Beranda blog Halaman 95

BNPB Siap Turunkan Dua Pesawat OMC ke Aceh Barat

0
Bupati Aceh Barat, Tarmizi bersamap Kalak BPBD meninjau dan memadamkan lahan gambut yang terbakar di Desa Suak Raya, Senin, 26 Januari 2026. (Foto Diskominsa Aceh Barat)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kesiapan mendukung penanganan kekeringan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh Barat dengan menurunkan dua unit pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, SP, MM menyebutkan, dukungan tersebut merupakan hasil komunikasi dan koordinasi intensif antara Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan Kepala BNPB sebagai respons atas kondisi cuaca kering yang berpotensi memicu karhutla.

“BNPB sudah menyatakan kesiapan mengirimkan dua pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca. Ini menjadi ikhtiar strategis untuk meningkatkan curah hujan, tentunya dengan catatan terdapat awan yang memenuhi syarat,” ujar Tarmizi, Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer. Apabila awan tersedia, pesawat akan melakukan penyemaian awan, namun jika tidak, modifikasi cuaca tidak dapat dilaksanakan.

“OMC ini menggunakan metode penyemaian awan dengan menaburkan garam pada titik koordinat tertentu. Garam bersifat higroskopis, sehingga dapat mempercepat terbentuknya butiran hujan,” katanya.

Tarmizi berharap langkah ini dapat mempercepat turunnya hujan secara merata guna menekan risiko kekeringan sekaligus mencegah meluasnya karhutla di Aceh Barat. Selain pesawat OMC, BNPB juga akan menyalurkan peralatan pendukung seperti pompa air untuk memperkuat penanganan darurat di lapangan.

“BNPB juga menyatakan kesiapan menurunkan helikopter untuk penyiraman langsung dari udara apabila modifikasi cuaca belum memberikan hasil maksimal,” ucap Tarmizi.

Kolaborasi antara Pemkab Aceh Barat dan BNPB ini menjadi bagian dari upaya terpadu menghadapi dampak cuaca ekstrem serta melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman karhutla.

Menteri Kesehatan Tegur Para Suami: Uang Rokok Lebih Baik Jadi Telur untuk Gizi Keluarga

0
Menteri Kesehatan RI. Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Kemenkes RI)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan para suami agar lebih bijak dalam mengelola pengeluaran rumah tangga, khususnya terkait kebiasaan merokok. Ia menegaskan, uang yang dihabiskan untuk rokok seharusnya bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, terutama anak-anak.

Melalui konten Budi Gemar Sharing (BGS) yang diunggah di Reels Instagram pada Rabu (28/1/2026), Budi membandingkan harga rokok dengan bahan pangan bergizi. Menurutnya, satu bungkus rokok seharga Rp30 ribu setara dengan harga satu bungkus telur ayam yang dapat dikonsumsi seluruh anggota keluarga.

“Ibu-ibu, saya dukung untuk omelin suaminya yang masih bandel merokok. Satu bungkus rokok buat suami itu harganya Rp30 ribu. Satu bungkus telur ayam untuk seluruh keluarga harganya juga Rp30 ribu,” ujarnya.

Budi menuturkan, selama ini ia kerap mendengar keluhan masyarakat mengenai keterbatasan ekonomi yang berdampak pada pemenuhan gizi anak hingga memicu stunting. Namun, ia menilai kebiasaan merokok di lingkungan keluarga sering kali luput disadari sebagai salah satu penyebab utama masalah tersebut.

Ia menegaskan bahwa rokok tidak memberikan manfaat apa pun bagi kesehatan. Bahkan, menurutnya, dampak buruk rokok sudah tergambar jelas pada kemasannya.

“Satu bungkus rokok ini isinya penyakit semua. Kita kan lihat tuh, sudah ada di gambarnya, penyakit semua!” katanya.

Budi menjelaskan, satu bungkus rokok seharga Rp30 ribu umumnya habis dalam satu hari. Sebaliknya, telur dengan harga yang sama dapat dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga dan bertahan lebih dari satu hari, sekaligus memberikan asupan protein yang dibutuhkan tubuh.

Karena itu, ia mengingatkan para suami agar tidak menjadikan rokok sebagai prioritas pengeluaran. Budi berharap anggaran rokok dapat dialihkan menjadi jatah pangan bergizi bagi anak-anak demi kesehatan keluarga dalam jangka panjang.

Imbauan tersebut sejalan dengan kampanye gaya hidup sehat yang terus digencarkan Kementerian Kesehatan melalui berbagai program edukasi publik. Dalam berbagai kesempatan, Budi Gunadi Sadikin secara konsisten mengajak masyarakat untuk berhenti merokok dan mengganti kebiasaan tidak sehat dengan pola konsumsi yang lebih bergizi.

Ia juga mengajak para kepala keluarga untuk lebih bertanggung jawab dalam menentukan prioritas belanja rumah tangga. Pesan tersebut mendapat respons luas dari warganet di media sosial.

“Ini bapak Menkes terkeren sampai saat ini. Nggak hanya melarang kebiasaan buruk, tapi ngasih alternatif solusi dengan budaya yang lebih baik. Keren, Pak, jangan lelah menginspirasi kami,” tulis akun akhn a.saefuddin.official.

“Suka sama konten-konten edukasinya, Pak Menkes, menarik,” tulis akun rinikaida. (XRQ)

Reporter: Akil

Ratusan Huntara Mulai Dihuni Korban Banjir di Aceh Utara

0
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil akrab disapa Ayahwa meresmikan penggunaan hunian sementara di Desa Tanjong Dalam, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Senin (28/1/2026).(Foto: KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan ratusan unit hunian sementara (huntara) kepada pengungsi korban banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Rabu (28/1/2026).

Sebanyak 180 unit huntara dibangun di Desa Tanjong Dalam dan 36 unit lainnya berada di Desa Simpang Tiga. Peresmian penggunaan hunian tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa, sekaligus menyerahkan kunci kepada para penerima bantuan.

Seluruh unit huntara yang telah rampung itu kini sudah ditempati pengungsi. Setiap hunian berukuran 4,5 x 4,5 meter dan dilengkapi dengan dua ranjang tidur lajang, satu kipas angin, serta satu lemari berbahan plastik.

Pembangunan huntara tersebut dikerjakan oleh Danantara melalui PT PP (Persero). Ayahwa menyampaikan apresiasi atas percepatan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak banjir di wilayahnya.

“Terima kasih pada Danantara dan BNPB yang mempercepat pengerjaan seluruh huntara di Aceh Utara. Bagi masyarakat yang belum mendapatkan, harap sabar, karena sebagian memang dalam pengerjaan,” kata Ayahwa.

Politisi Partai Aceh itu menjelaskan, percepatan pembangunan huntara merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden RI Prabowo Subianto agar seluruh hunian sementara dapat diselesaikan sebelum bulan Ramadhan.

“Langkahan ini sekitar 2.000 lebih huntara dalam proses pengerjaan, salah satunya yang kita resmikan hari ini,” kata dia.

Selain Kecamatan Langkahan, pembangunan huntara juga dilakukan di sejumlah kecamatan lain di Aceh Utara, yakni Tanah Jambo Aye, Baktiya, Seunuddon, Baktiya Barat, Sawang, Muara Batu, dan Dewantara.

“Laporan yang kita terima sekitar 4.000 huntara total di Aceh Utara,” kata dia.

Berdasarkan data Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, khusus di Kabupaten Aceh Utara telah rampung sebanyak 829 unit huntara, sementara sekitar 3.400 unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

Pemkab Aceh Tamiang Salurkan DTH Perdana Rp1,8 Juta untuk 259 KK Terdampak Bencana

0
Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi menyerahkan bantuan dana tunggu hunian (DTH) secara simbolis kepada 259 warga terdampak bencana yang kehilangan tempat tinggal sebesar Rp1,8 juta untuk masa tiga bulan di Aula Setdakab Kantor Bupati setempat, Rabu (28/1/2028). (Foto: Pemkab Aceh Tamiang)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menyalurkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) perdana kepada 259 kepala keluarga (KK) yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana banjir bandang. Bantuan sebesar Rp1,8 juta per KK tersebut diberikan untuk masa tiga bulan, yakni Januari hingga Maret 2026.

Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi mengatakan, bantuan DTH diberikan sebesar Rp600 ribu per bulan dan pada tahap awal disalurkan sekaligus untuk tiga bulan.

“Tercatat 259 KK telah menerima bantuan DTH perdana sebesar Rp600 ribu per bulan. Pada tahap ini, DTH disalurkan sekaligus untuk masa tiga bulan dengan nominal Rp1,8 juta per KK,” ujar Armia Fahmi, Rabu (28/1/2026).

Penerima bantuan berasal dari tiga kecamatan, yaitu Banda Mulia, Kejuruan Muda, dan Bendahara. DTH tersebut bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan diperuntukkan bagi warga yang rumahnya hanyut atau mengalami kerusakan berat.

Armia Fahmi menegaskan, penyaluran DTH merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana.

“Pemerintah sangat memahami bahwa kehilangan tempat tinggal merupakan beban yang sangat berat. Penyerahan DTH adalah wujud nyata kehadiran negara dalam mendampingi masyarakat menghadapi masa sulit ini bersama-sama,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan DTH bersifat stimulan untuk memenuhi kebutuhan hunian sementara selama proses pemulihan berlangsung. Bantuan ini juga diharapkan dapat menunjang kebutuhan tempat tinggal sambil menunggu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.

Selain itu, Armia Fahmi menginstruksikan camat dan BPBD agar terus mendampingi warga, khususnya dalam proses verifikasi dan validasi data penerima bantuan.

“Saya berpesan pastikan proses verifikasi valid dan akurat. Jangan sampai ada hak masyarakat yang terlewatkan. Untuk rumah yang mengalami rusak berat, kita sedang mengupayakan langkah berikutnya, termasuk koordinasi bantuan stimulan hingga Rp60 juta untuk pembangunan kembali,” ujarnya.

Penyaluran DTH difokuskan bagi warga yang tidak menempati hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).

“Ketiga kecamatan yang menjadi penerima tahap awal DTH, kita nilai paling responsif dan paling cepat dalam mengirimkan kelengkapan data administrasi serta hasil verifikasi warga terdampak,” kata Armia Fahmi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang Iman Suhery menjelaskan bahwa total calon penerima DTH di tiga kecamatan mencapai 270 KK, namun baru 259 KK yang datanya lengkap.

“270 KK tersebut merupakan pengungsi dari Kecamatan Kejuruan Muda 150 KK, Bendahara 105 KK, dan Banda Mulia 15 KK. 11 KK lagi tetap terakomodir, mereka masih melakukan penyempurnaan administrasi yang belum lengkap,” jelasnya.

Pemkab Aceh Tamiang juga berencana mengusulkan penyaluran DTH tahap kedua pada pekan depan dengan jumlah penerima sebanyak 314 KK yang difokuskan di Kecamatan Tenggulun dan Tamiang Hulu.

Masjid Giok Nagan Raya, Destinasi Wisata Religi Berlapis Batu Mulia

0
Masjid Agung Baitul A’La, yang lebih dikenal sebagai Masjid Giok Nagan Raya. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | FEATURE – Di antara hamparan hijau perbukitan Nagan Raya, sebuah bangunan putih berdiri tenang, seolah menyatu dengan alam di sekitarnya. Tak ada kesan mencolok dari kejauhan. Namun, begitu melangkah masuk, Masjid Agung Baitul A’la—yang dikenal luas sebagai Masjid Giok—menyuguhkan pengalaman spiritual yang berbeda.

Dingin batu giok, kilau warna alaminya, dan kesenyapan ruang ibadah menghadirkan ketenangan yang sulit dilupakan, menjadikan masjid ini lebih dari sekadar tempat salat: ia adalah destinasi wisata religi yang sarat makna.

Kabupaten Nagan Raya, Aceh, perlahan namun pasti menegaskan dirinya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang unik di Tanah Rencong. Di jantung ibu kota kabupaten, Kompleks Perkantoran Suka Makmue, berdiri Masjid Agung Baitul A’la—ikon baru yang kini melekat kuat dengan identitas daerah yang dijuluki Bumi Rameune.

Dikutip Nukilan.id, Masjid ini diresmikan pada 16 September 2022 oleh Jamin Idham, Bupati Nagan Raya kala itu. Peresmian tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang pembangunan yang memakan waktu sekitar 12 tahun. Prosesnya tidak selalu mulus. Persoalan lahan, keterbatasan anggaran, hingga berbagai kendala teknis sempat menjadi penghambat. Namun, komitmen pemerintah daerah dan dukungan masyarakat akhirnya mewujudkan sebuah masjid yang bukan hanya megah secara fisik, tetapi juga kaya nilai simbolik.

Keistimewaan Masjid Giok terletak pada material utamanya: batu giok asli. Batu mulia yang selama ini lebih dikenal sebagai perhiasan bernilai tinggi, di tangan para perancang masjid ini justru diangkat menjadi elemen arsitektur utama. Batu giok tersebut ditambang dari Pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Beutong—wilayah yang sejak lama dikenal menyimpan kekayaan mineral alam.

Pengolahan batu giok dilakukan oleh tenaga ahli dari Tulung Agung, Jawa Timur, dengan lokasi pengolahan yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari area masjid. Dari proses ini, lahirlah lapisan lantai, dinding, tiang, hingga prasasti masjid yang terbuat dari berbagai jenis giok, seperti jadeit, nephrit, dan serpentin atau black jade (giok hitam).

Batu giok yang digunakan didominasi warna hijau, dengan tingkat kekerasan mencapai 7 skala Mohs, menandakan kualitasnya yang tinggi. Tak hanya itu, Nagan Raya juga dikenal memiliki jenis giok idocrase—sering disebut giok solar—yang pernah meraih peringkat pertama dalam ajang Indonesian Gemstone di Jakarta beberapa tahun lalu. Fakta ini semakin menegaskan bahwa Masjid Giok bukan sekadar bangunan religius, tetapi juga etalase kekayaan alam lokal.

Secara fisik, Masjid Giok berdiri di atas lahan seluas tiga hektare dengan ukuran bangunan 75 meter x 47,5 meter. Masjid ini memiliki dua lantai utama untuk salat, satu lantai basement yang difungsikan sebagai tempat wudu dan area parkir, serta mampu menampung hingga 5.600 jemaah. Kapasitas besar ini menjadikannya pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang pertemuan sosial masyarakat.

Perjalanan menuju Masjid Giok juga menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Dari Banda Aceh, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 275 kilometer, dengan waktu perjalanan enam hingga tujuh jam melalui jalur darat. Meski cukup jauh, panorama alam sepanjang perjalanan dan tujuan akhir yang menenangkan membuat perjalanan terasa layak ditempuh.

Dari sisi eksterior, Masjid Giok tampil dengan arsitektur bergaya Timur Tengah yang minimalis. Dinding putih bersih mendominasi tampilan luar, dipadu dengan tata tangga dan ventilasi yang tertata rapi. Kesan yang muncul adalah sederhana, tenang, dan tidak berlebihan.

Namun, begitu memasuki aula utama, suasana berubah drastis. Interior masjid seakan membawa pengunjung ke ruang yang berbeda. Lantai dan dinding berlapis batu giok menghadirkan kesejukan alami yang langsung terasa di telapak kaki. Gradasi warna batu giok—mulai dari hijau tua, hijau muda, biru, cokelat, hingga hitam—tersusun harmonis, menciptakan keindahan visual yang menenangkan mata.

Tiang-tiang masjid yang juga dilapisi batu giok memperkuat kesan kokoh sekaligus artistik. Ornamen berwarna keemasan di sejumlah sudut ruangan menambah nuansa megah, namun tetap berpadu serasi dengan karakter batu alam yang dominan. Cahaya yang masuk melalui ventilasi dan lampu-lampu interior memantulkan kilau halus pada permukaan giok, menghadirkan atmosfer spiritual yang kuat.

Pandangan pengunjung kerap tertuju ke bagian kubah. Ornamen khas Timur Tengah dengan detail ukiran yang rumit menghadirkan kesan seolah berada di bangunan megah di kawasan Jazirah Arab. Perpaduan warna, tekstur, dan pencahayaan membuat ruang ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menghadirkan rasa khusyuk dan damai.

Pesona Masjid Giok juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung, Sumarni, yang berkesempatan mengunjungi langsung masjid tersebut. Kepada Nukilan.id, ia mengaku terkesan dengan lokasi masjid yang berada di kawasan perbukitan, menawarkan pemandangan hijau dan udara yang sejuk.

“Luar biasa. Berada di puncak, nampak pemandangan hijau-hijau, dan sejuk sekali dengan suasana yang begitu damai,” ujar Sumarni pada Rabu 28 Januari 2026.

Tak hanya lingkungan sekitar, interior masjid pun menuai kekagumannya. Menurut Sumarni, penggunaan batu giok lokal dengan desain lantai yang elegan menunjukkan bagaimana kekayaan alam Aceh dapat diolah menjadi karya arsitektur bernilai tinggi.

“Kekayaan alam ini luar biasa, dan masjid ini menjadi contoh bagaimana kita memanfaatkannya untuk pembangunan tempat ibadah yang indah sekaligus bermakna. Masjid Baitul A’la memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi,” tuturnya.

Ia berharap, Masjid Giok dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan kearifan lokal Nagan Raya kepada masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar Aceh.

Masjid Giok adalah lebih dari sekadar bangunan ibadah. Ia adalah narasi tentang kesabaran membangun, tentang kekayaan alam yang diolah dengan rasa, dan tentang iman yang diwujudkan dalam keindahan. Di tengah sunyi perbukitan Nagan Raya, masjid ini berdiri sebagai simbol bahwa spiritualitas tidak harus terpisah dari estetika dan identitas lokal.

Bagi para peziarah, pelancong, atau siapa pun yang mencari ketenangan, Masjid Giok menawarkan pengalaman: berhenti sejenak, menundukkan hati, dan merasakan damai yang memancar dari batu-batu hijau yang menyimpan kisah bumi dan keyakinan. (XRQ)

Reporter: Akil

IMMASA Aceh Barat Gelar Mubes II, Qudus Juanda Nahkodai Organisasi Periode 2026–2027

0
IMMASA Aceh Barat Gelar Mubes II. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Ikatan Mahasiswa Masyarakat Sawang (IMMASA) Aceh Barat menggelar Musyawarah Besar (Mubes) ke-2 guna memilih ketua umum periode 2026–2027. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Camat Sawang, Selasa (27 Januari 2026).

Mubes yang mengusung tema “Regenerasi Kepengurusan Menuju IMMASA Aceh Barat yang Berintegritas, Solidaritas, dan Progresif” ini dibuka langsung oleh Camat Sawang. Turut hadir Sekcam, Kapolsek yang diwakili Bhabinkamtibmas, Danramil yang diwakili Babinsa, Imeum Mukim, seluruh keuchik di Kecamatan Sawang, serta mahasiswa dan mahasiswi asal Sawang yang menempuh pendidikan di Aceh Barat.

Dalam sambutannya, Camat Sawang Satri Diana menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh mahasiswa Sawang yang tengah menempuh pendidikan di Aceh Barat. Ia berharap Mubes ini mampu melahirkan pemimpin yang bertanggung jawab serta mampu membawa IMMASA ke arah yang lebih baik melalui program dan gagasan yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.

Musyawarah yang berlangsung selama satu hari tersebut berjalan dengan kondusif. Melalui forum Mubes, terpilih Qudus Juanda, mahasiswa asal Desa Lhok PawohPawoh, Kecamatan Sawang, sebagai Ketua Umum IMMASA Aceh Barat periode 2026–2027.

Usai terpilih, Juanda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

“Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT dan terimakasih kepada kawan-kawan semuanya yang telah memberikan kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai ketua, dan harapan saya kepada kawan-kawan semua untuk merawat tali silaturrahmi dan solidaritas demi menuju IMMASA yang lebih progresif dan berkompeten kedepannya,” ungkapnya.

Ia menegaskan komitmennya untuk menjadikan IMMASA sebagai ruang kepedulian dan rumah bersama bagi pelajar, mahasiswa, serta masyarakat Sawang, baik yang berada di Aceh Barat maupun di Kecamatan Sawang. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi wadah aspirasi serta berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan bermartabat.

BFLF Kolaborasi dengan Donatur Malaysia Salurkan Seragam Sekolah bagi Pelajar Terdampak Bencana di Aceh

0
Relawan BFLF saa menyalurkan bantuan paket seragam sekolah untuk pelajar terdampak bencana, di Aceh Tamiang, Rabu (28/1/2026). (Foto: BFLF)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Yayasan Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia bekerja sama dengan donatur luar negeri, Karisma Humanitarian Outreach Mission (KHOM) Malaysia, menyalurkan bantuan seragam sekolah lengkap kepada pelajar terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.

Ketua BFLF Michael Octaviano mengatakan bantuan tersebut diberikan kepada 130 siswa SD Negeri Gelung, Kecamatan Seruway, serta 24 siswa SD Tanah Merah Aceh Tamiang. Bantuan berupa pakaian sekolah, topi, peci, hijab, hingga sepatu, disalurkan langsung agar anak-anak dapat kembali bersekolah dengan perlengkapan yang layak.

“Kami ingin anak-anak tetap punya semangat dan harapan. Pendidikan tidak boleh berhenti meski dalam kondisi sulit,” kata Michael Octaviano.

Menurutnya, pemulihan sektor pendidikan menjadi hal krusial pascabencana agar anak-anak tidak kehilangan masa depan. Kehadiran relawan secara langsung di lapangan juga menjadi wujud komitmen BFLF dalam menjaga semangat belajar generasi muda Aceh.

“Kehadiran langsung relawan di lapangan, merupakan bentuk komitmen BFLF untuk menjaga harapan dan semangat belajar generasi muda Aceh,” ujarnya.

Selain pendidikan, BFLF bersama KHOM juga menyalurkan 100 paket Ramadhan ke tiga desa terdampak, yakni Desa Alur Nunang, Desa Alur Jambu, dan Desa Pengidam. Paket tersebut berisi Al Quran, mukena, sarung, sajadah, beras, minyak goreng, serta roti kering untuk mendukung kebutuhan spiritual dan dasar warga menjelang bulan suci.

Relawan BFLF bersama masyarakat setempat turut menggelar kegiatan masak bersama bubur pedas, kuliner khas Ramadhan, di Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, salah satu wilayah terdampak banjir paling parah.

“Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka,” katanya.

Michael menambahkan, hingga dua bulan pascabencana, kondisi Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, BFLF masih terus menyalurkan bantuan dan mengajak berbagai pihak untuk terlibat membantu masyarakat.

“Sudah dua bulan kami masih aktif menyalurkan bantuan. Aceh belum sepenuhnya pulih, masih banyak desa terdampak yang membutuhkan uluran tangan, terlebih menjelang Ramadhan,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi dengan donatur luar negeri dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk membantu pemulihan pendidikan dan kehidupan sosial ekonomi warga Aceh Tamiang.

“Masih banyak sekolah dan desa dengan kondisi serupa. Kami mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan membantu Aceh bangkit kembali, relawan terus bergerak jangan pamit dulu,” demikian Michael Octaviano.

DSI Banda Aceh Intensifkan Pembinaan Mualaf Sambut Bulan Suci Ramadhan

0
Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh kembali melaksanakan pembinaan rutin bagi para mualaf yang berlangsung di Mushalla Al-Bayan, Selasa (27/1/2026). (Foto: DSI BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh kembali melaksanakan pembinaan rutin bagi para mualaf yang berlangsung di Mushalla Al-Bayan, Selasa (27/1/2026). Kegiatan ini digelar secara konsisten setiap hari Selasa setelah shalat Ashar sebagai bagian dari upaya penguatan keimanan.

Pembinaan kali ini menghadirkan Ustadz Akhmad Rizal, Lc., M.A sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, ia mengulas keutamaan bulan Sya’ban serta pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

“Bulan Sya’ban merupakan bulan pendidikan mental, fisik, dan rohani untuk mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan,” ujar Ustadz Akhmad Rizal, yang juga Imam Masjid Kantor Gubernur Provinsi Aceh.

Ia menambahkan, ibadah puasa tidak semata-mata menahan lapar dan haus, melainkan juga sebagai sarana melatih kesabaran yang perlu dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan.

Selain itu, Ustadz Akhmad Rizal menekankan pentingnya memperbanyak amal kebajikan sebagai wujud ketakwaan kepada Allah SWT. “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kita menjadi hamba yang dicintai Allah dengan terus menebar kebajikan,” ungkapnya.

Materi tausiyah juga menyoroti pentingnya menumbuhkan rasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap aktivitas, sehingga mampu menjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar serta meningkatkan kualitas keimanan.

Kegiatan pembinaan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan penuh antusias. Beragam pertanyaan dari para mualaf dijawab dengan lugas dan sabar oleh pemateri, sehingga menjadi ruang dialog yang memperkaya pemahaman keislaman peserta.

Tak hanya itu, para mualaf juga saling berbagi pengalaman dan memberikan dukungan satu sama lain. Suasana keakraban semakin terasa saat kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama.

Melalui pembinaan ini, DSI Kota Banda Aceh berharap para mualaf semakin siap secara mental dan spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta mampu menjalani kehidupan beragama dengan lebih mantap.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Dakwah Irwanda M. Jamil, S.Ag, Kasi Bina Aqidah Niyyatinur, S.HI., M.H., serta jajaran staf DSI Kota Banda Aceh.

Wali Nanggroe Dukung KPI Aceh Susun Regulasi Penyiaran Internet Demi Jaga Moral Generasi Muda

0
Jajaran Komisioner KPI Aceh melakukan pertemuan dengan Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar di Mess Wali Nanggroe, Lampeuneurut, Aceh Besar, Rabu (28/1/2026). (Foto: Humas KPI Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Malik Mahmud Al-Haytar menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh dalam merumuskan regulasi penyiaran berbasis internet.

Dukungan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama jajaran KPI Aceh di Mess Wali Nanggroe, Lampeuneurut, Aceh Besar, Rabu (28/1/2026).

Dalam pertemuan itu, Malik Mahmud menegaskan pentingnya pengaturan penyiaran internet untuk menjaga moral dan karakter generasi muda Aceh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Moral generasi muda Aceh harus dijaga. Jangan sampai rusak oleh perkembangan teknologi yang kian cepat dan tanpa kontrol,” ujar Malik Mahmud.

Ia menilai ruang digital yang sangat terbuka berpotensi menghadirkan konten yang bertentangan dengan nilai sosial dan keacehan jika tidak diatur secara bijak.

Selain menyatakan dukungan, Wali Nanggroe juga memberikan sejumlah saran agar regulasi penyiaran internet tidak bersifat represif, melainkan edukatif dan berkeadilan. Ia menekankan pentingnya pelibatan tokoh adat, ulama, serta akademisi dalam proses perumusan kebijakan.

“Pentingnya pelibatan tokoh adat, ulama, dan akademisi dalam proses perumusan kebijakan, sehingga regulasi yang lahir tidak hanya kuat secara hukum, tetapi juga diterima secara sosial dan kultural oleh masyarakat Aceh”, jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPI Aceh, M. Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa kunjungan pihaknya bertujuan meminta rekomendasi serta peuneutoh (petuah) dari Wali Nanggroe terkait rencana penyusunan dan penguatan regulasi penyiaran internet di Aceh. Hal tersebut agar kebijakan yang dirumuskan tetap sejalan dengan nilai, adat, serta kekhususan Aceh.

Menurut Reza, penyiaran internet memiliki karakteristik berbeda dengan penyiaran konvensional karena bersifat lintas batas, berlangsung secara realtime, tidak mengenal jam siar, serta dapat diakses tanpa proses penyaringan yang ketat.

Karakteristik itu mencakup berbagai platform digital yang kini dikonsumsi masyarakat sehari-hari, seperti TikTok, layanan Meta yang mencakup Instagram dan Facebook, serta platform berbasis Google seperti YouTube dan layanan video daring lainnya.

“Penyiaran internet ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan pola pikir, perilaku, dan karakter masyarakat, khususnya generasi muda. Karena itu, diperlukan pengaturan yang adaptif, bukan untuk membatasi kreativitas, tetapi untuk menjaga ruang digital tetap sehat,” jelas Reza.

Ia menambahkan, regulasi tersebut merupakan amanah dari Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Penyiaran di Aceh yang merupakan turunan dari Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Tahun 2006, khususnya Pasal 153.

“Qanun ini memberikan kewenangan khusus kepada Aceh untuk mengawasi penyiaran, termasuk penyiaran berbasis internet, sesuai dengan perkembangan zaman. Ini bukan tugas ringan, tetapi menjadi tanggung jawab konstitusional KPI Aceh,” tegasnya.

Reza menegaskan, KPI Aceh tidak hanya akan fokus pada pengawasan dan penertiban, tetapi juga mendorong lahirnya konten digital yang edukatif dan informatif.

“Kami juga akan memberikan apresiasi terhadap konten yang mendidik dan membangun. Penyiaran internet seharusnya menjadi sarana literasi, bukan sumber kerusakan sosial,” pungkasnya.

Diketahui, pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua KPI Aceh Samsul Bahri serta Komisioner KPI Aceh lainnya Ahyar dan Dr. Muslem Daud.

Bank Aceh Syariah Raih Alokasi KUR Rp1,5 Triliun untuk Perkuat Pembiayaan UMKM Tahun 2026

0
Gambar ilustrasi. (Foto: Bank Aceh)

NUKILAN.ID | Jakarta — PT Bank Aceh Syariah mendapatkan alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah senilai Rp1,5 triliun dari pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI untuk tahun 2026. Kuota tersebut ditujukan memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh Aceh.

Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, melalui Sekretaris Perusahaan Bank Aceh, Ilham Novrizal, menyampaikan optimisme terhadap penyaluran pembiayaan tersebut. Pihaknya meyakini seluruh kuota KUR tahun ini dapat disalurkan secara maksimal guna mendukung pertumbuhan usaha masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk menjaga amanah ini dengan menyalurkan pembiayaan secara produktif namun tetap menjaga kualitas pembiayaan yang sehat,” ujar Ilham dalam keterangannya, dikutip Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Aceh dalam memperkuat peran sebagai penggerak utama pertumbuhan UMKM daerah.

Sebelumnya, hingga akhir 2025, Bank Aceh mencatat kinerja positif melalui realisasi pembiayaan KUR Syariah sebesar Rp2,56 triliun. Penyaluran tersebut telah membantu 23.853 pelaku UMKM di berbagai wilayah Aceh.

Berdasarkan data kinerja, sektor perdagangan masih menjadi penerima pembiayaan terbesar. Namun demikian, sektor lain seperti pertanian dan jasa perorangan juga menunjukkan perkembangan yang semakin baik dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal.

Ilham menambahkan, strategi penyaluran KUR pada 2026 akan dilakukan secara lebih inklusif. Bank Aceh berupaya memperluas jangkauan pembiayaan, terutama pada sektor-sektor produksi yang memiliki dampak ekonomi berkelanjutan.

“Penyaluran KUR tidak lagi terpusat di kawasan perkotaan saja. Kami telah memastikan manfaat KUR Syariah dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok desa di seluruh Kabupaten/Kota di Aceh,” tegas Ilham.

Menurutnya, KUR Syariah menjadi instrumen strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program ini tidak hanya menyediakan akses modal kerja, tetapi juga berperan meningkatkan kapasitas usaha sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru.

“Di sepanjang tahun 2026, Bank Aceh akan terus memperkuat peran KUR Syariah sebagai tulang punggung permodalan UMKM. Kami berharap program ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, produktif, serta memperluas inklusi keuangan di seluruh wilayah Aceh,” pungkasnya. (*)