Beranda blog Halaman 133

Deforestasi Aceh Kian Parah, 10.610 Hektare Hutan Hilang Sepanjang 2024

0
Ilustrasi Deforestasi (Foto: Ilustrasi/proxsisgroup)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatra — Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — pada puncaknya 26 November 2025, semakin memperkuat dugaan bahwa kerusakan lingkungan di kawasan hulu dan hutan Aceh telah memasuki fase mengkhawatirkan.

Hujan ekstrem disertai angin kencang telah melanda Aceh Timur sejak Kamis, 20 November 2025, sepekan sebelum puncak banjir terjadi. Luapan lumpur disertai longsor melibas pemukiman warga tanpa ampun, meninggalkan kerusakan luas dan korban terdampak di berbagai daerah.

Penelusuran digital Nukilan.id menemukan bahwa kondisi hutan Aceh memang mengalami degradasi serius. Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) yang secara konsisten memantau kondisi hutan sejak 2015 mencatat kehilangan tutupan hutan yang terus meningkat.

Pemantauan dilakukan menggunakan metode penginderaan jauh melalui interpretasi visual manual citra satelit Landsat 8, Sentinel-2, dan PlanetScope, serta data peringatan dini kehilangan pohon GLAD Alert dari Global Forest Watch (GFW). Verifikasi lapangan dilakukan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan bantuan drone, citra resolusi tinggi PlanetScope, dan Google Earth.

Hasilnya, sepanjang 2024 Aceh kehilangan 10.610 hektare tutupan hutan, meningkat 19 persen atau 1.705 hektare dibandingkan tahun 2023. Kini, total tutupan hutan Aceh tersisa 2.936.525 hektare.

Manager GIS Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, menyebutkan Aceh Selatan masih menjadi daerah penyumbang kehilangan hutan terbesar selama tiga tahun terakhir.

“Kami memperkirakan Aceh Selatan telah kehilangan tutupan hutan seluas 1.357 Ha sepanjang 2024,” ujarnya dalam acara launching buku dan talkshow “Dua Dekade Deforestasi Aceh: dari Hilangnya Hutan hingga Menurunnya Kesejahteraan” di Aula BPS Provinsi Aceh, pada Selasa (25/2/2025) lalu.

Setelah Aceh Selatan, daerah dengan kehilangan tutupan hutan terbesar adalah Aceh Timur seluas 1.096 hektare, dan Kota Subulussalam sebesar 1.040 hektare.

Tekanan terhadap kawasan konservasi juga semakin nyata. Pada 2024, kehilangan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) meningkat 17,41 persen atau 845 hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, secara akumulatif sejak 2020 hingga 2024, hutan yang hilang telah mencapai 2.181 hektare.

Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan, mengingat KEL merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana Orangutan Sumatra, Badak Sumatra, Gajah Sumatra, dan Harimau Sumatra masih hidup berdampingan di alam liar.

Meningkatnya deforestasi tersebut memperkuat urgensi langkah mitigasi dan penegakan hukum yang lebih tegas, terutama untuk melindungi kawasan vital seperti TNGL dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, yang memiliki fungsi ekologis penting bagi keberlanjutan kehidupan di Aceh dan Sumatra. (XRQ)

Reporter: AKIL

Danantara Kebut Pembangunan Hunian Sementara untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

0
Danantara Kebut Pembangunan Hunian Sementara untuk Korban Banjir Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Danantara terus mempercepat pembangunan ratusan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang dan tanah longsor di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November lalu.

Tenaga Ahli Danantara, Khairul Jasmi, menegaskan bahwa pembangunan huntara merupakan kewajiban pemerintah terhadap para korban bencana.
“Untuk para korban dibuatkan oleh pemerintah huntara, bukan sebagai tugas karena imbauan namun kewajiban, sebagaimana disampaikan COO Danantara, Dony Oskaria. Ini kewajiban kita,” ujar Khairul dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan akan berkunjung ke Aceh Tamiang pada 1 Januari 2026. Salah satu agenda utama kunjungan tersebut adalah meninjau langsung perkembangan pembangunan huntara sekaligus bertemu para korban banjir.
“Presiden Prabowo akan melihat bangunan itu pada 1 Januari 2026. Tentu saja yang utama bertemu korban banjir,” kata Khairul.

Pembangunan huntara ini merupakan hasil kolaborasi tujuh BUMN Karya yang dikoordinasikan oleh Hutama Karya di bawah naungan Danantara. Untuk mengejar target penyelesaian, para pekerja bekerja selama 24 jam dengan sistem kerja bergilir (shift).

Kepala Divisi Infrastruktur 2 Adhi Karya, Rony, menyampaikan bahwa proyek tersebut melibatkan teknisi dari berbagai daerah serta merekrut sekitar 100 tenaga kerja lokal.
“Kita kerja 24 jam dengan sistem shift. Selain mendatangkan teknisi dari berbagai daerah, juga merekrut 100 tenaga kerja lokal untuk membangun sekitar 120 unit huntara lengkap,” ujarnya.

Setiap unit huntara memiliki ukuran 4,5 x 4,5 meter persegi dan dilengkapi dua kamar, satu ruang tamu, satu dapur, serta instalasi listrik dan air. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menyiapkan 14 titik lahan HGU milik sejumlah perkebunan sebagai lokasi pembangunan huntara.

Saat ini jumlah pengungsi di Aceh Tamiang tercatat sekitar 150 ribu orang.
“Untuk merekalah huntara dibangun,” tambah Khairul.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (27/12), bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh menyebabkan 511 orang meninggal dunia, 31 orang hilang, serta 429.557 orang mengungsi.

3.000 ASN Aceh Dikerahkan Bantu Penanganan Bencana di Sejumlah Wilayah

0
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, selaku Ketua Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Aceh saat pelepasan relawan ASN di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Aceh, Minggu (28/12/2025). (Foto: HUMAS ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh mengerahkan sekitar 3.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai relawan ke berbagai daerah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.

Pengerahan ribuan ASN tersebut bertujuan membantu pemulihan pascabencana sekaligus memastikan layanan kebutuhan dasar masyarakat tetap berjalan. Layanan yang menjadi perhatian meliputi kebersihan lingkungan, akses fasilitas umum, serta dukungan pelayanan kesehatan dan sosial bagi warga yang terdampak banjir dan tanah longsor sejak akhir November lalu.

Pelepasan relawan ASN dilakukan melalui apel di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Aceh, Minggu (28/12/2025). Apel dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Aceh.

Dalam arahannya, M. Nasir menyampaikan bahwa hingga akhir Desember, kondisi darurat masih dirasakan di sejumlah wilayah Aceh. Berbagai bencana seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu pelayanan dasar serta aktivitas keseharian masyarakat.

“Penugasan ASN ini merupakan bagian dari upaya memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan dasar di masa sulit. Pemerintah hadir, bekerja, dan peduli,” ujar Nasir.

Sebanyak 3.000 relawan ASN dijadwalkan bertugas selama dua hari, yakni 29–30 Desember 2025. Selain melakukan gotong royong membersihkan fasilitas umum dan rumah ibadah dari lumpur serta material sisa banjir, para relawan juga membantu koordinasi layanan kesehatan, pendampingan kelompok rentan, dan penguatan layanan sosial di lokasi terdampak.

Menurut Nasir, kehadiran ASN di lapangan merupakan wujud empati dan solidaritas pemerintah terhadap masyarakat yang mengalami musibah.

“Kita tidak hanya datang membawa alat dan tenaga, tetapi juga kepedulian. ASN turun langsung untuk mendengar, melihat, dan merasakan apa yang dialami warga,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penugasan relawan ASN ini merupakan tahap awal dan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Pemerintah Aceh memastikan seluruh langkah penanganan bencana dilakukan secara terkoordinasi, dengan tetap mengutamakan keselamatan para relawan serta menghormati kearifan lokal.

Usai apel pelepasan, para relawan ASN bersama kendaraan dan logistik bantuan diberangkatkan menuju berbagai wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.

Gubernur Aceh Terima Bantuan Kemanusiaan dari Warga Malaysia untuk Korban Bencana

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf saat menerima bantuan kemanusiaan dari warga Malaysia yang diserahkan secara simbolis di Aceh Utara, Minggu (28/12/2025). (FOTO: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menerima bantuan kemanusiaan dari masyarakat Malaysia untuk para korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis di Kabupaten Aceh Utara, Minggu (28/12/2025).

Dalam kesempatan itu, Mualem menyampaikan apresiasi atas kepedulian rakyat Malaysia terhadap masyarakat Aceh yang sedang tertimpa musibah.

“Terima kasih banyak kepada saudara kita yang ada di Malaysia. Kami menerimanya dengan lapang dada, apa saja yang diberikan,” kata Mualem.

Bantuan tersebut berupa sandang dan pangan yang disalurkan oleh Majlis Ugama Islam dan Adat Resam Melayu Pahang bersama Dewan Perniagaan Malaysia–Aceh. Bantuan ini menjadi wujud solidaritas kemanusiaan dari masyarakat Malaysia kepada rakyat Aceh.

Mualem menyebut bantuan itu sangat berarti bagi korban bencana.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu dan meringankan saudara-saudara kita yang terkena musibah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perniagaan Malaysia–Aceh, Yazid bin Usman, mengatakan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan panggilan kemanusiaan.
“Kami membuka pintu hati rakyat Malaysia, segeralah datang dan perbanyaklah bantuan kepada saudara kita di Aceh. Orang mukmin itu bersaudara. Inilah masanya kita mendapat pahala dan membuat kebajikan,” kata Yazid.

Sebelumnya, sejumlah bantuan dari Malaysia juga telah diterima Pemerintah Aceh. Relawan Blue Sky Rescue (BSR) Malaysia mengirimkan sekitar satu ton obat-obatan, satu ton pakaian, serta cokelat untuk anak-anak, termasuk mengirimkan delapan dokter dan perawat.

Selain itu, Istri Gubernur Aceh, Marlina Usman, juga menerima tiga truk bantuan dari Yayasan Nurjiwa. Pada hari yang sama, bantuan tambahan berupa sandang, pangan, dan kebutuhan lainnya kembali disalurkan dari negeri jiran tersebut.

BMKG: Potensi Hujan Sangat Lebat hingga Ekstrem Diprakirakan Landa Aceh Dua Hari ke Depan

0
Peringatan cuaca ekstrem di Aceh. (Foto: Dok BMKG)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Aceh pada Selasa (30/12/2025). Aceh menjadi satu-satunya provinsi yang masuk dalam kategori Awas, level peringatan tertinggi, dengan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem.

Dikutip Nukilan dari keterangan BMKG, hujan dengan intensitas sangat tinggi berpotensi menimbulkan berbagai dampak bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga gangguan aktivitas masyarakat.

BMKG menjelaskan bahwa peringatan dini ini merupakan akumulasi curah hujan harian tertinggi dalam satu provinsi. Kondisi atmosfer yang masih mendukung pertumbuhan awan hujan secara intens disebut menjadi faktor utama meningkatnya potensi cuaca ekstrem di Aceh.

Selain Aceh, BMKG juga menetapkan status Siaga (hujan lebat hingga sangat lebat) untuk sejumlah provinsi lain, serta status Waspada (hujan sedang hingga lebat) di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, Aceh menjadi wilayah dengan tingkat risiko tertinggi pada periode peringatan tersebut.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Warga diminta memantau perkembangan informasi cuaca terkini, menghindari aktivitas di wilayah rawan bencana, serta segera melakukan langkah antisipatif jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama. []

Reporter: Sammy

Duta Wisata Sabang Hadiri December to Remember Komunitas Film Trieng

0
Duta Wisata Sabang 2025, Cut Abang Ari Maulana bersama Cut Adek Jihan Syakira, menghadiri kegiatan December to Remember yang digelar Komunitas Film Trieng di Ruang Teater LP2M UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Minggu (27/12/2025). (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH  – Duta Wisata Sabang 2025, Cut Abang Ari Maulana bersama Cut Adek Jihan Syakira, menghadiri kegiatan December to Remember yang digelar Komunitas Film Trieng di Ruang Teater LP2M UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Minggu (27/12/2025).

Kegiatan bertema “From Memories We Grow, From Our Creations We Shine” tersebut menayangkan dua film karya Komunitas Film Trieng, yakni “Barat” dan “Tak Semua Pulang”.

Film Barat mengisahkan perjalanan seorang pemuda Aceh yang merantau ke ibu kota dan harus menghadapi beragam stereotip sosial. Sementara film Tak Semua Pulang mengangkat kisah duka seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam peristiwa tsunami Aceh 21 tahun silam.

Cut Abang Ari Maulana kepada NUKILAN.ID mengaku terkesan dengan pesan yang disampaikan melalui kedua film tersebut.

“Saya sangat takjub melihat kedua film ini. Ceritanya sederhana, tetapi sarat makna dan mampu menyentuh sisi emosional penonton, terutama dalam mengingatkan kita pada identitas, perjuangan, dan luka kolektif masyarakat Aceh,” ujar Cut Abang Ari Maulana.

Ia menilai kegiatan December to Remember sebagai ruang yang sangat positif bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas, khususnya melalui dunia perfilman. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial lewat karya seni.

“Kegiatan ini sangat baik untuk anak muda, karena selain belajar teknis perfilman, kita juga diajak menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dan sosial melalui karya,” tambahnya.

Cut Abang Ari Maulana juga mengungkapkan rasa syukur dapat hadir dalam kegiatan tersebut dan berharap Komunitas Film Trieng terus melahirkan karya-karya inspiratif.

“Kami sangat bersyukur bisa hadir dan belajar langsung dari karya-karya komunitas film Trieng,” katanya.

Selain pemutaran film, kegiatan ini menjadi momentum refleksi 21 tahun peristiwa tsunami Aceh. Dalam kesempatan itu, Komunitas Film Trieng juga membuka donasi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak banjir di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Gayo Lues. (XRQ)

Reporter: AKILA

Ferry Irwandi Pamit Usai Tuntaskan Penyaluran Donasi Rp10,3 Miliar untuk Korban Bencana Aceh–Sumatra

0
Influencer, Ferry Irwandi. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Aksi penggalangan dana yang digagas Ferry Irwandi berhasil menghimpun dana sebesar Rp10,3 miliar, menjadi bukti kuat besarnya kekuatan komunitas digital Indonesia dalam merespons kondisi darurat bencana di wilayah Aceh dan Sumatra.

Ferry, yang dikenal aktif mengawal berbagai isu sosial, memastikan bahwa seluruh dana donasi masyarakat disalurkan tepat sasaran, mulai dari kebutuhan pokok, layanan kesehatan, hingga pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak bencana.

Melalui unggahan terbarunya di media sosial, Ferry menyampaikan laporan pertanggungjawaban sekaligus pesan emosional kepada jutaan donatur yang telah memberikan kepercayaan. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pelaporan dan penyaluran bantuan dilakukan secara transparan melalui Kitabisa, email, dan media sosial.

“Teman-teman saya informasikan dana 10,3 Miliar hasil campaign kita bersama @kitabisacom sudah teralokasikan semua, untuk itu saya mohon pamit undur diri, pamit pulang, dan semoga Sumatra lekas pulih seperti sedia kala”, katanya.

Meski secara fisik telah meninggalkan lokasi bencana, Ferry menegaskan bahwa tanggung jawab moral dan administratifnya belum sepenuhnya selesai. Menurutnya, kepercayaan publik yang begitu besar harus dibayar dengan transparansi yang mutlak.

Dalam unggahan sebelumnya, Ferry juga menyampaikan terima kasih kepada timnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Kapolda Sumbar, Asar Humanity, para relawan, Warga Jaga Bumi, serta berbagai pihak lain yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut.

Penyaluran bantuan logistik darurat secara resmi dimulai pada Rabu (24/12/2025) dengan dukungan armada udara dari Susi Air, maskapai milik Susi Pudjiastuti. Dalam pelaksanaannya, Ferry secara khusus menyampaikan apresiasi atas kebijakan khusus yang diberikan Susi terkait penggunaan pesawat Cessna Grand Caravan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Ferry mengungkapkan rasa terima kasih tersebut.

“Di sini gua terima kasih banget Ibu Susi,” ungkapnya.

Ucapan itu disampaikan setelah Susi memberikan kebijakan ‘harga spesial’ untuk penggunaan pesawat dalam misi kemanusiaan tersebut. Pesawat tersebut digunakan untuk mengirimkan bantuan ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau akibat terputusnya akses darat.

Bantuan yang dikirimkan meliputi logistik pangan, perangkat panel surya untuk pemulihan energi, serta peralatan medis darurat.

Ferry juga menegaskan bahwa seluruh biaya penyewaan pesawat tidak menggunakan dana donasi publik.

“Soal pembiayaan, ini ditanggung gua pribadi dan kasnya Malaka,” tegasnya.

Dengan kebijakan tersebut, seluruh dana donasi masyarakat melalui Kitabisa dapat disalurkan 100 persen dalam bentuk bantuan barang kepada korban bencana.

Selain menjalankan misi kemanusiaan, penerbangan tersebut juga dimanfaatkan untuk menjaga denyut ekonomi petani lokal. Pesawat Cessna 208B Grand Caravan digunakan untuk mengangkut hasil bumi Aceh menuju Jakarta, termasuk Kopi Gayo.

“Kita angkut 1 ton hari ini ke Jakarta, besok kita akan angkut lagi 10 ton ke Jakarta,” jelasnya.

Tak hanya kopi, pesawat juga direncanakan membawa komoditas lain seperti cabai dan bawang merah agar rantai distribusi tidak lumpuh.

Pemilihan pesawat Cessna 208B Grand Caravan dinilai tepat karena kemampuannya mendarat di landasan pendek dan wilayah terpencil, menjadikannya tulang punggung transportasi perintis di berbagai daerah Indonesia.

Meski sempat menuai sorotan dan bahkan sempat dilaporkan oleh oknum TNI, Ferry menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan sendiri. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara relawan, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta berbagai pihak lainnya demi kepentingan kemanusiaan. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pemulihan Infrastruktur Transportasi di Aceh Nyaris Tuntas, BNPB: Progres Sesuai Target

0
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari saat konferensi pers di Jakarta. (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pemulihan infrastruktur transportasi di wilayah terdampak bencana di Aceh telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Sejumlah ruas jalan serta jembatan utama kini kembali berfungsi untuk mendukung mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi logistik.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa secara umum progres pekerjaan berjalan baik dan sesuai dengan target yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

“Memang masih ada beberapa titik, tetapi secara keseluruhan progresnya sangat baik dan sesuai dengan target Kementerian PU. Dari lima titik jembatan yang dikerjakan, empat sudah fungsional dan satu titik masih dalam proses pengerjaan,” kata Abdul Muhari saat konferensi pers di Jakarta, Minggu (28/12/2025).

Ia menjelaskan, dari sejumlah jembatan yang sebelumnya terputus akibat bencana, masih terdapat tiga jembatan yang saat ini dalam proses pengerjaan. Meski demikian, seluruh jalur tersebut tetap dapat dilalui masyarakat melalui pengalihan rute.

“Untuk jembatan terputus memang masih ada tiga yang dikerjakan. Tetapi semuanya sudah fungsional dengan pengalihan jalur,” ujarnya.

Selain itu, pada jalur Lintas Tengah yang menghubungkan wilayah Bireuen, Takengon, Gayo Lues hingga Kutacane, masih terdapat beberapa titik pekerjaan yang belum rampung. BNPB menargetkan seluruh pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sebelum akhir Desember 2025.

“Untuk Lintas Tengah masih ada beberapa titik yang dikerjakan. Kita harapkan akhir Desember ini seluruhnya sudah selesai,” kata Abdul Muhari.

Berdasarkan rekapitulasi Kementerian PU, penanganan longsor dan perbaikan jalan di Aceh telah mendekati target. Penanganan longsor tercatat mencapai 89 persen, longsoran tebing 96 persen, badan jalan 75 persen, dan jalan putus 80 persen.

“Artinya kita semakin dekat dengan target yang sudah ditetapkan, dan seluruh proses masih berjalan sesuai perencanaan. Kita harapkan akhir Desember ini sektor infrastruktur perhubungan sudah selesai,” tutup Abdul Muhari.

Sementara itu, pemerintah pusat juga terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana di Sumatra. Dikutip Nukilan.id, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyampaikan bahwa proses tersebut terus berjalan meskipun masih menghadapi tantangan pada penyediaan lahan.

“Untuk hunian sementara dan hunian tetap sudah mulai berjalan dan terus kita percepat. Tantangan utamanya memang pada penyiapan lahan,” kata Pratikno. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pemerintah Aceh Utamakan Pemulihan Psikis Siswa Pascabencana

0
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin,(Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis siswa yang terdampak bencana hidrometeorologi dengan mendorong kegiatan pembelajaran berbasis trauma healing dan penguatan interaksi sosial.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Aceh yang juga Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, mengatakan proses pembelajaran dapat dimulai meski dengan keterbatasan sarana.

“Intinya anak-anak berkumpul di ruang kelas bersama guru. Mereka bisa berdiskusi, berbagi pengalaman, atau saling bercerita,” kata Murthalamuddin, Minggu, 28 Desember 2025.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut memiliki dua tujuan utama. Pertama, sebagai upaya trauma healing agar siswa dapat mengurangi dampak psikologis akibat bencana. Kedua, untuk memulihkan kembali interaksi sosial mereka dengan teman sebaya. Dalam pelaksanaannya, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan aktivitas siswa agar tetap positif.

“Tugas guru memfasilitasi supaya anak-anak tidak melakukan tindakan negatif di sekolah,” ujarnya.

Murthalamuddin juga mengingatkan bahwa kondisi emosional siswa korban bencana belum sepenuhnya stabil sehingga diperlukan kesabaran ekstra dari para guru dalam mendampingi mereka.

“Jangan dibiarkan anak-anak berkeliaran. Mereka bisa berdiskusi atau berhitung walau tanpa buku, asal melakukan kegiatan positif di ruang kelas,” tegasnya.

Dinas Pendidikan Aceh telah menginstruksikan agar sekolah-sekolah yang terdampak bencana mulai kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran pada 5 Januari 2026, khususnya bagi sekolah yang mengalami dampak berat namun masih memungkinkan untuk beroperasi.

“Bagaimanapun, pembelajaran harus terjadi, dan anak-anak harus berada di sekolah dan ruang kelas,” pungkas Murthalamuddin.

Menkomdigi Pastikan Pemulihan Jaringan Telekomunikasi di Aceh Tamiang Dipercepat Usai Banjir

0
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid saat meninjau langsung lokasi bencana banjir untuk memastikan percepatan pemulihan infrastruktur telekomunikasi di Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (28/12/2025) (Foto: Biro Humas Kemkomdigi)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, meninjau langsung lokasi bencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (28/12/2025), guna memastikan percepatan pemulihan infrastruktur telekomunikasi yang terdampak.

Dalam kunjungannya, Meutya meninjau salah satu Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak banjir. Ia menyampaikan bahwa proses pemulihan jaringan secara umum sudah menunjukkan kemajuan signifikan.

“Tadi kami juga telah melakukan kunjungan langsung ke salah satu BTS yang terdampak. Dari hasil pemantauan, recovery BTS sudah di atas 90 persen, bahkan mencapai lebih dari 95 persen,” kata Meutya.

Meski demikian, Meutya mengakui bahwa Aceh Tamiang masih menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses pemulihan jaringan.

“Sementara untuk Aceh Tamiang, capaian uptime masih berada di kisaran 60 hingga 80 persen, karena kondisinya berbeda-beda. Dari Telkomsel misalnya, sudah mencapai sekitar 80 persen, sementara operator lainnya menyusul dalam dua hari ke depan,” ujarnya.

Meutya juga mengapresiasi dedikasi para operator telekomunikasi yang tetap bekerja keras di tengah situasi bencana, meskipun sebagian dari mereka turut terdampak secara langsung.

“Kami sangat menghargai kerja keras teman-teman operator. Banyak di antara mereka yang juga memiliki keluarga terdampak, bahkan menjadi korban, namun tetap melakukan percepatan pemulihan,” ucap Meutya.

Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo memberi perhatian besar terhadap percepatan pemulihan pascabencana di berbagai sektor strategis, termasuk sektor komunikasi dan digital. Pemerintah pusat, menurutnya, telah menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga untuk bergerak cepat sesuai dengan tugas masing-masing.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. Armia Pahmi, menyampaikan bahwa kondisi jaringan telekomunikasi di wilayahnya mulai kembali stabil pascakunjungan Menkomdigi.

“Setelah kunjungan ibu menteri, untuk Telkomsel, XL, Indosat sudah bisa mantap lagi sinyalnya. Insya Allah sudah bagus, untuk Telkomsel semua jaringan seratus persen nyala,” kata Armia.

Armia mengakui bahwa pemulihan sektor pemerintahan dan perekonomian masih membutuhkan waktu. Namun, ia optimistis proses pemulihan akan berjalan lebih cepat dengan dukungan pemerintah pusat.

“Untuk perekonomian dan pemerintahan masih kacau, tapi kita fokus pembersihan bongkar kampung-kampung. Kami juga tadi minta bantuan supaya bisa lebih cepat kami pulih dan masyarakat juga senang tentunya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh operator telekomunikasi yang terlibat dalam pemulihan jaringan. Dukungan tersebut dinilai sangat membantu masyarakat dalam menjalankan kembali aktivitas pascabencana.