keluarga sangat kuat. Kini, nilai-nilai tersebut mulai memudar. Rasa kepedulian terhadap sesama anggota keluarga pun semakin menipis,” tuturnya.

Perubahan nilai-nilai kekeluargaan ini, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari menurunnya kualitas pendidikan yang dalam jangka panjang turut membentuk mentalitas dan orientasi hidup generasi muda.

“Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas pendidikan di Aceh, yang kini berada di bawah rata-rata dibandingkan dengan beberapa wilayah lain di Sumatra,” jelas Dr. Masrizal.

Pendidikan yang lemah, lanjutnya, membuka celah bagi tumbuhnya pola pikir instan dalam menyikapi persoalan hidup. Di tengah keterbatasan lapangan kerja dan tekanan ekonomi, sebagian masyarakat justru melihat praktik mengemis sebagai solusi cepat untuk mendapatkan penghasilan.

“Lemahnya pendidikan ini secara tidak langsung turut membentuk mentalitas masyarakat, termasuk tumbuhnya pola pikir bahwa mengemis adalah jalan cepat untuk mendapatkan uang,” katanya.

Ia menambahkan bahwa fenomena ini cenderung lebih menonjol di kawasan-kawasan yang berada di sekitar wilayah perkotaan, di mana lalu lintas manusia dan potensi pemberian lebih besar.

“Fenomena ini mulai banyak ditemukan terutama di wilayah-wilayah yang dekat dengan perkotaan,” tutupnya.

Fenomena ini menjadi cermin persoalan struktural yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Perbaikan ekonomi lokal, penguatan pendidikan, serta revitalisasi nilai-nilai sosial di tingkat keluarga adalah langkah-langkah krusial yang perlu diambil untuk menekan gejala sosial yang kian mengemuka di ruang-ruang publik Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Fenomena Pengemis di Aceh, Cermin Perubahan Sosial yang Mengkhawatirkan

0
fenomena pengemis
Ilustrasi pengemis di Kota Banda Aceh. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen di berbagai sudut Kota Banda Aceh dan kabupaten lainnya belakangan ini menjadi sorotan publik. Keberadaan mereka yang kian menjamur di simpang-simpang lampu merah, bahkan masuk ke warung-warung dan kafe dengan alunan gitar dan permintaan uang seikhlasnya, memantik keprihatinan masyarakat.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah ingatan kolektif tentang masa lalu Aceh yang dikenal sebagai tanah para dermawan. Sejarah mencatat, masyarakat Aceh pernah menunjukkan semangat memberi yang luar biasa, salah satunya dengan menyumbangkan satu unit pesawat Dakota RI-001 Seulawah kepada pemerintah pusat pada awal kemerdekaan Indonesia. Sebuah aksi monumental yang bukan sekadar bantuan materiel, tetapi juga simbol kebesaran jiwa dan solidaritas rakyat Aceh.

Namun kini, suasana itu terasa memudar. Alih-alih menjadi pihak yang memberi, masyarakat Aceh justru mulai terlihat menengadahkan tangan. Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Nukilan.id menghubungi Dr. Masrizal, seorang sosiolog Aceh, pada Minggu (1/6/2025). Dalam pandangannya, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial yang lebih luas.

“Jika dilihat dari aspek sosiologis, meningkatnya jumlah pengemis di Aceh salah satunya disebabkan oleh faktor kemiskinan yang masih tinggi,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa realitas ekonomi yang tidak mendukung kehidupan layak turut memperparah situasi tersebut. Bukan hanya soal pendapatan yang minim, tetapi juga soal peluang untuk mandiri yang makin sulit ditemukan.

“Selain itu, akses terhadap lapangan kerja yang sulit juga menjadi pemicu utama. Kedua hal ini saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap bertambahnya jumlah pengemis di ruang-ruang publik,” lanjutnya.

Lebih jauh, Dr. Masrizal menyoroti adanya pergeseran nilai dan pola kehidupan masyarakat Aceh jika dibandingkan dengan kondisi pada masa lampau.

“Dulu, masyarakat Aceh dikenal sebagai pihak yang memberi karena ditopang oleh kondisi ekonomi yang relatif kuat dan tersedianya banyak lapangan kerja,” katanya.

Kini, menurutnya, realitas itu telah bergeser secara signifikan. Struktur sosial dan ekonomi masyarakat tidak lagi berdiri kokoh sebagaimana dahulu.

“Namun kini, situasinya berbalik, kita justru lebih sering melihat masyarakat menengadahkan tangan. Ini menjadi refleksi bahwa struktur ekonomi dan sosial masyarakat kita telah mengalami perubahan yang cukup mendalam,” pungkasnya.

Fenomena ini, jika dibiarkan tanpa penanganan yang serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, berpotensi menimbulkan masalah sosial yang lebih besar di masa mendatang.

Bukan hanya soal meningkatnya angka kemiskinan, tetapi juga tentang lunturnya nilai-nilai kemandirian, martabat, dan jati diri masyarakat Aceh yang sejatinya dikenal sebagai pemberi, bukan peminta. (XRQ)

Reporter: Akil

Luis Enrique Kenang Mendiang Putrinya Usai PSG Juara Liga Champions

0
Pelatih PSG Luis Enrique pakai kaus bergambar mendiang sang putri menancapkan bendera di lapangan. (Foto: REUTERS/Peter Cziborra)

NUKILAN.ID | Jakarta — Kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions musim 2024/2025 menghadirkan momen emosional, bukan hanya bagi para pemain, tetapi juga sang pelatih, Luis Enrique. Dalam euforia pesta juara, Enrique mencuri perhatian lewat aksinya mengenakan kaus bergambar dirinya bersama mendiang putrinya, Xana.

Ganti Baju Setelah Juara

Setelah PSG memastikan kemenangan gemilang atas Inter Milan dengan skor telak 5-0 di Allianz Arena, Munchen, Minggu (1/6) dini hari WIB, Luis Enrique segera mengganti bajunya. Dari semula mengenakan kaus hitam polos, ia berganti mengenakan kaus berwarna hitam dengan ilustrasi dirinya bersama putrinya, tengah menancapkan bendera PSG di lapangan.

Gambar di kaus tersebut merupakan representasi penuh makna. Pasalnya, mendiang Xana, yang meninggal pada 2019 akibat kanker saat berusia sembilan tahun, digambarkan sedang menemaninya dalam momen simbolis itu.

Kenangan Manis yang Mengharukan

Tak berhenti di situ, suasana semakin mengharukan ketika ribuan pendukung PSG membentangkan spanduk besar bergambar Xana. Dalam ilustrasi itu, Xana tampak sedang menyaksikan ayahnya menancapkan bendera PSG — sebuah penghormatan menyentuh yang membuat Enrique menitikkan air mata.

“Itu sangat mengharukan. Sungguh indah membayangkan para penggemar memikirkan saya dan keluarga saya,” ujar Enrique.

Kaus yang dikenakan Enrique disebut-sebut sebagai pengingat akan momen serupa ketika ia dan Xana bersama-sama merayakan kemenangan Liga Champions saat masih melatih Barcelona.

Xana, Selalu di Hati

Kapten PSG, Marquinhos, menjadi yang pertama mengangkat trofi di hadapan lebih dari 30.000 pendukung Les Parisiens yang memadati stadion. Namun sesaat setelah itu, sorotan pun beralih kepada Enrique yang berdiri terharu, mengenang sang buah hati yang telah tiada.

Momen emosional itu menjadi penutup manis bagi malam bersejarah PSG — klub yang akhirnya menuntaskan penantian panjang mereka meraih gelar juara Liga Champions pertama sepanjang sejarah.

Meski demikian, Enrique menegaskan bahwa perasaan cintanya kepada Xana tak pernah tergantung pada keberhasilannya di lapangan hijau.

“Saya tidak perlu memenangkan Liga Champions untuk memikirkan putri saya. Saya selalu memikirkannya. Dia selalu bersama saya dan keluarga. Ini tentang mengambil sisi positif dari situasi negatif. Itulah mentalitas saya,” kata Enrique.

Di balik gemuruh kemenangan PSG, tersimpan kisah personal yang tak kalah menyentuh. Enrique menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar trofi, tetapi juga tentang keluarga, cinta, dan kenangan yang terus hidup di hati.

Editor: AKil