Beranda blog Halaman 102

Mensos Salurkan Santunan Rp 4,05 Miliar bagi Korban Bencana di Aceh Utara

0
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyerahkan secara langsung santunan korban meninggal dunia akibat bencana banjir kepada 270 ahli waris di Aula Kantor Bupati Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (24/1/2026). (Foto: Dok. Humas Kementerian Sosial)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyalurkan santunan duka senilai total Rp 4.050.000.000 kepada 270 ahli waris korban bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Penyerahan santunan dilakukan secara langsung di Aula Kantor Bupati Aceh Utara, Sabtu (24/1/2026).

Santunan tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai, masing-masing sebesar Rp 15 juta bagi korban meninggal dunia dan Rp 5 juta untuk korban luka berat. Gus Ipul menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sesuai arahan Presiden, santunan bagi keluarga yang meninggal dunia akibat bencana beberapa waktu yang lalu,” kata Gus Ipul usai kegiatan, Sabtu.

Selain santunan duka, Kementerian Sosial juga mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak. Di Aceh Utara, satu dapur umum mampu memproduksi hingga 6.000 porsi makanan siap saji setiap hari.

Ke depan, setelah para korban menempati hunian sementara (Huntara) maupun hunian tetap (Huntap), Kemensos akan kembali menyalurkan bantuan lanjutan. Bantuan tersebut mencakup perabotan rumah tangga senilai Rp 3 juta per keluarga serta bantuan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 450.000 per orang per bulan selama tiga bulan.

“Dukungan berupa bantuan perabotan rumah senilai Rp 3 juta per keluarga, kemudian bantuan jaminan hidup (jadup) senilai Rp 450.000 per orang per bulan yang akan diberikan selama 3 bulan,” ucapnya.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan pemberdayaan ekonomi bagi korban terdampak bencana sebesar Rp 5 juta per keluarga.

Gus Ipul menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk bersinergi dalam penanganan dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penanganan dilakukan secara bertahap, dimulai dari masa kedaruratan dan evakuasi.

“Di mana yang melakukan evakuasi itu adalah orang-orang yang terlatih. Orang-orang yang memang memiliki kemampuan khusus untuk mengevakuasi korban-korban bencana,” jelasnya.

Khusus di Aceh Utara, bantuan logistik yang telah disalurkan meliputi ratusan paket makanan siap saji dan makanan anak, family kit, perlengkapan sandang dewasa dan anak, kasur, selimut, tenda keluarga dan tenda induk, alat penjernih air, sembako, peralatan ibadah, serta beras reguler sebanyak 2.000 kilogram.

Warga Kuala Simpang Haru Lepas Prajurit TNI AD Usai Tugas Kemanusiaan

0
Warga Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh menangis melepas kepulangan prajurit TNI AD. (Foto: Dok. Dispenad)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Suasana haru menyelimuti Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat warga melepas kepulangan prajurit TNI Angkatan Darat yang telah menuntaskan tugas kemanusiaan membantu penanganan banjir, Rabu (21/1/2026).

Berdasarkan keterangan Dispenad, warga tampak memeluk satu per satu prajurit sambil meneteskan air mata. Mereka menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi prajurit TNI AD yang selama masa tanggap darurat tanpa kenal lelah membantu membersihkan lingkungan, fasilitas umum, sekolah, rumah ibadah, hingga membuka kembali akses jalan yang terdampak banjir.

“Kebersamaan yang terbangun selama penugasan membuat perpisahan terasa berat, baik bagi warga maupun prajurit,” tulis keterangan Dispenad.

Salah seorang guru SD Negeri 04 Kuala Simpang, Supaiah, mengungkapkan apresiasinya atas kepedulian prajurit TNI. Ia menilai, kehadiran prajurit tidak hanya membantu proses pembersihan sekolah, tetapi juga memberikan semangat serta rasa aman bagi para siswa.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan warga lainnya yang merasakan langsung dampak positif kehadiran TNI dalam mempercepat pemulihan lingkungan dan aktivitas sehari-hari. Bantuan yang diberikan dinilai sangat berarti, dilakukan dengan tulus dan penuh kepedulian.

Selama menjalankan tugas kemanusiaan, prajurit TNI AD terjun langsung ke lokasi-lokasi terdampak banjir, bergelut dengan lumpur dan sisa material, serta menghadapi medan yang cukup berat. Kehadiran mereka tidak hanya mempercepat pemulihan fisik lingkungan, tetapi juga memberikan dukungan moril bagi warga yang sempat dilanda kecemasan akibat bencana.

Resmikan Huntara Aceh Tamiang, AHY Tegaskan Rumah Fondasi Utama Pemulihan Warga

0
AHY Resmikan Huntara Aceh Tamiang. (Foto: Kemenko IPK)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meresmikan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang. Peresmian tersebut menandai komitmen pemerintah dalam memastikan penanganan pascabencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan hingga masyarakat benar-benar pulih.

Huntara yang diresmikan merupakan bagian dari total pembangunan 1.217 unit hunian bagi wilayah terdampak bencana. Hunian ini disiapkan agar warga tidak terus bertahan dalam kondisi darurat, melainkan dapat tinggal di tempat yang aman, layak, dan manusiawi sambil menata kembali kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Dalam sambutannya, AHY menegaskan bahwa rumah merupakan kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat, terutama setelah bencana menghilangkan rasa aman dan tempat tinggal warga.

“Rumah adalah segala-galanya bagi masyarakat. Ketika banjir besar dan longsor yang dahsyat menghantam saudara-saudara kita, banyak rumah yang rusak, hancur, bahkan hilang dan hanyut,” ujar AHY dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026).

Peresmian Huntara tersebut dilakukan AHY saat kunjungan kerja di Aceh Tamiang pada Kamis (22/1). Ia menekankan bahwa penanganan pascabencana tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Oleh karena itu, atas direktif dan kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto, pemerintah-khususnya Kementerian Pekerjaan Umum-berada di depan, di garis terdepan, dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” lanjutnya.

Pada tahap awal pemulihan, pemerintah meresmikan 84 unit Huntara yang dibangun di atas lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi. Huntara tersebut terdiri dari tujuh blok, dengan kapasitas 12 keluarga di setiap blok.

“Di atas lahan kurang lebih lima ribu meter persegi ini dibangun tujuh blok. Setiap blok dapat dihuni oleh 12 keluarga, sehingga total ada 84 keluarga yang dapat menempati Huntara ini,” jelas Menko AHY.

AHY menegaskan bahwa Huntara bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal menuju pemulihan menyeluruh sambil pemerintah menyiapkan hunian tetap. Pembangunan Huntara dilakukan dengan prinsip build back better yang mengutamakan kualitas, keselamatan, dan kenyamanan.

“Saya bersyukur karena Huntara ini bukan hanya menyediakan tempat tidur yang lebih layak, melainkan dilengkapi fasilitas pendukung utama, seperti kamar mandi atau toilet, dapur bersama, serta ruang terbuka atau common area untuk warga,” tambahnya.

Selain Aceh Tamiang, pemerintah juga mengoordinasikan pembangunan 163 unit hunian modular di Lubuk Sidup. Pemerintah memastikan standar kualitas hunian di seluruh lokasi setara, tanpa pembedaan, karena seluruh warga terdampak memiliki hak yang sama atas hunian layak.

Pembangunan hunian tersebut juga dilakukan secara paralel dengan penyediaan infrastruktur pendukung, seperti air bersih, sanitasi, drainase, listrik, jalan lingkungan, serta akses terhadap layanan dasar, termasuk sekolah, puskesmas, pasar, dan sumber penghidupan.

Menutup sambutannya, AHY menegaskan bahwa Huntara bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol kehadiran negara dan harapan baru bagi masyarakat terdampak bencana.

“Yang terpenting, kita ingin masyarakat bangkit kembali, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan moral. Ini adalah pesan bahwa negara hadir setiap saat untuk rakyatnya,” tutup AHY.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap daerahnya yang terdampak cukup parah akibat bencana hidrometeorologi.

“Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Aceh Tamiang, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Menko AHY, Bapak Menteri Pekerjaan Umum, beserta seluruh jajaran yang telah banyak membantu kami,” ujar Armia.

Armia menyebutkan Huntara tersebut akan dihuni oleh 84 kepala keluarga dari wilayah terdampak banjir di Kecamatan Karang Baru dan Kota Kuala Simpang dengan total sekitar 305 jiwa. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan dan verifikasi rumah rusak sebagai dasar pembangunan hunian tetap ke depan.

Dalam kunjungan kerja tersebut, AHY turut didampingi Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo beserta jajaran Kementerian PU, Bupati Aceh Tamiang, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Perkuat Pemulihan Pascabencana lewat Latsitardus 2026

0
Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Perkuat Pemulihan Pascabencana lewat Latsitardus 2026. (Foto: TB News)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Polri mengerahkan 169 Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dalam kegiatan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardus) Tahun 2026 guna membantu percepatan pemulihan wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Kegiatan ini menjadi bagian dari operasi kemanusiaan Aman Nusa 2 sekaligus wujud kehadiran negara di tengah masyarakat pascabencana.

Pembukaan Latsitardus 2026 digelar di Yonif Raider Khusus 111/Karma Bhakti. Kegiatan tersebut dihadiri Kapolda Aceh Irjen Pol. Dr. Marzuki Ali Basyah, S.I.K., M.Si., bersama unsur Forkopimda, serta dibuka langsung oleh Bupati Aceh Tamiang selaku Inspektur Upacara.

Latsitardus 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan RI dan diikuti secara terpadu oleh Taruna Akpol, Taruna TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Kegiatan ini bertujuan memperkuat integrasi, soliditas, dan sinergitas lintas matra pertahanan dan keamanan dalam pelayanan kepada masyarakat.

Para taruna diterjunkan langsung ke empat kecamatan terdampak bencana, yakni Karang Baru, Rantau, Kuala Simpang, dan Sekerak. Mereka melaksanakan berbagai misi kemanusiaan, pemulihan infrastruktur, serta penguatan ketahanan sosial masyarakat.

Kapolda Aceh Irjen Pol. Dr. Marzuki Ali Basyah menegaskan bahwa Latsitardus bukan sekadar agenda latihan rutin, melainkan sarana pembentukan karakter pengabdian bagi para taruna.

“Latsitardus ini bukan hanya membangun keterampilan teknis, tetapi membentuk empati, kepekaan sosial, dan jiwa pengabdian. Taruna harus hadir sebagai solusi, bekerja tulus, disiplin, serta menjaga marwah Polri di tengah masyarakat. Inilah wujud nyata Polri Presisi yang humanis dan berorientasi pada pelayanan,” tegas Kapolda Aceh.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati kearifan lokal serta penerapan Qanun di Aceh agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan selaras dengan nilai adat, budaya, dan norma setempat.

Dalam pelaksanaannya, 169 Taruna Akpol dibagi ke dalam empat sub-satgas yang menjalankan program fisik dan nonfisik secara terpadu. Program fisik meliputi normalisasi jalan dari material banjir dan longsor, perbaikan akses desa dan jembatan antar-kampung, pembersihan permukiman warga, serta bantuan rekonstruksi rumah, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas umum yang terdampak.

Sementara itu, program nonfisik difokuskan pada trauma healing dan dukungan psikososial bagi korban bencana, pengelolaan dapur umum disertai edukasi gizi, pelayanan kesehatan dan penyuluhan sanitasi, serta kegiatan edukasi bagi anak-anak guna menjaga semangat belajar dan pemulihan psikologis.

Seluruh rangkaian kegiatan Latsitardus 2026 diarahkan untuk mempercepat pemulihan sosial, ekonomi, dan infrastruktur masyarakat terdampak, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap peran Polri sebagai institusi yang adaptif, responsif, dan humanis dalam situasi kebencanaan.

Dinas Kehutanan Aceh Distribusikan 2.000 Bibit Tanaman Bernilai Ekonomi ke Aceh Barat

0
Dinas Kehutanan Aceh kembali menyalurkan bantuan bibit tanaman produktif kepada masyarakat di Kabupaten Aceh Barat, Sabtu, 24 Januari 2026. (Foto: Dinas Kehutanan Aceh)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Dinas Kehutanan Aceh menyalurkan bantuan sebanyak 2.000 bibit tanaman produktif kepada masyarakat di Kabupaten Aceh Barat, Sabtu (24/1/2026). Penyaluran bibit tersebut dilakukan melalui sejumlah keuchik di Kecamatan Samatiga.

Bantuan ini merupakan bagian dari program Pemerintah Aceh yang bertujuan mendorong peningkatan produktivitas ekonomi gampong melalui pemanfaatan lahan secara optimal.

Proses penyaluran bibit difasilitasi oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IV Meulaboh. Perwakilan KPH IV Meulaboh, Samsul Bahri, menyampaikan bahwa bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat desa, terutama untuk pengembangan kebun rakyat dan peningkatan pendapatan keluarga.

“Bantuan bibit ini merupakan dukungan Pemerintah Aceh agar masyarakat gampong lebih produktif, memanfaatkan lahan yang ada dengan tanaman bernilai ekonomi, sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan,” kata Samsul Bahri.

Adapun jenis bibit yang disalurkan merupakan tanaman produktif untuk jangka menengah dan panjang, yakni mentoa, jamaika, dan durian. Seluruh bibit tersebut dibagikan ke beberapa gampong di Kecamatan Samatiga melalui para kepala desa.

Salah seorang penerima bantuan, Keuchik Gampong Krueng Tingai, Kamaruzzaman, mengapresiasi perhatian Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Kehutanan Aceh dan KPH IV Meulaboh, terhadap masyarakat desanya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan bibit ini. Insya Allah akan kami salurkan dan bagikan kepada masyarakat sesuai peruntukannya, agar benar-benar ditanam dan dirawat dengan baik,” ujar Kamaruzzaman.

Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil kebun warga, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan serta memanfaatkan lahan secara berkelanjutan.

Program penyaluran bibit tanaman produktif ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Aceh dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis gampong, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan di wilayah Aceh Barat.

HMI FKIP USK Kecam Rencana Pengadaan Mobil Dinas BRA Rp20 Miliar di Tengah Bencana Aceh

0
HMI FKIP USK Kecam Rencana Pengadaan Mobil Dinas BRA Rp20 Miliar di Tengah Bencana Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Umum HMI FKIP Universitas Syiah Kuala (USK), Rivaldi, mengecam keras rencana pengadaan mobil dinas Badan Reintegrasi Aceh (BRA) dengan anggaran mencapai Rp20 miliar.

Kepada Nukilan.id, Rivaldi mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak sensitif terhadap kondisi Aceh yang masih dilanda bencana dan duka mendalam.

Menurut Rivaldi, rencana pengadaan itu mencederai nurani publik karena dilakukan saat banyak warga Aceh kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga. Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut moral dan keberpihakan pemerintah kepada rakyat.

“Ketika rakyat Aceh bertahan hidup dari bantuan seadanya, pejabat justru merancang pengadaan mobil dinas bernilai puluhan miliar. Ini adalah potret telanjang ketidakpekaan pemerintah terhadap penderitaan rakyatnya sendiri,” tegas Rivaldi.

Ia menilai, anggaran Rp20 miliar tersebut seharusnya dapat dialihkan untuk penanganan bencana, rehabilitasi rumah warga, bantuan ekonomi, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, di mana rakyat diminta bersabar sementara fasilitas elite tetap diprioritaskan.

Rivaldi juga menyoroti momentum kebijakan tersebut yang muncul menjelang bulan suci Ramadan, ketika kebutuhan masyarakat meningkat dan para korban bencana seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Jika pengadaan ini tetap dipaksakan, maka jelas pemerintah telah kehilangan rasa malu. Negara gagal hadir di saat rakyat paling membutuhkan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan amanat keadilan sosial,” lanjutnya.

Atas dasar itu, HMI FKIP USK mendesak Pemerintah Aceh untuk segera mengevaluasi dan membatalkan rencana pengadaan mobil dinas BRA tersebut. Mereka juga meminta agar anggaran dialihkan secara transparan dan bertanggung jawab untuk kepentingan masyarakat terdampak bencana, agar pemerintah benar-benar hadir sebagai pelindung dan penolong rakyat. (xrq)

Reporter: Akil

Persiraja Ditahan Imbang Persekat di Tegal, Gol Asghal Dianulir Wasit

0
Pemain Persiraja Banda Aceh, Connor Flynn mendapat pengawalan ketat oleh pemain tuan rumah persekat Tegal dalam Laga Lanjutan Liga Championship Pegadaian 2025-2026 pada Sabtu (24/1/2026) sore di Stadion Tri Sanja, Tegal. pertandingan tersebut berakhir dengan skor 0-0. (Foto: Persiraja)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Persiraja Banda Aceh gagal meraih kemenangan saat bertandang ke markas Persekat Tegal pada laga lanjutan Liga Championship Pegadaian 2025–2026. Bermain di Stadion Tri Sanja, Tegal, Sabtu (24/1/2026) sore, kedua tim harus puas berbagi poin usai bermain imbang tanpa gol.

Meski skor berakhir kacamata, Persiraja tampil lebih dominan sepanjang pertandingan. Tim asuhan Akhyar Ilyas kerap menekan pertahanan tuan rumah dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya.

Amatan Nukilan.id, sejak awal laga Akhyar Ilyas langsung menurunkan dua pemain asing di lini depan, yakni Juan Mera asal Spanyol dan Connor Flynn dari Skotlandia, yang dipadukan dengan penyerang muda Asghal Habib. Kombinasi tersebut membuat Persiraja tampil agresif, namun belum mampu memecah kebuntuan.

Berdasarkan catatan statistik, Persiraja melepaskan enam tembakan dengan tiga di antaranya mengarah ke gawang. Sementara Persekat Tegal hanya mampu menciptakan dua peluang sepanjang pertandingan.

Upaya menambah daya serang dilakukan pada menit ke-60 dengan memasukkan gelandang tim nasional Afghanistan, Omid Popalzay, menggantikan Fitra Ridwan. Namun perubahan tersebut belum memberikan hasil maksimal.

Dua menit berselang, Persiraja sempat bersorak setelah Asghal Habib mencetak gol lewat serangan cepat dari sisi kanan. Sayangnya, wasit menganulir gol tersebut karena Asghal dinilai berada dalam posisi offside.

Hingga laga usai, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Persiraja pun harus puas membawa pulang satu poin dari Tegal. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa FE USM Salurkan Bantuan untuk Dosen Terdampak Banjir

0
Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh saat menerima bantuan sembako dari mahasiswa. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah (USM) menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang terdampak bencana banjir di sejumlah wilayah Aceh.

Bantuan tersebut diserahkan secara langsung oleh Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi USM, Samsul Ikhbar, SE, MM, di lingkungan Fakultas Ekonomi USM, Banda Aceh, Jumat (23/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Samsul Ikhbar mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap civitas akademika yang terdampak musibah, sekaligus sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai kepedulian sosial di lingkungan kampus.

“Penyerahan bantuan ini adalah bentuk empati dan solidaritas mahasiswa kepada dosen dan tenaga kependidikan yang terdampak banjir. Ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter mahasiswa agar memiliki kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab terhadap sesama,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif mahasiswa Fakultas Ekonomi USM yang telah menyalurkan bantuan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi kepedulian mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga memiliki peran sosial di tengah masyarakat dan lingkungan kampus,” tambah Samsul Ikhbar.

Bantuan yang diserahkan berupa kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, mi instan, telur, dan minyak goreng. Bantuan tersebut diberikan kepada dosen Fakultas Ekonomi USM yang terdampak langsung bencana banjir.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ekonomi USM berharap semangat solidaritas dan kepedulian sosial di kalangan mahasiswa terus tumbuh, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi sesama, khususnya di saat terjadi musibah. 

Turut hadir dalam pertemuan ini, Wakil Dekan I FE USM, Nelly, SE., MM, Kepala Prodi Manajemen, Radhiana, SE., MM, Kepala Prodi Akuntansi, Maryam, SEi, M.Si dan civitas akademika Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah.

Reporter: Rezi

Mantan Inspektorat Nilai Putusan Tipikor Jadi Early Warning Tata Kelola Baitul Mal Aceh Selatan

0
mantan Auditor Madya Inspektorat Kabupaten Aceh Selatan, Ir. Dariyus, MM, (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Pensiunan PNS sekaligus mantan Auditor Madya Inspektorat Kabupaten Aceh Selatan, Ir. Dariyus, MM, menilai putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh dalam perkara Program Bantuan Rumah harus dijadikan peringatan dini bagi pengelolaan Dana Zakat dan Infaq di Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan.

Menurut Dariyus, pengelolaan dana umat tidak cukup hanya bertumpu pada niat baik, tetapi wajib ditopang sistem pengawasan yang kuat, profesional, dan berkelanjutan guna mencegah persoalan hukum di kemudian hari.

“Pencegahan itu jauh lebih penting daripada penindakan. Jangan menunggu bermasalah baru diselesaikan, karena ketika sudah masuk ranah hukum, itu artinya sudah sangat terlambat,” ujar Dariyus, Sabtu (24/1/2026).

Ia menekankan, pengawasan Dana Zakat dan Infaq harus dilakukan secara menyeluruh sejak tahap perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan program, dengan tetap menjunjung profesionalitas auditor, independensi, dan objektivitas pengawasan.

“Dewan Pengawas Baitul Mal harus lebih pro aktif dan meningkatkan kemampuan untuk melakukan pengawasan dan mengantisipasi berbagai masalah yang akan terjadi termasuk memetakan potensi masalah, melakukan upaya-upaya pembenahan regulasi yang optimal sehingga pelaksanaan program tidak bermasalah secara hukum”, papar Dariyus.

Ia juga mengingatkan bahwa optimalisasi Dana Zakat dan Infaq tidak semata diukur dari besarnya serapan anggaran, melainkan dari kepatuhan terhadap regulasi, ketepatan sasaran, serta rendahnya risiko hukum.

“Dana zakat dan infaq adalah dana umat. Optimalisasinya harus dilakukan secara hati-hati dan patuh aturan. Justru dengan menghindari program berisiko tinggi, Baitul Mal bisa tetap aman dan kepercayaan masyarakat terjaga,” katanya.

Dariyus turut menyoroti keputusan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sekaligus Pengguna Anggaran Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan yang tidak melaksanakan Program Bantuan Rumah pada sisa waktu anggaran yang sangat terbatas di awal Desember 2025. Menurutnya, keputusan tersebut mencerminkan kehati-hatian dan berfungsinya sistem peringatan dini dalam tata kelola keuangan.

“Keputusan itu menunjukkan kehati-hatian dalam mengeksekusi program. Kalau dipaksakan dilaksanakan tanpa mempertimbangkan banyak hal, ketika bermasalah yang pertama kali terdampak adalah eksekutor program, baru kemudian unsur lain sebagai pengambil kebijakan dan keputusan penganggaran,” jelasnya.

Meski berpotensi menimbulkan persepsi tidak loyal atau memicu Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Tahun Anggaran 2025, Dariyus menilai langkah Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Selatan justru mencerminkan sikap profesional.

“Itu adalah keputusan berani yang menjunjung profesionalitas, tanpa rasa takut kehilangan jabatan. Profesionalitas diuji ketika seseorang berani memilih langkah yang benar meskipun tidak populer,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar pembenahan Baitul Mal tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi menyentuh penataan kewenangan, penguatan regulasi, serta pemisahan peran yang jelas antara perencana, pengambil kebijakan, dan pelaksana program.

“Baitul Mal jangan terus dibebani program yang berada di luar kompetensi teknisnya, seperti Program Pembangunan Rumah. Itu hanya akan membuka ruang risiko baru. Evaluasi menyeluruh pasca putusan pengadilan harus segera dilakukan agar persoalan serupa tidak terulang,” ujarnya.

Ia berharap penguatan pengawasan, profesionalitas auditor, dan kehati-hatian dalam eksekusi program dapat membuat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan lebih fokus pada fungsi utamanya sebagai pengelola zakat, infaq, dan sedekah, sekaligus menjaga marwah zakat dan kepercayaan umat.

Secara kelembagaan, Dewan Pengawas Baitul Mal memiliki tugas mengawasi seluruh kegiatan, baik dari aspek program maupun pengelolaan keuangan, mulai dari penghimpunan, pengelolaan, hingga pendistribusian dana kepada mustahik agar tepat sasaran dan sesuai ketentuan asnaf.

Selain itu, Dewan Pengawas berwenang mengevaluasi laporan keuangan dan laporan kegiatan yang disusun oleh Badan Baitul Mal dan Sekretariat, yang hasilnya dituangkan dalam bentuk rekomendasi perbaikan tata kelola. Dewan Pengawas juga memberikan pertimbangan serta persetujuan terhadap Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) serta kebijakan strategis, dan menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Bupati sebagai bentuk pertanggungjawaban kelembagaan.

Putusan Tipikor Dinilai Jadi Alarm, LBH Minta Baitul Mal Aceh Selatan Tak Tangani Pembangunan Rumah

0
Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jendela Keadilan Aceh, Muhammad Nasir, SH, MH. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jendela Keadilan Aceh, Muhammad Nasir, SH, MH, menilai putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh yang membebaskan Kepala Baitul Mal Aceh Selatan, namun memvonis bersalah dua terdakwa lainnya, harus dijadikan bahan evaluasi kelembagaan bagi Baitul Mal Aceh Selatan.

Menurut Nasir, meski pimpinan Baitul Mal dinyatakan tidak bersalah, fakta adanya perkara hukum dalam pelaksanaan Program Bantuan Rumah menunjukkan bahwa program tersebut memiliki risiko hukum tinggi dan tidak ideal dijalankan langsung oleh Baitul Mal.

“Ini bukan soal siapa yang bebas atau bersalah, tetapi soal evaluasi kelembagaan. Putusan pengadilan ini harus menjadi alarm agar Baitul Mal tidak lagi mengeksekusi program yang bukan menjadi kompetensi utamanya,” ujar Nasir, Sabtu (24/1/2026).

Ia menegaskan bahwa Baitul Mal bukan lembaga teknis dan tidak memiliki sumber daya manusia maupun instrumen yang memadai untuk mengerjakan pekerjaan fisik seperti pembangunan rumah.

“Baitul Mal bukan Dinas PU, bukan pula Dinas Perkim. Jangan dipaksakan mengurus pekerjaan teknis seperti bangunan. Secara objektif, memang tidak ada skill dan instrumen teknis yang cukup,” tegasnya.

Nasir menilai pelaksanaan Program Bantuan Rumah seharusnya dialihkan ke SKPK teknis, khususnya Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), yang dinilai lebih berpengalaman dan memiliki sistem pengawasan konstruksi yang memadai.

Ia juga mengingatkan bahwa jika Baitul Mal terus terlibat dalam program berisiko, dampaknya bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menurunnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat dan infaq.

“Kalau Baitul Mal bermasalah hukum, dampaknya langsung ke masyarakat. Kepercayaan berzakat dan berinfaq bisa menurun. Padahal menjaga kepercayaan publik adalah kunci utama keberlangsungan Baitul Mal,” katanya.

Lebih lanjut, Nasir menekankan pentingnya evaluasi oleh Badan (Komisioner) Baitul Mal dan Dewan Pengawas, terutama terkait perencanaan dan penganggaran program yang telah masuk dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah Republik Indonesia (SIPD RI).

“Jangan terlambat melakukan evaluasi. Mereka yang menyusun dan menyetujui RKAT, sekaligus membuka jalan penginputan program by name by address ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah Republik Indonesia. Ini merupakan aplikasi terintegrasi yang (SIPD RI), harus serius mencari solusi agar tidak terjadi persoalan hukum di kemudian hari,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Nasir mendorong pemerintah daerah menyusun regulasi yang jelas, baik melalui Qanun, Peraturan Bupati, maupun skema kerja sama, guna mengalihkan pelaksanaan Program Bantuan Rumah ke dinas teknis.

“Anggaran zakat dan infaq bisa tetap digunakan sesuai peruntukannya, tapi pengelolaan dan pelaksanaan rumah sebaiknya dialihkan ke Dinas Perkim atau pihak ketiga yang kompeten. Ini demi melindungi Baitul Mal dan menjaga marwah zakat,” pungkas Nasir.

Ia menambahkan, selama regulasi dan skema pelaksanaan belum benar-benar aman, Baitul Mal sebaiknya tidak mengeksekusi Program Bantuan Rumah demi menghindari persoalan hukum dan menjaga kepercayaan umat.