Beranda blog Halaman 220

Pasar Tani Distanbun Aceh Bantu Masyarakat Jelang Idul Adha

0
Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun Aceh, Zulfadli (kedua kanan) saat meninjau pedagang di pasar tani, pada Rabu 4 Juni 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh menggelar kegiatan Pasar Tani Edisi Meugang di lokasi Expo Bank Aceh, tepatnya di Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, pada Rabu (4/6/2025) pagi.

Sebanyak 57 UMKM turut berpartisipasi dalam kegiatan ini untuk menjual beragam produk mulai dari sayur-mayur, telur, daging segar, ayam potong, hingga gas LPG 3 kilogram.

Sekretaris Distanbun Aceh, Zulfadli menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menekan angka inflasi sekaligus membantu petani dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memasarkan produknya.

“Pasar tani ini tidak hanya menjaga kestabilan harga bahan pokok, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi para petani dan UMKM,” ujar Zulfadli kepada Nukilan saat meninjau langsung pedagang di lokasi.

Zulfadli merincikan sejumlah harga komoditas yang tersedia di pasar tani ini diantaranya, Gas LPG 3 Kg dibanderol Rp18.000, dengan ketersediaan 560 tabung, telur ayam dijual Rp46.000 per papan dengan jumlah 520 papan yang tersedia, daging sapi segar dijual seharga Rp150.000 per kilogram, lebih murah dibanding harga di pasar tradisional yang berkisar antara Rp170.000 hingga Rp180.000. 

Selanjutnya, bawang merah dan putih masing-masing dijual Rp38.000 per kilogram, sementara di pasar tradisional bisa mencapai Rp40.000 dan Rp42.000. Cabai merah dijual Rp38.000 per kilogram dan cabai rawit Rp35.000, sedikit lebih murah dari harga pasar yang mencapai Rp40.000 dan Rp32.000.

Zulfadli menambahkan harga yang ditawarkan di pasar tani ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pasar tradisional. Hal ini dikarenakan produk-produk tersebut langsung diambil dari petani tanpa melalui perantara.

Ia juga menyebutkan total omzet penjualan dari kegiatan Pasar Tani Edisi Meugang ini mencapai Rp177.775.000. Capaian ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan pasar tani yang digelar Distanbun Aceh,

“Dengan adanya kegiatan pasar tani ini, diharapkan masyarakat dapat kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau menjelang lebaran, sekaligus memberikan dampak positif bagi para petani dan UMKM di Aceh,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

USK Kerahkan 429 Mahasiswa untuk Periksa Hewan Kurban di Aceh

0
USK Kerahkan 429 Mahasiswa untuk Periksa Hewan Kurban di Aceh. (Foto: HUMAS USK)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat. Menyambut Iduladha 2025, sebanyak 429 mahasiswa dan 66 dosen dikerahkan untuk tergabung dalam Tim Supervisi Pemeriksaan dan Pemotongan Hewan Qurban (SPPHQ) Tahun 2025.

Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan yang telah dilakukan USK selama beberapa tahun terakhir. Tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab akademik, tetapi juga sebagai upaya untuk memastikan pelaksanaan ibadah kurban berlangsung dengan aman, sehat, dan halal.

“Tim SPPHQ ini adalah wujud nyata dari pengabdian USK kepada masyarakat. Kehadiran mereka sangat penting untuk memastikan hewan yang dikurbankan dalam kondisi sehat, serta proses penyembelihan dilakukan secara benar, sesuai dengan syariat Islam dan kaidah kesejahteraan hewan,” kata Rektor USK Prof Marwan di Darussalam, Selasa (3/6/2025).

Menjangkau Banda Aceh hingga Luar Provinsi

Sebagian besar mahasiswa akan bertugas di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Namun, sebanyak 20 orang di antaranya juga ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan hewan kurban di luar Provinsi Aceh. Ini menjadi bukti bahwa kegiatan SPPHQ tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Selain melakukan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah penyembelihan, para mahasiswa juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat. Edukasi ini mencakup tata cara penyembelihan yang sesuai syariat dan prinsip kesejahteraan hewan.

Lokasi Pemotongan Capai 54 Titik

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) USK, Dr drh. Teuku Reza Ferasyi, menyampaikan bahwa tim akan disebar ke lebih dari 54 titik lokasi pemotongan hewan kurban. Lokasi tersebut tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar, mencakup 37 gampong.

“Kami berharap program ini memberikan dampak positif, baik bagi masyarakat maupun bagi mahasiswa FKH. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung menangani hewan di lapangan, serta menerapkan keterampilan klinis dan pengetahuan veteriner secara nyata,” ujarnya.

Program ini akan berlangsung selama tiga hari, yakni pada 6–8 Juni 2025. Dengan jangkauan yang luas dan keterlibatan berbagai pihak, USK berharap kontribusi ini akan memperkuat pelaksanaan kurban yang lebih baik ke depannya.

Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Lebih jauh, kegiatan SPPHQ ini juga mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, inisiatif ini selaras dengan poin ke-12, tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.

USK menegaskan bahwa pelibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini tidak hanya memberi manfaat akademik, melainkan juga mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Dengan demikian, nilai kurban tidak hanya dirayakan secara spiritual, tetapi juga melalui praktik nyata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Editor: Akil

Aceh Menang Argumen tapi Empat Pulau Jadi Milik Sumut, Irmawan Duga Ada Operasi Senyap

0
Pulau Sengketa. (Foto: Serambi News)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Pemerintah Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) telah berulang kali duduk bersama, membahas status kepemilikan empat pulau sengketa. Namun, meski Aceh dinilai selalu unggul dalam argumen, hasil akhirnya justru merugikan. Empat pulau tersebut kini resmi masuk wilayah Sumut berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025.

Pulau-pulau yang disengketakan adalah Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Keempatnya semula tercatat sebagai bagian dari Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil.

Aceh Unggul dalam Argumen, Tapi Gagal dalam Keputusan

Dalam setiap rapat yang difasilitasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Aceh selalu tampil meyakinkan. Argumen disampaikan berdasarkan dokumen resmi, bukti fisik di lapangan, dan catatan sejarah.

Sebaliknya, pihak Sumatera Utara kerap tak bisa menunjukkan dokumen pendukung. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, mereka hanya terdiam karena minimnya dasar klaim.

Namun anehnya, hasil rapat justru memutuskan bahwa empat pulau itu sah menjadi milik Sumut. Keputusan ini pun membuat banyak pihak di Aceh merasa kecewa dan mempertanyakan integritas proses tersebut.

Irmawan: “Ada Operasi Senyap”

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI asal Aceh, Irmawan, menyampaikan dugaan yang mengejutkan. Ia menyebut kemungkinan adanya skenario tersembunyi di balik keputusan yang dinilai tidak adil itu.

“Saya tahu ketika diskusi Aceh, Sumut, dan Mendagri, kita pemenangnya, tapi keputusan hasil rapat merugikan kita,” kata Irmawan.

Ia pun menyebut bahwa situasi ini bukan lagi sekadar urusan administratif atau sumber daya alam.

“Ada operasi senyap,” lanjutnya saat pertemuan dengan Pemkab Aceh Singkil dan tokoh masyarakat di Pendopo Bupati Singkil, Senin (2/6/2025) malam.

Menurutnya, permasalahan ini telah menyentuh aspek harga diri masyarakat Aceh.

“Bukan persoalan migas, tapi ini soal harga diri. Karena ini jelas milik kita. Dengan segala cara harus diperjuangkan,” tegas Irmawan.

Jangan Kecolongan Lagi

Irmawan menegaskan bahwa Pemerintah Aceh tidak boleh lengah. Ia menyerukan agar perjuangan dilakukan dari dua sisi: secara hukum dan penguasaan fisik di lapangan. Jika empat pulau tersebut dibiarkan begitu saja, maka secara legalitas akan sah menjadi milik Sumut.

Ia juga mengingatkan bahwa Gubernur Sumut telah menyatakan rencana untuk membangun prasasti di pulau-pulau tersebut, sebagai simbol penguasaan.

“Apalagi Gubernur Sumut berstatement akan membuat prasasti,” tandasnya.

“Kita berharap tanpa terjadi hal tak diinginkan, 4 pulau bisa kembali ke pangkuan kita,” ujarnya.

Suara Senada dari Daerah

Pernyataan Irmawan diperkuat oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Singkil, Junaidi. Menurutnya, dalam setiap rapat dengan Kemendagri, Aceh selalu tampil dengan bukti kuat. Sedangkan pihak Sumut, nyaris tidak memiliki argumen.

“Saat rapat, dokumen apapun dari Sumut tidak ada, Sumut diam tidak ada dokumen. Namun hasil rapat, keputusannya tidak berpihak sama kita,” ujar Junaidi.

Kekhawatiran serupa juga diutarakan oleh Darwati A Gani, Senator DPD RI asal Aceh. Ia mengingatkan agar masyarakat Aceh tetap waspada terhadap setiap langkah yang diambil Sumut.

“Kita harus bisa awasi agar itu tidak terjadi,” tukasnya, merujuk pada rencana pembangunan prasasti sebagai penanda penguasaan fisik pulau.

Langkah Selanjutnya

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Kemendagri terkait tudingan adanya “operasi senyap”. Namun, tekanan dari berbagai elemen masyarakat Aceh semakin menguat. Mereka menuntut kejelasan dan keadilan, serta menyerukan agar kepemilikan empat pulau dikaji ulang dengan transparan.

Satu hal yang pasti, perjuangan untuk mempertahankan wilayah ini tidak akan berhenti hanya karena satu keputusan. Sebaliknya, ini bisa menjadi momentum bagi Aceh untuk menunjukkan bahwa tanahnya, sejarahnya, dan haknya tidak bisa diremehkan.

Editor: Akil

Kejati Aceh Luncurkan Rencana Aksi Perlindungan Hukum Pekerja, Ini Manfaatnya

0
Kejati Aceh Luncurkan Rencana Aksi Perlindungan Hukum Pekerja. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh bersama BPJS Ketenagakerjaan resmi meluncurkan program Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk memperkuat perlindungan hukum bagi para pekerja. Peluncuran program ini berlangsung di Banda Aceh pada Selasa (3/6/2025).

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk komitmen memperluas cakupan jaminan sosial ketenagakerjaan di seluruh wilayah Provinsi Aceh.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Yudi Triadi, mengatakan bahwa program ini sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan badan usaha dan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan program jaminan sosial ketenagakerjaan.

“Rencana aksi ini sekaligus mendorong kepatuhan badan usaha dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program jaminan sosial dan hukum bagi seluruh pekerja,” kata Yudi Triadi.

Tak hanya itu, Yudi juga mengapresiasi kolaborasi antara Kejati Aceh dan BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, sinergi ini sangat penting untuk menciptakan sistem perlindungan hukum yang komprehensif.

Program ini merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2021 tentang optimalisasi pelaksanaan program jaminan sosial ketenagakerjaan. Oleh karena itu, Yudi menegaskan pentingnya peran kejaksaan dalam memberikan pendampingan hukum secara menyeluruh.

“Melalui bantuan hukum, pertimbangan hukum, dan tindakan hukum lainnya, kami berupaya mendukung penyelamatan serta pemulihan keuangan negara dan penegakan kewibawaan pemerintah,” tambahnya.

Dari pihak BPJS Ketenagakerjaan, Kepala Kantor Wilayah Sumatera Bagian Utara, I Nyoman Suarjaya, mengungkapkan terima kasih atas dukungan Kejati Aceh dalam pelaksanaan RAN ini.

“Kami menekankan pentingnya kerja sama semua pihak dalam mewujudkan universal coverage jaminan sosial ketenagakerjaan. Dalam rencana pembangunan jangka panjang, perlindungan pekerja menjadi prioritas,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan menjalankan lima program utama berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011. Kelima program tersebut meliputi jaminan hari tua, pensiun, kehilangan pekerjaan, kecelakaan kerja, dan kematian.

Tak hanya itu, bagi pekerja rentan yang telah didaftarkan dalam program jaminan kecelakaan kerja dan kematian, tersedia manfaat tambahan yang menyentuh aspek keluarga.

“Untuk pekerja rentan yang telah didaftarkan pada program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian, tersedia santunan pengobatan hingga sembuh serta beasiswa bagi dua anak pekerja yang meninggal dunia hingga jenjang pendidikan tinggi,” ujar I Nyoman Suarjaya.

Program ini menjadi bentuk nyata komitmen kejaksaan dan BPJS Ketenagakerjaan dalam melindungi hak pekerja di Aceh, terutama mereka yang berada dalam kategori pekerja informal dan rentan.

Dengan adanya rencana aksi ini, diharapkan masyarakat pekerja di Aceh dapat bekerja dengan lebih tenang, terlindungi, dan mendapatkan kepastian hukum yang adil. Pemerintah daerah serta badan usaha pun diingatkan untuk lebih aktif mendukung implementasi jaminan sosial secara menyeluruh.

Editor: Akil

Disdik Aceh Umumkan Pemenang Al-Hikam 2025, Kadisdik Dorong Inovasi Pendidikan Menuju Sekolah Unggul

0
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis, S.T., D.E.A. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pendidikan Aceh melalui UPTD Balai Tekkomdik resmi mengumumkan para pemenang Lomba Himpunan Inovasi Kependidikan Aceh Maju (Al-Hikam) 2025. Ajang tahunan ini berlangsung sejak April hingga Juni, diikuti ratusan tim dari 23 kabupaten/kota jenjang SMA, SMK, dan SLB, serta digelar secara daring.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis ST, DEA, menegaskan bahwa inovasi merupakan pilar penting dalam menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang. Menurutnya, Al-Hikam menjadi ruang bagi guru dan kepala sekolah untuk keluar dari rutinitas dan menghadirkan terobosan baru dalam pembelajaran.

“Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan. Inovasi adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan menyenangkan bagi peserta didik. Semangat ini yang coba kami dorong melalui Al-Hikam,” jelas Marthunis, Rabu (4/6/2025).

Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi pendidikan Aceh yang berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing.

“Inovasi yang lahir dari satuan pendidikan ini bukan sekadar proyek sesaat, tapi harus menjadi praktik baik yang bisa ditiru dan dikembangkan di sekolah lain. Kami berharap, karya-karya ini bisa terus dimonitor, dibina, dan dijadikan referensi di tingkat nasional,” ujarnya.

Marthunis juga menekankan pentingnya keberlanjutan dari karya terbaik yang dihasilkan melalui Al-Hikam.

“Kita ingin hasil dari lomba ini tidak hanya menjadi arsip, tetapi menjadi solusi nyata bagi tantangan di lapangan. Oleh karena itu, kami akan terus mendorong agar inovasi-inovasi ini terintegrasi dalam program-program pembinaan dan pengembangan satuan pendidikan,” tutupnya.

Senada dengan itu, Kepala UPTD Balai Tekkomdik Aceh, Syahrul MPd, menilai Al-Hikam tidak sekadar kompetisi, tetapi juga sarana membangun budaya inovasi di sekolah.

“Antusiasme peserta luar biasa. Kami melihat banyak inovasi yang bukan hanya kreatif, tapi juga aplikatif dan menjawab kebutuhan lokal. Ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan di Aceh sedang berada di jalur yang tepat,” kata Syahrul.

Berikut daftar pemenang Al-Hikam 2025:

Kategori SMA

  • Juara I: SMA Negeri Unggul Subulussalam

  • Juara II: SMA Negeri 1 Sabang

  • Juara III: SMA Negeri 1 Baitussalam, Aceh Besar

Kategori SMK

  • Juara I: SMKN 3 Banda Aceh

  • Juara II: SMK Negeri 1 Bendahara

  • Juara III: SMK Negeri 1 Calang

Kategori SLB

  • Juara I: Bukesra Banda Aceh

  • Juara II: SLBN Pembina Provinsi Aceh

  • Juara III: SLB YBSM

Polantas Aceh Barat Tindak Tegas Truk ODOL di Meulaboh

0
Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Barat menggelar sosialisasi serta pengecekan kendaraan Overload dan Overdimensi (ODOL), di Terminal Bongkar Muat Mobil Barang, Meulaboh, Selasa (3/6/2025). (Foto: Satlantas Polres Aceh Barat)

NUKILAN.ID | Meulaboh — Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ketertiban berlalu lintas. Selasa pagi (3/6/2025), petugas menggelar sosialisasi dan pemeriksaan kendaraan Over Dimension dan Over Loading (ODOL) di Terminal Bongkar Muat Mobil Barang, Meulaboh.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kasatlantas Polres Aceh Barat, Iptu Yusrizal. Dalam pelaksanaannya, ia turut menggandeng Dinas Perhubungan serta Jasa Raharja Meulaboh. Pemeriksaan difokuskan pada kendaraan barang yang diduga melanggar ketentuan dimensi dan kapasitas angkut.

Menurut Iptu Yusrizal, langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).

“Kegiatan ini juga sebagai bentuk edukasi kepada pengemudi dan pemilik kendaraan barang. Mereka harus sadar pentingnya mematuhi batas muatan dan ukuran kendaraan untuk keselamatan bersama,” ujar Iptu Yusrizal.

Iptu Yusrizal menegaskan, kendaraan yang tergolong ODOL hanya memiliki dua pilihan: melakukan normalisasi atau tidak diizinkan beroperasi sama sekali. Langkah ini sejalan dengan kampanye nasional bertajuk Indonesia Menuju Zero Over Dimension and Over Loading.

Hal ini merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan RI No. PM 133 Tahun 2015 yang mengatur Uji KIR. Uji berkala ini penting untuk memastikan kendaraan laik jalan dan aman saat beroperasi di jalan raya.

Uji KIR sendiri mencakup pengukuran dimensi kendaraan seperti panjang, lebar, dan tinggi, serta pemeriksaan berat sesuai ketentuan. Bila tidak dilakukan, kendaraan berisiko dikenai tilang, denda, atau bahkan penarikan dari jalan dan penutupan izin operasional.

Lebih lanjut, Iptu Yusrizal mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 70 Ayat 2 mewajibkan perpanjangan STNK setiap lima tahun. Proses ini juga mencakup pemeriksaan fisik kendaraan, termasuk dimensi dan kelengkapan dokumen.

“Jika ditemukan dimensi tidak sesuai saat perpanjangan STNK, pemilik kendaraan bisa gagal bayar pajak. Kendaraan pun harus dikembalikan ke bentuk asli atau dikenai sanksi administrasi sesuai aturan berlaku,” ucap Iptu Yusrizal.

Tidak hanya menindak, Satlantas Polres Aceh Barat juga aktif membangun komunikasi dengan para pelaku usaha dan asosiasi angkutan. Menurut Iptu Yusrizal, kesadaran kolektif dari semua pihak merupakan kunci menciptakan lalu lintas yang aman dan tertib.

Di akhir keterangannya, ia mengimbau agar seluruh pengemudi dan pemilik kendaraan patuh pada aturan yang berlaku. Dengan begitu, jalan raya bisa menjadi ruang bersama yang aman dan layak digunakan oleh semua kalangan.

Editor: Akil

Jemaah Haji Aceh Menuju Arafah Hari Ini, Keberangkatan Dilakukan dalam Tiga Tahap

0
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Puncak ibadah haji semakin dekat. Seluruh jemaah haji asal Aceh dijadwalkan akan diberangkatkan ke Padang Arafah pada hari ini, Rabu (4/6/2025), dalam tiga tahap keberangkatan.

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, menyampaikan bahwa proses pemindahan ke Arafah dimulai sejak pagi hari.

Gelombang pertama akan berangkat mulai pukul 08.00 hingga 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Kemudian, gelombang kedua dijadwalkan antara pukul 11.00 hingga 16.00 WAS. Terakhir, gelombang ketiga akan diberangkatkan mulai pukul 16.00 hingga tengah malam.

“Kita berdoa semoga berjalan lancar, dan sebelum subuh 9 Zulhijah semua jemaah sudah berada di Padang Arafah,” ujar Azhari, Selasa (3/6/2025) kemarin.

Tak hanya itu, Azhari menambahkan bahwa jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta akan difasilitasi secara khusus melalui program Safari Wukuf Khusus.

Mereka akan dikawal oleh tenaga medis, didampingi petugas ibadah, dan disediakan hotel transit. Dengan langkah ini, diharapkan seluruh jemaah tetap dapat menjalankan wukuf secara aman, layak, dan nyaman.

Seiring dengan persiapan menjelang puncak haji, para petugas kloter telah lebih dahulu melakukan survei ke Arafah dan Mina. Berdasarkan laporan, semua fasilitas tenda di lokasi wukuf telah disiapkan dan siap menampung jemaah.

“Alhamdulillah, sementara ini tidak ada kendala berarti untuk menghadapi puncak pelaksanaan ibadah haji. Meskipun musim haji kali ini ada perubahan seperti nama maktab yang mengurusi jemaah haji sekarang berganti dengan syarikah, namun tugas dan fungsinya tidak jauh berbeda,” jelas Azhari.

Menariknya, setiap jemaah akan mendapatkan kasur dan bantal. Fasilitas ini tentu akan membuat mereka lebih nyaman saat berada di Padang Arafah.

Sementara itu, seluruh kloter juga telah menyelesaikan bimbingan pra-Armuzna yang dilaksanakan di hotel masing-masing. Tujuannya adalah memperdalam kembali pemahaman jemaah terhadap manasik yang telah dipelajari sejak di Tanah Air.

Di sisi lain, petugas juga melakukan kunjungan khusus ke kamar-kamar jemaah yang masuk kategori risiko tinggi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi mereka cukup siap menghadapi puncak ibadah haji.

Untuk diketahui, PPIH Embarkasi Aceh telah memberangkatkan total 4.446 jemaah yang tergabung dalam 12 kloter. Hingga hari ini, tercatat dua jemaah wafat di Arab Saudi, sementara satu orang masih dirawat di Saudi National Hospital akibat demensia berat dan dehidrasi.

Editor: Akil

Sambut Idul Adha, Angkasa Pura Salurkan 300 Paket Sembako dan Satu Ekor Sapi

0
PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Blang Bintang menyalurkan sebanyak 300 paket sembako dan satu ekor sapi dalam rangka menyambut lebaran Idul Adha 1446 Hijriah. (Foto: Humas bandara SIM)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, menyalurkan 300 paket sembako kepada masyarakat. Selain itu, satu ekor sapi juga disumbangkan sebagai bagian dari kurban untuk warga sekitar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program CSR Injourney berbagi sembako, yang bertujuan memperkuat kepedulian sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

“Bantuan yang kita serahkan ini merupakan bagian dari program CSR Injourney berbagi sembako guna meningkatkan kesejahteraan dan kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat sekitar bandara,” kata Pgs General Manager Angkasa Pura Indonesia Bandara SIM, Ade Yustian, di Blang Bintang, Selasa (3/6/2025).

Sasar Warga Kurang Mampu

Penyerahan bantuan sembako tersebut turut dihadiri oleh Wakil Bupati Aceh Besar, Syukri. Menurut penjelasan Ade, paket sembako itu terdiri dari minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam ras.

Paket-paket tersebut disalurkan secara khusus kepada keluarga kurang mampu di kawasan Blang Bintang dan Kuta Baro. Ini dilakukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan memberi manfaat nyata menjelang lebaran.

Lebih dari itu, pembagian sembako ini juga diharapkan bisa membantu menekan laju inflasi yang sering meningkat menjelang hari raya besar.

Selain pembagian sembako, PT Angkasa Pura Indonesia juga menyalurkan satu ekor sapi untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha. Hewan kurban itu diperuntukkan bagi warga sekitar Bandara SIM yang membutuhkan.

Menurut Ade, kegiatan serupa tidak hanya dilakukan di Aceh Besar. Secara bersamaan, penyaluran hewan kurban juga berlangsung di 30 kantor cabang PT Angkasa Pura Indonesia di seluruh Indonesia.

Melalui program sosial ini, perusahaan berharap kehadiran Bandara SIM tak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial bagi masyarakat sekitarnya.

“Pihaknya berharap dengan adanya program tersebut dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura Indonesia,” ujarnya.

Apresiasi dari Pemerintah Daerah

Wakil Bupati Aceh Besar, Syukri, menyampaikan apresiasi atas kepedulian PT Angkasa Pura Indonesia kepada masyarakat menjelang Idul Adha.

“Wakil Bupati Aceh Besar Syukri menyampaikan terima kasih kepada PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Sultan Iskandar Muda yang telah menyalurkan bantuan paket sembako dan satu ekor sapi untuk hari raya kurban.”

Editor: Akil

Jadi Pembicara di ICSET Maroko, Akademisi Aceh Tawarkan Solusi Kurikulum Medis Era AI

0

NUKILAN.ID | Marrakesh – Akademisi asal Aceh, Dr. Faisal Binsar, kembali menorehkan prestasi internasional. Ia tampil sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia dalam 4th International Conference on Social Science, Engineering, Education and Technology (ICSET) yang digelar oleh IFERP pada 29–30 Mei 2025 di Marrakesh, Maroko.

Konferensi bergengsi ini menghadirkan ratusan ilmuwan, akademisi, dan profesional dari berbagai negara. Mereka bertemu untuk membahas isu-isu krusial dalam pendidikan, teknologi, ilmu sosial, dan rekayasa. Dalam konteks ini, kehadiran Faisal menjadi representasi penting dari Indonesia—khususnya Aceh—dalam percakapan global mengenai transformasi pendidikan di era digital.

Pendidikan Kesehatan di Era AI

Dalam forum internasional tersebut, Faisal membawakan presentasi berjudul “Strategic Innovation and Educational Transformation in Digital Healthcare.” Ia menyoroti bagaimana institusi pendidikan kesehatan perlu bertransformasi mengikuti kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan digitalisasi pembelajaran.

Ia menekankan bahwa pendekatan pendidikan tradisional tidak lagi memadai. Kini, dibutuhkan sistem yang lebih terbuka terhadap inovasi dan metode pembelajaran modern. Hal ini penting agar lulusan tidak hanya menguasai teori medis, tetapi juga siap menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi di bidang digital healthcare, Faisal memiliki rekam jejak internasional yang solid. Saat ini, ia sedang mengikuti ISQua Fellowship Programme dengan fokus pada penerapan AI dan machine learning dalam layanan kesehatan. Selain itu, ia juga menjadi reviewer di jurnal internasional bergengsi, International Journal for Quality in Health Care (IJQHC).

Dalam pemaparannya, Faisal menegaskan pentingnya tenaga kesehatan memiliki keterampilan digital. Mereka harus mampu mengoperasikan sistem informasi rumah sakit, menggunakan rekam medis elektronik, hingga menganalisis data berbasis AI.

“Dunia medis telah berubah secara drastis, dan sistem pendidikan harus segera menyusul dengan pendekatan yang relevan dan futuristik,” ujarnya.

Gamifikasi, VR, dan AR untuk Pendidikan Kedokteran

Lebih lanjut, Faisal menyampaikan bahwa teknologi seperti gamifikasi, virtual reality (VR), dan augmented reality (AR) akan menjadi tulang punggung dalam pendidikan tenaga kesehatan di masa depan. Di negara maju, teknologi ini sudah mulai diadopsi untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan efisiensi layanan medis.

Namun demikian, tingkat adopsi teknologi ini dalam pendidikan di negara berkembang masih rendah. Gamifikasi, misalnya, disebut Faisal sebagai metode pembelajaran yang efektif karena melibatkan simulasi interaktif berbasis permainan.

“Teknologi ini bisa menjadi solusi untuk keterbatasan fasilitas praktikum dan risiko medis,” katanya lagi.

Pasien sebagai Bagian dari Ekosistem Digital

Faisal juga menyoroti perubahan peran pasien dalam sistem kesehatan digital. Kini, pasien tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga berperan aktif melalui akses data medis pribadi, pemantauan mandiri, dan pengambilan keputusan yang berbasis informasi.

Menurutnya, hal ini menuntut tenaga medis memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan melek literasi digital.

Sebagai penutup, Faisal menekankan bahwa kurikulum pendidikan tenaga kesehatan perlu diperbarui secara menyeluruh. Komponen seperti teknologi informasi, pemrograman dasar, analisis data, hingga pelatihan perangkat kesehatan digital harus segera dimasukkan ke dalam sistem pembelajaran.

“Kita butuh model pendidikan yang tidak hanya menyiapkan lulusan yang cerdas secara medis, tetapi juga siap bekerja di lingkungan kerja yang sudah terdigitalisasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa rumah sakit dan klinik di Indonesia mulai beralih ke sistem digital. Pendaftaran pasien daring, rekam medis elektronik, hingga software manajemen mutu sudah mulai diadopsi. Namun, jika dunia pendidikan tidak segera menyesuaikan diri, maka akan terjadi kesenjangan keterampilan yang cukup serius.

Peran Aceh dalam Diskursus Global

Keterlibatan Faisal di ICSET 2025 menjadi panggung strategis bagi Indonesia, khususnya Aceh, untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam pengembangan SDM kesehatan. Ia berharap gagasan ini dapat diadopsi oleh berbagai institusi pendidikan di tanah air.

“Transformasi digital dalam pendidikan kesehatan adalah keniscayaan. Kita tidak bisa menunggu, kita harus memimpin perubahan itu,” pungkasnya menutup sesi presentasi.

Dengan kiprahnya, Faisal tak hanya membawa nama Indonesia ke level global, tetapi juga membuka inspirasi baru bagi akademisi muda di Aceh untuk ikut bersaing dan berkontribusi dalam jaringan ilmiah internasional.

Editor: Akil

Politik Bukan Soal Menang-Kalah, Tapi Merawat Kebersamaan

0
Momen pertemuan antara Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Terpilih Prabowo Subianto, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peringatan Hari Lahir Pancasila. (Foto: westjavatoday)

NUKILAN.ID | OPINI – Di tengah derasnya arus informasi dan narasi pecah belah yang kerap membanjiri media sosial pasca Pilpres 2024, momen peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2025 menjadi oase yang menyejukkan. Bertempat di Gedung Pancasila, Jakarta, hadir empat tokoh penting negeri ini: Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, serta Wakil Presiden keenam Tri Sutrisno. Kehadiran mereka dalam satu ruang dan suasana hangat memperlihatkan sebuah isyarat penting: rekonsiliasi politik bukan hanya mungkin, tetapi sedang berlangsung secara nyata.

Narasi yang selama ini beredar seolah ingin memosisikan hubungan antara kubu Prabowo-Gibran dan Megawati sebagai renggang, bahkan bermusuhan. Sebagian pihak menyebarkan opini bahwa Megawati tidak akan mungkin berdamai dengan Prabowo, apalagi menerima kehadiran Gibran yang merupakan putra dari Presiden Joko Widodo—tokoh yang juga memiliki sejarah tersendiri dengan PDI Perjuangan.

Namun video yang merekam pertemuan para tokoh di holding room sebelum upacara dimulai, membantah semua itu. Tampak Prabowo menyapa Megawati dengan hormat, bahkan sempat melontarkan pujian ringan soal keberhasilan diet sang mantan presiden. Megawati pun merespons dengan tawa ringan, suasana yang jauh dari gambaran permusuhan. Tak hanya itu, Gibran, sosok muda yang banyak diragukan akan diterima oleh elite lama, justru duduk nyaman dalam lingkaran itu—mendengarkan, berbincang, dan turut larut dalam kebersamaan.

Banyak yang menilai momen itu sebagai seremoni belaka. Namun jika kita jeli membaca konteks dan simbolisme politik, peristiwa tersebut membawa makna yang jauh lebih dalam. Pertemuan itu adalah bentuk nyata dari kedewasaan politik. Bahwa perbedaan pilihan, rivalitas dalam pemilu, bahkan luka-luka politik masa lalu tidak menjadi penghalang untuk kembali duduk satu meja demi bangsa.

Sayangnya, masih ada segelintir pihak yang tidak rela melihat kehangatan ini. Mereka yang sejak awal tidak menginginkan kedekatan antara Prabowo-Gibran dan Megawati, akan terus menyuarakan narasi negatif. Bahkan, mereka berupaya mempertahankan api perpecahan, seolah-olah demokrasi hanya tentang kalah dan menang, bukan tentang bagaimana para pemimpin bersatu setelah kontestasi usai.

Padahal, jika elit politik sudah bisa berjabat tangan dan bercanda, mengapa rakyat masih harus bertengkar? Mengapa kita harus memelihara dendam yang justru tidak dirawat oleh para tokohnya sendiri?

Demokrasi yang sehat bukan tentang mempertajam jurang perbedaan, melainkan tentang bagaimana kita mengelola perbedaan itu secara dewasa. Rekonsiliasi yang ditunjukkan oleh Prabowo dan Megawati, serta kehadiran Gibran di tengah keduanya, adalah bentuk konkret bahwa para pemimpin kita masih memiliki hati—hati untuk bangsa, bukan sekadar untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Politik memang tidak bisa dipisahkan dari dinamika. Faksi-faksi dalam partai, ketegangan antarblok kekuasaan, atau bahkan friksi internal adalah hal biasa. Namun ketika semua itu disikapi dengan cara yang kekanak-kanakan, dendam yang tak kunjung padam, dan narasi yang terus memecah, maka yang menjadi korban adalah masyarakat di bawah. Ketika para elit politik gaduh, ekonomi terganggu, kebijakan tersandera, dan ruang publik menjadi penuh ketegangan.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini seyogianya tidak hanya menjadi seremoni kenegaraan, tapi momentum reflektif bagi seluruh elemen bangsa. Bahwa politik bukanlah arena permusuhan abadi, tetapi panggung besar untuk merawat persatuan dan membangun masa depan bersama. Politik bukan sekadar kontestasi elektoral, tapi juga seni menjalin silaturahmi, bahkan setelah perbedaan pilihan yang tajam.

Prabowo yang pernah bertarung sengit melawan Megawati dalam sejarah politik Indonesia, kini bisa duduk berdampingan dengan beliau dalam suasana kekeluargaan. Gibran yang selama ini diragukan posisinya dalam peta kekuasaan, bisa hadir sebagai wakil presiden tanpa rasa canggung. Ini adalah bukti bahwa kedewasaan politik kita terus tumbuh, meski perlahan.

Kita tidak bisa memaksa semua orang bahagia melihat momen ini. Pasti ada yang kecewa karena ekspektasi perpecahan tak terwujud. Tapi publik harus jernih membaca realitas. Bahwa meskipun tidak semua faksi di tubuh partai menerima rekonsiliasi ini dengan tangan terbuka, namun simbol dan gestur politik yang ditampilkan cukup kuat untuk mengatakan: Indonesia masih punya harapan.

Harapan itu tumbuh bukan karena absennya perbedaan, tetapi karena hadirnya kesadaran untuk tidak terus-menerus memelihara luka. Kini saatnya kita semua—baik elite politik maupun rakyat biasa—untuk mengakhiri politik kebencian. Karena bangsa ini butuh stabilitas, bukan provokasi. Butuh kerja sama, bukan perpecahan.

Akhirnya, semoga pertemuan di Gedung Pancasila menjadi titik balik yang membawa arah politik Indonesia menuju kedewasaan yang lebih matang. Sebab, pemimpin yang besar bukan hanya yang mampu menang, tetapi juga yang mampu memeluk lawan politiknya dan mengajak berjalan bersama membangun negeri. (XRQ)

Penulis: Vira Fitriani (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan USK)