Ulama Muda Aceh Dukung Pelabelan Non-Halal pada Rokok

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ulama muda asal Aceh, Ustaz Masrul Aidi, mendukung wacana pemberian label non-halal pada produk rokok dan vape yang diajukan oleh Muhammadiyah kepada Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah itu menilai pelabelan non-halal dapat memberikan efek psikologis kepada masyarakat. Menurutnya, pelabelan tersebut dapat memberikan stigma negatif terhadap rokok sehingga mendorong masyarakat untuk mengurangi kebiasaan merokok.

Ia mengatakan, keberadaan label non-halal juga dapat mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini menempatkan rokok sebagai sesuatu yang biasa dan selalu tersedia di berbagai tempat, termasuk warung kopi.

“Kalau kita datang ke setiap warung kopi pasti di atasnya selalu ada asbak. Kalau kita lihat definisinya, itu merupakan tong sampah bukan sampah biasa, akan tetapi sampah beracun B3,” kata Ustaz Masrul dalam wawancara Nukilan.id pada Jumat (2/10/2026).

Masrul menilai pesan peringatan kesehatan yang selama ini tercantum pada kemasan rokok belum cukup memberikan efek jera bagi masyarakat untuk berhenti merokok. Karena itu, ia menilai pelabelan halal dan non-halal dapat menjadi pendekatan lain untuk memengaruhi perilaku masyarakat.

Menurutnya, pandangan para ulama masih memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat Aceh. Ia meyakini masyarakat akan lebih mudah diarahkan untuk meninggalkan rokok apabila terdapat penegasan dari kalangan ulama mengenai status produk tersebut. Selain berdampak pada kesehatan, berhenti merokok juga dinilai dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga, terutama keluarga miskin.

“Menurut data yang juga dirilis dinas kesehatan, biaya yang harus yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengobati penyakit yang akibat rokok itu angkanya sangat besar, mengalahkan dari keuntungan pemerintah dari sumbangan iklan-iklan rokok tersebut,” ungkapnya.

Ia menyebut tingginya jumlah perokok di Aceh tidak serta-merta menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut diterima oleh keluarga.

“Banyak orang tua yang tidak menginginkan anak mereka merokok. Begitu pula para istri yang tidak ingin suaminya menjadi perokok. Namun, kecanduan membuat sebagian perokok kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut,” jelasnya.

Masrul juga menyoroti pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok. Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan banyak rumah tangga berada dalam kondisi miskin dan harus mengurangi pemenuhan kebutuhan pokok karena besarnya pengeluaran untuk rokok.

Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berpengaruh terhadap pemenuhan gizi keluarga dan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan persoalan seperti gizi buruk dan stunting.

“Pelabelan label non-halal bagi rokok sangat penting diaplikasikan karena melihat fenomena masyarakat yang rela menghabiskan uang hanya untuk rokok bahkan mengabaikan kebutuhan pokok,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img

Read more

Local News