Beranda blog Halaman 222

Pemkab Aceh Tengah Sabet Penghargaan UHC Utama BPJS Kesehatan 2026

0
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga menerima Penghargaan UHC Award 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Selasa 27 Januari 2026. (Foto: Prokopim AT)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dalam memastikan seluruh masyarakat memperoleh layanan kesehatan terus menuai pengakuan di tingkat nasional. Pada awal 2026, Aceh Tengah kembali meraih Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Kategori Utama dari BPJS Kesehatan.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara nasional yang berlangsung di Ballroom JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026). Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menerima penghargaan secara langsung dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar.

Bupati Haili menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut dan mengapresiasi kerja bersama seluruh pihak, mulai dari jajaran pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat Aceh Tengah.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkomitmen mendukung peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh Tengah,” ujarnya.

Penghargaan UHC diberikan kepada daerah yang mampu mencapai cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara menyeluruh dan aktif. Dalam kategori utama, Aceh Tengah mencatatkan capaian kepesertaan sebesar 101,4 persen dengan tingkat keaktifan mencapai 97,08 persen. Capaian tersebut menempatkan Aceh Tengah di peringkat lima nasional dari total 75 kabupaten/kota penerima penghargaan kategori utama.

Lebih lanjut, Bupati Haili menegaskan bahwa penghargaan ini bukanlah titik akhir, melainkan menjadi penguat komitmen pemerintah daerah dalam menjamin hak dasar masyarakat di bidang kesehatan secara berkelanjutan.

“Pada 2024 lalu kita juga menerima penghargaan UHC, kini meningkat ke kategori tertinggi yakni Utama. Ini bukti komitmen, untuk wujudkan masyarakat yang sehat dan berkualitas,” ucap Haili.

Jilbab Tanpa Peniti dan Batas Ekspresi Diri Perempuan Muda Aceh

0
Ilustrasi. (Foto: Mojok)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena penggunaan hijab yang tidak menutup leher secara sempurna kian jamak dijumpai di kalangan perempuan muda Aceh. Praktik berjilbab tanpa peniti, yang kerap memperlihatkan bagian leher—yang dalam pandangan syariat Islam termasuk aurat—mulai dinormalisasi dengan alasan mengikuti tren mode dan tampil lebih menarik. Fenomena ini mudah ditemui di warung kopi, kafe, hingga dalam siaran langsung di media sosial.

Kondisi tersebut memunculkan diskusi publik, bukan semata soal bentuk atau model jilbab, melainkan tentang makna dan urgensi berjilbab dalam konteks masyarakat Aceh yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan kehidupan sosial.

Menanggapi fenomena itu, NUKILAN.ID, Rabu (21/1/2026), mewawancarai Aklima, Mahasiswi Program Doktor (S3) Studi Islam. Ia menilai tren berjilbab tanpa peniti di kalangan perempuan muda Aceh sebagai gejala yang patut menjadi perhatian bersama. Menurutnya, persoalan ini tidak bisa dipersempit pada selera berpakaian semata, tetapi berkaitan erat dengan identitas dan citra kolektif masyarakat Aceh.

Dalam pandangannya, batas antara ekspresi diri perempuan dan kewajiban menjalankan syariat seharusnya tidak dipertentangkan secara biner. Ia menekankan pentingnya kesadaran personal dalam memaknai setiap pilihan yang melekat pada tubuh perempuan.

“Berlaku adillah terhadap tubuh kita sendiri, dengan menyadari bahwa setiap pilihan yang kita kenakan dan setiap tindakan yang kita lakukan seharusnya berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan,” ujarnya.

Aklima menambahkan, kesadaran tersebut sejatinya sejalan dengan posisi perempuan dalam Islam yang ditempatkan secara terhormat dan bermartabat. Baginya, syariat bukanlah instrumen pembatas semata, melainkan panduan yang menjaga nilai dan kehormatan perempuan itu sendiri.

“Semua itu selaras dengan kodrat kita sebagai perempuan, sebagaimana yang dibenarkan dan dimuliakan dalam ajaran Islam,” katanya.

Ketika ditanya mengenai peran pemerintah Aceh dalam merespons fenomena ini—tanpa pendekatan yang menghakimi, namun tetap tegas secara nilai—Aklima menilai pendekatan persuasif dan kultural perlu dikedepankan. Ia menilai negara tidak cukup hanya hadir dalam bentuk regulasi, tetapi juga melalui pembentukan narasi dan teladan.

“Bimbingan serta penciptaan tren gaya hidup dapat dilakukan dengan memberdayakan duta kecantikan untuk mengampanyekan makna cantik yang selaras dengan budaya masyarakat Aceh,” tuturnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa tanggung jawab membentuk karakter generasi muda tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Menurutnya, dibutuhkan kerja sama lintas sektor agar pesan moral dan nilai keislaman dapat diterima secara lebih utuh dan berkelanjutan.

“Upaya ini perlu didukung melalui kerja sama lintas pihak, karena tanggung jawab membentuk karakter generasi muda bukanlah tugas satu kelompok saja, melainkan dimulai dari peran orang tua, lingkungan pendidikan, hingga lingkungan sosial,” lanjutnya.

Lebih jauh, Aklima mengingatkan bahwa arus globalisasi dan perkembangan dunia digital menuntut generasi muda untuk memiliki daya kritis dan kebijaksanaan dalam menyaring pengaruh luar. Tanpa fondasi nilai yang kuat, identitas budaya dan religius masyarakat Aceh berpotensi terkikis secara perlahan.

“Sudah sepatutnya kita bersama-sama membentuk perspektif generasi muda agar lebih kritis dan bijak dalam menyikapi perkembangan dunia saat ini. Sebab, anak-anak dan pemuda adalah harapan bangsa, sekaligus masa depan Aceh yang bermartabat,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Mendagri Sebut Tumpukan Kayu Pascabencana Terbesar Ada di Aceh Timur–Aceh Utara

0
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian. (Foto: Dok. Ist)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa temuan gelondongan kayu akibat bencana alam paling banyak berada di satu kawasan, yakni perbatasan Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Wilayah tersebut meliputi Pantai Bideri di Aceh Timur dan kawasan Langkahan di Aceh Utara.

“Kalau kita mau melihat yang paling banyak hamparan gelondongan kayu itu sebetulnya ada di satu hamparan saja, yaitu perbatasan Aceh Timur dengan Aceh Utara. Di Aceh Timur nama daerahnya Pantai Bideri dan di seberangnya itu Langkahan Aceh Utara. Itulah persoalannya,” ujar Tito dalam rapat koordinasi satuan tugas di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).

Tito menilai kondisi tersebut memerlukan solusi segera agar gelondongan kayu tidak terus mengendap dan menghambat aliran sungai. Selain berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, keberadaan kayu-kayu itu juga dinilai mengganggu fungsi sungai.

“Memang kebijakan Bapak Presiden waktu rapat yang lalu termasuk di Hambalang, arahan kepada kami silakan dimanfaatkan masyarakat ataupun pemerintah untuk bencana,” jelasnya.

Menurut Tito, sebagian kayu sudah dimanfaatkan dengan cara dipotong dan dijadikan papan untuk pembangunan rumah, jembatan, serta fasilitas lainnya. Namun, ia mengakui masih banyak gelondongan kayu berukuran kecil yang tidak bisa diolah menjadi papan.

“Nah, banyak yang sudah melakukan dengan cara dipotong kemudian dijadikan papan untuk bangun rumah, jembatan, lain-lain. Tapi banyak sekali gelondongan-gelondongan kecil yang nggak memiliki, nggak bisa, nggak bisa dibuat papan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Tito menyampaikan adanya masukan dari sejumlah kepala daerah agar kayu tersebut dapat dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk dijual ke pihak ketiga dan menghasilkan nilai ekonomi.

“Ada saran dari beberapa kepala daerah, ‘Pak, bagaimana kalau seandainya itu diambil saja untuk dikerjakan oleh BUMD dijualkan kepada pihak ketiga misalnya PLTU’. Di Sumatera Utara ada PLTU, mereka memerlukan kayu juga. Ada juga industri lokal seperti batu bata, pembuatan batu bata, mereka nanya-nanya terus boleh nggak ngambil kayu itu karena selama ini susah nyari kayu,” ungkapnya.

Tito menilai hamparan gelondongan kayu tersebut memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan baik. Ia juga mencontohkan pemanfaatan kayu di Tapanuli Tengah yang digunakan sebagai bagian dari tanggul sungai.

“Ini dibuat dikerok seperti ini dan kemudian dibuatkan tanggul kanan kirinya sehingga airnya cepat langsung tadinya nggak mengalir sekarang mengalir, kemudian dibuat tanggul sehingga airnya tanggulnya bisa digunakan kalau terjadi apa-apa juga bisa menjadi penahan,” katanya.

Ia menambahkan, langkah tersebut sejauh ini baru diterapkan di Tapanuli Tengah, sementara di daerah lain belum terlihat upaya signifikan dalam penanganan gelondongan kayu di aliran sungai.

“Nah, ini saya baru melihat di Tapanuli Tengah yang sudah jalan, sementara di tempat lain belum belum ada yang signifikan untuk masalah sungai,” tutup Tito.

Menkes Budi Dorong Istri Jewer Suami yang Prioritaskan Beli Rokok

0
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin . (Foto: Kemenkes RI)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menyoroti kebiasaan merokok yang dinilai merugikan kesehatan sekaligus ekonomi keluarga. Ia bahkan mendorong para istri agar berani menegur suami yang masih mengutamakan membeli rokok dibanding memenuhi kebutuhan gizi rumah tangga.

Dikutip Nukilan.id dari konten Budi Gemar Sharing (BGS) yang diunggah di Reels Instagram pada Rabu (28/1/2026), Budi membandingkan harga rokok dengan bahan pangan bergizi.

Menurutnya, satu bungkus rokok seharga Rp30 ribu setara dengan harga satu rak telur ayam yang bisa dikonsumsi seluruh anggota keluarga.

“Ibu-ibu, saya dukung untuk omelin suaminya yang masih bandel merokok. Satu bungkus rokok buat suami itu harganya Rp30 ribu. Satu bungkus telur ayam untuk seluruh keluarga harganya juga Rp30 ribu,” ujarnya.

Budi mengungkapkan, selama ini ia kerap mendengar keluhan masyarakat soal persoalan ekonomi yang berdampak pada kurangnya asupan gizi anak hingga berujung stunting. Namun, ia menegaskan bahwa kebiasaan merokok di dalam rumah juga menjadi faktor yang tak kalah berbahaya, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran keluarga.

Ia menyebut, satu bungkus rokok hanya membawa dampak buruk bagi tubuh. Hal itu bahkan sudah tergambar jelas pada kemasan rokok yang menampilkan berbagai penyakit.

“Satu bungkus rokok ini isinya penyakit semua. Kita kan lihat tuh, sudah ada di gambarnya, penyakit semua!” kata Budi.

Budi menambahkan, rokok seharga Rp30 ribu biasanya habis dalam satu hari. Sebaliknya, telur dengan harga yang sama dapat dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga dan bertahan lebih dari satu hari, sekaligus memberikan asupan nutrisi yang lebih bermanfaat.

Karena itu, ia mengimbau para istri agar lebih tegas menyikapi kebiasaan merokok suami. Budi berharap anggaran yang selama ini dihabiskan untuk rokok bisa dialihkan menjadi pemenuhan gizi anak-anak.

Ajakan tersebut sejalan dengan kampanye gaya hidup sehat yang terus digencarkan Kementerian Kesehatan melalui berbagai program edukasi publik. Dalam berbagai kesempatan, Budi Gunadi Sadikin konsisten mendorong masyarakat untuk berhenti merokok dan mengganti pola konsumsi tidak sehat dengan pilihan makanan bergizi.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran keluarga yang berpihak pada kesehatan jangka panjang. Pesan tersebut mendapat respons luas dari warganet di media sosial.

“Ini bapak Menkes terkeren sampai saat ini. Nggak hanya melarang kebiasaan buruk, tapi ngasih alternatif solusi dengan budaya yang lebih baik. Keren, Pak, jangan lelah menginspirasi kami,” tulis akun akhn a.saefuddin.official.

“Suka sama konten-konten edukasinya, Pak Menkes, menarik,” tulis akun rinikaida. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Barat Terima Penghargaan UHC Award 2026 dari BPJS Kesehatan

0
Kabupaten Aceh Barat meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Award 2026 dari BPJS Kesehatan pusat yang diterima Bupati Aceh Barat Tarmizi SP, MM di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026. (Foto Diskominsa Aceh Barat)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berhasil meraih Universal Health Coverage (UHC) Award 2026 yang diberikan oleh BPJS Kesehatan pusat. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Bupati Aceh Barat, Tarmizi SP, MM, di Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas komitmen pemerintah daerah dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi masyarakat melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh warga.

“UHC Award ini merupakan pengakuan atas komitmen daerah dalam mendukung program JKN,” kata Tarmizi.

Ia menjelaskan bahwa UHC Award diberikan kepada pemerintah daerah yang dinilai berhasil memperluas cakupan kepesertaan jaminan kesehatan.

“Program JKN merupakan wujud tanggung jawab negara untuk memastikan setiap penduduk memperoleh hak yang sama dalam layanan kesehatan,” ujarnya.

Menurut Tarmizi, pencapaian tersebut juga sejalan dengan misi strategis pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Pemda wajib mendukung program prioritas nasional agar perlindungan kesehatan dapat dirasakan secara merata,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan Aceh Barat dalam meraih UHC Award tidak terlepas dari peran dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Kolaborasi semua pihak sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian UHC,” ujar Tarmizi.

Lebih lanjut, Tarmizi berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi jajaran pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

“Kami akan terus berupaya memastikan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang optimal,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat Aceh Barat untuk memanfaatkan layanan JKN secara maksimal. “Dengan partisipasi aktif masyarakat, tujuan perlindungan kesehatan semesta dapat tercapai,” pungkasnya.

Kemendikdasmen Dorong Pemulihan Cepat Sekolah Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

0
Kemendikdasmen Dorong Pemulihan Cepat Sekolah Terdampak Banjir di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Aceh Tamiang berangsur kembali normal setelah sempat terganggu akibat bencana banjir. Percepatan pemulihan layanan pendidikan tersebut didukung oleh bantuan dana pembersihan sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang, Sepriyanto, menyampaikan bahwa seluruh sekolah di wilayah tersebut kini telah kembali beroperasi. Namun, sejumlah sekolah masih melanjutkan proses pembersihan lingkungan dan fasilitas pendukung pascabencana.

“Untuk pembersihan halaman dan sarana penunjang, kami targetkan tuntas dalam satu hingga dua minggu ke depan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal,” ujar Sepriyanto, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (26/1/2026).

Bantuan dari Kemendikdasmen tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Kepala SDN Tanjung Binjai, Rosydha Tanjung, menilai bantuan dana pembersihan sekolah sangat membantu mempercepat pemulihan kondisi sekolah pascabanjir.

“Terima kasih kepada Bapak Menteri dan jajaran Kemendikdasmen atas bantuan dana pembersihan sekolah. Dana tersebut kami gunakan untuk pengadaan alat kebersihan serta biaya operasional selama proses pembersihan berlangsung,” ungkap Rosydha.

Apresiasi serupa disampaikan perwakilan guru SDN Tanjung Binjai, Hasanah Lubis. Ia menyebut bantuan tersebut memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan proses pembelajaran di sekolah.

“Bantuan dana kebersihan sekolah sangat bermanfaat bagi kami yang terdampak banjir. Alhamdulillah, sekolah sudah aktif kembali seperti semula. Terima kasih atas perhatian dan kepedulian Kemendikdasmen,” tuturnya.

Bantuan dana pembersihan sekolah merupakan bagian dari komitmen pemerintah pusat untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan meski berada dalam situasi darurat. Komitmen tersebut sebelumnya ditegaskan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Aceh Tamiang pada 5 Januari 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa proses pendidikan tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun. Menurutnya, semangat belajar harus terus dijaga meskipun sarana dan prasarana mengalami keterbatasan akibat bencana.

“Anak-anak adalah harapan Indonesia masa depan. Jangan pernah berhenti bercita-cita dan jangan kehilangan semangat. Keterbatasan tidak boleh mematahkan tekad untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” pesan Abdul Mu’ti.

Berdasarkan data per 5 Januari 2026, dukungan Kemendikdasmen untuk pemulihan pendidikan di Provinsi Aceh mencakup penyaluran 15.500 school kit, 97 unit tenda pendidikan, 100 ruang kelas darurat, dana operasional pendidikan darurat sebesar Rp11,2 miliar, serta bantuan dukungan psikososial senilai Rp300 juta.

Pemerintah berharap berbagai bantuan tersebut dapat menjamin keberlanjutan layanan pendidikan pascabencana serta memastikan hak belajar anak-anak di Aceh Tamiang tetap terpenuhi secara berkelanjutan.

PKC PMII Aceh Salurkan Bantuan dan Layanan Psikososial ke Korban Bencana Aceh Tengah dan Bener Meriah

0
PKC PMII Aceh Salurkan Bantuan dan Layanan Psikososial ke Korban Bencana Aceh Tengah dan Bener Meriah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Aceh kembali menegaskan perannya dalam aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, serta Desa Uning, Kabupaten Bener Meriah.

Kegiatan penyaluran bantuan tersebut berlangsung selama dua hari dan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, ibadah, serta pemulihan kondisi psikososial anak-anak pascabencana.

Bantuan yang disalurkan meliputi berbagai perlengkapan sekolah, seperti tas, buku tulis, buku gambar, krayon, pulpen, pensil, penghapus, dan kebutuhan belajar lainnya. Selain itu, PKC PMII Aceh juga menyalurkan perlengkapan ibadah berupa sajadah, mukena, sarung, sandal wudhu, serta speaker pengeras suara untuk masjid dan musholla di wilayah terdampak.

Tidak hanya memberikan bantuan logistik, Tim Relawan PKC PMII Aceh turut melaksanakan kegiatan layanan psikososial bagi anak-anak. Kegiatan ini bertujuan membantu pemulihan trauma serta memberikan dukungan mental agar anak-anak dapat kembali merasa aman, ceria, dan perlahan pulih dari dampak psikologis akibat bencana.

Ketua PKC PMII Aceh, Sahabat Teuku Raysoel Akram, menyampaikan bahwa kondisi masyarakat di wilayah terdampak hingga saat ini masih belum sepenuhnya pulih.

“Kami melihat langsung bahwa masyarakat di Desa Burlah dan Desa Uning masih menghadapi kondisi yang sangat berat. Persediaan air bersih masih sangat terbatas, hunian sementara pun belum sepenuhnya rampung. Oleh karena itu, kehadiran kami bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga memastikan bahwa mereka tidak berjuang sendirian,” ujar Sahabat Teuku Raysoel Akram.

Ia menambahkan, PMII akan terus mendorong kolaborasi lintas pihak agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan menyeluruh.

“Kami mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun masyarakat luas, untuk terus bergotong royong dan memberi perhatian serius terhadap pemulihan pascabencana ini. Solidaritas adalah kunci,” tambahnya.

PKC PMII Aceh juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh donatur serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penggalangan bantuan. Organisasi ini menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan berperan aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan di Aceh.

Beburu Duku Manis di Simpang Empat Kluet Utara

0
Duku Manis di Simpang Empat Kluet Utara. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Musim duku manis mulai menggeliat di Simpang Empat, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Sepanjang ruas jalan dari Simpang Kedai Runding hingga Simpang Empat, tampak sejumlah pedagang menjajakan duku manis dengan harga terjangkau.

Pantauan Nukilan.id, Selasa (27/1/2026), duku manis dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram. Selain duku, sejumlah pedagang juga menawarkan buah langsat yang ikut panen di musim yang sama.

Salah seorang pedagang, Eko, mengatakan kemunculan duku dan langsat memang rutin terjadi setelah musim rambutan berakhir.

“Ini memang sudah musimnya. Biasanya setelah rambutan, duku dan langsat yang menyusul,” kata Eko kepada Nukilan.id.

Ia menyebutkan, minat masyarakat terhadap duku manis cukup tinggi, terutama karena rasanya yang manis dan mudah didapat di pinggir jalan utama.

Antusiasme pembeli juga terlihat dari aktivitas warga yang singgah hampir setiap hari. Maryati, salah seorang pembeli, mengaku kerap membeli duku selama musim panen berlangsung.

“Saya hampir setiap hari beli satu kilo. Rasanya manis dan segar,” ujar Maryati.

Musim duku dan langsat ini menjadi berkah tersendiri bagi pedagang musiman di kawasan Kluet Utara, sekaligus memberi pilihan buah lokal segar bagi masyarakat dengan harga yang relatif terjangkau. (XRQ)

Reporter: Akil

Sekda Aceh Minta Pemanfaatan Kayu Pascabanjir Dipercepat untuk Pemulihan

0
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA, meminta percepatan pemanfaatan kayu hanyutan yang terbawa banjir sebagai material pendukung rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di sejumlah wilayah Aceh. Permintaan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Tim Pemanfaatan Kayu Hanyutan di Ruang Rapat Potensi Daerah, Sekretariat Daerah Aceh, Senin (26/1/2026).

M. Nasir menekankan pentingnya segera mengaktifkan tim pemanfaatan kayu hanyutan agar potensi sumber daya tersebut tidak terbuang percuma. Menurutnya, keterlambatan dapat menyebabkan kayu mengalami kerusakan atau hilang sebelum dimanfaatkan secara maksimal.

“Tim ini harus segera diaktifkan, untuk optimalisasi kerja terhadap pemanfaatan kayu hanyutan yang saat ini cukup masif di beberapa daerah,” ujarnya.

Selain itu, Sekda Aceh menyoroti perlunya mekanisme yang jelas dan cepat agar proses pemanfaatan kayu berjalan efektif. Ia menargetkan seluruh tahapan dapat diselesaikan sebelum Ramadan, serta menegaskan bahwa kayu hanyutan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat terdampak, bukan untuk kepentingan komersial. Ia juga meminta agar proses ini dikawal secara ketat.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Dr. Ir. A. Hanan, S.P., M.M., menjelaskan bahwa tim pemanfaatan kayu hanyutan memiliki tiga tugas utama, yakni melakukan identifikasi dan pendataan kayu yang layak dimanfaatkan, menetapkan status kayu hanyutan melalui deklarasi bersama, serta mengurus penerbitan surat keterangan legalitas kayu.

Ia menyampaikan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan hanya akan difokuskan untuk pembangunan fasilitas umum dan rumah warga terdampak. Hingga kini, proses identifikasi telah dilakukan di sekitar 50 titik terdampak dan masih terus berlangsung.

Dalam rapat yang sama, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, Kombes Pol Wahyudi, mendorong pemerintah kabupaten/kota segera membentuk tim aksi guna mempercepat proses identifikasi dan penetapan status hukum kayu hanyutan.

“Perlu dibentuk tim khusus di masing-masing sektor serta mengakomodir lebih banyak tenaga ahli, agar proses identifikasi dan penentuan status kayu dapat berjalan lebih cepat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para kepala daerah agar tidak mendistribusikan kayu kepada masyarakat sebelum status hukumnya jelas, untuk mencegah penyalahgunaan, kesalahan pemanfaatan, maupun potensi konflik kepemilikan.

Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya untuk mengelola sumber daya pascabencana secara bertanggung jawab demi mempercepat pemulihan dan meningkatkan efektivitas penanganan bencana di Aceh.

Setkab DEMA FSH UINAR Soroti Nasib Korban Banjir Aceh Jelang Ramadhan

0
Sekretaris Kabinet DEMA Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram al Ghifari. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menjelang bulan suci Ramadhan, ribuan warga di berbagai daerah di Aceh masih menjalani kehidupan serba terbatas akibat banjir besar yang terjadi sejak akhir 2025. Banyak keluarga belum bisa kembali ke rumah karena kerusakan berat dan kondisi lingkungan yang belum aman, sehingga terpaksa bertahan di tenda darurat, posko pengungsian, meunasah, atau menumpang di rumah kerabat.

Banjir tersebut merusak ribuan rumah, fasilitas umum, serta lahan pertanian dan sumber mata pencaharian warga. BNPB menargetkan para pengungsi tidak lagi tinggal di tenda paling lambat 18 Februari 2026, menjelang Ramadhan. Namun hingga akhir Januari, pembangunan hunian sementara (huntara) baru mencapai sekitar 30 persen, membuat banyak keluarga masih hidup dalam ketidakpastian.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Aceh, BNPB, BPBD, TNI-Polri, relawan, dan berbagai organisasi kemanusiaan terus menyalurkan bantuan pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta mempercepat pembangunan huntara. Meski demikian, kebutuhan di lapangan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia. Tekanan ekonomi semakin dirasakan, terutama oleh warga yang kehilangan pekerjaan, usaha, dan lahan pertanian.

Kondisi ini semakin berat karena bertepatan dengan tradisi Meugang menjelang Ramadhan. Bagi banyak korban banjir, perayaan tersebut diperkirakan berlangsung lebih sederhana karena fokus utama tertuju pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, kesehatan, dan tempat tinggal yang aman.

Sekretaris Kabinet DEMA Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram al Ghifari, mengapresiasi upaya berbagai pihak, namun menegaskan pentingnya pemulihan jangka panjang.

“Kami mengapresiasi langkah pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, BNPB, BPBD, TNI-Polri, para relawan, serta seluruh elemen masyarakat yang telah bergerak membantu korban banjir. Namun menjelang Ramadhan, negara harus memastikan bahwa tidak ada rakyat yang menjalankan ibadah dalam kondisi lapar, tanpa hunian yang layak, dan tanpa kepastian masa depan. Kehadiran negara harus benar benar dirasakan, bukan hanya dalam bentuk bantuan sementara, tetapi juga dalam jaminan pemulihan yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menilai bencana ini perlu dijadikan momentum untuk memperkuat pemulihan permanen, pemulihan ekonomi rakyat, serta perbaikan sistem mitigasi bencana. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan tahun ini menjadi simbol harapan akan keadilan, kehadiran negara, dan masa depan yang lebih layak pascabencana.