Beranda blog Halaman 224

TII Soroti Minimnya Isu Demokrasi dalam Pidato Presiden di WEF 2026

0
Felia
Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia Primaresti. (Foto: TII)

NUKILAN.ID | JAKARTA — The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) menilai pidato Presiden Republik Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, lebih menekankan stabilitas ekonomi dan politik sebagai indikator utama capaian pembangunan nasional.

Manajer Riset dan Program TII, Felia Primaresti, dalam keterangannya kepada Nukilan.id menyebut pidato Presiden menunjukkan arah kebijakan publik yang menitikberatkan pada stabilitas ekonomi, efisiensi birokrasi, serta ekspansi program sosial berskala besar.

Namun, di balik narasi capaian tersebut, ia menilai masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya terkait kualitas demokrasi, penghormatan hak asasi manusia (HAM), serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Felia menilai Presiden terlalu menempatkan stabilitas politik dan ekonomi sebagai prasyarat utama pertumbuhan dan investasi. Padahal, menurutnya, stabilitas tidak dapat dilepaskan dari demokrasi yang sehat.

“Demokrasi tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pendukung pembangunan, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol terhadap kekuasaan agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat.” kata Felia.

Selain itu, Felia juga menyoroti kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan yang dinilai berisiko melemahkan akuntabilitas pemerintahan. Ia mencatat dominasi peran presiden dalam pidato tersebut, sementara fungsi lembaga negara lainnya nyaris tidak disinggung.

“Ada 78 kata ‘saya’ di dalam transkripnya, sementara fungsi lain dalam pemerintahan seperti legislatif, yudikatif, peran eksekutif lain, dan partisipasi masyarakat sipil tidak disebutkan.” ujar Felia.

Menurutnya, meskipun pendekatan tersebut menunjukkan kepemimpinan yang tegas, pola pengambilan keputusan yang terlalu terpusat berpotensi mengurangi ruang partisipasi publik. Dalam prinsip good governance, kata Felia, kebijakan publik yang berkelanjutan seharusnya dibangun melalui institusi yang kuat, bukan semata bertumpu pada figur kepemimpinan.

Felia juga menyoroti pernyataan Presiden yang mengaitkan hasil survei kebahagiaan global dengan pengakuan bahwa masih banyak warga yang hidup tanpa akses air bersih, sanitasi layak, dan pangan memadai. Ia menilai pernyataan tersebut sebagai upaya membangun narasi moral tentang ketahanan dan optimisme rakyat di tengah keterbatasan.

“Narasi ini menghadirkan empati simbolik, yaitu pengakuan emosional atas penderitaan Masyarakat, namun tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kerangka kebijakan yang partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat.” ungkap Felia.

Terkait klaim swasembada beras yang disampaikan Presiden sebagai bukti keberhasilan kebijakan, Felia menilai capaian tersebut perlu dikritisi secara lebih menyeluruh.

“Demikian pula, capaian swasembada beras yang disampaikan sebagai bukti keberhasilan kebijakan perlu dikritisi secara lebih komprehensif.” lanjut Felia.

Ia menegaskan bahwa swasembada produksi tidak serta-merta menjawab persoalan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Tanpa jaminan distribusi yang adil, keterjangkauan harga, serta pemenuhan standar gizi, swasembada berisiko menjadi bagian dari narasi moral keberhasilan negara, alih-alih solusi struktural atas kerentanan pangan yang masih dialami kelompok miskin dan rentan.

Di akhir pernyataannya, Felia menilai pidato Presiden di WEF 2026 secara umum lebih menekankan pemenuhan hak ekonomi dan sosial, sementara isu hak sipil dan politik—seperti kebebasan berekspresi, kebebasan pers, perlindungan kelompok minoritas, serta penyelesaian konflik struktural—belum mendapat perhatian yang memadai.

Felia mendorong agar ke depan pemerintah memastikan agenda pembangunan dan stabilitas ekonomi berjalan seiring dengan penguatan demokrasi, perlindungan HAM, serta tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif. Tanpa fondasi tersebut, ia menilai capaian kebijakan publik berisiko tidak berkelanjutan dan rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. (XRQ)

Reporter: Akil

Menikmati Mie Aceh Bakso di Liza Cafe, Sajian Pedas di Tepi Sungai Kluet

0
Mie Aceh Bakso di Liza Cafe, Sajian Pedas di Tepi Sungai Kluet. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Liza Cafe yang berlokasi di Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, menjadi salah satu tujuan kuliner favorit masyarakat untuk menikmati kuliner. Kafe ini berada di lokasi strategis di pinggir Jalan Tapaktuan–Medan dan berhadapan langsung dengan aliran Sungai Kluet, sehingga menawarkan pengalaman bersantap dengan pemandangan alam terbuka.

Pantauan di lokasi menunjukkan, Liza Cafe ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari anak muda, keluarga, hingga orang tua. Selain mencicipi menu andalan, tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen kebersamaan mereka menggunakan ponsel, dengan latar sungai yang menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satu pengunjung, Fawwaz, mengaku kerap datang ke Liza Cafe bersama teman-temannya. Kali ini, ia memilih menu mie Aceh bakso yang dikenal dengan cita rasa pedas khas Aceh.

“Saya cukup sering ke sini sama teman-teman. Mie Aceh baksonya pedas, rasanya enak, dan harganya juga ramah di kantong,” ujar Fawwaz kepada Nukilan.id, Senin (26/1/2026)

Keberadaan Liza Cafe di jalur lintas Tapaktuan–Medan dinilai memudahkan akses pengunjung, baik warga sekitar maupun pelintas jalan. Pemandangan Sungai Kluet yang langsung terlihat dari area kafe menjadi nilai tambah yang membuat pengunjung betah berlama-lama.

Dengan sajian kuliner khas Aceh dan lokasi yang strategis, Liza Cafe terus menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati waktu santai sambil menyantap hidangan bercita rasa pedas. (XRQ)

Reporter: Akil

Lansia di Desa Atu Payung Terisolasi, Butuh Perhatian Pemerintah

0
Sepasang lansia, M Tamrin dan istrinya bersama Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga. (Foto: Dok Relawan Kecamatan Bintang)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Sepasang lanjut usia (lansia) di Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah serta pihak terkait.

Pasangan tersebut, M Tamrin dan istrinya, tinggal berdua di rumah sederhana yang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu berpindah tempat tinggal meski akses menuju rumah mereka rusak akibat longsor dan pohon tumbang.

Kondisi kesehatan keduanya juga memprihatinkan. M Tamrin menderita rematik yang membatasi aktivitasnya, sementara sang istri mengalami kepikunan akibat faktor usia.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kondisi pasangan lansia tersebut membutuhkan perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah.

“Pasangan lansia ini hidup dalam keterbatasan dan akses ke rumah mereka cukup sulit karena jalan rusak dan tertutup longsor. Kami berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk memperbaiki akses jalan serta memberikan bantuan yang dibutuhkan,” kata Wedy Sastra Yoga kepada Nukilan, Senin (26/1/2026).

Selain perbaikan akses jalan, pasangan lansia tersebut juga menyampaikan harapan untuk mendapatkan bantuan berupa bibit pertanian dan pupuk agar tetap bisa bertahan hidup secara mandiri.

“Mereka berharap ada bantuan bibit padi, jagung, kacang-kacangan, cabai, serta pupuk untuk menunjang kebutuhan sehari-hari,” ujar Wedy.

Relawan berharap kondisi ini dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, dinas sosial, serta instansi terkait agar pasangan lansia tersebut mendapatkan bantuan sosial, perbaikan infrastruktur, dan pendampingan kesehatan yang layak. []

Reporter: Sammy

Relawan Laksanakan Pos Schooling bagi Anak Desa Terisolasi di SD Negeri 10 Bintang

0
Kegiatan Pos Schooling bagi anak-anak Desa Jamur Konyel pada Senin (26/1/2026) di SD Negeri 10 Bintang, Aceh Tengah. (Foto: Dok Relawan Kecamatan Bintang)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Relawan pendidikan melaksanakan kegiatan Pos Schooling bagi anak-anak Desa Jamur Konyel pada Senin (26/1/2026) di SD Negeri 10 Bintang, Aceh Tengah. Kegiatan ini bertujuan membantu memperluas akses layanan pendidikan bagi anak-anak di wilayah desa terisolasi yang memiliki keterbatasan terhadap pendidikan formal.

Sejak pagi hari, para relawan bersama siswa mengikuti kegiatan pembelajaran yang berlangsung di lingkungan sekolah. Anak-anak terlihat antusias mengikuti berbagai aktivitas belajar yang dipandu oleh para relawan.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kegiatan Pos Schooling merupakan bentuk kepedulian relawan terhadap kondisi pendidikan di wilayah terpencil.

“Pos Schooling ini kami laksanakan untuk memastikan anak-anak di desa terisolasi tetap mendapatkan pendampingan belajar. Meskipun akses dan sarana terbatas, kami ingin anak-anak tetap semangat dan tidak tertinggal dalam proses pendidikan,” ujar Wedy Sastra Yoga kepada Nukilan, Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, metode pembelajaran yang digunakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak. Selain materi dasar, kegiatan juga difokuskan pada penguatan motivasi belajar dan pembentukan karakter.

“Kami tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan semangat belajar anak-anak. Harapannya, kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak desa,” katanya.

Pihak SD Negeri 10 Bintang menyambut baik keterlibatan relawan dalam kegiatan Pos Schooling tersebut. Kehadiran relawan dinilai membantu sekolah dalam memberikan layanan pendidikan tambahan bagi siswa di tengah keterbatasan sarana dan akses.

Melalui kegiatan ini, relawan berharap Pos Schooling dapat menjadi salah satu solusi alternatif untuk mendukung pemerataan akses pendidikan di wilayah Kecamatan Bintang, khususnya bagi anak-anak di desa terisolasi. []

Reporter: Sammy

56 Ribu Remaja Aceh Belum Sekolah, Sekda Dorong Kepala Sekolah Ambil Peran Aktif

0
Ilustrasi Siswa SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali masuk sekolah. (Foto: Tim Media Presiden)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menyoroti masih tingginya angka anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan. Tercatat sekitar 56 ribu remaja usia 16–18 tahun di Aceh tidak bersekolah, meski berbagai program bantuan pendidikan telah dijalankan.

Amatan Nukilan.id, hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, saat melantik 201 kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB di lingkungan Pemerintah Aceh, Senin (26/1/2026), di Anjong Mon Mata, Komplek Meuligoe Gubernur Aceh.

Menurut M Nasir, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena berpotensi menghambat pembangunan sumber daya manusia Aceh.

“Kalau ini tidak cepat ditangani, maka akan menjadi bom waktu bagi pembangunan Aceh,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pada 2025 Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan pada semua jenjang pendidikan. Namun, tingginya angka anak tidak sekolah menunjukkan perlunya penguatan peran satuan pendidikan.

Karena itu, M Nasir menekankan posisi kepala sekolah sebagai garda terdepan dalam memastikan anak-anak tetap mengakses pendidikan.

“Kepala sekolah tidak hanya mengelola administrasi, tetapi menjadi pemimpin yang menentukan arah dan masa depan peserta didik,” ujarnya.

Ia menargetkan dalam lima tahun ke depan angka anak putus sekolah dapat ditekan melalui kepemimpinan sekolah yang aktif, responsif, dan berpihak pada kepentingan anak.

Sekda juga mengapresiasi capaian pendidikan Aceh yang masuk lima besar nasional kelulusan SNBP 2025, namun menegaskan pentingnya pemerataan akses pendidikan.

“Prestasi penting, tetapi pemerataan jauh lebih penting. Tidak boleh ada anak yang tertinggal,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan masih adanya sekolah yang terdampak pascabencana dan meminta kepala sekolah menjadi motor pemulihan pendidikan. Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ditekankan sebagai upaya meningkatkan gizi peserta didik dan mencegah stunting.

“Sekolah harus menjadi ruang aman, sehat, dan inklusif bagi anak,” ujar Sekda.

Pelantikan kepala sekolah ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan Aceh secara menyeluruh. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswi S3 Studi Islam Soroti Normalisasi Hijab Tak Menutup Aurat di Kalangan Perempuan Muda

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena semakin banyaknya perempuan muda di Aceh yang menormalisasi penggunaan hijab tidak menutup aurat, khususnya bagian leher, dengan alasan modis dan estetika, kian menjadi sorotan. Praktik ini jamak ditemui di ruang-ruang publik seperti warung kopi, kafe, bahkan saat melakukan siaran langsung di media sosial.

Menanggapi kondisi tersebut, NUKILAN.ID pada Rabu (21/1/2026) mewawancarai Aklima, Mahasiswi S3 Studi Islam. Ia menilai fenomena berjilbab tanpa peniti di kalangan perempuan muda Aceh sebagai situasi yang cukup memprihatinkan.

Menurut Aklima, diskursus yang perlu dibangun bukanlah perdebatan soal bentuk atau model jilbab, melainkan pada kesadaran akan urgensi berjilbab itu sendiri sebagai bagian dari citra dan identitas masyarakat Aceh yang hidup dalam bingkai nilai budaya dan syariat.

Dalam pandangannya, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari relasi perempuan dengan tubuh dan kebutuhan akan pengakuan sosial.

“Tubuh perempuan dan eksistensi merupakan dua bagian yang saling mengikat. Eksistensi atau kebutuhan akan pengakuan keberadaan ini yang kemudian menempatkan tubuh pada pergeseran nilai yang sebenarnya,” kata Aklima.

Aklima menjelaskan bahwa dorongan untuk diakui kerap membuat perempuan kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri, karena standar yang digunakan bukan lagi nilai yang diyakini, melainkan persepsi orang lain.

“Kita perempuan memposisikan tubuh atas persepsi orang lain, sehingga kuasa kita akan tubuh tidak didasari pada nilai-nilai yang kita butuhkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa dalam sejarah panjang peradaban, tubuh perempuan sering kali ditempatkan sebagai objek, bahkan alat kepentingan tertentu, yang berpotensi membahayakan jika tidak disadari secara kritis.

“Tubuh perempuan sebagai komoditas dan instrumen politik dalam kajian sejarah dinilai bahwa keberadaan ini akan berbahaya bila tidak dikendalikan. Salah satu yg mesti dilakukan oleh perempuan- perempuan muda yg masih dalam proses pembentukan jati diri ya harus pandai-pandai menfilterisasi budaya budaya luar terkhusus pada trend lifestyle,” ungkapnya.

Dalam konteks Aceh, Aklima menekankan bahwa jilbab tidak semata dimaknai sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai identitas kultural yang melekat erat dengan karakter wilayah bersyariat.

“Kita sebagai perempuan Aceh yang tidak hanya memandang jilbab sebagai simbol keagamaan melainkan identitas yang sarat akan nilai dan budaya yang kemudian membentuk kultur bahwa Aceh wilayah syariat,” jelasnya.

Kesadaran tersebut, lanjutnya, seharusnya tercermin dalam berbagai aspek kehidupan perempuan Aceh, mulai dari gaya hidup hingga cara berpikir dan bersikap di ruang publik.

“Sehingga kita perempuan harus mampu memposisikan diri pada nilai-nilai ini, baik dari lifestyle, prilaku serta pola pikir kita,” pungkasnya.

Aklima juga menyoroti fenomena ikut-ikutan tren atau fear of missing out (FOMO) yang menurutnya menjadi persoalan serius di kalangan generasi muda saat ini.

“Persoalan utama generasi muda kita skrg ini latah atau bahasa gaul skrg fomo, disisi lain kontruksi sosial yang kemudian mendeskripsikan cantik dlm perspektif yg sempit, misal perempuan cantik jika dia mampu menyesuaikan diri dg trend kekinian, putih, gaul dan lainnya,” jelas Aklima.

Situasi tersebut, kata dia, semakin diperparah oleh masifnya industri kecantikan dan fashion yang mengeksploitasi tubuh perempuan demi keuntungan ekonomi, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dan identitas budaya.

“Kemudian, perang bisnis kecantikan dan fashion yang menempatkan perempuan sebagai objek untuk konsumen vital untuk meraup keuntungan dengan menafikan nilai-nilai kemanusiaan didalamnya,” tutupnya.

Aklima berharap, perempuan muda Aceh mampu membangun kesadaran kritis terhadap arus budaya populer, serta menempatkan hijab bukan sekadar aksesori visual, melainkan cerminan nilai, identitas, dan martabat diri sebagai perempuan Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Kapolda Aceh Tinjau Sumur Bor Bantuan Polri di Aceh Tamiang, Pastikan Masih Berfungsi dan Bermanfaat

0
Kepala Kepolisian Daerah Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas sumur bor bantuan Polri yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Kepala Kepolisian Daerah Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas sumur bor bantuan Polri yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan sumur bor yang telah dibangun masih berfungsi optimal serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pascabencana.

Kapolda Aceh menyampaikan bahwa pembangunan sumur bor tersebut merupakan bagian dari program kemanusiaan yang digagas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan disalurkan ke berbagai wilayah di Aceh.

“Hari ini Sabtu 24 Januari 2026 kami mengecek sumur-sumur yang telah diberikan oleh Bapak Kapolri,” ujar Kapolda Aceh.

Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa pengeboran sumur, tetapi juga dilengkapi dengan sarana pendukung lainnya seperti mesin pompa dan toren air.

“Total bantuan sumur bor Bapak Kapolri yaitu sebanyak 267 titik, meliputi pembuatan sampai dengan mesin dan toren,” jelasnya.

Kapolda Aceh menegaskan, jajaran Polda Aceh berkomitmen untuk memastikan seluruh bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Jika ditemukan kendala atau kerusakan, pihaknya akan segera melakukan perbaikan agar fungsi sumur bor tetap terjaga.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran peninjauan adalah RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang. Dari hasil pengecekan, sumur bor bantuan Polri di rumah sakit tersebut masih berfungsi dengan baik dan terus dimanfaatkan untuk menunjang pelayanan kesehatan.

“Alhamdulillah di RSUD Kabupaten Aceh Tamiang, hari ini sumur bor bantuan Polri masih bermanfaat. Semoga bermanfaat bagi Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Tamiang,” ucap Kapolda.

Sementara itu, Direktur RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang, Dr Andika Putra SA, menyampaikan bahwa bantuan sumur bor dari Polri sangat membantu operasional rumah sakit sejak masa awal pascabencana hingga saat ini.

“Hari ini kami kedatangan kunjungan dari Bapak Kapolda beserta Ibu untuk melihat bantuan sumur bor dari Bapak Kapolri. Alhamdulillah, sumur sudah beroperasi dan kami gunakan untuk kebutuhan operasional rumah sakit sejak awal-awal pasca bencana sampai sekarang ini terus kami gunakan,” ungkapnya.

Ia berharap, bantuan tersebut dapat terus memberikan manfaat dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh Tamiang.

“Mudah-mudahan apa yang sudah diberikan ini terus bisa memberikan manfaat untuk kegiatan pelayanan di rumah sakit,” katanya.

Dr Andika juga menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada Kapolri dan seluruh jajaran Polri atas perhatian dan kepedulian yang diberikan kepada pihak rumah sakit.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan seluruh jajarannya atas perhatiannya kepada RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang,” pungkasnya.

Wali Kota Banda Aceh Pimpin Aksi Kemanusiaan ke Gayo Lues

0
Wali Kota Banda Aceh Pimpin Aksi Kemanusiaan ke Gayo Lues. (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal memimpin langsung misi kemanusiaan ke Kabupaten Gayo Lues pada Kamis, 22 Januari 2026. Kunjungan tersebut dilakukan bersama rombongan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Dalam misi tersebut, Illiza menyerahkan bantuan kemanusiaan yang berasal dari Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarbaru kepada warga terdampak di Gayo Lues. Rombongan harus menempuh perjalanan panjang melalui jalur Babah Rot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), dengan kondisi medan yang tergolong berat.

Sepanjang perjalanan, rombongan melewati jalur pegunungan yang terjal serta sejumlah ruas jalan yang terdampak longsor. Meski menghadapi tantangan tersebut, rombongan tetap melanjutkan perjalanan sebagai wujud komitmen untuk memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Setibanya di Kantor Bupati Gayo Lues, Wali Kota Banda Aceh disambut langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues. Selanjutnya, Illiza didampingi Camat Tripe Jaya meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Desa Uyem Beriring dan Desa Pasir, sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga.

Bantuan disalurkan untuk satu unit Sekolah Dasar (SD) dan satu masjid yang terdampak bencana. Adapun bantuan yang diberikan meliputi kain sarung, sajadah, mukena, baju koko dewasa, Al-Qur’an, air mineral, family kit, kasur, dan bantal.

Wali Kota Banda Aceh menyampaikan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan wujud solidaritas dan kepedulian antardaerah terhadap masyarakat yang tertimpa musibah. “Semoga bantuan ini dapat meringankan beban warga serta mempercepat proses pemulihan pascabencana.”

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Banda Aceh dalam kegiatan kemanusiaan lintas daerah.

“Pemerintah Kota Banda Aceh terus berkomitmen untuk hadir dalam setiap upaya kemanusiaan dan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah lain demi membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Illiza.

Gerakan Tanah di Ketol dan Sejumlah Wilayah Aceh Tengah Masih Berpotensi Bergerak, ESDM Aceh Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

0
Gerakan Tanah di Ketol dan Sejumlah Wilayah Aceh Tengah Masih Berpotensi Bergerak, ESDM Aceh Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan bahwa aktivitas gerakan tanah dan longsor di Kecamatan Ketol serta sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah masih berpotensi terjadi. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama di lokasi bekas longsoran yang hingga kini masih menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan tanah.

Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik ST, MSi, menyampaikan hal tersebut setelah tim geologi ESDM Aceh melakukan peninjauan dan pemantauan lapangan di beberapa titik rawan gerakan tanah pada pekan lalu. Kegiatan ini bertujuan memastikan kondisi terkini sekaligus mengevaluasi potensi bahaya lanjutan, khususnya pada musim hujan.

“Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kami menemukan bahwa di beberapa lokasi longsor lama masih dijumpai rekahan tanah yang cukup berkembang pada bagian mahkota longsoran. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa tanah tersebut belum stabil sepenuhnya dan masih berpotensi bergerak kembali, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas menengah-tinggi,” ujar Taufik.

Ia menjelaskan, salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Gampong Pondok Balek, Kecamatan Ketol. Kawasan tersebut telah lama diidentifikasi sebagai zona gerakan tanah aktif. Dinas ESDM Aceh sebelumnya juga melakukan kajian teknis melalui survei ortofoto, pengukuran geolistrik, serta metode ADMT/AGR untuk mengetahui karakteristik bawah permukaan tanah.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pergerakan tanah di kawasan tersebut berlangsung secara lambat namun terus berkembang. Wilayah Pondok Balek tersusun oleh material vulkanik lapuk dari Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang bersifat permeabel pada kedalaman tertentu dan mudah jenuh air. Kondisi ini membuat tanah rentan mengalami pergerakan, terutama saat curah hujan meningkat.

Data ortofoto bahkan memperlihatkan adanya pergeseran tanah hingga beberapa meter ke arah tenggara, sejalan dengan arah potensi longsoran yang teridentifikasi dari hasil pengukuran bawah permukaan.

“Kondisi geologi seperti ini menyebabkan kawasan Pondok Balek dan sekitarnya sangat rentan terhadap gerakan tanah berulang, sehingga memerlukan perhatian serius dan penanganan yang terencana,” jelasnya.

Selain Kecamatan Ketol, tim ESDM Aceh juga mencatat kejadian longsor tersebar di sejumlah wilayah Aceh Tengah, terutama pada kawasan lereng curam. Banyaknya rekahan di bagian mahkota longsor menjadi indikasi bahwa pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan dan berpotensi memicu longsor susulan.

Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain ruas Jalan Bireuen–Takengon, kawasan permukiman dan lereng di Desa Mendale dan Desa Payareje (Kecamatan Kebayakan), Desa Hakim Bale Bujang (Kecamatan Lut Tawar), wilayah Kecamatan Bintang, serta desa-desa lain dengan kondisi geologi serupa. Daerah-daerah tersebut umumnya tersusun oleh material vulkanik lepas seperti tufa dan pasir dengan kemiringan lereng yang curam, sehingga rentan longsor, terutama saat hujan berintensitas menengah hingga tinggi maupun ketika terjadi gempa bumi.

Berdasarkan hasil peninjauan, sejumlah lokasi masih menyisakan bekas longsoran lama yang memiliki rekahan dan blok tanah belum stabil. Karena itu, masyarakat dan pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan, menghindari area tebing rawan longsor, serta memperhatikan rambu peringatan yang telah dipasang.

Pemerintah daerah juga didorong untuk melakukan pemantauan rutin, sosialisasi kebencanaan, serta kajian geologi teknik dan tata lingkungan sebelum pembangunan infrastruktur maupun relokasi permukiman sebagai langkah mitigasi risiko bencana.

Rekomendasi Teknis dan Imbauan

Sebagai upaya pencegahan, Dinas ESDM Aceh meminta pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan pengawasan di wilayah rawan gerakan tanah, khususnya pada area bekas longsoran yang masih menunjukkan rekahan aktif.

Taufik menekankan pentingnya pengendalian air permukaan dan sistem drainase karena air hujan menjadi faktor utama yang meningkatkan tekanan air pori dan melemahkan kestabilan lereng. Pada lokasi berisiko tinggi terhadap infrastruktur strategis, relokasi trase jalan dinilai perlu dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang.

Selain itu, pemantauan berkala melalui pengamatan lapangan dan pengukuran teknis lanjutan perlu terus dilakukan, terutama selama musim hujan. Pemasangan rambu peringatan serta pembatasan aktivitas di sekitar zona rawan longsor juga dinilai penting guna mengurangi risiko bagi masyarakat dan pengguna jalan.

Kepala Dinas ESDM Aceh turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat mempercepat gerakan tanah, seperti membuka lereng tanpa kaidah teknis. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya rekahan, pohon atau tiang yang mulai miring, maupun perubahan aliran air.

“Upaya mitigasi gerakan tanah membutuhkan kerja sama semua pihak. Kewaspadaan dini dan penanganan yang tepat akan sangat membantu mengurangi risiko dan dampak bencana di kemudian hari,” tutupnya.

Operasi Modifikasi Cuaca Masih Berlanjut di Aceh

0
Ilustrasi cuaca cerah berawan. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Aceh terus dilaksanakan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem, mulai dari potensi banjir dan longsor hingga munculnya titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Koordinator Lapangan OMC Wilayah Aceh, Dwipa Wirawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak 28 November 2025 atas instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi tersebut dilakukan menyusul potensi hujan lebat yang berisiko memicu bencana.

“Sejak adanya rencana penanganan cuaca ekstrem, kami dari pelaksana OMC telah mengantisipasi dengan melakukan penyemaian awan sesuai perintah BNPB, agar hujan tidak berdampak pada banjir dan longsor seperti yang terjadi pada November lalu,” kata Dwipa, Minggu (25/1/2026).

Pada tahap awal, OMC beroperasi dengan basis di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Langkah ini dilakukan untuk menghalau hujan di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Namun, seiring perkembangan kondisi cuaca dan kebutuhan nasional, termasuk tingginya curah hujan di Pulau Jawa, basis operasi kemudian dipindahkan ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Dwipa menyebutkan, saat ini fokus utama OMC adalah mengendalikan hujan guna mendukung pembangunan hunian sementara di wilayah terdampak bencana. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat dapat kembali menempati tempat tinggal yang layak, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Penyemaian awan terus kami lakukan di sejumlah wilayah seperti Bireuen, Pidie, dan Aceh Timur, sekaligus mengamankan pembangunan jalur transportasi yang masih terputus akibat bencana,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan terjadi di Aceh dengan intensitas ringan hingga sedang. Meski demikian, kondisi tanah yang belum stabil dinilai masih berpotensi memicu longsor susulan serta menghambat pembangunan infrastruktur darurat.

Hingga kini, OMC telah melaksanakan sekitar 260 sorti penerbangan, dengan rincian masing-masing 130 sorti dari Bandara Kualanamu dan Bandara Sultan Iskandar Muda.

Selain mengantisipasi banjir dan longsor, OMC juga diarahkan untuk merespons kemunculan 175 titik panas di sejumlah wilayah Aceh. Dwipa mengatakan, penyemaian awan diharapkan dapat memicu hujan di daerah rawan karhutla, terutama di Aceh Barat dan Nagan Raya.

“Kondisi ini cukup menantang, karena di satu wilayah hujan sangat diharapkan untuk memadamkan hotspot, sementara di wilayah lain hujan justru harus diminimalkan karena pembangunan dan rehabilitasi jalur darat masih berlangsung,” jelasnya.

Secara teknis, tantangan terbesar dalam operasi ini adalah pertumbuhan awan yang cepat serta kondisi wilayah pegunungan yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Risiko tersebut terutama meningkat pada sore hingga malam hari akibat masuknya massa udara dari Selat Malaka dan Samudera Hindia.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas, sehingga pergerakan pesawat harus dibatasi dan tidak bisa terlalu dekat dengan badan awan,” kata Dwipa.

Pada Minggu (25/1/2026), OMC melaksanakan dua sorti penerbangan. Sorti pertama dilakukan pada pagi hari untuk menghalau awan di perairan sekitar Aceh Timur agar tidak bergerak ke daratan. Sementara sorti kedua dilakukan pada siang hari menuju wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur.

Dwipa menambahkan, operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga status siaga darurat dicabut atau setidaknya sampai pembangunan hunian sementara dapat diselesaikan secara optimal.

“Kami akan terus memantau perkembangan cuaca dan pertumbuhan awan di seluruh wilayah Aceh, baik di bagian timur maupun barat,” pungkasnya.