Beranda blog Halaman 132

STISNU Aceh Perkuat Pendidikan Islam Modern, Integrasikan Turats dan Tantangan Zaman

0
STISNU Aceh Perkuat Pendidikan Islam Modern. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang terus mengubah lanskap kehidupan masyarakat, lembaga pendidikan Islam dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Dalam konteks tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman: merawat warisan keilmuan Islam (turats) sekaligus menjawab tantangan masa depan.

Berdirinya STISNU Aceh tidak terlepas dari peran Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh. Ia dikenal konsisten memperjuangkan penguatan pendidikan Islam berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah, tidak hanya di lingkungan dayah, tetapi juga melalui pengembangan pendidikan tinggi yang terstruktur dan berkelanjutan.

“Berdirinya STISNU Aceh bukan sekadar menghadirkan kampus, tetapi ikhtiar panjang menjaga kesinambungan turats dan menjawab kebutuhan zaman. Pendidikan dayah harus terhubung dengan sistem akademik yang kuat, agar lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi umat,” ujar Abu Sibreh, Ahad (12/4/2026).

STISNU Aceh tidak sekadar menjadi institusi pendidikan tinggi, tetapi juga simbol ikhtiar ulama Aceh dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah mengakar sejak lama. Kampus ini juga menjadi ruang transformasi bagi generasi muda untuk memahami agama secara mendalam sekaligus kontekstual.

Salah satu fondasi penting lahirnya STISNU Aceh adalah peran Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh Besar, yang dipimpin langsung oleh Abu Sibreh. Dayah ini menjadi pusat pengkaderan santri dalam tradisi kitab kuning sekaligus ruang integrasi antara sistem pendidikan dayah dan pendidikan modern. Dari rahim dayah inilah lahir gagasan besar integrasi keilmuan yang kemudian melahirkan STISNU Aceh sebagai bentuk pengembangan pendidikan Islam yang lebih luas dan terstruktur.

Di tengah kesibukannya memimpin dayah dan menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Abu Sibreh terus mendorong lahirnya generasi ulama-intelektual yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Baginya, pendidikan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.

Dukungan terhadap penguatan STISNU Aceh juga datang dari Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen. Ia menilai kampus ini memiliki posisi strategis dalam mencetak kader ulama dan intelektual Nahdliyin yang tetap berakar pada tradisi.

“Penguatan pendidikan berbasis turats menjadi sangat penting agar generasi kita tetap memiliki identitas keilmuan yang kuat, meskipun berada di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, STISNU Aceh menjadi ruang temu antara tradisi lokal dan pengalaman global, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi pelanjut, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan dalam dunia pendidikan Islam.

Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Aceh, Tgk Muhammad Yasir, yang juga menjabat sebagai Ketua STISNU Aceh. Ia menegaskan bahwa kampus ini dirancang sebagai jembatan antara dunia dayah dan perguruan tinggi modern.

Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh berjalan secara dikotomis antara tradisional dan modern. Keduanya harus dipadukan agar melahirkan generasi yang utuh—kuat dalam turats sekaligus mampu menjawab persoalan kontemporer.

“STISNU Aceh hadir untuk mencetak generasi yang tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dan memberikan solusi yang relevan,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penguatan akademik, STISNU Aceh terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman, mulai dari jenjang sarjana hingga magister. Pada tingkat sarjana (S1), tersedia program Hukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi Syariah, Manajemen Zakat dan Wakaf, Pendidikan Agama Islam, serta Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Sementara pada jenjang magister (S2), STISNU Aceh telah membuka program Hukum Keluarga Islam sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas keilmuan dan mencetak kader ulama serta akademisi di bidang syariah. Pembukaan program pascasarjana ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan STISNU Aceh, sekaligus menunjukkan komitmen institusi untuk terus berkembang.

Di tengah penguatan tersebut, muncul pula tokoh muda seperti Tgk Emi Yasir, seorang hafiz alumni Al-Azhar yang aktif mendorong integrasi antara sistem pendidikan dayah dan kampus modern. Ia dinilai sebagai representasi generasi muda progresif Aceh dengan perspektif global.

“Kita harus menguasai ilmu agama secara mendalam, tapi juga memahami perkembangan dunia. Di situlah letak kekuatan kita,” ujarnya.

Sebagai Ketua Program S2 Hukum Keluarga Islam, ia menambahkan bahwa penguatan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan nilai dan karakter.

Tidak hanya fokus pada aspek akademik, STISNU Aceh juga mengembangkan konsep Dayah Mahasiswa sebagai program unggulan. Konsep ini menjadi ciri khas yang mengintegrasikan sistem pendidikan dayah dengan perguruan tinggi.

Menurut Tgk Emi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran formal di kelas, tetapi juga pembinaan spiritual, penguatan akhlak, serta pendalaman kitab kuning sebagaimana tradisi dayah. Dengan demikian, lulusan STISNU Aceh diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Di tengah tantangan globalisasi, digitalisasi, serta perubahan sosial yang cepat, STISNU Aceh dinilai semakin relevan. Kampus ini hadir sebagai benteng nilai sekaligus jembatan menuju masa depan—menjaga turats agar tetap hidup dan menjawab kebutuhan zaman dengan pendekatan yang bijak.

Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Aceh, Tgk Emi, menegaskan bahwa STISNU Aceh juga menjadi simbol harapan bagi kebangkitan pendidikan Islam di Aceh.

“Dengan dukungan para ulama, akademisi, dan generasi muda, STISNU Aceh terus melangkah memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan yang adaptif, progresif, dan berakar kuat pada tradisi,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

MIN 16 Aceh Barat Gelar Bazar UMKM Siswa, Tanamkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini

0
Bazar UMKM saat pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 16 Aceh Barat, Sabtu, 11 April 2026. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | Meulaboh – Suasana berbeda terlihat dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 16 Aceh Barat, Sabtu (11/4/2026). Selain proses pendaftaran, sekolah juga menggelar bazar UMKM yang melibatkan siswa kelas 4 hingga kelas 6.

Mengutip RRI, kegiatan ini menjadi upaya sekolah dalam menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Beragam makanan dan jajanan hasil kreasi siswa dipasarkan langsung di lingkungan sekolah, menarik perhatian para orang tua dan masyarakat yang hadir.

Kepala MIN 16 Aceh Barat, M Lidan, mengatakan bazar tersebut merupakan hasil kesepakatan pihak sekolah bersama wakil kepala bidang kesiswaan dan telah menjadi agenda rutin selama dua tahun terakhir.

“Tahun pertama dulu Alhamdulillah berjalan lancar mengenai bazar siswa. Tahun ini kami lanjutkan lagi. Kemarin hari Jumat kami buka selama satu jam, dari pukul 07.15 sampai 08.00 WIB, Alhamdulillah dagangan anak-anak habis semua,” ujar M Lidan.

Ia menyebutkan, pada hari pertama pelaksanaan, Jumat (10/4), bazar hanya dibuka selama satu jam, namun seluruh dagangan siswa langsung ludes terjual. Memasuki hari kedua, antusiasme warga sekolah dan orang tua tetap tinggi hingga seluruh produk kembali habis sebelum kegiatan berakhir.

“Pagi tadi saya sempat berkeliling melihat bazar anak-anak, Alhamdulillah sudah habis semua. Memang luar biasa antusiasnya,” katanya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, pihak sekolah juga menghentikan sementara operasional kantin selama dua hari pelaksanaan bazar. Kebijakan ini diambil agar siswa memiliki ruang lebih luas untuk belajar berjualan secara langsung.

Salah seorang siswa kelas 4, Aqifah Naila, mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Meski sempat merasa malu, ia menilai pengalaman itu sangat berharga dalam melatih keberanian berinteraksi dengan orang lain.

“Senang bisa ikut jualan. Walaupun awalnya malu-malu, tapi hasilnya lumayan. Kadang sempat kecewa kalau ada orang yang kurang tertarik, tapi dari sini kami belajar lebih berani bicara sama orang,” ujar Aqifah.

Melalui kegiatan ini, pihak madrasah berharap siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, serta jiwa kewirausahaan sejak usia dini.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Harga Jernang Anjlok di Aceh, Petani Pidie Beralih ke Kopi dan Kakao

0
Buah Jernang. (Instagram.com/dewa_rahmana)

NUKILAN.ID | SIGLI – Para petani jernang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, kini menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga komoditas tersebut dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini memicu keresahan dan membuat banyak petani kehilangan semangat untuk melanjutkan budi daya tanaman yang sebelumnya menjadi andalan ekonomi mereka.

Biji jernang, yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetika, hingga pewarna alami, kini mengalami penurunan harga yang signifikan. Rendahnya daya tawar pasar dinilai tidak lagi berpihak kepada petani, sehingga sebagian besar dari mereka memilih menghentikan budidaya.

Mengutip Media Indonesia, harga jernang kering saat ini hanya berkisar Rp30.000 per kilogram. Angka tersebut merosot tajam dibandingkan dua tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp130.000 per kilogram.

“Sejak tahun 2025 harganya terjun bebas. Sebelumnya masih lumayan,” ujar seorang petani, Muhammad Khaifal Al-Khudri, Minggu (12/4/2026).

Khaifal menjelaskan, biaya produksi dan tingkat kesulitan dalam membudidayakan jernang tidak lagi sebanding dengan harga jual saat ini. Tanaman jernang dikenal sulit dirawat karena sifatnya yang menjalar dan memiliki duri tajam, sehingga berisiko melukai petani saat proses perawatan maupun panen.

Pada masa kejayaannya sekitar tahun 2017 hingga 2018, harga jernang bahkan sempat menyentuh Rp350.000 per kilogram. Namun, tren penurunan terus terjadi hingga mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir di kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Akibat kondisi tersebut, banyak petani di wilayah dataran tinggi Tangse mulai mengalihfungsikan lahan mereka. Tanaman jernang ditebang dan diganti dengan komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti kopi, kakao, dan tanaman palawija.

“Harga di bawah Rp100.000 saja sudah tidak sesuai dengan biaya produksi, apalagi Rp30.000. Itu sebabnya banyak petani membuang jernang dan beralih ke tanaman lain seperti kopi, kakao, dan berbagai tanaman palawija,” tambah Khaifal.

Fenomena ini menjadi peringatan bagi sektor perkebunan di Aceh. Tanpa adanya intervensi pasar atau langkah stabilisasi harga dari pihak terkait, komoditas jernang yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Tangse berpotensi ditinggalkan sepenuhnya oleh petani lokal.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Prakiraan Cuaca Aceh pada Senin 13 April 2026: Didominasi Hujan Ringan dan Berawan

0
Ilustrasi hujan ringan. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Aceh pada Senin (13/4/2026), yang menunjukkan dominasi kondisi hujan ringan dan berawan di sebagian besar daerah.

Dilansir Nukilan.id dari informasi yang ditayangkan melalui laman resmi BMKG tersebut tidak hanya mencakup kondisi cuaca hari ini, tetapi juga prediksi untuk Selasa (14/4) hingga beberapa hari ke depan. Prakiraan ini secara rutin disampaikan guna membantu masyarakat dalam merencanakan berbagai aktivitas harian.

Mulai dari aktivitas sederhana seperti mencuci dan menjemur pakaian hingga mobilitas harian, seluruhnya dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca. Dengan memantau prakiraan ini, masyarakat diharapkan mampu mengantisipasi potensi hujan maupun kemungkinan cuaca ekstrem lainnya.

Secara umum, wilayah Aceh diperkirakan mengalami hujan ringan dan berawan dengan suhu udara berkisar antara 15 hingga 32 derajat Celsius. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi hujan masih cukup merata di berbagai wilayah.

Berikut rincian prakiraan cuaca di sejumlah kabupaten/kota di Aceh pada Senin (13/4):

  • Aceh Selatan: Hujan ringan, suhu 22–29 °C, kelembapan 71–98%
  • Aceh Tenggara: Berawan, suhu 17–25 °C, kelembapan 54–99%
  • Aceh Timur: Hujan ringan, suhu 24–30 °C, kelembapan 69–98%
  • Aceh Tengah: Berawan, suhu 16–25 °C, kelembapan 55–97%
  • Aceh Barat: Hujan ringan, suhu 24–30 °C, kelembapan 71–98%
  • Aceh Besar: Berawan, suhu 23–32 °C, kelembapan 58–97%
  • Pidie: Hujan ringan, suhu 18–26 °C, kelembapan 65–99%
  • Aceh Utara: Hujan ringan, suhu 25–31 °C, kelembapan 70–98%
  • Simeulue: Berawan, suhu 25–29 °C, kelembapan 74–94%
  • Aceh Singkil: Hujan ringan, suhu 25–30 °C, kelembapan 74–98%
  • Bireuen: Hujan ringan, suhu 24–31 °C, kelembapan 67–97%
  • Aceh Barat Daya: Hujan ringan, suhu 21–28 °C, kelembapan 68–97%
  • Gayo Lues: Hujan ringan, suhu 15–26 °C, kelembapan 52–93%
  • Aceh Jaya: Hujan ringan, suhu 23–30 °C, kelembapan 67–99%
  • Nagan Raya: Hujan ringan, suhu 23–29 °C, kelembapan 71–97%
  • Aceh Tamiang: Hujan ringan, suhu 25–31 °C, kelembapan 71–96%
  • Bener Meriah: Hujan ringan, suhu 18–24 °C, kelembapan 67–99%
  • Pidie Jaya: Berawan, suhu 20–28 °C, kelembapan 69–98%
  • Kota Banda Aceh: Berawan, suhu 26–32 °C, kelembapan 61–93%
  • Kota Sabang: Berawan, suhu 26–31 °C, kelembapan 65–90%
  • Kota Lhokseumawe: Berawan, suhu 25–30 °C, kelembapan 72–95%
  • Kota Langsa: Berawan, suhu 24–31 °C, kelembapan 67–97%
  • Kota Subulussalam: Hujan ringan, suhu 24–31 °C, kelembapan 68–96%

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan. Memantau informasi terbaru dari BMKG menjadi langkah penting agar aktivitas tetap berjalan lancar dan aman. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

AHY Hadiri Pernikahan Rassya–Cleantha

0
AHY Hadiri Pernikahan Rassya–Cleantha. (FOTO: instagram.com/agusyudhoyono)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pernikahan Teuku Rassya Islamay Pasya dan Cleantha Islan turut dihadiri sejumlah tokoh penting nasional. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hadir langsung dan bertindak sebagai saksi pernikahan.

Amatan Nukilan.id, melalui unggahan di media sosial, AHY mengaku bersyukur dapat menyaksikan langsung momen sakral tersebut.

“Minggu pagi (12/4), saya dan Bung Teuku Riefky menjadi saksi pernikahan ananda Teuku Rassya Islamay Pasya dan Cleantha Islan yang berlangsung dengan penuh khidmat dalam balutan adat dan budaya khas Aceh,” tulis AHY dalam keterangan fotonya.

Suasana kekeluargaan terasa hangat dalam prosesi tersebut. Dalam foto yang beredar, Teuku Rafly Pasya tampak didampingi Nurah Sheivirah berdiri di pelaminan mendampingi sang putra.

Dari pihak mempelai wanita, keluarga besar Cleantha Islan, yakni Harry Trimulyadi dan Tina Elfrina Sari, terlihat menyambut para tamu undangan dengan suasana penuh kehangatan di sebuah hotel bintang lima.

Sejak foto-foto pernikahan keduanya beredar di media sosial, ucapan selamat pun membanjiri kolom komentar. Tidak sedikit yang memuji busana adat yang dikenakan kedua mempelai karena dinilai elegan serta mencerminkan kebanggaan terhadap budaya Aceh.

“Selamat untuk Rassya dan Cleantha! Perpaduan adat Aceh dan lokasi yang modern sangat pas, terlihat sangat elegan,” tulis salah satu netizen.

Pernikahan ini menjadi babak baru bagi Teuku Rassya dan Cleantha Islan dalam membangun rumah tangga. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Satlantas Polres Aceh Tengah Bubarkan Balap Liar di Takengon, Lima Motor Diamankan

0
Satlantas Polres Aceh Tengah Bubarkan Balap Liar di Takengon. (FOTO: korlantas.polri.go.id)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Tengah membubarkan aksi balap liar di seputaran Kota Takengon, Minggu (12/4/2026) dini hari. Dalam kegiatan tersebut, petugas turut mengamankan lima unit sepeda motor.

Patroli yang berlangsung sejak pukul 00.00 WIB hingga 05.30 WIB itu dipimpin oleh Kanit Dikyasa Ipda Heri Lahat dan Kanit Patroli Aipda Tanwir bersama sejumlah personel.

Dalam operasi tersebut, petugas menindak aksi balap liar yang dinilai meresahkan masyarakat serta berpotensi mengganggu keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.

Dari hasil penindakan, satu unit sepeda motor jenis drag dan empat unit sepeda motor roda dua lainnya berhasil diamankan.

Kasat Lantas Polres Aceh Tengah, AKP Aiyub, mengatakan bahwa patroli tersebut merupakan langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas akibat balap liar di jalan umum.

“Selain melakukan penindakan, personel juga memberikan imbauan kepada masyarakat pengguna jalan agar selalu tertib berlalu lintas, baik pengendara roda dua maupun roda empat,” kata AKP Aiyub.

Ia menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan patroli rutin pada waktu-waktu rawan guna menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di wilayah hukum Polres Aceh Tengah.

Satlantas Polres Aceh Tengah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban berlalu lintas serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan di jalan raya demi menekan angka kecelakaan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Teuku Rassya Resmi Menikah dengan Cleantha Islan, Tampil Elegan dengan Busana Adat Aceh

0
Teuku Rassya Resmi Menikah dengan Cleantha Islan. (FOTO: Instagram.com/agusyudhoyono)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kabar bahagia datang dari Teuku Rassya. Aktor sekaligus pengusaha muda tersebut resmi menikahi sang kekasih, Cleantha Islan, pada Minggu (12/4/2026).

Putra sulung Tamara Bleszynski dan Teuku Rafly Pasya ini menggelar prosesi akad nikah dan resepsi secara khidmat dan megah di Hotel Raffles Jakarta. Acara tersebut mengusung konsep adat yang kental, sehingga menarik perhatian publik dan warganet.

Dalam momen sakral tersebut, pasangan pengantin tampil memukau dengan balutan busana adat Aceh. Rassya terlihat gagah mengenakan pakaian Meukasah berwarna biru tua lengkap dengan kopiah meukeutop, yang identik dengan busana bangsawan Aceh.

Sementara itu, Cleantha Islan tampil anggun dalam kebaya berwarna biru senada yang dihiasi detail payet elegan. Penampilannya semakin sempurna dengan mahkota Patam Dhoe serta hiasan kepala bernuansa keemasan, menciptakan kesan mewah namun tetap berakar pada tradisi. Pemilihan warna biru royal memberikan sentuhan modern dalam balutan adat yang kuat.

Pernikahan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting. Amtan Nukilan.id, Agus Harimurti Yudhoyono turut hadir dan bertindak sebagai saksi dalam prosesi akad nikah tersebut. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Warga Perbatasan Aceh–Sumut Desak Pemasangan Pagar Pengaman di Jalur Jurang Lae Kombih

0
kecelakaan di Jurang Lae Kombih. (Foto : Dokumen untuk RRI)

NUKILAN.ID | SUBULUSSALAM – Masyarakat di wilayah perbatasan Aceh–Sumatera Utara mendesak pemerintah segera memasang pagar pengaman jalan di kawasan Jurang Lae Kombih, jalur vital penghubung logistik lintas provinsi yang dikenal rawan kecelakaan.

Jalur tersebut memiliki medan ekstrem, dengan tikungan tajam yang langsung berbatasan dengan jurang dalam tanpa dilengkapi pembatas jalan (guardrail) yang memadai. Kondisi ini dinilai membahayakan keselamatan pengendara, khususnya sopir angkutan dan warga setempat yang melintas setiap hari.

Minimnya perhatian terhadap fasilitas keselamatan di kawasan itu disebut sebagai bentuk pengabaian terhadap hak dasar warga. Masyarakat menilai infrastruktur yang ada tidak sebanding dengan risiko tinggi yang dihadapi di lapangan.

“Setiap kali melintasi jalan ini, kami merasa tidak aman dan khawatir akan keselamatan jiwa kami,” ungkap Jhoni Bancin, warga Lae Ikan di perbatasan Aceh-Sumut, Sabtu (11/4/2026).

Jhoni menegaskan, tingginya angka kecelakaan di Jurang Lae Kombih bukan semata karena kelalaian manusia, melainkan akibat ketiadaan infrastruktur pengaman. Ia menilai, jatuhnya korban jiwa secara berulang seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera membangun pelindung permanen di sepanjang jalur tersebut.

Menurut warga, berbagai laporan yang telah disampaikan selama ini belum membuahkan hasil nyata di lapangan. Kondisi ini bahkan memicu menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam mengelola jalan nasional di kawasan perbatasan.

Dalam pernyataan tertulis, masyarakat menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni pemasangan pagar pengaman di sepanjang jurang, perawatan jalan secara berkelanjutan, serta perbaikan marka jalan. Ketiga hal tersebut dinilai penting untuk menghapus stigma “jalur maut” yang selama ini melekat pada kawasan Jurang Lae Kombih.

Warga juga mendesak pemerintah pusat segera mengalokasikan anggaran darurat guna meningkatkan keselamatan di jalur tersebut, sebelum kembali terjadi kecelakaan yang merenggut korban jiwa.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Warga Jantho Ultimatum Penambang Ilegal Hentikan Aktivitas dalam 3 Hari

0
Warga Jantho Ultimatum Penambang Ilegal Hentikan Aktivitas dalam 3 Hari. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JANTHO – Warga Gampong Jalin, Kecamatan Kota Jantho, memberikan ultimatum keras kepada pelaku tambang emas ilegal yang diduga menjadi penyebab keruhnya aliran Sungai Krueng Aceh. Masyarakat hanya memberi waktu tiga hari untuk menghentikan seluruh aktivitas penambangan tersebut.

Ultimatum ini disepakati dalam rapat koordinasi yang digelar di meunasah gampong setempat dan dipimpin langsung oleh Imum Mukim, Darwin. Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Forum Keuchik, para keuchik se-Kecamatan Kota Jantho, Tuha Peut, serta perwakilan pemuda.

Dalam rapat itu, masyarakat menyatakan penolakan tegas terhadap aktivitas tambang ilegal yang masih beroperasi. Mereka menilai limbah hasil galian telah mencemari Sungai Krueng Aceh, menyebabkan air menjadi keruh setiap hari dan mengganggu kebutuhan hidup warga.

“Kami memberikan waktu 3 hari kepada para penambang untuk menghentikan kegiatan mereka secara bertahap dan total. Jika dalam batas waktu tersebut tidak ada tindakan nyata, maka warga akan turun langsung ke lapangan untuk mengambil langkah tegas,” tegas Darwin mewakili masyarakat dalam keterangan yang diterima Nukilan.id.

Sikap ini mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen yang hadir. Mereka menilai kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dibanding aktivitas tambang yang merusak.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menunggu respons dari para pelaku tambang terkait ultimatum yang telah disampaikan tersebut. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Satgas PRR Aceh Minta Pemda Waspadai Peringatan Cuaca Ekstrem BMKG

0
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR, Safrizal ZA. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh meminta seluruh pemerintah daerah (Pemda) di 23 kabupaten/kota untuk serius merespons peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 11–20 April 2026.

Permintaan tersebut disampaikan Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposwil) Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang diperkirakan meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Ia menegaskan bahwa peringatan tertulis BMKG tertanggal 10 April 2026 harus menjadi rujukan utama dalam memperkuat langkah mitigasi di lapangan. Hal ini berkaca dari pengalaman banjir besar pada November 2025 yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh.

“Belajar dari peringatan sebelumnya, kita harus jauh lebih waspada. Kami mengajak Pemerintah Daerah untuk segera melakukan langkah antisipasi dan mitigasi dengan memastikan daerah-daerah yang rawan bencana hidrometeorologi lebih siap menghadapi ancaman.

Fokus kita adalah meminimalisir risiko, atau bahkan mengejar target zero risk,” ujar Safrizal ZA, Sabtu (11/4/2026).

Berdasarkan analisis meteorologi, potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang di wilayah Aceh dipicu oleh pola siklonik serta suhu muka laut yang hangat di perairan barat.

Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung dalam dua fase, yakni 11–15 April dan 16–20 April 2026, yang menjadi periode krusial dalam peningkatan kewaspadaan.

Safrizal juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi lintas lembaga, termasuk kesiapan logistik di wilayah rawan bencana serta aktivasi jalur komunikasi hingga ke tingkat desa.

Menurutnya, akurasi peringatan dini BMKG pada kejadian sebelumnya harus menjadi pelajaran agar tidak ada pihak yang lengah dalam menghadapi potensi bencana.

“Jangan menunggu bencana datang baru bertindak. Mitigasi yang matang adalah kunci utama untuk melindungi masyarakat Aceh dari dampak bencana yang berulang,” tegasnya.

Sebagai catatan, hujan ekstrem pada November 2025 lalu menyebabkan banjir besar yang berdampak pada ribuan warga dan kerusakan infrastruktur di berbagai daerah di Aceh.

Melalui peringatan dini pada April ini, Satgas PRR berharap seluruh pihak dapat memperkuat kolaborasi guna mencegah terulangnya dampak bencana serupa di masa mendatang.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News