Sunday, 25 October 2026 Banda Aceh 24°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Media

Aryos Nivada Ingatkan Jurnalis Tak Bergantung Sepenuhnya pada AI.

KETUA AMSI ACEH
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh, Aryos Nivada. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Akademisi sekaligus ketua AMSI Aceh, Aryos Nivada, mengingatkan jurnalis agar tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses penulisan berita. Meski dapat membantu pekerjaan jurnalistik, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan sehingga informasi yang dihasilkan perlu diperiksa kembali.

Hal itu disampaikan Aryos dalam kegiatan Maroon Basic Journalism Workshop: Meningkatkan Kapasitas dan Kompetensi Jurnalis Kampus di Nutrihub, Minggu (18/10/2026).

“Penggunaan AI dalam penulisan seperti kemampuan mengendarai mobil manual yang memungkinkan seseorang lebih mudah beradaptasi saat mengendarai mobil matik,” ungkapnya.

Menurut Aryos, kemampuan dasar menulis menjadi bekal penting sebelum seseorang menggunakan AI. Keterampilan tersebut membantu penulis memanfaatkan teknologi untuk mendukung pekerjaannya. Sebaliknya, ketergantungan pada AI tanpa melalui proses belajar menulis dapat menjadi kendala ketika layanan teknologi tersebut mengalami gangguan.

Ia menilai, kemampuan berpikir manusia tetap menjadi aspek utama yang tidak dapat digantikan oleh AI. Sebab, teknologi tersebut merupakan hasil pengembangan manusia yang masih memiliki keterbatasan dalam menghasilkan informasi dan tulisan.

“Penggunaan AI dapat digunakan untuk mempermudah tata letak bentuk struktur tulisan, mencari variasi pertanyaan, sebagai sarana pengembangan ide untuk sebuah tulisan dan riset serta pemeriksaan tulisan apa sudah sesuai dengan format bahasa yang benar. Akan tetapi setiap informasi yang disajikan oleh AI harus diperiksa kembali untuk memastikan kevalidannya,” tegasnya.

Aryos juga menyoroti karakter tulisan yang sepenuhnya dihasilkan dengan bantuan AI. Menurutnya, tulisan semacam itu cenderung kaku dan belum memiliki kepekaan seperti tulisan yang disusun manusia. Penggunaan ungkapan populer juga dinilai belum tentu dapat diadaptasi secara tepat oleh teknologi tersebut.

Karena itu, ia menegaskan bahwa jurnalis harus tetap memegang kendali dalam penggunaan AI. Langkah tersebut diperlukan agar tulisan jurnalistik tetap mengalir, memenuhi standar pemberitaan, serta terhindar dari kesalahan informasi.

“Supaya tulisan produk jurnalistik tetap mengalir penulisannya manusia harus memegang kendali terhadap AI. Data-data AI banyak yang tidak valid, bentuk tulisanya terkadang absurd tidak masuk akal tidak layak untuk sebuah produk jurnalistik, kita harus mengecek kembali data yang dihasilkan oleh AI supaya tidak ada kesalahan dalam penulisan jurnalistik,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News