Beranda blog Halaman 90

Melihat Aceh dari Kacamata Seorang Komika Australia

0
Penulis dan Tom
Penulis bersama Komika asal Australia, Thomas Begg. (Foto: Nukilan/Akil)

NUKILAN.ID | FEATURE – Sore itu, Minggu (17/5/2025), suasana di Museum Aceh terasa lebih tenang dari biasanya. Langit Banda Aceh yang teduh menaungi kompleks museum yang berdiri di jantung kota, sementara langkah-langkah pengunjung terdengar samar di antara bangunan bersejarah dan koleksi budaya yang tersimpan di dalamnya.

Belum memasuki musim liburan membuat museum tersebut tidak dipadati wisatawan. Namun, ketenangan itu justru menghadirkan suasana yang nyaman bagi para pengunjung untuk menikmati jejak sejarah dan kebudayaan Aceh. Beberapa wisatawan tampak berjalan santai menyusuri ruang pameran, sesekali berhenti memperhatikan artefak peninggalan masa lalu yang menjadi saksi perjalanan panjang Tanah Rencong.

Sejumlah wisatawan mancanegara tetap terlihat berkunjung. Ada yang datang bersama pemandu wisata, ada pula yang memilih menjelajah museum seorang diri, menikmati kisah-kisah sejarah yang tersimpan di setiap sudut bangunan. Ketenangan sore itu seolah memberi ruang bagi mereka untuk lebih dekat mengenal Aceh melalui warisan budaya yang dipamerkan.

Di tengah suasana yang tenang itu, seorang pria asing tampak berjalan perlahan dari satu etalase ke etalase lainnya. Sesekali ia berhenti, membaca keterangan koleksi dengan saksama, lalu mengamati benda-benda yang merekam perjalanan panjang Tanah Rencong.

Penulis kemudian menghampiri dan memperkenalkan diri. Pria bertubuh tinggi dengan rambut pirang, berkacamata, mengenakan kaus hitam dan topi itu menyambut sapaan tersebut dengan senyum ramah.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Thomas Begg, atau yang akrab disapa Tom, seorang komika asal Australia yang tengah menjalani perjalanan panjang menjelajahi Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Di tengah koleksi sejarah yang tersimpan di Ruang Pameran Tetap Museum Aceh, Tom dengan ramah meluangkan waktu untuk berbincang. Ia kemudian menceritakan alasan yang membawanya ke Aceh, sekaligus membagikan kesan-kesannya.

Bagi Tom, Aceh bukanlah tujuan wisata yang muncul begitu saja dalam rencana perjalanannya.

Ada alasan historis dan emosional yang membuatnya ingin datang.

“Saya ingin menjelajahi Sumatra, dan Aceh menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi dalam perjalanan dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Namun lebih dari itu, ada satu peristiwa yang sejak lama menempel dalam ingatannya: tsunami Samudra Hindia tahun 2004.

Ketika bencana itu terjadi, Tom masih remaja berusia 14 tahun di Australia. Ia masih mengingat bagaimana berita tentang tsunami mendominasi layar televisi sehari setelah Natal.

“Bagi saya, itu salah satu momen besar dalam sejarah dunia yang kita lihat saat kecil dan terus kita ingat sampai dewasa,” ujarnya.

Ingatan tentang tsunami itulah yang kemudian menumbuhkan rasa ingin tahu tentang Aceh.

Tak hanya itu. Saat pernah tinggal di Penang, Malaysia, ia juga menemukan bahwa Aceh memiliki jejak penting dalam sejarah kawasan tersebut. Dari sana, ketertarikannya terhadap Aceh semakin besar.

Maka Museum Aceh menjadi salah satu tujuan pertamanya ketika menginjakkan kaki di Banda Aceh.

“Museum selalu menjadi cara yang mudah untuk memahami sebuah budaya,” katanya.

Di dalam museum, Tom menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

Selama ini ia sudah mengetahui bahwa masyarakat Aceh memiliki identitas yang berbeda dibandingkan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya. Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa Aceh memiliki begitu banyak kelompok etnis dengan bahasa dan budaya yang beragam.

“Bagian tentang etnis adalah yang paling menarik bagi saya,” katanya.

Ia mengaku baru mengetahui bahwa Aceh terdiri dari berbagai etnis yang masing-masing memiliki bahasa dan tradisinya sendiri.

Pengetahuan baru itu bahkan membawanya pada pengalaman yang mengundang tawa.

Dengan antusias, ia bercerita bahwa pagi sebelumnya ia baru belajar mengucapkan salam dalam bahasa Aceh. Kalimat pertama yang berhasil ia hafal adalah “Selamat Buengoh”, yang berarti selamat pagi.

“Saya belajar mengatakan ‘Selamat Buengoh’,” ujarnya sambil tersenyum.

Berbekal kosakata baru tersebut, ia kemudian mencoba menyapa beberapa orang yang ditemuinya di Banda Aceh. Namun, respons yang diterimanya tidak selalu sesuai harapan. Alih-alih mendapat balasan yang sama, beberapa orang justru tampak kebingungan.

Belakangan, ia baru memahami penyebabnya. Banda Aceh merupakan daerah yang dihuni beragam kelompok etnis dan penutur bahasa daerah yang berbeda. Tidak semua warga menggunakan dialek atau bahasa Aceh yang sama dalam percakapan sehari-hari.

“Saya baru sadar bahwa yang saya ucapkan mungkin tidak dipahami oleh semua orang,” katanya sembari tertawa.

Pengalaman sederhana itu justru membuka matanya tentang kompleksitas identitas budaya Aceh.

Ia juga terpukau melihat pakaian adat yang berbeda-beda dari setiap kelompok etnis. Menurutnya, keberagaman itu menarik karena di saat yang sama seluruh kelompok tersebut tetap memiliki identitas bersama sebagai orang Aceh.

“Walaupun berbeda etnis, mereka tetap merasa sebagai orang Aceh. Itu menarik,” ujarnya.

Selain keberagaman etnis yang ia temui, Tom juga dibuat kagum oleh jejak sejarah Aceh yang menempatkan perempuan pada posisi penting dalam perjalanan peradaban daerah tersebut.

Selama mengunjungi Museum Aceh, ia menemukan berbagai fakta sejarah yang menunjukkan kuatnya peran perempuan, mulai dari para sultanah yang pernah memimpin Kesultanan Aceh hingga tokoh laksamana perempuan yang dikenal sebagai salah satu pemimpin armada laut perempuan pertama dalam sejarah dunia.

Menurut Tom, catatan sejarah tersebut menjadi sesuatu yang unik dan jarang ditemui di banyak tempat lain.

“Saya sangat terkesan. Banyak tokoh penting dalam sejarah Aceh adalah perempuan. Ada sultanah yang memimpin kerajaan, ada juga laksamana perempuan. Bahkan banyak pahlawan nasional dari Aceh yang merupakan perempuan. Saya pikir itu sangat menarik,” ujarnya.

Tom sedang membuat vlog
Tom merekam vlog di Museum Aceh sambil menelusuri jejak sejarah perempuan Aceh, termasuk para sultanah yang pernah memimpin Kesultanan Aceh. (Foto: Akil)

Bagi Tom, fakta tersebut menunjukkan bahwa perempuan di Aceh telah memainkan peran strategis dalam bidang pemerintahan, militer, dan perjuangan jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi pembahasan global seperti saat ini.

Keberadaan tokoh-tokoh perempuan itu, menurutnya, menjadi salah satu kekayaan sejarah yang membuat Aceh berbeda dan layak dipelajari lebih jauh oleh masyarakat dunia.

Bagi Tom, kunjungannya ke Aceh menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dari gambaran yang selama ini ia kenal dari buku, berita, maupun tayangan televisi.

Sebelum menginjakkan kaki di Tanah Rencong, pengetahuannya tentang Aceh masih terbatas pada beberapa hal yang kerap muncul dalam berbagai literatur: daerah yang pernah diterjang tsunami dahsyat, pintu masuk awal penyebaran Islam di Nusantara, wilayah yang dikenal religius, serta memiliki sejarah perjuangan politik yang panjang.

Namun, setelah melihat langsung kehidupan masyarakat Aceh, Tom menemukan sisi lain yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Sebagian gambaran yang ia ketahui memang terbukti. Jejak sejarah Islam masih terlihat kuat, begitu pula ingatan kolektif masyarakat terhadap tragedi tsunami 2004. Akan tetapi, ada pengalaman emosional yang menurutnya mustahil diperoleh hanya dari membaca atau menonton.

“Saya bisa merasakan kesedihan akibat tsunami ketika berada di sini,” ujar Tom dengan nada pelan.

Bencana yang selama ini hanya ia lihat melalui layar televisi kini terasa lebih nyata ketika ia berdiri di tanah yang pernah porak-poranda diterjang gelombang.

Ketika ditanya tentang kesannya terhadap Aceh, Tom sempat terdiam beberapa saat. Wisatawan mancanegara itu mengaku baru menghabiskan satu hingga dua hari di Tanah Rencong, sehingga merasa belum cukup lama untuk memahami daerah ini secara mendalam.

Meski demikian, pria tersebut berusaha merangkum kesan yang ia tangkap selama kunjungannya ke Aceh, termasuk dari berbagai koleksi sejarah yang dipamerkan di museum.

Awalnya, Tom mengaku kesulitan menemukan satu kata yang benar-benar tepat untuk menggambarkan Aceh. Namun, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah foto pahlawan perempuan Aceh yang terpajang di ruang pamer.

Sosok itu adalah Cut Nyak Dien.

Menurut Tom, sorot mata dan ekspresi wajah Cut Nyak Dien menyimpan karakter yang mencerminkan masyarakat Aceh.

“Ketegasan. Kekuatan,” ujarnya singkat.

Bagi Tom, Aceh merupakan daerah yang memiliki kepercayaan diri kuat terhadap identitas budayanya. Ia melihat masyarakat Aceh sebagai komunitas yang memahami akar sejarahnya, memegang teguh keyakinan yang dianut, serta tetap berdiri kokoh di tengah berbagai perubahan zaman.

Kesan itu, kata Tom, tidak hanya ia temukan melalui cerita sejarah yang dibacanya, tetapi juga tergambar dari sosok Cut Nyak Dien yang menjadi simbol perjuangan rakyat Aceh.

“Lihat saja wajah Cut Nyak Dien. Itulah kesan yang saya dapatkan tentang Aceh,” katanya.

Pernyataan singkat itu seolah merangkum bagaimana seorang pengunjung yang baru beberapa hari berada di Aceh mampu menangkap citra daerah ini: kuat, tegas, dan bangga terhadap jati dirinya.

Sore perlahan merambat menuju senja ketika percakapan itu berakhir. Tanpa terasa, langkah kami telah membawa keluar dari ruang pameran Museum Aceh. Penulis mengucapkan terima kasih atas kesediaannya berbagi cerita dan kesan selama berkunjung ke Aceh. Dengan ramah, Tom membalas ucapan tersebut sebelum kembali melanjutkan langkahnya menyusuri sudut-sudut museum yang belum sempat ia jelajahi.

Dan bagi seorang komika dari Australia yang baru menghabiskan dua hari di Tanah Rencong, Aceh mungkin belum sepenuhnya selesai dipahami. Tetapi dari balik koleksi museum, keberagaman etnis, kisah para perempuan tangguh, dan jejak tsunami yang tak pernah benar-benar hilang, ia menemukan satu kesan yang akan dibawanya pulang: sebuah negeri dengan kekuatan yang tegas, setegas tatapan Cut Nyak Dien yang menembus waktu. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Sekdes Babah Suak Mengaku Diancam Copot dari Jabatan karena Tolak Izin Tambang

0
Aksi demonstrasi disertai zikir dan doa bersama pada Selasa (12/5/2026) di kawasan Jembatan Krueng Beutong sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk izin dan aktivitas pertambangan di wilayah setempat. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | NAGAN RAYA — Sekretaris Desa (Sekdes) Babah Suak, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Rusliadi, mengaku mendapat ancaman terkait sikapnya yang menolak izin aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Ia menyebut ancaman itu berkaitan dengan posisinya sebagai aparatur desa.

Rusliadi mengatakan dirinya menerima pesan berisi tekanan agar tidak terlibat dalam aksi penolakan izin tambang yang berlangsung di Beutong Ateuh Banggalang. Menurutnya, ancaman yang diterima mengarah pada upaya pencopotan dirinya dari jabatan Sekdes.

“Ada pesan yang mengancam saya supaya jangan terlibat dalam aksi penolakan izin tambang. Saya diancam akan diberhentikan dari jabatan Sekdes, dan ada tekanan kepada keuchik agar memecat saya kalau tetap tidak setuju dengan izin tambang ini,” kata Rusliadi kepada Nukilan, Sabtu (16/5/2026).

Ia menegaskan penolakan masyarakat terhadap aktivitas pertambangan di wilayah Beutong Ateuh Banggalang bukan persoalan baru. Menurutnya, warga memiliki riwayat panjang penolakan terhadap tambang sejak munculnya izin operasi perusahaan tambang sebelumnya.

Rusliadi menyebut masyarakat pernah melakukan upaya hukum terkait aktivitas pertambangan PT Emas Mineral Murni (EMM), yang berujung pada putusan Mahkamah Agung (MA).

“Kami punya sejarah panjang terkait penolakan tambang ini sejak PT EMM dulu. Setelah itu ada keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan tidak diperbolehkan aktivitas pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang. Itu yang pernah kami gugat,” ujarnya.

Menurut Rusliadi, saat ini terdapat dua perusahaan yang mengantongi izin tambang di kawasan tersebut, yakni PT Cempaka Wangi dengan luas konsesi mencapai 1.860,75 hektare dan PT Hasil Bumi Sembada seluas 2.432,82 hektare.

Ia mengatakan lokasi yang masuk dalam izin pertambangan berada di kawasan yang dinilai memiliki nilai sejarah, ekologis, serta menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

“Di lokasi yang direncanakan untuk aktivitas tambang itu banyak situs sejarah. Ada makam aulia, ada makam pejuang di bawah pimpinan Cut Nyak Dhien, kemudian di situ juga sumber mata air masyarakat,” sebutnya.

Selain itu, Rusliadi menyoroti kondisi geografis Beutong Ateuh Banggalang yang berada di kawasan rawan bencana. Ia menyebut wilayah yang menjadi lokasi izin tambang berada di daerah hulu sungai, sehingga dikhawatirkan memperbesar risiko kerusakan lingkungan.

“Lokasi izin tambang sekarang berada di hulu sungai, bukan di hilir. Beutong Ateuh Banggalang ini rawan longsor. Kami pernah mengalami kejadian pada 26 November 2025. Sekitar 80 persen hutan di wilayah ini menurut masyarakat sudah hilang akibat aktivitas tambang, sehingga tinggal sedikit kawasan yang tersisa,” ujarnya.

Rusliadi menilai masyarakat belum sepenuhnya pulih dari trauma akibat bencana yang pernah terjadi, sehingga kekhawatiran terhadap dampak pertambangan kembali muncul.

“Kami belum pulih dari trauma, tetapi sekarang muncul lagi kekhawatiran baru terkait aktivitas tambang,” katanya.

Ia juga menyebut lokasi izin tambang yang ditolak masyarakat saat ini berada di area yang menurut warga berkaitan dengan kawasan yang sebelumnya pernah disengketakan hingga keluar putusan Mahkamah Agung. Selain itu, kawasan tersebut disebut masuk dalam wilayah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Penolakan terhadap aktivitas pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang sebelumnya telah disuarakan melalui aksi demonstrasi dan zikir bersama yang diikuti ratusan warga pada Selasa (12/5/2026). Masyarakat meminta pemerintah meninjau kembali seluruh izin pertambangan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sejarah, serta keselamatan warga di wilayah tersebut. []

Reporter: Sammy

Turis Australia Terpukau Keragaman Etnis Aceh Saat Berkunjung ke Museum Aceh

0
museum aceh
Suasana di Museum Aceh. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suasana akhir pekan di Museum Aceh pada Minggu (17/5/2025) sore tampak tidak terlalu ramai. Tidak banyak pengunjung yang datang karena belum memasuki musim liburan. Meski begitu, sejumlah wisatawan mancanegara terlihat tetap mengunjungi museum tersebut, baik datang sendiri maupun bersama pemandu wisata.

Di Ruang Pameran Tetap, Nukilan.id bertemu dengan seorang turis asing bernama Tom, komika asal Australia yang tengah berkeliling menikmati koleksi budaya Aceh. Ia bersedia meluangkan waktu untuk diwawancarai singkat mengenai pengalamannya selama berada di museum.

Saat ditanya mengenai kesan pertamanya ketika memasuki museum dan melihat koleksi budaya Aceh, Tom mengaku terkesan dengan kekayaan identitas budaya yang ditampilkan, khususnya keberagaman etnis di Aceh yang sebelumnya belum ia ketahui secara mendalam.

“Saya tahu orang Aceh berbeda dari sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, tetapi saya tidak tahu bahwa di Aceh ada delapan etnis berbeda dan masing-masing memiliki budaya serta bahasa sendiri,” katanya.

Bagi Tom, informasi yang disajikan museum mampu membuka pemahamannya tentang kompleksitas budaya Aceh yang selama ini jarang diketahui wisatawan asing. Tidak hanya soal keberagaman etnis, ia juga menilai cara museum menyampaikan informasi cukup membantu pengunjung internasional memahami konteks sejarah dan budaya yang dipamerkan.

“Penyajian (museum) juga sangat baik. Meskipun kemampuan bahasa Indonesia saya saat ini masih terbatas, informasi yang tersedia tetap cukup untuk membuat saya memahami isinya. Jadi menurut saya itu bagus,” ungkapnya.

Menurut Tom, penyajian informasi yang komunikatif membuat dirinya dapat memahami lebih jauh berbagai aspek budaya Aceh, termasuk pakaian adat yang digunakan oleh masing-masing etnis. Ia melihat adanya identitas yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu ikatan sosial dan budaya sebagai masyarakat Aceh.

“Menarik juga mengetahui bahwa walaupun berbeda etnis, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai orang Aceh dan masih memiliki banyak kesamaan, seperti rumah adat misalnya,” jelasnya.

Tidak hanya soal budaya dan etnis, perhatian Tom juga tertuju pada sejarah perempuan dalam masyarakat Aceh. Ia menilai museum berhasil memperlihatkan bagaimana perempuan Aceh memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah, mulai dari kepemimpinan kerajaan hingga perjuangan melawan penjajahan.

“Selain itu, saya juga belajar bahwa masyarakat Aceh cukup netral dalam soal gender. Ada sultanah selain sultan, lalu ada laksamana perempuan pertama di dunia, dan beberapa pahlawan nasional dari Aceh juga merupakan perempuan. Saya merasa itu sangat menarik,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Rumah Semi Permanen di Indrapuri Terbakar, Satu Sepeda Motor Ikut Rusak

0
Satu unit rumah semi permanen di Gampong Cureh, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, terbakar pada Sabtu (16/5/2026) sore. (Foto: Damkar Aceh Besar)

NUKILAN.ID | ACEH BESAR — Satu unit rumah semi permanen di Gampong Cureh, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, terbakar pada Sabtu (16/5/2026) sore. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun bangunan rumah dan satu unit kendaraan roda dua mengalami kerusakan berat.

Informasi kebakaran diterima petugas pemadam kebakaran BPBD Aceh Besar sekitar pukul 15.16 WIB melalui layanan darurat dari warga setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nukilan dari akun Instagram @damkaracehbesar, rumah yang terbakar diketahui milik Zulkifli (42), dengan jumlah penghuni satu kepala keluarga atau lima jiwa. Bangunan yang terbakar merupakan rumah konstruksi semi permanen yang selama ini digunakan sebagai dapur dan gudang penyimpanan barang.

Kepala Pos Induk Damkar BPBD Aceh Besar di Sibreh langsung mengerahkan satu unit armada pemadam beserta enam personel menuju lokasi kejadian setelah menerima laporan dari masyarakat.

Setibanya di lokasi, petugas mendapati api telah membesar dan membakar hampir seluruh bagian bangunan. Petugas kemudian melakukan upaya pemadaman dan pendinginan guna mencegah api merembet ke bangunan lain di sekitar lokasi.

Proses pemadaman dan pendinginan berhasil diselesaikan sekitar pukul 15.46 WIB. Selain menghanguskan satu unit rumah semi permanen, kebakaran juga menyebabkan satu unit sepeda motor mengalami kerusakan berat.

Dalam proses penanganan, petugas pemadam turut dibantu personel Polsek setempat, Koramil, serta masyarakat Gampong Cureh. Tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat kejadian tersebut. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib. []

Reporter: Sammy

Abu Kamil Tegaskan Tolak Tambang di Beutong Ateuh Banggalang

0
Tokoh masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, dan putra dari ulama kharismatik almarhum Tgk. Bantaqiah, Tgk Malikul Aziz (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | NAGAN RAYA — Tokoh masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Tgk. Malikul Aziz atau yang akrab disapa Abu Kamil, menegaskan masyarakat tetap menolak rencana aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Menurutnya, hingga saat ini penolakan warga terhadap izin tambang belum berubah.

Abu Kamil yang juga merupakan putra ulama kharismatik almarhum Tgk. Bantaqiah mengatakan, muncul sejumlah informasi yang dinilainya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan terkait aksi masyarakat di kantor camat beberapa waktu lalu yang mendukung aksi tambang.

Ia membantah kabar yang menyebut adanya pembagian sembako kepada masyarakat dalam rangkaian aksi dukungan tersebut. Menurutnya, informasi itu tidak benar dan justru berpotensi memicu perpecahan di tengah warga.

“Pada prinsipnya kami tetap menolak tambang itu. Namun ada informasi yang simpang siur terkait aksi di kantor camat. Menurut kami, itu bentuk pembohongan publik,” kata Abu Kamil kepada Nukilan, Sabtu (16/5/2026).

Selain itu, Abu Kamil menyebut aparatur desa di sejumlah wilayah juga mengalami tekanan berkaitan dengan persoalan rekomendasi izin tambang. Ia mengatakan kepala desa dari empat gampong disebut terpaksa menandatangani surat rekomendasi terkait izin tersebut.

“Keuchik dari empat desa itu juga mendapat tekanan sehingga akhirnya menandatangani surat rekomendasi izin tambang,” katanya.

Meski demikian, pihaknya menyatakan masyarakat masih akan melakukan pembahasan bersama untuk menentukan langkah lanjutan terkait penolakan terhadap izin pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang.

“Kami akan tetap bermusyawarah dengan warga mengenai langkah atau aksi berikutnya yang akan dilakukan terkait penolakan izin tambang ini,” ujar Abu Kamil.

Sebelumnya, ratusan warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, menggelar aksi unjuk rasa disertai zikir dan doa bersama pada Selasa (12/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jembatan Krueng Beutong itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk izin maupun aktivitas pertambangan di wilayah setempat.

Aksi tersebut diikuti masyarakat dari berbagai kalangan, tokoh adat, hingga unsur masyarakat sipil yang menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi dampak lingkungan dan sosial akibat aktivitas pertambangan.

Selain menyampaikan aspirasi melalui orasi, warga juga menggelar zikir bersama sebagai bentuk doa dan harapan agar kawasan Beutong Ateuh Banggalang tetap terjaga. []

Reporter: Sammy

Satu Unit Rumah Kos di Darussalam Banda Aceh Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki

0
Kebakaran satu unit rumah kos di Lorong Panjoe, Gampong Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Sabtu (16/5/2026) malam. (Foto: Nukilan/Sammy)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Satu unit rumah kos di Lorong Panjoe, Gampong Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, terbakar pada Sabtu (16/5/2026) malam. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Staf Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Haslinda, mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 21.30 WIB di depan Asrama Depag, kawasan Darussalam.

“Objek yang terbakar merupakan satu unit rumah kos. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib,” kata Haslinda, Sabtu (16/5/2026).

Saat kebakaran terjadi, para penghuni kos berupaya menyelamatkan diri setelah api dilaporkan cepat membesar. Sejumlah penghuni yang berada di lokasi berhasil keluar dari bangunan, sementara tujuh penghuni lainnya diketahui sedang berada di luar kos saat kejadian berlangsung.

Menindaklanjuti laporan kebakaran, BPBD Kota Banda Aceh mengerahkan lima unit armada pemadam kebakaran ke lokasi guna melakukan pemadaman dan mencegah api merembet ke bangunan lain di kawasan permukiman padat.

Amatan Nukilan di lokasi, tampak para petugas damkar mencoba memadamkan api yang masih berkobar di kompleks rumah tersebut, sementara warga tampak ramai berdatangan melihat kejadian tersebut. Petugas melakukan proses pemadaman selama kurang lebih satu jam sebelum api berhasil dikendalikan sepenuhnya pada pukul 22.30 WIB.

Kebakaran tidak menimbulkan korban jiwa, namun satu unit rumah kos mengalami kerusakan berat. Hingga saat ini, nilai kerugian material masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.

Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran yang terjadi di kawasan Darussalam tersebut. []

Reporter: Sammy

Wali Nanggroe Bakal Temui Presiden untuk Bahas Kelanjutan RS Regional Aceh Barat

0
Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh Barat pada Minggu (17/5/2026).

NUKILAN.ID| MEULABOH – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar, menyatakan keprihatinannya terhadap pembangunan Rumah Sakit (RS) Regional Aceh Barat yang hingga kini belum rampung meski progres fisiknya telah mencapai sekitar 50 persen.

Hal itu disampaikan Malik Mahmud saat melakukan kunjungan kerja ke rumah sakit tersebut bersama Bupati Aceh Barat, Tarmizi, pada Minggu (17/5/2026).

“Saya melihat gedung ini luar biasa, cukup bagus. Konstruksinya bergaya Eropa dan menurut saya tidak kalah dengan yang ada di Eropa maupun Singapura,” kata Malik Mahmud.

Meski demikian, ia mempertanyakan alasan pembangunan rumah sakit tersebut belum dilanjutkan, padahal anggaran yang telah dikucurkan dinilai cukup besar. Menurutnya, kondisi pembangunan yang terbengkalai berisiko menyebabkan kerusakan pada bangunan apabila tidak segera diteruskan.

Karena itu, Wali Nanggroe menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan penyelesaian proyek tersebut melalui dukungan pemerintah pusat. Ia bahkan berencana mengupayakan pertemuan langsung dengan Presiden bersama Bupati Aceh Barat guna menyampaikan kondisi RS Regional Aceh Barat sekaligus meminta dukungan percepatan pembangunan.

Selain itu, Malik Mahmud meminta agar disiapkan dokumentasi lengkap berupa video serta kronologi pembangunan rumah sakit sejak awal hingga kondisi terkini untuk dijadikan bahan pertimbangan Pemerintah Pusat.

Menurut Malik Mahmud, gagasan pembangunan RS Regional Aceh Barat sebenarnya telah dirintis sejak masa pemerintahan Zaini Abdullah. Pada saat itu, pihak dari Jerman disebut bersedia memberikan dukungan, termasuk pembiayaan dan pelatihan tenaga medis dengan standar pelayanan Eropa.

Rumah sakit tersebut dirancang untuk menghadirkan layanan kesehatan modern bagi masyarakat Aceh, khususnya kawasan Barat Selatan, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap RSUD dr. Zainoel Abidin dapat berkurang.

“Yang terpenting sekarang adalah melanjutkan pembangunan demi masyarakat Aceh agar memperoleh layanan kesehatan yang layak sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengatakan kunjungan Wali Nanggroe tidak hanya membahas pembangunan RS Regional Aceh Barat, tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, dan pembangunan daerah.

Terkait kelanjutan proyek rumah sakit tersebut, Tarmizi menyebut pendanaan melalui APBA saat ini sedang dibahas di tingkat Tim Anggaran Pemerintah Aceh. Ia berharap tahun ini tersedia alokasi minimal Rp50 miliar agar proyek tersebut tidak kembali tanpa anggaran.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga mengusulkan skema multiyears dengan dukungan minimal Rp150 miliar ketika dana Otonomi Khusus kembali tersedia. Menurutnya, apabila dukungan anggaran terpenuhi, RS Regional Aceh Barat ditargetkan mulai difungsikan pada akhir 2028.

“Jika tersedia tambahan sekitar Rp200 miliar lagi, fasilitas IGD, rawat inap hingga poli pelayanan dapat diselesaikan sepenuhnya,” kata Tarmizi.

Keberadaan rumah sakit tersebut dinilai strategis karena nantinya akan melayani masyarakat di tiga kabupaten dalam kawasan Barat Selatan Aceh.

Aceh Utara Kejar Pencairan Bantuan Jadup Penyintas Banjir Sebelum Idul Adha 1447 H

0
ayah wa
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa. (Foto: Humas Aceh Utara)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus mendorong percepatan pencairan bantuan jaminan hidup (jadup) bagi para penyintas banjir dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial, dengan harapan bantuan tersebut dapat diterima warga sebelum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, mengatakan bantuan yang telah dialokasikan pemerintah pusat diharapkan segera tersalurkan agar dapat membantu meringankan beban masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor menjelang hari besar keagamaan.

“Bantuan yang telah dialokasikan untuk penyintas banjir bandang dan tanah longsor oleh pemerintah pusat ini tentu akan sangat membantu warga yang akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah,” kata Muntasir saat dihubungi dari Banda Aceh, Sabtu.

Ia menjelaskan, Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil atau yang akrab disapa Ayah Wa, telah melakukan koordinasi langsung dengan Menteri Sosial guna mempercepat pencairan sejumlah bantuan, mulai dari bantuan stimulan rumah rusak, jaminan hidup, bantuan ekonomi, hingga bantuan isi hunian bagi warga terdampak bencana.

Upaya tersebut dilakukan pemerintah daerah sebagai bentuk komitmen untuk membantu meringankan beban para penyintas bencana di wilayah tersebut.

Muntasir menyebutkan, Pemkab Aceh Utara telah mengusulkan sebanyak 98.530 kepala keluarga (KK) untuk masuk dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana. Dari jumlah itu, sebanyak 63.238 KK telah melalui proses pendataan berjenjang serta telah diverifikasi dan divalidasi, sementara 35.292 KK lainnya masih dalam tahap validasi ulang.

“Jika tahap tiga sudah dicairkan, tersisa 35.292 KK lagi penyintas banjir yang masuk dalam tahap empat untuk menerima bantuan. Jadi, data tersebut direncanakan akan dikirimkan oleh Bupati ke Kementerian Sosial RI pada Juni 2026 mendatang,” katanya.

Pada tahap pertama, bantuan telah disalurkan kepada 667 KK. Selanjutnya pada tahap kedua, bantuan diberikan kepada 4.043 KK. Sementara itu, tahap ketiga yang mencakup 58.528 KK saat ini masih dalam proses pencairan.

Menurut Muntasir, pendataan akan kembali dibuka setelah seluruh data yang telah diajukan selesai diproses, terutama bagi masyarakat terdampak yang sebelumnya belum tercatat dalam pendataan di tingkat gampong.

“Kita selesaikan dulu data yang sudah tersedia. Akhir Juni mendatang akan kita buka lagi pendataan khusus mereka yang belum terdata di tingkat gampong dan akan kita usulkan tambahan,” ujarnya.

Pemkab Aceh Utara juga mengimbau masyarakat terdampak agar tetap bersabar, mengingat proses pendataan dan penyaluran bantuan harus melalui sejumlah tahapan sesuai regulasi yang ditetapkan BNPB.

“Kami akan terus bekerja dan berharap penyintas banjir bersabar. Tahapannya berjenjang dan agak panjang, kita terus lakukan finalisasi sesuai regulasi yang ada di BNPB,” demikian Muntasir.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Muhammadiyah Siapkan Hutan Wakaf di Kampus, Dilengkapi Laboratorium Ekologi dan Konservasi

0
Ilustrasi. (Foto: Pasmu.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah tengah menyiapkan program Hutan Wakaf Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Program perdana akan dikembangkan di Universitas Muhammadiyah Semarang dengan memanfaatkan lahan wakaf seluas sekitar 3.000 meter persegi yang akan dikembangkan menjadi hutan pendidikan berbasis wakaf.

Menhutip laman pasmu.id, program ini digagas melalui kolaborasi LHKP PP Muhammadiyah bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia sebagai bagian dari penguatan pengelolaan lingkungan yang memadukan nilai-nilai Islam dengan partisipasi masyarakat.

Keberadaan hutan wakaf tersebut tidak hanya difungsikan sebagai kawasan penghijauan, tetapi juga akan dikembangkan menjadi laboratorium ekologi, pusat edukasi, serta kawasan konservasi di atas tanah wakaf. Konsep yang diterapkan mengadopsi model live lab atau laboratorium hidup, sehingga dapat dimanfaatkan mahasiswa, dosen lintas disiplin, hingga masyarakat umum untuk mempelajari ekologi, konservasi, agroforestri, dan tata kelola lingkungan.

Kawasan itu juga dirancang menjadi arboretum, yakni area koleksi pohon yang berfokus pada pelestarian tanaman endemik sekaligus menjaga stabilitas iklim mikro di lingkungan kampus.

Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho Alhamdi, menegaskan bahwa program Hutan Wakaf Muhammadiyah hadir sebagai alternatif pengelolaan lahan yang berlandaskan nilai Islam sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat.

Menurut Ridho, program tersebut dikembangkan melalui tiga model utama, yakni Hutan Wakaf Pendidikan dan Riset yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan hutan berbasis nilai Islam, Hutan Wakaf Agroforestri yang mengintegrasikan konservasi dengan pertanian produktif berbasis masyarakat, serta Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan yang memberi ruang bagi perempuan untuk ikut aktif menjaga dan mengelola lingkungan.

“Program ini diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun ekologis,” jelas Ridho.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LATIN, Thomas Oni Veriasa, menilai inisiatif tersebut memiliki dimensi sosial-ekonomi yang kuat. Menurutnya, hutan wakaf tidak hanya berfungsi menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani serta masyarakat sekitar.

“Program ini menunjukkan bagaimana sumber daya lahan bisa dikelola secara berkeadilan dan produktif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Dari sisi ekologis, hutan wakaf dinilai memiliki fungsi strategis dalam menjaga iklim mikro, melestarikan keanekaragaman hayati, serta mendukung konservasi air. Program ini juga memiliki landasan hukum dalam kerangka wakaf nasional sehingga memiliki legitimasi regulatif yang kuat.

Inisiatif tersebut dianggap penting karena pendekatan perhutanan sosial yang berkembang selama ini dinilai kerap terlalu menitikberatkan aspek ekonomi, sementara dimensi konservasi, agama, dan budaya belum mendapat perhatian optimal.

Soft launching program Hutan Wakaf Muhammadiyah telah dilakukan pada 19 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Senat Terbatas Milad UNIMUS ke-26. Agenda itu menjadi penanda resmi diperkenalkannya model baru pengelolaan lahan berbasis wakaf.

Rektor UNIMUS, Masrukhi, menyambut positif gagasan tersebut dan menyebutnya sebagai terobosan penting dalam pengelolaan lingkungan kampus.

Menurutnya, menanam pohon bukan sekadar aktivitas penghijauan, tetapi juga simbol menanam harapan bagi kehidupan di masa mendatang.

“Udara yang kita hirup adalah produk dari tanah, artinya ketika kita menanam, kita sedang menaruh harapan untuk kehidupan yang akan datang. UNIMUS sangat peduli lingkungan dengan mengusung motto eduwisata, sehingga program hutan wakaf ini menjadi sebuah harapan yang sangat baik,” ungkapnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Dilantik Abu MUDI, Tastafi Aceh Tengah dan Bener Meriah Siap Hidupkan Pengajian hingga Tingkat Desa

0
Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG melantik pengurus Cabang Tastafi (Pengajian Tauhid, Tasauf, dan Fiqih) Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam rangkaian pelantikan pengurus Tastafi se-Aceh yang berlangsung di Banda Aceh, Jumat malam, 15 Mei 2026. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG melantik pengurus Cabang Tastafi (Pengajian Tauhid, Tasauf, dan Fiqih) Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam rangkaian pelantikan pengurus Tastafi se-Aceh yang berlangsung di Banda Aceh, Jumat malam, 15 Mei 2026.

Pelantikan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus baru dari kedua kabupaten bersama pengurus tingkat provinsi. Abu MUDI, pendiri sekaligus ulama kharismatik Aceh, memimpin langsung prosesi pelantikan seluruh pengurus Tastafi se-Aceh.

Untuk Cabang Aceh Tengah, posisi ketua dipercayakan kepada Abi Syahrika, yang juga menjabat sebagai pimpinan dayah serta anggota MPU Aceh Tengah. Jabatan sekretaris diemban Abi Ridwan Bintang, sementara bendahara dipercayakan kepada Walid Sarjuni.

Sementara itu, kepengurusan Tastafi Cabang Bener Meriah dipimpin oleh Tgk. Husnul Ilmi, yang juga Kepala Yayasan Al Hikam Al Aziziyah serta anggota DPRK Bener Meriah. Posisi sekretaris dijabat Abi Hadi Sutrisno, sedangkan bendahara diamanahkan kepada Tgk. Akmal.

Dalam amanatnya, Abu MUDI menitipkan pesan kepada seluruh pengurus yang baru dilantik agar menghidupkan pengajian mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa. Menurutnya, pengajian merupakan nafas kehidupan umat Islam.

“Sempurnakan amanah ini,” pesan ulama karismatik tersebut di akhir sambutannya.

Pelantikan ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat dakwah Tastafi di tingkat lokal, khususnya di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News