Beranda blog Halaman 9

Tuanku Muhammad Minta Aceh Miliki Sistem Kelistrikan Mandiri, Tak Bergantung Penuh pada Sumbagut

0
Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad. (Foto: Humas DPRK Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, meminta pemerintah pusat dan PT PLN agar Aceh memiliki sistem kelistrikan mandiri yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memperkuat ketahanan energi Aceh sekaligus menghindari kerugian besar akibat ketidakstabilan pasokan listrik dari luar daerah.

“Ketahanan energi adalah fondasi pembangunan ekonomi. Aceh tidak boleh terus berada dalam posisi rentan akibat ketergantungan penuh pada sistem Sumbagut. Kita membutuhkan sistem kelistrikan yang lebih mandiri, kuat, dan mampu menjamin kepastian pasokan listrik bagi masyarakat. Kejadian pemadaman listrik dalam dua hari ini sangat merugikan dan memberi trauma yang mendalam bagi warga Aceh,” ujar Tuanku Muhammad.

Ia menjelaskan, selama ini Aceh masih menjadi bagian dari sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera Bagian Utara yang terhubung dengan Sumatera Utara dan sejumlah wilayah lainnya. Kondisi tersebut membuat setiap gangguan transmisi maupun krisis pasokan energi di luar Aceh ikut berdampak langsung terhadap masyarakat di provinsi paling barat Indonesia itu.

Berdasarkan data PLN, kebutuhan listrik di Aceh terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada malam pergantian tahun 2024, misalnya, beban puncak listrik Aceh mencapai sekitar 516 MegaWatt (MW), sementara daya mampu pasok sistem kelistrikan Aceh saat itu berada di kisaran 733 MW.

Sebelumnya, pada tahun 2023, Pemerintah Aceh mencatat daya mampu kelistrikan Aceh mencapai 822 MW dengan beban puncak sekitar 567 MW. Meski secara umum Aceh masih memiliki surplus daya, sistem kelistrikan daerah ini dinilai masih sangat bergantung pada jaringan interkoneksi Sumbagut.

Menurut Tuanku Muhammad, surplus daya tidak otomatis menjamin keamanan energi apabila pusat kendali pasokan masih bertumpu pada jaringan luar Aceh. Ia mencontohkan gangguan regasifikasi LNG pada tahun 2022 yang menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara kehilangan pasokan hingga 1.124 MW dan berdampak langsung terhadap pemadaman listrik di Aceh.

Saat itu, beban puncak listrik Aceh mencapai sekitar 530 MW. Namun, pasokan yang tersedia tidak mencukupi sehingga ratusan ribu pelanggan mengalami pemadaman listrik.

Karena itu, ia menilai Aceh harus segera memperkuat pembangkit lokal agar memiliki cadangan energi strategis yang mampu berdiri sendiri ketika terjadi gangguan pada jaringan utama Sumatera.

Salah satu langkah yang dinilai paling realistis adalah mengaktifkan kembali dan mengoptimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Ladong di Aceh Besar. Menurutnya, pembangkit tersebut memiliki posisi strategis untuk menopang sistem kelistrikan Aceh, khususnya di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar yang menjadi pusat pemerintahan serta aktivitas ekonomi.

“PLTG Ladong harus menjadi prioritas revitalisasi. Aceh memiliki sumber gas dan infrastruktur yang dapat mendukung pembangkit ini beroperasi maksimal. Jika diaktifkan secara optimal, PLTG Ladong bisa menjadi salah satu tulang punggung ketahanan energi Aceh,” katanya.

Selain PLTG Ladong, Aceh juga memiliki sejumlah pembangkit lain yang selama ini menopang sistem kelistrikan daerah, seperti PLTU Nagan Raya, PLTMG Arun, pembangkit diesel, serta sejumlah pembangkit energi air skala kecil dan menengah.

Berdasarkan berbagai rencana pengembangan sistem ketenagalistrikan, Aceh bahkan memiliki potensi tambahan ratusan MW dari sektor energi hidro, panas bumi, dan gas alam yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian energi daerah.

Tuanku Muhammad menilai penguatan pembangkit lokal menjadi kebutuhan mendesak karena permintaan listrik di Aceh diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, pembangunan kawasan industri, rumah sakit, sektor pendidikan, hingga masuknya investasi baru di berbagai daerah.

“Kalau Aceh terus bergantung penuh pada sistem luar tanpa memperkuat pembangkit sendiri, maka kita akan terus menghadapi ketidakpastian energi. Dampaknya bukan hanya pemadaman listrik, tetapi juga kerugian ekonomi yang besar, terganggunya pelayanan publik, dan menurunnya kepercayaan investor,” tegasnya.

Ia menambahkan, Komisi III DPRK Banda Aceh mendorong Pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat untuk segera menyusun roadmap ketahanan energi daerah yang berfokus pada penguatan pembangkit lokal, optimalisasi aset energi yang telah tersedia, serta pembangunan sistem kelistrikan Aceh yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Sudah saatnya Aceh memiliki sistem kelistrikan yang mandiri demi masa depan ekonomi, investasi, dan kesejahteraan masyarakat Aceh,” tutup Tuanku Muhammad.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Permendikdasmen SPMB Tetap Berlaku di Aceh, Kadisdik: Batas Usia Masuk SD Ikuti Aturan Nasional

0
Ilustrasi siswa baru masuk SD. (Foto: Antara/Bayu Pratama S)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Murthalamuddin, memastikan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), termasuk aturan batas usia masuk sekolah dasar (SD), tetap berlaku di Aceh. Murthalamuddin menegaskan bahwa daerah tetap mengikuti kebijakan nasional.

“Tetap berlaku. Aceh mengikuti ketentuan yang telah diatur dalam Permendikdasmen terkait pelaksanaan SPMB, termasuk persyaratan usia masuk SD,” kata Murthalamuddin saat dikonfirmasi Nukilan, Minggu (24/6/2026).

Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 mengatur persyaratan usia calon murid kelas 1 SD. Dalam ketentuan tersebut, anak berusia 7 tahun pada 1 Juli tahun berjalan diprioritaskan untuk diterima, sementara anak usia minimal 6 tahun tetap dapat mendaftar. Pengecualian diberikan bagi anak usia 5 tahun 6 bulan dengan syarat memiliki kecerdasan atau bakat istimewa serta kesiapan psikis.

Selain mengatur batas usia, kebijakan SPMB juga menegaskan bahwa calon murid kelas 1 SD tidak diwajibkan mengikuti tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat penerimaan.

Pemerintah daerah di seluruh Indonesia diminta menyesuaikan pelaksanaan penerimaan murid baru dengan ketentuan dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025. Dengan demikian, aturan terkait usia masuk SD dipastikan tetap menjadi acuan dalam proses penerimaan murid baru di Aceh. []

Reporter: Sammy

Listrik di Kecamatan Langkahan Mulai Pulih Pascabanjir, Warga Keluhkan Jaringan Internet Belum Stabil

0
Tumpukan kayu gelondongan sisa banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara pascabencana banjir dan tanah longsor beberapa waktu lalu. (Foto: HAkA)

NUKILAN.ID | Aceh Utara — Pasokan listrik di sejumlah wilayah Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dilaporkan mulai kembali normal setelah sebelumnya mengalami pemadaman di tengah kondisi banjir yang melanda kawasan tersebut. Meski aliran listrik telah menyala, warga menyebut layanan jaringan internet masih belum sepenuhnya stabil.

Salah seorang warga Kecamatan Langkahan, Musliadi, mengatakan kondisi listrik di daerahnya saat ini sudah kembali hidup setelah beberapa waktu mengalami gangguan.

“Alhamdulillah listrik sudah hidup sekarang, cuma jaringan internet masih kurang stabil,” ujar Musliadi kepada Nukilan, Minggu (24/5/2026).

Pemulihan pasokan listrik menjadi salah satu kebutuhan mendesak masyarakat pascabanjir, mengingat aktivitas warga sempat terganggu, mulai dari komunikasi hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ketidakstabilan jaringan internet juga masih dirasakan warga dan berdampak pada akses informasi serta komunikasi digital.

Sebelumnya, banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Langkahan menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir mengakibatkan debit air meningkat dan merendam permukiman serta akses jalan di beberapa desa.

Selain berdampak pada mobilitas warga, kondisi banjir juga memengaruhi infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik dan telekomunikasi. Pemadaman listrik sempat dilakukan sebagai langkah antisipasi keselamatan pada wilayah terdampak genangan.

Pulihnya aliran listrik diharapkan dapat mempercepat aktivitas masyarakat kembali normal. Namun, warga berharap layanan jaringan internet segera membaik agar komunikasi dan akses informasi pascabanjir dapat berjalan lancar.

Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan peningkatan debit air, mengingat kondisi cuaca di sejumlah wilayah Aceh masih berpotensi berubah dalam beberapa hari ke depan. []

Reporter: Sammy

Muslim Ayub Serahkan Bantuan Teratak untuk Warga Gampong Keuramat Jelang Idul Adha

0
Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Muslim Ayub menyerahkan bantuan berupa teratak kepada masyarakat Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Minggu (24/5/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Muslim Ayub menyerahkan bantuan berupa teratak kepada masyarakat Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Minggu (24/5/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui stafnya sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Penyerahan bantuan berlangsung di Masjid Al-Ikhlas yang berlokasi di Jalan Teungku Chik Ditiro, Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Bantuan diterima oleh Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Ikhlas, Faisal, yang mewakili masyarakat setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Faisal menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas bantuan yang diberikan oleh Muslim Ayub kepada masyarakat Gampong Keuramat.

“ Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak Muslim Ayub atas bantuan teratak ini. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, apalagi menjelang Hari Raya Idul Adha,” ujar Faisal.

Menurutnya, bantuan tersebut akan memberikan manfaat besar bagi warga, terutama untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat menjelang dan saat perayaan Idul Adha.

Ia juga menyampaikan bahwa teratak yang diterima akan segera dimanfaatkan untuk pelaksanaan ibadah kurban.

“Insya Allah, teratak ini langsung kami gunakan untuk keperluan pelaksanaan kurban di hari raya nanti,” tambahnya.

Turut hadir dalam kegiatan penyerahan bantuan tersebut Kepala Desa Gampong Keuramat, Kamaruddin, bersama dua kepala dusun yang ikut mendampingi proses penyerahan bantuan kepada masyarakat.

Bantuan teratak tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran berbagai kegiatan sosial dan keagamaan warga Gampong Keuramat, khususnya dalam menyambut dan melaksanakan rangkaian kegiatan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Harga Beras di Aceh Besar Masih Stabil, Produsen: Tidak Ada Kenaikan dari Sebelumnya

0
Ilustrasi beras. (Foto: Tempo)

NUKILAN.ID | Aceh Besar — Harga beras premium produksi Kilang Padi Meutuah Baro (MB) dilaporkan masih bertahan pada level sebelumnya dan belum mengalami perubahan signifikan. Pemilik Kilang Padi Meutuah Baro, Darmawan, mengatakan harga beras premium produksi MB tetap stabil meski terdapat penyesuaian biaya distribusi di sejumlah wilayah.

“Harga masih seperti dulu, tetap. Belum ada perubahan untuk harga beras premium kami di tingkat penggilingan,” ujar Darmawan saat dikonfirmasi Nukilan, Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan data di tingkat produsen atau penggilingan, harga beras premium MB tercatat sebesar Rp15.300 per kilogram. Sementara untuk penjualan dalam kemasan siap konsumsi di pasaran wilayah Aceh, harga bervariasi sesuai ukuran kemasan dan distribusi.

Untuk kemasan 5 kilogram, beras premium MB dijual dengan kisaran Rp82.000 per pak. Sedangkan kemasan 15 kilogram dipasarkan dengan estimasi harga sekitar Rp230.000 hingga Rp245.000, tergantung biaya logistik di masing-masing daerah.

Darmawan menjelaskan, hingga saat ini harga gabah sebagai bahan baku utama masih relatif stabil. Namun, faktor distribusi dan ongkos pengiriman menjadi salah satu komponen yang memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.

Hal serupa juga ditemukan dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Tim Saber Pangan Aceh di Kilang Padi Meutuah Baro, Aceh Besar. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terjadi lonjakan harga gabah, meskipun terdapat sedikit penyesuaian akibat peningkatan biaya logistik.

Stabilnya harga di tingkat produsen dinilai menjadi indikator terjaganya pasokan dan distribusi beras premium lokal di tengah dinamika biaya operasional. Produsen berharap kondisi harga yang tetap dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus keberlanjutan usaha penggilingan padi di daerah. []

Reporter: Sammy

Soal Royalti Karya Jurnalistik, AMSI Aceh Minta Media Daerah Dapat Porsi Khusus

0
Ilsutasi Royalti. (Foto: queensha.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wacana pemberian royalti bagi karya jurnalistik yang tengah didorong pemerintah mendapat sambutan positif dari kalangan perusahaan pers. Di tengah perubahan besar industri media akibat perkembangan teknologi digital, kebijakan ini dinilai dapat menjadi langkah penting untuk memberikan perlindungan hak ekonomi terhadap produk jurnalistik yang dihasilkan media.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Aceh, Aryos Nivada, menyatakan pada prinsipnya mendukung gagasan pemberian perlindungan hak cipta dan hak ekonomi terhadap karya jurnalistik. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi bentuk penghargaan atas kerja jurnalistik yang selama ini menjadi fondasi penyebaran informasi kepada masyarakat.

Namun demikian, Aryos mengingatkan bahwa skema royalti yang akan diterapkan harus dirancang secara adil dan memperhatikan kondisi perusahaan media di berbagai daerah.

Ia menilai kebijakan tersebut tidak boleh disusun dengan pendekatan yang seragam tanpa melihat kesenjangan kapasitas antara media nasional dan media daerah.

“Perlu ada perlakuan yang berbeda antara perusahaan media besar yang berada di pusat dengan perusahaan media daerah. Dalam pandangan saya, perusahaan media daerah justru perlu mendapatkan porsi royalti yang lebih besar,” katanya kepada Nukilan.id, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Aryos, keberpihakan terhadap media daerah menjadi hal yang penting karena mereka beroperasi dalam situasi yang jauh berbeda dibandingkan perusahaan media nasional. Selain menghadapi keterbatasan sumber daya, media daerah juga harus bertahan di tengah pasar yang relatif kecil dan pertumbuhan industri yang belum merata.

“Media nasional di pusat memiliki segmentasi pasar yang lebih luas dan didukung oleh ekosistem industri yang jauh lebih besar. Sementara media di daerah, termasuk di Aceh, menghadapi keterbatasan pasar, minimnya industri, serta kondisi ekonomi daerah yang belum sekuat wilayah-wilayah lain,” ungkapnya.

Pandangan tersebut, kata Aryos, perlu menjadi perhatian para penyusun regulasi agar mekanisme pembagian royalti tidak hanya mengakomodasi kepentingan perusahaan media besar.

Ia menilai, media daerah selama ini juga memainkan peran strategis dalam menyediakan informasi publik, mengawal pembangunan daerah, hingga menjadi ruang bagi aspirasi masyarakat lokal.

Karena itu, Aryos berpandangan bahwa sejak awal perlu dirumuskan indikator dan mekanisme yang mampu menciptakan distribusi manfaat secara proporsional antara media nasional dan media daerah.

“Jangan sampai kebijakan royalti hanya menguntungkan media besar, sementara media daerah yang selama ini ikut berkontribusi dalam pembangunan informasi publik tidak memperoleh manfaat yang signifikan,” pungkasnya.

Wacana royalti karya jurnalistik sendiri muncul seiring upaya pemerintah memperkuat perlindungan hak cipta di sektor media.

Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan model bisnis yang lebih berkelanjutan bagi perusahaan pers di tengah semakin masifnya distribusi konten melalui berbagai platform digital. Namun, sejumlah kalangan menilai implementasinya harus disertai indikator yang jelas dan prinsip keadilan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh ekosistem media, termasuk media lokal di daerah. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Abon Teuku Armia Peusijuk 19 Santri MUQ Aceh Selatan yang Khatam Hafal Al-Qur’an 30 Juz

0
Prosesi peusijuk terhadap para hafiz dan hafizah dilakukan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Selatan, Abon Tgk. H. Teuku Armia Ahmad. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Sebanyak 19 santri Pesantren Madrasatul Ulumul Quran (MUQ) Aceh Selatan mengikuti Tasyakuran Khataman Hafalan Al-Qur’an 30 Juz yang berlangsung khidmat di Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas capaian para santri setelah menyelesaikan proses pendidikan dan pembinaan hafalan Al-Qur’an secara intensif dan disiplin di lingkungan pesantren.

Acara dipimpin oleh Ketua Panitia Ustaz Muhammad Ragil Ichfa, Lc, dengan Tgk. Azhar, S.H sebagai sekretaris panitia. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan lantunan Shalawat Badar. Perwakilan wali santri, Drs. H. Nasrijal, turut menyampaikan sambutan dalam acara tersebut.

Prosesi peusijuk terhadap para hafiz dan hafizah dilakukan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Selatan, Abon Tgk. H. Teuku Armia Ahmad.

Dalam kesempatan itu, Abon Teuku Armia menyampaikan dukungan terhadap upaya Pesantren MUQ Aceh Selatan dalam melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang diharapkan menjadi salah satu indikator terwujudnya Aceh Selatan yang madani, maju, dan produktif dalam bidang keagamaan.

“Dulu jarang sekali kita mendengarkan orang khataman Hafal Qur’an 30 di Aceh Selatan. Sekarang berkah adanya MUQ Aceh Selatan membawa keberkahan dunia akhirat untuk dunia pendidikan Islam di Aceh Selatan,” ujar ulama yang juga menjabat Ketua Dewan Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Aceh Selatan tersebut.

Pimpinan Pesantren MUQ Aceh Selatan, Tgk. Muhammad Ridho Agung, M.Ag, menyebutkan bahwa khataman hafalan Al-Qur’an bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an serta menjaga hafalan dengan istiqamah.

“Kehadiran dalam majelis Khotmil quran merupakan anugrah dari Allah Swt. Menjadi penghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar. Namun tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga hafalan tersebut dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita telah memilih Menjadi Penghapal Al-Quran, maka murojaah adalah profesi kita seumur hidup,” ungkapnya.

muq aceh selatan
Pimpinan Pesantren MUQ Aceh Selatan, Tgk. Muhammad Ridho Agung, M.Ag, meneyrahkan plakat penghargaan kepada santri. (Foto: For Nukilan)

Ia berharap para santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz dapat terus meningkatkan murojaah, memperbaiki akhlak, serta menjadi generasi Qurani yang bermanfaat bagi masyarakat, agama, dan bangsa. Menurutnya, hubungan dengan Al-Qur’an harus terus dijaga melalui interaksi terhadap lafaz, makna, serta pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pihak pesantren juga berharap para hafiz dan hafizah tidak berhenti pada hafalan semata, tetapi mampu menjaga dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an serta menjadi teladan di tengah masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat budaya Qurani di Aceh Selatan.

Melalui kegiatan tersebut, MUQ Aceh Selatan menargetkan terus melahirkan generasi hafiz dan hafizah yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penerang di tengah masyarakat sesuai nilai-nilai Al-Qur’an. Capaian tersebut juga didukung oleh Yayasan Ulumul Quran, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, komite sekolah, serta para wali santri.

Ketua DPRK Aceh Selatan, Rema Mishul Azwa, tampak terharu menyaksikan capaian para santri. Ia menilai keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi Aceh Selatan karena telah melahirkan putra-putri terbaik penghafal Al-Qur’an.

“Kami sangat mengapresiasi Direktur MUQAS Ust. Muhammad Ridho Agung yang telah berusaha memajukan pesantren MUQ, hingga kami sangat melihat langsung kemajuan yang sangat siginifikan dalam pendidikan Al-Quran dan akademik dalam 2 tahun terakhir ini. Dan juga Kepada seluruh dewan guru MUQ Aceh Selatan yang telah menorehkan sejarah baru mendidik generasi Qurani di Aceh Selatan. Hadir langsung pada acara syukuran khataman Al-Quran membuat kami juga mendambakan anak anak kami juga bisa menjadi penghapal Al-Quran,” ungkap Rema.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kesungguhan para santri, dukungan pimpinan pesantren, bimbingan para asatidz dan asatidzah, serta doa dan dukungan orang tua.

Sementara itu, Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, turut menyampaikan sambutan yang diwakili Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Selatan, Indra Hidayat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua MPU Aceh Selatan Abon Tgk. H. Teuku Armia Ahmad, Pembina Yayasan Ulumul Quran Aceh Selatan H. Ahmad Ibrahim, anggota DPRK Aceh Selatan Novie Rosmita, Plt Kepala UPTD MUQ Aceh Selatan Abdurrahman, Komisioner Baitul Mal Aceh Selatan Muhammad Ikhsan, Camat Tapaktuan Murlizar, Ketua Komite MUQ Aceh Selatan Khaidir, Kepala SMP Plus Ulumul Quran Aceh Selatan Muhammad Khadapi, serta para guru dan wali santri.

Daftar 19 Hafiz dan Hafizah MUQ Aceh Selatan Tahun 2026

Berdasarkan rilis resmi Dayah MUQ Aceh Selatan, berikut nama-nama santri yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz:

  1. T. Syahraka Azizi bin T. Darmansyah (1 tahun 10 bulan)
  2. Muhammad Ali bin Syamsul Bahri (5 tahun 8 bulan)
  3. Akhdan Arif Athaya bin Yasril (2 tahun 9 bulan)
  4. Hanifa Khaira Umami binti Armiya (4 tahun 7 bulan)
  5. Syarifah Rizky Aisyah binti Said Muzammil (2 tahun 4 bulan)
  6. Hafizah binti Hasmar Hendra (3 tahun 7 bulan)
  7. Nadira Azzahiraf NS binti Nasrijal (2 tahun 8 bulan)
  8. Ristiyul Hibah binti Safrawi (2 tahun 8 bulan)
  9. Altifa Wafi binti Antorudin (2 tahun 8 bulan)
  10. Dea Aprilia binti Rustam Effendi (2 tahun 8 bulan)
  11. Khadijatul Mutsanna binti Zairi Syam (2 tahun 8 bulan)
  12. Hilwa Adzra Wina binti Darmawi (2 tahun 8 bulan)
  13. Aurel Asyifa Nazila binti Asnalizar (2 tahun 8 bulan)
  14. Angga Syahputra bin Syahrial (4 tahun 9 bulan)
  15. Sri Helma Hafizah binti Suhendi (5 tahun 10 bulan)
  16. Al Ikram bin Yon Afrizal (5 tahun 10 bulan)
  17. Fadhilah Tazkya binti Pajri (5 tahun 10 bulan)
  18. Cut Diah Salsabila binti Teuku Eviandi (5 tahun 6 bulan)
  19. M. Taufiq Al-Hafidh bin Risizar Nas (5 tahun 10 bulan)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Setelah Gangguan, Sistem Listrik Aceh Kini Beroperasi Normal Kembali

0
Satgas PRR pastikan listrik hampir pulih total di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. (FOTO: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sistem kelistrikan di Provinsi Aceh yang sebelumnya mengalami gangguan kini telah berhasil dipulihkan sepenuhnya. Hal tersebut disampaikan oleh PLN UID Aceh melalui unggahan resminya pada Minggu (24/5/2026).

Dalam keterangannya, PLN menyebutkan bahwa proses pemulihan jaringan listrik di seluruh wilayah Aceh telah selesai dilakukan pascagangguan yang sempat terjadi.

“Sistem kelistrikan di wilayah Provinsi Aceh saat ini telah berhasil dipulihkan seluruhnya pascagangguan,” tulis PLN UID Aceh dikutip Nukilan dalam unggahannya.

PLN UID Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses pemulihan, termasuk masyarakat yang dinilai tetap bersabar selama penanganan berlangsung.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, mengatakan pihaknya berterima kasih atas dukungan seluruh stakeholder selama proses pemulihan sistem kelistrikan dilakukan.

PLN turut mengimbau masyarakat untuk tetap memanfaatkan layanan pengaduan resmi melalui Contact Center PLN 123 maupun aplikasi PLN Mobile apabila menemukan kendala kelistrikan di wilayah masing-masing.

Reporter: Rezi

Kemenag Aceh Selatan Perkuat Upaya Pencegahan Narkoba di Sekolah Lewat Bimtek P4GN

0
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Aceh Selatan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pegiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Lembaga Pendidikan Bersih Narkoba sebagai bagian dari upaya memperkuat lingkungan pendidikan yang bebas dari penyalahgunaan narkotika. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Aceh Selatan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pegiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Lembaga Pendidikan Bersih Narkoba sebagai bagian dari upaya memperkuat lingkungan pendidikan yang bebas dari penyalahgunaan narkotika.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus Poltekkes Aceh Selatan Program Studi Keperawatan, Jumat (22/5/2026), diikuti guru mata pelajaran IPA dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari 15 SMA, SMK, dan madrasah di wilayah Tapaktuan.

Para peserta dipersiapkan menjadi pegiat P4GN melalui penguatan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di lingkungan sekolah dan madrasah.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Selatan, HM Suryadi Anwar SAg, turut hadir dan menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan moral generasi muda terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba.

Menurut Suryadi, fungsi lembaga pendidikan tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membentuk karakter serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk bahaya narkotika.

“Sekolah dan madrasah harus menjadi ruang aman bagi peserta didik. Pencegahan narkoba tidak cukup hanya dengan sosialisasi, tetapi perlu diintegrasikan dalam pembelajaran. Misalnya dalam pelajaran IPA atau pelajaran agama bisa disampaikan bagaimana bahaya narkoba atau dampak sosialnya kepada para siswa,” ujar Suryadi.

Ia juga memberikan apresiasi kepada BNN Kabupaten Aceh Selatan yang dinilai terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Selain menghadirkan perwakilan BNNK Aceh Selatan/BNK Tapaktuan, kegiatan bimbingan teknis tersebut juga melibatkan narasumber dari Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Aceh Selatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Selatan, serta koordinator pengawas dari unsur Dinas Pendidikan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pascabanjir Aceh Tamiang, Ancaman ISPA dan Diare Mulai Mengintai Ribuan Warga

0
Genangan air dan lumpur sisa banjir menjadi sarang bakteri penyebab diare dan infeksi saluran pernapasan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mulai mengancam ribuan warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi lingkungan yang belum pulih setelah bencana menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyebaran penyakit di kalangan pengungsi maupun masyarakat yang telah kembali ke rumah.

Masalah kesehatan tersebut muncul seiring terganggunya akses air bersih dan rusaknya sistem sanitasi di sejumlah kawasan terdampak. Warga di pengungsian maupun di permukiman yang masih dipenuhi sisa banjir dilaporkan mengalami keluhan kesehatan yang hampir seragam.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, meliputi ISPA, diare, dan infeksi kulit. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya kualitas lingkungan setelah banjir, termasuk munculnya debu dari lumpur yang mengering.

Lingkungan pascabencana dinilai menjadi tempat yang mendukung berkembangnya berbagai agen penyakit seperti bakteri, virus, dan jamur. Saat genangan air surut, lumpur yang tertinggal akan mengering dan berubah menjadi partikel debu halus yang mudah terbawa angin.

Debu tersebut berpotensi membawa mikroorganisme serta berbagai material asing yang dapat terhirup masyarakat. Akibatnya, risiko peradangan saluran pernapasan meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

Di sisi lain, sumber air minum warga juga menghadapi risiko pencemaran. Banyak sumur dan jaringan air bersih terkontaminasi material yang terbawa banjir, termasuk kotoran dan bakteri penyebab penyakit. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus gangguan pencernaan, khususnya diare.

Situasi di lokasi pengungsian turut memperbesar risiko penularan penyakit. Keterbatasan fasilitas sanitasi seperti toilet dan tempat pembuangan sampah, ditambah tingginya kepadatan penghuni posko, membuat penerapan kebersihan pribadi menjadi lebih sulit dilakukan.

Bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan ancaman kesehatan lingkungan yang berpotensi berkembang menjadi wabah apabila tidak ditangani secara serius.

Dampak Luas dan Kerusakan Fasilitas Kesehatan

Selain memengaruhi kesehatan masyarakat, banjir juga merusak berbagai fasilitas kesehatan yang menjadi penopang pelayanan medis di wilayah terdampak. Kerusakan tersebut membuat upaya penanganan penyakit pascabencana menjadi semakin berat.

Data sementara menunjukkan sebanyak 288.311 jiwa atau 80.919 keluarga terdampak bencana. Dampak tersebut menjangkau 444 gampong yang tersebar di 24 kecamatan. Sementara itu, terdapat 20.537 warga yang masih berada di 52 titik pengungsian.

Di sektor kesehatan, tercatat 41 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, lima puskesmas mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat beroperasi sama sekali.

Puskesmas yang mengalami kerusakan paling parah berada di wilayah Kecamatan Lokop, Serbajadi, Peunaron, Ranto Pereulak, Pante Bidari, dan Matang Pudeng. Kerusakan ini berdampak langsung terhadap akses layanan kesehatan masyarakat di daerah terdampak.

Upaya Tanggap Darurat

Untuk menekan risiko meningkatnya kasus penyakit, berbagai pihak mulai menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup operasional dapur umum serta distribusi suplemen bagi warga yang berada di pengungsian.

Tim medis dari berbagai instansi, termasuk unsur Polri, terus menjangkau daerah terdampak menggunakan kendaraan khusus maupun perahu karet. Selain memberikan layanan kesehatan, petugas juga memberikan dukungan psikologis kepada warga yang mengalami trauma akibat bencana.

Langkah pencegahan turut dilakukan dengan membersihkan fasilitas umum dan menyiram jalan yang mulai berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan partikel lumpur kering.

Beberapa langkah penanganan darurat yang dilakukan antara lain:

  • Mendirikan posko kesehatan darurat yang beroperasi selama 24 jam di sekitar lokasi pengungsian.
  • Menyalurkan air bersih siap konsumsi dan cairan disinfektan untuk kebutuhan sanitasi warga.
  • Melaksanakan fogging sebagai langkah antisipasi peningkatan kasus demam berdarah setelah banjir.

Imbauan bagi Warga

Masyarakat diminta tetap waspada terhadap gejala penyakit yang muncul pascabanjir. Menjaga kebersihan diri menjadi langkah penting untuk mencegah penularan penyakit, termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.

Warga juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di area yang berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, air minum sebaiknya dimasak hingga mendidih dan makanan dijaga tetap bersih serta tertutup.

Bagi warga yang mengalami gejala seperti demam, batuk, atau diare, dianjurkan segera mendapatkan penanganan medis. Konsumsi oralit atau larutan gula garam dapat membantu mencegah dehidrasi pada penderita diare sebelum memperoleh perawatan lebih lanjut.

Penanganan dampak kesehatan pascabanjir membutuhkan kerja sama berbagai pihak secara berkelanjutan. Pemulihan fasilitas kesehatan, perbaikan sanitasi, serta penyediaan akses air bersih menjadi faktor penting untuk mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular di masa mendatang. Tanpa langkah tersebut, risiko penyebaran penyakit akan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat setiap kali bencana banjir kembali terjadi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News