Beranda blog Halaman 100

Mahasiswi S3 Studi Islam Soroti Normalisasi Hijab Tak Menutup Aurat di Kalangan Perempuan Muda

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena semakin banyaknya perempuan muda di Aceh yang menormalisasi penggunaan hijab tidak menutup aurat, khususnya bagian leher, dengan alasan modis dan estetika, kian menjadi sorotan. Praktik ini jamak ditemui di ruang-ruang publik seperti warung kopi, kafe, bahkan saat melakukan siaran langsung di media sosial.

Menanggapi kondisi tersebut, NUKILAN.ID pada Rabu (21/1/2026) mewawancarai Aklima, Mahasiswi S3 Studi Islam. Ia menilai fenomena berjilbab tanpa peniti di kalangan perempuan muda Aceh sebagai situasi yang cukup memprihatinkan.

Menurut Aklima, diskursus yang perlu dibangun bukanlah perdebatan soal bentuk atau model jilbab, melainkan pada kesadaran akan urgensi berjilbab itu sendiri sebagai bagian dari citra dan identitas masyarakat Aceh yang hidup dalam bingkai nilai budaya dan syariat.

Dalam pandangannya, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari relasi perempuan dengan tubuh dan kebutuhan akan pengakuan sosial.

“Tubuh perempuan dan eksistensi merupakan dua bagian yang saling mengikat. Eksistensi atau kebutuhan akan pengakuan keberadaan ini yang kemudian menempatkan tubuh pada pergeseran nilai yang sebenarnya,” kata Aklima.

Aklima menjelaskan bahwa dorongan untuk diakui kerap membuat perempuan kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri, karena standar yang digunakan bukan lagi nilai yang diyakini, melainkan persepsi orang lain.

“Kita perempuan memposisikan tubuh atas persepsi orang lain, sehingga kuasa kita akan tubuh tidak didasari pada nilai-nilai yang kita butuhkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa dalam sejarah panjang peradaban, tubuh perempuan sering kali ditempatkan sebagai objek, bahkan alat kepentingan tertentu, yang berpotensi membahayakan jika tidak disadari secara kritis.

“Tubuh perempuan sebagai komoditas dan instrumen politik dalam kajian sejarah dinilai bahwa keberadaan ini akan berbahaya bila tidak dikendalikan. Salah satu yg mesti dilakukan oleh perempuan- perempuan muda yg masih dalam proses pembentukan jati diri ya harus pandai-pandai menfilterisasi budaya budaya luar terkhusus pada trend lifestyle,” ungkapnya.

Dalam konteks Aceh, Aklima menekankan bahwa jilbab tidak semata dimaknai sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai identitas kultural yang melekat erat dengan karakter wilayah bersyariat.

“Kita sebagai perempuan Aceh yang tidak hanya memandang jilbab sebagai simbol keagamaan melainkan identitas yang sarat akan nilai dan budaya yang kemudian membentuk kultur bahwa Aceh wilayah syariat,” jelasnya.

Kesadaran tersebut, lanjutnya, seharusnya tercermin dalam berbagai aspek kehidupan perempuan Aceh, mulai dari gaya hidup hingga cara berpikir dan bersikap di ruang publik.

“Sehingga kita perempuan harus mampu memposisikan diri pada nilai-nilai ini, baik dari lifestyle, prilaku serta pola pikir kita,” pungkasnya.

Aklima juga menyoroti fenomena ikut-ikutan tren atau fear of missing out (FOMO) yang menurutnya menjadi persoalan serius di kalangan generasi muda saat ini.

“Persoalan utama generasi muda kita skrg ini latah atau bahasa gaul skrg fomo, disisi lain kontruksi sosial yang kemudian mendeskripsikan cantik dlm perspektif yg sempit, misal perempuan cantik jika dia mampu menyesuaikan diri dg trend kekinian, putih, gaul dan lainnya,” jelas Aklima.

Situasi tersebut, kata dia, semakin diperparah oleh masifnya industri kecantikan dan fashion yang mengeksploitasi tubuh perempuan demi keuntungan ekonomi, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dan identitas budaya.

“Kemudian, perang bisnis kecantikan dan fashion yang menempatkan perempuan sebagai objek untuk konsumen vital untuk meraup keuntungan dengan menafikan nilai-nilai kemanusiaan didalamnya,” tutupnya.

Aklima berharap, perempuan muda Aceh mampu membangun kesadaran kritis terhadap arus budaya populer, serta menempatkan hijab bukan sekadar aksesori visual, melainkan cerminan nilai, identitas, dan martabat diri sebagai perempuan Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Kapolda Aceh Tinjau Sumur Bor Bantuan Polri di Aceh Tamiang, Pastikan Masih Berfungsi dan Bermanfaat

0
Kepala Kepolisian Daerah Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas sumur bor bantuan Polri yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Kepala Kepolisian Daerah Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas sumur bor bantuan Polri yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan sumur bor yang telah dibangun masih berfungsi optimal serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pascabencana.

Kapolda Aceh menyampaikan bahwa pembangunan sumur bor tersebut merupakan bagian dari program kemanusiaan yang digagas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan disalurkan ke berbagai wilayah di Aceh.

“Hari ini Sabtu 24 Januari 2026 kami mengecek sumur-sumur yang telah diberikan oleh Bapak Kapolri,” ujar Kapolda Aceh.

Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa pengeboran sumur, tetapi juga dilengkapi dengan sarana pendukung lainnya seperti mesin pompa dan toren air.

“Total bantuan sumur bor Bapak Kapolri yaitu sebanyak 267 titik, meliputi pembuatan sampai dengan mesin dan toren,” jelasnya.

Kapolda Aceh menegaskan, jajaran Polda Aceh berkomitmen untuk memastikan seluruh bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Jika ditemukan kendala atau kerusakan, pihaknya akan segera melakukan perbaikan agar fungsi sumur bor tetap terjaga.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran peninjauan adalah RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang. Dari hasil pengecekan, sumur bor bantuan Polri di rumah sakit tersebut masih berfungsi dengan baik dan terus dimanfaatkan untuk menunjang pelayanan kesehatan.

“Alhamdulillah di RSUD Kabupaten Aceh Tamiang, hari ini sumur bor bantuan Polri masih bermanfaat. Semoga bermanfaat bagi Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Tamiang,” ucap Kapolda.

Sementara itu, Direktur RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang, Dr Andika Putra SA, menyampaikan bahwa bantuan sumur bor dari Polri sangat membantu operasional rumah sakit sejak masa awal pascabencana hingga saat ini.

“Hari ini kami kedatangan kunjungan dari Bapak Kapolda beserta Ibu untuk melihat bantuan sumur bor dari Bapak Kapolri. Alhamdulillah, sumur sudah beroperasi dan kami gunakan untuk kebutuhan operasional rumah sakit sejak awal-awal pasca bencana sampai sekarang ini terus kami gunakan,” ungkapnya.

Ia berharap, bantuan tersebut dapat terus memberikan manfaat dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh Tamiang.

“Mudah-mudahan apa yang sudah diberikan ini terus bisa memberikan manfaat untuk kegiatan pelayanan di rumah sakit,” katanya.

Dr Andika juga menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada Kapolri dan seluruh jajaran Polri atas perhatian dan kepedulian yang diberikan kepada pihak rumah sakit.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan seluruh jajarannya atas perhatiannya kepada RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang,” pungkasnya.

Wali Kota Banda Aceh Pimpin Aksi Kemanusiaan ke Gayo Lues

0
Wali Kota Banda Aceh Pimpin Aksi Kemanusiaan ke Gayo Lues. (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal memimpin langsung misi kemanusiaan ke Kabupaten Gayo Lues pada Kamis, 22 Januari 2026. Kunjungan tersebut dilakukan bersama rombongan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Dalam misi tersebut, Illiza menyerahkan bantuan kemanusiaan yang berasal dari Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarbaru kepada warga terdampak di Gayo Lues. Rombongan harus menempuh perjalanan panjang melalui jalur Babah Rot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), dengan kondisi medan yang tergolong berat.

Sepanjang perjalanan, rombongan melewati jalur pegunungan yang terjal serta sejumlah ruas jalan yang terdampak longsor. Meski menghadapi tantangan tersebut, rombongan tetap melanjutkan perjalanan sebagai wujud komitmen untuk memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Setibanya di Kantor Bupati Gayo Lues, Wali Kota Banda Aceh disambut langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues. Selanjutnya, Illiza didampingi Camat Tripe Jaya meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Desa Uyem Beriring dan Desa Pasir, sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga.

Bantuan disalurkan untuk satu unit Sekolah Dasar (SD) dan satu masjid yang terdampak bencana. Adapun bantuan yang diberikan meliputi kain sarung, sajadah, mukena, baju koko dewasa, Al-Qur’an, air mineral, family kit, kasur, dan bantal.

Wali Kota Banda Aceh menyampaikan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan wujud solidaritas dan kepedulian antardaerah terhadap masyarakat yang tertimpa musibah. “Semoga bantuan ini dapat meringankan beban warga serta mempercepat proses pemulihan pascabencana.”

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Banda Aceh dalam kegiatan kemanusiaan lintas daerah.

“Pemerintah Kota Banda Aceh terus berkomitmen untuk hadir dalam setiap upaya kemanusiaan dan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah lain demi membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Illiza.

Gerakan Tanah di Ketol dan Sejumlah Wilayah Aceh Tengah Masih Berpotensi Bergerak, ESDM Aceh Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

0
Gerakan Tanah di Ketol dan Sejumlah Wilayah Aceh Tengah Masih Berpotensi Bergerak, ESDM Aceh Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan bahwa aktivitas gerakan tanah dan longsor di Kecamatan Ketol serta sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah masih berpotensi terjadi. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama di lokasi bekas longsoran yang hingga kini masih menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan tanah.

Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik ST, MSi, menyampaikan hal tersebut setelah tim geologi ESDM Aceh melakukan peninjauan dan pemantauan lapangan di beberapa titik rawan gerakan tanah pada pekan lalu. Kegiatan ini bertujuan memastikan kondisi terkini sekaligus mengevaluasi potensi bahaya lanjutan, khususnya pada musim hujan.

“Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kami menemukan bahwa di beberapa lokasi longsor lama masih dijumpai rekahan tanah yang cukup berkembang pada bagian mahkota longsoran. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa tanah tersebut belum stabil sepenuhnya dan masih berpotensi bergerak kembali, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas menengah-tinggi,” ujar Taufik.

Ia menjelaskan, salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Gampong Pondok Balek, Kecamatan Ketol. Kawasan tersebut telah lama diidentifikasi sebagai zona gerakan tanah aktif. Dinas ESDM Aceh sebelumnya juga melakukan kajian teknis melalui survei ortofoto, pengukuran geolistrik, serta metode ADMT/AGR untuk mengetahui karakteristik bawah permukaan tanah.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pergerakan tanah di kawasan tersebut berlangsung secara lambat namun terus berkembang. Wilayah Pondok Balek tersusun oleh material vulkanik lapuk dari Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang bersifat permeabel pada kedalaman tertentu dan mudah jenuh air. Kondisi ini membuat tanah rentan mengalami pergerakan, terutama saat curah hujan meningkat.

Data ortofoto bahkan memperlihatkan adanya pergeseran tanah hingga beberapa meter ke arah tenggara, sejalan dengan arah potensi longsoran yang teridentifikasi dari hasil pengukuran bawah permukaan.

“Kondisi geologi seperti ini menyebabkan kawasan Pondok Balek dan sekitarnya sangat rentan terhadap gerakan tanah berulang, sehingga memerlukan perhatian serius dan penanganan yang terencana,” jelasnya.

Selain Kecamatan Ketol, tim ESDM Aceh juga mencatat kejadian longsor tersebar di sejumlah wilayah Aceh Tengah, terutama pada kawasan lereng curam. Banyaknya rekahan di bagian mahkota longsor menjadi indikasi bahwa pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan dan berpotensi memicu longsor susulan.

Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain ruas Jalan Bireuen–Takengon, kawasan permukiman dan lereng di Desa Mendale dan Desa Payareje (Kecamatan Kebayakan), Desa Hakim Bale Bujang (Kecamatan Lut Tawar), wilayah Kecamatan Bintang, serta desa-desa lain dengan kondisi geologi serupa. Daerah-daerah tersebut umumnya tersusun oleh material vulkanik lepas seperti tufa dan pasir dengan kemiringan lereng yang curam, sehingga rentan longsor, terutama saat hujan berintensitas menengah hingga tinggi maupun ketika terjadi gempa bumi.

Berdasarkan hasil peninjauan, sejumlah lokasi masih menyisakan bekas longsoran lama yang memiliki rekahan dan blok tanah belum stabil. Karena itu, masyarakat dan pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan, menghindari area tebing rawan longsor, serta memperhatikan rambu peringatan yang telah dipasang.

Pemerintah daerah juga didorong untuk melakukan pemantauan rutin, sosialisasi kebencanaan, serta kajian geologi teknik dan tata lingkungan sebelum pembangunan infrastruktur maupun relokasi permukiman sebagai langkah mitigasi risiko bencana.

Rekomendasi Teknis dan Imbauan

Sebagai upaya pencegahan, Dinas ESDM Aceh meminta pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan pengawasan di wilayah rawan gerakan tanah, khususnya pada area bekas longsoran yang masih menunjukkan rekahan aktif.

Taufik menekankan pentingnya pengendalian air permukaan dan sistem drainase karena air hujan menjadi faktor utama yang meningkatkan tekanan air pori dan melemahkan kestabilan lereng. Pada lokasi berisiko tinggi terhadap infrastruktur strategis, relokasi trase jalan dinilai perlu dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang.

Selain itu, pemantauan berkala melalui pengamatan lapangan dan pengukuran teknis lanjutan perlu terus dilakukan, terutama selama musim hujan. Pemasangan rambu peringatan serta pembatasan aktivitas di sekitar zona rawan longsor juga dinilai penting guna mengurangi risiko bagi masyarakat dan pengguna jalan.

Kepala Dinas ESDM Aceh turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat mempercepat gerakan tanah, seperti membuka lereng tanpa kaidah teknis. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya rekahan, pohon atau tiang yang mulai miring, maupun perubahan aliran air.

“Upaya mitigasi gerakan tanah membutuhkan kerja sama semua pihak. Kewaspadaan dini dan penanganan yang tepat akan sangat membantu mengurangi risiko dan dampak bencana di kemudian hari,” tutupnya.

Operasi Modifikasi Cuaca Masih Berlanjut di Aceh

0
Ilustrasi cuaca cerah berawan. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Aceh terus dilaksanakan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem, mulai dari potensi banjir dan longsor hingga munculnya titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Koordinator Lapangan OMC Wilayah Aceh, Dwipa Wirawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah berlangsung sejak 28 November 2025 atas instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi tersebut dilakukan menyusul potensi hujan lebat yang berisiko memicu bencana.

“Sejak adanya rencana penanganan cuaca ekstrem, kami dari pelaksana OMC telah mengantisipasi dengan melakukan penyemaian awan sesuai perintah BNPB, agar hujan tidak berdampak pada banjir dan longsor seperti yang terjadi pada November lalu,” kata Dwipa, Minggu (25/1/2026).

Pada tahap awal, OMC beroperasi dengan basis di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Langkah ini dilakukan untuk menghalau hujan di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Namun, seiring perkembangan kondisi cuaca dan kebutuhan nasional, termasuk tingginya curah hujan di Pulau Jawa, basis operasi kemudian dipindahkan ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Dwipa menyebutkan, saat ini fokus utama OMC adalah mengendalikan hujan guna mendukung pembangunan hunian sementara di wilayah terdampak bencana. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat dapat kembali menempati tempat tinggal yang layak, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Penyemaian awan terus kami lakukan di sejumlah wilayah seperti Bireuen, Pidie, dan Aceh Timur, sekaligus mengamankan pembangunan jalur transportasi yang masih terputus akibat bencana,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan terjadi di Aceh dengan intensitas ringan hingga sedang. Meski demikian, kondisi tanah yang belum stabil dinilai masih berpotensi memicu longsor susulan serta menghambat pembangunan infrastruktur darurat.

Hingga kini, OMC telah melaksanakan sekitar 260 sorti penerbangan, dengan rincian masing-masing 130 sorti dari Bandara Kualanamu dan Bandara Sultan Iskandar Muda.

Selain mengantisipasi banjir dan longsor, OMC juga diarahkan untuk merespons kemunculan 175 titik panas di sejumlah wilayah Aceh. Dwipa mengatakan, penyemaian awan diharapkan dapat memicu hujan di daerah rawan karhutla, terutama di Aceh Barat dan Nagan Raya.

“Kondisi ini cukup menantang, karena di satu wilayah hujan sangat diharapkan untuk memadamkan hotspot, sementara di wilayah lain hujan justru harus diminimalkan karena pembangunan dan rehabilitasi jalur darat masih berlangsung,” jelasnya.

Secara teknis, tantangan terbesar dalam operasi ini adalah pertumbuhan awan yang cepat serta kondisi wilayah pegunungan yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Risiko tersebut terutama meningkat pada sore hingga malam hari akibat masuknya massa udara dari Selat Malaka dan Samudera Hindia.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas, sehingga pergerakan pesawat harus dibatasi dan tidak bisa terlalu dekat dengan badan awan,” kata Dwipa.

Pada Minggu (25/1/2026), OMC melaksanakan dua sorti penerbangan. Sorti pertama dilakukan pada pagi hari untuk menghalau awan di perairan sekitar Aceh Timur agar tidak bergerak ke daratan. Sementara sorti kedua dilakukan pada siang hari menuju wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur.

Dwipa menambahkan, operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga status siaga darurat dicabut atau setidaknya sampai pembangunan hunian sementara dapat diselesaikan secara optimal.

“Kami akan terus memantau perkembangan cuaca dan pertumbuhan awan di seluruh wilayah Aceh, baik di bagian timur maupun barat,” pungkasnya.

Pemerintah Aceh Lantik 201 Kepala SMA, SMK, dan SLB

0
Pemerintah Aceh Lantik 201 Kepala SMA, SMK, dan SLB. (Foto: Disdik Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melantik 201 kepala sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Aceh. Prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan tersebut berlangsung di Anjungan Mata, Banda Aceh, Senin (26/1/2026).

Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA, yang mewakili Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Dalam sambutannya, M. Nasir menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukan sekadar rotasi jabatan administratif, melainkan amanah untuk memimpin proses pembelajaran di sekolah.

“Jabatan kepala sekolah adalah amanah besar. Bapak dan Ibu adalah pemimpin pembelajaran sekaligus teladan bagi seluruh warga sekolah dalam membangun budaya belajar yang sehat, disiplin, inklusif, dan berorientasi masa depan,” ujar M. Nasir.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para kepala sekolah atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh. Menurutnya, sejumlah capaian pendidikan di tingkat nasional tidak terlepas dari kerja keras para kepala sekolah di berbagai daerah.

Sekda Aceh juga menyinggung keberhasilan program beasiswa bagi 93.579 anak yatim yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh. Program tersebut, kata dia, menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan.

“Prestasi pendidikan Aceh di tingkat nasional tidak terlepas dari kerja keras kepala sekolah. Terima kasih atas dedikasi dan komitmen yang telah ditunjukkan,” katanya.

Meski demikian, Pemerintah Aceh masih menyoroti tantangan di sektor pendidikan, terutama masih adanya anak usia 16 hingga 18 tahun yang belum mengenyam pendidikan formal. Karena itu, para kepala sekolah diminta lebih aktif melakukan identifikasi serta pendekatan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Jika tidak kita tangani secara serius, kondisi ini akan berdampak pada pembangunan ekonomi Aceh di masa depan. Kepala sekolah harus menjadi garda terdepan dalam memastikan anak-anak kita kembali bersekolah,” tegas Sekda.

Selain persoalan akses pendidikan, pemerintah juga memberi perhatian terhadap upaya pemulihan sektor pendidikan di sejumlah wilayah yang terdampak bencana. Pemerintah Aceh, kata dia, terus melakukan intervensi melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.

Dalam kesempatan yang sama, M. Nasir turut menyinggung kebijakan nasional terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan sejak 2025 dan diharapkan berjalan lebih optimal pada 2026.

“Program ini tidak hanya memastikan kecukupan gizi peserta didik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah harus mampu menangkap peluang ini,” ujarnya.

Pelantikan tersebut turut disaksikan oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh Drs. Syakir, M.Si, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, S.Pd., MSP, anggota DPRA, Kepala BKA Aceh Abd Qahar, S.Kom., MM, Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Aceh Akkar Arafat, S.STP., M.Si, serta sejumlah pejabat eselon III di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh.

Pemerintah Aceh Lantik 201 Kepala SMA, SMK, dan SLB di Lingkungan Dinas Pendidikan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melantik 201 kepala sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Aceh. Prosesi pengambilan sumpah dan pelantikan tersebut berlangsung di Anjungan Mata, Banda Aceh, Senin (26/1/2026).

Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA, yang mewakili Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Dalam sambutannya, M. Nasir menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukan sekadar rotasi jabatan administratif, melainkan amanah untuk memimpin proses pembelajaran di sekolah.

“Jabatan kepala sekolah adalah amanah besar. Bapak dan Ibu adalah pemimpin pembelajaran sekaligus teladan bagi seluruh warga sekolah dalam membangun budaya belajar yang sehat, disiplin, inklusif, dan berorientasi masa depan,” ujar M. Nasir.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para kepala sekolah atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh. Menurutnya, sejumlah capaian pendidikan di tingkat nasional tidak terlepas dari kerja keras para kepala sekolah di berbagai daerah.

Sekda Aceh juga menyinggung keberhasilan program beasiswa bagi 93.579 anak yatim yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh. Program tersebut, kata dia, menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan.

“Prestasi pendidikan Aceh di tingkat nasional tidak terlepas dari kerja keras kepala sekolah. Terima kasih atas dedikasi dan komitmen yang telah ditunjukkan,” katanya.

Meski demikian, Pemerintah Aceh masih menyoroti tantangan di sektor pendidikan, terutama masih adanya anak usia 16 hingga 18 tahun yang belum mengenyam pendidikan formal. Karena itu, para kepala sekolah diminta lebih aktif melakukan identifikasi serta pendekatan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Jika tidak kita tangani secara serius, kondisi ini akan berdampak pada pembangunan ekonomi Aceh di masa depan. Kepala sekolah harus menjadi garda terdepan dalam memastikan anak-anak kita kembali bersekolah,” tegas Sekda.

Selain persoalan akses pendidikan, pemerintah juga memberi perhatian terhadap upaya pemulihan sektor pendidikan di sejumlah wilayah yang terdampak bencana. Pemerintah Aceh, kata dia, terus melakukan intervensi melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.

Dalam kesempatan yang sama, M. Nasir turut menyinggung kebijakan nasional terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan sejak 2025 dan diharapkan berjalan lebih optimal pada 2026.

“Program ini tidak hanya memastikan kecukupan gizi peserta didik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah harus mampu menangkap peluang ini,” ujarnya.

Pelantikan tersebut turut disaksikan oleh Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh Drs. Syakir, M.Si, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, S.Pd., MSP, anggota DPRA, Kepala BKA Aceh Abd Qahar, S.Kom., MM, Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Aceh Akkar Arafat, S.STP., M.Si, serta sejumlah pejabat eselon III di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh.

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabanjir Aceh Timur Terkendala Akses Wilayah

0
Potret Mendagri Tito Karnavian saat meninjau lokasi terdampak banjir di Aceh Timur, Minggu (25/1/2026). (Foto: Dok. Kemendagri)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur. Penegasan tersebut disampaikan saat Tito meninjau langsung Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kamis (22/1/2026), salah satu kawasan dengan tingkat kerusakan terparah.

Dalam kunjungan itu, Tito yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menekankan dua fokus utama pemulihan, yakni pembukaan akses menuju wilayah terdampak serta penataan kembali hunian warga pascabencana.

Ia menggambarkan Desa Sahraja sebagai wilayah yang hampir seluruh permukimannya hancur akibat terjangan banjir bandang. Rumah-rumah warga rusak berat, bahkan material kayu berukuran besar terseret hingga ke atap bangunan dan fasilitas umum.

“Semua rumah di sini tidak ada satu pun yang utuh. Semuanya hancur, bahkan di atas atap sekolah, ada kayu log yang sangat besar. Di atas rumah juga ada kayu log menunjukkan tingginya apa, genangan air banjir. Semua habis dan semua mengungsi. Semuanya rusak berat, hilang,” kata Tito.

Akibat kondisi tersebut, seluruh warga terpaksa mengungsi karena kawasan permukiman sudah tidak layak huni. Pemerintah menilai penanganan di wilayah ini membutuhkan langkah cepat dan terintegrasi lintas sektor.

Selain kerusakan permukiman, persoalan akses menuju lokasi terdampak masih menjadi tantangan utama. Hingga kini, sejumlah jalur menuju desa-desa terdampak belum dapat dilalui kendaraan roda empat.

Tito menyebut, pemerintah pusat dan daerah terus melakukan koordinasi untuk membuka kembali akses tersebut, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta pemerintah daerah setempat.

“Kita urus, ada Kepala BNPB mengurus juga, dan kemudian akses jalan apa pun juga, sedapat mungkin kita bisa masuk, meskipun dengan kendaraan trail untuk pengiriman logistik. Terutama yang penting sekali di samping juga bisa melalui sungai seperti tadi kita mencoba lewat sungai,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, masih terdapat dusun-dusun yang terisolasi dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai. Kondisi ini membuat distribusi logistik belum dapat dilakukan secara rutin setiap hari.

Dalam aspek pemulihan jangka menengah dan panjang, Tito juga menyoroti pentingnya penataan hunian pascabencana yang memperhatikan kondisi sosial serta aspirasi masyarakat setempat. Menurutnya, sebagian besar warga Aceh Timur tidak menginginkan relokasi ke kawasan hunian terpusat.

“Membangunkan huntara. Kalau enggak mau, langsung [membangun] hunian tetap ya. Rata-rata maunya di sini tidak mau satu hamparan, satu komplek, tapi mereka mau di tanahnya mereka, tempat yang lebih tinggi,” jelasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar proses rehabilitasi berjalan efektif dan berkelanjutan. Tito juga mengapresiasi kepemimpinan Bupati Aceh Timur yang dinilainya tetap solid dan tangguh di tengah situasi krisis.

“Jadi ini salah satu fokus kita untuk Aceh Timur ini, kunjungan saya pertama dan kedua, saya melihat sudah ada kemajuan. Mentalnya Pak Bupati juga saya lihat tidak kendor. Itu yang paling penting sekali, kalau sudah pemimpinnya strong, fight, Satgas semua akan semangat,” tandasnya.

Kebakaran Lahan Gambut di Aceh Barat Sulit Dipadamkan Akibat Angin Kencang

0
Ilustrasi Karhutla.(Foto: Merdeka)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Cuaca panas disertai angin kencang menghambat proses pemadaman kebakaran lahan gambut yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Hingga Minggu (25/1/2026) malam, luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai sekitar 18 hektare dan tersebar di dua kecamatan, yakni Johan Pahlawan dan Meureubo.

Kebakaran lahan gambut terpantau di sejumlah titik di Kecamatan Johan Pahlawan, terutama di Desa Suak Raya, Desa Suke, dan Desa Lapang. Sementara itu, di Kecamatan Meureubo, api terdeteksi di wilayah Alpen, Desa Ujong Tanoh Darat, serta Desa Pasi, Aceh Tenong.

Kondisi lahan gambut yang kering akibat cuaca panas dalam beberapa pekan terakhir memperparah situasi. Api sulit dipadamkan karena merambat hingga ke kedalaman sekitar lima meter di bawah permukaan tanah, sehingga menyulitkan proses pemadaman secara menyeluruh.

Upaya pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta dibantu masyarakat setempat. Namun, keterbatasan peralatan dan karakteristik gambut yang mudah menyimpan bara api membuat proses pemadaman berjalan lambat.

Selain merusak lahan, kebakaran tersebut juga menimbulkan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dan berpotensi mengganggu kesehatan warga.

Kepala BPBD Aceh Barat, Ronald Nehdiansyah, mengakui angin kencang menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman kebakaran lahan gambut tersebut.

“Angin ini sangat menyulitkan kita untuk melakukan pemadaman. Karena kadang-kadang kita sudah berhasil memadamkan di permukaan tapi di dalam belum tentu padam. Dan itu sulit untuk mendeteksi sifat gambut seperti bara api. Semakin dalam gambut itu semakin sulit untuk mengetahui apakah di bawah tanah itu sudah padam atau belum,” ujarnya.

Hingga saat ini, petugas masih terus melakukan upaya pemadaman guna mencegah meluasnya kebakaran serta mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Amad Diallo Sindir Fans Arsenal Usai MU Menang Dramatis di Emirates

0
Pemain Manchester United, Amad Diallo berduel dengan pemain Arsenal, Leandro Trossard, dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (Foto: AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Manchester United meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Arsenal dalam lanjutan Liga Inggris di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026). Selain mengakhiri puasa kemenangan delapan tahun di kandang The Gunners, laga tersebut juga memantik tensi baru di luar lapangan setelah winger MU, Amad Diallo, melontarkan sindiran pedas kepada pendukung Arsenal di media sosial.

Pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal. Arsenal sempat unggul lebih dulu setelah Lisandro Martinez melakukan gol bunuh diri. Namun keunggulan tuan rumah tak bertahan lama. Manchester United mampu menyamakan kedudukan melalui Bryan Mbeumo yang memanfaatkan kesalahan fatal Martin Zubimendi.

Memasuki babak kedua, Setan Merah berbalik unggul lewat gol Patrick Dorgu. Tembakan keras pemain muda tersebut sempat membentur mistar sebelum akhirnya masuk ke gawang Arsenal. Arsenal kemudian kembali menyamakan skor menjadi 2-2 melalui Mikel Merino yang mencetak gol dari situasi kemelut hasil sepak pojok.

Saat laga tampak akan berakhir imbang, Manchester United memastikan kemenangan melalui Matheus Cunha. Masuk sebagai pemain pengganti, Cunha melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Arsenal, David Raya, sekaligus mengunci skor 3-2 untuk tim tamu.

Kemenangan tersebut bukan hanya berarti tiga poin, tetapi juga menjadi sinyal kebangkitan Manchester United di bawah era Michael Carrick. Namun, dampaknya tak berhenti di atas lapangan.

Amatan Nukilan.id, Amad Diallo menjadi sorotan setelah terlibat adu sindir dengan seorang penggemar Arsenal di media sosial X. Sebelum pertandingan, suporter tersebut menuliskan, “Arsenal menang 4-0, mereka sudah kirim skripnya ke saya.” Pesan itu rupanya diingat betul oleh Amad.

Usai pertandingan berakhir dengan kemenangan Manchester United, Amad mengunggah grafik skor pertandingan disertai tulisan, “Nikmati saja, CIL!”

Interaksi tersebut berlanjut ketika penggemar Arsenal itu membalas dengan kalimat, “Jangan pernah cuit saya lagi.” Amad kembali menyindir dengan menuliskan, “Satu-satunya harapan kalian cuma sepak pojok. Yang humble CIL,” merujuk pada kecenderungan Arsenal mencetak gol dari situasi bola mati.

Sindiran tersebut kian memanaskan rivalitas klasik Arsenal dan Manchester United, yang kembali tersaji bukan hanya di lapangan, tetapi juga di dunia maya. (XRQ)

Reporter: Akil