Beranda blog Halaman 8

Bupati Aceh Barat Nonaktifkan 7 Keuchik, Tegaskan Komitmen Benahi Pengelolaan Dana Gampong

0
Bupati Aceh Barat Nonaktifkan 7 Keuchik. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengambil langkah tegas dalam memperkuat akuntabilitas pengelolaan keuangan desa dengan memberhentikan sementara tujuh keuchik, Senin (7/4/2026).

Kebijakan tersebut dijalankan melalui Tim Khusus Tindak Lanjut Temuan Inspektorat yang diketuai Safrizal, S.P., M.Sc., sebagai respons atas ketidakpatuhan terhadap rekomendasi audit Inspektorat atau Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP). Ketujuh keuchik tersebut dinilai tidak menindaklanjuti temuan pengelolaan keuangan gampong hingga melampaui batas waktu 60 hari sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 73 Tahun 2020.

Langkah pemberhentian sementara ini diambil guna menjaga kredibilitas pemerintahan gampong sekaligus mencegah praktik pengelolaan keuangan yang tidak transparan.

Menurut Safrizal, hasil pengawasan menunjukkan adanya potensi kerugian keuangan desa akibat pengabaian kewajiban tindak lanjut temuan audit. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga menghambat upaya membangun tata kelola pemerintahan gampong yang bersih dan akuntabel.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari pemaparan Inspektur Aceh Barat dalam Rapat Koordinasi Kabupaten (Rakorkab) pada 12 Februari 2026 di Auditorium Teuku Umar Universitas Teuku Umar (UTU). Rapat itu dihadiri sejumlah unsur, mulai dari Danrem 012, Forkopimda, Forkopimcam, SKPK, para keuchik, Ketua Tuha Peut, hingga Imum Mukim.

Dalam forum tersebut, terungkap masih banyak rekomendasi Laporan Hasil Audit (LHA) yang belum ditindaklanjuti, terutama temuan bersifat materiil yang seharusnya dikembalikan ke rekening kas gampong.

Kapolres Aceh Barat juga menegaskan bahwa penyelesaian kerugian dana desa harus dilakukan paling lambat 31 Maret 2026 agar tidak berlanjut ke proses hukum.

Berdasarkan data Inspektorat, terdapat 49 gampong yang memiliki temuan keuangan dengan total kerugian mencapai Rp10.726.421.265,55. Hingga 2 April 2026, baru Rp3.157.922.764,85 yang berhasil dikembalikan.

Di sisi lain, terdapat tujuh gampong yang telah menuntaskan seluruh temuan, yakni Gampong Belakang dan Pasar Aceh di Kecamatan Johan Pahlawan, Ujong Tanoh Darat, Mesjid Tuha, Pasi Aceh Baroh di Meureubo, Alue Meuganda di Woyla Timur, serta Kubu di Arongan Lambalek.

Sebanyak 35 gampong lainnya menunjukkan progres positif, termasuk yang telah menyusun surat pernyataan penyelesaian, meskipun sebagian dipimpin oleh keuchik yang telah meninggal dunia.

Namun, tujuh gampong lainnya belum memenuhi kewajiban, bahkan hanya menyetor sebagian kecil dari total temuan dan dinilai berpotensi memicu kegaduhan sosial di masyarakat.

Berdasarkan hasil kajian Tim Khusus, ketujuh keuchik tersebut dijatuhi sanksi pemberhentian sementara selama maksimal tiga bulan, terhitung mulai 6 April 2026. Selama masa tersebut, pemerintah daerah menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) keuchik untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan.

Jika kewajiban dapat diselesaikan dalam waktu yang ditentukan, jabatan keuchik dapat dikembalikan. Sementara itu, 35 gampong lain yang masih berproses diberikan tenggat hingga 6 Juli 2026. Jika tidak dipenuhi, sanksi pemberhentian tetap akan dijatuhkan dan kasusnya dilimpahkan kepada Aparat Penegak Hukum (APH).

Kebijakan ini merujuk pada sejumlah regulasi, di antaranya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Permendagri Nomor 82 Tahun 2015, Qanun Aceh Barat Nomor 1 Tahun 2022, serta Peraturan Bupati Aceh Barat Nomor 20 Tahun 2022.

Safrizal menegaskan bahwa langkah ini bukan semata-mata bentuk hukuman, melainkan upaya perbaikan sistem dan penguatan integritas pengelolaan dana desa. Ia juga memastikan Inspektorat akan terus melakukan pemantauan ketat, termasuk kemungkinan peningkatan sanksi apabila ditemukan manipulasi data.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap kebijakan ini menjadi momentum penting dalam membangun budaya transparansi dan akuntabilitas di seluruh gampong.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pupuk Indonesia Bangun Pabrik Metanol di Aceh dan Kaltim untuk Dukung Program B50

0
Pupuk Indonesia Bangun Pabrik Metanol di Aceh dan Kaltim untuk Dukung Program B50. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Pupuk Indonesia (Persero) berencana membangun dua pabrik metanol masing-masing di Lhokseumawe, Aceh, dan Bontang, Kalimantan Timur. Proyek ini disiapkan untuk mendukung implementasi program biodiesel B50 yang ditargetkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan pembangunan dua fasilitas tersebut bertujuan memperkuat konversi minyak sawit mentah (CPO) menjadi biofuel berbasis metanol.

“Dua pabrik metanol supaya bisa mengkonversi dari CPO menjadi biofuel,” ujar Rahmad dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Ia menambahkan, pembangunan ini juga menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor metanol yang terus meningkat.

Saat ini, impor metanol Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Tanpa adanya tambahan fasilitas produksi dalam negeri, angka tersebut diperkirakan akan melonjak hingga 2,5 juta ton.

“Tanpa pembangunan (pabrik) ini kita akan meningkat impornya menjadi 2,5 (juta ton),” kata Rahmad.

Rahmad menjelaskan, pemilihan lokasi di Aceh dan Kalimantan Timur didasarkan pada kesiapan infrastruktur, seperti kawasan industri dan akses pelabuhan yang memadai. Selain itu, studi kelayakan proyek juga telah rampung dilakukan.

Untuk mendukung operasional pabrik di Aceh, Pupuk Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman pasokan gas dengan Mubadala Energy. Sementara itu, pasokan gas untuk pabrik di Kalimantan Timur masih dalam tahap pengamanan.

Meski nilai investasi proyek masih dalam tahap perhitungan, kapasitas produksi kedua pabrik telah ditetapkan. Adapun proses pembangunan diperkirakan akan berlangsung selama sekitar 40 bulan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BPSDM Aceh Latih Perencana SKPA Manfaatkan AI untuk Perencanaan Berbasis Data

0
BPSDM Aceh Latih Perencana SKPA Manfaatkan AI untuk Perencanaan Berbasis Data. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh menggelar kegiatan pengembangan kompetensi bertema pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk penyusunan perencanaan berbasis bukti. Kegiatan ini berlangsung di Aula BPSDM Aceh dan diikuti oleh Kepala Subbagian Program serta Pejabat Fungsional Perencana dari Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), Senin (6/4/2026).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala BPSDM Aceh, Marthunis, S.T., D.E.A. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses perencanaan pembangunan yang lebih akurat dan berbasis data.

Menurutnya, integrasi AI dalam pemerintahan bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan mendesak dalam tata kelola modern. Teknologi ini dinilai mampu membantu menghasilkan kebijakan yang lebih presisi, efisien, dan tepat sasaran.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam penyusunan perencanaan berbasis bukti dapat memperkuat kualitas analisis data serta mendorong pengambilan keputusan yang lebih objektif. Dengan demikian, proses perencanaan pembangunan dapat dilakukan secara lebih terukur dan berdampak nyata.

Pelatihan ini dilaksanakan dalam dua tahapan, yakni sesi pembukaan di Aula BPSDM Aceh dan dilanjutkan dengan praktik langsung di Laboratorium Komputer. Peserta diberikan pengalaman langsung dalam memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung tugas-tugas perencanaan.

Dalam arahannya, Marthunis turut menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh telah menerbitkan dua regulasi strategis, yaitu pembentukan Aceh Corporate University (Aceh CorpU) serta instruksi pemenuhan kompetensi minimal 20 jam pelajaran per tahun bagi setiap aparatur.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, ia mendorong peserta untuk membentuk Community of Practice (CoP) sebagai wadah pembelajaran bersama. Melalui CoP, diharapkan terjadi percepatan berbagi pengetahuan, peningkatan kompetensi secara kolaboratif, serta lahirnya praktik terbaik dalam menyelesaikan berbagai tantangan pekerjaan.

Lebih lanjut, CoP dinilai dapat memperkuat implementasi Aceh CorpU dengan memastikan pengembangan kompetensi aparatur selaras dengan kebutuhan strategis organisasi. Praktik-praktik terbaik yang dihasilkan juga diharapkan dapat disebarluaskan ke seluruh unit kerja secara efektif.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas aparatur perencana di lingkungan Pemerintah Aceh dalam memanfaatkan teknologi AI secara optimal. Dengan kompetensi yang terus berkembang, aparatur diharapkan dapat menghasilkan perencanaan yang lebih inovatif, adaptif, dan berbasis bukti.

Melalui kegiatan ini, BPSDM Aceh menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digital di sektor pemerintahan, khususnya untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bupati Aceh Tamiang Tinjau Huntara dan Huntap, Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang

0
Bupati Aceh Tamiang Tinjau Huntara dan Huntap. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | ACEH TAMIANG – Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., bersama unsur Forkopimda, kepala SKPK, dan LSM meninjau hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) sekaligus menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir bandang, Senin (6/4/2026).

Peninjauan dilakukan di Huntara Kampung Suka Jadi, Kecamatan Karang Baru, serta Huntara dan Huntap Kampung Simpang Kanan, Kecamatan Kejuruan Muda.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Armia menjelaskan bahwa sebagian warga yang masih berada di tenda pengungsian sebenarnya telah memiliki hunian sementara di Kampung Opak. Namun, untuk sementara waktu mereka kembali ke Kampung Suka Jadi.

“Kami akan mengupayakan solusi terbaik bagi masyarakat di kedua lokasi. Di Kampung Suka Jadi telah dibangun 45 unit huntara yang diperuntukkan bagi warga yang sebelumnya menyewa rumah, menumpang dengan keluarga, maupun yang tinggal di lahan HGU. Dalam waktu beberapa hari kedepan, pembangunan diharapkan selesai dan dapat segera ditempati,” ujar Bupati.

Ia menambahkan, masyarakat juga telah menyatakan kesediaannya untuk direlokasi ke hunian tetap setelah proses pembangunan rampung.

Selanjutnya, rombongan meninjau Huntara Kampung Simpang Kanan. Di lokasi tersebut, sebagian warga sudah mulai menempati hunian sementara. Pemerintah daerah juga telah menyalurkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat di huntara tersebut.

Untuk pembangunan huntap di Kampung Simpang Kanan, Bupati menyampaikan bahwa sebanyak 150 unit rumah sedang dibangun oleh Mabes Polri dengan progres mencapai sekitar 50 persen.

“Kami berharap dalam waktu dekat pembangunan dapat diselesaikan sehingga masyarakat dapat segera menempati hunian tetap yang layak,” katanya.

Bupati juga menjelaskan bahwa hunian tetap yang dibangun memiliki dua tipe konstruksi, yakni berbahan beton dan kayu, dengan desain yang telah disesuaikan dengan standar hunian layak.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berkomitmen untuk terus mempercepat penanganan pascabencana, termasuk memastikan seluruh masyarakat terdampak mendapatkan bantuan stimulan perumahan.

Adapun rincian bantuan yang diberikan meliputi bantuan rumah rusak ringan sebesar Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, serta bantuan dari Kementerian Sosial berupa perabot rumah tangga sebesar Rp3 juta, bantuan ekonomi Rp5 juta, dan jaminan hidup sebesar Rp15 ribu per jiwa per hari selama 90 hari.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang berharap seluruh upaya tersebut dapat mempercepat pemulihan kondisi masyarakat serta memberikan hunian yang layak dan aman bagi warga terdampak bencana.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

PISA Aceh Dinilai Penting untuk Lindungi Anak dari Paparan Informasi Negatif

0
Logo Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA). (Foto: Kemen PPPA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menilai keberadaan Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA) memiliki peran strategis dalam melindungi anak dari paparan informasi negatif di era digital. Program ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan hak anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.

Mengutip RRI, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3A Aceh, Amrina Habibi, S.H., M.H., menyampaikan bahwa anak berhak memperoleh informasi yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Hal inilah yang melatarbelakangi hadirnya PISA sebagai layanan publik yang ramah anak.

“PISA memastikan anak mendapatkan informasi yang layak dan aman dari konten kekerasan, pornografi, hingga hoaks,” ujar Amrina pada Minggu (5/4/2026).

Ia menjelaskan, risiko paparan informasi negatif terhadap anak di Aceh masih tergolong tinggi. Bentuknya beragam, mulai dari konten tidak pantas, perundungan siber, hingga ketergantungan terhadap penggunaan gadget.

Menurut Amrina, kondisi tersebut turut berdampak pada kesehatan mental anak dan remaja. Hal ini terlihat dari meningkatnya kebutuhan layanan pemulihan di fasilitas kesehatan.

“Ketika anak sudah membutuhkan layanan pemulihan, itu menunjukkan risiko sudah nyata terjadi,” ujarnya.

Amrina menegaskan, kehadiran PISA merupakan langkah preventif untuk menekan dampak negatif tersebut. Selain itu, pemerintah juga mendorong pembatasan penggunaan gadget di lingkungan pendidikan sebagai bagian dari upaya perlindungan anak.

Ia menambahkan, komitmen pemerintah daerah dalam menjalankan program PISA secara umum sudah berjalan baik. Namun, optimalisasi pelaksanaan masih menjadi tantangan di sejumlah kabupaten/kota. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan pembinaan dan pengawasan agar layanan ini dapat berjalan maksimal, termasuk memastikan standar kelayakan informasi dipenuhi oleh setiap penyedia layanan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Listrik di Aceh, Sumut, dan Sumbar Hampir Pulih Total, Capai 99,9 Persen Pascabencana

0
Satgas PRR pastikan listrik hampir pulih total di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. (FOTO: Istimewa)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) memastikan layanan listrik di tiga provinsi terdampak bencana hidrometeorologi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah pulih hampir sepenuhnya.

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyebut tingkat pemulihan listrik kini mencapai 99,90 persen. Ia menegaskan bahwa listrik merupakan infrastruktur vital yang berperan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat serta mempercepat pemulihan ekonomi.

“(Pemulihan) Listrik kami bisa katakan 99,90 persen. Karena ada daerah terisolir yang jalannya longsor, sehingga belum dapat saluran listrik, tapi (warga) sudah diberikan genset. Ini penting, listrik sangat krusial. Terima kasih kepada Menteri ESDM dan PLN,” ujar Tito di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Berdasarkan data Satgas PRR per 6 April 2026, kondisi kelistrikan di Aceh dan Sumatera Barat telah pulih 100 persen. Hal ini menunjukkan koordinasi lintas sektor berjalan efektif dalam mempercepat pemulihan infrastruktur dasar.

Sementara itu, di Sumatera Utara, proses pemulihan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Tercatat 54 pelanggan di dua desa, yakni Desa Siantar Naipospos dan Desa Pardomuan Nauli, belum sepenuhnya teraliri listrik akibat akses yang terputus.

Meski demikian, kebutuhan listrik masyarakat tetap terpenuhi melalui bantuan genset portable dari PLN sebagai solusi sementara.

Upaya perbaikan jaringan terus dilakukan, termasuk pembangunan jaringan tegangan menengah sepanjang 17,5 kilometer serta pemasangan empat trafo berkapasitas masing-masing 50 kVA.

Hingga kini, progres pembangunan telah mencapai 77,82 persen atau sekitar 13,62 kilometer. Pekerjaan tersebut kembali dipercepat setelah periode Lebaran 2026.

Satgas PRR juga tetap siaga terhadap potensi gangguan susulan. Banjir yang terjadi pada 19 Maret 2026 sempat menyebabkan pemadaman di wilayah Tapanuli Utara, dengan empat gardu listrik terdampak dan 54 pelanggan mengalami gangguan.

Namun, penanganan cepat di lapangan mampu meminimalkan dampak yang terjadi.

Pemulihan sektor ketenagalistrikan menjadi fondasi penting dalam mengembalikan aktivitas masyarakat ke kondisi normal. Dengan listrik yang kembali pulih, layanan publik, kegiatan ekonomi, hingga aktivitas sosial dapat berjalan lebih optimal.

Satgas PRR menegaskan akan terus mengawal proses pemulihan hingga seluruh wilayah terdampak benar-benar pulih, dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN seperti PLN menjadi kunci utama.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Lima Desa di Aceh Tengah Kembali Terisolasi Usai Jembatan Darurat Ambruk Diterjang Banjir

0
Salah satu jembatan darurat di wilayah Ketol Kabupaten Aceh Tengah kembali rusak akibat banjir bandang, di Aceh Tengah, Rabu (1/4/2026). (FOTO: BPBA)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Dua jembatan darurat yang dibangun pascabanjir dan longsor di Aceh Tengah kembali ambruk setelah diguyur hujan deras. Akibatnya, lima desa di wilayah tersebut kembali terisolasi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, mengatakan hujan dengan intensitas tinggi sejak sore hari memicu banjir yang merusak jembatan darurat tersebut.

“Hujan deras sejak sore mengakibatkan terjadinya banjir sehingga jembatan darurat yang dibangun beberapa waktu lalu saat bencana hidrometeorologi ambruk,” kata Bahron Bakti, Selasa (7/4/2026).

Dua jembatan yang putus itu masing-masing berada di Desa Bur Lah, Kecamatan Ketol, serta di Kampung Terang Engon, Kecamatan Silih Nara. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Bahron menjelaskan, putusnya jembatan tersebut menyebabkan empat kampung di Kecamatan Ketol dan satu desa di Kecamatan Silih Nara kembali terisolasi. Saat ini, pemerintah daerah telah mengerahkan dua alat berat ke lokasi guna membuka kembali akses bagi warga.

“Saat ini hujan deras masih terjadi dan debit air masih sangat deras,” jelas Bahron.

Selain itu, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah. Hujan deras menyebabkan Sungai Wih Porak di Kecamatan Pintu Rime Gayo meluap, sehingga akses jalan Bireuen–Bener Meriah terputus total.

Peristiwa ini menambah daftar gangguan infrastruktur akibat cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam beberapa hari terakhir.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Martini Sebut Pokir DPRA Rp4 Miliar Belum Mampu Tampung Aspirasi, Minta Tak Dipangkas Lagi

0
martini
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi NasDem, Martini. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menggelar Rapat Paripurna Tahun 2026 dengan dua agenda utama, yakni penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh Tahun Anggaran 2025 serta pembentukan panitia khusus (Pansus) untuk membahas LKPJ tersebut, Senin (6/4/2026).

Rapat yang berlangsung di Gedung DPRA itu diwarnai sejumlah pandangan kritis dari anggota dewan terhadap pelaksanaan program pemerintah daerah, termasuk terkait penyaluran aspirasi masyarakat melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir).

Pantauan Nukilan.id, Anggota DPRA Fraksi Partai NasDem, Martini, secara terbuka mengungkap besaran alokasi Pokir yang diterima setiap anggota dewan.

“Kami anggota DPRA ingin menyampaikan secara jelas kepada masyarakat bahwa Pokir anggota DPRA itu Rp4 miliar satu orang. Pokir anggota DPRA itu satu orang itu Rp4 miliar,” ujar Martini di hadapan pimpinan sidang.

Menurut Martini, angka tersebut masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan banyaknya aspirasi masyarakat yang harus diakomodasi di daerah pemilihan masing-masing.

Ia menyebut keterbatasan anggaran menjadi tantangan serius dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Dari total Rp4 miliar yang dikelolanya, sekitar Rp3,5 miliar dialokasikan untuk pembangunan masjid, Rp300 juta untuk sektor pendidikan sekolah, dan Rp200 juta untuk pengembangan dayah.

Dalam kesempatan itu, Martini juga meminta pimpinan dewan agar tidak melakukan pemotongan terhadap anggaran Pokir yang dinilai sudah terbatas.

“Kami mengingatkan agar usulan reses itu benar-benar diakomodir, Ketua. Jangan semata-mata hanya formalitas. Usulan dari masyarakat benar-benar diakomodir, jangan hanya dibahas tetapi tidak direalisasikan,” tegasnya.

Selain itu, ia mendorong transparansi dalam pengelolaan anggaran, khususnya jika terjadi pembengkakan dokumen Pokir di tingkat eksekutif Pemerintah Aceh.

Menurutnya, keterbukaan informasi penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus menghindari stigma negatif terhadap anggota dewan.

“Kalau ada dokumen Pokir DPRA yang membengkak di Pemerintahan Aceh, mohon dipublikasi. Karena masyarakat sering menganggap, ‘kenapa bencana ini tidak selesai, pasti dimakan Pokir DPRA’. Tidak, Ketua,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kunjungan Perpustakaan Aceh Capai 239 Ribu Orang Sepanjang 2025

0
Puswil Aceh (Foto: Arpus)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) mencatat jumlah pengunjung perpustakaan sepanjang tahun 2025 mencapai 239.610 orang.

Sementara itu, pada triwulan pertama tahun 2026, yakni Januari hingga Maret, jumlah kunjungan telah menembus 59.795 orang. Angka ini menunjukkan tren positif peningkatan minat masyarakat terhadap layanan perpustakaan.

Mengutip Dialeksis.com, Kepala Bidang Layanan, Otomasi, dan Kerja Sama Perpustakaan DPKA, Diaz Furqan, menyebut capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi.

“Jika melihat tren saat ini, kami optimistis jumlah pengunjung di tahun 2026 akan kembali meningkat. Baru tiga bulan saja sudah hampir menyentuh 60 ribu pengunjung,” ujar Diaz di Banda Aceh, Senin (6/4/2026).

Menurut Diaz, peningkatan jumlah kunjungan tidak terlepas dari berbagai inovasi layanan yang dilakukan DPKA, mulai dari digitalisasi koleksi, penyediaan ruang baca yang nyaman, hingga penyelenggaraan kegiatan literasi yang melibatkan pelajar dan masyarakat umum.

Selain dari sisi kunjungan, tingkat kegemaran membaca masyarakat Aceh juga menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pada tahun 2025, tingkat kegemaran membaca tercatat sebesar 59,23 persen, yang mencerminkan lebih dari separuh masyarakat Aceh memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca.

Diaz menjelaskan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, komunitas literasi, hingga peran keluarga dalam menumbuhkan budaya baca sejak dini.

“Minat baca tidak bisa tumbuh secara instan. Ini hasil kerja bersama. Kami terus mendorong agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, diskusi, dan pengembangan kreativitas,” katanya.

Ke depan, DPKA menargetkan peningkatan kualitas layanan berbasis teknologi serta memperkuat kemitraan dengan berbagai lembaga untuk memperluas dampak gerakan literasi di Aceh.

“Harapannya, perpustakaan bisa menjadi pusat pengetahuan yang hidup dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Diaz.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mualem Sampaikan LKPJ 2025, Tekankan Pembangunan Aceh Berkelanjutan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menghadiri Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tahun 2026 di Gedung DPRA, Senin (6/4). Agenda rapat tersebut membahas penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh Tahun Anggaran 2025 sekaligus penetapan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) LKPJ.

Dalam keterangannya, Mualem menjelaskan bahwa LKPJ merupakan bentuk pertanggungjawaban Pemerintah Aceh atas pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan sepanjang tahun 2025. Dokumen tersebut juga menjadi bahan evaluasi bersama antara pihak eksekutif dan legislatif guna meningkatkan kualitas pembangunan daerah ke depan.

Ia menegaskan, capaian pembangunan Aceh selama 2025 tidak terlepas dari kerja kolektif berbagai pihak, mulai dari DPR Aceh, Forkopimda, hingga partisipasi masyarakat. Menurutnya, pembangunan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan sinergi dan pengawasan bersama.

Dari aspek keuangan daerah, Pemerintah Aceh mencatat realisasi pendapatan mencapai lebih dari Rp10,69 triliun atau sekitar 100,07 persen dari target. Sementara itu, realisasi belanja daerah mencapai lebih dari Rp10,61 triliun atau sekitar 95,07 persen.

Mualem juga memaparkan sejumlah indikator makro pembangunan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh meningkat dari 75,36 pada 2024 menjadi 76,23 pada 2025. Persentase penduduk miskin menurun dari 14,23 persen menjadi 12,23 persen, meskipun berpotensi meningkat kembali akibat dampak bencana. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga turun dari 5,75 persen menjadi 5,64 persen.

Berbagai program strategis turut dijalankan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, di antaranya pembangunan rumah layak huni, peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan, pemberian beasiswa kepada puluhan ribu siswa, hingga pembiayaan jaminan kesehatan bagi lebih dari 1,7 juta jiwa masyarakat Aceh. Di sektor ekonomi, realisasi investasi tercatat lebih dari Rp9 triliun, disertai peningkatan aktivitas ekspor yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Mualem menegaskan bahwa seluruh program pembangunan difokuskan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan pelayanan publik, pemberdayaan, serta peningkatan daya saing daerah secara berkelanjutan.

“Seluruh pelaksanaan program dan kegiatan telah diselaraskan dengan kapasitas fiskal daerah dan prinsip pengelolaan anggaran yang efektif serta akuntabel, guna memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh,” ujar Mualem.

Ia juga mendorong seluruh pihak, khususnya DPR Aceh, untuk terus memperkuat sinergi melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas demi mewujudkan Aceh yang lebih maju, Islami, dan berkelanjutan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News