Beranda blog Halaman 2059

Analisis Dasar Alokasi Penanggulangan Dana Covid

0
Aryos Nivada (Foto: Dok. Pribadi Aryos Nivada)

Oleh: Aryos Nivada

Publik Aceh dikejutkan oleh pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah, ia menyebutkan dana refocusing tahun 2020 yang berjumlah lebih dari Rp. 2 triliun tidak harus digunakan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Taqwallah, selama ini pihaknya membedakan antara pengertian dana refocusing dengan dana penanganan covid.

“Jadi, pengertian refocusing kita mencoba bagi, ada kegiatan penanganan Covid, itu kita istilahkan penanganan covid, bukan refocusing. Yang penanganan covid ya namanya penanganan covid. Kalau saya, saya pisahkan,” kata Taqwallah sebagaimana rilis yang dikutip oleh Dialeksis.com, Rabu (5/8/2021).

Menyikapi hal tersebut, litbang dialeksis melakukan penelusuran lebih lanjut melalui sejumlah regulasi yang menjadi fondasi penanggulangan Covid. berikut penjelasan konstruk hukum dari sejumlah regulasi terkait penanganan dana recofusing.

Prioritas APBD untuk penanganan Covid 19

Apa itu Refocusing Anggaran? Secara etimologi (asal kata), pengertian Refocusing Anggaran adalah memusatkan atau memfokuskan kembali anggaran. Sedangkan secara terminologi (menurut istilah), Refocusing Anggaran adalah memusatkan atau memfokuskan kembali anggaran untuk kegiatan yang sebelumnya tidak dianggarkan melalui perubahan anggaran.

Refocusing dan realokasi anggaran pada dasarnya bertujuan untuk percepatan penanganan Covid-19. Imbas dari pandemi Covid-19 mengakibatkan target yang sudah ditetapkan terkendala.

Mulai Tahun 2020, Kebijakan untuk merefokusing seluruh anggaran yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Kesehatan berupa Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) untuk penanganan covid-19. Imbasnya, pemerintah provinsi, kabupaten, maupun kota seluruh Indonesia wajib merealokasi APBD 2020-nya sebesar 50 persen Belanja Barang/Jasa dan 50 persen Belanja Modal.

Pada dasarnya selama masa pandemi, pemerintah daerah harus melakukan pengutamaan pengunaan alokasi anggaran kegiatan tertentu (recofusing) dan perubahan alokasi anggaran, melalui optimalisasi pengunaaan belanja tidak terduga (BTT) yang tersedia dalam APBD.

persoalan penggunaan dana Refocusing itu sudah diatur di Permendagri Nomor 39 tahun 2020 dan Permendagri Nomor 39 Tahun 2020, ditegaskan lagi melalui Permenkeu Nomor 17/PMK:07/2021.

Dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 20 Tahun 2020 tentang Percepatanan Penanganan Covid 19 di Lingkungan Pemerintah Daerah, disebutkan : “Pemerintah Daerah perlu memperioritaskan penggunaan APBD untuk antisipasi dan penanganan dampak penularan Covid 19. “

Kemudian dalam Permendagri Nomor 39 Tahun 2020 tentang Pengutamaan Alokasi Anggaran untuk kegiatan tertentu, perubahan Alokasi dan Penggunaan APBD, pasal 3 ayat (3) disebutkan penyesuaian alokasi anggaran wajib diprioritaskan untuk tiga hal:

Pertama, penanganan kesehatan dan hal lain terkait kesehatan. Contoh : Penyediaan Sarana dan Prasarana Kesehatan masyarakat, Penyebarluasan informasi/sosialisasi penanangaan covid, penyediaan alkes, rekrutmen tenaga medis potensial, pemberian intensif tenaga medis, penanganan jenazah positif covid dan penanganan kesehatan lainnya.

kedua, penanganan dampak ekonomi terutama menjaga agar dunia usaha daerah masing masing tetap hidup. Contoh : pengadaan bahan pangan dan kebutuhan pokok dalam rangka menekan panic buying, stimulus penguatan modal usaha kepada UMKM dan Koperasi, dan penanganan dampak ekonomi lainnya.

ketiga, penyediaan jaring pengaman sosial (social safety net). Contoh : Pemberian hibah/bansos/BLT kepada masyarakat terdampak covid, pemberian uang kepada fasilitas kesehatan milik masyarakat yang ikut melakukan penanganan pandemi atau kepada instansi vertikal yang mendukung penanganan pandemi.

Instruksi Mendagri Nomor 17 Tahun 2021 juga menyebutkan hal yang sama, dimana dalam pasal 9 pemerintah daerah diminta melakukan refocusing minimal 8% dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH).

Penyesuaian dan refocusing TKDD ini juga diatur dalam PMK Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan TKDD Tahun Anggaran 2021 dalam rangka mendukung penanganan pandemi Covid-19 dan Dampaknya. Melalui aturan ini juga, Menkeu menekankan bahwa Pemda harus segera mempercepat eksekusi belanja APBD nya dan meningkatkan efisiensi dari kebijakan dengan menggunakan harga standar satuan regional.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 17/PMK.07/2021, disebutkan pagu alokasi dana otonomi khusus provinsi Aceh sebesar 7.555.827.806. (Tujuh Triliun Lima Ratus Lima Puluh Miliar Delapan Ratus Dua Puluh Tujuh Juta Delapan Ratus Enam Ribu Rupiah).

Dalam kasus Otsus Aceh, dana Otsus Aceh tampak belum digunakan untuk membangun proyek besar sebagai pengungkit ekonomi, yang bisa menyerap tenaga kerja masyarakat di Aceh khususnya dalam masa pandemi. Namun, dari studi World Bank tentang Aceh, dana Otsus di Aceh digunakan untuk program-program pembangunan yang sifatnya karitatif seperti perbaikan fasillitas publik dalam skala kecil dan tidak memiliki efek ekonomi berantai.

Penulis: Dosen FISIP USK dan Peneliti Senior Jaringan Survei Inisiatif

Didukung 13 DPC Menjadi Ketua DPD Demokrat Aceh, Ini Kata Bang Muslim

0
Anggota DPR-RI Muslim, SHi. (Foto: Irfan/Nukilan.id)

Nukilan.id – Sebanyak 13 Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat di seluruh Aceh menyatakan dukungan penuh kepada Anggota DPR-RI fraksi Demokrat asal Aceh Muslim, SHi untuk menjadi ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Aceh menggantikan Nova Iriansyah.

Ketika dihubungi Nukilan.id, Minggu (8/8/2021) di Jakarta, Muslim yang akrab disapa Bang Muslim membenarkan dukungan tersebut. Katanya, dukungan itu sepenuhnya inisiatif dari DPC Partai Demokrat.

“Saya hanya diberi tahu kawan-kawan DPC, dan demi kebaikan Partai saya siap,” kata Bang Muslim.

Menurut Bang Muslim, dirinya tidak mencampuri soal dukungan DPC yang mengarah pada dirinya, dan murni inisitif dari DPC. Selain itu, Nova Iriansyah sudah menyampaikan kepada DPC apabila dirinya tidak akan maju kembali mencalonkan diri sebagai ketua DPD.

“Itu dasarnya, dan untuk kebaikan Partai tentu saya siap,” ujarnya.

Dukungan 13 DPC Partai Demokrat seluruh Aceh kepada Muslim, SHi disampaikan langsung koordinator forum DPC Demokrat HT. Ibrahim, MT, MM., Minggu. 13 DPC menilai Ketua DPD Demokrat Nova Iriansyah sudah menyampaikan dirinya tidak akan mencalonkan diri kembali, sehingga tepat sebagai penggantinya untuk menunjuk Muslim.[red]

Besok PMI Banda Aceh Gelar Pertemuan dengan Seluruh KSR Unit

0

Nukilan.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh akan mengadakan pertemuan dengan Korps Sukarela (KSR) PMI Unit di Lantai II Aula UDD PMI Kota Banda Aceh, besok Senin (9/8/2021).

Hal itu berdasarkan surat nomor: 108/ORG/VIII/2021 tanggal 5 Agustus 2021 perihal Sinkronisasi Kegiatan dan Konsolidasi KSR yang ditandatangani langsung oleh Ketua PMI Kota Banda Aceh, Qamaruzzaman Haqny.

Dalam surat itu Qamaruzzaman menyebutkan bahwa, pertemuan tersebut dalam rangka pembinaan terhadap relawan dan sinkronisasi rencana kegiatan unit-unit KSR PMI serta konsolidasi KSR PMI se-Kota Banda Aceh.

Oleh karena itu, Ketua PMI 3 Periode ini mengundang seluruh Komandan (Ketua) dan Sekretaris KSR PMI untuk hadir dalam pertemuan tersebut.

Adapun unit KSR PMI yang diundangnya yaitu:

  1. Ksr PMI Unit Universitas Syiah Kuala (USK)
  2. KSR PMI Unit Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry
  3. KSR PMI Unit Universitas Muhammadiyah (UNMUHA)
  4. KSR PMI Unit Universitas Serambi Mekkah (USM)
  5. KSR PMI Unit Alwasliyah
  6. KSR PMI Unit Markas PMI Banda Aceh
Surat PMI Kota Banda Aceh

H. Dalimi: Saya Yakin Pak Nova Masih Maju Calon Ketua DPD Demokrat

0

Nukilan.id – Wakil Ketua 1 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh, H. Dalimi mengatakan bahwa, semua kader punya hak untuk mencalonkan diri sebagai Ketua dalam Musyarawarah Daerah (Musda).

Hal itu disampaikannya menanggapi terkait kabar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Muslim dicalonkan sebagai ketua DPD Partai Demokrat Aceh.

“Kalau saya sih semua punya hak untuk menjadi calon Ketua,” kata Dalimi kepada Nukilan.id, Minggu (8/8/2021)

Karena menurutnya, kalau kader ingin mencalonkan diri sebagai ketua DPD Partai Demokrat Aceh sah-sah saja. Karena, tidak ada alasan untuk tidak boleh, yang penting mampu dan harus sesuai dengan kriteria.

“Tidak ada alasan tidak boleh. Jadi sah-sah saja kalau kader mampu, yang penting cukup kriterianya,” ujarnya.

“Pak Muslim mungkin beliau juga punya alasan, kenapa harus ingin memimpin,” ujarnya.

Selain itu, Dalimi juga menyatakan bahwa, dirinya sangat yakin Nova Iriansyah masih akan kembali maju mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Aceh.

“Pasti maju, saya masih yakin Pak Nova maju menjadi calon Ketua kembali,” tegas Dalimi yang juga Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) itu.[[

Fadhil Rahmi Asuh Enam Siswa Asal Pulau Aceh

0
Anggota DPD RI H.M. Fadhil Rahmi melakukan foto bersama saat bertemu orang tua dan siswa yang diangkat menjadi anak asuhnya di Banda Aceh, Minggu (8/8/2021). (Antara)

Nukilan.id – Senator DPD RI asal Aceh H.M. Fadhil Rahmi mengangkat enam pelajar di Pulo (Pulau) Aceh Kabupaten Aceh Besar menjadi anak asuhnya untuk menempuh pendidikan keagamaan di dayah (pesantren) terbaik hingga ke Timur Tengah.

“Saya memenuhi janji untuk menjadi orang tua asuh terhadap enam orang putra/putri asal Pulo Aceh yang ingin menuntut ilmu di dayah-dayah terbaik di Aceh,” kata H.M. Fadhil Rahmi di Banda Aceh, Minggu (8/8/2021).

Fadhil berjanji akan memenuhi kebutuhan para pelajar tersebut di dayah-dayah mulai dari saat pendaftaran hingga selesai nantinya.

Jika nanti memenuhi kriteria, Fadhil bakal membantu pendidikan tinggi hingga ke Timur Tengah. Dengan catatan, setiap tahunnya dievaluasi dan memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Beberapa anak Pulo Aceh yang menjadi anak asuh Fadhil Rahmi tersebut, yakni Ahmad Hirzi Reza yang kini menjadi santri di Dayah Alfauzul Kabir, Fina Maulina tercatat sebagai santriwati Dayah Babun Najah, dan Salsabila sebagai santriwati Dayah Riadhusshalihin.

Berikutnya, Maulidan yang saat ini sebagai santri Dayah Mulia di Blang Bintang, Febri Lasmana yang kini tercatat sebagai santri Dayah Babul Maghfirah, dan Mutiara tercatat sebagai santriwati Pondok Tahfiz Bogor.

Fadhil menegaskan bahwa posisinya sebagai pendorong atau membantu orang tua para siswa tersebut.

Menurut dia, hal terpenting adalah motivasi, kemauan, dan semangat meraih masa depan.

“Harapan saya cuma satu, nanti suatu saat ketika siswa kembali ke Pulo Aceh, berkontribusi dan mengabdi di sana. Ada tanggung jawab moral yang saya titip kepada mereka,” ujar pria yang akrab di sapa Syech Fadhil itu.

Meski bertindak sebagai orang tua asuh, lanjut Syech Fadhil, dalam hal pemantauan dan pengawasan para santri itu tetap bekerja sama dengan Kafalah IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) serta SahaRA (Lembaga Sahabat Rakyat Aceh) yang selama ini fokus pada kegiatan sosial kemasyarakatan di Aceh.

“Nanti yang akan mengawasi serta memantau perkembangan adalah Kafalah IKAT dan SahaRA. Saya juga akan mengunjungi satu per satu jika ada kesempatan dan berada di Aceh,” demikian Syech Fadhil.

Syech Fadhil saat ini memiliki sekitar 20 anak asuh yang tersebar di sejumlah dayah yang ada di Aceh dan Sumatera Utara. Aktivitas ini dimulai sejak 2013 atau jauh hari sebelum menjadi anggota DPD RI asal Aceh.

Pendidikan dan perkembangan mereka dipantau oleh Kafalah IKAT Aceh dan SahaRA. Para santri yang dibantu berasal dari daerah-daerah pedalaman Aceh serta dari keluarga kurang mampu.[Antara]

Ini 4 Destinasi Wisata Indonesia Masuk dalam Geopark UNESCO

0

Nukilan.id – Ribuan destinasi wisata dapat dikunjungi di berbagai belahan dunia. Berbagai destinasi wisata tersebut hadir dengan berbagai jenis pula. Salah satu jenis destinasi wisata yang tengah populer adalah wisata geopark atau taman bumi.

Wisata geopark adalah konsep wisata berbasis keunggulan atau keunikan geologis yang dimiliki suatu tempat. Dilansir dari en.unesco.org, berbagai destinasi wisata geopark yang ada di dunia akan dikelola dalam UNESCO Global Geopark.

Dalam UNESCO Global Geopark, berbagai wisata geopark yang ada di berbagai belahan dunia akan dikelola secara holistik dengan pendekatan proteksi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Pengelolaan tersebut dilakukan secara bottom-up dengan melibatkan pengelola wisata secara langsung. Karena itu, UNESCO hingga kini terus mendata berbagai wisata geopark yang ada di dunia. Kini, UNESCO mencatat bahwa setidaknya terdapat 169 geopark yang tersebar di 44 negara.

Indonesia tidak luput dari perhatian UNESCO. Dilansir dari indonesia.go.id, berikut adalah empat geopark di Indonesia yang diakui oleh UNESCO:

1. Gunung Batur

Wisata geopark Gunung Batur berlokasi di Kintamani, Bangli, Bali. Sebagai wisata geopark yang diakui UNESCO, Gunung Batur memiliki segudang pesona. Beberapa di antaranya adalah kawah, kaldera, hingga danaunya yang membentuk bulan sabit. Berbagai pesona tersebut, ditambah dengan pesona Pulau Bali, membuat Gunung Batur diakui UNESCO sebagai wisata geopark.

2. Pegunungan Sewu

Kawasan wisata geopark Pegunungan Sewu merupakan deretan pegunungan yang terbentang sepanjang pantai selatan, mulai dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta; Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; dan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Deretan pegunungan tersebut muncul karena pengangkatan dasar laut ribuan tahun silam. Akibatnya, Pegunungan Sewu pun menjadi pegunungan karst yang unik dan indah.

3. Ciletuh-Pelabuhan Ratu

Wisata geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu merupakan satu-satunya geopark di Jawa Barat. Berbeda dengan geopark sebelumnya yang hanya menyajikan satu jenis keunikan geologis, Ciletuh-Pelabuhan Ratu menyajikan banyak keunikan sekaligus. Dengan luas 128 ribu hektar, Ciletuh-Pelabuhan Ratu menyajikan lanskap gunung, air terjun, sawah, dan ladang yang indah. Selain itu, nuansa kebudayaan yang kental juga turut menyumbang keunikan dan keindahan Ciletuh-Pelabuhan Ratu.

4. Gunung Rinjani

Dibanding dengan tiga wisata geopark lain, Gunung Rinjani mungkin merupakan wisata geopark yang paling terkenal. Kepopuleran Gunung Rinjani tidak hanya terjadi di kalangan pendaki saja, masyarakat umum pun pasti pernah mendengar dan mengetahui pesona Gunung Rinjani. Gunung ini terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan terkenal sebagai gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Hingga kini, Gunung Rinjani menjadi destinasi wisata favorit bagi pendaki maupun masyarakat umum. [tempo.co]

Bukan Nova, 13 DPC Partai Demokrat Dukung Muslim Jadi Ketua DPD Demokrat Aceh

0
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRA HT. Ibrahim. (Foto: Nukilan.id)

Nukilan.id – Musyawarah Daerah (Musda) V Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh yang sebelumnya sempat tertunda, kini memasuki babak baru.

Meski belum jelas kapan Musda akan dilaksanakan, tetapi babak baru ini akan mengubah jalan cerita dan prediksi banyak pihak di Aceh.

Seperti diketahui, Musda V Partai Demokrat sebelumnya dijadwalkan akan dilaksanakan pada 12-13 Juni 2021.

Namun menjelang hari H, pelaksanaan Musda diputuskan ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Penundaan itu dilakukan karena Kota Banda Aceh berstatus zona merah Covid-19.

Disamping itu, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang juga Ketua Demokrat Aceh, positif Covid-19 dan sedang menjalani isolasi mandiri.

Pria Diduga Karena Proyek, Begini Respon Demokrat Aceh

“Hasil koordinasi SC dengan DPP, musda ditunda sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, mengingat Banda Aceh masuk dalam zona merah,” kata Ketua Steering Committee (SC) Musda, Adnan Yacob Oden, Sabtu (12/6/2021).

Saat itu, hampir semua DPC Partai Demokrat se-Aceh sudah menyatakan kembali mendukung Nova Iriansyah sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode mendatang.

Empat hari menjelang pelaksanaan Musda, Selasa (8/6/2021), sudah 21 DPC dari total 23 DPC yang menyerahkan dukungannya kepada panitia.

Karena itulah, Nova dipastikan menjadi calon tunggal. Karena dalam peraturan organisasi, setiap bakal calon harus didukung minimal lima DPC atau 20% dari jumlah pemegang hak suara sah.

Tetapi, peta kekuatan dan dukungan itu sepertinya bakal berubah. Informasi diperoleh Serambinews.com, mayoritas DPC memutuskan mengusulkan calon lain selain Nova.

Calon lain dimaksud adalah Muslim, yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI.

Anggota DPR RI, Muslim, yang didukung sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh.

Anggota DPR RI, Muslim, yang mendapat dukungan mayoritas sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh.

Hingga Minggu (8/8/2021), sudah ada 13 DPC dari total 23 DPC yang menyatakan mendukung Muslim, dan jumlah dukungan diperkirakan akan terus bertambah.

“Sementara ini sudah 13 Ketua DPC yang sepakat mencalonkan Muslim untuk melanjutkan kepemimpinan Demokrat Aceh ke depan,” ungkap Ketua DPC Aceh Besar, HT Ibrahim kepada Serambinews.com.

Ia menyampaikan, dukungan terhadap Muslim ini mengemuka setelah Nova menyatakan tidak bersedia untuk dicalonkan kembali sebagai Ketua Demokrat Aceh periode 2021-2026.

Ibrahim mengatakan, pernyataan Nova itu disampaikan di depan para ketua DPC pada tanggal 1 Agustus lalu.

Lalu mengapa kemudian dukungan beralih ke Muslim?

“Kami menilai Muslim memiliki kemampuan dan loyalitas, serta jam terbang yang sudah teruji,” ujar Ibrahim.

“Terbukti dengan kepercayaan publik Aceh yang menjadikanya sebagai anggota DPR-RI selama tiga periode,”

“Selain itu kami meyakini beliau juga dapat bersinergi baik ke internal partai maupun ke berbagai elemen masyarakat Aceh,” imbuhnya.

Ibrahim melanjutkan, komitmen ke-13 ketua DPC ini telah diformalkan dalam bentuk surat dukungan resmi.

Untuk kemudian diteruskan kepada DPP Partai Demokrat sesuai mekanisme yang berlaku.

Dia juga meyakini dukungan dari para Ketua DPC lainnya terhadap Muslim juga akan menyusul.

Berikut nama-nama ke-13 ketua DPC yang telah menandatangani surat dukungan terhadap Muslim.

1. Arif Fadillah (Banda Aceh).

2. H.T Ibrahim (Aceh Besar).

3. Indra Nasution (Sabang).

4. Muzakkar A Gani (Bireuen).

5. Tantawi (Aceh Utara).

6. T Sofianus (Lhokseumawe).

7. Mirnawati (Aceh Timur).

8. Syahyuzar Aka (Langsa).

9. Rajudin (Gayo Lues).

10. Nurdiansyah Alasta (Aceh Tenggara).

11. Herman Abdullah (Aceh Barat).

12. Hasdian Yasin (Simeulue).

13. T. Hasyimi Puteh (Aceh Jaya).

Sumber: Serambinews.com

Arif Fadillah Takjub Wisata Takengon, Ini Komentarnya

0

Nukilan.id – Tampaknya Takengon memang menjadi pilihan baik untuk berlibur, begitulah kata Arif Fadillah, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat (DPC-PD) Kota Banda Aceh. Katanya, Takengon dan Bener Meriah punya potensi keindahan alam luar biasa.

“Takengon memang pantas menjadi pilihan untuk berlibur, selain keindahan alamnya juga punya iklim sejuk yang beda dengan daerah lain,” kata Arif Fadillah kepada Nukilan.id, Sabtu (7/8/2021) di Banda Aceh.

Arif beberapa hari lalu berkunjung ke Takengon untuk mengisi waktu berlibur. Tentu dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

Bukan hanya alam, karena sudah berada di dataran tinggi, Arif juga menyebut, potensi wisata di Aceh Tengah memang harus didukung, apalagi masyarakat Gayo sudah sangat dekat dengan pemahaman wisata, seperti wisata ketinggian Pantan terong, Misalnya, ikut membuka lapangan kerja untuk masyarakatnya, begitu juga lokasi wisata lainnya, hampir rata-rata dikelola Gampong.

“Saya yakin Tanah Gayo ini bisa menjadi pilihan baik, selain biaya murah juga keindahan alamnya sangan menjanjikan. Tidak perlu lagi jauh-jauh,” ujarnya.

Untuk itu–kata Arif–sudah sepantasnya masyarakat di Aceh untuk memasuki agenda wisata ke Tanah Gayo, selain hawa dingin juga fasilitas wisatanya sudah memadai.

“Penginapan dan tempat makannya sudah memadai, memang cocok menjadi kota tujuan wisata. Banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Pokoknya “nyan cap”,” kata Arif seraya memberi telunjuk untuk Tanah Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah.[]

Reporter: ji

Ibu Dyah Bantu Alat Produksi untuk Perajin Aksesoris Giok Nagan Raya

0

Nukilan.id – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dyah Erti Idawati, memberikan bantuan alat bantu produksi untuk perajin aksesoris batu giok di Gampong Alue Bata, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu, (7/8/2021).

Bantuan itu diberikan Dekranasda untuk mendukung pengembangan perajin di Aceh, baik untuk meningkatkan pendapatan maupun meningkatkan kualitas barangnya.
Dyah berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung kinerja perajin.

Dyah mengatakan, batu giok merupakan potensi unggulan yang ada di Nagan Raya. Ia begitu mengapresiasi kejelian dari perajin yang memanfaatkan potensi tersebut untuk diolah hingga bernilai ekonomi.

Dalam kesempatan itu, Dyah menyarankan agar aksesoris giok juga mengandung unsur etnik keacehan. Hal tersebut penting untuk menampilkan identitas kerajinan daerah. Seperti membentuk bros dan kalung dengan lambang pinto Aceh.

Lebih lanjut, kata Dyah, Dekranasda Aceh komit untuk menjalanlan dua tugas utamanya. Memakmurkan perajin dan melestarikan warisan budaya kerajinan Aceh.

Ibnu Abbas, perajin penerima bantuan alat produksi aksesoris batu giok itu mengaku terharu atas bantuan usaha yang ia dapatkan dari istri orang nomor satu di Aceh tersebut. Apalagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, pihaknya begitu sulit mendapatkan pembeli.

“Sejak 2015 saya menjalankan usaha ini, baru kali ini mendapatkan bantuan. Kami sangat berterimakasih,” ujar Ibnu.

Ibnu mengatakan, selama masa pandemi tingkat penjualan produk gioknya mengalami penurunan tajam. Sebab selama ini barang-barang tersebut dibeli oleh orang-orang yang datang dari luar Aceh. Namun karena adanya pembatasan sosial, para wisatawan yang datang membeli tak ada lagi hingga penjualan sepi.

“Karena itulah, kami sangat bersyukur dibantu di saat kondisi seperti ini,” kata Ibnu.

Sementara itu, Camat Kecamatan Tadu Raya, Bustami, menyampaikan terimakasih atas bantuan yang diberikan Dekranasda untuk perajin di daerahnya. Ia berharap sinergitas Dekranasda Aceh dan Dekranasda Kabupaten Nagan Raya dapat mengembangkan kualitas dan kuantitas produksi perajin di Nagan Raya.

Hadir dalam acara penyerahan bantuan dan peninjauan kerajinan itu, Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Nagan Raya, Ketua Bhayangkara dan Ketua Persit Nagan Raya, serta para perangkat gampong Alue Bata. []

Gubernur Aceh Sebut Pemimpin Era 4.0 Harus Adaptif dan Responsif

0

Nukilan.id – Membangun jiwa kepemimpinan yang responsif di era Revolusi Industri 4.0, akan banyak menghadapi tantangan. Di era ini, persaingan dalam berbagai aspek kehidupan sangatlah ketat, akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Tidak terkecuali dalam hal kepemimpinan, yang selalu dituntut untuk mampu bersifat adaptif dan responsif.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah, saat menyampaikan sambutannya pada acara Webinar Nasional Pendidikan ‘Membangun Jiwa Kepemimpinan Yang Responsif Terhadap Kerentanan Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0 Pada Masa Pandemi COVID-19’ di Ruang Kerja Meuligoe Gubernur Aceh, Sabtu (7/8/2021).

“Jiwa kepemimpinan, menjadi kunci keberhasilan dalam menyelesaikan berbagai tantangan dan hambatan yang kita hadapi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka membangun jiwa kepemimpinan yang responsif terhadap berbagai permasalahan di era Revolusi Industri 4.0 dan masa pandemi ini, merupakan suatu keniscayaan yang harus menjadi perhatian kita semua pada berbagai level dan status dalam masyarakat,” ujar Gubernur.

Gubernur meyakini, jiwa kepemimpinan yang peka terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi, akan mampu mencari solusi terbaik dengan langkah dan kebijakan-kebijakan yang efektif, sehingga dapat mewujudkan tujuan pembangunan, baik daerah maupun pembangunan nasional.

“Apabila kita membahas era revolusi industri 4.0 saat ini, tentu dalam pikiran kita menimbulkan pertanyaan apakah era seperti ini merupakan suatu hambatan dan tantangan dalam kehidupan, atau bahkan era ini merupakan suatu kesempatan yang bisa kita gunakan untuk mewujudkan eksistensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menilik sejarah, setiap fase revolusi industri yang terjadi di dunia ini selalu ada pemain baru yang muncul, serta memberi pengaruh besar bagi perkembangan peradaban manusia,” ujar Gubernur.

Namun, sambung Nova, revolusi industri juga berimbas pada sejumlah pemain lama yang tersingkir. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan bertahan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi.

“Agar mampu bertahan dan tidak tergilas dengan dinamika kekinian dan dapat merebut peluang emas dari perubahan era ini, maka kita semua khususnya para adik-adik mahasiswa, perlu mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan meningkatkan skill dan mentalitas baru dengan cepat. Termasuk mempersiapkan jiwa kepemimpinan yang adaptif dan responsif, agar setiap tantangan yang dihadapi dapat diubah menjadi peluang di masa yang akan datang,” kata Nova berpesan.

Lebih lanjut Gubernur berpesan, jiwa kepemimpinan di era Revolusi Industri 4.0 dan Pandemi covid-19 ini, mestilah memiliki beberapa ciri penting secara umum. Diantaranya, mempunyai kemampuan dasar sebagai leader atau pemimpin, mampu membangun keyakinan dan kepercayaan tim, mampu bertindak cepat dalam mengambil keputusan, dan mampu membentuk tim yang solid serta bersedia menerima feedback dari anggota tim.

“Semua kita tentu menyadari, di era ini keberhasilan tidak lagi bertumpu pada seorang leader saja. hanya tim yang solidlah yang akan menentukan pencapaian tujuan yang diinginkan. Dengan kesolidan, Insya Allah berbagai permasalahan akan dapat diselesaikan, terlebih lagi permasalahan yang mendasar seperti yang terjadi di sektor pendidikan saat ini, yang sangat rentan menerima dampak dari era Revolusi Industri 4.0 dan masa Pandemi covid-19,” kata Gubernur.

Era 4.0, Pandemi dan Perubahan Pola Ajar

Dalam sambutannya Gubernur juga mengingatkan para pemangku kebijakan di bidang pendidikan untuk menemukan pola pendidikan terbaik dalam menghadapi pandemic di era 4.0

“Tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bahwa institusi pendidikan di semua tingkatan terpaksa menyelenggarakan proses belajar mengajar secara daring. Perubahan pola mengajar ini tentu telah memaksa para pengajar untuk mampu dan mahir menggunakan teknologi, bukan semata karena tuntutan era 4.0, tetapi juga sebagai media pembelajaran, dengan menyiapkan materi yang relevan dan menarik sesuai keadaan,” imbuh Gubernur.

Nova mengingatkan, bahwa penyesuaian ini penting, karena pemerintah dan para pengajar harus memastikan, meski dengan pola pengajaran daring namun harus tetap dipastikan proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Kondisi saat ini menuntut berbagai kebijakan yang cepat, tepat, dan efektif, sehingga walaupun proses belajar mengajar terdampak akibat pandemi covid-19, namun sumber daya manusia yang dihasilkan oleh institusi pendidikan kita tetap terjaga berkualitas.

“Kita menyadari, bahwa untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut tentu diperlukan leader dengan jiwa kepemimpinan yang adaptif dan responsif serta mempunyai berbagai kriteria yang sudah saya sampaikan, yaitu mampu membangun keyakinan dan kepercayaan tim, mampu bertindak cepat dalam mengambil keputusan, dan mampu membentuk tim yang solid serta bersedia menerima feedback dari anggota tim,” pungkas Gubernur.

Di akhir sambutannya, Gubernur juga berpesan agar para peserta menjadikan Webinar Nasional Pendidikan ini sebagai sarana saling berdiskusi dan menggali ilmu pengetahuan khususnya tentang membangun jiwa kepemimpinan, terutama dari para narasumber.

Untuk diketahui bersama, webinar ini menghadirkan dua orang pemateri, yaitu KH Abdul Wahid Maktub, Staf Menteri Ristekdikti RI, yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Qatar 2003-2007. Serta Dr. Danial, M. Ag, Rektor IAIN Lhokseumawe.

Dalam kegiatan yang berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat itu, Gubernur Aceh turut didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh Alhudri.[]