Beranda blog Halaman 1899

Lifter dari 15 Kabupaten/Kota Bersaing Lolos ke PORA Pidie

0

Nukilan.id  Para Lifter dari 15 Kabupaten/kota se-Aceh bersaing memperebutkan tiket menuju Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIV Pidie Tahun 2022, pada ajang Prakualfikasi PORA Cabang Angkat Besi Tahun 2021, yang secara resmi dibuka pada 11 Desember 2021, di Pusat Latihan Angkat Besi, GOR KONI Aceh, Banda Aceh.

Sekretaris Umum PABSI Aceh, Effendi Eria melaporkan, Pra-PORA kali ini dikuti oleh 69 lifter putra dan 60 lifter putri, yang masing-masing bertanding di 10 kelas pertandingan.

“Di masing-masing kelas tersedia lima tiket kelolosan. Ditambah masing-masing satu tiket untuk setiap kelas bagi Tuan Rumah Pidie,” kata Effendi yang berstatus Pelatih Nasional tersebut.

Sementara itu, Ketua Harian KONI Aceh H. Kamaruddin Abu Bakar sebelum membuka secara resmi kejuaraan tersebut menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada PABSI Aceh yang selama ini telah mengharumkan nama Aceh lewat prestasi atletnya hingga ke level internasional.

“Di PON Papua, dari dua atlet, satu putra dan satu putri, keduanya berhasil merebut medali emas,” kata Abu Razak—sapaan akrab H. Kamaruddin Abu Bakar.

Atlet yang dimaksud Abu Razak adalah M. Zul Ilmi kelas 96 kilogram dan Nurul Akmal kelas +87 Kg. Bagi Nurul, ini merupakan medali emas keduanya di ajang PON setelah sebelumnya di PON 2016 Jawa Barat.

Sebelumnya Nurul bahkan mencatatkan diri sebagai atlet Aceh kedua atau atlet putri Aceh pertama yang berhasil tampil di ajang Olimpiade Tokyo 2021.

“33 tahun lalu atlet Aceh, Alkindi dari cabang anggar, adalah orang pertama kali tampil di Olimpiade Soul, Korea Selatan 1988,” tambah Abu Razak.

KONI Aceh berharap, ke depan PABSI akan melahirkan atlet-atlet berpretasi yang mengikuti jejak para seniornya. Apalagi mengingat pada PON XXI Tahun 2024 Cabang Angkat Besi akan dipertandingkan di Aceh.

“Dari Pra-PORA ini kita berharap akan muncul potensi-potensi atlet baru yang mengharumkan nama Aceh hingga ke manca negara.”

Ketua Umum PABSI Aceh, H. T. Teuku Rayuan Sukma menyebutkan, konsep dan landasan pembinaan pihaknya selama ini lebih mengutamakan kualitas bukan kuantitas.

“Oleh karena itulah, PABSI Aceh mampu mengukir prestasi di kejuaraan nasional dan PON. Berprestasi di Kejurnas, meraih dua medali emas PON Papua. Nurul tampil di Olimpiade, dan bersama Zul Ilmi juga wakili Indonesia di Kejuaraan International,” kata T. Rayuan.

“Alhamdulillah Tahun 2021 ini, merupakan tahun prestasi bagi PABSI Aceh,” tambah T. Rayuan yang juga Wakil Ketua Umum III KONI Aceh Bidang Litbang.[]

Sudirman Hasan kembali Terpilih Sebagai Sekjen Forum LSM Aceh

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Musyawarah Anggota Forum LSM Aceh yang berlangsung di Hotel Hermes, Banda Aceh, Sabtu (11/12) akhirnya kembali memilih Sudirman Hasan sebagai Sekretaris Jenderal untuk periode 2021-2025.

Sudirman terpilih secara aklamasi dalam musyawarah yang dihadiri perwakilan 69 Organisasi Masyarakat Sipil Aceh. Ini adalah periode kedua bagi Sudirman Hasan menjadi tokoh sentral di salah satu Jaringan LSM terbesar di Provinis Aceh.

Musyawarah Forum LSM itu dibuka oleh Bapak H. Usamah El Madany SAg, MM. Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Aceh dalam sambutannyan Usamah mengatakan Bahwa Mewakili Gubernur Aceh untuk membuka acara dan mendengar Aspirasi Anggota Forum LSM Aceh. Usamah Juga menyampaikan dukungannya bagi eksistensi Forum LSM Aceh sebagai lembaga yang kritis terhadap kebijakan Pemerintahan.

“Bagaimanapun juga pembangunan Aceh sangat membutuhkan LSM sebagai mitra. Saya kira Forum LSM Aceh adalah lembaga organisasi masyarakat sipil yang telah aktif selama ini sebagai mitra Pemerintah Aceh,”

Dalam laporan pertanggungjawabannya sebagai Sekjen Forum LSM Aceh periode lalu, Sudirman Hasan mengaku perjalanan lembaga yang dipimpinnya itu memang tidak selincah masa-masa sebelumnya. Sulitnya mendapatkan donor menjadi kendala Forum LSM Aceh untuk terus meningkatkan eksistensinya di masyarakat.

“Meski demikian, sekalipun tanpa donor, kita tetap akan bekerja sesuai misi Forum LSM Aceh ,” katanya.

Sejak berdiri pada 19 Januari 1990, menurut Sudirman, Forum LSM Aceh tetap konsisten berjuang untuk mengkritisi kebijakan public, melakukan advokasi terhadap kebijakan publik yang memihak masyarakat serta berperan aktif memperkuat Demokrasi dan perdamaian.
Belakangan ini Forum LSM Aceh juga mulai terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi lingkungan.

Salah satu terobosan Forum LSM yang cukup mendapat sorotan adalah ketika lembaga itu menggagas petisi untuk meminta Mahkamah Agung mengambil alih kewenangan eksekusi terhadap perusahaan kelapa sawit PT Kallista Alam di Nagan Raya yang telah dihukum wajib membayar ganti rugi sebesar Rp 366 miliar oleh pengadilan krena terbukti melakukan pengrusakan di kawasan Rawa Tripa.

Eksekusi itu sampai sekarang belum berjalan meski vonis pengadilan telah dijatuhkan tujuh tahun silam. Pasalnya, Pengadilan Negeri Suka Makmue Nagan Raya enggan melakukan sita atas lahan perusahaan itu yang harusnya dieksekusi. Forum LSM lantas menuntut agar MA terlibat langsung dalam proses eksekusi itu dengan mencabut kewenangan dari PN Suka Makmue.

Saat ini, petisi yang ditayangkan di laman change.org itu telah mendapat dukungan lebih dari 7.500 tandatangan dari berbagai personal dan lembaga. Padahal Forum LSM Aceh semula hanya menargertkan 1.500 dukungan.

“Dukungan itu menunjukkan betapa geramnya masyarakat atas keterlambatan terhadap proses eksekusi itu,” kATA Sudirman. Ke depan ini, Sudirman mengaku akan membuat gebrakan baru untuk mendorong MA segera melakukan eksekusi terhadap PT Kallista Alam itu.

Di samping itu, Menurut Ketua Panitia, Subuki Yusuf Musyawarah XI Forum LSM Aceh merupakan acara Rutin 4 tahunan, yang mengendakan pemilihan kepemimpinan yang baru yaitu memilih Sekretaris Jenderal (Sekjend) dan Dewan Perwakilan Anggota (DPA).

Musyawarah XI Forum LSM Aceh yang berlangsung di hotel hermes tersebut juga memutuskan dan menetapkan 7 Anggota Baru Yaitu Rumoh Transparansi, Pusat Studi Kebencanaan Aceh ( PUSAKA), Lembaga Pemberdayaan Pemulung Aceh (LPPA). Gayo Alas Conservation Center (GACC) semuanya dari Banda Aceh, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Rakyat Aceh (YLBH.KRA), Lembaga Jaringan Aspirasi Rakyat Aceh (JARA) dari Pidie dan LSM CRRC (Community Rehabilitation and Research Cencer / Pusat Kajian dan Rehabilitasi Masyarakat ) dari Aceh Timur KATA Subuki.

Subuki Juga Menambahkan Musyawarah anggota Forum LSM Aceh juga berhasil memilih lima Dewan Perwakilan Anggota (DPA) yang nantinya bertugas sebagai pengawas dan mitra kerja bagi Sekjen. Kelima anggota DPA itu adalah Saifuddin Idris, Saifuddin NH, Jehalim Bangun, Nurjubah, dan Azharul Husna. []

Andry Agung Kembali Pimpin Rugby Aceh

0

Nukilan.id – Forum Musyawarah Olahraga Provinsi II (Musorprov) Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI) kembali menetapkan Ir. P. P. Andry Agung MM sebagai Ketua Umum masa bakti 2021-2025.

“Alhamdulillah, terima kasih atas amanah yang diberikan untuk kembali memimpin Rugby Aceh,” kata Andry usai ditetapkan pada musyawarah yang diikuti oleh 14 Pengcab Rugby Kabupaten/kota se-Aceh, empat UKM dan tiga Club Rugby, Sabtu 11 Desember 2021.

Musyawarah tersebut dibuka oleh Ketua Umum PB PRUI DR. Didik Mukrianto SH MH yang juga Anggota Komisi III DPR RI. Turut hadir juga antaralain, Ketua Harian KONI Aceh H. Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak), Wakil Ketua Umum KONI Aceh Tgk. Anwar Ramli, dan Anggota DPRA yang juga pengurus KONI Aceh Bardan Sahidi

“Dengan kebersamaan dari seluruh pengurus, saya yakin Rugby akan menjadi olahraga masyarakat dan berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Sejauh ini telah kita buktikan dengan berhasil meraih medali di PON Papua 2021, dan lima Atlet Aceh yang memperkuat Timnas Rugby Indonesia di Sea Games Filipina 2019 lalu,” tambah Andry.

Ketua Umum PB PRUI dalam sambutannya sebelum membuka Musorprov menyampaikan apresiasi atas pembinaan dan perkembangan prestasi Rugby Aceh. “Keberhasilan di PON Papua 2021 menjadi legacy besar untuk mengembangkan dan melahirkan prestasi rugby, bukan hanya untuk Aceh, tetapi berefek besar secara nasional,” kata Didik

Apresiasi serupa juga disampaikan Ketua Harian KONI Aceh. Menurutnya, meskipun Cabang Rugby baru hadir di Aceh, namun patut berbangga atas prestasi yang telah diraih. Mulai dari mengirimkan atlet ke Timnas Rugby Indonesia, dan berhasil meraih medali di penampilan perdana di PON XX Tahun 2021 Papua.

Ke depan, KONI Aceh berharap agar Cabang Rugby dapat lebih memaksimalkan lagi pembinaan dan pemerataan di seluruh kabupaten/kota di Aceh. “Pada PON XXI Tahun 2024 Aceh-Sumut, cabang ini akan dipertandingkan di Aceh,” kata Abu Razak mengingatkan.

Sebagai tuan rumah, tambah Abu Razak, sangat besar peluang bagi Cabang Rugby untuk merebut medali emas sebanyak-banyaknya. Karena Aceh bisa ikut di semua nomor yang dipertandingkan tanpa harus mengikuti Prakualifikasi PON.

“Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan persiapan matang secepat mungkin,” tambah Abu Razak sembari menambahkan bahwa KONI Aceh mengandalkan Cabang Rugby untuk meraih prestasi dalam berbagai ajang yang akan dihadapi ke depan, baik level regional, nasional dan internasional.

Selain menetapkan Ketua Umum, Forum Musorprov juga menetapkan dua formatur yang bertugas untuk menyusun kepengurusan, yaitu yaitu Erwin Ferdinansyah ST MT dan H. Abdullah Matyah.

Hal strategis lainnya yang diputuskan dalam musyawarahan tersebut antaralain, ditetapkannya enam sampai dengan delapan nomor yang akan dipertandingkan di PON 2024, sesuai rekomendasi Musornas PRUI akhir November 2021 di Jakarta.

Nomor yang direncanakan akan dipertandingkan adalah Rugby 7’s, Rugby 10’s dan Rugby Pantai 4’s, Putra dan Putri. “Akan dibahas kembali untuk penambahan di Rugby X pada Rakerprov PRUI Aceh mendatang,” tutup Andry.[]

Forum Animator Aceh Dibentuk, Disbudpar Apresiasi Seni Animasi Aceh 2021

0

Nukilan.id – Sebanyak 20 peserta dari berbagai wilayah di Aceh, menerima penghargaan Apresiasi Seni Animator Aceh 2021, yang di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di Hotel Grand Nanggroe , Sabtu (12/12/2021).

Sebelum deklarasi, para animator ini juga membahas mekanisme pembentukan forum. Dari hasil kesepakatan, terpilihlah Tazkiyatun Nufus sebagai koordinator.

Forum Animator Aceh ini beranggotakan 20 orang dan tidak menutup kemungkinan terus bertambah keanggotaanya. Kansa salah seorang peserta mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Animator pemula, sehingga dapat banyak pengetahuan terkait animasi yang didapat serta bertemu dengan animator lainnya yang sudah punya pengalaman.

“Kegiatan ini sangat banyak pengetahuan baru, karena animasi ini punya seni, sehingga bukan sekedar minat, tapi perlu pendalaman,”Jelas Kansa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang diwakili oleh Nurlalila Hamjah, S.Sos,M.M, Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menyerahkan Plakat sebagai simbol Apresiasi bagi Animator Aceh.

Nurlalila Hamjah mengungkap bahwa temu animator ini penting untuk meningkatkan kreativitas, elaborasi serta mampu menjawab kebutuhan zaman.

“Apresiasi ini sangat berguna bagi dunia kreatif untuk mendorong pelaku seni animator berkolaborasi diantara mereka untuk melahirkan banyak karya, dan kami sangat mengapresiasi para pekerja seni animator,” jelas Nurlalila.

Dia juga menambahkan bahwa Animasi juga bisa menjadi model iklan pariwisata, branding keunggulan, media seni dan tradisi, publikasi wisata, serta kebutuhan lainnya untuk mengkomunikasikan dan memberikan informasi ke publik terkait Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Kegiatan Apresiasi Seni Animator Aceh yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, tanggal 11-12 Desember 2021. Kegiatan ini juga di isi dengan serangkaian kegiatan di antaranya diskusi dengan menghadirkan tiga narasumber kunci, Pembentukan forum silahturrahmi para Animator Aceh, dan malam penyerahan Anugrah untuk Para Animator serta Deklarasi Forum Animator Aceh. [red]

Pemerintah Aceh Ajak Masyarakat Bantu Korban Bencana Semeru

0

Nukilan.id – Pemerintah Aceh melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) membuka donasi untuk korban bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Masyarakat Aceh secara personal maupun kelembagaan diharapkan ikut menggalang bantuan kemanusiaan ini.

“Penggalangan dana dari masyarakat Aceh di seluruh kabupaten dan kota ini nantinya disumbangkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, untuk seterusnya disalurkan kepada masyarakat terdampak di Kabupaten Lumajang dan sekitarnya,” kata Kepala Pelaksana BPBA Ilyas, Minggu (12/12/2021).

Dia menyebut, donasi dari masyarakat Aceh dapat disalurkan melalui Rekening Bank Aceh Syariah atas nama: ACEH PEDULI SEMERU, Nomor Rekening: 50102240000142.

Seruan Gubernur Aceh

Ilyas mengatakan, Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah menjadi orang pertama yang telah menyatakan komitmennya untuk menyumbang. Selain itu, pejabat lainnya dan akademisi juga telah menyatakan kesediaan untuk memberikan donasi.

Sementara itu, Ketua Forum PRB Aceh Nasir Nurdin mengatakan, donasi amal yang dikumpulkan merupakan seruan langsung dari Gubernur Aceh melalui Kepala Pelaksana BPBA dan Forum PRB Aceh.

Sumbangan dari para dermawan itu, kata Nasir Nurdin, sangat diharapkan untuk membantu para korban.

“Insyaallah, kepedulian kita bisa meringankan penderitaan mereka,” ujarnya. [merdeka]

Bank Aceh Cairkan Rp 214 Miliar Dana BPUM untuk 178.699 Penerima

0

Nukilan.id – Bank Aceh Syariah telah mencairkan sebanyak Rp 214 miliar dana Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) untuk 178.699 penerima di seluruh Aceh.

“Realisasi pencairan untuk BPUM Aceh sudah 61,24 persen, terhitung sejak April hingga 9 November 2021,” kata Supervisor Humas Bank Aceh Syariah Ziad Farhad, di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (11/12/2021).

Ziad menyebutkan, total penerima BPUM di Aceh seluruhnya sampai hari ini berjumlah 291.784 orang, yakni untuk tahap pertama sebanyak 5.832 penerima dan tahap kedua mencapai 75.096 penerima. Kemudian, untuk tahap ketiga mencapai 133.835 orang, dan tahapan keempat sebanyak 77.021 penerima.

Namun, kata Ziad, dari 291.784 penerima tersebut yang sudah memproses pencairannya baru 178.699 penerima. Artinya masih ada sebanyak 113.085 orang yang belum memproses pencairannya.

“Untuk jumlah uangnya sendiri masing-masing penerima BPUM Aceh tersebut mendapatkan bantuan sebanyak Rp 1,2 juta per orang,” ujarnya.

Ziad menjelaskan, belum disalurkannya dana BPUM kepada 113.085 penerima tersebut karena memang yang bersangkutan belum mengambilnya, apakah karena masih bermasalah dengan administrasi seperti identitas, atau ada hal lainnya. Ziad mengingatkan kepada penerima untuk dapat segera mencairkan, mengingat tanggal jatuh temponya tidak lama lagi.

Ziad menambahkan, tempo pencairannya untuk tahun ini sampai 30 Desember 2021. Namun, secara teknis mekanisme jadwal pencairan itu ditentukan oleh pihak Kementrian Koperasi dan UKM.

Meski demikian, Ziad berharap jadwal pencairan dana BPUM tersebut masih bisa diperpanjang hingga tahun depan. “Kita mengimbau kepada penerima BPUM untuk segera mengurus pencairannya melalui Bank Aceh Syariah terdekat, untuk diproses secepatnya,” kata Ziad.[republika]

697 Perempuan di Aceh Jadi Korban Kekerasan Seksual Sepanjang 2021

0

Nukilan.id – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Aceh, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh mencatat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di daerah ini mulai Januari-September 2021 mencapai 697 kasus.

“Hingga September 2021 berjumlah 697 kasus, itu belum termasuk Oktober, November, dan Desember,” kata Kepala UPTD PPA Aceh, Irmayani Ibrahim dalam keterangannya, di Banda Aceh, Sabtu (11/12/2021).

Irmayani mengatakan peningkatan kasus tersebut terjadi selama pandemi covid-19 dan pelaku rata-rata orang terdekat korban. Angka ini belum terkuak semuanya, mengingat banyak kasus serupa di Aceh yang masih ditutupi karena dianggap sebagai aib.

“Ini belum lagi yang tidak berani lapor, karena memang dianggap aib keluarga, bahkan mereka dapat tekanan dari pelaku sehingga ada rasa takut dan cemas,” ujarnya.

Dalam rangka membantu korban, kata Irmayani, Kota Banda Aceh dengan bantuan anggaran Pemerintah Aceh akan segera membangun rumah aman terhadap korban.

Program rumah aman, sangat diperlukan sehingga keberadaan korban tidak ada yang mengetahuinya. Apalagi ditempatkan tenaga kesehatan, psikolog, dan pendamping yang responsif terhadap korban.

“Selama ini rumah aman yang ada hasil kerja sama dengan Dinas Sosial setempat,” kata Irmayani.

Sementara itu, Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Rizal Falevi Kirani menyampaikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Aceh terus terjadi.

Menurutnya, kekerasan seksual termasuk dalam kasus kriminal yang luar biasa. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara serius dan tuntas.

“DPR Aceh sebagai wakil rakyat akan terus melakukan upaya nyata untuk menangani persoalan kekerasan seksual perempuan dan anak melalui peran dan fungsi legislatif,” kata Falevi Kirani.[medcom]

Peringatan HDI 2021, Hamdani: Setiap Anak Berhak Mendapatkan Pendidikan

0
Transmigrasi asal Jawa Barat. (Foto:suara)

Nukilan.id – Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan telah menyediakan sekolah luar biasa dan sekolah inklusi agar anak-anak penyandang disabilitas dapat terpenuhi haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Tujuannya agar setiap anak penyandang disabilitas dapat mengasah kemampuan dirinya, serta diberikan peluang untuk meningkatkan kemandirian,” kata Hamdani, S.Pd.,M.Pd, Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM saat membuka acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) Tahun 2021 di Aula Disdik Aceh, Minggu 12/12/2021.

Melalui ajang HDI, para peserta didik disabilitas yang hadir dari berbagai sekolah di Aceh diberikan kesempatan berkumpul bersama untuk menunjukkan bakat minat dan kemampuannya serta diajak untuk mengekspresikan perasaannya melalui kegiatan melukis pada kain kanvas, mewarnai di kertas, menari, fashion show, menyanyi, menyanyi solo, dan pantomim.

Hamdani menuturkan, HDI atau Hari Difabel Internasional adalah peringatan internasional yang mendukung Perserikatan Bangsa- angsa sejak Tahun 1962 yang diperingati setiap tanggal 3 Desember.

Peringatan ini bertujuan, untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan masalah-masalah yang terjadi dengan kehidupan para penyandang disabilitas dan memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat dan kesejahteraan para penyandang disabilitas.

Hari disabilitas internasional diperingati sebagai wujud perhatian masyarakat dunia terhadap disabilitas termasuk Indonesia khususnya Dinas Pendidikan Aceh terhadap perayaan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

“Perhatian khusus agar mereka mendapatkan perhatian kebahagiaan, kecepatan yang maksimal seperti anak normal lainnya, karena setiap anak berhak bahagia, berhak memaksimalkan potensi dirinya dengan diberikan peluang untuk meningkatkan kemandirian,” tegas Hamdani.

Ke depan pemerintah secara bertahap yang berkomitmen mengambil langkah konkrit membangun pendidikan yang layak dan inklusif, serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini aktif membantu mewujudkan program-program yang ramah disabilitas. Selamat Hari Disabilitas Internasional kepada anak-anak dan saudara-saudara penyandang disabilitas di Indonesia,” tutup Hamdani.

Sementara itu, Ketua Panitia Heni Ekawati, S.Pd, M.Pd mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberi penghargaan, memberi kesenangan, serta menggali potensi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya di hari bahagia mereka semua.

“Di mana dalam perayaan ini peserta didik kita berikan kesempatan mengukir menunjukkan bakatnya diantaranya ada yang bernyanyi, menari, pantomim, mewarnai, melukis, dan fashion show,” jelasnya.

Kegiatan HDI 2021 berlangsung secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan dan turut dihadiri sejumlah pejabat struktural di lingkungan Dinas pendidikan Aceh. []

Pemilihan Ketua Baru, Ini Tiga Kandidat Besar Calon Nahkoda Fatayat NU Aceh

0
(Foto: Ist)

Nukilan.id – Organisasi Perempuan Muda Nahdatul Ulama (Fatayat NU) Aceh akan segera memilih kepengurusan baru. Rencana kegiatan akbar berupa Konferensi Wilayah Fatayat NU Aceh Masa Khidmat  2021 – 2026 akan dilangsungkan pada hari  Minggu (12/12).

Kegiatan konferwil tersebut, akan dijadwalkan di Aula Balai Diklat Kemenag Aceh, Jambo Tape Banda Aceh. Konferwil tersebut akan diikuti oleh 23 Pimpinan Cabang  Fatayat NU Kabupaten dan Kota di seluruh Aceh, juga akan di hadiri oleh Pengurus Wilayah NU Aceh beserta Badan Otonom yang ada dalam organisasi NU Aceh.

Hal ini Sesuai dengan keterangan Ketua Wilayah Fatayat NU Aceh, Salwa Hayati Hasan, S. Pt,  M. M. Salwa menyampaikan adanya kecenderungan gaya kepemimpinan perempuan lebih demokratis di tengah pandemi covid -19 Bahkan, saat ini banyak pemimpin perempuan yang menunjukkan perannya dalam berbagai sektor kehidupan, meskipun dalam keterbatasan akses, tetapi tetap berkiprah dengan baik sesuai bidang yang digeluti masing-masing kader.

Selain itu Salwa mengatakan kegiatan Konferwil juga akan melaksanakan upgrading kepemimpinan perempuan bagi kader Fatayat NU seluruh Aceh yang akan di fasilitasi oleh Pimpinan Pengurus Pusat Fatayat NU, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, SS, M.Si. (Sekretaris Umum PP Fatayat NU) sekaligus membuka acara konferwil PW Fatayat NU Aceh ke XI.

“Rekonstruksi Konsep Kepemimpinan Perempuan di Era Pandemi Covid-19, menjadi tema besar dalam konferensi Fatayat NU Ke XI ”, tutur Salwa, Sabtu (11/12).

“Tentunya kedepan, kita berharap pemimpin Fatayat NU, sosok yang lebih bijaksana dan demokratis dalam beberapa hal terutama menyangkut isu-isu tentang perempuan,” ujarnya.

Pada saat yang bersamaan, Ketua Panitia Hj. Asmahan, M.H.Sc, ASL., Ph.D juga menyampaikan bahwa ada tiga kandidat besar yang muncul dalam pemilihan kali ini antara lain, Ida Friatna, S.Ag, M.Ag seorang akademisi UIN Aceh dan sekum Fatayat NU, Hj. Cut Ani Viviyanti, S.E, M.M, Direktur Yayasan Bantuan Hukum Anak Peutuah Mandiri aceh  dan Putri Novriza, S.SI, M.Si yang saat ini menjabat sebagai Ketua KPI Aceh.

Asmahan berharap, sebaiknya memilih pemimpin yang mempunyai pemikiran maju sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan siapapun yang akan menjadi ketua nantinya adalah seorang kader yang selama ini berproses tumbuh, berkembang dan mampu memajukan Fatayat kedepan,” pungkasnya.

KontraS: Qanun Jinayah Belum Cukup untuk Cegah Kekerasan Seksual di Aceh

0
Devisi Advokasi dan Kompanye KontraS Aceh. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id  Devisi Advokasi dan Kompanye KontraS Aceh, Azharul Husna mengatakan Qanun Aceh nomor 6 tahun 2004 tentang Hukum Jinayah belum cukup responsif dan komprehensif dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak di Aceh.

“Qanun ini belum cukup mengakomodir tindakan pencegahan dan penanganan terkait pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak,” jelas Husna kepada Nukilan.id di Banda Aceh, Sabtu (11/12/2021).

Menurutnya, meskipun Aceh memiliki Qanun Jinayah yang mengatur terkait jarimah pelecehan seksual dan pemerkosaan, namun realitanya di Aceh kasus kekerasan seksual terhadap anak masih tinggi.

“Ini jelas terlihat hukum terseok-seok mengikuti fakta, karena faktanya kejahatan bekembang begitu cepat,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Husna, KontraS Aceh menginisiasi untuk revisi qanun jinayah terhadap 2 pasal yaitu pasal 47 dan 50 terkait pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak. Lalu mengembalikannya pada Undang-Undang nomor 35 tahun 2004 tentang Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Hal itu kita inisiasikan untuk melindungi anak-anak Aceh dari tsunami kekerasan seksual ini,” tegasnya.

Tentu saja, tambah Husna, hukum yang baik adalah yang ada di masyarakat, sehingga KontraS Aceh mengajak semua masyarakat untuk mendorong budaya yang baik dan juga modal sosial yang ada di Aceh.

“Seperti dulu adanya rumah aman di gampong-gampong, yaitu di rumah keuchik dan rumah imam. Dan ini harus dioptimalkan, termasuk perlindungan berbasis masyarakat agar budaya baik berbasis kearifan lokal berjalan kembali,” harap Husna.

Reporter: Hadiansyah