NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap 10 Agustus diperingati sebagai Hari Biodiesel Internasional atau International Biodiesel Day. Peringatan ini menjadi pengingat terhadap sejarah panjang pemanfaatan bahan bakar nabati, yang ternyata telah muncul jauh sebelum isu transisi energi dan krisis iklim menjadi perhatian dunia.
Momentum tersebut berkaitan dengan eksperimen Rudolf Diesel, penemu mesin diesel asal Jerman, pada akhir abad ke-19. Gagasan Diesel mengenai penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar bahkan muncul ketika minyak bumi belum menjadi sumber energi utama dunia.
Eksperimen Rudolf Diesel pada 1893
Hail penelusuran Nukilan.id, tanggal 10 Agustus merujuk pada keberhasilan Rudolf Diesel menguji mesin ciptaannya di Augsburg, Jerman, pada 10 Agustus 1893. Dalam eksperimen tersebut, mesin diesel diuji menggunakan bahan bakar yang berasal dari minyak nabati, termasuk minyak kacang tanah.
Diesel melihat bahwa mesin yang dikembangkannya tidak harus bergantung pada satu jenis bahan bakar. Ia membayangkan minyak nabati dapat menjadi sumber energi yang memungkinkan masyarakat, khususnya sektor pertanian dan industri, memenuhi kebutuhan energinya dari sumber daya yang tersedia di daerah masing-masing.
Gagasan tersebut kemudian kembali mendapat perhatian dalam ajang Exposition Universelle atau Pameran Dunia di Paris pada 1900. Pada kesempatan itu, mesin diesel diperlihatkan menggunakan minyak kacang sebagai bahan bakarnya.
Ketika Minyak Bumi Menguasai Industri
Perkembangan industri minyak bumi kemudian mengubah arah penggunaan mesin diesel. Melimpahnya cadangan minyak mentah dan biaya bahan bakar fosil yang relatif murah membuat produk turunannya, termasuk solar, menjadi pilihan utama industri dunia sepanjang abad ke-20.
Mesin diesel yang sebelumnya memungkinkan penggunaan bahan bakar nabati pun semakin identik dengan bahan bakar berbasis minyak bumi.
Memasuki penghujung abad ke-20 hingga abad ke-21, perhatian terhadap bahan bakar nabati kembali meningkat. Ancaman perubahan iklim, kekhawatiran terhadap keterbatasan cadangan minyak bumi, serta ketidakstabilan harga energi fosil mendorong berbagai negara mencari sumber energi terbarukan.
Biodiesel kemudian dikembangkan dalam bentuk yang lebih modern. Berbeda dengan penggunaan minyak nabati secara langsung pada masa awal eksperimen Diesel, biodiesel saat ini umumnya diproduksi melalui proses kimia, salah satunya transesterifikasi, dengan mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar yang dapat digunakan pada mesin diesel.
Bahan bakunya dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya.
Biodiesel dan Tantangan Transisi Energi
Peringatan Hari Biodiesel Internasional tidak hanya berkaitan dengan sejarah teknologi mesin diesel. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali potensi bahan bakar nabati di tengah upaya dunia beralih menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan biodiesel dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama jika bahan bakunya berasal dari sumber daya lokal yang dikelola secara berkelanjutan.
Di sisi lain, penggunaan biodiesel juga berkaitan dengan upaya menekan emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi dan industri.
Lebih dari satu abad setelah eksperimen Rudolf Diesel, gagasan mengenai bahan bakar yang bersumber dari tanaman kembali menjadi bagian dari pembahasan energi global.
Hari Biodiesel Internasional pada 10 Agustus pun menjadi pengingat bahwa gagasan mengenai energi alternatif bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebagian di antaranya justru telah dibayangkan oleh para pelopor teknologi sejak lebih dari seratus tahun lalu. (XRQ)


