Beranda blog Halaman 915

Aceh Perkusi Festival 2024 Semarakkan PON XXI, Ajang Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif

0
Aceh Perkusi Festival 2024 Semarakkan PON XXI. (Foto: Disbudpar Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aceh Perkusi Festival resmi digelar di Taman Sulthanah Safiatuddin, Kota Banda Aceh, sebagai bagian dari rangkaian acara menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI. Event yang menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) ini berlangsung sejak Jumat (13/9) malam hingga Minggu (15/9) mendatang, dan dibuka secara resmi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Zulkifli, mewakili Pj Gubernur Aceh Safrizal ZA.

Dalam sambutannya, Zulkifli menyampaikan bahwa Aceh Perkusi Festival bukan hanya sebuah hiburan, namun juga ajang untuk melestarikan seni budaya tradisional Aceh, khususnya seni perkusi rapai.

“Melalui festival ini, kami berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai kesenian lokal, serta bangga dengan kekayaan budaya Aceh,” ujarnya.

Tak hanya itu, Zulkifli juga menambahkan bahwa festival ini memberi pengalaman baru bagi para pengunjung, terutama bagi atlet, ofisial, dan tamu dari luar daerah yang hadir di Aceh untuk menyaksikan PON XXI.

“Kegiatan ini menjadi sebuah penghargaan bagi masyarakat Aceh dan menegaskan peran penting Aceh dalam peta kebudayaan dan pariwisata nasional,” tuturnya.

Aceh Perkusi Festival 2024 menghadirkan berbagai acara menarik seperti parade perkusi, klinik perkusi, bengkel perkusi, serta penghargaan live achievement. Pengunjung juga dapat menikmati film dokumenter tentang pelestarian seni rapai yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Aceh.

Sementara itu, Direktur Event Kemenparekraf RI, Reza Fahlevi, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan harapannya agar Pemerintah Aceh terus mendukung dan menyelenggarakan event-event serupa yang mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.

“Event seperti ini tidak hanya mewadahi para pelaku seni, tetapi juga mengangkat citra daerah dan berdampak besar secara ekonomi,” ungkapnya.

Reza mencontohkan beberapa daerah seperti Banyuwangi dan Jember yang berhasil menarik wisatawan melalui event-event serupa. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan seperti PON memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat lokal.

“Kemenparekraf akan terus mendukung Aceh untuk menjadi destinasi unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun internasional, dengan memanfaatkan potensi budaya lokal yang kuat,” tambahnya.

Dengan adanya Aceh Perkusi Festival, harapan besar terletak pada promosi pariwisata Aceh ke dunia internasional.

“Mudah-mudahan event-event di Aceh semakin berkualitas dan terus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tutup Reza.

Festival ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya dan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan dalam memajukan pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Editor: Akil

Atlet Panjat Tebing Bali Terpesona oleh Kuliner Aceh

0
Atlet Panjat Tebing Bali Terpesona oleh Kuliner Aceh. (Foto: InfoPublik)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Desak Made Rita Kusuma Dewi, atlet panjat tebing asal Bali yang berlaga dalam PON XXI Aceh-Sumut 2024, mengungkapkan kekagumannya terhadap kuliner khas Aceh setelah mencoba berbagai hidangan lokal. Dalam kesempatan malam itu, di Three Brother Coffee, Banda Aceh, Desak Rita menyatakan ketertarikan mendalamnya terhadap makanan Aceh.

“Ini pertama kali saya makan masakan Aceh dan rasanya sangat enak,” ujar Desak Rita, yang baru-baru ini meraih medali perak dalam cabang panjat tebing. Dia mencoba sejumlah menu khas Aceh seperti keumamah, peyek udang, sop ikan, dan berbagai hidangan lainnya.

“Yang paling saya suka adalah sop ikan, ikan teri, dan peyek udang. Keumamah juga sangat enak,” tambahnya dengan antusias.

Ia juga mencicipi kopi gula aren dan menyebut rasanya sangat memuaskan tanpa mengganggu tenggorokannya.

“Saya sering minum kopi, dan sering kali jika terlalu manis, tenggorokan saya cepat terasa sakit. Namun, kopi gula aren ini sangat enak dan tidak membuat tenggorokan saya bermasalah,” ungkapnya.

Desak Rita sengaja menunda untuk mencoba kuliner Aceh hingga kompetisinya selesai. Ia mengaku khawatir makanan lokal bisa memengaruhi kondisi fisiknya saat bertanding.

“Saya memilih untuk menunggu setelah kompetisi selesai agar perut saya tidak terganggu,” ujarnya.

Tak hanya puas dengan kuliner, Desak Rita juga memberikan pujian kepada warga Aceh yang telah menyambutnya dengan hangat.

“Selama berada di Aceh, saya benar-benar merasakan keramahan masyarakat. Mereka sangat antusias menonton kompetisi dan mendukung para atlet yang berlaga di sini,” kata Desak Rita.

Ia juga menambahkan bahwa perasaannya berkompetisi di Aceh, yang mayoritas penduduknya menerapkan syariat Islam, sangat nyaman.

“Dulu, senior saya yang berkompetisi di Aceh juga mempersiapkan diri dengan memakai hijab. Saya sempat berpikir apakah saya juga harus memakai manset atau hijab. Namun, saya mendengar bahwa di Aceh sangat toleran. Saya sendiri merasakan hal itu,” pungkasnya.

Kesan mendalam Desak Rita terhadap kuliner dan keramahan masyarakat Aceh ini menambah warna positif dalam penyelenggaraan PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Editor: Akil

Plh Sekda Aceh Hadiri Upacara Penghormatan Pemenang Terjun Payung di PON XXI

0
Plh Sekda Aceh Hadiri Upacara Penghormatan Pemenang Terjun Payung di PON XXI Aceh-Sumut 2024. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jantho – Pada Sabtu (14/09/2024), Selter Galaxy Lanud Sultan Iskandar Muda menjadi saksi upacara penghormatan yang meriah, di mana Plh Sekda Aceh, Azwardi, menyerahkan medali kepada para atlet pemenang cabang olahraga Terjun Payung dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Acara ini menandai penutup kompetisi cabang yang memacu adrenalin tersebut dengan penuh semangat dan kebanggaan.

Dalam sambutannya, Azwardi tidak hanya mengucapkan selamat kepada para pemenang, tetapi juga menegaskan pentingnya untuk tidak berpuas diri dengan pencapaian ini.

“Keberhasilan ini adalah langkah awal, bukan akhir. Masih banyak tantangan di tingkat nasional dan internasional yang menanti,” ujar Azwardi. Pesan tersebut diharapkan dapat memotivasi atlet untuk terus berlatih dan berprestasi lebih baik lagi.

Dewan hakim telah menetapkan hasil penilaian untuk cabang olahraga Terjun Payung sebagai berikut:

  • Kategori Kerja Sama di Udara: Medali Emas dengan nilai 106 diraih oleh Provinsi Jawa Barat, Medali Perak dengan nilai 86 diraih oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Medali Perunggu dengan nilai 83 diraih oleh Provinsi DKI Jakarta.
  • Kategori Kerja Sama Antar Perasut: Medali Emas dengan nilai 63 diraih oleh Provinsi Jawa Barat, Medali Perak dengan nilai 26 diraih oleh Provinsi DKI Jakarta, dan Medali Perunggu dengan nilai 23 diraih oleh Provinsi Lampung.

Pertandingan ini diikuti oleh 11 provinsi dengan total 87 atlet yang bersaing untuk meraih hasil terbaik. Prestasi yang ditorehkan oleh atlet terjun payung mencerminkan dedikasi dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama persiapan.

Upacara ini juga dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan dari masing-masing provinsi, yang turut merayakan keberhasilan para atlet. Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, PON XXI Aceh-Sumut 2024 berhasil menampilkan kompetisi yang tidak hanya menghibur tetapi juga memupuk rasa persatuan dan kebanggaan di antara seluruh peserta.

Editor: Akil

Pelatih Muaythai Jatim Apresiasi Kejujuran Warga Aceh: Hp Hilang Dua Kali Bisa Kembali

0
Pelatih Muaythai Jawa Timur, Soldier Of Tune. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pelatih Muaythai Jawa Timur (Jatim), Soldier Of Tune, mengalami kejadian tak biasa selama berada di Aceh untuk mengikuti PON XXI Aceh-Sumut. Dalam kurun waktu singkat, Soldier dua kali kehilangan ponselnya di area Balai Mesuraya Aceh (BMA), namun yang mengejutkan, kedua kali itu juga ponselnya kembali dengan selamat ke tangannya.

Kejadian pertama terjadi di toilet BMA, sementara insiden kedua berlangsung di pelataran gedung yang menjadi salah satu venue PON XXI tersebut. Soldier mengaku terkejut ketika mendapati bahwa ponsel yang hilang itu ditemukan oleh masyarakat Aceh dan diserahkan kepada petugas keamanan PON XXI yang bertugas di area BMA.

“Kalau di tempat kami, mungkin sudah hilang dan tidak akan kembali,” ujar Soldier saat diwawancarai. Ia mengakui, kejujuran masyarakat Aceh membuatnya kagum.

Lebih lanjut, Soldier menilai bahwa tidak hanya semangat PON yang membuat suasana di Aceh seru, tapi juga kejujuran masyarakatnya yang dianggap langka di tempat lain.

“Kejujuran seperti ini mahal. Jika kondisi seperti ini ada di Jawa Timur, tentu kami akan merasa lebih aman,” tambahnya dengan rasa kagum.

PON XXI Aceh-Sumut, selain menghadirkan persaingan olahraga yang sengit, juga memperlihatkan sisi positif dari masyarakat Aceh yang memiliki tingkat kejujuran tinggi. Soldier berharap nilai-nilai ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Editor: Akil

Mubes 2024, Puji Syukran dan Raisha Benazira Pimpin LMTTA Hingga 2026

0
Puji Syukran dan Raisha Benazira Pimpin LMTTA Periode 2024-2026. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Musyawarah Besar (Mubes) Laskar Muda Teuku Tjoet Ali (LMTTA) yang digelar pada Sabtu (14/9/2024) di Banda Aceh berjalan sukses dan menghasilkan pemimpin baru untuk periode 2024-2026.

Pasangan Puji Syukran dan Raisha Benazira terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum, menggantikan kepemimpinan Musiva Jamal dan Robi Annamal.

Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Dewan Pembina LMTTA, antara lain Bahrizal, Novtrianda Alinur, dan Azhari. Dalam sambutannya, Bahrizal menyampaikan harapan besar terhadap kepengurusan yang baru.

“Mubes ini semoga mampu melahirkan generasi berkualitas yang dapat membawa LMTTA menjadi organisasi yang memberikan dampak positif bagi seluruh anggotanya,” ungkapnya.

Ia juga memberikan pesan penting kepada pengurus baru agar terus meningkatkan kualitas program yang telah dilaksanakan sebelumnya.

“Kami berharap kepengurusan 2024-2026 ini bisa lebih baik dari sebelumnya, dengan inovasi yang lebih signifikan,” tambah Bahrizal.

Sementara itu, Robi Annamal, yang mewakili Musiva Jamal, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepengurusan LMTTA periode 2021-2023. Laporan tersebut mendapat apresiasi dari peserta Mubes, yang menilai banyak program berhasil dijalankan dengan baik.

Dalam pidatonya, Ketua Umum terpilih, Puji Syukran, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada kepengurusan sebelumnya dan Dewan Pembina yang telah memberikan banyak masukan.

“Ini adalah awal baru bagi kami. Kami berharap seluruh anggota bisa lebih kompak dalam menjalankan roda organisasi agar LMTTA bisa terus berkembang,” ujar Puji.

Dengan pemimpin baru ini, LMTTA diharapkan semakin solid dan mampu menghadirkan berbagai program bermanfaat bagi para anggotanya serta masyarakat sekitar.

Editor: Akil

5 Keputusan Kontroversial Wasit Eko Agus Sugiharto dalam Laga Aceh vs Sulteng

0
Wasit Eko Agus Sugiharto saat memimpin laga Aceh Vs Sulteng di Perempat Final Sepakbola Putra PON XXI. (Foto: Sportcorner.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Laga perempatfinal cabang sepak bola PON XXI Aceh-Sumut 2024 antara Aceh dan Sulawesi Tengah (Sulteng) diwarnai insiden mengejutkan. Keputusan-keputusan kontroversial yang diambil oleh wasit Eko Agus Sugiharto memicu kericuhan, hingga berujung pada aksi pemukulan oleh pemain Sulteng, Muhammad Rizki. Bahkan, tim sepak bola Sulteng memilih untuk mengundurkan diri atau walk out (WO), memastikan Aceh lolos ke babak semifinal.

Laga yang berlangsung di Stadion Dimurthala, Banda Aceh, Sabtu (14/9/2024), menjadi perhatian besar setelah Eko Agus Sugiharto mengeluarkan beberapa keputusan yang dinilai berat sebelah dan merugikan tim Sulawesi Tengah. Amatan Nukilan.id berikut lima keputusan kontroversial yang menjadi sorotan.

1. Kartu Merah untuk Tiga Pemain Sulteng

Pertandingan semakin panas saat tiga pemain Sulteng menerima kartu merah. Pemain pertama yang diusir wasit adalah Wahyu Alman pada menit ke-74, setelah dinilai melakukan pelanggaran keras dengan mengangkat kaki terlalu tinggi saat berusaha merebut bola. Pelanggaran tersebut hampir mengenai kepala pemain Aceh.

Tidak berhenti di situ, pada menit ke-85, giliran Moh Akbar yang diusir dari lapangan setelah menerima kartu merah dari Eko Agus Sugiharto. Kartu merah ketiga diberikan kepada Muhammad Rizki yang emosi dengan keputusan wasit dan melakukan tindakan pemukulan terhadap Eko Agus, membuat sang wasit terkapar di lapangan.

2. Tambahan Waktu 13 Menit

Keputusan kontroversial lainnya adalah pemberian tambahan waktu yang dianggap terlalu panjang. Saat pertandingan memasuki masa injury time babak kedua, wasit Eko Agus memberikan waktu tambahan hingga 13 menit. Tambahan waktu yang tidak biasa ini muncul ketika Sulteng sedang unggul 1-0, berkat gol Wahyu Alman di menit ke-25.

Keputusan ini memicu protes dari pihak Sulteng, karena dianggap terlalu lama dan memberi peluang bagi Aceh untuk mengejar ketertinggalan.

3. Penalti Ganda untuk Aceh

Wasit Eko Agus Sugiharto memberikan dua penalti untuk Aceh pada masa injury time, keputusan yang semakin memanaskan suasana. Penalti pertama diberikan pada menit ke-90+7 setelah pemain Sulteng dianggap melakukan pelanggaran di kotak penalti. Meski penalti ini gagal dieksekusi, Eko Agus kembali memberikan penalti kedua setelah menilai ada handball di area kotak penalti oleh pemain Sulteng.

Kali ini, eksekusi penalti sukses dilakukan oleh Akmal Juanda pada menit ke-126, membuat skor menjadi imbang 1-1. Keputusan ini memicu protes keras dari pemain dan ofisial Sulteng, yang merasa timnya dirugikan.

4. Tidak Memberi Kartu kepada Pemain Aceh

Keputusan lain yang dipertanyakan adalah ketika wasit tidak memberikan kartu kuning atau merah kepada pemain Aceh, meski terjadi pelanggaran keras terhadap pemain Sulteng. Beberapa kali pemain Aceh melakukan tekel keras, namun Eko Agus memilih untuk tidak memberikan sanksi kartu, membuat keputusan ini semakin diperdebatkan.

5. Peluit Panjang Usai Skor Imbang

Setelah penalti kedua dari Akmal Juanda mengubah skor menjadi 1-1, wasit Eko Agus Sugiharto langsung meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Keputusan ini dianggap janggal karena skor imbang seharusnya membawa pertandingan ke babak tambahan waktu 2×15 menit. Namun, tim Sulteng memutuskan untuk mundur dan melakukan WO, mengakhiri laga dengan Aceh lolos ke semifinal.

Insiden Pemukulan dan Walk Out

Puncak dari kontroversi ini terjadi ketika Muhammad Rizki, pemain Sulteng yang kesal dengan keputusan wasit, memukul Eko Agus Sugiharto hingga terkapar. Wasit sempat mendapatkan perawatan, namun insiden ini membuat suasana semakin panas di lapangan. Tak lama setelah itu, tim Sulteng memilih untuk mundur dari pertandingan, menganggap keputusan wasit sangat merugikan tim mereka.

Dengan keputusan walk out dari tim Sulteng, Aceh otomatis melaju ke babak semifinal PON XXI Aceh-Sumut 2024. Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara masih menunggu hasil investigasi terkait insiden ini, termasuk kemungkinan sanksi bagi pihak yang terlibat. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

DKI Jakarta Pimpin Klasemen Sementara Perebutan Medali PON XXI

0
Perolehan medali sementara PON XXI Aceh-Sumut. (Foto: akun Instagram @ponxxiaceh)

Nukilan.id – Kontingen DKI Jakarta memimpin klasemen sementara perebutan medali di PON XXI Aceh-Sumut per Sabtu (14/9/2024). Hingga berita ini ditayangkan, kontingen DKI Jakarta telah mengoleksi total sebanyak 235 medali.

Dikutip Nukilan dari laman resmi PON XXI Aceh-Sumut, DKI Jakarta telah mengoleksi sebanyak 86 medali emas, 78 medali perak, dan 71 medali perunggu. Peringkat kedua ditempati oleh Jawa Timur dengan perolehan total 229 medali dengan rincian 84 medali emas, 74 medali perak, dan 71 medali perunggu.

Posisi ketiga diraih oleh Jawa Barat dengan total raihan medali yang sama dengan DKI Jakarta, yaitu 235 medali. Jawa Barat mengoleksi sebanyak 78 medali emas, 79 medali perak, dan 78 medali perunggu.

Persaingan ketat terjadi di posisi keempat dan kelima di mana kedua tuan rumah PON XXI, Sumatera Utara dan Aceh masing-masing meraih sebanyak 111 dan 95 medali. Sumatera Utara sejauh ini sudah mengoleksi 43 medali emas, 19 medali perak, dan 49 medali perunggu. Sementara tuan rumah Aceh telah mengoleksi 34 medali emas, 28 medali perak, dan 33 medali perunggu.

Sementara di peringkat keenam dan ketujuh terjadi persaingan antara Jawa Tengah yang telah mengoleki 110 medali dan DI Yogyakarta sebanyak 67 medali. Sedangkan untuk perebutan sepuluh besar masing-masing diraih oleh Bali, Lampung dan Banten. Bali sejauh ini sudah mendapatkan total 63 medali, Lampung sebanyak 42 medali, dan Banten mengoleksi 43 medali.

Posisi ini kemungkinan besar akan berubah lagi mengingat masih ada beberapa cabor yang masih dipertandingkan. Dengan demikian, setiap kontingen masih memungkinkan untuk mengoleksi lebih banyak medali lagi. []

Reporter: Sammy

Kalahkan Banten, DKI Jakarta Raih Medali Emas di Cabor Baseball

0
Pertandingan baseball antara DKI Jakarta dan Banten di Lapangan Tugu USK, Sabtu (14/9/2024). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id – Tim baseball DKI Jakarta berhasil memastikan medali emas di cabor baseball PON XXI Aceh-Sumut. DKI Jakarta mengalahkan kontingen Banten di laga final baseball di Lapangan Tugu USK, Sabtu (14/9/2024). DKI Jakarta mengalahkan Banten dengan skor 7-5. Sementara Jawa Barat (Jabar) berhasil mengalahkan tim Lampung di perebutan juara ketiga.

Pantauan Nukilan di lapangan, laga berlangsung sengit sejak pertandingan dimulai. Sorak-sorakan dukungan dari masing-masing pendukung yang membela tim idolanya menggema di Lapangan Tugu USK.

Pertandingan di inning pertama berjalan alot. Kedua tim sama-sama berambisi untuk mencetak poin pertama. Namun, hingga inning pertama berakhir, kedua tim hanya mampu bermain imbang 1-1.

Di inning kedua, Jakarta berusaha lebih keras sehingga berhasil mendapatkan dua poin tambahan yang membuat akhir inning ini menjadi 3-1 untuk DKI Jakarta. Namun, Banten berhasil menyamakan kedudukan di inning kelima dengan dua poin sehingga skor menjadi 3-3.

Jakarta Kembali menambah tiga poin di inning keenam yang membuat skor berbalik menjadi 6-3 untuk kemenangan DKI Jakarta. Banten hanya mampu mengejar satu poin di inning ketujuh dan skor menjadi 6-4.

DKI Jakarta memastikan kemenangan setelah bermain imbang di inning kedelapan dan kesembilan dengan masing-masing skor 1-1 dan 0-0. Hasil ini membuat DKI Jakarta menjadi pemenang dengan skor akhir 7-5. []

Reporter: Sammy

Wasit Aceh Vs Sulteng Terkapar Usai Dibogem Pemain

0
Insiden pemukulan wasit oleh pemain sulteng. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pertandingan sepak bola perempat final antara Aceh dan Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI diwarnai insiden kekerasan. Wasit utama, Eko Agus Sugih Harto, terkapar di lapangan usai dipukul oleh salah satu pemain Sulteng, Rizki Saputra. Laga akhirnya dilanjutkan dengan wasit pengganti dan Aceh melaju ke babak semifinal. Pertandingan berlangsung di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Sabtu (14/9/2024) malam.

Pantauan Nukilan.id di lokasi, sulteng sempat memimpin lewat gol Wahyu pada menit ke-25. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai. Memasuki babak kedua, situasi berubah tegang ketika wasit Eko Agus memberikan kartu merah kepada pemain Sulteng, Moh Akbar, pada menit ke-85 akibat pelanggaran keras.

Keputusan itu memicu protes keras dari para pemain Sulteng, yang bahkan meninggalkan lapangan. Situasi semakin memanas ketika pada menit ke-96, wasit Eko menunjuk titik putih dan memberikan penalti kepada tuan rumah Aceh. Saat itulah, Rizki Saputra, salah satu pemain Sulteng, melakukan tindakan kekerasan dengan memukul kepala wasit.

Wasit Eko seketika terjatuh di kotak penalti, dan pertandingan dihentikan sementara. Dua ambulans masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan. Wasit kemudian dibawa keluar lapangan dengan bantuan beberapa orang. Setelah insiden ini, Rizki diberikan kartu merah dan diusir dari pertandingan.

Laga dilanjutkan dengan wasit pengganti, dan Aceh mendapatkan kesempatan penalti. Namun, eksekusi pertama yang dilakukan oleh Hercules gagal menghasilkan gol. Pertandingan yang berlangsung dalam suasana tegang tersebut akhirnya berlanjut dengan penalti kedua, di mana Akmal Juanda, eksekutor Aceh, berhasil menjebol gawang Sulteng, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Seharusnya laga dilanjutkan ke babak tambahan waktu, namun tim Sulteng memutuskan untuk tidak bermain lagi dan memilih walk out (WO). Keputusan ini membuat Aceh dinyatakan sebagai pemenang dan berhak melaju ke babak semifinal.

Pertandingan ini menjadi sorotan tajam karena aksi kekerasan yang terjadi di lapangan, sementara Aceh melangkah ke semifinal dengan atmosfer yang jauh dari ideal. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Aceh Melaju ke Semifinal Sepak Bola PON XXI Usai Sulteng Walk Out

0
Kesebelasan Aceh. (Foto: PSSI Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pertandingan perempat final cabang sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024 antara tim Aceh dan Sulawesi Tengah (Sulteng) berakhir dengan kemenangan tuan rumah setelah tim Sulteng memilih walk out (WO), Sabtu (14/9/2024). Laga yang berlangsung di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh ini diwarnai kontroversi dan insiden pemukulan wasit oleh pemain Sulteng.

Pertandingan dimulai dengan ketat, di mana tim Sulteng mampu mencuri gol terlebih dahulu pada babak pertama, membuat mereka unggul 1-0 atas Aceh. Gol ini menjadi kejutan bagi publik tuan rumah yang hadir mendukung langsung di stadion.

Pantauan Nukilan.id di lokasi, ketegangan mulai memuncak pada babak kedua. Pada menit ke-66, laga terpaksa dihentikan sejenak setelah terjadi insiden pelemparan botol ke lapangan oleh penonton. Meski sempat tertunda, pertandingan dilanjutkan beberapa menit kemudian.

Memasuki menit-menit krusial, Sulteng yang mulai bermain bertahan memperlihatkan permainan keras. Wasit mengeluarkan sejumlah kartu kuning hingga akhirnya dua pemain Sulteng menerima kartu merah. Pemain kedua yang diusir keluar adalah Moh Akbar, pada menit ke-85, yang memicu gelombang protes dari pihak Sulteng.

Protes tersebut membuat laga kembali terhenti sementara, dan wasit memberikan waktu tambahan hingga 13 menit.

Pada masa tambahan waktu, tepatnya di menit ke-97, kontroversi kembali terjadi ketika wasit memberikan hadiah penalti kepada Aceh. Keputusan ini memicu emosi pemain Sulteng. Rizki Saputra, pemain bernomor punggung 15, memukul wasit di bagian kepala hingga wasit terjatuh. Insiden tersebut membuat pertandingan kacau, dan petugas medis, termasuk dua ambulans, terpaksa masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan.

Penonton tuan rumah yang geram dengan situasi itu kembali melakukan pelemparan botol ke arah lapangan, menambah panas suasana. Setelah beberapa menit, pertandingan akhirnya kembali dilanjutkan.

Rizki Saputra diusir keluar dengan kartu merah, menjadi kartu merah ketiga bagi tim Sulteng.

Aceh yang mendapatkan kesempatan penalti pada menit ke-97 gagal memanfaatkan peluang tersebut setelah tendangan penalti ditepis oleh kiper Sulteng, Rexy. Namun, tak lama berselang, Aceh kembali mendapatkan penalti kedua setelah pemain Sulteng dinilai melakukan handball di area kotak penalti. Kali ini, eksekusi penalti berjalan mulus, membuat skor menjadi imbang 1-1.

Seharusnya, pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan waktu, namun tim Sulteng memilih untuk mundur alias WO sebagai bentuk protes atas keputusan wasit. Dengan keputusan ini, Aceh dinyatakan menang WO dan berhak melaju ke babak semifinal.

Kemenangan ini memastikan langkah Aceh ke empat besar, sementara Sulteng harus mengakhiri perjalanannya di PON XXI 2024.

Keputusan walk out yang diambil Sulteng disinyalir akibat ketidakpuasan terhadap keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Insiden ini menambah panjang daftar drama yang terjadi di PON Aceh-Sumut, terutama pada cabang sepak bola yang memang selalu menyedot perhatian besar dari publik. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah