Beranda blog Halaman 197

Zakat Umat Bantu Pemulihan Masjid Penyintas Banjir Aceh Tamiang Jelang Ramadhan

0

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Zakat, infak, dan sedekah masyarakat yang dihimpun LAZNAS BMH dimanfaatkan untuk mendukung kesiapan ibadah para penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjelang Ramadhan 1447 Hijriah.

Melalui program bersih masjid dan penyaluran perlengkapan ibadah, BMH bersama relawan melakukan aksi di Masjid Babut Taqwa, Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, serta Masjid Al Hidayah, Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Selasa (17/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, tim relawan membersihkan lantai, dinding, area wudhu, hingga fasilitas MCK yang sebelumnya terdampak banjir bandang. Selain itu, BMH juga menyalurkan bantuan berupa karpet sajadah, jam dinding, serta berbagai perlengkapan ibadah guna menggantikan fasilitas masjid yang rusak akibat bencana.

“Kondisi Masjid Babut Taqwa sebelumnya masih jauh dari ideal. Lantai keramik belum terpasang. Dinding dan plafon belum tersedia sehingga burung bebas masuk dan meninggalkan kotoran. Jamaah menggunakan terpal dan karpet seadanya untuk shalat berjamaah. Sound system pun rusak akibat banjir,” ungkap Adnan Korlap BMH di lokasi.

Jamaah Lebih Siap Sambut Ramadhan

Imam Masjid Babut Taqwa, Umar, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Ia menilai aksi bersih masjid dan penyaluran karpet membuat jamaah semakin siap menyambut bulan suci.

“Alhamdulillah, luar biasa kepedulian BMH kepada jamaah masjid. Insya Allah mereka lebih siap lagi menyambut dan mengisi Ramadhan,” ujarnya.

Sementara itu, di Masjid Al Hidayah Pantai Cempa, kebutuhan karpet layak pakai juga menjadi perhatian utama. Imam setempat menyebut kehadiran kembali tim BMH membawa semangat baru bagi jamaah yang masih menjalani proses pemulihan pascabencana.

Selain pemulihan sarana fisik, BMH turut menyalurkan mushaf Al-Qur’an melalui program Tebar Sejuta Al-Qur’an guna mendukung aktivitas tilawah selama Ramadhan yang dikenal sebagai Syahrul Qur’an.

Optimalisasi Zakat untuk Pemulihan Sosial

Adnan selaku Koordinator Lapangan BMH menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan umat tidak hanya digunakan untuk bantuan darurat semata, tetapi juga untuk pemulihan berkelanjutan.

“Dana tersebut diarahkan untuk memastikan penyintas dapat memasuki Ramadhan dengan sarana ibadah yang bersih, layak, dan mendukung kekhusyukan. Sebelum ini pendampingan berkelanjutan dalam program tanggap darurat dan recovery juga telah sukses BMH jalankan,” ungkapnya.

Program tersebut menunjukkan bahwa solidaritas umat melalui zakat tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membantu mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang pemulihan sosial bagi masyarakat terdampak bencana.

Pemerintah Aceh Luncurkan Platform “Tanggapi” untuk Permudah Aduan dan Informasi Pemulihan Pascabanjir

0
Pemerintah Aceh Luncurkan Platform “Tanggapi” untuk Permudah Aduan dan Informasi Pemulihan Pascabanjir

NUKILAN.ID | BANDA ACEHPemerintah Aceh resmi meluncurkan platform digital tanggapi.acehprov.go.id sebagai kanal terpadu bagi masyarakat untuk menyampaikan aduan, berdiskusi, serta mengakses informasi terkait pemulihan pascabencana banjir. Peluncuran platform ini menjadi bagian dari upaya mempercepat respons pemerintah sekaligus memperkuat transparansi dan partisipasi publik dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Platform “Tanggapi” dirancang sebagai jembatan komunikasi antara warga dan pemerintah agar setiap laporan maupun masukan masyarakat dapat terdokumentasi, dipetakan, dan ditindaklanjuti secara terukur.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, mengatakan kehadiran platform tersebut menjawab kebutuhan akan kanal resmi untuk menampung berbagai keluhan masyarakat di lapangan pascabencana.

“Ada banyak persoalan yang dikeluhkan masyarakat dengan berbagai kendala. Platform Tanggapi hadir sebagai saluran resmi agar setiap suara masyarakat didengar, dicatat, dan ditindaklanjuti,” kata Sekda Aceh, Sabtu, 14 Februari 2026.

Menurutnya, luasnya dampak banjir membuat penanganan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, organisasi nonpemerintah, dunia usaha, akademisi, dan media menjadi kebutuhan dalam proses pemulihan.

Memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi, pemerintah menilai tantangan pemulihan semakin kompleks. Selain pemenuhan layanan dasar, pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak juga menjadi target yang harus berjalan secara simultan.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh, Edi Yandra, menegaskan pelibatan publik menjadi prinsip utama dalam pengembangan platform tersebut.

“Pemulihan yang bermartabat hanya dapat terwujud jika rakyat dilibatkan secara aktif. Platform ini bukan milik pemerintah semata, tetapi milik seluruh masyarakat Aceh,” katanya.

Pada versi beta (0.0.1), platform Tanggapi menyediakan empat fitur utama, yakni fitur Aduan untuk pelaporan persoalan penanganan bencana seperti distribusi logistik, air bersih, layanan psikososial, kesehatan, dan pendidikan; fitur Peta yang menampilkan data spasial wilayah terdampak; fitur Tanggapi sebagai forum diskusi terbuka antarwarga; serta fitur Publikasi yang memuat laporan dan hasil analisis dalam format interaktif.

Pemerintah Aceh menyebut peluncuran ini merupakan tahap awal. Ke depan, fokus diarahkan pada penyusunan mekanisme respons yang sistematis agar setiap aduan tidak berhenti pada pencatatan, melainkan berujung pada tindak lanjut terkoordinasi melalui skema kolaborasi multipihak (pentaheliks).

Melalui platform ini, laporan masyarakat diharapkan menjadi bagian dari baseline data dalam perencanaan, pemetaan masalah, serta respons pemerintah sehingga penanganan bencana dapat dilakukan lebih tepat sasaran dan terarah. Masyarakat pun diimbau memanfaatkan platform tersebut dan aktif menyampaikan kondisi serta kebutuhan di lapangan sebagai bagian dari proses pemulihan bersama di Banda Aceh.

Kolaborasi ESDM Aceh dan INDODEPP Lahirkan Enam Manajer Energi Bersertifikat

0
Sinergi Internasional Perkuat Transisi Energi Aceh, Enam ASN Resmi Kantongi Sertifikat Manajer Energi BNSP. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus memperkuat langkah menuju transisi energi berkelanjutan melalui kolaborasi strategis antara Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh dan program kerja sama bilateral Indonesia-Denmark Energy Partnership Programme (INDODEPP). Melalui kerja sama ini, enam Aparatur Sipil Negara (ASN) dari enam Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) resmi memperoleh sertifikasi Manajer Energi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Program pelatihan intensif berlangsung pada 2–5 Februari 2026 di Banda Aceh. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga menjadi bagian dari agenda besar kemitraan energi antara Indonesia dan Denmark dalam mendorong efisiensi energi sektor publik.

Pelatihan ini dirancang untuk membekali ASN dengan kompetensi profesional dalam mengelola konsumsi energi gedung pemerintahan secara lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan, sehingga mampu mendukung target transisi energi nasional.

Implementasi Regulasi Energi Nasional

Sertifikasi yang difasilitasi oleh PT Optima Environergi Consulta tersebut merupakan implementasi langsung berbagai regulasi nasional, yakni Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi, serta Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.

Melalui standar SKKNI, para peserta kini memiliki kemampuan strategis mulai dari melakukan audit energi hingga mengidentifikasi potensi pemborosan energi di lingkungan kerja masing-masing.

Penyerahan sertifikat kepada peserta yang lulus asesmen kompetensi dilaksanakan di Aula Dinas ESDM Aceh pada Selasa (10/02/2026). Sekretaris Dinas ESDM Aceh, Endra, S.T., M.Si., mewakili Kepala Dinas, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi ini merupakan investasi jangka panjang bagi daerah.

“Kami berterima kasih kepada INDODEPP atas dukungan nyata dalam pengembangan energi bersih dan konservasi di Aceh. Kami berharap para manajer energi ini menjadi pionir yang mengimplementasikan ilmunya secara konkret di instansi masing-masing,” ujar Endra.

Dukungan Denmark untuk Efisiensi Energi

Perwakilan INDODEPP sekaligus Head of Energy Cooperation Indonesia-Denmark dari Danish Energy Agency, Mikkel Kamp Hansen, turut mengapresiasi komitmen para peserta. Ia menilai sertifikasi ini menjadi langkah penting dalam menciptakan dampak nyata terhadap pengurangan emisi karbon.

“Para manajer energi ini adalah agen perubahan. Implementasi manajemen energi yang konsisten di gedung-gedung pemerintah akan berkontribusi signifikan terhadap efisiensi energi nasional dan menekan emisi karbon secara kolektif,” kata Mikkel.

Melalui hadirnya tenaga profesional baru di bidang manajemen energi, Pemerintah Aceh optimistis kebijakan konservasi energi daerah dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendukung target nasional menuju sistem energi yang lebih hijau dan efisien.

Daftar Manajer Energi Tersertifikasi

Enam ASN yang dinyatakan kompeten dan berhak menyandang gelar Certified Energy Manager (CEM) yakni:

  • Alfiansyah (Dinas Pertanian dan Perkebunan)

  • Ferdina (Dinas Sosial)

  • Hermaliza (Dinas Peternakan)

  • Poetrie Khairuny (Rumah Sakit Jiwa Aceh)

  • Syihabuddin (Satuan Polisi Pamong Praja)

  • Darmiati (Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral)

Program ini diharapkan menjadi fondasi awal lahirnya agen perubahan di lingkungan birokrasi Aceh dalam mendorong efisiensi energi serta pembangunan rendah emisi secara berkelanjutan.

Mahasiswa STIK Serahkan 70 Ekor Sapi untuk Warga Aceh Terdampak Bencana Sambut Tradisi Meugang

0
Mahasiswa STIK Serahkan 70 Ekor Sapi untuk Warga Aceh Terdampak Bencana Sambut Tradisi Meugang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) angkatan 83 menyalurkan bantuan berupa 70 ekor sapi kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana. Bantuan tersebut diberikan untuk membantu warga tetap dapat melaksanakan tradisi meugang menjelang bulan suci Ramadan.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Gampong Blang, Kota Langsa, Aceh. Setelah seremoni tersebut, seluruh sapi akan didistribusikan ke sejumlah desa terdampak bencana agar masyarakat dapat merasakan tradisi meugang sebagaimana biasanya.

Meugang merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Aceh yang dilaksanakan menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi momentum berbagi dan memperkuat solidaritas sosial, terutama bagi warga yang sedang mengalami kesulitan.

Ketua STIK, Irjen Eko Rudi Sudarto, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk empati kepada masyarakat Aceh yang tengah berupaya bangkit setelah bencana.

“Sumbangan ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap saudara-saudara di Aceh yang sedang menghadapi masa sulit pasca bencana. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita harus hadir meringankan beban mereka,” ungkap Ketua STIK Irjen Eko Rudi Sudarto, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, kegiatan ini sekaligus menjadi wujud penanaman nilai kemanusiaan kepada para mahasiswa STIK. Menurutnya, mahasiswa juga berkomitmen mengawal proses distribusi bantuan agar tepat sasaran.

“Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa kita: gunakan logika dan rasa dalam pelaksanaan tugas di tengah-tengah masyarakat. Logika membimbing kita bertindak tepat, sementara rasa membuat kita memahami penderitaan sesama. Kedua hal ini harus berjalan beriringan agar kita menjadi polisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis,” jelasnya.

Keuchik Gampong Blang, Junaidi, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan kepada warganya yang masih dalam masa pemulihan pascabencana.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami yang sedang berjuang bangkit dari bencana. Mereka tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat bagi kami,” katanya dengan penuh haru.

Rasa syukur juga disampaikan salah seorang warga terdampak, Ibu Salmah (52), yang mengaku bantuan tersebut membuat masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi meugang di tengah keterbatasan.

“Alhamdulillah, kami masih bisa merasakan tradisi meugang tahun ini berkat bantuan dari mahasiswa STIK. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua,” ucapnya sambil menahan air mata.

Disdik Aceh Keluarkan Edaran Pembelajaran Ramadhan 1447 H, Tekankan Penguatan Iman dan Karakter Siswa

0
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP. (Foto: Disdik Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dinas Pendidikan Aceh menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.3.8/2048 tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran selama bulan Ramadhan serta jadwal libur Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Edaran yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, pada 10 Februari 2026 itu menjadi pedoman bagi seluruh SMA, SMK, dan SLB di Aceh dalam mengisi bulan suci dengan kegiatan yang bersifat edukatif dan religius.

Berdasarkan surat edaran tersebut, tanggal 16, 18, 19, 20, dan 21 Februari 2026 ditetapkan sebagai libur awal Ramadhan. Pada periode tersebut, peserta didik diminta melaksanakan pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah, maupun masyarakat sesuai dengan tugas yang diberikan sekolah.

Sekolah juga diminta memberikan penugasan berupa penulisan esai bertema “Resolusi Ramadhanku”. Esai tersebut nantinya dipresentasikan sebelum atau setelah pelaksanaan shalat Dzuhur berjamaah.

Selanjutnya, pada 23 Februari hingga 14 Maret 2026, kegiatan pembelajaran kembali dilaksanakan di sekolah dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, kepemimpinan, serta kepedulian sosial.

Peserta didik yang beragama Islam dianjurkan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, pesantren kilat, dan kajian keislaman yang terintegrasi dengan mata pelajaran. Sementara itu, bagi siswa kelas XII, kegiatan difokuskan pada bimbingan persiapan menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Selain kegiatan pembelajaran, sekolah juga diarahkan menjalankan program Ramadhan Seumeugleh, yakni kegiatan gotong royong membersihkan meunasah dan masjid di sekitar sekolah yang dikoordinasikan oleh Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Pembiasaan nilai karakter juga dilakukan melalui program “Tujoh Peubiasa Aneuk Aceh Meutuah Ngon Meuadab”. Pelaksanaannya dipantau melalui jurnal Ramadhan yang menjadi bagian dari penilaian pembentukan karakter siswa.

Adapun libur bersama Idul Fitri ditetapkan mulai 16 hingga 24 Maret 2026. Kegiatan belajar mengajar dijadwalkan kembali berlangsung pada 25 Maret 2026.

Selama bulan Ramadhan, jam belajar di sekolah dimulai pukul 08.00 WIB hingga waktu Dzuhur. Khusus pada hari Jumat, kegiatan belajar berakhir lebih awal, yakni pukul 11.00 WIB.

Murthalamuddin menegaskan bahwa edaran tersebut tidak hanya mengatur teknis kegiatan belajar selama Ramadhan, tetapi juga bertujuan memperkuat pembentukan karakter peserta didik yang religius dan berakhlak.

Ia juga mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar terus mendukung terwujudnya Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di lingkungan pendidikan Aceh.

Pj Ketua Umum IMPAKS Kecam Dugaan Pengambilalihan Sepihak Mubes HAMAS

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Penjabat Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pelajar Kecamatan Kluet Selatan (IMPAKS), Mufitra Rija, mengecam keras dugaan pembajakan pelaksanaan Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) yang disebut tetap dilanjutkan tanpa melibatkan Ketua Panitia resmi serta tanpa kehadiran sejumlah paguyuban kecamatan.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Pj Ketua Umum IMPAKS menilai jalannya forum tersebut bermasalah secara prosedural dan dinilai mencederai prinsip demokrasi organisasi.

Ia menyampaikan bahwa musyawarah yang sebelumnya dipending karena pertimbangan teknis dan kesiapan persidangan justru dilanjutkan secara sepihak oleh sekelompok pihak yang mengatasnamakan forum.

“Musyawarah Besar adalah forum tertinggi organisasi. Setiap keputusan yang lahir dari forum tersebut harus melalui mekanisme yang sah, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur yang memiliki hak suara. Jika Ketua Panitia tidak dilibatkan dan sebagian paguyuban kecamatan tidak menerima undangan resmi, maka legitimasi forum patut dipertanyakan,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan munculnya klaim kemenangan secara mendadak dari pihak tertentu, sementara proses musyawarah dinilai belum berjalan sesuai asas partisipatif dan konstitusional. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik serta merusak soliditas mahasiswa Aceh Selatan.

Pj Ketua Umum IMPAKS turut meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak memaksakan kehendak di luar aturan organisasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi mahasiswa sebagai ruang kaderisasi dan perjuangan intelektual, bukan sekadar ajang perebutan legitimasi.

“Kami tidak menolak regenerasi kepemimpinan. Namun kami menolak cara-cara yang mengabaikan konstitusi organisasi. Jika proses ini tetap dipaksakan, maka kami akan mengambil langkah-langkah organisatoris sesuai mekanisme yang berlaku,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen mahasiswa Aceh Selatan untuk kembali mengedepankan semangat musyawarah yang jujur dan inklusif demi menjaga persatuan serta kredibilitas organisasi di mata publik.

UIN Ar-Raniry Salurkan 1.600 Paket Meugang Bantuan UEA untuk Warga Jelang Ramadan 1447 H

0
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman, bersama perwakilan UEA, Mohamed Bin Zayed University for Humanities Mohamed Alnaqbi saat menyerahkan bantuan secara simbolis di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). (ANTARA/HO/Humas UIN Ar-Raniry)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh menyalurkan 1.600 paket daging meugang dan 400 paket sembako bagi masyarakat kurang mampu di sekitar kampus. Bantuan tersebut merupakan dukungan Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) sebagai bentuk solidaritas sosial lintas negara.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026), dihadiri Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman bersama perwakilan Mohamed Bin Zayed University for Humanities, Mohamed Alnaqbi.

Rektor UIN Ar-Raniry menyampaikan apresiasi atas dukungan yang terus diberikan Pemerintah UEA dalam program Ramadan tersebut.

“Ini merupakan tahun ketiga kami menerima bantuan Ramadhan dari Pemerintah UEA. Kami sangat bersyukur atas kepedulian dan dukungan yang diberikan,” kata Prof Mujiburrahman di Banda Aceh, Selasa (17/2/2026), dikutip dari ANTARA.

Bantuan berasal dari hadiah Pemerintah UEA melalui Zayed for Good Foundation serta kerja sama dengan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya bernilai materi, tetapi juga mencerminkan persaudaraan umat Islam lintas negara.

“Bantuan ini tidak hanya bernilai materi, tetapi juga mencerminkan kebersamaan dan solidaritas sesama Muslim. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.

Sebanyak 1.600 paket meugang berasal dari pemotongan 18 ekor sapi. Selain itu, kampus juga menyalurkan 400 paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.

UIN Ar-Raniry turut menyiapkan 2.000 paket iftar setiap hari selama Ramadan di lingkungan kampus. Sebanyak 1.000 paket juga disalurkan di Masjid Raya Baiturrahman dan 500 paket untuk Dayah Mahyal Ulum Sibreh selama tiga hari Ramadan.

Koordinator Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama UIN Ar-Raniry, Dr Muqni Affan, mengatakan bantuan didistribusikan kepada anak yatim dan fakir miskin di lima gampong sekitar kampus, yakni Rukoh, Blang Krueng, Tanjung Selamat, Barabung, dan Limpok. Bantuan juga menyasar tenaga kebersihan, petugas keamanan, sopir, pengurus masjid, mahasiswa, serta tenaga pendidik dan kependidikan.

Selain pembagian bantuan, kampus juga menggelar program iftar jama’i (berbuka bersama) yang dipusatkan di auditorium selama satu bulan penuh.

“Kegiatan serupa juga berlangsung selama tiga hari di Masjid Raya Baiturrahman dan tiga hari di Dayah Mahyal Ulum Sibreh,” demikian Dr Muqni Affan.

Program tersebut memperkuat tradisi meugang yang telah mengakar di Aceh sekaligus menghadirkan semangat kebersamaan global dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Kisah Perantau di Banda Aceh: Menemukan ‘Rumah’ di Serambi Mekah

0
Kota Banda Aceh. (Foto: Aceh Tourism)

NUKILAN.ID | FEATURE – Senja perlahan turun di langit Banda Aceh. Cahaya jingga menyapu ufuk barat, membalut ruas-ruas jalan di kawasan Kopelma Darussalam dengan suasana hangat. Aktivitas mahasiswa yang berburu takjil berpadu dengan deru kendaraan yang terus melintas.

Di dapur kecil sebuah kamar kos, Maula (22), mahasiswa semester lima asal Payakumbuh, tampak sibuk menyiapkan menu berbuka puasa. Pantauan Nukilan.id, ia dengan cekatan memasak Panik Cubadak, hidangan khas dari kampung halamannya yang kerap menjadi pelepas rindu bagi dirinya sebagai perantau.

“Awalnya berat, rindu rumah itu pasti. Tapi lama-lama saya merasa di sini lebih mandiri dan nyaman,” ujar Maula sembari mengaduk wajan kecilnya. Aroma bumbu yang harum memenuhi ruangan, menghadirkan kenangan tentang rumah dan keluarga yang kini berjauhan.

Merantau bagi mahasiswa bukan hanya soal berpindah tempat tinggal. Lebih jauh, pengalaman ini menjadi proses pencarian jati diri, menantang batas kenyamanan, sekaligus belajar bertahan dalam lingkungan baru. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memandang tanah rantau sebagai rumah kedua—tempat mereka tumbuh dan menemukan peluang baru.

Pengalaman serupa dirasakan Mansur (21), mahasiswa asal Aceh Selatan yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

“Di sini saya bisa mengeksplorasi diri tanpa banyak batasan. Meski jauh dari keluarga, saya belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Rasanya seperti menemukan rumah baru,” katanya. Kini, ia aktif di komunitas seni musik kampus yang menjadi ruang ekspresi sekaligus cara mengusir rasa sepi.

Menemukan Kenyamanan di Lingkungan Baru

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi mahasiswa perantau sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial. Studi dalam jurnal The Role of Social Support in College Adjustment: A Longitudinal Study (2018) menyebutkan bahwa mahasiswa yang memiliki jaringan pertemanan dan komunitas yang solid cenderung lebih cepat beradaptasi dan merasakan kenyamanan di lingkungan barunya.

Hal tersebut juga dialami Maula. Pada awal kedatangannya di Banda Aceh, ia sempat merasa canggung menghadapi kebiasaan yang berbeda. Namun, seiring waktu, ia mulai menemukan ritme kehidupan yang sesuai.

“Saya banyak belajar dari teman-teman di sini. Bahkan, saya merasa lebih nyaman karena ada teman-teman senasib yang saling mendukung,” ujarnya dengan senyum hangat.

Selain relasi sosial, kemudahan fasilitas kota turut membantu proses penyesuaian diri mahasiswa perantau. Akses transportasi, pusat layanan publik, hingga sarana pendidikan yang memadai memberikan kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Di sini saya bisa naik Trans Koetaradja ke kampus atau pergi ke perpustakaan wilayah dengan mudah. Semua lebih dekat dan praktis,” kata Mansur, yang kerap memanfaatkan waktu akhir pekan untuk berkeliling kota.

Antara Rasa Rindu dan Kemandirian

Meski mulai merasa betah, kehidupan di perantauan tetap menyimpan tantangan tersendiri. Rasa sepi dan kerinduan terhadap keluarga masih sering muncul di tengah kesibukan akademik. Mansur mengaku harus pandai mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan makan dan transportasi.

“Kadang kalau lagi sulit, saya cari kerja sampingan,” ujarnya. Saat ini, ia menjadi relawan di sebuah lembaga filantropi untuk menambah penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan harian.

Berbeda dengan Mansur, Maula memilih aktif dalam organisasi pecinta alam kampus. Kegiatan kebersamaan seperti makan bersama atau diskusi rutin menjadi cara untuk mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.

“Kami sering mengadakan acara makan bersama atau diskusi. Rasanya seperti pulang kampung,” katanya.

Bagi para perantau, komunitas tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga menghadirkan rasa kekeluargaan di tanah orang.

Bagi Mansur, keterlibatannya dalam komunitas musik juga membuka peluang memperluas relasi sosial.

“Saya belajar banyak hal baru di sini, dan itu membuat saya merasa lebih diterima di tempat baru,” tuturnya.

Pada akhirnya, kehidupan merantau menghadirkan pelajaran berharga tentang kemandirian dan penerimaan. Dukungan lingkungan, keberadaan komunitas, serta kemudahan fasilitas membuat banyak mahasiswa mampu beradaptasi dan merasa nyaman jauh dari kampung halaman.

Seperti yang dikatakan Maula, “Merantau mengajarkan saya arti sebenarnya dari rumah. Bukan hanya tempat, tapi bagaimana kita merasa diterima dan nyaman di mana pun kita berada.” (XRQ)

Reporter: Akil

Bunda PAUD Aceh Besar Bersama Yayasan ASA Ajak 76 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran

0
Bunda PAUD Kabupaten Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, berkolaborasi dengan Yayasan Amal dan Solidaritas Asia (ASA) membelanjakan pakaian lebaran untuk 76 anak yatim asal Aceh Besar di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). (Foto: MC Abes)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bunda PAUD Kabupaten Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, berkolaborasi dengan Yayasan Amal dan Solidaritas Asia (ASA) membelanjakan pakaian lebaran untuk 76 anak yatim asal Aceh Besar di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Banda Aceh, Selasa (17/2/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial dalam menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Puluhan anak yatim yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Besar.

Dalam kesempatan itu, Bunda PAUD Aceh Besar Hj Rita Mayasari mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim agar dapat merasakan suasana lebaran dengan penuh suka cita.

“Alhamdulillah, hari ini kita bersama Yayasan ASIA bisa berbagi kebahagiaan dengan 76 anak yatim dari berbagai kecamatan di Aceh Besar. Kita ingin mereka juga merasakan kegembiraan menyambut Idulfitri dengan memakai baju baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, perhatian terhadap anak yatim merupakan tanggung jawab bersama sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak perlu terus diperkuat. Menurutnya, kegiatan sosial semacam ini bukan sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri anak-anak.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya soal memberikan pakaian, tetapi juga membangun semangat, rasa percaya diri, dan memastikan mereka merasa diperhatikan serta dicintai,” ungkapnya.

Rita Mayasari juga menjelaskan bahwa pemberian baju baru menjelang Ramadhan diharapkan dapat meningkatkan semangat anak-anak yatim dalam menjalankan ibadah puasa sekaligus menyambut hari kemenangan.

“Kita berharap kegiatan ini bisa menjadi penyemangat bagi mereka dalam menjalani ibadah puasa, serta menumbuhkan kebahagiaan saat menyambut lebaran bersama keluarga dan orang-orang terdekat,” imbuhnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan ASA, Wildanun, menyampaikan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menghadirkan program sosial yang langsung menyentuh masyarakat, khususnya anak yatim dan keluarga kurang mampu.

“Semoga apa yang kita lakukan hari ini membawa manfaat dan kebahagiaan bagi anak-anak, serta menjadi ladang amal bagi semua pihak yang terlibat,” katanya.

Di sisi lain, salah seorang anak yatim, Izzatunnisa Alifa, mengaku senang karena dapat memilih sendiri pakaian lebaran yang diinginkannya.

“Saya senang sekali bisa beli baju baru untuk lebaran. Terima kasih kepada Bunda PAUD dan Yayasan ASA yang sudah mengajak kami berbelanja,” tuturnya dengan wajah sumringah.

Serap Aspirasi Dua Kecamatan, Arif Fadillah Fokus Penguatan Ekonomi Kelompok Warga

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Arif Fadillah, menyampaikan bahwa bantuan usaha bagi kelompok masyarakat telah disetujui pemerintah dan akan direalisasikan pada 2026.

Hal itu disampaikan Arif saat kegiatan reses bersama warga dari dua kecamatan di Aula Kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Jalan Luengbata, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026)

Dalam dialog dengan warga, Arif menjelaskan bahwa bantuan yang diusulkan bersifat kelompok, bukan perorangan. Menurutnya, sedikitnya tujuh kelompok usaha masyarakat telah diajukan dengan bidang yang berbeda, seperti kuliner, laundry, catering, dan usaha perdagangan kecil.

Ia menegaskan, bantuan yang diberikan berupa peralatan usaha untuk menunjang kegiatan kelompok. Sebagai contoh, kelompok laundry akan menerima mesin cuci sesuai kebutuhan anggota, sementara kelompok usaha lain akan memperoleh peralatan pendukung sesuai jenis usaha masing-masing.

Arif mengatakan program tersebut bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya kelompok yang telah aktif berusaha. Ia juga mengingatkan warga agar memperoleh informasi program langsung dari sumber resmi untuk menghindari kesalahpahaman.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung pentingnya peran politik sebagai sarana memperjuangkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, dukungan yang diperoleh pada pemilu sebelumnya menjadi amanah untuk memperjuangkan program pembangunan, baik infrastruktur maupun penguatan ekonomi warga.

Kegiatan reses berlangsung dalam suasana dialogis, di mana warga juga menyampaikan pertanyaan terkait mekanisme pengajuan proposal kelompok dan penyaluran bantuan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama serta penyerahan bantuan kebutuhan pokok kepada peserta yang hadir.[]