Saturday, 31 October 2026 Banda Aceh 29°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

IKAT Aceh Fasilitasi Keberangkatan Mahasiswa ke Timur Tengah

Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh turut memfasilitasi mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan ke sejumlah perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir. (Foto: For Nukilan)
Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh turut memfasilitasi mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan ke sejumlah perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh turut memfasilitasi mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan ke sejumlah perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir.

Ketua IKAT Aceh, Tgk Khalid Muddatsir, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki program bernama Al-Fusha yang bergerak di bidang studi dan pelatihan bahasa Arab. Program tersebut dibentuk untuk memberikan pembelajaran bahasa Arab bagi masyarakat, termasuk mereka yang baru mulai mempelajarinya.

“Program ini antusias diikuti oleh adik-adik terutama tamatan Madrasah Aliyah sederajat yang ingin melanjutkan kuliah di Timur Tengah. Jadi mereka belajar langsung bahasa Arab di IKAT Aceh dengan durasi waktu sekitaran 6 bulan, jika bahasa Arab mereka telah bagus mereka akan ikut seleksi melalui IKAT Aceh,” kata Khalid dalam wawancara Nukilan.id pada Rabu (28/10/2026).

Ia menyebutkan, peserta dapat mempelajari bahasa Arab secara bertahap berdasarkan kemampuan masing-masing. Pembelajaran tersebut menjadi salah satu persiapan bagi calon mahasiswa sebelum memenuhi persyaratan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Minat generasi muda Aceh untuk menempuh pendidikan di Timur Tengah dinilai cukup tinggi. Mesir menjadi negara tujuan yang paling banyak diminati karena memiliki kuota penerimaan mahasiswa lebih besar dibandingkan sejumlah negara lainnya.

Sementara itu, kesempatan melanjutkan pendidikan ke Madinah memiliki kuota lebih terbatas karena proses mendapatkan beasiswa terkadang membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Adapun Maroko dan Tunisia juga memiliki kuota penerimaan mahasiswa yang relatif sedikit.

“Kita juga rutin melaksanakan sosialiasi ke berbagai pesantren yang ada seluruh Aceh, kita jelaskan bagaimana cara kuliah ke Timur Tengah, syarat-syarat apa saja yang harus disiapkan, berapa biayanya dan peluang beasiswa dari mana saja, itu yang kita sampaikan, memang ada negara yang mengsyaratkan harus ada beasiswa untuk bisa melanjutkan kuliah disana,misalnya Maroko, akan tetapi kalau Al-Azhar Mesir perkuliahan bisa dilakukan secara mandiri,” ujar Khalid.

Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, itu menyampaikan bahwa peluang memperoleh beasiswa pendidikan di Mesir cukup terbuka. Karena itu, IKAT Aceh terus melakukan sosialisasi, memberikan edukasi, serta membantu proses keberangkatan mahasiswa.

Ia menjelaskan, calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke Maroko dan Tunisia harus mengikuti seleksi resmi dari pemerintah. Sementara untuk Mesir, proses keberangkatan mahasiswa dapat difasilitasi melalui IKAT Aceh.

Pada tahun ini, IKAT Aceh telah memfasilitasi keberangkatan sekitar 208 mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Mesir. Jumlah keseluruhan mahasiswa asal Aceh yang sedang belajar di negara tersebut diperkirakan telah mendekati seribu orang.

“Besarnya antusias masyarakat untuk belajar ke Timur Tengah karena melihat output yang dihasilkan melahirkan para pendakwah yang terkenal, misalnya Tgk. Amri Fatmi, Ustaz Abdul Somad, Ustaz Hanan Attaki, bahkan ada salah orang tua mengatakan jangan pulang dulu ke Aceh sebelum menjadi seperti mereka,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News