NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengungkapkan wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh mengalami peningkatan seiring kondisi cuaca kering dan bertambahnya hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah daerah.
Dilansir dari perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (27/4) lalu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Anang Heriyanto, M.Si, mengatakan hasil analisis BMKG menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara parameter cuaca dengan potensi munculnya titik panas atau hotspot.
“Dari analisis BMKG dengan melihat parameter cuaca dan hari tanpa hujan, ketika periode tanpa hujan berlangsung lama maka potensi kebakaran hutan dan lahan atau munculnya hotspot menjadi lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan (HTH), wilayah utara dan timur Aceh saat ini mengalami periode kering berkisar antara 6 hingga 20 hari. Daerah tersebut meliputi Aceh Utara, sebagian Aceh Timur, serta Lhokseumawe yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap karhutla.
Menurut Anang, kondisi tersebut juga dipengaruhi masa peralihan musim yang kini mulai memasuki awal kemarau. Ia menyebut potensi kekeringan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
“Memasuki bulan Mei ini sudah awal musim kemarau, dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Juni hingga Juli,” sebutnya.
Ia mengingatkan, tidak hanya wilayah yang telah disebutkan, daerah lain di Aceh juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama apabila tren hari tanpa hujan terus bertambah dan suhu udara semakin meningkat.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

