Tuesday, 20 October 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

STAI Nusantara Tawarkan Konsep Kampus Terpadu

Ketua Yayasan Rumoh Bina Aneuk Nanggroe, Tgk Jamaluddin Thaib. (FOTO: FOR NUKILAN)
Ketua Yayasan Rumoh Bina Aneuk Nanggroe, Tgk Jamaluddin Thaib. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nusantara yang berada di bawah Yayasan Rumoh Bina Aneuk Nanggroe menawarkan konsep pendidikan terpadu dengan menggabungkan kurikulum perguruan tinggi dan dayah. Program ini dirancang untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga pemahaman agama dan kebiasaan hidup yang baik.

Ketua Yayasan Rumoh Bina Aneuk Nanggroe, Tgk Jamaluddin Thaib, mengatakan program pemondokan mahasiswa tersebut telah dijalankan STAI Nusantara sejak 2021 hingga sekarang. Meski tidak seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama, mereka yang memilih tinggal di asrama harus mengikuti kurikulum terpadu yang diterapkan kampus.

“Konsep kampus terpadu merupakan kombinasi kurikulum antara dayah dan perguruan tinggi. Pada saat siang hari mereka (mahasiswa) belajar di kampus, sedangkan malam hari dan waktu subuh dimanfaatkan untuk belajar agama,” kata Jamaluddin dalam wawancara Nukilan.id pada Senin (19/10/2026).

Ia menjelaskan, penerapan kurikulum terpadu tersebut didasari sejumlah pertimbangan, terutama berkaitan dengan perkembangan pola pikir mahasiswa pada masa peralihan menuju kedewasaan. Menurutnya, masa pendidikan di tingkat SMA belum tentu menjadi tahap ketika seseorang telah matang dalam berpikir.

Sementara itu, jenjang Strata Satu (S1) menjadi salah satu fase penting untuk mengembangkan kematangan berpikir sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap masa depan.

Jamaluddin juga menyoroti perubahan perilaku sebagian lulusan pesantren setelah meninggalkan lingkungan pondok. Kebiasaan beribadah dan berpakaian sopan yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di pesantren, menurutnya, tidak selalu dipertahankan ketika mereka berada di lingkungan baru.

Ia menilai lingkungan pergaulan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan tersebut.

“Kita ingin anak-anak yang lulusan pondok harus tetap menjadi orang baik sebagaimana sediakala ketika mereka belajar di pondok, maka harus dilanjutkan ketika mereka melanjutkan jenjang S1 ” tegasnya.

Ia menambahkan, mahasiswa yang menempuh pendidikan di Banda Aceh berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh, di antaranya Aceh Tamiang, Aceh Timur, Singkil, Subulussalam, dan Simeulue.

Ketika tinggal di kos-kosan, sebagian mahasiswa dinilai tidak mendapatkan pengawasan langsung dari orang tua sehingga pola hidup dan aktivitas sehari-hari mereka sulit terpantau.

Menurut Jamaluddin, kondisi tersebut terlihat dari kebiasaan sejumlah mahasiswa yang menghabiskan waktu hingga larut malam di warung kopi. Sebagian di antaranya bermain gim hingga pukul 02.00 WIB, sementara mahasiswa dan mahasiswi lainnya masih berada di warung kopi hingga dini hari.

“STAI Nusantara hadir untuk menjawab keresahan tersebut, kita coba urus ibadah mereka, pola belajar, dan kita atur pola hidup, walaupun kampus kita secara aturan tidak sedisiplin pesantren pada umumnya, kita hanya mengarahkan agar mereka agar dapat mengatur waktu dan bertanggungjawab,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News