Beranda blog Halaman 103

KIA Tolak Gugatan WALHI Aceh terhadap DLHK soal Dokumen Sawit Aceh Selatan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Komisi Informasi Aceh (KIA) menolak permohonan sengketa informasi publik yang diajukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh terhadap Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh terkait dokumen perkebunan sawit di Aceh Selatan.

Putusan dengan nomor register 002/II/KIA-PS/2026 itu dibacakan dalam sidang terbuka pada Selasa (5/5/2026). Dalam amar putusannya, Majelis Komisioner menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon.

Ketua Majelis Komisioner, Vicky Bastianda, didampingi anggota Junaidi dan Dian Rahmat Syahputra, menyebutkan bahwa meskipun informasi yang dimohonkan bersifat terbuka, DLHK Aceh tidak berkewajiban menyerahkan dokumen yang tidak berada dalam penguasaannya.

“Pemohon memiliki hak atas informasi, namun kewajiban menyediakan informasi tidak dapat dibebankan kepada badan publik yang tidak menguasai dokumen tersebut,” kata Vicky saat membacakan pertimbangan majelis.

Sengketa ini bermula dari permohonan informasi yang diajukan WALHI Aceh pada akhir November 2025 untuk kepentingan kajian terhadap izin perkebunan kelapa sawit di Aceh Selatan.

Dokumen yang diminta meliputi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), laporan hasil pemantauan lingkungan, serta laporan hasil pengelolaan lingkungan dari tiga perusahaan, yakni PT Asdal Primalestari, PT Aceh Lestari Indo Sawita (ALIS), dan PT Aceh Trumon Anugerah Kita (ATAK).

Karena tanggapan dari atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) DLHK Aceh dinilai tidak memuaskan, WALHI kemudian mendaftarkan sengketa tersebut ke KIA pada 30 Januari 2026.

Dalam persidangan, WALHI Aceh berpendapat DLHK Aceh memiliki kewenangan pengawasan lingkungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, sehingga secara administratif seharusnya menguasai dokumen tersebut.

Sementara itu, DLHK Aceh mengakui dokumen yang diminta merupakan informasi terbuka, namun secara faktual tidak berada dalam penguasaan mereka. DLHK menjelaskan dokumen milik PT ALIS dan PT ATAK diproses di tingkat Kabupaten Aceh Selatan, sedangkan dokumen PT Asdal Primalestari diperkirakan berada di Kementerian Pertanian karena perusahaan tersebut berdiri sebelum terbentuknya dinas lingkungan di Aceh.

Dalam pertimbangannya, Majelis Komisioner menyatakan WALHI Aceh memiliki kedudukan hukum atau legal standing yang sah untuk mengajukan sengketa. Majelis juga menegaskan bahwa dokumen AMDAL dan laporan lingkungan merupakan informasi publik yang terbuka.

Namun, berdasarkan fakta persidangan, dokumen yang dimohonkan tidak berada dalam penguasaan DLHK Aceh. Sesuai Pasal 6 ayat (3) huruf e Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, badan publik tidak berkewajiban memberikan informasi yang belum dikuasai atau didokumentasikan.

Dengan putusan tersebut, DLHK Aceh tidak diwajibkan menyerahkan dokumen yang diminta WALHI Aceh. Sidang ditutup dengan kehadiran kuasa hukum dari kedua belah pihak.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mentan Siapkan Rp40 Miliar untuk Bangun Kembali Pembibitan Kopi Gayo Pascabencana Aceh

0
Ilustrasi 7 jenis kopi gayo dengan kualitas terbaik. (Foto: fadhilasqar/pixabay.com)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyiapkan anggaran sekitar Rp30 miliar hingga Rp40 miliar untuk membangun kembali pusat pembibitan kopi di Aceh setelah kebun kopi Gayo mengalami kerusakan akibat banjir besar pada akhir 2025 lalu.

Langkah pemulihan tersebut akan dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Syiah Kuala.

“Aku sudah ketemu tadi Rektor USK, datang pagi-pagi dengan Pak Dirjen. Kita akan kembangkan kerja sama dengan rektor Unsyiah. Nah, itu kita kerja sama bangun pembibitan bersama-sama bangun kembali. Anggarannya kami siapkan tadi kurang lebih Rp30 miliar-Rp40 miliar,” kata Amran di kediamannya, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat merespons dampak banjir dan longsor yang melanda dataran tinggi Gayo, Aceh, pada November 2025 lalu. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra utama produksi kopi arabika nasional.

Langkah pemulihan ini juga dilakukan di tengah kekhawatiran terganggunya produksi kopi Gayo yang selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.

Sebelumnya, peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao USK, Abu Bakar, menyebut banjir dan longsor mempercepat tekanan terhadap sektor kopi di Aceh yang sebelumnya sudah terdampak perubahan iklim.

Ia menjelaskan longsor menyebabkan hilangnya lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi, sementara banjir memicu stres pada tanaman sehingga kualitas dan produktivitas buah menurun.

Dampak terbesar dirasakan di dataran tinggi Gayo yang meliputi wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Selain kehilangan tanaman, petani juga menghadapi kerusakan lahan, terganggunya distribusi hasil panen, hingga meningkatnya ancaman hama dan penyakit tanaman.

Sejumlah petani juga melaporkan kebun mereka tertutup material longsor sehingga membutuhkan proses pemulihan yang panjang serta biaya penanaman ulang yang besar. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan kopi arabika lokal, termasuk potensi kenaikan harga akibat menurunnya produksi dari salah satu sentra kopi terbesar di Indonesia.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bank Aceh Serahkan Buggy Car untuk Permudah Mobilisasi Jamaah Haji di Asrama Haji Aceh

0
Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, dan pejabat lainnya menyaksikan operasional buggy car bantuan bank tersebut di Kompeks Asrama Haji Embarkasi Aceh, pada Rabu (6/5/2026). (FOTO: HUMAS BANK ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Bank Aceh Syariah menyerahkan satu unit buggy car kepada Asrama Haji Embarkasi Aceh guna membantu mobilisasi jamaah, khususnya lanjut usia (lansia) dan jamaah berkebutuhan khusus. Bantuan tersebut diserahkan pada Rabu (6/5/2026).

Buggy car itu mulai digunakan sejak keberangkatan jamaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) pertama. Kehadirannya diharapkan mampu mempercepat serta mempermudah pergerakan jamaah di lingkungan Asrama Haji Embarkasi Aceh yang memiliki area cukup luas dan aktivitas tinggi selama masa pemberangkatan.

Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk respons terhadap kebutuhan pelayanan jamaah di lapangan sekaligus dukungan terhadap penyelenggaraan ibadah haji yang lebih ramah dan inklusif.

“Alhamdulillah, kami sudah memenuhi harapan dari Dirjen Kementerian Agama Pusat dengan menyediakan satu unit buggy car untuk membantu mobilisasi jamaah lansia dan berkebutuhan khusus. Fasilitas ini sudah dapat digunakan sejak kloter pertama,” ujarnya.

Fadhil Ilyas menegaskan, Bank Aceh akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan, tidak hanya melalui produk dan layanan perbankan, tetapi juga lewat kontribusi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk terus memperbaiki layanan. Kami juga mengharapkan para nasabah dan keluarga besar Bank Aceh dapat mengajak saudara, kerabat, serta keluarga lainnya untuk memanfaatkan tabungan haji Bank Aceh,” tambah Fadhil Ilyas.

Menurutnya, dukungan terhadap penyelenggaraan ibadah haji merupakan bagian dari peran Bank Aceh sebagai lembaga keuangan daerah yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam melayani masyarakat.

Dengan adanya bantuan tersebut, diharapkan proses pelayanan dan mobilisasi jamaah di Asrama Haji Embarkasi Aceh dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memberikan kenyamanan tambahan bagi jamaah yang membutuhkan perhatian khusus selama menjalankan rangkaian ibadah haji tahun 2026.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Teuku Ali Usuf: Pengawal Tanah Kluet yang Terlupakan

0
teuku ali usuf
Makam Teuku Ali Usuf. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | FEATURE – Di antara hamparan sawah yang menghijau di Gampong Tinggi, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, tersimpan sebuah makam sederhana yang nyaris luput dari perhatian.

Tak banyak penanda yang menunjukkan siapa sosok yang berbaring di sana. Namun bagi sebagian masyarakat Kluet, tanah itu menyimpan kisah seorang panglima perang yang memilih gugur di medan perjuangan daripada menyerah kepada penjajah.

Namanya Teuku Ali Usuf.

Waktu telah berlalu lebih dari satu abad. Generasi berganti, cerita berpindah dari mulut ke mulut, sementara catatan sejarah yang menuliskan namanya nyaris tak ditemukan. Namun di tengah keterbatasan itu, ingatan tentang Teuku Ali Usuf tetap hidup dalam cerita keluarga dan masyarakat yang meyakini bahwa pernah ada seorang pemuda pemberani yang mempertaruhkan hidupnya demi tanah kelahirannya.

Menurut salah seorang keturunan dari keluarganya, Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf diperkirakan lahir sekitar tahun 1884 dan meninggal dunia pada usia kurang lebih 35 tahun.

“Beliau meninggal sekitar usia 35 tahun. Beliau adalah kakek saya yang meninggal dunia demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” ujar Muhammad Hasbi saat diwawancarai Nukilan.id pada Rabu (6/5/2026).

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, Teuku Ali Usuf merupakan bagian dari barisan perjuangan Aceh yang berada di bawah komando Teungku Cut Ali ketika perlawanan terhadap kolonial Belanda masih berkecamuk di wilayah Kluet dan sekitarnya.

Masa itu adalah periode ketika rakyat Aceh terus melakukan perlawanan meski kekuatan militer Belanda semakin besar. Di pelosok-pelosok pedalaman, semangat perjuangan tetap menyala. Para panglima lokal menjadi tumpuan rakyat untuk mempertahankan kehormatan negeri mereka.

Teuku Ali Usuf dikenal sebagai sosok tangguh dan piawai di medan pertempuran. Kemampuannya membuat ia dipercaya memimpin perjuangan di wilayah Kluet Utara. Namun, demi menjaga strategi gerakan, ia tidak selalu tampil sebagai panglima yang mudah dikenali.

Dalam berbagai kesempatan, ia disebut lebih sering menyamar sebagai rakyat biasa. Cara itu dilakukan agar pergerakannya tidak terdeteksi pasukan kolonial yang terus memburu para pejuang Aceh.

Perlawanan rakyat Kluet kala itu berlangsung secara terorganisasi. Di Kluet Utara perjuangan dipimpin Teuku Ali Usuf, di Kluet Timur terdapat Panglima Rajo Lelo, di Kluet Tengah berdiri Imam Sabil, sementara Kluet Selatan menjadi basis perjuangan Teungku Cut Ali.

Sekitar tahun 1919, suasana Kluet sedang mencekam. Pemerintah kolonial Belanda memaksa masyarakat menjalani kerja rodi. Rakyat dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah di tanah mereka sendiri.

Di tengah situasi itu, Teuku Ali Usuf memilih berada bersama rakyat.

Muhammad Hasbi menuturkan, ketika pasukan Belanda datang ke wilayah tersebut, sang panglima tidak memilih melarikan diri. Ia tetap berdiri menghadapi ancaman yang datang.

Berbekal sebilah parang kecil, Teuku Ali Usuf menghadapi situasi yang nyaris mustahil dimenangkan.

Dalam kisah yang hidup di tengah masyarakat, seorang komandan Belanda disebut sempat menantangnya untuk bertarung satu lawan satu. Duel itu kemudian benar-benar terjadi.

Teuku Ali Usuf dikisahkan mampu mengalahkan komandan tersebut. Namun kemenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Pasukan Belanda yang menyaksikan kejadian itu kemudian melepaskan tembakan. Peluru menghantam tubuh sang panglima hingga ia gugur di lokasi.

“Beliau meninggal demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” kata Muhammad Hasbi.

Kematian Teuku Ali Usuf ternyata bukan akhir dari penderitaan yang harus dihadapi masyarakat saat itu.

Menurut cerita yang berkembang di Gampong Tinggi, jasadnya tidak langsung dimakamkan. Selama tiga hari tiga malam, tubuh sang panglima dibiarkan tergeletak.

Belanda disebut mengancam akan memburu keturunannya apabila terbukti Teuku Ali Usuf merupakan putra asli kampung tersebut.

Ancaman itu membuat masyarakat berada dalam situasi sulit.

Demi menyelamatkan warga dan keluarga yang ditinggalkan, para tokoh kampung bersama Geuchik Nyak Husen kala itu disebut mengambil keputusan berat. Mereka menyatakan kepada Belanda bahwa Teuku Ali Usuf bukan berasal dari Gampong Tinggi.

Sebuah pengingkaran yang dilakukan bukan karena melupakan jasa sang pejuang, melainkan demi melindungi kampung dari amarah penjajah.

Setelah situasi dianggap aman, masyarakat kemudian memakamkannya di kawasan persawahan Gampong Tinggi.

Di sanalah jasad sang panglima beristirahat hingga hari ini.

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Teuku Ali Usuf gugur dalam perlawanan melawan Belanda. Waktu telah menghapus banyak jejak perjuangannya. Rumah, peralatan perang, hingga berbagai peninggalan lain perlahan hilang ditelan zaman.

Namun di tengah memudarnya jejak sejarah itu, keluarga masih menyimpan satu benda yang diyakini menjadi saksi bisu perjuangan sang panglima: sebuah pedang tua.

Muhammad Hasbi kemudian memperlihatkan pedang tersebut kepada penulis. Bilahnya tampak telah termakan usia. Warnanya kusam, sementara sebagian permukaannya menunjukkan bekas korosi yang tak terhindarkan. Bentuknya sekilas menyerupai rencong Aceh, tetapi dengan ukuran yang lebih panjang dan bilah yang lebih lebar.

pedang Teuku Ali Usuf
Pedang peninggalan Teuku Ali Usuf. (Foto: Nukilan)

Bagi keluarga, pedang itu bukan sekadar benda pusaka. Di balik besi tua yang mulai menua itu tersimpan kisah keberanian, pengorbanan, dan semangat perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Peninggalan beliau hanya pedang yang saya simpan untuk dikenang. Jika pemuda seperti kalian ingin mengetahui sejarah beliau, saya akan menunjukkan kisahnya serta pedang ini sebagai tandanya,” ujarnya.

Hingga kini, pedang tersebut tetap disimpan dengan penuh kehati-hatian. Di tengah minimnya dokumentasi sejarah tentang Teuku Ali Usuf, benda itu menjadi salah satu penghubung yang masih tersisa antara masa kini dengan kisah heroik seorang pejuang Kluet yang gugur demi mempertahankan tanah kelahirannya.

Pengorbanan itu bahkan menyentuh sisi paling pribadi dalam hidupnya.

Menurut Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf memiliki sebuah nazar sederhana: menikah ketika Aceh telah merdeka.

Namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Ia keburu gugur sebelum sempat menikmati kehidupan yang diperjuangkannya.

Sementara itu, Syahrul Amin, intelektual muda dari PMII Aceh, menilai kisah Teuku Ali Usuf penting dikenalkan kepada generasi muda agar sejarah perjuangan lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Meski namanya tidak sepopuler Teungku Cut Ali atau Panglima Rajo Lelo, perjuangan Teuku Ali Usuf tidak kalah besar. Ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi kemerdekaan,” ungkapnya.

Kini, ketika angin sore berembus di antara hamparan sawah Gampong Tinggi, nama Teuku Ali Usuf mungkin tidak banyak ditemukan dalam buku-buku sejarah. Namun bagi masyarakat yang masih menyimpan kisahnya, sang panglima belum pernah benar-benar pergi.

Ia tetap hidup dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi—seperti jejak langkah yang tak terlihat, tetapi selalu ada di tanah yang dahulu ia pertahankan dengan nyawanya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Dalami Ribuan Manuskrip di Museum Aceh untuk Perkuat Kajian Filologi

0
Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti praktikum manuskrip di Museum Aceh, Selasa (5/5/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – UIN Ar-Raniry bersama Museum Aceh kembali memperkuat kolaborasi akademik melalui kegiatan praktikum manuskrip yang diikuti mahasiswa Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora, Selasa (5/5/2026).

Praktikum tersebut menjadi bagian dari mata kuliah wajib Praktikum dan Pemeliharaan Naskah Kuno yang bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang filologi serta pelestarian manuskrip kuno Aceh.

Dalam kegiatan yang berlangsung di ruang koleksi Museum Aceh itu, mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran teoritis di ruang kelas, tetapi juga melakukan interaksi langsung dengan manuskrip dan berbagai sumber primer yang menjadi bagian penting dari warisan intelektual Aceh.

Kunjungan mahasiswa SKI diterima langsung oleh Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, bersama tim kurator filologika museum.

Dalam sambutannya, Nurhasanah menyampaikan bahwa saat ini Museum Aceh menyimpan sebanyak 1.934 bundel manuskrip yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Seluruh manuskrip yang tersimpan di Museum Aceh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kajian akademik, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya di hadapan mahasiswa.

Sementara itu, Dosen pengampu mata kuliah, Hermansyah kepada Nukilan.id mengatakan Museum Aceh merupakan salah satu pusat penyimpanan manuskrip terbesar di Aceh yang memiliki banyak naskah kuno bernilai historis dan akademik tinggi.

“Museum Aceh merupakan lumbung manuskrip yang menyimpan banyak naskah kuno dan berbagai sumber primer penting yang dapat menjadi bahan kajian bagi mahasiswa maupun peneliti,” ujar Hermansyah saat mendampingi mahasiswa.

Ia menjelaskan, dari total 1.934 manuskrip yang tersimpan, belum seluruhnya terdokumentasi secara rinci berdasarkan isi maupun tema kajian. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan bagi para peneliti yang ingin menelusuri manuskrip dengan topik tertentu, mulai dari pengobatan tradisional, kuliner, hukum adat, hingga pemikiran keislaman.

Karena itu, praktikum lapangan tersebut dirancang untuk melatih mahasiswa melakukan inventarisasi awal, identifikasi fisik naskah, serta kajian deskriptif sebagai dasar penelitian filologi.

“Pendekatan lapangan seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam merawat, mendokumentasikan, dan mengkaji manuskrip secara langsung,” katanya.

Kegiatan tersebut juga memperkuat kerja sama berkelanjutan antara UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Museum Aceh yang sebelumnya telah terjalin melalui berbagai program edukasi, konservasi koleksi, pameran, hingga diskusi ilmiah.

Melalui praktikum itu, Prodi SKI berharap dapat melahirkan generasi filolog muda yang mampu merawat, mendokumentasikan, dan mengkaji warisan intelektual Aceh sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Wali Nanggroe dan Wakil Dubes Belanda Bahas Penguatan Kerja Sama Strategis di Aceh

0
Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haythar, menerima kunjungan Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, di Meuligoe Wali Nanggroe, Banda Aceh, Rabu (6/5/2026). [Foto: Humas LWN]

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar menerima kunjungan Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, di Meuligoe Wali Nanggroe, Banda Aceh, Rabu (6/5/2026).

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, mengatakan pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama antara Belanda dan Indonesia di Aceh. Fokus pembahasan mencakup pembangunan berkelanjutan, penanganan bencana, pengelolaan lingkungan, investasi, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi kawasan.

Menurut Zulfikar, kedua pihak juga menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan kemitraan jangka panjang yang dibangun atas dasar saling menghormati, pembelajaran sejarah, serta kepentingan bersama demi masa depan Aceh yang lebih maju dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda, Adriaan Palm, menjelaskan bahwa kunjungannya ke Aceh bertujuan untuk melihat langsung perkembangan daerah sekaligus membahas peluang kerja sama di masa depan bersama Wali Nanggroe Aceh.

“Saya datang dari Jakarta hari ini untuk bertemu Wali Nanggroe dan berbicara tentang perkembangan di Aceh, sekaligus melihatnya dari perspektif sejarah dan masa depan, apa yang bisa kita lakukan bersama, bagaimana kerja sama dapat dibangun di Aceh bersama masyarakat Aceh, untuk memastikan pembangunan yang kita harapkan dapat terwujud,” ujar Adriaan.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Belanda sebelumnya telah berkontribusi dalam penanganan banjir di Aceh melalui Dutch Relief Alliance bersama berbagai organisasi lokal. Namun, menurutnya, kerja sama tersebut kini perlu ditingkatkan ke tahap pemulihan dan pembangunan jangka panjang.

“Sebagai Pemerintah Belanda, kami telah terlibat dalam membantu penanganan banjir melalui Dutch Relief Alliance dan organisasi lokal. Namun kini saatnya melangkah ke tahap berikutnya, pemulihan dan pembangunan kembali,” katanya.

Adriaan menilai Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kolaborasi di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pengelolaan lingkungan, hingga tata kelola sumber daya air.

“Apa peluang pengembangan sektor pertanian? Bagaimana kita memastikan tata kelola aliran air menjadi lebih baik? Dan yang terpenting, bagaimana kita dapat membantu masyarakat Aceh dan Belanda untuk tumbuh dan berkembang bersama?” ujarnya.

Selain kerja sama pembangunan, ia juga menyoroti pentingnya aspek budaya dalam mempererat hubungan antara Aceh dan Belanda.

“Selain itu, tentu saja budaya juga memiliki peran yang sangat penting, terutama di Aceh,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Nanggroe Aceh menyampaikan bahwa pembahasan bersama Wakil Dubes Belanda berfokus pada berbagai peluang kerja sama strategis yang dapat dikembangkan di masa mendatang.

“Kita banyak memperbincangkan bagaimana Aceh dan Belanda bisa bekerja sama, terutama dalam berbagai sektor pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wali Nanggroe yang didampingi Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq.

Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak juga merefleksikan sejarah panjang hubungan Aceh dan Belanda, termasuk pengalaman pascatsunami 2004 yang menjadi momentum penting kerja sama kemanusiaan dan rekonstruksi di Aceh.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan itu, delegasi Belanda dijadwalkan mengunjungi sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh untuk menilai kebutuhan di lapangan sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama lanjutan.

Kapolda: Kekompakan Forkopimda Aceh Jadi Kunci Pemulihan dan Percepatan Pembangunan

0
Kekompakan Forkopimda Aceh Jadi Kunci Pemulihan dan Percepatan Pembangunan Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Kekompakan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh dinilai menjadi fondasi utama dalam mendorong pemulihan serta percepatan pembangunan di berbagai sektor. Sinergi antara unsur pemerintah daerah, legislatif, dan aparat keamanan disebut mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat pelayanan publik secara menyeluruh.

Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, menegaskan bahwa soliditas Forkopimda merupakan kekuatan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan di Aceh. Menurutnya, kolaborasi yang erat antarunsur pimpinan daerah menjadi kunci agar setiap program, baik dari pemerintah daerah maupun pusat, dapat berjalan efektif, terarah, dan berkelanjutan.

“Forkopimda Aceh harus terus solid. Kekompakan ini harus terus dijaga dan diperkuat, karena pembangunan dan pemulihan Aceh hanya dapat terwujud melalui kebersamaan seluruh unsur,” ujar Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, usai pelepasan keberangkatan jemaah calon haji kloter 1 Embarkasi Banda Aceh di Aula Jeddah, bersama Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Ketua DPRA Zulfadli, didampingi Sekda Aceh M. Nasir, Selasa (05/05/2026).

Ia menambahkan, sinergi yang terbangun selama ini telah memberikan dampak positif terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, yang menjadi prasyarat utama dalam mendukung pembangunan. Menurutnya, kondisi yang kondusif akan membuka ruang bagi percepatan berbagai program strategis daerah.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara tepat dan menyeluruh. Dengan komunikasi yang intens serta koordinasi yang kuat, berbagai tantangan diyakini dapat dihadapi secara bersama.

Menurutnya, kekompakan Pemerintah Aceh tidak hanya diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi harus menjadi budaya kerja yang terus dipelihara agar proses pemulihan dan pembangunan dapat berjalan secara konsisten dan berkesinambungan.

“Dengan kebersamaan, kita optimistis pemulihan berjalan lebih cepat dan pembangunan dapat dirasakan manfaatnya secara luas.” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pramuka Jatim Salurkan 725 Seragam untuk Siswa Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

0
Wakil Ketua Bidang Abdimas, Humas, dan Lingkungan Hidup Kwarda Jatim Akhmad Jazuli menyerahkan bantuan berupa 725 setel seragam Pramuka siswa terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (5/5/2026). Bantuan tersebut diserahkan di Aula Kantor Pemkab Aceh Tamiang dan diterima secara simbolis oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Armia Fahmi. (Foto: Kwarda Pramuka Jatim)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur menyalurkan sebanyak 725 setel seragam Pramuka kepada siswa terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (5/5/2026). Bantuan tersebut diserahkan di Aula Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan diterima secara simbolis oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Armia Fahmi, bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari tahap kedua bantuan kemanusiaan Pramuka Jawa Timur dalam mendukung pemulihan pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.

Wakil Ketua Bidang Abdimas, Humas, dan Lingkungan Hidup Kwarda Jawa Timur, Akhmad Jazuli, mengatakan bantuan seragam diberikan karena menjadi kebutuhan mendesak bagi para siswa yang terdampak banjir.

“Banyak siswa yang kehilangan perlengkapan sekolah, termasuk seragam, akibat banjir. Kami berharap bantuan ini bisa membantu mereka kembali bersekolah dengan lebih percaya diri,” kata Jazuli dalam keterangan resmi Pramuka Jawa Timur.

Ia menegaskan, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian anggota Pramuka Jawa Timur yang dihimpun melalui program Bumbung Kemanusiaan.

“Ini adalah bentuk nyata kepedulian Pramuka Jawa Timur. Kami ingin hadir dan membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan,” ujarnya.

Sebanyak 725 seragam Pramuka tersebut didistribusikan kepada siswa di tiga sekolah, yakni SMP Negeri 1 Tamiang Hulu, SMP Negeri 4 Tamiang Hulu, dan SMP Negeri 3 Kejuruan Muda.

Ketua Brigade Penolong 13 Kwarda Jawa Timur, Amin Fauzi, berharap bantuan tersebut dapat menghadirkan semangat baru bagi para siswa untuk terus melanjutkan pendidikan.

“Semoga bantuan ini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi kepada adik-adik agar tetap semangat belajar meskipun pernah mengalami bencana,” katanya.

Sementara itu, pihak sekolah menyambut baik bantuan yang diberikan. Kepala SMP Negeri 3 Kejuruan Muda mengatakan banjir yang terjadi pada November 2025 lalu berdampak besar terhadap kegiatan belajar mengajar.

“Hampir seluruh fasilitas sekolah terdampak. Banyak buku pelajaran dan perlengkapan siswa yang rusak atau hilang,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan seragam tersebut sangat membantu siswa untuk kembali menjalani aktivitas sekolah dengan lebih baik.

“Bantuan ini sangat berarti bagi siswa kami. Mereka kini bisa kembali bersekolah dengan lebih percaya diri,” katanya.

Hal serupa disampaikan Kepala SMP Negeri 1 Tamiang Hulu, Wagiri, yang mengapresiasi kepedulian Pramuka Jawa Timur terhadap siswa terdampak banjir di daerahnya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan seragam Pramuka ini. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi peserta didik kami,” ujarnya.

Salah seorang siswa penerima bantuan, Tazkia Rodiana, mengaku bersyukur menerima seragam baru setelah miliknya hanyut saat banjir.

“Seragam saya hanyut saat banjir. Bantuan ini sangat berarti bagi saya. Terima kasih kepada Kakak-kakak Pramuka Jawa Timur,” ucapnya.

Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil, menegaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pramuka untuk selalu hadir membantu masyarakat.

“Pramuka tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menghadirkan aksi nyata di tengah masyarakat. Ini adalah bentuk kepedulian dan semangat gotong royong,” katanya.

Menurutnya, bantuan seragam tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan siswa, tetapi juga membangkitkan semangat mereka untuk terus belajar.

“Seragam ini bukan sekadar pakaian, tetapi juga simbol semangat dan harapan agar adik-adik bisa bangkit dan meraih cita-cita,” ujarnya.

Sebelumnya, pada tahap pertama, Kwarda Pramuka Jawa Timur telah menyalurkan bantuan dana sebesar Rp201.500.000 melalui Kwarda Pramuka Aceh sebagai respons darurat bencana. Penyaluran bantuan ini juga menjadi bagian dari agenda Visitasi Kepemimpinan Nasional Tahun 2026 oleh peserta PKN II dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BMKG Imbau Warga Waspadai Hujan Lebat dan Potensi Puting Beliung di Wilayah Tengah Aceh

0
Ilustrasi. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan disertai angin kencang hingga puting beliung di wilayah tengah Aceh dalam beberapa hari ke depan.

Peringatan tersebut disampaikan Prakirawan Cuaca BMKG Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, Angga Dirta, dalam siaran informasi cuaca bersama Radio Republik Indonesia Takengon, Rabu (6/5/2026).

Angga menjelaskan, secara umum kondisi cuaca di wilayah tengah Aceh pada pagi hingga sore hari diperkirakan cerah berawan. Namun, pada malam hari masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.

Ia menyebutkan suhu udara di kawasan tersebut berkisar antara 15 hingga 28 derajat Celcius, dengan angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam. Meski kondisi tersebut masih tergolong normal, perubahan cuaca secara tiba-tiba tetap berpotensi terjadi.

“Karena itu masyarakat diharapkan tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun berada di kawasan rawan bencana,” ujar Angga Dirta.

Lebih lanjut, BMKG memprediksi potensi hujan di wilayah Aceh bagian tengah masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Selain itu, terdapat potensi angin puting beliung yang dapat terjadi pada sore hari di wilayah Kabupaten Bener Meriah.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru serta mengikuti arahan dari pihak berwenang guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Gubernur Aceh dan Bank Mustaqim Aceh Raih Penghargaan Nasional TOP BUMD 2026

0
Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf dan Direktur Utama Bank Mustaqim Aceh, Raisul Mukhlis. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT BPR Syariah Mustaqim Aceh (Perseroda) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih tiga penghargaan bergengsi dalam ajang TOP BUMD Awards 2026 yang digelar di Dian Ballroom, Hotel Raffles, Jakarta, Senin (13/4).

Dalam ajang yang diikuti sekitar 1.600 BPR dan BPRS milik pemerintah daerah dari seluruh Indonesia itu, Bank Mustaqim Aceh berhasil membawa pulang predikat tertinggi TOP BUMD Awards 2026 – BPRS Bintang 5, TOP CEO BUMD 2026, serta TOP Pembina BUMD 2026.

TOP BUMD Awards 2026 diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri dengan proses penilaian yang dilakukan secara komprehensif, mulai dari evaluasi kinerja perusahaan, pengisian kuesioner, penelaahan dokumen, sesi wawancara, hingga penilaian akhir oleh dewan juri independen.

Predikat TOP BUMD Awards 2026 – BPRS Bintang 5 diberikan kepada PT BPRS Mustaqim Aceh atas capaian kinerja keuangan, tata kelola perusahaan, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. Penghargaan ini menjadi raihan Bintang 5 kedua secara berturut-turut, setelah sebelumnya meraih predikat Bintang 4 pada 2023 dan 2024.

Sementara penghargaan TOP CEO BUMD 2026 diberikan kepada Direktur Utama Bank Mustaqim Aceh, Raisul Mukhlis, atas kepemimpinan yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Adapun penghargaan TOP Pembina BUMD 2026 dianugerahkan kepada Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, atas komitmennya dalam mendukung penguatan peran BUMD sebagai penggerak ekonomi daerah.

Direktur Utama Bank Mustaqim Aceh, Raisul Mukhlis, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran manajemen dan karyawan.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas penghargaan nasional ini. Penghargaan nasional ini yang merupakan manifestasi dari konsistensi kami dalam menjaga amanah nasabah dan pemegang saham. Ini membuktikan bahwa perbankan syariah daerah mampu bersaing di level tertinggi melalui inovasi layanan dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujar Raisul Mukhlis.

Ia menjelaskan, dalam empat tahun terakhir Bank Mustaqim Aceh menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun penghimpunan dana masyarakat. Hingga Desember 2025, sebanyak 88 persen portofolio pembiayaan Bank Mustaqim Aceh berada pada sektor UMKM dan sektor riil.

Untuk mempertahankan tren positif tersebut, Bank Mustaqim Aceh terus menghadirkan inovasi layanan dan produk pembiayaan yang kompetitif, khususnya bagi pelaku UMKM produktif. Ekspansi pasar juga diperkuat melalui kolaborasi dengan SKPA, komunitas UMKM, serta jaringan perbankan dan perdagangan.

Selain itu, Bank Mustaqim Aceh juga menghadirkan berbagai produk tabungan seperti Tabungan Mustaqim, Meugang, Pendidikan, Tabunganku, Rencana, hingga Cicilan Emas. Sementara pada sektor pembiayaan, bank ini mengembangkan produk unggulan seperti Supermikro dengan margin ringan serta pembiayaan agribisnis dengan skema grace period dan tanggung renteng.

“Bank Mustaqim Aceh harus memiliki peran nyata bagi perkembangan usaha nasabah, sehingga pendapatan usaha mereka semakin meningkat melalui modal kerja yang tepat guna,” tambah Raisul.

Tak hanya fokus pada penguatan bisnis, Bank Mustaqim Aceh juga terus mengoptimalkan pelayanan melalui sistem antarjemput setoran bagi nasabah, serta aktif menanamkan budaya menabung sejak dini melalui kerja sama dengan sekolah tingkat SD dan SMP di Aceh lewat program Tabungan Pendidikan.

Sementara itu, Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Bank Mustaqim Aceh. Menurutnya, penghargaan tersebut harus menjadi motivasi bagi seluruh BUMD di Aceh untuk terus meningkatkan kinerja.

“Pemerintah Aceh akan terus mendukung pengembangan Bank Mustaqim Aceh agar manfaatnya semakin dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan petani. Kemandirian ekonomi Aceh harus dimulai dari penguatan lembaga keuangan milik kita sendiri,” tegasnya.

Dengan dukungan teknologi digital, seperti integrasi Virtual Account dan Sistem Informasi Pembiayaan yang modern, Bank Mustaqim Aceh menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News