Beranda blog Halaman 1906

Keliling Indonesia Pakai Moge, KBA dan Istri Tiba Kembali di Banda Aceh

0
KBA Bersama Istri Fitri Zulfidar Tiba di Banda Aceh usai Touring Keliling Indonesia, (Foto: Nukilan.id)

Nulkilan.id – Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (KBA) dan Istri Fitri Zulfidar tiba di Aceh usai melakukan Touring keliling Indonesia lebih kurang selama 4 Bulan Lamanya.

“Dimana Kadar Kerinduan Kami kepada Anak-anak beserta Keluarga sudah sangat meninggi, dan Alhamdulillah pada hari tiba kembali di Banda Aceh,” kata KBA kepada media di Lamgugop, Banda Aceh, Selasa (7/12/2021).

KBA sangat dapat kembali dengan selamat.

“Terima kasih teman-teman media sosial (Medsos) yang membantu mengekspose Touring “Harmoni Indonesia”, sehingga perjalanan Kami terasa terpantau,” kata KBA.

KBA menyebut, jika di tanyakan mau berangkat lagi, kita juga mau. Karena ini bukan misi kami berdua, tetapi misi kita bersama.

“Perjalanan ini tidak luput dari dukungan ekpose media yang luar biasa, bahkan menjadi deadline pemberitaan di beberapa Provinsi,” ujarnya.

Hasil dari Touring ini menjadi Takeline Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), melakukan proses persaudaraan kepada daerah, bahkan terlibat dialog interaktif di tempat-tempat yang di lewati. Ungkapnya

“Semua Touring yang telah dilaksanakan diluar dugaan kita dengan pengalaman tantangan dan kemudahan,” jelasnya.

Istilah Touring Kami disebutkan Sigle Biker, karena tidak memiliki komunitas. Setiap daerah yang dilewati, Manado dengan Tarian Tasabaran, di kendari dan di bekasi disambut dengan Bapak Direktur.

Ternyata Umumnya Pengurus FKPT di Indonesia memiliki Background Ketokohan yang luar Biasa, sehingga penyambutan ada yang bersifat Open dan Close dengan berbagai kearifan lokal Budaya setempat,” tuturnya.[Jr]

Jaksa Agung Buka Rapat Kerja Kejaksaan RI 2021

0
Jaksa Agung Republik Indonesia, Burhanuddin. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Jaksa Agung RI, Burhanuddin membuka Rapat Kerja (Raker) Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2021 secara virtual dari ruang kerja Jaksa Agung di Gedung Menara Kartika Adhyaksa Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Selasa (7/12/2021).

Acara rapat kerja Kejaksaan RI ini akan berlangsung selama 3 hari mulai Selasa, 7 Desember 2021 sampai dengan Kamis, 9 Desember 2021 yang diikuti sebanyak 914 orang peserta, yang terdiri dari Pejabat Eselon I, Eselon II dan Eselon III pada Kejaksaan Agung, Para Pejabat Kejaksaan yang dikaryakan di Kementerian/Lembaga/Institusi Pemerintah, Kepala Kejaksaan Tinggi dan Wakil Kejaksaan Tinggi beserta Asisten seluruh Indonesia, Para Kepala Kejaksaan Negeri seluruh Indonesia serta Atase Kejaksaan Republik Indonesia di Riyadh, Bangkok, Hongkong, dan Singapura.

Dalam sambutannya, Jaksa Agung mengucapkan, terima kasih dan apresiasi kepada seluruh jajaran atas terselenggaranya Rapat Kerja ini, serta atas keseriusan dan dedikasinya yang telah konsisten menjalankan tugas-tugas dengan tetap penuh semangat di tengah pandemi Covid-19.

“Seraya saya juga tidak henti-hentinya mengingatkan kepada seluruh jajaran, agar mengutamakan kesehatan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat. Terlebih Covid-19 terus bermutasi dan kini dunia kembali digemparkan oleh ancaman datangnya gelombang ke-3 Covid-19 dengan muculnya varian baru Omicron yang memiliki daya sebar lebih cepat dibandingkan varian Delta. Untuk itu, saya minta kepada segenap pimpinan agar senantiasa memastikan ketersediaan fasilitas dalam penerapan protokol kesehatan dan melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kebugaran fisik dan kesehatan mental bersama,” harap Jaksa Agung dalam keteranganya kepada Nukilan.id.

Jaksa Agung menyampaikan, Rapat Kerja Kejaksaan RI tahun ini mengangkat tema“Kerja Cerdas, Profesional, dan Berintegritas untuk Menuju Indonesia Maju”, ini merupakan tema yang relevan dalam menjawab tantangan dan situasi saat ini dalam usaha kita bersama untuk menjaga marwah institusi dan meningkatkan kepercayaan publik.

“Forum Rapat Kerja yang berlangsung dalam waktu relatif singkat ini merupakan wadah untuk mengevaluasi pelaksanaan kinerja sepanjang tahun dan kemudian menghasilkan ide-ide, solusi, serta rekomendasi strategis oleh masing-masing Komisi Rapat Kerja yang dapat secara aplikatif memecahkan setiap problematika yang dihadapi institusi,” ujar Jaksa Agung.

Oleh karena itu, Jaksa Agung mengajak kepada seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya.

“Tolong, saya minta di forum yang penting ini jangan bersikap apatis atau meninggalkan tempat sebelum selesainya acara. Kejaksaan membutuhkan sikap kepedulian dan gagasan saudara untuk berprestasi,” pungkasnya.

Adapun kandungan tema dalam Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2021 ini memiliki maksud dan tujuan yaitu untuk:

  1. Mengevaluasi capaian kinerja Kejaksaan Tahun 2021 dikaitkan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021;
  2. Menyusun indikasi kebutuhan pembiayaan kegiatan;
  3. Merumuskan pencapaian atas pemenuhan target kinerja yang berasal dari pelaksanaan direktif Presiden;
  4. Menyusun rekomendasi strategis dalam rangka pencapaian kinerja Tahun 2022; serta
  5. Merumuskan kebijakan strategis dan usulan prioritas nasional Kejaksaan Tahun 2023 dikaitkan dengan 7 (tujuh) Prioritas Nasional berdasarkan dokumen RPJMN dan RKP;

Jaksa Agung mencermati rutinitas Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia yang selama ini diselenggarakan di akhir tahun dirasa kurang tepat untuk membahas rencana program yang bersifat inovatif. Hal ini disebabkan rencana anggaran pada tahun berikutnya telah ditetapkan sebelumnya sebelum pelaksanaan Rapat Kerja, sehingga seringkali inisiatif program yang muncul dalam Rapat Kerja yang beriringan dengan kebutuhan fiskal menjadi tidak terdukung oleh anggaran yang telah ditetapkan atau jika dipaksakan adanya inisiatif-inisiatif program baru akan berimplikasi pada revisi anggaran dan ini merupakan preseden kurang baik terhadap proses perencanaan karena anggaran yang baru saja ditetapkan langsung direncanakan untuk direvisi.

Dari perspektif perencanaan, hal ini tentu bukan sesuatu yang ideal bahkan menjadi kurang efektif dan mengurangi performa lembaga, sehingga Kejaksaan perlu melakukan beberapa penyesuaian terkait perencanaan kinerja dalam mencapai target-target pembangunan nasional sebagaimana yang ditetapkan Pemerintah melalui RPJMN dan RKP.

“Oleh karena itu, saya berharap dalam Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2021 ini dapat menjadi rapat kerja persiapan atau transisi untuk pelaksanaan siklus baru rapat-rapat pengambilan kebijakan institusi yang senantiasa bertitik tolak dan selaras dengan RPJMN Tahun 2020-2024 dan RKP setiap tahunnya,” ungkap Jaksa Agung.

Adapun sasaran pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan Tahun 2022 yang hendak dicapai dalam RPJM dan RKP tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2021 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2022, yaitu:

  1. Mewujudkan konsolidasi demokrasi;
  2. Supremasi hukum dan peningkatan akses terhadap keadilan;
  3. Birokrasi yang profesional dan netral;
  4. Penguatan politik luar negeri dan kerja sama pembangunan internasional;
  5. Rasa aman bagi seluruh masyarakat; serta
  6. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di samping itu, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada saat ini masih menjadi agenda utama Pemerintah dalam recovery process menghadapi pandemi Covid-19. Oleh karenanya, arah policy kebijakan yang dilakukan Kejaksaan harus senantiasa melakukan pengawalan dan pendampingan setiap program-program PEN yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Mengakhiri sambutannya, Jaksa Agung meminta maaf karena tidak dapat langsung memberikan pengarahan disebabkan harus hadir di rapat pembicaraan Tingkat II / Pengambilan Keputusan atas RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, dan selanjutnya Jaksa Agung secara resmi membuka Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2021.

Hadir dalam Rapat Kerja tersebut, Ketua Komisi Kejaksaan RI, Dr. Barita Simanjuntak, Wakil Jaksa Agung RI, Setia Untung Arimuladi, SH. M.Hum., Para Jaksa Agung Muda, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI, Para Staf Ahli Jaksa Agung RI, Para Pejabat Eselon II, Eselon III, dan Eselon IV di lingkungan Kejaksaan Agung, Para Kepala Kejaksaan Tinggi se-Indonesia beserta jajaran, Para Kepala Kejaksaan Negeri dan Kepala Cabang Kejaksaan Negeri se-Indonesia beserta segenap jajarannya, dan para perwakilan Kejaksaan di Hongkong, Bangkok, Singapura, dan Riyadh.

Rapat Kerja Kejaksaan Republik Indonesia tahun 2021 dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dan 3M. []

Pengamat: Gubernur Aceh Overconfident

0
Direktur Eksekutif The Aceh Institute Fajran Zain. (Foto: Ist.)

Nukilan.id – Pengamat Politik Aceh, Fajran Zain menilai Gubernur Aceh, Nova Iriansyah terlalu percaya diri (Overconfident) untuk menekan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun 2021 ke angka Rp. 0,- .

Menurutnya, menekan SiLPA ke angka 0% itu tidak mudah, karena banyak sekali program tahun ini yang on progres, namun waktu tersisa hanya sekitar 10 hari, batasnya sampai 22 Desember 2021.

“Untuk mempercepat realisasi program yang sudah ada itu tidak mudah, apalagi program-program tersebut belum teralisasi sama sekali,” ungkap Direktur Eksekutif The Aceh Institute itu.

Ditambah lagi, kata Fajran, anggaran yang belum terealisasi itu sebesar Rp. 3.413.167.273.688. Dan ini masih terlalu banyak angkanya, jadi tidak mungkin semua anggaran itu bisa terealisasi.

Kendati demikian, kata dia, Gubernur Aceh terus memaksa Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) untuk segera merealisasi program, sehingga SiLPA dapat ditekan ke angka 0%.

Selain itu, Fajran menilai, penyataan Gubernur Aceh melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taqwallah terkait SiLPA Rp. 0,- dalam sidang paripurna Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) itu hanya untuk meredam gejolak parlemen di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

“Kita ketahui bahwa, Gubernur Aceh dipanggil ke parlemen itu untuk mempertanggungjawabkan RAPBA 2022 dan SiLPA 2021,” pungkasnya.

Reporter: Hadiansyah

Dapat Gelar Kehormatan dari Wali Nanggroe, Ini Biografi Ilyas Leube

0
Teungku Ilyas Leube, (Foto: lintasgayo)

Nukilan.id – Tokoh perjuangan Aceh Merdeka, Teungku Ilyas Leube mendapatkan gelar kehormatan dari Wali Nanggroe, Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Alhaytar pada Senin (6/12/2021) malam, di Gedung Aula Wali Nanggroe, Lamblang Manyang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

Teungku Ilyas Lebe adalah sosok yang sangat melegenda dalam riwayat pergerakan perjuangan di Aceh. Dia pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Aceh Merdeka ke-2. Tokoh Kharismatik dari dataran tinggi Gayo ini mengabdikan hidupnya dalam tiga era perjuangan, mulai dari era perlawanan penjajahan Jepang dan Belanda, perjaungan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Menurut Biografi, Teugku Ilyas Leube lahir di Kenawat, Laut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, pada tahun 1923. Berdarah biru, dia tercatat sebagai Reje Linge ke XIX. Namun Ilyas tak pernah memposisikan diri dalam pergaulan kalangan elit. Dia lebih suka berada di tengah-tengah petani kopi di Tanah Gayo dennen hidup dalam kesederhaan dan bersahaja.

“Walau bersertifikasi raja dan ninggrat dalam pergaualan, tetapi memposisikan dirinya sama dengan rakyat biasa,” tulis wikipedia yang dikutip Nukilan.id, Selasa (7/12/2021).

Ilyas lebih dikenal sebagai sosok yang taat dalam menjalankan ajaran Islam. Tokoh sekaliber Daud Beureueh – pemimpin DI/TII di Aceh tertarik dan bahkan menjadikannya sebagai salah seorang intelektual yang juga tokoh ulama di DI/TII.

Leube di belakang nama Ilyas bukanlah pemberian ayah kandungnya, Bude Entan. Sebelumnya, Ilyas menimba ilmu sekolah Normal Schol di Bireuen, Ia salah satu murid berprestasi yang bagus, selain itu Ilyas juga fasih dalam ilmu agama. Makanya, Daud Beureu-eh menjulukinya Leube. Leube bermakna orang yang banyak pengetahuan di bidang agama dan mudah bergaul dengan siapa saja. Nama ujung Ilyas melakat hingga pada anak-anaknya.

Selain Daud Beureueh, M. Nur Ibrahim dan Ayah Gani juga guru Ilyas Leube saat di Bireuen. Ilyas Leube mulai berinteraksi dengan Daud Beureueh sejak tahun 1940 ketika sekolah di Normal School Bireuen, kemudian pada 1947—1949 saat perang di Medan Area – Sumatera Utara – dalam melawan Agresi Belanda ke-I dan ke-II.

Saat Daud Beureueh menjadi Gubernur Militer Aceh dan Tanah karo, Ilyas Leube diposisikan sebagai staf khusus. Interaksi ini terus berlanjut pada pembentukan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan deklarasi DI/TII.

Perjuangan Daud Beureueh dan Ilyas Leube berlanjut pada DI/TII. Setelah turun dari gunung Ilyas Leube fokus membina masyarakat dan membangun usaha sendiri yakni kilang kopi.

Belakangan, Ilyas Leube kembali naik gunung saat melanjutkan perjuangannya dalam organisasi Aceh Merdeka (AM) bersama Hasan di Tiro.

Ilyas Leube dan Hasan di Tiro sudah bersahabat sejak menimba ilmu di Pulau Jawa pada 1940-an. Ilyas Leube menimba ilmu di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, sedangkan Hasan di Tiro di Universités Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

Dua tokoh ini bertemu dalam sebuah ideologi yang sama. Itulah sebabnya, jejak mereka dimulai pada pergerakan politik pemuda nasional. “Di sana mereka baru bertemu, sebelumnya hanya saling mendengar nama saja”.

Pada tahun 1975, Ilyas Leube menunaikan Ibadah Haji. Sedangkan Hasan di Tiro berada di Amerika. Begitu tahu Ilyas berada di Mekkah, Hasan Tiro langsung terbang untuk bertemu Ilyas Leube. Pada pertemuan tersebut mereka membicarakan soal Aceh Merdeka.

Komunikasi dengan Hasan di Tiro berlanjut. Pada awal tahun 1976, Hasan di Tiro bersama Zainal Abidin Tiro dan Ayah Gani serta beberapa tokoh lain kembali menemui Ilyas di Takengon.

Lima hari berkomunikasi tiada henti, membuat Hasan Tiro dan Ilyas Leube semakin dekat. Hasan di Tiro diajak keliling Danau Laut Tawar dan berfoto bersama di Bontol Kubu (benteng pertahanan Gayo).

Usai bertemu di sana, Hasan di Tiro kembali ke Amerika. Dalam pertemuan tersebut mereka janji bertemu di Gunung Halimon, Kabupaten Pidie pada tahun 1976.

Sebelum berangkat, Ilyas berpesan kepada istrinya Salamah binti Salihin Inen Hudna. “Jaga kerukunan keluarga, jangan sampai kocar- kacir” pesan Ilyas Leube dalam Bahasa Gayo.

Selanjutnya, pada Deklarasi Aceh Merdeka di Gunong Halimon, Ilyas mendapat jabatan Menteri Kehakiman. Nama Ilyas Leube dalam struktur Aceh Merdeka juga ditempatkan dalam Dewan Syura bersama Ilyas Cot Plieng, Hasbi Geudong, dan Ayah Sabi. Sedangkan Hasan di Tiro adalah Wali Neugara Aceh.

Ilyas Leube yang pernah sekolah kehakiman di Banda Aceh pada tahun 1942 dikenal sosok yang gigih mempertahankan eksitensi Aceh Merdeka. Tiada henti bergerilya. Naik dan turun gunung, hingga kemudian sampai ke Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Disana Ilyas Leube mendirikan gubuk kecil tempat istirahat bersama empat anak buahnya. Tempat tersebut berjarak sekitar 4-6 kilometer dari Gampong Pandrah, Jeunieb.

Namun, belakangan tempat ini diketahui oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau sekarang disebut Komando Pasukan Khusus (Kopassus) – dan Koramil Jeunieb.

Pada tanggal 16 Mei 1982, saat Ilyas dan empat anak buahnya sedang shalat Ashar, gubuk ini dikepung RPKAD. Letusan bedil membahana. Hingga jatuh korban tiga orang, dan satu orang lagi terluka. Salah satu yang syahid (meninggal) adalah Ilyas Leube. Tokoh kharismatik itu telah syahid. Namun bagi pengikutnya, juga istri dan enam anaknya, dia seolah masih hidup. Begitu juga pada sanubari masyarakat Tanah Gayo.

Wasiat Ilyas Leube

Ilyas Leube meninggalkan Lima Wasiat yang sangat bermakna yang dititipkan kepada istrinya, Salamah binti Salihin Inen Hudna. Ilyas mengatakan, bahwa suatu saat akan terjadi lima hal sebagai tanda kerusakan ummat sebagai tanda bergesernya nilai ke-Islaman di masyarakat. Berikut lima wasiat Ilyas Leube:

Pertama. Ulama meh i pengat (ulama kurang mendapat peran dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat).

Kedua. Tingkah laku ni simemude meh rusak (tingkah laku generasi muda nya rusak atau di luar koridor Syari’at).

Ketiga. Pemimpin perasat (pemimpin tidak lagi amanah sebagai pemimpin dan sudah tidak mendapat kepercayaan dari masyarakatnya walau terpilih melalui pemilihan oleh rakyat). Maksudnya semua urusan umunya berkiblat kepada uang, jika pun memberi sumbangan maka dirasakan berharap imbalan dan dalam hal pekerjaan atau jabatan selalu keluarga dan kerabat yang diutamakan.

Keempat. Jema kaya jengkat (orang-orang kaya menjadi sombong, angkuh dan takabur). Maksudnya mereka terus memperkaya diri sendiri dengan segala cara tanpa peduli halal atau haram, dan parahnya tidak suka bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Kelima. Beru bujang gere ne mengen manat (Pemuda dan pemudi sekarang tidak lagi mendengar dan sudah tidak mau peduli dengan amanat orang tua).

Sumber: Jauhari Samalanga

Bruno Fernandes Akui Manchester United Mulai Bangkit di Era Rangnick

0
Bruno Fernandes saat beraksi di laga Manchester United vs Atalanta di matchday ketiga Grup F Liga Champions 2021-22 di Old Trafford, Kamis (21/10/2021) dini hari WIB. © AP Photo

Nukilan.id – Playmaker Manchester United, Bruno Fernandes membeberkan kesannya dilatih Ralf Rangnick. Ia mengakui gaya bermain Setan Merah kini mulai berubah di bawah kepemimpinan sang manajer.

Manchester United kini resmi punya manajer baru. Ralf Rangnick kini menjabat sebagai juru taktik Setan Merah menggantikan Ole Gunnar Solskjaer yang dipecat.

Kemarin, Rangnick sudah menjalani debutnya bersama MU. Ia membawa Setan Merah menang 1-0 atas Crystal Palace.

Fernandes mengakui bahwa Rangnick membawa gaya bermain yang berbeda. “Kita semua tahu bahwa manajer ingin kami lebih banyak melakukan pressing,” ujar Fernandes kepada BBC Sports.

Dampak Positif

Fernandes menilai gaya bermain Rangnick ini punya dampak positif bagi MU. Ia menilai performa timnya menjadi lebih baik dengan taktik baru Rangnick ini.

“Saya pikir kami tidak selalu harus melakukan pressing. Terkadang kami harus melakukan pressing lebih banyak, terkadang tidak, tergantung pertandingannya,”

“Namun 25 menit pertama permainan kami sangat luar biasa. Kami bermain dengan tempo yang bagus, dan kami seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol di babak pertama,”

Fokus ke Laga Berikutnya

Fernandes menyebut bahwa timnya tidak boleh terlalu merayakan kemenangan ini. Mereka harus fokus ke laga berikutnya.

Fernandes meminta timnya fokus untuk pertandingan melawan Young Boys. Ia menilai Setan Merah untuk memenangkan laga itu.

“Kami harus mengikuti apa instruksi yang diberikan pelatih. Sekarang kami harus mempersiapkan diri untuk pertandingan Liga Champions,” ujarnya.

Balas Dendam

Manchester United akan memainkan pertandingan terakhir grup F liga Champions di Old Trafford. Mereka akan menjamu wakil Swiss, Young Boys.

MU punya dendam terhadap Young Boys. Karena di pertandingan pertama mereka kalah 2-1 di kandang Young Boys.

Sumber: Bola.net

Kadisdik Apresiasi Guru Penerima Beasiswa Tugas Belajar Pemerintah Aceh

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Alhudri MM memotivasi dan memberi pengarahan terhadap 41 orang guru penerima beasiswa tugas belajar dari Pemerintah Aceh, Senin 6 Desember 2021 di Aula Dinas Pendidikan Aceh.

Para guru menerima beasiswa dari Badan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (BPSDM) Aceh tersebut berasal dari berbagai sekolah menengah di Aceh.

Adapun beasiswa yang diterima tersebut berupa tugas melanjutkan belajar tingkat magister (S2) dan doktor (S3) pada berbagai universitas baik di dalam maupun di luar negeri.

Kadisdik mengumpulkan para penerima beasiswa tugas belajar tersebut untuk memotivasi dan memberi pengarahan baik saat sedang kuliah maupun setelah kuliah nantinya.

“Saya berharap, tentunya dengan adanya beasiswa tugas belajar ini akan semakin meningkatkan kompetensi bapak/ibu sehingga membawa dampak bagus baik terhadap peserta didik maupun dunia pendidikan di Aceh,” kata Alhudri.

Alhudri mengaku senang dan bangga dengan semakin banyaknya para guru di Aceh mendapatkan beasiswa tugas belajar, jika perlu semua guru di Aceh bergelar magister atau doktor.

Sebab, kata Alhudri, dengan semakin banyak para guru dan tenaga pendidik di Aceh berpendidikan magister dan doktor, tentunya akan menambah kompetensi dan daya saing guru di Aceh. Alhasil, ketika banyak guru di Aceh berpendidikan tinggi maka akan meningkatkan mutu guru dan kualitas pendidikan di Aceh.

“Saya senang dengan semakin banyaknya guru di Aceh mendapat beasiswa seperti ini. Ke depan kita harapkan guru-guru yang belum mendapatkan beasiswa seperti ini juga kebagian,” kata Alhudri.

Dalam pertemuan tersebut turut dihadiri oleh pejabat struktural di lingkup Dinas Pendidikan Aceh.[]

Sejarah Mencatat, Wartawan adalah Aktivis Politik Melawan Kolonialisme

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Perjalanan sejarah perjuangan bangsa mencatat bahwa, di masa kolonialisme insan media memiliki peran penting dalam membangkitkan kesadaran berbangsa dan menjaga agar perlawanan terhadap kolonialisme tetap membara, di sanubari segenap anak bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Aceh Marwan Nusuf, saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Aceh, pada acara pelantikan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh dan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Aceh dan Dewan Kehormatan Peopinsi (DKP) PWI Aceh periode 2021-2026, di Aula Dewan Perwakilan Rakyat Kota Sabang, Senin (6/12/2021).

“Jejak langkah wartawan dalam kancah perjuangan bangsa, terbukti solid dan nyata. Sejarah juga mencatat, tak jarang wartawan bekerja dengan dua peran. Pertama, sebagai aktivis pers dengan tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran berbangsa. Yang kedua, sebagai aktivis politik, yang terlibat secara langsung dalam kegiatan mengelola perlawanan terhadap kolonialisme,” ujar Marwan.

Di masa awal terbentuk, sambung Marwan, PWI merupakan sebuah wadah persatuan para wartawan Indonesia dalam tekad patriotik membela kedaulatan negara Republik Indonesia. “Kehadiran rekan-rekan wartawan bukan hanya menghadirkan berita hangat untuk menemani kopi pagi seperti tradisi di masa lalu. Kiranya, semangat patriotik itulah yang telah terus terpatri dan menghidupkan PWI hingga mencapai usia matang seperti sekarang ini,” kata Marwan.

Kadis Kominsa Aceh itu menambahkan, untuk menumbuhkan semangat patriotik dan meningkatkan kapasitas intelektual para anggota, PWI selalu menggelar berbagai kegiatan, seperti lokakarya. Dan, kini karena menyesuaikan dengan situasi pandemi, kegiatan tersebut berubah dalam bentuk webinar.

“Jika selama ini kita akrab dengan berbagai kegiatan webinar yang digelar PWI, di masa lalu kita kerap mendengar PWI melakukan Lokakarya untuk penyegaran dan mengasah intelektual para anggota, yang menghasilkan berbagai pedoman penulisan berita di bidang tertentu. Misalnya, di Bidang Hukum, Bidang Politik dan lainnya, Kini kegiatan beralih dalam bentuk webinar atau zoom meeting,” imbuh Marwan.

Karena itu, sambung Marwan, Pemerintah Aceh optimis, di tengah membanjirnya informasi dan kemudahan setiap orang memproduksi berita dan informasi, PWI akan berdiri di garda terdepan untuk menjaga setiap berita yang dipublikasi dengan fakta dan informasi sahih, yang sampai ke para pembaca, pemirsa dan pendengarnya.

Dalam sambutannya, Marwan juga menyampaikan selamat kepada Ketua PWI Aceh yang baru terpilih dan dikukuhkan hari ini. Sebagaimana diketahui bersama, pada pelaksanaan Konferensi PWI Aceh ke-12, pada 19 – 21 November lalu. PWI Aceh telah memiliki pengurus baru.

“Kami sampaikan selamat kepada Saudara M Nasir Nurdin selaku Ketua terpilih dan seluruh jajaran pengurus yang segera melaksanakan tugas sesuai mandat organisasi. Kepada Saudara Tarmilin Usman selaku ketua dua periode dan seluruh jajaran pengurus PWI Aceh sebelumnya, kita sampaikan penghormatan dan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan selama ini,” kata Marwan.

Dalam kesempatan tersebut, Marwan juga menyampaikan apresiasi Pemerintah Aceh kepada Tim Formatur, yang telah bekerja keras dalam menyusun kepengurusan PWI Aceh yang baru.

Marwan menambahkan, PWI Aceh dan semua anggota yang tersebar di seluruh Aceh, telah turut membantu mengawal proses demokrasi dan pelaksanaan pembangunan serta tak henti mengedukasi publik Aceh.

“Sebagai organisasi profesi wartawan tertua, PWI menyertai rakyat sejak masa awal kemerdekaan. Artinya, hingga saat ini, PWI telah 74 tahun mengisi ruang edukasi publik dengan segala dinamikanya. Sebuah usia matang, di mana selayaknyalah prestasi dan kebijaksanaan sudah menjadi ciri khas di setiap era hingga kini,” kata Marwan.

Juga diharapkan agar PWI senantiasa menjadi mitra strategis Pemerintah Aceh I semua lini, serta semua perusahaan pers tempat para anggota PWI bernaung akan terus maju dan berkembang secara baik sehingga mampu menjawab tantangan pelik di era disrupsi sekarang ini,” pungkas Marwan.

Sementara itu, Ketua PWI Aceh M Nasir Nurdin, dalam sambutannya menjelaskan, bahwa kepengurusan PWI diisi oleh wartawan-wartawan muda yang masih enerjik dan segar, untuk mendukung kerja-kerja PWI di masa mendatang.

“Sebahagian pengurus PWI Aceh adalah wajah-wajah muda yang segar dan penuh semangat. Sedangkan para senior kami tempatkan pada tempat khusus, sebagai lentera bagi kami membangun organisasi PWI menjadi lebih baik di masa mendatang,” ujar Nasir.

Pelantikan Ketua PWI Aceh dilakukan langsung oleh Ketua PWI Pusat Atal S Depari, yang hadir langsung ke Aceh bersama istri yang juga menjabat sebagai ketua IKWI Pusat Indah Kirana Atal S Depari.

Berikut ini adalah susunan pengurus PWI Aceh yang dilantik oleh Ketua PWI Pusat. Ketua M Nasir Nurdin, Sekretaris Muhammad Zairin, Bendahara Sulaiman.
Sementara itu di jajaran penasihat, Tokoh Pers Nasional yang juga Pimpinan Harian Serambi Indonesia Sjamsul Kahar ditunjuk sebagai Ketua, didampingi oleh Bustamam Ali sebagai Wakil Ketua. Sedangkan Sekretaris Penasihat PWI Aceh dijabat oleh T Maimun Umar dan Dahkan TA sebagai anggota.

Sedangkan DKP PWI Aceh dijabat oleh Tarmilin Usman sebagai Ketua merangkap anggota, Sekretaris Bukhari M Ali. Sedangkan T Anwar Ibrahim, Helmi Has dan Rohana Mahmud sebagai anggota. []

Wali Nanggroe Semat Gelar Kehormatan untuk Ilyas Leube dan Abdullah Safi’i

0
Penyerahan Kehormatan untuk pejuang GAM di Meuligo Wali nanggroe. (Foto: Nukilan.id)

Nukilan.id – Dua tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Alm. Tengku Ilyas Leube dan Alm. Teungku Abdullah Safi’i mendapat gelar kehormatan dari Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar. Penyerahan gelar dilakukan langsung di Gedung Aula Wali Nanggroe, Lamblang Manyang, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Senin (6/12/2021) malam.

Wali Naggroe pada sambutannya mengatakan, gelar kehormatan diberikan kepada kedua tokoh Gerakan Aceh Merdeka itu sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa mereka pada perjuangan Aceh.

“Gelar kehormatan diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh yang telah berkonstibusi dalam perjuangan Aceh, penegakan rukun Islam, Perdamaian Aceh, persatuan, keadilan dan Kemakmuran rakyat Aceh,” kata Wali Nanggroe Malik Mahmud.

Wali Naggroe menjelaskan, kedua tokoh diberi gelar kehormatan berdasarkan hasil kajian dari tim peneliti.

Tengku Ilyas Lebe adalah tokoh Kharismatik GAM dari dataran tinggi Gayo yang mengabdikan hidupnya dalam tiga era perjuangan, mulai dari era perlawanan penjajahan Jepang dan Belanda, perjaungan DI/TII, dan Gerakan Aceh Merdeka.

“Dalam Kabinet GAM, Tengku Ilyas Lebe dipercaya sebagai perdana menteri kedua pada tahun 1980-1982, Beliau juga menjabat Dewan Syura GAM tahun 1977 sampai 1982. Menteri Kehakiman GAM tahun 1977 sampai 1982. Tengku Ilyas Lebe juga seorang cendikiawan terbaik yang pernah diliki Aceh,” jelas Malik Mahmud.

Abdullah Safi’i merupakan Panglima GAM yang syahid bersama Istri pada 22 Januari 2002. Teungku Abdullah Safi’i telah mengadikan hidupnya, demi melawan ketidakadilan di bumi Aceh pada masa itu.

“Teungku Lah bergabung dengan GAM pada usia 29 tahun. Pada tahun 1993 resmi diangkat sebagai panglima GAM pemandu Pusat Tiro,” kata Wali Nanggroe.

Penyematan Gelar kehormatan dilakukan langsung oleh Wali Nanggroe kepada Putra (Alm) Ilyas Leube Munadi dan Adik Kandung (Alm) Teungku Abdullah Safi’i, Fatimah.

Turut pula tampil seniman Gayo Salman Yoga yang membacakan puisi untuk rakyat Aceh tentang persatuan :Seulanga dan Renggali”.

Hadir pada penyematan Gekar kehormatan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Muzakir Manaf, Ketua DPR Aceh Dahlan Jamaluddin, Asisten II Setda Aceh Iskandar, Ketua DPR Aceh, Tokoh GAM dan Para Bupati Walikota/Se-Aceh.[js]

Berpose bersama

 

Pabrik Cangkang Sawit Dibangun Januari 2022, Disperindag Apresiasi Gubernur Aceh

0
Kepala Disperindag Aceh, Ir. Mohd. Tanwier, MM (Foto: Nukilan/Irfan)

Nukilan.idPT Pembangunan Aceh (PT Pema) bekerja sama dengan PT Alpine Green akan membangun pabrik pengelolaan cangkang sawit untuk pasar ekspor di Kawasan Industri Aceh (KIA) di Desa Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Untuk diketahui, pembangunan pabrik tersebut direncanakan akan dimulai pada awal Januari 2022 mendatang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Ir. Mohd. Tanwier, MM menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Aceh, Nova Iriansyah atas prestasi yang dicapai tersebut.

Menurutnya, pemebangunan pabrik pengelolaan cangkang sawit ini merupakan salah satu wujud keberhasilan investasi Pemerintah Aceh selama 20 tahun terakhir.

Terkait kerja sama  PT pembanguan Aceh PEMA dengan PT Alpine Green akan mulai mebanagun pabrik cangkang sait di ladong aceh besar pada bulan January 2022.

“Ini adalah salah satu wujud dari investasi Pemerintah Aceh dan patut kita apresiasi setelah 20 tahun lamanya baru sekarang hal ini dapat terwujud,” ungkap Tanwier kepada Nukilan.id di Banda Aceh, Senin (6/12/2021).

Ia berharap kepada PT Alpine Green untuk dapat segera membangun pabrik pengelolaan cangkang sawit itu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada awal Januari 2022 mendatang.

“Kita juga telah menyiapkan infrastuktur dasar untuk kegiatan Industri tersebut. Dan semoga PT Alpine Green ini bisa menjadi motor penggerak bagi industri-industri lainnya untuk bergabung ke PT Pema, terutama industri local,” tutup Tanwier.

Reporter: Hadiansyah

MaTA Tak Yakin Pemerintah Aceh Capai SiLPA 2022 Rp 0,-

0
Koordinator MaTA, Alfian (Foto: Dialeksis com)

Nukilan.id – Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian mengatakan, dengan di tergetkanya oleh Pemerintah Aceh terkait realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) tahun 2022 akan mencapai Rp 0 SiLPA tidak meyakinkan, karena tidak mempunyai dasar dan acuan untuk diyakini.

“Saya tidak yakin untuk pelaksanaan APBA tahun 2022 berjalan dengan baik dan mencapai target nol SiLPA, dikarenakan Gubernur Aceh tidak mempunyai dasar, panduan untuk diyakini, apa dan bagaimana strategi pelaksanaan anggaranya, kita tidak tahu itu,” kata Alfian saat di wawancarai Nukilan.id di Banda Aceh, Senin (06/12/2021).

Menurutnya, Pemerintah Aceh harus ada kalender dan panduan untuk realisasi APBA, dengan adanya hal tersebut maka baru bisa untuk di yakini dan diketahui oleh masyarakat bagaimana pelaksanaan yang akan dilksanakan dalam realisasi anggaran.

“Mulai dari kalender musrembang, Pembahasan Anggaran termaksut proses masa tender dan realisasi anggarannya,” ucap Alfian.

Misalkan APBA tahun 2022, pemerintah aceh perlu mengumumkan bulan berapa mereka akan melakukan untuk mengeksekusi kegiatan diseluruh intansi yang ada di pemerintah aceh.

“Ini kan tidak ada, artinya mereka tidak mengungkapkan ke publik,  seharusnya itu sudah dilakukan. Setiap dinas harus ada deadlinenya dengan target pada bulan berapa semua paket-paket kegiatan sudah dilakukan proses tender,” sebut Alfian.

Alfian mengatakan, pengalaman realisasi anggaran di tahun 2021 adalah pengalaman yang paling buruk, penayangan dan tender masih dilakukan di bulan Oktober dan November serta banyak paket besar yang di batalkan, dengan catatan tidak mencukupi waktu dalam pengerjaan,  dari segi pengerjaanpun semua mengejar waktu agar tercapai pogres, jika tidak anggaran di Akhir tahun akan ditutup.

Di akhir tahun bulan November-Desember kondisi di aceh adalah musim hujan dan ini akan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan, bukan hanya soal tidak tersedianya material, tapi juga berpengaruh kepada pegerjaan dengan waktu tinggal sedikit dan target harus sampai. Ungkapnya

“Seharusnya poblem ini pemerintah harus meminimalisirnya,” ucapnya.

Oleh Karena itu, DPR Aceh selaku lembaga pengawasan harus menunjukan peran untuk mengawasi anggaran penkerjaan dalam bentuk pengawasan dilapangan.

Sedangkan peran Pemerintah Aceh sebagai eksekutor, mereka harus fokus, yang harus dibuat kalender acuan realisasi Anggaran serta dipublikasi ke publik, maka mudah untuk memonitoring dilapangan dan publik tahu bagaimana kinerja dan strategi pemerintah dalam realisasi anggaran.

“Pemerintah aceh harus melakukan perencanaan sesuai dengan yang telah ditetapkan agar anggaran APBA tahun 2022 berjalan dengan baik dan dapat dirasakan manfaanya oleh masyarakat,” tutupnya.[Jr]