Beranda blog Halaman 92

Cuaca Aceh Sabtu, 16 Mei 2026: Lima Wilayah Diprakirakan Diguyur Hujan Ringan

0
Ilustrasi hujan ringan. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Aceh pada Sabtu, 16 Mei 2026. Informasi ini penting menjadi perhatian masyarakat yang memiliki agenda akhir pekan, baik untuk bepergian, bekerja, maupun menjalankan aktivitas di luar ruangan.

Secara umum, kondisi cuaca di sejumlah daerah di Aceh diperkirakan didominasi langit berawan. Meski demikian, beberapa wilayah masih berpotensi mengalami hujan ringan, udara kabur, hingga kabut asap.

Suhu udara di Aceh pada hari ini juga cukup bervariasi, berkisar antara 16 hingga 32 derajat Celsius. Temperatur terendah diperkirakan terjadi di kawasan dataran tinggi, sedangkan suhu tertinggi berada di wilayah pesisir.

Memantau perkembangan cuaca dari BMKG dinilai penting agar masyarakat dapat mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer sejak dini. Aktivitas seperti perjalanan antardaerah, wisata akhir pekan, maupun pekerjaan rumah tangga dapat disesuaikan dengan prakiraan cuaca yang berlaku.

Berdasarkan data BMKG, wilayah yang diprediksi mengalami hujan ringan meliputi:

  • Pidie dengan suhu 20–27°C
  • Aceh Utara dengan suhu 25–31°C
  • Aceh Tamiang dengan suhu 25–30°C
  • Pidie Jaya dengan suhu 21–28°C
  • Langsa dengan suhu 25–32°C

Sementara itu, sebagian besar wilayah lain seperti Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Besar, hingga Banda Aceh diperkirakan berada dalam kondisi berawan.

Adapun kondisi udara kabur diprediksi terjadi di Bireuen dan Sabang. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap

potensi perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama di daerah yang berpotensi diguyur hujan ringan maupun mengalami gangguan jarak pandang akibat udara kabur. Bagi warga yang beraktivitas di luar rumah, disarankan membawa perlengkapan seperti payung atau jas hujan agar aktivitas tetap berjalan nyaman.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Tim SAR Evakuasi Delapan Korban Perahu Terbalik di Aceh Besar

0
Tim SAR mengevakuasi korban perabu terbalik di perairan Aceh Besar, Jumat (15/5/2026). (FOTO: Humas Basarnas Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tim dari Badan SAR Nasional (Basarnas) berhasil mengevakuasi delapan korban insiden perahu wisata yang terbalik di perairan Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, di Banda Aceh, Jumat, mengatakan pihaknya menerima informasi terkait kecelakaan perahu wisata tersebut pada pukul 17.20 WIB dari Panglima Laot Ulee Lheue.

“Berdasarkan informasi tersebut, Basarnas Banda Aceh mengerahkan tim ke lokasi. Semua korban atau delapan orang dalam insiden tersebut selamat,” katanya.

Ibnu Harris Al Hussain menjelaskan, korban dalam insiden perahu terbalik itu terdiri atas tujuh wisatawan dan seorang pawang. Dari tujuh wisatawan tersebut, lima orang merupakan dewasa, sedangkan dua lainnya anak-anak berusia enam dan delapan tahun.

Ia menuturkan, peristiwa bermula ketika perahu yang membawa delapan orang tersebut melakukan perjalanan wisata menuju Pulau Tuan di perairan Ujung Pancu, Aceh Besar. Dalam perjalanan, perahu diterpa angin kencang hingga akhirnya terbalik. Seluruh penumpang beserta awak berhasil selamat dan sempat terdampar di pulau tersebut.

Setelah menerima laporan, tim SAR langsung bergerak menuju lokasi kejadian dengan membawa sejumlah sarana dan peralatan pencarian serta pertolongan, di antaranya satu unit mobil, satu unit perahu karet atau LCR, serta perlengkapan lainnya.

“Selain personel Basarnas, tim pencarian dan pertolongan juga melibatkan personel Polri dan TNI, Satuan Tugas SAR Banda Aceh, nelayan, dan masyarakat setempat,” kata Ibnu Harris Al Hussain.

Setibanya di lokasi, tim SAR segera melakukan evakuasi terhadap para korban menggunakan perahu LCR serta perahu milik nelayan. Selanjutnya, seluruh korban yang selamat dibawa menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Realisasi Belanja Pemkab Aceh Singkil Capai 65,97 Persen hingga Mei 2026

0
Ilustrasi. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | Aceh Singkil — Realisasi belanja daerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil tercatat mencapai Rp591,76 miliar hingga Mei 2026 atau setara 65,97 persen dari total anggaran belanja daerah tahun 2025 yang sebesar Rp897,03 miliar. Capaian tersebut menunjukkan tingkat serapan anggaran yang telah melampaui separuh pagu belanja dalam lima bulan pertama tahun berjalan.

Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dihimpun Nukilan, total anggaran belanja Pemkab Aceh Singkil tahun 2025 meningkat 4,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan bertambahnya alokasi pengeluaran daerah untuk mendukung kebutuhan pemerintahan dan pembangunan.

Secara rinci, komponen belanja daerah terbesar masih didominasi belanja pegawai dengan nilai Rp331,63 miliar. Selanjutnya, belanja barang dan jasa tercatat sebesar Rp115,45 miliar, diikuti belanja lainnya Rp111,25 miliar, serta belanja modal Rp33,43 miliar.

Data tersebut menunjukkan porsi pengeluaran daerah masih banyak terserap untuk kebutuhan operasional pemerintahan, sementara alokasi belanja modal yang berkaitan dengan pembangunan fisik dan infrastruktur berada pada angka yang lebih rendah.

Adapun pada sisi pendapatan, Pemkab Aceh Singkil mencatat realisasi pendapatan daerah sebesar Rp601,63 miliar hingga Mei 2026 atau sekitar 67,98 persen dari target pendapatan tahunan sebesar Rp884,95 miliar. Mayoritas pendapatan daerah masih berasal dari transfer pemerintah pusat dan dana desa. []

Reporter: Sammy

Rumah Warga di Aceh Besar Rusak Berat Akibat Angin Kencang

0
Rumah milik warga di Gampong Kayee Lee, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin kencang yang disertai hujan. (Foto: BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.ID | Aceh Besar — Sebuah rumah milik warga di Gampong Kayee Lee, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin kencang yang disertai hujan deras pada Kamis (14/5/2026) petang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nukilan, peristiwa yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB itu menyebabkan bagian atap rumah terlepas dan terhempas hingga sekitar 30 meter dari bangunan. Rumah tersebut diketahui milik Sakdan (36).

Informasi kejadian diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar sekitar pukul 19.35 WIB melalui laporan dari pemilik rumah.

Petugas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Aceh Besar, Maswani, mengatakan rumah yang terdampak merupakan bangunan konstruksi kayu yang dihuni oleh satu kepala keluarga dengan tiga jiwa.

Akibat insiden tersebut, bangunan mengalami kerusakan berat. Namun, tidak terdapat korban jiwa meski penghuni rumah berada di dalam saat kejadian berlangsung.

“Pemilik rumah berada di dalam saat kejadian berlangsung, namun seluruh penghuni selamat,” kata Maswani.

Menindaklanjuti laporan itu, petugas BPBD Aceh Besar turun ke lokasi untuk melakukan pendataan kerusakan dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial terkait upaya penanganan terhadap warga terdampak.

BPBD Aceh Besar turut mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat yang disertai angin kencang yang masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh Besar. []

Reporter: Sammy

Mobil Terbakar di Seulimum, Tiga Kendaraan Rusak Berat

0
Kebakaran mobil di Seulimum, Kamis (14/5/2026). (Foto: tangkapan layar akun Instagram @damkaracehbesar)

NUKILAN.ID | Aceh Besar — Sebuah mobil dilaporkan terbakar di kawasan Gampong Lhieb, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (14/5/2026) siang hari sekitar pukul 12.35 WIB.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Nukilan dari akun Instagram @damkaracehbesar, kendaraan yang terbakar diketahui milik Agus Salim (28), seorang pekerja swasta yang berdomisili di Gampong Jantho Makmur, Kecamatan Jantho. Mobil jenis Feroza tersebut mengalami kerusakan berat akibat insiden kebakaran.

Tidak hanya mobil, api juga berdampak pada dua unit kendaraan roda dua di sekitar lokasi. Kedua sepeda motor tersebut dilaporkan turut mengalami kerusakan berat.

Meski kerugian material cukup signifikan, peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih belum diketahui dan pihak terkait belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut. []

Reporter: Sammy

Siswa SMAN 1 Abdya Terpilih Menjadi Anggota Paskibraka Aceh 2026

0
Fahril Ulhaq, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Aceh Barat Daya (Abdya), berhasil terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Aceh tahun 2026. (Foto: Kecamatan Blangpidie)

NUKILAN.ID | BLANGPIDIE — Fahril Ulhaq, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Aceh Barat Daya (Abdya), berhasil terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Aceh tahun 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 1 Abdya, Herni Arfida ST MPd, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas capaian Fahril yang berhasil melewati seleksi Paskibraka tingkat provinsi yang berlangsung dengan persaingan ketat.

“Prestasi yang diraih Fahril sangat luar biasa, mengingat proses seleksinya sangat kompetitif. Tentu kami sangat senang dan bangga,” kata Herni Arfida pada Kamis (14/5/2026) sebagaimana dikutip Nukilan.id dari laman remi milik Kecamatan Blangpidie.

Menurut Herni, keberhasilan yang diraih Fahril tidak datang secara instan. Ia menilai capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras, kedisiplinan, dedikasi tinggi, latihan fisik yang dilakukan secara konsisten, serta pembinaan mental yang berjalan dengan baik.

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

“Prestasi ini diharapkan menjadi contoh, motivasi, dan inspirasi bagi siswa-siswi lain di SMAN 1 Abdya,” ujarnya.

Herni juga menambahkan, lolosnya Fahril sebagai anggota Paskibraka tingkat Provinsi Aceh menjadi kebanggaan tersendiri karena turut membawa nama baik sekolah sekaligus Kabupaten Aceh Barat Daya.

“Kami berpesan kepada Fahril untuk terus giat berlatih dan menjaga disiplin, sehingga nantinya diharapkan dapat melaju hingga tingkat nasional,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemerataan Fasilitas Sampah di Aceh Dinilai Masih Belum Merata

0
Ilustrasi bak penampunan sampah. (Foto: pexels.com/Thomas Zimball)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pengelolaan sampah antara kawasan perkotaan dan wilayah pinggiran di Aceh dinilai masih menyisakan kesenjangan. Perbedaan tersebut terlihat dari ketersediaan fasilitas pembuangan sampah hingga akses layanan kebersihan yang belum sepenuhnya menjangkau desa-desa maupun kawasan pinggiran.

Amatan Nukilan.id, Kepala Biro Organisasi Yayasan Aceh Green Conservation (AGC), Nurulyana Daba, S.Pd, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh pada Sabtu (9/5/2026), menyebut persoalan tersebut masih ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh.

Menurutnya, wilayah perkotaan umumnya telah memiliki fasilitas tempat sampah serta titik pembuangan yang relatif memadai, sementara di kawasan pedesaan fasilitas serupa masih sangat terbatas.

“Kalau kita lihat sampah perkotaan pasti sudah banyak tempat-tempat sampah yang memang orang-orang bisa membuang sampah. Tapi ketika kita lihat di desa bahkan mungkin tong sampahnya sudah tidak ada. Jadi masyarakat desa malah buang sampahnya masih lempar ke irigasi, lempar ke alur-alur sungai,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, AGC sebelumnya telah mendorong penerapan kebijakan pengelolaan sampah secara terintegrasi mulai dari tingkat desa hingga kabupaten sebagai upaya mengurangi kesenjangan layanan persampahan. Namun, implementasinya di lapangan dinilai masih membutuhkan perhatian lebih, khususnya di kawasan pinggiran yang belum memiliki fasilitas penampungan sampah yang memadai.

Nurulyana menambahkan, penyediaan tong sampah maupun bak penampungan di wilayah perbatasan desa perlu menjadi prioritas pemerintah daerah. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki akses pembuangan sampah yang jelas, tertata, serta dapat mencegah pencemaran lingkungan. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Sejumlah Desa di Aceh Utara Kembali Terendam Banjir, Air Capai 50 Sentimeter

0
Badan jalan Gampong Alue Bungkoh Kecamatan Pirak Timu Aceh Utara yang tergenang air (foto/RRI/Saiful)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di sejumlah kawasan, Kamis (15/5/2026).

Luapan air dari Sungai Pirak dan Sungai Keureutoe merendam permukiman warga di Kecamatan Pirak Timur dan Kecamatan Matangkuli. Hingga kini, belum ada laporan warga yang mengungsi akibat bencana tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, di Kecamatan Pirak Timur, banjir merendam sejumlah desa, yakni Munje Tujoh, Tanjong Seureukuy, Teupin U, Ceumeucet, Alue Bungkoh, serta Rayeuk Pange.

Sementara di Kecamatan Matangkuli, genangan air terjadi di Desa Tanjong Haji Muda, Lawang, Siren, Alue Tho, Hagu, dan Tanjong Tgk Ali. Ketinggian air di permukiman warga dilaporkan berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter.

Camat Pirak Timur, Julfar Abdar, menyampaikan banjir yang merendam sejumlah desa tersebut dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang menyebabkan Krueng Pirak meluap.

“Air mulai menggenangi pemukiman warga sekitar pukul 03.00 WIB pagi. Luapan air dipicu oleh tingginya debit air akibat hujan lebat yang terus-menerus, sehingga merendam beberapa titik di kawasan tersebut. Berdasarkan air sudah berangsur surut,” kata Julfar.

Salah seorang warga Kecamatan Pirak Timur, Teuku Faisal Razi, mengatakan wilayah dataran rendah di kawasan tersebut memang kerap menjadi langganan banjir setiap kali curah hujan meningkat dan debit sungai naik.

“Kami mengharapkan kepada pemerintah segera mengatasi banjir yang rentan melanda daerah itu di saat musim penghujan, jika ini terus dibiarkan setiap Intensitas hujan tinggi, masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) akan selalu berlangganan banjir, “harapnya.

Sementara itu, Keuchik Gampong Hagu, Kecamatan Matangkuli, Muhammad Nasir, menyebut hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi dan masyarakat masih bertahan di rumah masing-masing. Meski demikian, pemerintah desa telah mengimbau warga agar tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan di wilayah tersebut masih tergolong tinggi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Polemik JKA, Otonomi Data, dan Aksi Mahasiswa yang (Seharusnya) Tepat Sasaran

0
Ilustrasi (Foto: Gemini AI)

NUKILAN.ID | OPINI – Eskalasi protes mahasiswa di Aceh yang berujung kericuhan dalam beberapa hari terakhir menjadi bumbu pahit dalam polemik Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Di satu sisi, energi mahasiswa dalam membela hak rakyat patut diapresiasi. Namun di sisi lain, bentrokan fisik di lapangan justru kerap mengaburkan substansi persoalan.

Publik tidak lagi membicarakan solusi atas layanan kesehatan, melainkan terjebak pada narasi gas air mata dan kericuhan. Di titik ini, kita perlu bertanya kembali: apakah sasaran aksi tersebut sudah benar-benar tepat?

Sebab, terus-menerus menyalahkan pemerintah daerah tanpa melihat amburadulnya tata kelola data di level pusat adalah bentuk perjuangan yang timpang.

Mahasiswa, sebagai kaum intelektual, seharusnya mampu melihat persoalan JKA secara lebih makro. Akan sangat naif jika jari hanya diarahkan kepada Pemerintah Aceh, seolah mereka menjadi satu-satunya pihak yang harus memikul seluruh tanggung jawab.

Persoalan JKA tidak semata tentang pengesahan Pergub Nomor 2 Tahun 2026, melainkan menyangkut persoalan interdependensi—ketergantungan sistemik antara kebijakan daerah dengan regulasi pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial.

Selama ini, proses verifikasi dan validasi (verivali) data peserta kerap tersendat dalam birokrasi yang kaku dan berlapis. Ketika Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari pusat tidak sinkron dengan realitas di gampong-gampong, Aceh akhirnya terjebak dalam dilema yang tidak sederhana.

Kita bisa saja membayar premi untuk “nama-nama hantu”, warga yang secara ekonomi sudah mapan, atau data ganda yang tak kunjung dibersihkan. Sementara di sisi lain, warga miskin yang justru lebih layak menerima perlindungan kesehatan malah tercecer dari sistem.

Polemik JKA, pada akhirnya, bukan sekadar urusan kemampuan APBA menanggung premi, melainkan juga cermin kuatnya dominasi pemerintah pusat dalam sinkronisasi tata kelola data antara pusat dan daerah.

Di satu sisi, JKA adalah marwah perlindungan sosial rakyat Aceh. Namun di sisi lain, persoalan data ganda dan ketidaktepatan sasaran terus menjadi peluru yang menembak efektivitas program ini. Kita sedang dipaksa membayar mahal atas ketidakakuratan data.

Karena itu, Aceh sudah saatnya memperjuangkan otonomi data. Ini bukan soal ego sektoral, melainkan kebutuhan yang logis dan mendesak. Sebagai daerah dengan status otonomi khusus, Aceh membutuhkan kewenangan verifikasi dan validasi data yang lebih lincah, cepat, dan real-time. Tujuannya jelas: memastikan setiap rupiah APBA benar-benar mendarat kepada mereka yang berhak, bukan menguap di lubang hitam administrasi yang minim transparansi.

Di titik inilah peran mahasiswa menjadi sangat penting. Mahasiswa harus kembali ke meja diskusi dengan argumen yang matang dan kepala dingin, bukan sekadar lemparan batu, bakar ban, atau aksi tutup jalan.

Gerakan mahasiswa Aceh perlu menggeser pola tekanannya. Jangan hanya berteriak “JKA harga mati”, tetapi dorong pula transparansi hasil verivali data secara terbuka dan detail. Tuntutlah “JKA yang bersih”, bukan sekadar “JKA yang berlanjut”.

Lebih dari itu, mahasiswa juga perlu melakukan tekanan dua arah: menuntut Pemerintah Aceh sebagai penanggung jawab aspek pendanaan dan validasi lokal, sekaligus mendesak pemerintah pusat agar serius membenahi sinkronisasi sistem dan tata kelola data.

JKA adalah aset masa depan Aceh. Mengawalnya melalui aksi demonstrasi adalah hak dalam demokrasi. Namun mengawalnya melalui diskusi yang tajam, data yang kuat, dan narasi yang konstruktif adalah kewajiban intelektual.

Pemerintah Aceh harus berani memperjuangkan otonomi data ke pusat, sementara mahasiswa harus tetap menjadi pengawas yang kritis, agar tuntutan otonomi tersebut tidak berubah menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk menghindar dari tanggung jawab.

Sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan apakah JKA akan lanjut atau tidak, lalu mulai fokus pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana memastikan data JKA tidak lagi simpang-siur?

Sebab pada akhirnya, kesehatan rakyat tidak boleh dikalahkan oleh rumitnya birokrasi, apalagi tenggelam dalam riuh rendah orasi dan benturan di jalanan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Penulis: T. Auliya Rahman (Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, Mahasiswa Program Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Bupati Aceh Barat Jemput Aspirasi Warga Lewat Program Berkantor Sehari di Bubon

0
Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP., MM (tengah) saat di wawancarai RRI usai kegiatan Berkantor Sehari yang digelar di Desa Peulanteu SP, Kecamatan Bubon, Rabu, 13 Mei 2026. (Foto : RRI Meulaboh/Tata Maulizar).

NUKILAN.ID | MEULABOH — Bupati Aceh Barat, Tarmizi SP, MM, turun langsung menyerap aspirasi masyarakat melalui program Berkantor Sehari yang digelar di Desa Peulanteu SP, Kecamatan Bubon, Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Said Fadheil, Sekretaris Daerah Dr. Kurdi, seluruh jajaran SKPK, camat, serta para keuchik dari wilayah setempat.

Dalam agenda tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menggelar pertemuan bersama aparatur kecamatan dan para geuchik guna mendengar berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung. Sejumlah isu yang mengemuka meliputi pembangunan infrastruktur, penanganan bencana, pelayanan perbankan, kelistrikan, hingga kebutuhan pelayanan publik lainnya.

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengatakan program Berkantor Sehari menjadi upaya pemerintah daerah untuk semakin dekat dengan masyarakat sekaligus memastikan berbagai persoalan di lapangan dapat ditangani secara lebih cepat.

“Semua hadir, ikut membawa bantuan dan nanti menyerap aspirasi secara langsung dari geuchik dan masyarakat sehingga betul-betul tidak ada jarak antara masyarakat dengan seluruh pejabat daerah,” kata Tarmizi.

Ia menegaskan seluruh masukan yang disampaikan masyarakat akan segera diteruskan kepada SKPK terkait untuk ditindaklanjuti.

Menurut Tarmizi, dengan hadir langsung di tengah masyarakat, pemerintah dapat mengetahui kondisi nyata yang terjadi di lapangan sehingga langkah penyelesaian bisa segera dirumuskan dan dieksekusi.

“Begitu di lapangan kita tahu permasalahan, nanti kita langsung duduk pemerintah untuk eksekusi, semua yang disampaikan itu langsung kita follow up,” ujarnya.

Selain menyerap aspirasi, sejumlah SKPK juga menghadirkan berbagai layanan publik bagi warga Kecamatan Bubon. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura membuka pasar tani, sementara Dinas Pangan menggelar operasi pasar murah.

Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat yang hadir. Pada kesempatan yang sama, Bupati Tarmizi juga mengunjungi warga yang sedang sakit melalui program Dokmaru sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.

Tak hanya itu, pemerintah daerah juga menyalurkan sejumlah bantuan kepada masyarakat melalui pemerintah gampong. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Geuchik Desa Peulanteu SP untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan warga setempat.

Tarmizi menyampaikan program Berkantor Sehari akan terus dilaksanakan secara bergilir di setiap kecamatan setiap bulan sebagai upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat.

Sementara itu, Geuchik Gampong Peulanteu SP, Marzuki, mengaku bersyukur dan menyambut baik desanya dipilih sebagai lokasi kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini menjadi kesempatan penting bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan secara langsung kepada pemerintah daerah.

“Syukur alhamdulillah, hati yang gembira pada hari ini karena bupati berkantor sehari di Gampong Peulanteu,” ujar Marzuki.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau seluruh kecamatan di Aceh Barat.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News