Wednesday, 14 October 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

Sinergi Guru dan Orang Tua Dinilai Penting dalam Membentuk Karakter dan Disiplin Siswa

Ilustrasi siswa dan siswi madrasah. (Foto: ChatGPT)
Ilustrasi siswa dan siswi madrasah. (Foto: ChatGPT)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pembentukan karakter dan kedisiplinan siswa membutuhkan kerja sama antara guru, orang tua, serta lingkungan pendidikan. Sinergi berbagai pihak dinilai penting untuk menciptakan suasana pendidikan yang kondusif sekaligus menanamkan nilai moral kepada anak.

Pengajar Dayah Modern Darul Ulum, Muhammad Sehat, mengatakan bahwa pendidikan anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung proses pembentukan karakter dan kedisiplinan anak.

“Kondisi pendidikan hari ini berbeda dengan masa lalu. Kalau dulu mungkin cukup menyerahkan kepada guru saja, hukuman bisa diterapkan bagi para anak-anak yang melanggar dan orang tua tidak akan ikut campur masalah hukuman yang diberikan oleh seorang guru, karena sudah mempercayai sepenuhnya kepada sang guru,” kata Sehat dalam wawancara dengan Nukilan.id pada Selasa (13/10/2026).

Ia menjelaskan, penerapan hukuman dalam dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan tersendiri, terutama berkaitan dengan regulasi perlindungan anak dan perkembangan media digital. Menurutnya, pemberitaan mengenai siswa yang melawan atau melaporkan guru kerap menjadi sorotan publik, termasuk dalam kasus pemberian hukuman terhadap siswa yang melanggar aturan sekolah.

Sehat menilai, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberanian guru dalam menegakkan kedisiplinan. Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru menyalahkan guru ketika muncul persoalan di sekolah, melainkan terlebih dahulu melakukan tabayyun untuk memastikan kebenaran informasi.

“Tindakan kekerasan yang berlebihan terhadap siswa tidak dapat dibenarkan. Namun, upaya mendisiplinkan anak melalui pendekatan yang mendidik tetap diperlukan agar siswa memahami konsekuensi dari perilaku yang melanggar aturan, seperti berkelahi atau merokok di lingkungan sekolah,” ungkapnya.

Menurut Sehat, keterlibatan orang tua yang tidak didahului dengan pemeriksaan fakta justru berpotensi membuat guru merasa khawatir dalam menjalankan tugas mendidik. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, peran guru dikhawatirkan hanya terbatas pada kegiatan mengajar tanpa keleluasaan untuk membina karakter dan kedisiplinan siswa.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang mengabaikan pembentukan moral dan kepatuhan terhadap aturan dapat berdampak pada perilaku generasi mendatang. Tanpa pendidikan karakter yang kuat, anak-anak berisiko tumbuh tanpa pemahaman yang memadai mengenai tanggung jawab, ketertiban, dan penghormatan terhadap sesama.

“Sudah pasti kehidupan tidak lagi memiliki aturan. Yang kuat akan menindas yang lemah, orang berduit akan merasa bisa membeli segalanya. Itu semua karena faktor pendidikan tadi. Jika mengacu pada hadis Nabi, ‘Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.’ Orang tua yang dimaksud di sini bukan saja orang tua secara biologis. Para guru di sekolah merupakan orang tua bagi mereka. Kalau di pesantren ada ustaz dan ustazah, di asrama ada bapak atau ibu wali asrama, dan kalau berada di kos, ada bapak atau ibu kos sebagai orang tua,” tutupnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News