Beranda blog Halaman 1130

Satres Narkoba Polres Aceh Selatan Musnahkan Satu Hektare Ladang Ganja

0
Satres Narkoba Polres Aceh Selatan Musnahkan Satu Hektare Ladang Ganja. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Satuan Reserse Narkotika Obat obatan dan Bahan terlarang (Satres Narkoba) Polres Aceh Selatan memusnahkan tanaman ganja di ladang seluas satu hektare di kawasan hutan Dusun Tanah Munggu, Gampong Durian Kawan Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (31/5/2024).

Pemusnahan ladang ganja tersebut dipimpin langsung oleh Kasatres Narkoba Polres Aceh Selatan Iptu Narsyah Agustian, beserta Tim gabungan yang terdiri dari Personel Satres Narkoba, Sihumas, dan Personel Polsek Kluet Timur.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Mughi Prasetyo Habrianto melalui Kasat Narkoba membenarkan atas pemusnahan ladang ganja di kawasan Kluet Timur seluas satu hektare tersebut.

“Bermula dari informasi masyarakat pada Kamis (30/5/2024) sekira pukul 12.00 WIB, bahwa adanya ladang ganja di kawasan hutan Kecamatan Kluet Timur. Kemudian tim opsnal Kami dari Satres Narkoba melakukan penyelidikan ke lokasi wilayah sesuai yang diinformasikan,” ujarnya.

Selanjutnya pada Jumat (31/5/2024) sekira pukul 09.00 WIB, Tim opsnal berhasil menemukan ladang ganja kurang lebih seluas satu hektare. Kemudian sekira pukul 11.00 WIB dilakukan pemusnahan oleh Tim gabungan.

“Selesai pemusnahan ladang ganja, sekira pukul 14.00 tim gabungan bergerak kembali ke Mako Polres dengan membawa 50 (limapuluh) batang ganja yang dipergunakan sebagai sampel,” tambah Kasat Narkoba.

Kasatres Narkoba mengatakan, pemusnahan ladang ganja tersebut merupakan komitmen Kepolisian kususnya Polres Aceh Selatan dalam memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan obat-obatan terlarang lainnya di wilayah hukum Polres Aceh Selatan.

Menurutnya pemberantasan narkoba tidak akan berhasil kalau hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum, akan tetapi juga butuh peran serta semua elemen masyarakat.

“Kami mengajak masyarakat yang selama ini menanam ganja jangan lagi menanam tanaman terlarang tersebut, tetapi menggantinya dengan tanaman produktif dan bernilai ekonomi lainnya,” pungkas Iptu Narsyah.

Editor: Akil Rahmatillah

Perpusnas dan Prodi SKI Lakukan Alih Media 94 Naskah Kuno di UIN Ar-Raniry

0
Perpusnas dan Prodi SKI Lakukan Alih Media 94 Naskah Kuno di UIN Ar-Raniry. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) telah melakukan alih media terhadap 94 naskah kuno di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 27 hingga 31 Mei 2024, sebagai bagian dari program preservasi dan alih media bahan perpustakaan.

Program ini melibatkan Tim dari Pusat Preservasi dan Alih Media Bahan Perpustakaan Perpusnas terdiri dari Abdul Warhid MP, Muhayar, Ratnawati Nurwahyuningsih, Syahrul Ramadhan, Niko Hartanto, Kusumawardani, dan Ahmad Masykuri.

Ahmad Masykuri menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menyelamatkan informasi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno.

“Kami berupaya memperbaiki fisik manuskrip yang rusak dan melakukan alih media untuk memastikan informasi berharga dalam naskah-naskah tersebut dapat terus diakses oleh generasi mendatang,” ujarnya, Jumat (31/5/2024).

Selain Preservasi dan Alih Media Bahan Perpustakaan, program ini juga mencakup pelatihan bagi mahasiswa Prodi SKI pada Fakultas dan Humaniora UIN Raniry. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam menangani naskah kuno dan menjaga kelestarian khazanah intelektual bangsa.

“Program ini tidak hanya terbatas pada Aceh, tetapi juga merupakan bagian dari upaya penyelamatan naskah kuno di berbagai daerah, termasuk NTB dan Kalimantan,” tambah Ahmad Masykuri.

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Syarifuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Perpustakaan Nasional RI.

“Kami sangat berterima kasih atas inisiatif Perpusnas dalam menyelamatkan naskah-naskah kuno yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi,” kata Syarifuddin.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk kolaborasi lebih lanjut antara Perpusnas dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam upaya melestarikan khazanah intelektual bangsa.

Sementara itu, Ketua Prodi SKI Hermansyah menjelaskan bahwa ada 94 naskah kuno yang dilakukan upaya preservasi dan alih media.

Tercatat sebanyak 42 naskah kuno berasal dari akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan juga dari koleksi yang dimiliki masyarakat.

Sementara 52 koleksi naskah kuno yang dilakukan alih media merupakan koleksi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

“Penanganan naskah dilakukan lengkap mulai dari preservasi sampai alih media. Namun tidak semua naskah dilakukan preservasi, namun semua naskah dilakukan alih media pada kegiatan ini,” ungkap Herman yang juga selaku Ahli naskah kuno (Filolog) Aceh.

Editor: Akil Rahmatillah

Pesantren Babun Najah Banda Aceh Terbakar, 12 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pondok Pesantren Babun Najah di Jalan Kebon Raja, Desa Doy, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, terbakar pada Senin (3/6/2024) dini hari.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 00.15 WIB ini menyebabkan 12 santri mengalami sesak napas akibat menghirup asap tebal sehingga dilarikan ke Rumah Sakit.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, Muhammad Hidayat mengatakan api pertama kali terlihat di salah satu ruangan di lantai 3 pesantren yang dalam keadaan kosong dan digunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang. 

“Para santri panik dan berusaha memadamkan api dengan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), namun api yang besar tidak dapat dipadamkan,” kata Hidayat dalam laporannya yang diterima Nukilan.

Hidayat mengatakan, sebanyak tujuh unit armada pemadam kebakaran dari Kota Banda Aceh dan lima unit armada pemadam kebakaran dari Kabupaten Aceh Besar dikerahkan ke lokasi kejadian. Petugas berhasil memadamkan api sekitar pukul 00.40 WIB.

“Sebanyak 12 orang status sesak nafas telah dilarikan ke Rumah Sakit, namun bangunan terdampak lantai 3 yang terbakar berjumlah 3 ruangan,” pungkasnya.

Penyebab kebakaran masih dalam pengembangan penyidikan pihak kepolisian.

Reporter: Rezi

UMKM di Aceh Perlu Segera Adaptasi Transaksi Digital, Ini Sebabnya

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bank Syariah Indonesia (BSI) menilai bahwa para pelaku UMKM di daerah itu untuk terbiasa bertransaksi secara digital, salah satunya seperti layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) karena akan memberi banyak manfaat dan kemudahan.

“Kita berharap seluruh UMKM di Aceh sudah harus mengikuti perkembangan zaman, dengan digitalisasi, karena akan sangat memudahkan dan efisien,” kata Deputi Funding dan Transaction Business BSI Regional I Aceh Agung W Rahardjo di Banda Aceh, Minggu.

Hal itu disampaikan Agung di sela-sela mengisi talk show UMKM go digital dalam acara Karya Nyata Festival Vol.7 yang digelar Rumah BUMN Aceh atas dukungan Kementerian BUMN, serta BSI dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Banda Aceh.

Ia menjelaskan, BSI terus mengajak seluruh masyarakat di daerah Tanah Rencong itu untuk menggunakan transaksi pembayaran melalui layanan QRIS dan BSI mobile. Terutama bagi pelaku UMKM, karena dapat memberi banyak manfaat dalam aktivitas usaha.

“BSI menyiapkan QRIS dan BSI mobile ini untuk menjadi jembatan bagi UMKM dalam bertransaksi di usahanya sehari-hari,” ujarnya.

Seperti layanan QRIS, lanjut dia, dapat membantu kecepatan transaksi, meningkatkan omzet usaha, membantu manajemen waktu, manajemen keuangan karena tertata rapi, serta juga terhindar dapat peredaran uang palsu.

“Karena dengan cash, kita harus menyiapkan uang kembali-an, uang kecil, tetapi dengan QRIS kita tidak memerlukan itu semua,” ujarnya.

Apalagi, kata Agung, Aceh akan menjadi salah satu daerah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI pada 8-20 September 2024. Tentu, banyak peserta maupun pendukung PON XXI yang berkunjung ke Aceh.

Oleh sebab itu, Aceh dituntut untuk siap dengan semua layanan, termasuk layanan bertransaksi dalam setiap perbelanjaan yang harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang serba digitalisasi.

“Kita berharap nanti pelaku UMKM dapat melayani para peserta PON atau kontingen PON dengan kemudahan bertransaksi apapun di Aceh dengan digitalisasi,” ujarnya.

Di samping itu, BSI juga mengajak masyarakat Aceh secara umum untuk terbiasa menggunakan layanan QRIS dalam aktivitas bertransaksi sehari-hari.

“Mulai lah pakai QRIS, karena lebih cepat, tidak perlu ke ATM, fleksibel dan lainnya, sehingga transaksi keuangan masyarakat Aceh bisa sejajar dengan kota lain. Jangan sampai kita terbiasa tunai, akhirnya ke kota lain yang membiasakan non tunai, maka kita akan kewalahan,” ujarnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Korban Angin Puting Beliung Kecamatan Leupung Terima Bantuan Masa Panik Pemkab Aceh Besar

0
Korban Angin Puting Beliung Kecamatan Leupung Terima Bantuan Masa Panik Pemkab Aceh Besar. (Foto: Pemkab ABES)

NUKILAN.id | Jantho – Korban terdampak angin puting beliung di Gampong Pulot Kecamatan Leupung atas nama Adnan Muhammad dan keluarga, menerima bantuan masa panik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar yang disalurkan melalui Dinas Sosial Aceh Besar.

“Ya tadi, Pak Pj Bupati Aceh Besar langsung memerintahkan kami untuk bergerak mengantar bantuan masa panik berupa pangan untuk korban angin kencang di Kecamataan Leupung,” kata Plt Kadis Sosial Aceh Besar Aulia Rahman SSTP MSi, di Leupung, Aceh Besar, Sabtu (01/06/2024).

Kemudian,  Aulia Rahman menyampaikan untuk warganya yang terkena musibah semoga tabah dan sabar dalam menghadapi musibah ini.

“Semoga bantuan yang diserahkan bermanfaat dan dapat sedikit mengurangi beban dari para korban. Insya Allah Pemerintah Kabupaten Aceh Besar selalu hadir di tengah warganya yang tertimpa musibah,” ujarnya.

Aulia Rahman mengimbau agar warga senantiiasa waspada terhadap cuaca ekstrim saat ini, yang dibarengi dengan angin kencang, karena dapat memicu berbagai kejadian yang dapat berujung bencana.

“Cuaca saat ini sedang ekstrim, jadi kami harap warga senantiasa waspada terhadap cuaca saat ini,” imbaunya.

Ia menambahkan, Berdasarkan informasi yang diterima Dinsos Aceh Besar, rumah milik Adnan Muhammad yang diterpa Angin puting beliung terjadi pada hari Rabu 29 Mei 2024 sekitar pukul 14 :00 WIB.

“Sebagian atap rumah milik korban mengalami kerusakan dan tidak ada korban jiwa,” pungkasnya

Editor: Akil Rahmatillah

Nelayan Dari Tiga Kapal Asal Aceh Timur Yang Sempat Ditangkap Thailand Kini Pulang

0
Nelayan Dari Tiga Kapal Asal Aceh Timur Yang Sempat Ditangkap Thailand Kini Pulang. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 35 nelayan Aceh yang ditangkap otoritas Thailand pada Oktober 2023 lalu akhirnya dipulangkan. Mereka diantar hingga ke kampung halaman masing-masing.

Para nelayan yang berangkat melaut menggunakan tiga kapal yakni KM Rahmad Jaya yang membawa 29 crew, kemudian KM Iklas Baru yang membawa 16 crew, dan KM Kambia Star membawa 12 Crew. dikeluarkan dari penjara pada 26 April 2024 lalu.

Kini mereka akan dibawa pulang ke Indonesia pada 31 Mei 2024 dari Thailand, Bangkok melalui bandara Don Moeang menuju Bandara Kualanamu, Medan, Jumat (31/5/2024) besok.

“Mereka terbang melalui Don Moeang, Bangkok dan akan tiba besok. nelayan ini akan pulangkan ke Aceh besok,” kata mail, kamis (30/5/2024).

Sebelumnya Tiga kapal nelayan Asal Aceh, Dari Kabupaten Aceh Timur, Indonesia yang membawa 40 orang awak ditangkap di wilayah perairan negara Thailand. Penangkapan itu dilakukan pada Minggu (8/10/2023).

Panglima Laot Luncurkan Beasiswa Kompetitif Khusus Anak Nelayan
Jadwal SIM Keliling Aceh Timur Hari Senin (27/5) Hingga Sabtu Mudah & Cepat.

“Ditangkap pada malam (hari Minggu) dan sekarang sudah dibawa ke Prom Lam Thep Chelong Police (Markas kepolisian perairan negara Thailand),” kata Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek di Banda Aceh, Selasa (10/10/2023).

Ketiga kapal yang ditangkap tersebut berasal dari Idi, Kabupaten Aceh Timur. Tiga kapal itu bernama  KM Rahmad Jaya yang membawa 29 crew, kemudian KM Iklas Baru yang membawa 16 crew, dan KM Kambia Star membawa 12 Crew.

“Kapal tersebut berkapasitas mesin antara 24 hingga 29 gorsston,” ujarnya.

Miftach menyebutkan, ketiga kapal tersebut ditangkap karena diduga telah melakukan penangkapan ikan dan masuk ke wilayah perairan negara Thailand secara ilegal.

“Penyebabnya masuk wilayah perairan Thailand,” kata Miftach.

Editor: Akil Rahmatillah

14 Tahun Wafatnya Hasan Tiro, Sejarah Perjuangan Hingga ‘Dekrit Keramat’ di Camp Batee Iliek

0
Wali Neugara Aceh. Hasan Tiro. (Foto: Dialeksis)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Hari ini, 3 Juni 2024, tepat 14 tahun sejak wafatnya deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk Muhammad Hasan di Tiro. Pada Kamis, 3 Juni 2010 silam, Hasan Tiro mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Dari penelusuran digital Nukilan.id, diketahui Hasan Tiro meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama 12 hari di RSUDZA. Meskipun telah puluhan tahun menetap di luar negeri, Hasan Tiro kembali ke tanah kelahirannya, meninggal, dan dimakamkan di Aceh.

Ketua tim dokter yang menangani Hasan Tiro saat itu, (alm) dr Andalas SPOG, menyatakan bahwa Wali Neugara Aceh ini meninggal akibat komplikasi penyakit yang dideritanya, terutama infeksi saluran pernapasan dan paru-paru yang menyebabkan jantungnya drop.

Hasan Tiro meninggal dunia dikelilingi oleh keluarga dekat dan mantan petinggi GAM, seperti Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. Sebagai deklarator GAM, Hasan Tiro dikenal sebagai figur yang mengukir sejarah konflik Aceh dengan tinta emas.

Hasan Tiro dikenal meninggalkan kehidupan mewah dan keluarga yang dicintainya untuk mengobarkan semangat perjuangan. Dia merekrut banyak pemuda, tokoh, dan masyarakat untuk ikut berjuang bersamanya di dalam hutan.

Setelah mendeklarasikan GAM di Gunung Halimon, Pidie, pada 4 Desember 1976, Hasan Tiro menjadi orang yang paling diburu oleh tentara pemerintah saat itu. Ia bergerilya, keluar-masuk hutan untuk memperkuat gerakan, merekrut anggota, dan merancang strategi perlawanan terhadap Indonesia.

Pada akhirnya, Hasan Tiro mengasingkan diri ke luar negeri dan menetap di Stockholm, Swedia bersama elite-elite pendiri GAM di masanya. Hasan Tiro kembali ke Aceh pada 11 Oktober 2008 setelah 30 tahun berada di luar Indonesia, terus menyemarakkan semangat ideologi GAM dari luar negeri.

Hasan Tiro, putra kelahiran Tiro, Pidie, Aceh, pada 25 September 1925 ini, tutup usia pada 3 Juni 2010 dan dimakamkan di Meureu, Indrapuri, Aceh Besar. Kepergiannya meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah panjang perjuangan dan perdamaian di Aceh.

Dalam sejarah perjuangannya, sosok Hasan Tiro memiliki sejumlah kolega dan menteri kabinet yang dibentuknya untuk memperjuangkan Aceh menjadi sebuah negara. Di antara para kabinet tersebut seperti dr Teungku Mochtar Hasbi yang menjabat sebagai Majelis Mentroe dan juga Mendagri saat itu. Ada juga nama dr Zubir Mahmud yang menjabat sebagai Menteri Sosial.

Kemudian Tengku Ilyas Leubee sebagai Menteri Keadilan Negara, dan juga Amir Mahmud, abang dari Malik Mahmud. Lalu ada nama dr Zaini Abdullah dan juga dr Husaini Hasan sebagai Sekretaris Negara dan disebut-sebut orang paling dekat dengan Hasan Tiro.

Pada suatu ketika, menurut Dr Husaini Hasan, Hasan Tiro pernah menitipkan pesan atau amanah tentang siapa yang akan memimpin perjuangan jika dirinya meninggal dunia.

Dikutip dari Serambinews.com, Dr Husaini Hasan pada Selasa (11/12/2018) silam mengakui adanya pesan tersebut.

“Iya. Bahwa dulu kami membuat siapa yang akan memimpin perjuangan jika wali tak ada. Hierarkinya menurut kepemimpinan, pertama ada nama dr Mukhtar Hasbi, kemudian Tgk Ilyas Leubee, lepas itu saya, sesudah giliran saya ada dr Zaini Abdullah, lalu ada nama Zubir Mahmud. Sampai itu saja,” kata Dr Husaini dikutip Nukilan.id, Senin (3/6/2024).

Sementara itu, peneliti Hasan Tiro, Haekal Afifa menyebutkan, pesan Hasan Tiro terkait kelanjutan kepemimpinan itu adalah “Dekrit Keramat” Wali Negara Aceh, Tengku Hasan di Tiro. Haekal Afifa sempat menuliskan hal itu di halaman Facebooknya pada Rabu (12/12/2018) silam.

Menurutnya, banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang akan menggantikan tugas Wali Negara Aceh Tengku Hasan Muhammad di Tiro baik saat beliau berhalangan maupun ketika beliau tiada.

“Secara resmi, kala kabinet Aceh Merdeka sudah terbentuk, Wali Neugara mengeluarkan surat keputusan penting terkait hal ini. Surat Keputusan atau ‘Dekrit Wali Negara Aceh’ ini setau saya belum pernah dibatalkan, baik dalam rapat-rapat penting GAM maupun dalam Deklarasi Stavanger di Norwegia pada 21 Juli 2002.” tulis Haekal, dikutip Nukilan.id pada Senin (3/6/2024).

Sehingga, banyak pihak terjebak menempatkan narasi sejarah penting Aceh khususnya tugas dan fungsi yang akan menggantikan sang Wali. Haekal menuliskan, keputusan ini dikeluarkan oleh Tengku Hasan pada Tanggal 15 Maret 1979 di Camp Bateë Iliëk II. Camp terakhir (Camp ke-41) sejak kepulangan Tengku Hasan di Tiro ke Aceh pada tahun 1976.

“Dari Camp inilah, beliau memimpin rapat dan upacara terakhir Aceh Merdeka sejak kepulangannya ke Aceh. Karena, 13 hari sesudah itu (28 Maret 1979) beliau berangkat ke luar negeri melalui perairan Batëe Iliëk,” tulis Haekal lagi.

Di camp ini juga, semua anggota staf Aceh Merdeka menerima seragam militer yang diberikan oleh beberapa orang di Keude Djeunib. Menurut Haekal, dalam catatan Aceh Merdeka, Batée Iliëk memiliki sejarah penting.

Karena, di sana adalah tempat bersejarah perang dahsyat antara Aceh dan Belanda pada tahun 1905. Belanda kala itu di bawah kepemimpinan Van Heutz.

Haekal menjelaskan, Dalam versi asli buku The Price of Freedom: the unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro (Koleksi Leiden) terbitan 1982, Wali Negara menulis Dekrit ini dalam Bahasa Inggris sebagai berikut:

“I signed a Decree stipulating that in my absence the State of Acheh Sumatra shall be governed by the Council of Ministes headed by a Prime Minister and with several Deputy Prime Ministers who, in case of death will replace one another in succession. The Prime Minister is Dr. Muchtar Hasbi with Tengku Ilyas Leubè as First Deputy, Dr. Husaini Hasan the Second Deputy, Dr. Zaini Abdullah the Third Deputy, and Dr. Zubir Mahmud, the Fourth Deputy. That precedent is established by their order of seniority in the leadership of the NLF. The Central Committee of the NLF shall act the emergency legislature to ratify the acts of the Cabinet,”.

Haekal menerjemahkan bunyi pesan Tgk Hasan Tiro sebagai berikut;

“Saya menandatangani keputusan yang menetapkan kondisi Negara Aceh Sumatra apabila saya tidak ada. Maka, Aceh Sumatra Merdeka akan diatur oleh Dewan Menteri yang dipimpin oleh Perdana Menteri bersama beberapa Wakil Perdana Menteri. Jika mereka meninggal akan mengantikan satu sama lain secara berurutan. Perdana Menteri adalah Dr. Muchtar Hasbi dengan Teungku Ilyas Leubée sebagai Wakil Pertama; Dr. Husaini Hasan Wakil Perdana Menteri Kedua; Dr. Zaini Abdullah Wakil Perdana Menteri Ketiga; Dr. Zubir Mahmud Wakil Perdana Menteri Keempat. Urutan ini ditetapkan berdasarkan senioritas mereka dalam kepemimpinan NLF – National Liberation Front. Komite Sentral Aceh Merdeka akan bertidak sebagai Legislatif darurat untuk meratifikasi setiap tindakan Kabinet,”

Menurut Haekal, “dekrit Keramat” ini mendeskripsikan urutan kepemimpinan resmi dalam perjuangan Aceh Merdeka kala gerakan ini didirikan oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Bahkan, dekrit ini menjelaskan kepada generasi Aceh selanjutnya siapa sebenarnya yang lebih senior dalam perjuangan kala itu.

“Dengan sengaja, Tengku Hasan di Tiro mengeluarkan dekrit bersejarah ini di tempat yang penuh dengan darah dan air mata pahlawan Aceh sebagai pesan bahwa sejarah tidak boleh dan tidak bisa dikhianati oleh siapapun.

Terlepas dari apapun, sejarah adalah harga yang harus kita bayar dengan sangat mahal,” demikian Haekal dalam tulisannya.

Reporter: Akil Rahmatillah

Aishah : Jika Dilakukan Secara Tepat, Maka Sesuai dengan Falsafah Pancasila

0
CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah (dok : foto Auliana Nukilan.id)

Nukilan.id | Banda Aceh – Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara, dan pandangan hidup bangsa yang digali dan ditetapkan oleh pendiri bangsa merupakan suatu anugerah yang tiada tara dari Tuhan Yang Maha Esa buat bangsa Indonesia. Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa. Dengan lahirnya lima sila tersebut, Pancasila dapat menyatukan masyarakat dengan segala perbedaan yang ada.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan perwujudan rasa cinta kepada Tanah Air sehingga dapat membangun bangsa dan negara yang lebih baik. Nilai-nilai Pancasila dapat diamalkan dalam bentuk sederhana, seperti saling menghargai, bekerja sama, dan saling menghormati. Berkat Pancasila dengan nilai-nilai inklusivitas, toleransi dan gotong royong keberagaman yang ada menjadi suatu berkah penuntun keberagaman yang dapat dirajut menjadi identitas nasional Bhinneka Tunggal Ika.

Insan Kementerian Keuangan sebagai bagian segenap komponen bangsa dan masyarakat Indonesia agar berkomitmen memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni sebagai bagian dari pengarusutamaan Pancasila dalam seluruh bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Peringatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan sejauh mana bangsa Indonesia telah menerapkan nilai-nilai tersebut dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjaga persatuan, mengutamakan kepentingan bersama, dan menciptakan keadilan sosial.

CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah mengatakan,  Hari Lahir Pancasila adalah sebagai momen untuk merefleksikan nilai dasar yang menjadi landasan negara. Maka, sudah sepatutnya ada upaya pemerintah dalam menjaga kebebasan beragama melalui regulasi dan program sosial, tantangannya terkait intoleransi dan diskriminasi berbasis agama. Sila kedua, masih ada kasus pelanggaran HAM, peningkatan program kemanusiaan, dan bantuan sosial yang manusiawi bukannya jangka pendek namun pemberdayaan dukungan hidup yang layak.

Sila ketiga, kebijakan otonom yang dan pembangunan daerah terpencil yang terhalang konflik horizontal dan juga isu identitas. Sila kelima, demokrasi yang harus terus ditingkatkan apalagi menjelang pilkada, praktik politik menjadi tantangan. Sila kelima, layanan kesehatan diperbaiki, ketimpangan sosial, dan kesulitan ekonomi serta selalu saja masyarakat menengah ke bawah yang menjadi korban atas ketidakadilan yang merata. Kata Aishah, pendidikan juga belum begitu merata dan itu sangat jelas dirasakan.

“Dan menjadi tugas yang seharusnya dalam kebijakan menjadi icramental dan tugas pemimpin untuk mengeksekusi permasahan yang ada,” ucapnya saat diwawancarai Nukilan.id, Minggu (2/6/2024).

Ia juga menyampaikan, bahkan banyak miskonsepsi yang terjadi terkait pemahaman guru mengenai inklusif. Sebagai contoh, sistem masih dengan paradigma lama yang sulit untuk move on dan sangat disayangkan karena kesadaran untuk mengambil pemahaman benar tentang apa itu inklusif. Kemudian, akses pendidikan dan tenaga pendidik masih sangat membutuhkan perhatian. Banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan pengajar dalam segi apapun, namun sulit untuk mendapatkan layanan tersebut dikarenakan biaya hidup saja tidak terpenuhi.

Maka bagaimana mereka mendapatkan tahapan kuiner? Sedangkan tahap primer dan sekunder saja sulit. Ia berharap penyelenggara negara harus lebih melakukan kontemplasi dengan mempertimbangkan berbagai aspek dari suatu masalah, peristiwa, atau konsep. Kalau ini dilakukan maka sangat sesuai dengan falsafah pancasila. Ada nilai religiusnya, estetisnya, dan manfaat emosional dalam kesejahteraan batin. Ada beberapa kasus lain yang terjadi, seperti jual beli organ tubuh yang marak dan butuh penanganan cepat. Di Indramayu human trafficking dan sangat meresahkan.

“Semoga adanya kebebasan dalam mengungkapkan fakta, seperti penayangan investigasi dan masalah karena masyarakat kadang perlu menyaksikannya,” ujarnya lagi.

Tidak hanya itu, perlindungan untuk perempuan yang secara tidak sengaja terlibat dalam perdagangan ganja yang tidak paham akan konsekuensinya karena desakan bermacam macam persoalan hidup masih ada. Penyebabnya beragam karena perempuan lebih mengutamakan perasaan dalam pengambilan keputusan. Maka, keputusan tersebut diambil tidak dilatar belakangi oleh pendidikan, objektifitas hanya mengandalkan emosional, baik dalam hubungan keterlibatan dengan komplotan dan desakan ekonomi.

Sebutnya, di antara masalah-masalah yang dihadapi saat ini, bukan guru saja yang berperan penting dalam pendidikan, tetapi stakeholder juga. Takutnya, nanti akan menghasilkan sistem yang buruk dalam penanganan pendidikan. Selanjutnya, supply demand dan lapangan kerja belum sinkron. Pendidikan dilaksanakan bukan berdasarkan potensi lokal. Jadi, arahnya bukan pengembangan lokal terlebih dahulu. Jadi, jangan menganggap satu jurusan itu seksi sehingga terus menerus dihasilkan, justru tidak tersedia lapangan kerja.

“Namun harus lebih melihat ke dalam dulu yaitu kebutuhannya, maka harus ada perencanaan dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dan ini harus dipikirkan dengan serius,” jelasnya.

Link and match diukur bukan secara khusus, tetapi secara umum, makanya tidak tepat sasaran dalam perencanaan,” pungkasnya []

Reporter : Auliana Rizky

Sie Reuboh: Kuliner Khas Aceh Besar yang Unik dan Tahan Lama

0
Sie reuboh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aceh memang dikenal memiliki banyak kuliner khas dengan cita rasa yang unik. Salah satu kuliner yang terkenal dari Kabupaten Aceh Besar adalah sie reuboh, yang dalam bahasa Indonesia berarti “daging rebus”.

Namun, ini bukan sembarang daging rebus. Sie reuboh memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan dengan daging rebus lainnya, sehingga sering menjadi hidangan favorit saat hari Meugang, sehari sebelum Puasa Ramadan, Idul Adha, dan Idul Fitri.

Dari penelusuran oleh Nukilan.id, sie reuboh dibuat dengan memasak daging sapi beserta lemaknya menggunakan bumbu rempah-rempah dan cuka.

Daging sapi yang digunakan kaya akan nutrisi, seperti protein, asam amino esensial, vitamin, dan berbagai mikronutrien. Cita rasa sie reuboh sangat khas dengan perpaduan pedas, gurih, dan asam, serta aroma semerbak dari cuka yang menggoda.

Menurut laman resmi Pemerintah Aceh, proses pembuatan sie reuboh tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 30 menit. Cara memasaknya juga sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan.

Daging sapi beserta lemaknya dipotong sesuai selera, kemudian dibersihkan dan dicampur dengan bumbu-bumbu seperti cabai kering, cabai rawit, kunyit, jahe, lengkuas, dan cuka. Semua bumbu tersebut tidak perlu dihaluskan sepenuhnya agar biji cabai dapat menempel pada daging.

Setelah bumbu tercampur rata dengan daging, semuanya dimasak dalam kuali tanah dengan api sedang hingga mendidih, mengering, dan daging menjadi empuk. Proses ini menghasilkan sie reuboh yang dapat bertahan hingga berbulan-bulan jika dipanaskan secara teratur.

Sie reuboh merupakan hidangan wajib saat tradisi meugang di Aceh. Pada hari ini, satu keluarga akan beramai-ramai memasak sie reuboh dan menyantapnya bersama. Ketahanan sie reuboh yang lama juga membuatnya sering disimpan sebagai hidangan sahur di hari-hari berikutnya selama Puasa Ramadan.

Reporter: Akil Rahmatillah

Madrasah di Aceh Terapkan Sistem Digital untuk Pengelolaan Keuangan

0
Madrasah di Aceh Terapkan Sistem Digital untuk Pengelolaan Keuangan. (Foto: InfoPublik)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pembelajaran di madrasah di Provinsi Aceh tidak lagi hanya mengandalkan platform digital untuk menjelajahi ilmu, namun juga telah merambah ke penggunaan sistem digital dalam pengelolaan keuangan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, H. Zulkifli, pada acara pembukaan bimbingan teknis dan pendampingan EDM e-RKAM Rombel 3, yang berlangsung di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Jumat (31/5/2024).

“Saat ini madrasah sudah melaksanakan pembelajaran secara digital, baik dari segi prasarana maupun konten pembelajarannya. Namun, tidak cukup sampai di situ. Untuk memastikan madrasah melaksanakan programnya, saat ini sudah mulai diawasi dalam pengelolaan dan penganggarannya secara digital melalui aplikasi e-ERKAM,” tegasnya.

Lebih lanjut, Zulkifli menjelaskan kepada peserta bimbingan teknis bahwa pengawas madrasah, selaku perpanjangan tangan dari Inspektorat Jenderal (Itjen), dapat langsung memantau secara daring tata kelola keuangan madrasah mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga realisasi.

“Pengawas madrasah juga dapat langsung memantau melalui E-RKAM madrasah, sehingga pengawas dapat memberikan masukan langsung kepada madrasah serta melaporkan tata kelola keuangan madrasah binaannya kepada kepala kantor,” ungkapnya.

Acara tersebut diikuti oleh kepala madrasah dan bendahara dari 21 Madrasah, dan berlangsung selama 4 hari, mulai dari Rabu, 29 Mei hingga Sabtu, 1 Juni 2024.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Kelembagaan, Salimuddin SAg, turut hadir sebagai pengajar. Hadir pula Agussalim SFilI MA dari jajaran Bidang Penmad, serta tim inti provinsi yang diwakili oleh Dra Ina Rizkina MPd, Kepala Madrasah MTsN 4 Banda Aceh.

Editor: Akil Rahmatillah