Beranda blog Halaman 1129

Tgk Amran Kembali Maju di Pilkada 2024, Peta Politik Aceh Selatan Berubah

0
Mantan Bupati Aceh Selatan, Tgk. Amran (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Mantan Bupati Aceh Selatan, Tgk Amran, tampaknya mulai mempertimbangkan kembali untuk bertarung dalam Pilkada 2024. Padahal sebelumnya, Amran telah menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi.

Desas-desus mengenai kembalinya Amran ke panggung politik semakin santer terdengar belakangan ini. Informasi yang diperoleh Nukilan.id, mengungkapkan bahwa mantan Panglima Daerah III Wilayah Lhok Tapaktuan ini sempat berencana untuk tidak bertarung di Pilkada 2024. Hal ini dikarenakan Amran ingin memberi kesempatan kepada kader lain. Namun, melihat desakan dan dukungan masyarakat, ia mulai mempersiapkan diri untuk kembali maju.

Keputusan ini tentu saja mengubah peta politik di Aceh Selatan. Kembalinya Amran ke bursa calon kepala daerah menambah nama dalam daftar kandidat yang sudah ada, seperti Hendri Yono, Darmansah, Mirwan, Edi Saputra, dan Deni Irmansah. Kehadiran Amran diprediksi akan memberikan dinamika baru dalam persaingan politik di daerah tersebut.

Langkah Amran ini menunjukkan bahwa politik memang sangat dinamis dan penuh kejutan. Dengan keputusan ini, masyarakat Aceh Selatan akan menyaksikan kembali pertarungan politik yang menarik dalam Pilkada 2024, dengan berbagai calon yang siap berkompetisi untuk memimpin kabupaten pala menuju masa depan yang lebih baik.

Keberanian Amran untuk kembali mencalonkan diri di tengah dukungan dan desakan masyarakat menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Masyarakat pun menyambut baik keputusan ini dan menantikan visi serta program yang akan dibawa oleh para kandidat dalam Pilkada mendatang.

Dengan berbagai nama yang sudah mencuat ke permukaan, Pilkada Aceh Selatan 2024 diprediksi akan menjadi salah satu ajang politik paling menarik di Provinsi Aceh. Para kandidat diharapkan dapat menyuguhkan program-program terbaik untuk membawa Aceh Selatan menuju kemajuan yang lebih signifikan.

Reporter: Akil Rahmatillah

KPA-PA Gelar Doa Bersama Sembari Deklarasi Calon Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Timur

0
KPA-PA Gelar Doa Bersama Sembari Deklarasi Calon Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Timur. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Ratusan anggota Komite Peralihan Aceh-Partai Aceh (KPA-PA) dari Aceh Timur menghadiri acara “Doa Bersama Mengenang 14 Tahun Berpulangnya Wali Nanggroe Hasan Muhammad Di Tiro” yang digelar di Dayah Paya Pasi, Senin (3/6/2024).

Acara ini juga menjadi momen penting untuk deklarasi dukungan kepada H. Muzakkir Manaf sebagai Gubernur Aceh dan H. Sulaiman sebagai Bupati Aceh Timur.

Dalam suasana khidmat, kegiatan tersebut diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan Peusijuk Keberangkatan Haji Abu di Paya Pasi serta tausiah dari Abu Paya Pasi. Dalam tausiahnya, Abu Paya Pasi menekankan pentingnya memilih pemimpin yang dekat dengan Allah SWT.

“Apabila tidak ada pemimpin yang paling dekat dengan Allah, maka pilihlah pemimpin yang dekat dengan orang yang dekat dengan Allah,” ujarnya.

Selain itu, Abu Paya Pasi juga mengumumkan dukungan penuh dari dirinya dan seluruh alumni Dayah Paya Pasi kepada H. Muzakkir Manaf sebagai Gubernur Aceh dan H. Sulaiman sebagai Bupati Aceh Timur. Dukungan ini, kata Abu Paya Pasi, didasarkan pada dedikasi dan komitmen kedua calon tersebut dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh.

Acara ini berlangsung lancar dan penuh makna, ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan umat serta bangsa. Kehadiran ratusan anggota KPA-PA memberikan suasana kekhidmatan dan menunjukkan semangat persatuan dalam mengenang jasa Wali Nanggroe Hasan Muhammad Di Tiro serta menyongsong masa depan Aceh yang lebih baik dengan pemimpin yang amanah.

Abu Paya Pasi berharap acara ini dapat memperkuat silaturahmi antar sesama umat serta mengingatkan kembali akan pentingnya nilai-nilai kepemimpinan yang berlandaskan kedekatan dengan Allah SWT.

“Semoga Aceh selalu diberkahi dengan pemimpin yang bijaksana dan berpihak pada rakyat,” tutupnya.

Acara yang digelar di Dayah Paya Pasi ini mendapat perhatian luas dan menjadi salah satu langkah penting dalam menentukan arah masa depan kepemimpinan di Aceh. Dukungan kepada H. Muzakkir Manaf dan H. Sulaiman dianggap sebagai harapan baru bagi masyarakat Aceh Timur dalam upaya menciptakan pemerintahan yang amanah dan berpihak pada rakyat.

Editor: Akil Rahmatillah

Abu Bakar, Jemaah Haji Tertua Asal Aceh Berangkat di Usia 96 Tahun

0
Abu Bakar, Jemaah haji tertua asal Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh mencatat calon haji tertua asal Aceh pada musim haji 1445 Hijriah/2024 Masehi berangkat ke Tanah Suci pada usia 96 tahun, yaitu Abu Bakar Bin Mureh asal Desa Tuha, Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya.

Abu Bakar tergabung dalam kelompok terbang (kloter) enam yang berasal dari Pidie Jaya, Pidie, Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia berangkat haji bersama sang istri Aminah Cut Ahmad yang berusia 84 tahun.

“Semoga kami sehat selama di Tanah Suci,” kata Abu Bakar Mureh di Asrama Embarkasi Aceh, Banda Aceh, Senin.

Usia Abu Bakar Bin Mureh hampir genap satu abad. Namun, kondisi fisik masih sangat bugar. Selama di pemondokan Asrama Haji Embarkasi Aceh, Abu Bakar bisa beraktivitas dengan baik, tanpa perlu kursi roda.

Ia bersama sang istri mendaftar haji pada 2018. Keduanya mendapat kebijakan prioritas lanjut usia (lansia) dari pemerintah, sehingga dapat diberangkatkan memenuhi panggilan Allah SWT pada 2024.

Abu Bakar berprofesi sebagai petani di Pidie Jaya. Menurutnya, biaya pendaftaran haji tersebut merupakan hasil menabung selama sekitar 15 tahun.

“Daftar haji pada bulan Desember 2018. Terkejut dan lega saat tahu bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini, perasaan kami senang,” ujarnya.

Abu Bakar dan Aminah memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan perempuan. Dari empat anak, keduanya dianugerahi sebanyak 16 orang cucu. Selama di Tanah Suci, ia ingin memanjatkan doa untuk para anak, cucu, dan keluarganya.

“Meski sudah tua, saya tetap semangat menunaikan ibadah haji ini,” ujarnya.

Dalam menjaga kesehatan di usia senja, kata Abu Bakar, dirinya sehari-hari mengonsumsi minuman dari olahan dedaunan yang dipetik di sekitar tempat tinggal di Pidie Jaya.

“Kunci sehat, saya minum minuman dari dedaunan yang direbus,” katanya.

PPIH Embarkasi Aceh menyebut kloter enam akan berangkat ke Tanah Suci Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar pada Senin (3/6) pukul 22.40 WIB. Jamaah kloter ini berjumlah 393 orang, terdiri atas 157 laki laki dan 236 perempuan.

Ketua PPIH Embarkasi Aceh Azhari mengatakan saat ini jumlah calon haji Aceh yang telah berada di Arab Saudi sebanyak 1.963 orang, yang berasal dari lima kloter. Ia meminta para jamaah untuk selalu menjaga kesehatan selama di Tanah Suci.

Jamaah diimbau untuk istirahat yang teratur, makan yang cukup, membiasakan minum air walaupun sedikit, mengingat cuaca di Arab Saudi cukup panas.

“Kita sudah menyampaikan melalui kawan-kawan yang bertugas, agar senantiasa menginformasikan kepada seluruh jamaah agar menjaga kesehatan,” katanya.

Editor: Akil Rahmatillah

Mengenal Permaisuri Sun dari Dinasti Ming: Dijuluki ‘Iblis’, Namun Dibela oleh Sejarawan

0
Tang Wei sebagai Permaisuri Sun dalam serial TV Ming Dynasty 2019. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Permaisuri Sun, tokoh ikonik dari era Dinasti Ming yang telah lama dicap negatif sebagai “Iblis Zaman” karena tuduhan ambisius dan kejam, kini mendapat sorotan berbeda. Serial televisi terbaru, “Dinasti Ming”, menampilkan Permaisuri Sun dalam sudut pandang yang lebih simpatik, diperankan dengan memukau oleh Tang Wei. Penayangan ini memicu diskusi hangat mengenai bagaimana sejarah menggambarkan dirinya.

Dalam serial tersebut, kisah hidup Permaisuri Sun diangkat dari awal yang sederhana hingga menjadi permaisuri yang berkuasa, menawarkan perspektif baru tentang karakter dan motivasinya. Sebelumnya, citra dirinya seringkali dicap sebagai sosok manipulatif dan kejam. Namun, apakah penggambaran ini benar-benar akurat, atau Permaisuri Sun hanya menjadi korban dari sejarah yang ditulis dengan prasangka?

Serial “Dinasti Ming” mengajak penonton untuk menelaah ulang pandangan terhadap Permaisuri Sun. Apakah dia memang sekejam yang diceritakan, atau ada lapisan lain dari kehidupannya yang perlu dipahami? Melalui serial ini, penonton diajak melihat Permaisuri Sun sebagai seorang tokoh kompleks yang mungkin lebih simpatik daripada yang selama ini diketahui.

Kontroversi mengenai reputasi Permaisuri Sun tentu tidak bisa dihindari. Dalam artikel ini, kami akan menggali lebih dalam tentang perjalanan hidupnya, mengulas asal-usulnya yang rendah hati hingga perjuangannya menjadi permaisuri yang penuh kuasa. Apakah citra negatif yang melekat padanya berakar pada fakta sejarah, ataukah hanya hasil dari prasangka zaman?

Berikut ulasan lengkap dari Nukilan.id tentang kehidupan Permaisuri Sun dan bagaimana serial televisi “Dinasti Ming” mengubah pandangan terhadap sosok yang kontroversial ini.

Awal Hidup

Dilahirkan di Zouping, Shandong pada tahun 1403, Permaisuri Sun memulai hidupnya dengan latar belakang yang sederhana. Meskipun catatan sejarah tidak menyebutkan namanya, kita tahu bahwa ayahnya, Sun Zhong, bekerja sebagai asisten hakim di Yongcheng.

Dalam buku Biographical Dictionary of Chinese Women, Volume II: Tang Through Ming 618 – 1644 (2014), L. Yanqing menyebut bahwa identitas ibunya tetap menjadi teka-teki. Namun, dari awal yang tidak mencolok ini, Permaisuri Sun tumbuh menjadi sosok yang keberadaannya terukir dalam sejarah Tiongkok.

Kecantikan Permaisuri Sun terkenal di daerahnya. Saat putri mahkota (yang kelak menjadi Permaisuri Zhang dan juga tumbuh di Distrik Yongcheng) mengunjungi kampung halamannya, ia mendengar tentang kecantikan Permaisuri Sun.

Penasaran akan kecantikan gadis muda itu, Putri Mahkota Zhang membawa Permaisuri Sun ke istana. Di lingkungan istana, kecantikan Permaisuri Sun tidak hanya diakui, tetapi juga dipuji oleh para wanita di sana.

Kaisar Yongle memerintahkan istrinya, Permaisuri Xu, untuk merawat dan mendidik gadis muda tersebut. Pada tahun 1417, Permaisuri Sun dipilih menjadi selir bagi Zhu Zhanji, yang merupakan cucu mahkota.

Ketika Zhu Zhanji naik tahta menjadi Kaisar Xuanzong pada tahun 1425, ia menjadi Selir Terhormat Sun, yang merupakan posisi kedua tertinggi setelah permaisuri.

Diklaim Licik, Dibela Sejarawan

Menurut legenda, Selir Terhormat Sun adalah seorang wanita yang memesona sekaligus licik. Ketika Kaisar Xuanzong mulai kehilangan minat pada Permaisuri Hu akibat masalah keturunannya, Selir Terhormat Sun melihat ini sebagai peluang.

Dengan upaya yang lebih intens, ia berhasil menarik perhatian kaisar. Meski kasih sayang kaisar padanya meningkat, Selir Terhormat Sun tidak kunjung memiliki keturunan. Dalam sebuah langkah yang berani, ia mengklaim anak dari orang lain sebagai darah dagingnya sendiri, yang nantinya akan dikenal sebagai Kaisar Yingzong.

Namun, menurut Keith McMahon dalam buku Celestial Women: Imperial Wives and Concubines in China from Song to Qing (2016), para sejarawan percaya bahwa cerita ini tidak benar. Anak tersebut memang benar-benar anak Selir Terhormat Sun karena itu menjadi alasan Kaisar Xuanzong mengangkat Sun menjadi permaisurinya. Kaisar Xuanzong tidak akan menjadikannya permaisuri jika ia percaya Yingzong bukan anaknya.

Pada 1428, Kaisar Xuanzong mengambil keputusan bersejarah untuk mengganti Permaisuri Hu dengan Selir Terhormat Sun sebagai permaisuri. Meskipun awalnya Selir Terhormat Sun menolak, dengan alasan bahwa Permaisuri Hu suatu hari nanti akan melahirkan seorang putra pengganti, Kaisar Xuanzong tetap pada pendiriannya.

Akhirnya, Selir Terhormat Sun menerima tawaran tersebut, dan naik tahta menjadi Permaisuri Sun.

Dengan menurunkan Permaisuri Hu dan mengangkat permaisuri baru, Kaisar Xuanzong memulai tradisi bagi para penerusnya. Empat penerusnya akan menurunkan istri pertama mereka demi permaisuri baru.

Upacara penobatan Permaisuri Sun merupakan peristiwa yang sangat megah. Di istana, upacara penobatan permaisuri adalah acara seremonial yang paling penting.

Permaisuri Sun mengenakan jubah seremonial yang dihiasi dengan dua belas baris burung puyuh dan “mahkota dengan sembilan naga dan empat phoenix.” Permaisuri Sun akan mengenakan pakaian seremonial yang sama untuk audiensi pengadilan dan upacara penting lainnya.

Ia berpuasa selama tiga hari di mana ia akan mengumumkan penobatannya di Kuil Leluhur Kekaisaran. Setelah pengumumannya secara resmi dibuat, istana mengadakan perjamuan selamat, satu untuk kaisar dan yang lainnya untuk permaisuri.

Sebagai permaisuri yang baru dinobatkan, Permaisuri Sun memegang kendali atas pengadilan yang diadakan di kediaman kerajaannya, sering kali berkonsultasi dengan para eunuk dan pejabat wanita. Tanggung jawabnya meliputi penilaian staf, persetujuan anggaran, dan pengaturan pernikahan dalam lingkaran kerajaan.

Selir dan putri-putri kekaisaran Kaisar Xuanzong akan mengunjunginya secara teratur. Ia melaporkan secara harian kepada ibu mertuanya, Permaisuri Zhang tentang urusan keluarga.

Ia juga melakukan upacara di altar leluhur. Pada kesempatan khusus, permaisuri akan makan bersama kaisar di kediamannya.

Suami Meninggal, Anak Dipenjara

Setelah tujuh tahun memerintah sebagai Permaisuri, Permaisuri Sun menyaksikan kematian Kaisar Xuanzong. Putranya, Yingzong, yang masih berusia delapan tahun, naik tahta, dan Permaisuri Sun menjadi Permaisuri Janda.

Selama Pertempuran Benteng Tumu pada tahun 1449, Kaisar Yingzong ditawan di utara. Permaisuri Sun memerintahkan adik Yingzong, Zhu Qiyu, untuk mengurus urusan negara. Ia segera diangkat menjadi Kaisar Daizong.

Permaisuri Janda Sun juga diberi dua karakter kehormatan, “Shangsheng” (yang berarti bangkit), untuk gelarnya. Selama penahanan Kaisar Yingzong, Permaisuri Janda Sun berulang kali mengiriminya pakaian hangat.

Setelah pembebasan Kaisar Yingzong dari penjara, ia kembali ke pusat kekuasaan. Namun, kedatangannya disambut dengan tahanan rumah yang diperintahkan oleh Kaisar Daizong. Selama masa penahanan ini, Permaisuri Janda Sun tidak pernah berhenti mengunjungi putranya, menunjukkan dukungan yang tak tergoyahkan.

Pada tahun 1459, sebuah kudeta yang dikenal sebagai “Merebut Pintu” meminta restu Permaisuri Janda Sun untuk mengembalikan Yingzong ke tahta. Dengan suksesnya kudeta tersebut, Yingzong sekali lagi memegang kendali sebagai kaisar, dan pengaruh Permaisuri Janda Sun pun semakin meningkat.

Paradoks dalam Wujud Citra Negatif

Namun, pada tanggal 26 September 1462, Permaisuri Janda Sun meninggal dunia. Untuk menghormati jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar anumerta “Xiaogong” dan dimakamkan dengan hormat di Makam Jingling.

Permaisuri Sun, yang dihormati oleh kedua Kaisar Yingzong dan Daizong sebagai Permaisuri Janda, menikmati penghormatan yang meningkat selama masa pemerintahannya. Kedua kaisar tersebut bahkan memperluas gelar kehormatannya, menandakan pengakuan atas dedikasi dan peran pentingnya sebagai permaisuri dan ibu.

Namun, reputasi negatif yang melekat padanya selama berabad-abad menimbulkan pertanyaan. Mengingat penghormatan yang ia terima selama hidup, tampaknya paradoks bahwa ia dianggap dalam cahaya yang tidak menguntungkan.

Mungkin, reputasi ini berasal dari ketakutan terhadap wanita berkuasa di zaman Tiongkok kuno, di mana kekuatan dan pengaruh seorang wanita sering kali dilihat sebagai ancaman terhadap status quo.

Kisah Permaisuri Sun mengajarkan kita bahwa sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, dan mungkin tidak selalu mencerminkan kebenaran. Dalam labirin narasi Dinasti Ming, keadilan bagi tokoh-tokoh seperti Permaisuri Sun terkadang baru ditemukan setelah berabad-abad berlalu.

Diklaim Licik, Dibela Sejarawan

Menurut legenda, Selir Terhormat Sun adalah seorang wanita yang memesona sekaligus licik. Ketika Kaisar Xuanzong mulai kehilangan minat pada Permaisuri Hu akibat masalah keturunannya, Selir Terhormat Sun melihat ini sebagai peluang.

Dengan upaya yang lebih intens, ia berhasil menarik perhatian kaisar. Meski kasih sayang kaisar padanya meningkat, Selir Terhormat Sun tidak kunjung memiliki keturunan. Dalam sebuah langkah yang berani, ia mengklaim anak dari orang lain sebagai darah dagingnya sendiri, yang nantinya akan dikenal sebagai Kaisar Yingzong.

Namun, menurut Keith McMahon dalam buku Celestial Women: Imperial Wives and Concubines in China from Song to Qing (2016), para sejarawan percaya bahwa cerita ini tidak benar. Anak tersebut memang benar-benar anak Selir Terhormat Sun karena itu menjadi alasan Kaisar Xuanzong mengangkat Sun menjadi permaisurinya. Kaisar Xuanzong tidak akan menjadikannya permaisuri jika ia percaya Yingzong bukan anaknya.

Pada 1428, Kaisar Xuanzong mengambil keputusan bersejarah untuk mengganti Permaisuri Hu dengan Selir Terhormat Sun sebagai permaisuri. Meskipun awalnya Selir Terhormat Sun menolak, dengan alasan bahwa Permaisuri Hu suatu hari nanti akan melahirkan seorang putra pengganti, Kaisar Xuanzong tetap pada pendiriannya.

Akhirnya, Selir Terhormat Sun menerima tawaran tersebut, dan naik tahta menjadi Permaisuri Sun.

Dengan menurunkan Permaisuri Hu dan mengangkat permaisuri baru, Kaisar Xuanzong memulai tradisi bagi para penerusnya. Empat penerusnya akan menurunkan istri pertama mereka demi permaisuri baru.

Upacara penobatan Permaisuri Sun merupakan peristiwa yang sangat megah. Di istana, upacara penobatan permaisuri adalah acara seremonial yang paling penting.

Permaisuri Sun mengenakan jubah seremonial yang dihiasi dengan dua belas baris burung puyuh dan “mahkota dengan sembilan naga dan empat phoenix.” Permaisuri Sun akan mengenakan pakaian seremonial yang sama untuk audiensi pengadilan dan upacara penting lainnya.

Ia berpuasa selama tiga hari di mana ia akan mengumumkan penobatannya di Kuil Leluhur Kekaisaran. Setelah pengumumannya secara resmi dibuat, istana mengadakan perjamuan selamat, satu untuk kaisar dan yang lainnya untuk permaisuri.

Sebagai permaisuri yang baru dinobatkan, Permaisuri Sun memegang kendali atas pengadilan yang diadakan di kediaman kerajaannya, sering kali berkonsultasi dengan para eunuk dan pejabat wanita. Tanggung jawabnya meliputi penilaian staf, persetujuan anggaran, dan pengaturan pernikahan dalam lingkaran kerajaan.

Selir dan putri-putri kekaisaran Kaisar Xuanzong akan mengunjunginya secara teratur. Ia melaporkan secara harian kepada ibu mertuanya, Permaisuri Zhang tentang urusan keluarga.

Ia juga melakukan upacara di altar leluhur. Pada kesempatan khusus, permaisuri akan makan bersama kaisar di kediamannya.

Suami Meninggal, Anak Dipenjara

Setelah tujuh tahun memerintah sebagai Permaisuri, Permaisuri Sun menyaksikan kematian Kaisar Xuanzong. Putranya, Yingzong, yang masih berusia delapan tahun, naik tahta, dan Permaisuri Sun menjadi Permaisuri Janda.

Selama Pertempuran Benteng Tumu pada tahun 1449, Kaisar Yingzong ditawan di utara. Permaisuri Sun memerintahkan adik Yingzong, Zhu Qiyu, untuk mengurus urusan negara. Ia segera diangkat menjadi Kaisar Daizong.

Permaisuri Janda Sun juga diberi dua karakter kehormatan, “Shangsheng” (yang berarti bangkit), untuk gelarnya. Selama penahanan Kaisar Yingzong, Permaisuri Janda Sun berulang kali mengiriminya pakaian hangat.

Setelah pembebasan Kaisar Yingzong dari penjara, ia kembali ke pusat kekuasaan. Namun, kedatangannya disambut dengan tahanan rumah yang diperintahkan oleh Kaisar Daizong. Selama masa penahanan ini, Permaisuri Janda Sun tidak pernah berhenti mengunjungi putranya, menunjukkan dukungan yang tak tergoyahkan.

Pada tahun 1459, sebuah kudeta yang dikenal sebagai “Merebut Pintu” meminta restu Permaisuri Janda Sun untuk mengembalikan Yingzong ke tahta. Dengan suksesnya kudeta tersebut, Yingzong sekali lagi memegang kendali sebagai kaisar, dan pengaruh Permaisuri Janda Sun pun semakin meningkat.

Paradoks dalam Wujud Citra Negatif

Namun, pada tanggal 26 September 1462, Permaisuri Janda Sun meninggal dunia. Untuk menghormati jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar anumerta “Xiaogong” dan dimakamkan dengan hormat di Makam Jingling.

Permaisuri Sun, yang dihormati oleh kedua Kaisar Yingzong dan Daizong sebagai Permaisuri Janda, menikmati penghormatan yang meningkat selama masa pemerintahannya. Kedua kaisar tersebut bahkan memperluas gelar kehormatannya, menandakan pengakuan atas dedikasi dan peran pentingnya sebagai permaisuri dan ibu.

Namun, reputasi negatif yang melekat padanya selama berabad-abad menimbulkan pertanyaan. Mengingat penghormatan yang ia terima selama hidup, tampaknya paradoks bahwa ia dianggap dalam cahaya yang tidak menguntungkan.

Mungkin, reputasi ini berasal dari ketakutan terhadap wanita berkuasa di zaman Tiongkok kuno, di mana kekuatan dan pengaruh seorang wanita sering kali dilihat sebagai ancaman terhadap status quo.

Kisah Permaisuri Sun mengajarkan kita bahwa sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, dan mungkin tidak selalu mencerminkan kebenaran. Dalam labirin narasi Dinasti Ming, keadilan bagi tokoh-tokoh seperti Permaisuri Sun terkadang baru ditemukan setelah berabad-abad berlalu.

Reporter: Akil Rahmatillah

Keuchik Lampulo Kota Banda Aceh Raih Anugerah Paralegal Justice Award Tingkat Nasional

0
Keuchik Lampulo bersama Pj Wali Kota Banda Aceh. (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.id | Jakarta – Alta Zaini, Keuchik Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, meraih Anugerah Paralegal Justice Award (PJA) 2024 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Penghargaan bergengsi level nasional tersebut diserahkan pada Sabtu malam (1/6/2024) di Bidakara Hotel Jakarta.

Dalam ajang bergengsi ini, Alta Zaini menerima PIN lencana Non Litigation Peacemaker (NL.P), Medali PJA, Jubah NL.P, Sertifikat PJA, Sertifikat Anubhawa Sasana Jagaddhita, Anugerah Ketua Angkatan, dan berhak menyandang gelar non-akademik Non Litigation Peacemaker (NL.P) yang disematkan di belakang namanya.

Selain itu, pria yang akrab disaba Keuchik Alta itu juga dinobatkan sebagai penerima penghargaan Anugerah Anubhawa Sasana Desa/Kelurahan Jagadhita 2024, yang mengakui prestasi terbaik dalam membina dan mengembangkan desa/kelurahan sadar hukum serta mendukung pengembangan investasi dan pariwisata.

Acara penyerahan anugerah ini sangat terasa istimewa bagi seorang Alta Zaini karena disaksikan dan dihadiri langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Banda Aceh, Amiruddin.

Pj Wali Kota merasa sangat senang dan mengatakan prestasi yang diukir Alta Zaini adalah sesuatu yang sangat membanggakan.

Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil dari kerja keras yang telah ditunjukkan Keuchik bersama Kelompok Kadarkum dan seluruh Perangkat Gampong Lampulo selama ini.

Amiruddin berharap prestasi itu dapat memotivasi para keuchik lainnya untuk mengukir prestasi di berbagai bidang dan menjadi pelecut semangat dalam menangani permasalahan hukum ringan di desa masing-masing.

Dengan penghargaan ini, diharapkan Kota Banda Aceh akan semakin maju dan menjadi contoh dalam pembinaan dan pengembangan desa sadar hukum.

Seluruh masyarakat di Aceh diharapkan dapat terinspirasi dan bersemangat dalam menyelesaikan permasalahan hukum secara adil dan damai.

Sementara itu Alta Zaini mengaku sangat senang dan bahagia dapat membawa pulang penghargaan tersebut, dimana Anegerah tertinggi PJA hanya diberikan untuk 50 Kepala Desa/Lurah seluruh Indonesia. Ini Anugerah Pertama di Kota Banda Aceh. Disamping itu juga Alta bersama dengan dua Kepala Desa Yaitu dari Peudada dan Aceh Tengah yang pertama di Aceh mendapat gelar NL.P.

Ia juga merasa bangga diberi kesempatan sebagai ketua angkatan PJA Tahun 2024 Se-Indonesia, mewakili Kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh. “Harapannya prestasi yang telah diraih ini dapat menjadi motivasi untuk menjadi mediator adat di tingkat desa dan membawa perubahan positif di masa depan untuk Kota Banda Aceh,” ungkapnya.

Penghargaan ini juga menjadi bukti nyata atas dedikasi dan komitmennya dalam menjalankan peran sebagai Non Litigation Peacemaker.

“Alhamdulillah masih bisa mempertahankan PJA untuk Provinsi Aceh secara keseluruhan dan menjadi inspirasi bagi para kepala desa dan keuchik lainnya untuk terlibat aktif dalam menciptakan perdamaian dan penyelesaian sengketa di masyarakat,” tambahnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Mahasiswa PPG Gelar Karya di FKIP USK, PPG BK Raih Juara Kedua dengan Batik Jumputan

0
Mahasiswa PPG Gelar Karya di FKIP USK. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Mahasiswa Program Pendidikan Guru (PPG) melaksanakan gelar karya project kepemimpinan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala. Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP USK dan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 16.00 pada Senin (27/5/2024) lalu.

Kegiatan gelar karya ini menampilkan hasil-hasil project kepemimpinan yang telah dilaksanakan oleh para mahasiswa PPG di Yayasan Al Misbah. Beragam stan menampilkan inovasi dan kreativitas yang menarik perhatian para pengunjung. Tidak hanya memamerkan karya, acara ini juga menjadi ajang kompetisi untuk memilih stan terbaik.

Panitia PPG Unsyiah memilih beberapa guru dari sekolah tertentu sebagai juri untuk memberikan penilaian terhadap stan-stan yang ada. Penilaian didasarkan pada berbagai kriteria, termasuk kreativitas, keunikan, dan dampak sosial dari karya yang ditampilkan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah stan dari mahasiswa PPG Bimbingan Konseling (BK) Unsyiah yang menampilkan produk batik jumputan. Berkat inovasi dan keindahan batik yang dipamerkan, mereka berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi stan terbaik. Batik jumputan ini tidak hanya memukau dari segi estetika, tetapi juga membawa pesan tentang pelestarian budaya dan kreativitas lokal.

Dekan FKIP Unsyiah dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap karya-karya yang ditampilkan. Ia sangat bangga melihat kreativitas dan dedikasi yang ditunjukkan oleh para mahasiswa PPG. Menurutnya, Gelar karya ini bukan hanya ajang pameran, tetapi juga wujud nyata dari upaya mereka dalam menerapkan ilmu kepemimpinan dan pengabdian masyarakat.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam bidang pendidikan serta pelestarian budaya. Kegiatan gelar karya project kepemimpinan ini diakhiri dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang dan sesi foto bersama.

Editor: Akil Rahmatillah

Puluhan Wartawan Kota Langsa Gelar Aksi Tolak RUU Penyiaran

0
1. Puluhan wartawan Kota Langsa gelar aksi damai tolak RUU Penyiaran. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Langsa – Puluhan jurnalis yang menamakan diri Solidaritas Wartawan Kota Langsa, menggelar aksi damai menolak draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, di halaman gedung sekretariat DPRK Langsa, Senin (3/6/2024).

Gabungan organisasi pers seperti PWI, AJI dan lainnya itu, membentang beragam poster dan spanduk bertuliskan penolakan terhadap RUU Penyiaran. Para wartawan berjalan kaki dari Tribun Lapangan Merdeka, menuju lokasi aksi di Gedung DPRK setempat.

Ketika disambangi para pekerja pers, tampak aparat kepolisian dari Polres Langsa bersiaga di pintu gerbang DPRK Langsa.

Usai negosiasi. Polisi pekenankan pengunjuk aspirasi memasuki pelataran gedung dewan dan sigap melakukan pengamanan humanis.

“RUU Penyiaran hasil kerja Banleg DPR RI mengancam kebebasan pers dan meredupkan kehidupan demokrasi,” pekik Koordinator Aksi, Mufty Ryansyah,

“Kami pekerja pers dengan tegas menolak draft RUU Penyiaran. Jangan kebiri pers Indonesia. Bila terjadi, ini degradasi namanya,” lanjut Koordinator Pokja Advokasi dan Hukum PWI Kota Langsa itu.

Senada, orator lainnya Ray Iskandar menyebut, pembungkaman pers cermin kediktatoran dan menciderai semangat reformasi.

“Kalau wartawan dibungkam lewat RUU Penyiaran. Maka penguasa sedang menari menikmati matinya demokrasi,” teriak aktivis 98′ yang juga mantan Bendahara Umum PB HMI itu.

Sementara, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Langsa, Mustafa Rani mengungkapkan, mereduksi kebebasan pers, sama halnya dengan membunuh anak kandung demokrasi.

Hal ini, lanjut dia, kontras terlihat pada draft RUU Penyiaran hasil kerja Banleg DPR RI. Dimana, terdapat sejumlah pasal yang bermasalah dan terjadi tumpang tindih.

“Kami minta parlemen Kota Langsa menjadi corong aspirasi, sehingga bisa menyampaikan penolakan ini kepada DPR RI, sehingga penyusunan RUU Penyiaran melibatkan organisasi pers, akademisi dan masyarakat sipil,” tegas Mustafa.

Terakhir, Ketua PWI Kota Langsa, Putra Zulfirman membacakan delapan poin petisi penolakan RUU Penyiaran dari Solidaritas Wartawan Langsa, sebagai berikut;

Pertama, ancaman terhadap kebebasan Pers; dimana terdapat pasal-pasal bermasalah dalam revisi ini memberikan wewenang berlebihan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), untuk mengatur konten media, yang dapat mengarah pada penyensoran dan pembungkaman kritik terhadap pemerintah dan pihak-pihak berkepentingan, seperti termuat pada draf pasal 8A huruf q, pasal 50B huruf c dan pasal 42 ayat 2.

Kedua, kebebasan berekspresi terancam; ketentuan yang mengatur tentang pengawasan konten tidak hanya membatasi ruang gerak media, tetapi juga mengancam kebebasan berekspresi warga negara, melalui rancangan sejumlah pasal yang berpotensi mengekang kebebasan berekspresi.

Ketiga, kriminalisasi jurnalis; adanya ancaman pidana bagi jurnalis yang melaporkan berita yang dianggap kontroversial merupakan bentuk kriminalisasi terhadap profesi jurnalis.

Keempat, Independensi Media terancam; revisi ini dapat digunakan untuk menekan media agar berpihak kepada pihak-pihak tertentu, yang merusak independensi media dan keberimbangan pemberitaan, seperti termuat dalam draf pasal 51E.P.

Kelima, Revisi UU Penyiaran berpotensi mengancam keberlangsungan lapangan kerja bagi pekerja kreatif, munculnya pasal bermasalah yang mengekang kebebasan berekspresi berpotensi akan menghilangkan lapangan kerja pekerja kreatif, seperti tim konten Youtube, podcast, pegiat media sosial dan lain sebagainya.

“Kami minta DPRK Lamgsa mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Penyiaran dan mengirimkan pernyataan tersebut ke DPR RI,” sergah Putra Zulfirman.

Sedangkan, Ketua DPR Kota Langsa, Maimul Mahdi menyatakan pihaknya siap meneruskan aspirasi yang disampaikan pekerja pers.

“Kami siap sebagai wakil rakyat meneruskan aspirasi ini. Tentu kita tidak ingin kebebasan pers dibelenggu,” tandas politisi Partai Aceh ini.

Editor: Akil Rahmatillah

PB-IMADA Gelar Upgrading untuk Optimalisasi Potensi Mahasiswa Dayah

0
PB-IMADA Gelar Upgrading untuk Optimalisasi Potensi Mahasiswa Dayah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah Aceh (PB-IMADA) mengadakan kegiatan upgrading dengan tema “Optimalisasi potensi mahasiswa dayah untuk keberlanjutan dan kemajuan generasi bangsa yang islami” pada Minggu (2/6/24). Acara tersebut diikuti oleh seluruh pengurus PB-IMADA.

Ketua Umum PB-IMADA, Tgk. Rozy Munawir, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali sejarah berdirinya IMADA dan bagaimana pergerakan organisasi ini sejak awal hingga tetap eksis sampai sekarang.

Pada acara tersebut, Tgk. Tabrani ZA, yang merupakan pembina sekaligus Ketua Umum Demisioner PB-IMADA periode 2008-2012, menyampaikan materi tentang Keimadaan dan manajemen organisasi. Dalam penyampaiannya, Tgk. Tabrani menekankan visi IMADA sebagai wadah perekat alumni Dayah yang mampu berpikir secara global dan bertindak secara lokal (think globally act locally), serta mengintegrasikan keunggulan zikir dan pikir dengan konsep “Mendayahkan kampus, mengkampuskan dayah”.

“IMADA, sebagai organisasi berbasis Dayah, berkomitmen memberikan kontribusi timbal balik antara Dayah dan Kampus dalam rangka membangun masyarakat madani. Terutama dalam kondisi sekarang, di mana masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan pendidikan dan sosial yang semakin parah dan krusial,” ujar Tgk. Tabrani.

Selain itu, Tgk. Tabrani juga memberikan beberapa nasihat kepada para pengurus IMADA agar tetap konsisten dan amanah dalam menjalankan tugas serta menjaga martabat sebagai seorang santri. Ia juga menekankan pentingnya menjalankan IMADA dengan konsep kesetaraan dalam bingkai kebhinekaan.

Ketua Umum PB-IMADA, Tgk. Rozy Munawir, turut memaparkan materi tentang Keorganisasian, Mindset Kepemimpinan, dan Komunikasi. Menurutnya, organisasi yang sehat adalah yang menjaga kesejahteraan individu pengurus serta kepercayaan antar sesama. “Dengan kepercayaan, akan memberi motivasi tersendiri bagi pengurus untuk bekerja lebih baik dan mencapai tujuan serta sasaran yang diinginkan oleh IMADA,” tegas Tgk. Rozy.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh para pembina dan sesepuh IMADA, serta DPP ISAD Aceh, yang turut memberikan dukungan dan masukan bagi para pengurus PB-IMADA.

Editor: Akil Rahmatillah

Ikut Ramaikan Gelar Melayu Serumpun di Medan, Stan Aceh Jadi Magnet Pengunjung

0
Ikut Ramaikan Gelar Melayu Serumpun di Medan, Stan Aceh Jadi Magnet Pengunjung. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Medan – Provinsi Aceh turut meramaikan Gelar Melayu Serumpun yang berlangsung di Istana Maimun Medan, Sumatra Utara.

Acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan budaya antara provinsi-provinsi di Sumatra dan negara-negara serumpun yang memiliki ikatan budaya Melayu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal mewakili Pj Gubernur Aceh mengungkapkan kebanggaannya terhadap partisipasi Aceh pada acara bertajuk “Tak Kan Hilang Melayu di Bumi” itu.

Dalam event tersebut, Aceh menampilkan berbagai pertunjukan budaya seperti tarian tradisional Jamee (Pemko Sabang), Tron U Laot (Pemkab Aceh Utara), Rapai Geleng (Disbudpar Aceh), tari kreasi Buluekat Kuneng (Pemkab Aceh Barat), Sigunca Hasee Sihah Ija (Pemkab Bireuen), dan Pocut Meurah Inseun (Pemko Lhokseumawe).

Tak hanya itu, Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh juga menampilkan stan pameran ekonomi kreatif berkolaborasi dengan Dekranasda Aceh. Lalu ada juga penjualan paket wisata bekerja sama dengan travel agent dari Astindo Aceh, dalam rangka menyemarakkan PON Aceh-Sumut XXI 2024.

“Ini adalah momentum bagi Aceh untuk mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata kita. Melalui acara Gelar Melayu Serumpun ini, kita dapat memperkenalkan tarian budaya, promosi destinasi wisata dan produk ekonomi kreatif kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Almuniza, Jumat (31/5/2024).

Pengunjung yang hadir di stan sangat antusias menyaksikan berbagai pameran produk ekonomi kreatif dan promosi pariwisata Aceh. Pengunjung yang bersedia mengikuti kuis menarik seputar pariwisata Aceh mendapat suvenir ekonomi kreatif dan berkesempatan menyeruput kopi Aceh secara gratis.

Berbagai produk ekonomi kreatif khas Aceh juga laris manis. Tak sedikit delegasi/kontingen Gelar Melayu Serumpun yang hadir dari berbagai negara dan nusantara itu terpikat dengan pesona alam dan budaya Aceh, bahkan ada yang berencana melancong ke Aceh tahun ini usai mengunjungi stan “Cahaya Aceh” di lokasi acara.

“Pesona wisata Aceh sangat elok, kami nanti mau berlibur ke Aceh, salah satunya Pulau Banyak,” ujar Ahmad Shahir Bin Abdullah, Royal Malaysia Police Liaison Officer Consulate General of Malaysia Kota Medan.

“Kopi Aceh rasanya kuat, tapi nikmat,” ungkap penari tradisional dari India.

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno turut hadir di acara yang menjadikan sarana promosi pariwisata dan ekonomi kreatif serta penguatan seni dan budaya Melayu baik di Indonesia maupun negara-negara serumpun lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan India.

Hadir pada kesempatan tersebut Pj Gubernur Sumut, Hassanudin; Wali Kota Medan, M.Bobby Afif Nasution, Sultan Deli ke-14, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah; serta sejumlah pemerintah daerah yang ada di Pulau Sumatra dan para delegasi dari negara serumpun.

Editor: Akil Rahmatillah

Satres Narkoba Polres Aceh Selatan Musnahkan Satu Hektare Ladang Ganja

0
Satres Narkoba Polres Aceh Selatan Musnahkan Satu Hektare Ladang Ganja. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Satuan Reserse Narkotika Obat obatan dan Bahan terlarang (Satres Narkoba) Polres Aceh Selatan memusnahkan tanaman ganja di ladang seluas satu hektare di kawasan hutan Dusun Tanah Munggu, Gampong Durian Kawan Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (31/5/2024).

Pemusnahan ladang ganja tersebut dipimpin langsung oleh Kasatres Narkoba Polres Aceh Selatan Iptu Narsyah Agustian, beserta Tim gabungan yang terdiri dari Personel Satres Narkoba, Sihumas, dan Personel Polsek Kluet Timur.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Mughi Prasetyo Habrianto melalui Kasat Narkoba membenarkan atas pemusnahan ladang ganja di kawasan Kluet Timur seluas satu hektare tersebut.

“Bermula dari informasi masyarakat pada Kamis (30/5/2024) sekira pukul 12.00 WIB, bahwa adanya ladang ganja di kawasan hutan Kecamatan Kluet Timur. Kemudian tim opsnal Kami dari Satres Narkoba melakukan penyelidikan ke lokasi wilayah sesuai yang diinformasikan,” ujarnya.

Selanjutnya pada Jumat (31/5/2024) sekira pukul 09.00 WIB, Tim opsnal berhasil menemukan ladang ganja kurang lebih seluas satu hektare. Kemudian sekira pukul 11.00 WIB dilakukan pemusnahan oleh Tim gabungan.

“Selesai pemusnahan ladang ganja, sekira pukul 14.00 tim gabungan bergerak kembali ke Mako Polres dengan membawa 50 (limapuluh) batang ganja yang dipergunakan sebagai sampel,” tambah Kasat Narkoba.

Kasatres Narkoba mengatakan, pemusnahan ladang ganja tersebut merupakan komitmen Kepolisian kususnya Polres Aceh Selatan dalam memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan obat-obatan terlarang lainnya di wilayah hukum Polres Aceh Selatan.

Menurutnya pemberantasan narkoba tidak akan berhasil kalau hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum, akan tetapi juga butuh peran serta semua elemen masyarakat.

“Kami mengajak masyarakat yang selama ini menanam ganja jangan lagi menanam tanaman terlarang tersebut, tetapi menggantinya dengan tanaman produktif dan bernilai ekonomi lainnya,” pungkas Iptu Narsyah.

Editor: Akil Rahmatillah