NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Solidaritas Perempuan Bungoeng Jeumpa Aceh menggelar kegiatan Temu Perempuan Akar Rumput bertema “Melestarikan Sumber Pangan Lokal yang Dikelola oleh Perempuan” di sekretariat setempat, Lamjabat, Banda Aceh, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi perempuan untuk memperkuat peran dalam menjaga keberlanjutan pangan lokal di tengah perubahan sistem pertanian dan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergeser ke makanan siap saji.
Dalam kegiatan tersebut, perempuan yang tergabung dalam kelompok Perempuan Akar Rumput memamerkan berbagai produk pangan lokal, di antaranya phep chu, kerupuk chu, bawang goreng, sawi laot, dan ie bupedah.
Ketua Badan Eksekutif sekaligus Koordinator Program Solidaritas Perempuan Bungoeng Jeumpa Aceh, Yeni Hartini, mengatakan perempuan memiliki peran penting dalam menjaga sumber pangan lokal, mulai dari pemilihan benih hingga mewariskan pengetahuan mengenai pangan tradisional kepada generasi berikutnya.
“Dalam menjaga pangan lokal, peran-peran itu banyak diambil oleh perempuan,” kata Yeni kepada Nukilan.
Menurutnya, perkembangan sistem pertanian yang semakin bergantung pada penggunaan mesin dan benih hibrida turut memengaruhi keberadaan benih lokal. Padahal, perempuan memiliki pengetahuan mengenai jenis benih yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan wilayah tempat mereka tinggal.
Ia menilai penggunaan benih yang seragam membuat keberadaan benih lokal semakin terpinggirkan. Berbeda dengan benih lokal yang secara turun-temurun dipilih berdasarkan kondisi lingkungan, sejumlah benih hibrida yang digunakan saat ini tidak dapat dimanfaatkan kembali untuk penanaman berikutnya dengan hasil yang sama.
“Perempuan sangat mengerti dan paham benih mana yang cocok dengan wilayahnya. Zaman dulu, dengan kondisi cuaca kita, benih itu bisa bertahan. Tetapi hari ini, dengan benih-benih yang diseragamkan, itu tidak bisa menjadi bibit lagi karena hanya sekali pakai,” ujarnya.
Yeni menambahkan, peran perempuan sebagai penjaga pangan lokal belum mendapatkan perhatian yang memadai. Padahal, pengetahuan yang dimiliki perempuan tidak hanya berkaitan dengan pengolahan makanan, tetapi juga mencakup pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional.
Namun, kerusakan lingkungan yang terjadi turut mengancam keberadaan tanaman yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional. Akibatnya, sumber bahan baku sekaligus pengetahuan mengenai penggunaannya berpotensi semakin sulit dipertahankan.
Selain persoalan lingkungan dan pertanian, perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi tantangan dalam pelestarian pangan lokal. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau fast food dinilai membuat makanan tradisional semakin tersisih dari kehidupan sehari-hari.
“Budaya konsumsi kita sekarang sudah beralih dari pangan lokal menjadi fast food atau makanan siap saji, sehingga makanan pangan lokal tersingkirkan,” kata Yeni.
Ia menegaskan, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengelola pangan, tetapi juga sebagai pewaris pengetahuan tradisional yang diwariskan antargenerasi. Pengetahuan tersebut mencakup pemilihan bahan pangan, pengolahan makanan, hingga pemanfaatan sumber daya alam di lingkungan sekitar.
Menurut Yeni, upaya pelestarian perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan tersebut tidak terputus dan hilang seiring perubahan zaman.
“Perempuan ini perannya juga sebagai pewaris pengetahuan terkait pangan tradisional. Kalau ini tidak kita budidayakan, maka pengetahuan terhadap pangan tradisional ini akan hilang,” pungkasnya.
Reporter: Rezi




