Beranda blog Halaman 90

Sambut Ramadhan, Baznas Siapkan Ratusan Sapi untuk Dukung Tradisi Meugang di Aceh

0
Ilustrasi BAZNAS. (Foto: Baznas)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berencana mengirimkan hingga 200 ekor sapi hidup ke Aceh menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah. Program ini disiapkan untuk mendukung pelaksanaan tradisi Meugang, budaya turun-temurun masyarakat Aceh yang rutin digelar menjelang Ramadhan.

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, dalam konferensi pers Program Ramadhan Baznas 2026 yang berlangsung di Jakarta, Senin (2/2/2026).

“Ada yang menarik, dalam waktu dekat insyaallah kita akan melakukan Meugang. Itu adalah tradisi penyembelihan hewan kerbau atau sapi yang dilakukan sebelum puasa Ramadhan di Aceh,” ujar Saidah.

Menurut Saidah, Baznas akan menyiapkan sekitar 100 hingga 200 ekor sapi hidup yang akan dikirim langsung ke Aceh. Hewan-hewan tersebut nantinya disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari tradisi Meugang.

“Insya Allah Baznas akan menyiapkan 100-200 sapi hidup yang akan kita bawa ke Aceh,” ucapnya.

Ia menambahkan, penyerahan bantuan tersebut akan dilakukan secara simbolis kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Penyerahan ini direncanakan melibatkan Ketua Baznas RI Prof Noor Ahmad serta sejumlah pejabat pusat, sebagai bentuk sinergi dan penghormatan terhadap kearifan lokal Aceh.

“Nanti akan kita serahkan ke Mualem. Mualem bersama Pak Ketua Baznas dan bersama Pak Menko akan menyerahkan itu di Aceh sebagai bagian dari menghormati tradisi Meugang,” katanya.

Tradisi Makmeugang atau Meugang sendiri telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi ini diyakini bermula sejak masa Kerajaan Aceh, ketika kerajaan menyembelih hewan dalam jumlah besar untuk kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada rakyat menjelang hari-hari besar Islam, khususnya Ramadhan.

Hingga kini, Meugang tetap dipertahankan sebagai simbol kebersamaan, kepedulian sosial, serta ungkapan rasa syukur dalam menyambut bulan suci. Bahkan, masyarakat Aceh yang tinggal di luar daerah asalnya kerap berupaya tetap melaksanakan tradisi ini di tempat mereka berada.

Melalui program pengiriman sapi tersebut, Baznas berharap dapat membantu masyarakat Aceh menjalankan tradisi Meugang dengan lebih layak, sekaligus memperkuat solidaritas sosial menjelang Ramadhan, terutama di tengah kondisi masyarakat yang baru saja terdampak bencana banjir.

Gempa Bermagnitudo 2,2 Guncang Bener Meriah pada Selasa Malam

0
20 Gempa Terbesar
Ilustrasi Gempa. (Foto: Antara)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bener Meriah, Aceh diguncang gempa bumi pada Selasa malam, 2 Februari 2026, sekitar pukul 23.51 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kekuatan gempa tersebut sebesar magnitudo (M) 2,2.

“Pusat gempa berada di darat,” ujar BMKG dalam laman resminya, Rabu, 3 Februari 2026.

BMKG menyebutkan, pusat gempa berada sekitar 11 kilometer arah barat Kabupaten Bener Meriah dengan kedalaman 5 kilometer. Getaran gempa dirasakan masyarakat di wilayah Bener Meriah dengan intensitas II–III Skala Modified Mercalli Intensity (MMI).

“Gempa dirasakan di Bener Meriah, II–III Skala MMI,” kata BMKG.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Selain itu, belum ada laporan korban luka maupun korban jiwa.

HT Ibrahim Tegaskan Siap Kawal USK di Era Kepemimpinan Mirza Tabrani

0
HT. Ibrahim. (Foto: Nukilan.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota DPR RI Komisi XIII dari Fraksi Partai Demokrat, HT Ibrahim, ST, MM, menyampaikan ucapan selamat kepada Prof. Dr. Mirza Tabrani yang terpilih sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031. Ia sekaligus menegaskan kesiapan mengawal dan mendukung berbagai program strategis kampus melalui jalur pemerintahan pusat dan jejaring kerja yang dimilikinya.

Prof. Mirza Tabrani ditetapkan sebagai rektor terpilih melalui Rapat Senat USK yang digelar pada Senin (2/2/2026). Dalam pemungutan suara tersebut, Mirza memperoleh 13 suara, mengungguli Prof. Dr. Ir. Agussabti yang meraih 5 suara dan Prof. Dr. Ir. Marwan dengan 1 suara.

“Saya mengucapkan selamat kepada Prof. Mirza Tabrani atas amanah yang diterima. Sebagai wakil rakyat dari Aceh, saya siap menjadi jembatan agar program-program prioritas USK mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat,” ujar HT Ibrahim melalui keterangannya, Senin 2 Febuari 2026.

HT Ibrahim menyebutkan sejumlah bentuk dukungan konkret yang siap diupayakan, mulai dari percepatan akses pendanaan riset, fasilitasi hibah internasional, pembukaan kemitraan antarlembaga, hingga dorongan alokasi anggaran untuk penguatan infrastruktur laboratorium dan perpustakaan.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi serta penguatan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, program-program tersebut dapat difasilitasi melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Politikus Partai Demokrat itu menegaskan keterbukaannya untuk berkoordinasi secara intensif dengan pimpinan USK. “Saya membuka komunikasi penuh dan siap berdiskusi kapan pun diperlukan bahkan 24 jam bila Prof. Mirza meminta bantuan untuk merancang langkah strategis jangka pendek maupun jangka panjang,” ujarnya.

HT Ibrahim menilai kepemimpinan baru di USK menjadi momentum penting untuk membenahi berbagai aspek, seperti peningkatan mutu akreditasi, percepatan transformasi digital kampus, serta penguatan kapasitas dosen dan relevansi riset. Ia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha agar hasil riset dapat memberi dampak nyata bagi pembangunan daerah dan nasional.

Di tengah harapan civitas akademika Aceh terhadap rektor terpilih, HT Ibrahim mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik internal kampus maupun legislatif daerah, untuk bersama-sama mengawal program kerja USK ke depan.

“Dukungan saya bukan sekadar ucapan; saya siap membuka akses, mempertemukan pihak terkait, dan membantu memastikan program yang dirancang dapat diimplementasikan secara nyata demi kemajuan kampus tercinta ini,” tuturnya.

Wagub Aceh Tinjau Pembangunan Boeing 737 untuk Wahana Manasik di Asrama Haji

0
Wagub Aceh Tinjau Pembangunan Boeing 737 untuk Wahana Manasik di Asrama Haji. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, meninjau progres pembangunan pesawat Boeing 737 non-operasional yang akan difungsikan sebagai wahana manasik haji dan umrah di kawasan Asrama Haji Aceh, Sabtu, 31 Januari 2026. Wahana ini diproyeksikan menjadi yang pertama di Indonesia.

Pesawat tersebut disiapkan sebagai sarana simulasi perjalanan udara bagi calon jamaah haji dan umrah. Keberadaannya diharapkan membantu jamaah, khususnya lanjut usia dan mereka yang belum pernah naik pesawat, agar lebih siap sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Wakil Gubernur Aceh menyebut pembangunan wahana ini memiliki nilai historis, mengingat Aceh memiliki peran penting dalam sejarah penerbangan nasional melalui pengorbanan para pendahulu untuk Indonesia.

“Seluruh jamaah umrah dari Aceh nantinya akan dipusatkan di Asrama Haji. Manasik dilakukan di sini, pemeriksaan x-ray di sini, cap paspor di sini, lalu jamaah langsung naik bus menuju pesawat. Dengan sistem ini, jamaah berangkat umrah dari Aceh bisa merasakan pengalaman seperti berhaji,” ujar Wakil Gubernur Aceh.

Menurutnya, skema tersebut tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga memberikan kenyamanan lebih bagi jamaah, terutama jamaah lansia.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas perhatian dan dukungan Pemerintah Pusat dalam peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji dan umrah di Aceh.

Sementara itu, General Manager Garuda Indonesia wilayah Aceh, Nano Setiawan, menyampaikan bahwa pesawat tersebut juga akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi jamaah umrah. Ia berharap calon jamaah dapat memanfaatkan fasilitas Asrama Haji Aceh yang kini semakin memadai untuk menunjang kenyamanan sebelum keberangkatan.

Selain sebagai sarana edukasi ibadah, wahana Boeing 737 ini juga diproyeksikan menjadi destinasi baru yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asrama Haji Aceh.

Peninjauan tersebut turut dihadiri oleh General Manager Garuda Indonesia Aceh Nano Setiawan, Kepala UPT Asrama Haji Aceh Irsyadi, S.E., Ak., M.Si, serta perwakilan vendor pembangunan dari PT Naka Avia Sakti, Sukandar.

Prof Mirza Tabrani Pimpin USK Banda Aceh Periode 2026–2031

0
Rektor USK Banda Aceh terpilih, Prof Mirza Tabrani. (FOTO: Humas USK Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Prof Dr Mirza Tabrani resmi terpilih sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh untuk masa jabatan 2026–2031. Ia meraih kemenangan dalam pemilihan rektor dengan perolehan 13 suara, unggul atas dua kandidat lainnya.

Pemilihan rektor tersebut berlangsung di Balai Senat USK Banda Aceh, Senin (2/2/2026). Dalam proses pemungutan suara, Prof Mirza memperoleh 13 suara, sementara Prof Agussabti, M.Si mengantongi lima suara, dan rektor inkumben Prof Marwan hanya meraih satu suara.

“Alhamdulillah, setelah melalui proses yang panjang akhirnya hari ini USK berhasil mendapatkan pemimpin baru,” kata Ketua Panitia Pemilihan Rektor (PPR) USK, Prof Dr Rusli Yusuf, di Banda Aceh, Senin.

Prof Rusli menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga tahapan pemilihan rektor dapat terlaksana secara profesional dan bermartabat. Ia juga bersyukur proses pemilihan berjalan dengan lancar hingga menghasilkan rektor terpilih.

Menurut Prof Rusli, pelantikan Rektor USK terpilih dijadwalkan paling lambat pada 8 Maret 2026. Ia berharap kepemimpinan baru tersebut mampu membawa USK ke arah yang lebih baik serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan bangsa.

“Selamat kepada Rektor terpilih dan terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga proses pemilihan ini berjalan baik,” ujar Prof Rusli.

Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK Banda Aceh, Dr Safrizal, turut menyampaikan ucapan selamat kepada Prof Mirza Tabrani. Ia menilai pemilihan rektor kali ini menjadi anugerah sekaligus bekal penting bagi USK sebagai kampus yang memiliki peran strategis bagi masyarakat Aceh.

Ia juga menegaskan bahwa pemilihan ini menjadi tonggak sejarah baru, karena untuk pertama kalinya sejak USK berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), pemilihan rektor dilakukan melalui mekanisme demokratis oleh MWA.

Proses tersebut, lanjutnya, menandai langkah USK memasuki fase baru dengan kepemimpinan yang lahir dari mekanisme terbuka dan memiliki legitimasi bersama.

“Harapannya, Rektor terpilih mampu membawa visi yang telah disampaikan menjadi kerja nyata, menguatkan reputasi, sekaligus semakin mengharumkan nama universitas di tingkat yang lebih luas,” demikian Dr Safrizal.

Pramuka MAN 2 Banda Aceh Dalami Edukasi Kebencanaan di Museum Tsunami Aceh

0
Pramuka MAN 2 Banda Aceh Dalami Edukasi Kebencanaan di Museum Tsunami Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 25 anggota Pramuka MAN 2 Banda Aceh melaksanakan kunjungan edukatif ke Museum Tsunami Aceh, Sabtu, 31 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari tur pembelajaran kepramukaan yang menitikberatkan pada edukasi kebencanaan dan pemahaman sejarah tsunami Aceh 2004.

Dalam kunjungan tersebut, para peserta didampingi langsung oleh pembina Pramuka, Kak Khaidir Marzuki. Para Pramuka mengikuti rangkaian kunjungan dengan tertib dan antusias, menyusuri berbagai ruang pameran yang merekam dampak tsunami, proses penyelamatan korban, hingga fase pemulihan masyarakat pascabencana.

Melalui sajian visual, dokumentasi sejarah, dan narasi kebencanaan yang ditampilkan di Museum Tsunami Aceh, para Pramuka mendapatkan pemahaman komprehensif tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana, mitigasi risiko, serta nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial.

Kak Khaidir Marzuki menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter generasi muda, khususnya Pramuka.

“Kegiatan kunjungan ke Museum Tsunami ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran Pramuka terhadap pentingnya pemahaman sejarah dan edukasi kebencanaan. Pramuka tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. Dari sini, adik-adik belajar menghargai sejarah, memahami risiko lingkungan, serta menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial,” ujar Kak Khaidir.

Ia menambahkan, Museum Tsunami Aceh merupakan media pembelajaran yang efektif karena mengintegrasikan aspek sejarah, sains kebencanaan, dan nilai kemanusiaan dalam satu ruang edukatif.

Melalui kegiatan ini, Pramuka MAN 2 Banda Aceh diharapkan semakin tangguh, peduli, dan siap berperan aktif dalam upaya mitigasi serta penanggulangan bencana di tengah masyarakat. Kunjungan ini sekaligus menegaskan komitmen Pramuka MAN 2 Banda Aceh dalam menghadirkan kegiatan kepramukaan yang edukatif, kontekstual, dan relevan dengan kondisi geografis serta sejarah Aceh.

Empat Dekade Deforestasi Indonesia, Warisan Kerusakan di Balik Pertumbuhan Ekonomi

0
Deforestasi akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. (Foto: Yudi Nofiandi/Auriga)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Selama lebih dari empat dekade, Indonesia menghadapi paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, khususnya hutan, beriringan dengan kerusakan ekologis berskala masif.

Deforestasi yang mulai menguat sejak penebangan komersial dibuka pada awal 1970-an berkembang menjadi persoalan struktural yang ditopang oleh tata kelola, politik perizinan, dan orientasi ekonomi ekstraktif.

Dikutip Nukilan.id, laporan historis Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan bukan semata dampak ekspansi industri, melainkan hasil dari perizinan permisif, lemahnya pengawasan, serta praktik korupsi yang melihat hutan sebagai komoditas, bukan ekosistem.

Lonjakan Kehilangan Hutan Era Orde Baru

Mengacu survei RePPProT, tutupan hutan Indonesia pada 1985 tercatat 119 juta hektare, turun sekitar 27 persen dibandingkan 1950. Pada periode 1985–1997, laju deforestasi melonjak hingga rata-rata 1,7 juta hektare per tahun, dengan total kehilangan lebih dari 20 juta hektare atau sekitar 17 persen hutan 1985. Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi masing-masing kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya.

Analisis Bank Dunia bahkan mencatat bahwa jika perkebunan dikecualikan dari klasifikasi hutan, laju deforestasi periode tersebut dapat mencapai 2,2 juta hektare per tahun. Percepatan tajam terjadi pasca-1996, diperparah oleh krisis ekonomi dan kebakaran hutan masif 1997–1998.

FWI mencatat, hampir 30 persen konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) berada dalam kondisi terdegradasi. Situasi ini membuka jalan konversi hutan menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan. Dari sekitar 9 juta hektare HTI yang dialokasikan, hanya 2 juta hektare yang benar-benar ditanami, sementara sisanya menjadi lahan terbuka dan rentan terbakar.

Illegal logging juga menjadi komponen penting kerusakan. Sekitar 50–70 persen pasokan kayu industri berasal dari pembalakan ilegal, dengan estimasi kerusakan mencapai 10 juta hektare.

Deforestasi Berlanjut Pasca Reformasi

Pada 2009, tutupan hutan Indonesia tersisa 88,17 juta hektare atau 46,33 persen daratan nasional. Dalam periode 2000–2009 saja, deforestasi mencapai 15,16 juta hektare, dengan Kalimantan menyumbang kehilangan terbesar sebesar 5,50 juta hektare.

FWI mencatat, deforestasi terbesar terjadi di Areal Penggunaan Lain (APL), disusul hutan lindung dan kawasan konservasi. Pada periode yang sama, konsesi HTI melonjak drastis dari 9 unit pada 1995 menjadi 229 unit pada 2009, dengan luas areal kerja hampir 10 juta hektare.

Produksi kayu hutan tanaman meningkat signifikan, dari 7,32 juta meter kubik pada 2004 menjadi 22,32 juta meter kubik pada 2008.

Gambut dan Kebakaran dalam Satu Dekade Terakhir

Pada 2009–2013, kehilangan tutupan hutan alam tercatat sekitar 4,50 juta hektare dengan laju 1,13 juta hektare per tahun. Provinsi Riau, Kalimantan Tengah, dan Papua menjadi penyumbang terbesar. Dalam periode ini, deforestasi lahan gambut mencapai 1,1 juta hektare, setengahnya berada di Riau.

Kebakaran hutan dan lahan 2015 menjadi titik kritis berikutnya. BNPB mencatat area terbakar mencapai lebih dari 2,61 juta hektare, dengan kerugian ekonomi menurut Bank Dunia menembus US$16,1 miliar. Kebakaran besar kembali terjadi pada 2019 dengan luas lebih dari 1,6 juta hektare.

Dampak Ekologis dan Upaya Penanganan

Akumulasi kehilangan hutan memicu meningkatnya bencana hidrometeorologi. Data BNPB 2014–2023 menunjukkan banjir dan longsor mendominasi kejadian bencana nasional. Peneliti mengaitkan banjir besar Kalimantan Selatan 2021 dan banjir-longsor di Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat pada 2025 dengan penurunan tutupan hutan dalam skala luas.

Kementerian Kehutanan mencatat total lahan kritis di daerah aliran sungai (DAS) terdampak banjir di tiga provinsi mencapai 464.598 hektare. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut pemerintah mengandalkan skema reboisasi dan Kebun Bibit Rakyat untuk pemulihan.

“Penurunan deforestasi tersebut juga teridentifikasi pada tiga provinsi terdampak banjir,” kata Raja Juli Antoni.

Menurut Kementerian Kehutanan, deforestasi nasional hingga September 2025 tercatat 166.450 hektare, turun 23,01 persen dibandingkan 2024. Penurunan juga terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Meski demikian, perubahan tutupan hutan menjadi nonhutan masih berlangsung di puluhan DAS yang kini masuk kategori lahan kritis. (XRQ)

Reporter: Akil

Aceh Selatan Catat Kehilangan Tutupan Hutan Terbesar dalam Tiga Tahun Terakhir

0
Potret perambahan hutan di Aceh. (Foto: LintasGayo)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Luas tutupan hutan di Provinsi Aceh terus menyusut dari tahun ke tahun. Penurunan ini kian terasa dampaknya, terutama setelah banjir bandang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 16 daerah terdampak banjir. Wilayah tersebut meliputi Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.

Berbagai faktor disebut menjadi penyebab kerusakan hutan di Aceh, mulai dari perambahan, pembalakan liar, aktivitas pertambangan, hingga alih fungsi hutan menjadi kawasan perkebunan.

Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, menyebutkan bahwa tren kehilangan tutupan hutan di Aceh terus meningkat. Pada 2023, luas hutan yang hilang tercatat sekitar 8.906 hektar.

“Namun pada 2024, tutupan yang hilang mencapai 10.610 hektar,” jelasnya, Selasa (25/2/2025) lalu.

Jika ditinjau berdasarkan wilayah, Aceh Selatan menjadi kabupaten dengan kehilangan tutupan hutan terbesar selama tiga tahun berturut-turut. Data Mongabay mencatat, pada 2022 Aceh Selatan kehilangan hutan seluas 1.883 hektar, disusul Aceh Jaya 776 hektar, Aceh Timur 753 hektar, Aceh Utara 666 hektar, dan Aceh Barat 642 hektar.

Tren tersebut berlanjut pada 2023. Aceh Selatan kembali menempati posisi teratas dengan kehilangan hutan seluas 1.854 hektar. Setelahnya menyusul Kota Subulussalam 911 hektar, Aceh Utara 866 hektar, Aceh Timur 611 hektar, serta Aceh Barat 557 hektar.

Sementara itu, catatan Yayasan HAkA yang dikutip Nukilan.id menunjukkan bahwa pada 2024, Aceh Selatan masih menjadi daerah dengan kehilangan tutupan hutan terbesar, yakni 1.357 hektar. Angka tersebut diikuti oleh Aceh Timur sebesar 1.096 hektar dan Kota Subulussalam 1.040 hektar.

Hutan yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami Aceh terus menyusut. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya risiko banjir dan longsor hingga ancaman krisis lingkungan yang semakin serius. (XRQ)

Reporter: Akil

Jemaah Haji Aceh Selatan Tergabung Kloter 9 Bersama Aceh Jaya dan Nagan Raya

0
Rombongan jemaah haji Indonesia terakhir yang akan bertolak dari Bir Ali menuju Mekkah, Arab Saudi.(Dok. Humas Kementerian Agama)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Jemaah haji asal Kabupaten Aceh Selatan pada musim haji tahun ini tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 9 bersama jemaah dari Kabupaten Aceh Jaya dan Nagan Raya. Kloter ini merupakan bagian dari total 14 kloter pemberangkatan jemaah haji Aceh tahun 2026.

Secara keseluruhan, sebanyak 5.426 jemaah haji asal Aceh akan diberangkatkan ke Tanah Suci tahun ini. Jumlah tersebut meningkat seiring adanya tambahan kuota haji Aceh sebanyak 1.048 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Aceh telah membagi jemaah ke dalam 14 kloter. Setiap kloter diisi 393 jemaah, yang umumnya berasal dari dua hingga tiga kabupaten/kota. Seluruh jemaah akan diberangkatkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Plt Kanwil Kemenhaj Aceh, Arijal, menyebutkan bahwa pemberangkatan jemaah haji Aceh mayoritas masuk dalam gelombang kedua.

“Jemaah haji akan berangkat dalam gelombang 2 tapi ada 1 kloter kemungkinan masuk gelombang 1 namun tanggalnya beririsan atau berurutan,” kata Plt Kanwil Kemenhaj Aceh Arijal.

Tahun ini, jumlah kloter haji Aceh bertambah menjadi 14 kloter dari sebelumnya 12 kloter. Penambahan kloter tersebut seiring meningkatnya jumlah jemaah haji asal Tanah Rencong.

Untuk diketahui, Kloter 9 diisi oleh jemaah dari Aceh Selatan, Aceh Jaya, dan Nagan Raya, sementara kloter lainnya diisi jemaah dari berbagai kabupaten/kota di Aceh sesuai pembagian yang telah ditetapkan Kemenhaj Aceh.

Jemaah Haji Aceh Diberangkatkan dalam 14 Kloter, Ini Rincian Daerah Asalnya

0
3.126 Jemaah Haji Asal Aceh Telah Tiba di Tanah Air. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 5.426 jemaah haji asal Aceh dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini melalui 14 kelompok terbang (kloter). Jumlah tersebut mengalami peningkatan seiring bertambahnya kuota haji Aceh sebanyak 1.048 orang.

Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Aceh telah membagi jemaah ke dalam 14 kloter. Jumlah kloter tahun ini bertambah dua dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 12 kloter.

Berdasarkan data Kemenhaj Aceh, Minggu (1/2/2026), jemaah asal Aceh Besar terbagi dalam empat kloter. Sementara Banda Aceh, Pidie, dan Aceh Utara masing-masing tergabung dalam tiga kloter. Dalam satu kloter umumnya terdiri dari jemaah yang berasal dari dua hingga tiga kabupaten/kota.

Khusus kloter 10, seluruh jemaah berasal dari Kabupaten Pidie. Setiap kloter diisi 393 jemaah dan seluruh jemaah Aceh akan diberangkatkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

“Jemaah haji akan berangkat dalam gelombang 2 tapi ada 1 kloter kemungkinan masuk gelombang 1 namun tanggalnya beririsan atau berurutan,” kata Plt Kanwil Kemenhaj Aceh Arijal.

Berikut rincian 14 kloter pemberangkatan jemaah haji Aceh:

  • Kloter 1: Aceh Besar, Banda Aceh

  • Kloter 2: Aceh Besar, Sabang

  • Kloter 3: Aceh Barat, Aceh Utara

  • Kloter 4: Banda Aceh, Langsa

  • Kloter 5: Aceh Tengah, Bireuen

  • Kloter 6: Aceh Tenggara, Aceh Utara

  • Kloter 7: Aceh Timur, Pidie

  • Kloter 8: Aceh Besar, Bireuen, Gayo Lues

  • Kloter 9: Aceh Jaya, Aceh Selatan, Nagan Raya

  • Kloter 10: Pidie

  • Kloter 11: Aceh Utara, Lhokseumawe

  • Kloter 12: Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Simeulue, Subulussalam

  • Kloter 13: Aceh Tamiang, Pidie, Pidie Jaya

  • Kloter 14: Aceh Besar, Bener Meriah, Banda Aceh