Beranda blog Halaman 1073

Pengemis Asal Pidie Ditemukan Bawa Uang Rp 20 Juta di Muelaboh

0
Ilustrasi pengemis. (Businesstoday)

NUKILAN.id | Meulaboh – Khairul Mursalin, seorang pengemis asal Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Aceh, yang ditemukan memiliki uang tunai sebesar Rp 20 juta, telah dipulangkan ke daerah asalnya. Uang tersebut diduga hasil dari aktivitas mengemis yang dilakukan oleh Khairul di wilayah Aceh Barat.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat, Hendri Marlianda, menyatakan bahwa Khairul telah meninggalkan Aceh Barat setelah kejadian ini. “Pengemis yang sebelumnya tertangkap ini sudah pulang meninggalkan Aceh Barat,” kata Hendri Marlianda dilansir Antara, Minggu (30/6/2024).

Hendri menjelaskan bahwa Khairul Mursalin telah diingatkan untuk tidak lagi mengemis. Jika ditemukan kembali, pemerintah daerah akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan Qanun (Peraturan Daerah) Aceh Barat Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Ketentraman Masyarakat dan Ketertiban Umum. Qanun tersebut mengatur bahwa setiap pengemis dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara dan sanksi lainnya sesuai peraturan yang berlaku.

Menurut Hendri, petugas tidak menemukan identitas resmi atau kartu tanda penduduk (KTP) dari Khairul Mursalin. Selama berada di Meulaboh, Khairul menginap di sebuah losmen di pusat pasar setempat dan diduga melakukan aktivitas meminta-minta.

Uang tunai sebesar Rp 20 juta yang ditemukan juga telah dikembalikan. Hendri Marlianda menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Barat akan terus menindak tegas setiap peminta-minta yang kedapatan mengemis di daerah tersebut dengan menerapkan qanun yang berlaku.

Khairul Mursalin, yang mengaku sebagai warga Desa Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, ditemukan oleh petugas Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Barat di kawasan Lapang, Meulaboh, ibu kota kabupaten setempat pada Selasa (25/6) lalu. Saat itu, Khairul sedang meminta-minta pada sejumlah pedagang di ruas Jalan Sisingamangaraja, Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika menemukan aktivitas meminta-minta di wilayah mereka. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga ketertiban umum dan memastikan bahwa aturan yang berlaku dijalankan dengan baik demi kenyamanan bersama.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga menekankan pentingnya dukungan dari seluruh elemen masyarakat dalam upaya menjaga ketentraman dan ketertiban di daerah ini.

Editor: Akil Rahmatillah

Cuaca Buruk di Selat Malaka, Harga Ikan Laut di Aceh Melonjak

0
Cuaca Buruk di Selat Malaka, Harga Ikan Laut di Aceh Melonjak. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Cuaca buruk seperti angin kencang dan gelombang tinggi masih melanda kawasan perairan Selat Malaka, Provinsi Aceh. Akibatnya, sebagian nelayan tradisional pengguna kapal kayu atau perahu mesin memilih untuk menunda melaut.

Dampak dari kondisi ini adalah kenaikan harga ikan laut segar di kawasan pesisir Selat Malaka, termasuk di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe.

Amatan Media Indonesia pada Sabtu (29/6/2024) di pasar ikan Kota Sigli, Ibukota Kabupaten Pidie, menunjukkan bahwa harga ikan tongkol naik dari Rp25.000 per kg menjadi Rp35.000 per kg dalam dua pekan terakhir. Ikan dencis yang sebelumnya dijual seharga Rp20.000 per kg kini naik menjadi Rp35.000 per kg.

Harga ikan gembung juga mengalami kenaikan signifikan dari Rp25.000 per kg menjadi Rp40.000 per kg. Sementara itu, harga udang ukuran sedang naik dari Rp60.000 per kg menjadi Rp80.000 per kg. Udang windu ukuran besar yang sebelumnya dijual Rp120.000 per kg kini naik menjadi Rp130.000 per kg.

“Semua jenis ikan sedang melonjak harga. Ini karena produksi ikan nelayan perairan Selat Malaka lepas pantai Aceh berkurang. Banyak nelayan takut diterjang gelombang badai,” tutur Abdul Muthalib, seorang pedagang ikan segar di Pasar Pante Teungoh, Kota Sigli, Sabtu (29/9/2024).

Menurut Abdul, mahalnya harga ikan laut segar berkaitan langsung dengan kondisi cuaca buruk di Selat Malaka. Nelayan kecil yang biasanya melaut setelah subuh dan kembali menjelang siang kini harus mengurungkan niat mereka karena ketinggian gelombang berkisar 1 hingga 2 meter, ditambah lagi dengan angin kencang yang sering terjadi tiba-tiba.

Para nelayan tradisional di pesisir Selat Malaka berharap agar kondisi cuaca segera membaik. Terhentinya aktivitas ratusan nelayan tradisional sangat mempengaruhi harga ikan segar, dan lebih dari itu, berdampak langsung pada kehidupan ekonomi mereka. Meskipun pendapatan dari melaut terhenti, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak tetap tidak dapat dihindari.

“Bukan saja warga daratan yang harus membeli ikan laut segar dengan harga tinggi, pendapatan nelayan kecil juga terhenti karena sulit turun berlayar,” tambah Mukhtar, nelayan di Desa Pusing, Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie.

Editor: Akil Rahmatillah

Kepala Kanwil Kemenag Aceh Hadiri Seminar Kebangsaan Bersama Gus Yahya dan Tu Sop

0
Kepala Kanwil Kemenag Aceh Hadiri Seminar Kebangsaan Bersama Gus Yahya dan Tu Sop. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si., menghadiri seminar kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh bekerja sama dengan Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB-HUDA) pada Sabtu, (29/6/2024).

Seminar yang bertajuk “Mencari Pemimpin Ideal untuk Aceh” ini digelar di Hotel Grand Syari’ah, Lamdom Lueng Bata, Banda Aceh, dan menghadirkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, serta Ketua Umum PB-HUDA, Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop), sebagai pemateri utama.

Sekretaris PWNU Aceh, Tgk. Asnawi M. Amin, yang juga Pengurus PW Anshor, didampingi Ketua Panitia Seminar Kebangsaan, Abi Bayu (Tgk. Hasbi Albayuni) yang juga Sekjen PB-HUDA, menyampaikan bahwa Kakanwil dan jajaran PWNU serta PD HUDA sebelumnya telah menyambut kedatangan Ketum PBNU, Gus Yahya, di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) pada pagi hari.

Kedatangan Gus Yahya di Aceh disambut oleh Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, di ruang VIP Bandara Internasional SIM. Mustasyar PBNU, Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG, atau yang akrab disapa Abu MUDI, ikut melakukan peusijuek di Pendopo Gubernur Aceh bersama Pengasuh Dayah Ma’ahadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra), Waled Nuruzzahri (Waled Nu), yang juga Rais Syuriyah PWNU, dan Ketua PB HUDA, Abu Sibreh.

Dalam kesempatan tersebut, Kakanwil Azhari juga mengabadikan momen bersama para Pengurus PBNU, seperti Sekjen PBNU KH Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bendahara Umum KH Gudfan Arif Ghofur. Kabag TU Kanwil Kemenag Aceh, Ahmad Yani, S.Pd.I., menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi ajang reuni bagi Azhari dan Gus Ipul yang sudah lama bersahabat.

Tgk. Asnawi, yang akrab disapa Gus Nawi, dan tahun lalu menjadi Ketua Kloter 12 BTJ, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menjelang pelantikan Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh periode 2023-2028 yang akan berlangsung pada 17 Juli 2024. Kedatangan Gus Yahya ke Aceh juga bertujuan untuk menghadiri pelantikan Pengurus HUDA yang akan berlangsung esok hari, Minggu.

Dalam seminar, Gus Yahya menyampaikan bahwa pemimpin yang ideal harus memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, baik dalam bidang agama maupun urusan duniawi. Tu Sop juga mengajak umat untuk memilih pemimpin yang benar-benar ahli dan mengingatkan bahwa masyarakat harus cerdas dalam memilih pemimpin.

Seminar kebangsaan ini turut dihadiri oleh PB-HUD, para Pengurus PWNU Aceh dan PB-HUDA, Rektor UIN, serta undangan dari partai politik dan pejabat daerah lainnya.

Editor: Akil Rahmatillah

BMKG Prediksi Cuaca Aceh Tiga Hari Kedepan, Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi

0
Ilustrasi Hujan. (foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) memprediksi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Aceh untuk tiga hari ke depan. Berdasarkan prakiraan cuaca tersebut, wilayah Provinsi Aceh umumnya akan mengalami cuaca cerah hingga cerah berawan.

Namun demikian, BMKG mengingatkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir serta angin kencang di beberapa wilayah. Hal ini disebabkan oleh adanya daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) serta belokan angin (shearline) di wilayah Aceh.

Selain itu, labilitas lokal yang kuat juga terpantau di wilayah Aceh, yang mendukung proses konvektif pada skala lokal. Kondisi ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Aceh.

Sebelumnya, BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi yang mencapai 2,5 meter di perairan Aceh dalam beberapa hari ke depan. Secara umum, ketinggian gelombang di Provinsi Aceh diperkirakan dalam kategori tenang hingga sedang pada Sabtu (29/6/2024).

Namun, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi yang mencapai ketinggian 2,5 meter atau lebih di wilayah Perairan Utara Sabang, Selat Malaka Bagian Utara, Perairan Barat Aceh, Samudera Hindia Barat Aceh, dan sekitarnya.

Meski demikian, gelombang di pelabuhan penyeberangan, baik Banda Aceh-Sabang maupun Meulaboh-Sinabang, masih relatif aman untuk aktivitas pelayaran.

Dengan adanya prakiraan cuaca ini, masyarakat diimbau untuk selalu memperhatikan informasi dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Editor: Akil Rahmatillah

Pj Gubernur Aceh Sambut Kehadiran Ketum PB NU di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda

0
Pj Gubernur Aceh Sambut Kehadiran Ketum PB NU di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, menyambut kedatangan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), KH Yahya Cholil Staquf, di ruang VIP Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Sabtu (29/6/2024).

Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Iskandar, yang turut mendampingi Gubernur, menjelaskan bahwa kehadiran Ketum PB NU ke Aceh dalam rangka menghadiri pelantikan Pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).

“Alhamdulillah, baru saja Pak Gubernur menyambut kedatangan Ketum PB NU, Pak Kyai Yahya Cholil Staquf. Kedatangan beliau ke Aceh dalam rangka menghadiri pelantikan Pengurus HUDA yang akan berlangsung besok (Minggu, 30/6),” ujar Iskandar.

Sejumlah ulama Aceh turut menyambut kedatangan Ketum PB NU, di antaranya Ketua Pengurus Wilayah NU Aceh yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, Tgk Faisal Ali atau yang akrab disapa Lem Faisal.

Hadir juga pengasuh Dayah Ma’ahadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra), Tgk Syekh Hasanoel Bashry atau yang akrab disapa Abu MUDI, yang juga menjabat sebagai Mustasyar PB NU.

Selain itu, hadir pula pengasuh Dayah Ummul Ayman, Tgk Nuruzzahri atau yang akrab disapa Waled Nu, serta Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah, Tgk Muhammad Yusuf A Wahab atau yang akrab disapa Tu Sop Jeunieb.

Setibanya di Aceh, Ketum PB NU disambut dengan tari Ranub Lampuan. Setelah beristirahat sejenak, KH Yahya Cholil Staquf bertolak ke Meuligoe Gubernur Aceh untuk menjalani prosesi adat Peusijuek. Prosesi Peusijuek Ketum PB NU dilakukan oleh Waled Nu.

Editor: Akil Rahmatillah

Perkumpulan Masyarakat Gayo di Banda Aceh Rencanakan Pendirian Masjid

0
Juru Bicara Perkumpulan masyakat Gayo Banda Aceh, Yusuf Sabri. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perkumpulan masyarakat Gayo yang berdomisili di Banda Aceh berencana akan mendirikan tempat ibadah masjid di ibukota provinsi Aceh.

Hal tersebut di sampaikan oleh Juru Bicara (Jubir) Perkumpulan masyakat Gayo Banda Aceh, Yusuf Sabri melalui keterangan tertulisnya yang di terima media ini pada Sabtu (29/6/2024). Yusuf mengatakan wacana ini digagas atau diinisiasi oleh para masyarakat Gayo Banda Aceh .

“Ide pembangunan masjid ini dilandaskan pada niatan untuk tersedianya tempat ibadah sekaligus wadah bersilaturahmi bagi banyaknya jumlah masyarakat Gayo yang telah menetap di Banda aceh,” Kata Yusuf.

“Dan tentu saja sebaik-baik tempat berkumpul dan bersilaturahmi adalah sebuah masjid,” tambahnya.

Yusuf menyebutkan dalam waktu dekat berencana akan melakukan musyawarah dengan para tokoh Gayo yang berada di banda Aceh untuk menindaklanjuti wacana pendirian masjid tersebut.

“Kita juga sudah melakukan komunikasi dengan beberapa tokoh Gayo yang ada di Banda Aceh untuk memusyawarahkan pendirian masjid masyakat Gayo,” sebutnya.

Yusuf berharap agar pengimplementasian ide pendirian masjid ini dapat terlaksana dalam waktu dekat dengan dukungan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat Gayo.

“Tidak hanya sebagai tempat ibadah ilahiah, berdirinya masjid ini nanti juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat studi Islam, tempat kegiatan sosial, dan pusat kegiatan lainnya yang bermanfaat ,” tutupnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Teuku Irwan Djohan Rencanakan Bawa Banda Aceh Menuju Kota Kreatif dan Toleran

0
Bakal calon wali kota Banda Aceh, T. Irwan Djohan, saat di podcast SagoeTv. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam sebuah Podcast di Youtube SagoeTv, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Teuku Irwan Djohan mengungkapkan niatnya ingin maju sebagai calon wali kota Banda Aceh.

Dalam wawancara itu, host menanyakan arah pembangunan Kota Banda Aceh kepada Politisi Nasdem tersebut. Dalam Podcast tersebut dia menanggapi pertanyaan mengenai visi dan tujuannya untuk kota tersebut.

“Iya, yang pasti ke arah yang lebih baik ya. Saya sedang menyusun dan menampung aspirasi publik, mendengarkan harapan dari masyarakat, dari berbagai komunitas dan kelompok,” ungkap Teuku Irwan Djohan, dikutip dari Youtube SagoeTv, Sabtu (29/6/2024).

Dalam menjawab pertanyaan tentang arah yang ingin diambil untuk Banda Aceh, Teuku Irwan Djohan menegaskan, bahwa dirinya ingin membawa Kota Banda Aceh menjadi kota yang kreatif dan toleran.

“Meskipun bisa berubah dalam beberapa waktu ke depan, saya ingin Banda Aceh menjadi kota yang kreatif, inovatif, serta toleran, dengan pemerintahan yang amanah,” ungkapnya.

Dalam upaya menuju pemilihan wali kota mendatang, Teuku Irwan Djohan berkomitmen untuk terus mendengarkan dan mewujudkan aspirasi serta harapan masyarakat, sebagai bagian dari visi membangun Banda Aceh yang lebih maju dan berdaya saing.

Berita ini mencerminkan komitmen dan visi dari Teuku Irwan Djohan dalam memimpin Banda Aceh ke arah yang lebih baik, dengan memperhatikan berbagai aspirasi dan kebutuhan masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Usulan Pembangunan Museum Perdamaian di Aceh, Gabung dengan Museum Tsunami?

0
Museum Tsunami. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pada tahun 2017 lalu, anggota DPR RI asal Aceh, Nasir Djamil, mengusulkan agar pemerintah Aceh membangun Museum Perdamaian. Usulan ini mendapat dukungan dari anggota DPR Aceh yang juga pernah menyuarakan hal serupa beberapa tahun sebelumnya.

Museum Perdamaian diharapkan dapat menjadi sarana untuk merawat memori kolektif rakyat Aceh terhadap konflik yang pernah terjadi di daerah tersebut. Selain itu, museum ini juga bisa menjadi tempat rujukan untuk penelitian, pengembangan, dan pembelajaran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penyelesaian konflik.

Pemerintah Aceh sendiri telah menyiapkan lahan di Jalan Soekarno-Hatta untuk pembangunan museum ini. Namun, hingga kini belum tampak tanda-tanda akan dimulainya pembangunan.

Menurut beberapa pihak, alangkah lebih baik jika Museum Perdamaian digabungkan dengan Museum Tsunami Aceh. “Museum Tsunami dan Perdamaian Aceh” bisa menjadi nama yang mencerminkan kedua peristiwa penting tersebut. Apalagi, lantai 3 Museum Tsunami Aceh masih kosong dan belum banyak terisi. Dengan demikian, penggabungan ini diharapkan dapat menghemat anggaran.

Untuk mengetahui pendapat warga, tim Nukilan.id melakukan wawancara dengan beberapa warga di Banda Aceh. Salah satu warga, Salah satu warga, Rahmad, berpendapat bahwa penggabungan Museum Perdamaian dengan Museum Tsunami merupakan ide yang baik karena dapat menghemat biaya dan memungkinkan pengunjung untuk belajar lebih banyak dalam satu tempat.

“Menurut saya, penggabungan ini ide yang baik. Selain menghemat biaya, pengunjung bisa belajar lebih banyak dalam satu tempat,” kata Rahmad kepada Nukilan.id, Sabtu (29/6/2024).

Namun, berbeda dengan pendapat Rahmad, Nuraini, seorang ibu rumah tangga, merasa bahwa meskipun ia mendukung adanya Museum Perdamaian, akan lebih baik jika museum tersebut dibangun dalam gedung baru. Ia beralasan bahwa Museum Tsunami sudah memiliki nilai sejarah tersendiri dan mungkin akan lebih baik jika Museum Perdamaian juga memiliki tempat khusus.

“Saya setuju dengan adanya Museum Perdamaian, tetapi alangkah lebih baik jika dibangun gedung baru. Museum Tsunami sudah punya nilai sejarah sendiri, dan mungkin akan lebih baik jika Museum Perdamaian juga punya tempat yang khusus,” ujar Nuraini.

Pendapat warga Aceh ini menunjukkan adanya beragam pandangan mengenai usulan tersebut. Apapun keputusan akhirnya, yang jelas keberadaan Museum Perdamaian diharapkan dapat menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang, serta sebagai simbol penyelesaian konflik dan perdamaian yang abadi di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Perceraian di Aceh Capai 6.091 Kasus pada 2023, Ini Penyebabnya

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kasus perceraian di Aceh menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2023. Berdasarkan data yang dihimpun dari Mahkamah Syariah (MS) di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Aceh, tercatat sebanyak 6.091 perkara perceraian yang ditangani.

Dari data tersebut Nukilan.id melihat ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab perceraian di Aceh, seperti perselisihan dan pertengkaran terus menerus mendominasi dengan jumlah 4.744 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang tidak harmonis antara pasangan suami istri masih menjadi masalah utama yang kerap kali berujung pada perceraian.

Selain itu, terdapat 808 kasus perceraian yang disebabkan oleh salah satu pihak meninggalkan pasangannya. Faktor ini menjadi indikasi adanya masalah kesetiaan dan komitmen dalam rumah tangga yang belum terselesaikan dengan baik.

Ekonomi juga menjadi salah satu penyebab perceraian yang cukup signifikan, tercatat sebanyak 270 kasus. Ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan finansial rumah tangga seringkali memicu konflik yang akhirnya berujung pada perceraian.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) turut menjadi salah satu faktor penyebab perceraian di Aceh, dengan jumlah 108 kasus. KDRT yang terjadi baik secara fisik maupun psikis menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan tidak aman bagi pasangan, sehingga perceraian menjadi pilihan terakhir yang diambil untuk menyelamatkan diri dan anak-anak.

Selain faktor-faktor tersebut, berbagai macam permasalahan lainnya juga turut menyumbang pada angka perceraian di Aceh, meski tidak sebesar faktor-faktor utama yang telah disebutkan.

Peningkatan kasus perceraian ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat Aceh. Upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang baik, pemahaman ekonomi rumah tangga, serta penanganan kekerasan dalam rumah tangga harus terus ditingkatkan. Hal ini penting agar angka perceraian dapat ditekan dan kesejahteraan keluarga dapat terwujud di seluruh wilayah Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Kolonel Laut Andi Susanto Panen Budidaya Udang Vaname di Aceh Utara

0
Kolonel Laut Andi Susanto Panen Budidaya Udang Vaname di Aceh Utara. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Lhokseumawe – Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Lhokseumawe, Kolonel Laut (P) Andi Susanto, bersama perwira stafnya melaksanakan panen budidaya udang vaname di tambak yang dikelola oleh masyarakat binaan Lanal Lhokseumawe. Kegiatan ini berlangsung di Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, pada Jumat (28/6/2024).

Panen udang vaname ini tidak hanya sebagai kegiatan produktif, tetapi juga sebagai motivasi bagi masyarakat lokal dalam mengembangkan potensi budidaya tambak udang sesuai dengan kearifan lokal. Lanal Lhokseumawe turut memfasilitasi pengadaan bibit udang untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah kerjanya.

Kolonel Laut Andi Susanto mengungkapkan bahwa panen udang vaname di tambak seluas 1600 meter persegi ini berjalan sukses dengan hasil yang memuaskan. “Hasil panen ini adalah hasil kerjasama antara Lanal Lhokseumawe dan masyarakat budidaya tambak udang di Aceh Utara, sebagai bagian dari program Kampung Bahari Nusantara yang digagas oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal),” kata Danlanal.

Proses budidaya ini dimulai dengan penyebaran benih udang oleh Lanal Lhokseumawe sebanyak 300 ribu ekor empat bulan lalu, yang kini menghasilkan perkiraan total panen mencapai 6 ton. Pilihan budidaya udang vaname dipilih karena minim risiko dan cocok dengan kondisi iklim tropis di Aceh Utara.

“TNI AL, khususnya Lanal Lhokseumawe, mengajak seluruh masyarakat Aceh Utara untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan lahan kosong untuk dikembangkan menjadi tambak udang atau keramba ikan, yang akan memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi masyarakat,” tambah Danlanal.

Kegiatan panen ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara TNI AL dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui pengembangan sektor perikanan.

Editor: Akil Rahmatillah