Beranda blog Halaman 888

Menpora: PON XXI Aceh-Sumut 2024 Tanpa Tunggakan Utang

0
Menpora RI, Dito Ariotedjo. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Badung – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo menegaskan bahwa tidak ada tunggakan utang terkait pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara. Hal ini diungkapkan Menpora saat memberikan keterangan pers di Kuta, Badung, Bali, Selasa (1/10/2024).

“PJ Gubernur Sumatera Utara telah mengonfirmasi bahwa tidak ada tunggakan utang atau pembayaran yang tertinggal,” kata Dito.

Ia juga menambahkan, situasi serupa berlaku untuk Aceh, di mana seluruh administrasi keuangan telah dipastikan berjalan lancar.

Menpora mengakui adanya pertanyaan mengenai honor panitia yang belum dibayarkan. Namun, ia menjelaskan bahwa pembayaran honor tersebut bergantung pada kelengkapan administrasi, karena dana yang digunakan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Setiap pengeluaran harus didukung oleh administrasi yang lengkap. Jika ada honor yang belum dibayar, itu sudah diselesaikan, dan yang masih dalam proses adalah yang administrasinya belum lengkap,” lanjutnya.

Dalam konteks ini, Menpora juga menyoroti masalah honor penari di Aceh yang sempat tertunda. Namun, ia memastikan bahwa masalah tersebut kini sedang diurus dengan tata tertib administrasi yang baik.

Di samping itu, Menpora menyatakan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan PON XXI. Catatan kekurangan selama penyelenggaraan akan menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki pelaksanaan PON mendatang yang direncanakan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat pada tahun 2028.

Dari data yang dirilis Kementerian Pemuda dan Olahraga, total anggaran untuk PON XXI Aceh-Sumut mencapai Rp3,94 triliun, yang terdiri dari Rp2,2 triliun bersumber dari APBN dan Rp1,7 triliun dari APBD kedua provinsi tersebut. Rincian anggaran untuk Panitia Besar PON Wilayah Aceh mencapai Rp1,8 triliun, sedangkan untuk Sumatera Utara totalnya Rp2,09 triliun.

Dengan pencapaian ini, Menpora berharap PON ke depan dapat lebih baik dan lebih terencana, menciptakan pengalaman yang memuaskan bagi seluruh peserta dan masyarakat.

Editor: Akil

DPDA Angkat Suara Terkait Kasus Kekerasan Terhadap Santri di Aceh Barat

0
Gedung Dinas Pendidikan Dayah Aaceh. (Foto: Dok. DPDA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kasus dugaan kekerasan terhadap seorang santri bernama Teuku di Pesantren Darul Hasanah telah mengejutkan masyarakat Aceh dan menjadi viral di media sosial. Dilansir dari Laman berita RRI, Teuku diduga disiram dengan air cabai oleh istri pimpinan pesantren, menyebabkan tubuhnya mengalami luka perih, memerah, dan membengkak.

Menanggapi hal ini, Nukilan.id melakukan wawancara dengan pihak Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA) untuk meminta tanggapan terkait kasus tersebut. Kepala Bidang Santri DPDA, Irwan S.Hi M.Si, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait insiden ini.

“Secara lisan, kami sudah menerima laporan dari DPDA Kabupaten Aceh Barat. Mereka juga sedang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat untuk segera turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” katanya kepada Nukilan.id, Rabu (2/10/2024).

Menurut informasi yang diperolehnya, Irwan menjelaskan bahwa insiden ini bermula ketika Teuku diduga melakukan pelanggaran, yang sebelumnya telah dijatuhi hukuman potong rambut.

“Namun, kenapa penyiraman itu masih bisa terjadi? Ini kan menjadi pertanyaan,” tambahnya.

Ketika ditanyakan terkait sanksi yang mungkin dijatuhkan kepada pesantren jika terbukti bersalah, Irwan menegaskan bahwa, sanksi hukum tetap akan berlanjut jika pihak korban membawanya ke ranah hukum, begitupun dengan sanksi sosial juga akan muncul dari masyarakat.

‘Terkait operasional, perlu diketahui DPDA ini hanya memiliki peran dalam pembinaan, bukan dalam pemberian izin operasional dayah, yang berada di Kantor Kementerian Agama,” jelasnya.

Irwan juga mengungkapkan keprihatinannya atas situasi tersebut, terutama dalam konteks upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Padahal pihak DPDA sendiri sedang gencar sosialisasi bahaya kekerasan di dayah.

“Pemerintah Aceh dalam hal ini DPDA, telah mengirimkan surat edaran kepada para Bupati/Walikota se-Aceh dan pimpinan dayah agar lebih aktif mencegah segala bentuk kekerasan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Irwan menekankan pentingnya memastikan agar korban tetap bisa melanjutkan pendidikan meski mengalami trauma.

“Kita harus pastikan si korban jangan sampai dia putus pendidikan akibat trauma. Nantinya kami akan menyarankan kepada DPDA setempat untuk bekerja sama dengan lembaga pemberdayaan perempuan dan anak untuk membantu psikologis korban,” tutupnya.

Kasus ini terus berkembang, dan masyarakat menantikan langkah-langkah konkret dari pihak berwenang untuk menangani permasalahan kekerasan di lingkungan pesantren. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Ayu Ningsih Kutuk Tindakan Kekerasan Terhadap Santri di Aceh Barat

0
Ayu Ningsih, S.H., M.Kn. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kasus dugaan kekerasan terhadap santri kembali mencuat di Aceh. Seorang santri berinisial T yang merupakan siswa SMP di Pesantren Darul H di Kecamatan Pante Ceureumen, diduga menjadi korban penyiksaan dengan penyiraman air cabai. Kasus ini terkuak setelah beredarnya video yang menunjukkan kondisi fisik korban di media sosial.

Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @tercyduck.aceh, tampak tubuh T mengalami kemerahan dan bengkak akibat perlakuan tersebut. Pelaku kekerasan diduga adalah NN, istri pimpinan pesantren.

Menanggapi hal tersebut, mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aceh, Ayu Ningsih, S.H., M.Kn, mengutuk tindakan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pendekatan pendidikan yang humanis harus menjadi prioritas.

“Kekerasan hanya akan menimbulkan trauma dan menghambat tumbuh kembang anak,” kata Ayu kepada Nukilan.id, Rabu (2/10/2024).

Ayu berharap agar pesantren sebagai lembaga pendidikan akhlak dapat menjadi contoh terbaik dalam menerapkan pendidikan ramah anak. Ia mengingatkan bahwa dayah seharusnya berperan sebagai wadah yang mendidik generasi bangsa dengan nilai-nilai tanpa kekerasan, melindungi hak-hak anak, dan membentuk karakter yang baik.

“Hendaknya dayah melakukan evaluasi terhadap pola asuh dan pendidikan yang diterapkan, sehingga tidak ada lagi masalah dan stigma negatif yang mengemuka,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penanganan kasus ini. Kasus ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat, yang mendesak tindakan tegas untuk mencegah kekerasan serupa terjadi di masa mendatang. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Pj Gubernur Aceh Semangati Atlet NPCI untuk Berlaga di Peparnas Solo

0
Pj Gubernur Aceh Semangati Atlet NPCI untuk Berlaga di Peparnas Solo. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si, memberikan semangat kepada para atlet National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Aceh yang akan berlaga di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII di Solo, Jawa Tengah. Dalam acara pelepasan kontingen Aceh di Pendopo Gubernur, Selasa (1/10/2024) malam, Safrizal menyampaikan pesan-pesan yang membakar semangat para atlet.

“Kita ke Solo menjemput asa, menembus tantangan, berjuang melawan kekuatan yang tiada kita takutkan, dan bawalah semangat dari Tanah Rencong yang dari dulu tidak pernah menyerah,” kata Safrizal dengan suara lantang yang memukau seluruh hadirin.

Safrizal mengajak para atlet untuk mengerahkan segala kemampuan yang telah dilatih selama ini dan tidak menyerah terhadap tantangan. Ia menekankan bahwa kekurangan yang dimiliki para atlet disabilitas bukanlah penghalang, melainkan kelebihan yang harus dibanggakan.

“Ini adalah olahraga paralimpik, olahraga para penyandang disabilitas. Kekuranganmu adalah kelebihanmu. Allah menciptakan kita dengan berbagai takdir bukan untuk ditangisi. Jangan pernah suuzon kepada Allah, karena rahasia-Nya kita tidak ada yang tahu. Mungkin saja rahasia Allah itu akan Anda buktikan di Solo besok,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Safrizal juga menyampaikan tekadnya untuk meningkatkan fasilitas bagi atlet paralimpiade Aceh serta menjanjikan bonus yang setara dengan atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) bagi mereka yang berhasil meraih medali.

“Segera raih emas, karena bonusnya sama dengan bonus emas PON, yaitu Rp300 juta. Demikian juga untuk medali perak dan perunggu, bonusnya akan menyesuaikan,” kata Safrizal.

Mantan Pj Gubernur Bangka Belitung itu optimistis dengan keteguhan semangat dan rasa percaya diri, Aceh bisa meraih juara. Ia meminta para atlet untuk berjuang demi mengharumkan nama Aceh.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, M. Nasir Syamaun, menyebutkan bahwa kontingen Aceh yang berangkat ke Peparnas Solo berjumlah 52 orang, terdiri dari 33 atlet, 12 pelatih, dan 7 pendamping. Aceh akan berkompetisi dalam delapan cabang olahraga, yaitu anggar kursi roda, atletik, boccia, tenis meja, menembak, catur, angkat berat, dan bulu tangkis.

“Pada Peparnas lalu, kita meraih satu medali emas. Kali ini, kita menargetkan tiga medali emas,” kata Nasir optimis.

Sementara itu, Ketua NPCI Aceh, Zulfajri, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pj Gubernur Safrizal dalam melepas langsung keberangkatan kontingen Aceh. Menurutnya, kehadiran Safrizal memberikan motivasi tambahan bagi para atlet yang akan berlaga.

“Berjumpa Bapak akan menambah motivasi kami. Hadirnya Bapak jadi motivasi bagi kami untuk lebih bersemangat meraih juara,” ujar Zulfajri.

Zulfajri juga mengapresiasi kebijakan Pemerintah Aceh yang memberikan bonus yang sama dengan atlet PON bagi para atlet paralimpiade yang berhasil meraih juara, sebagai bentuk kesetaraan dan dukungan penuh terhadap prestasi mereka.

Editor: Akil

Santri di Aceh Barat Diduga Disiram Air Cabai Oleh Istri Pimpinan Pesantren

0
Teuku, santri di Aceh Barat Diduga Disiram Air Cabai oleh Istri Pimpinan Pesantren. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Meulaboh – Seorang santri Pesantren Darul Hasanah, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, bernama Teuku, mengalami dugaan kekerasan setelah disiram dengan air cabai. Kondisi tubuhnya kini mengalami luka perih, memerah, dan membengkak. Kasus ini menjadi viral di media sosial di Aceh dan menuai simpati dari masyarakat.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin sore di lingkungan pesantren. Pelaku kekerasan diduga adalah NN, istri dari pimpinan pesantren Darul Hasanah, yang memberikan hukuman tersebut karena menuduh korban melakukan pelanggaran aturan pesantren.

Marnita, ibu kandung Teuku, menceritakan bahwa anaknya disiram air cabai oleh NN sebagai bentuk sanksi. Akibat kejadian tersebut, Teuku kini dirawat di rumah neneknya karena mengalami pembengkakan di beberapa bagian tubuh dan trauma atas kejadian tersebut.

“Anak saya disiram dengan air cabai oleh NN karena dia dituduh melanggar aturan pesantren. Kejadiannya kemarin sore, dan sekarang anak saya sedang dirawat di rumah neneknya,” ujar Marnita kepada wartawan, Selasa (1/10/2024).

Video yang menunjukkan kondisi Teuku saat dimandikan oleh neneknya untuk menghilangkan rasa perih akibat siraman air cabai tersebar di media sosial dan mengundang empati banyak orang. Masyarakat mengecam keras tindakan tersebut yang dinilai tidak manusiawi.

Tidak tinggal diam, keluarga korban telah melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.

“Kejadian ini sudah kami laporkan kepada Polsek Pante Ceureumen. Kami berharap pihak kepolisian dapat menindaklanjuti dan memproses hukum pelaku atas dugaan kekerasan ini,” jelas Marnita.

Pihak kepolisian Polsek Pante Ceureumen sendiri sudah menerima laporan tersebut dan sedang melakukan penanganan lebih lanjut. Kasus ini juga menjadi perhatian masyarakat Aceh Barat, khususnya para wali santri, yang mempertanyakan keamanan dan kenyamanan anak-anak mereka di lingkungan pesantren.

Kasus dugaan kekerasan terhadap santri ini menambah deretan permasalahan yang menyoroti perlakuan terhadap siswa di lingkungan pendidikan, terutama di pesantren yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan pendidikan karakter. Keluarga berharap pihak terkait dapat menyelesaikan masalah ini agar kejadian serupa tidak terulang.

Editor: Akil

Akankah Pj Bupati Subhandy Lempar Handuk?

0

NUKILAN.id | Indepth – Angan-angan Subhandy ahirnya tercapai, menjadi orang nomor satu di Aceh Tengah walau hanya sebagai Penjabat (Pj). Dia akan memegang tampuk kekuasan hingga terpilih dan dilantiknya bupati dan wakil bupati yang baru.

Mampukah Subhandy mengayuh “bahtera” menyelesaikan tugasnya,  hingga ahir masa sebagai Pj, atau mundur di tengah perjalanan, seperti yang pernah dilakukanya ketika diberikan amanah?

Catatan penulis, Subhandy yang sebelumnya menjabat sebagai Sekda Aceh Tengah pernah “lempar handuk” dalam bertugas. Dia tidak mampu menghadapi gempuran ombak ketika dipercayakan menjabat sebagai Sekretaris Dewan  (Sekwan) DPRK Aceh Tengah.

Ketika itu ada pertarungan kepentingan antara personel dewan dengan Bupati Aceh Tengah Nasaruddin.  Usai dari Sekwan yang ditinggalkanya, dia dipercayakan menjabat sebagai Kepala Badan Pemerintahan Desa, jabatan itu juga bermasalah. Tidak selesai dijalankanya.

Demikian di masa Bupati Aceh Tengah dipegang Shabela Abubakar, Subhandy, Pj Bupati yang dilantik pada 11 Agustus 2024 ini, juga meninggalkan arena pertempuran ketika Shabela memberikan kepercayaan kepada sebagai kepala Dinas PU Aceh Tengah.

Subhandy tidak sanggup menjalankan amanah sebagai Kadis PU dan ahirnya meninggalkan jabatan itu. Kembali dia membuat catatan sejarah, mundur dari sebuah amanah. Kemudian dia ikut berkompetisi sebagai Sekda Aceh Tengah.

Diantara tiga kandidat yang lolos seleksi sebagai Sekda, ahirnya alumnus Lemhanas ini dipercayakan sebagai Sekda Aceh Tengah, pada 6 Maret 2020.

Kini  Subhandy  mengemban amanah sebagai Pj Bupati yang tugas dibebankan dipundaknya terbilang berat, menyukseskan PON ke XXI dan menyelenggarakan Pilkada hingga terlantiknya pemimpin terpilih untuk negeri penghasil kopi arabika terbaik dunia ini.

PON sudah berlangsung, walau masih menyisakan sejumlah masalah untuk diselesaikan daerah. Soal kuda misalnya, para pemilik kuda masih menunggu bagaimana sikap Pj Aceh Tengah soal bonus, setelah klasifikasi kuda lokal ini menang di arena PON.

Selain itu dia juga dibebankan tanggung jawab soal bobolnya uang nasabah di BPRS Gayo, sebuah bank dimana Sekda dan Bupati Aceh Tengah sebagai komisarisnya. Seharusnya Bupati memberikan pengertian dan rasa nyaman kepada nasabah,  mengundang mereka, memberikan penjelasan, agar mereka tenang. Walau persoalanya kini ditangani OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan pihak penyidik.

Muncul juga persoalan lainya, ketika petugas kebersihan menuntut haknya. Honor mereka di bulan Desember 2023 hingga kini belum dibayar Pemda Aceh Tengah. Tidak selesai soal honor petugas kebersihan, muncul lagi persoalan TC Pegawai yang sudah 9 bulan tidak ada kejelasanya.

Pj Bupati Subhandy menjanjikan akan mencairkan TC pegawai, ketika para ASN ini bergotong royong membersihkan venue Triathlon, salah satu cabang PON yang diselenggarakan di Aceh Tengah. Namun kapan?

Soal menggerakan organisasi agar berjalan maksimal demi memacu pembangunan Aceh Tengah, mampukah Subandy memenejnya dengan baik? Inilah pertanyaan publik yang harus dijawab Subandy, apalagi di saat daerah ini sedang mengalamli defisit.

Soal defisit harus diselesaikan Subhandy, karena dia turut berperan dalam menentukan defisit Aceh Tengah mencapai Rp 119 miliar seperti yang diramaikan media selama ini. Subhandy yang ketika itu menjabat  sebagai Sekda, merupakan ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Dia turut mewarnai apakah daerah ini mengalami defisit atau tidak, dia punya hak untuk mengontrol anggaran, agar daerah tidak kelimpungan dalam menghadapi kegiatan pembangunan. Bila terjadi defisit dia juga harus mengendalikanya, agar daerah tidak ambruk dan harus menjual asset.

Kini persoalan defisit yang pernah diwarnai Subhandy harus diselesaikanya ketika menjabat sebagai Pj Bupati Aceh Tengah, hal itu harus dilakukanya demi menggerakan perputaran pembangunan.

Selain itu Subhandy juga harus mampu menggerakan semua dinas yang ada untuk bahu membahu menyukseskan tugasnya. Tidak seperti Pj saat dijabat T Mirzuan, jabatan Sekda yang diemban Subhandy menjadi batu sandungan Mirzuan dalam melangkah.

Lebih dari satu tahun setengah Mirzuan menjabat sebagai Pj Bupati, dia tidak berani melakukan terobosan, misalnya melakukan mutasi untuk kepala Dinas yang dinilai kurang “energik” dalam melaksanakan tugasnya.

Sudah menjadi rahasia publik, Subhandy apatis dan tidak mendukung kegiatan Mirzuan sebagai Pj, dampaknya para kepala Dinas serba susah. Mereka bagaikan mengghadapi dua matahari, pemimpin yang tidak seirama.

Sikap Subhandy ketika Mirzuan menjadi Pj yang sudah menjadi rahasia umum itu, terekam dalam memori para kepala Dinas. Kini Subhandy mempercayakan Erwin Pratama sebagai Sekda Aceh Tengah, tentunya publik berharap mereka seirama untuk mengayuh bahtera.

Dipundak Erwin Pratama diberikan tugas yang berat, termasuk melakukan pengawasan yang ketat soal defisit, agar daerah ini terbebas dari jeratan kekurangan dalam menggerakan pembangunan.

Kini dewan yang baru dilantik juga sudah mengusulkan soal Pokir, bagaimana eksekutif menjawab tantangan ini. Harus berbenturan dengan anggota parlemen, atau mengamini permintaanya, sementara keuangan daerah lagi “ikat” pinggang.

Apa langkah yang akan dilakukan Subhandy untuk menyelesaikan tugasnya yang begitu berat dihadapanya? Apakah Subhandy akan mundur di tengah jalan seperti yang pernah dilakukanya, atau menyelesaikan tugasnya dengan baik, apa kiat-kiat yang akan dilakukanya?

Penulis sampai sejauh ini masih sulit mendapatkan jawaban dari Subhandy, ketika dihubungi via telpon selalu ditolak, disampaikan pesan melalaui WA juga  terblokir, pesanya tidak masuk.

Ketika dilangsungkan silaturahmi penyambutan Subhandy sebagai Pj Bupati Aceh Tengah, penulis  mengucapkan selamat kepada PJ. Di hadapan Kapolres Aceh Tengah AKBP. Dodi Indra Eka Putra, penulis sampaikan soal sudah cukup lama susahnya berkomunikasi dengan Subhandy.

“Yah Bang, HP saya bermasalah semua tidak bisa menghubungi,” jelas Subhandy. Namun, faktanya hanya kalangan tertentu yang bisa menghubungi dan berkomunikasi denganya.

Bahkan penulis menghubunginya Sekda, Erwin Pratama agar disampaikan pesan kepada Pj untuk memudahkan komunikasi dan mendapatkan jawaban konfirmasi. Pj Sekda Aceh Tengah menjanjikan  akan menyampaikanya.

Bahkan dia menyebutkan untuk soal konfirmasi tulisan, sudah disampaikan ke Pj Bupati. Namun hari berlalu, sampai berita ini diturunkan tidak ada jawaban.

Publik menanti apa yang akan dilakukan Subhandy dalam menyelesaikan beragam persoalan daerah. Mampukah Subhnady melakukanya, atau dia meninggalkan di tengah jalan, seperti yang pernah dilakukanya ketika mendapat amanah.

Masyarakat Aceh Tengah berharap, duetnya Subhady dengan Erwin Pratama mampu menyelesaikan persoalan daerah. Tidak lempar handuk. *** Bahtiar Gayo.

Polemik Pemberhentian Dirut Bank Aceh Syariah Memanas, Kadin Angkat Bicara

0
Ketua Kadin Aceh, Muhammad Iqbal Piyeung. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kontroversi terkait pemberhentian Muhammad Syah dari posisi Direktur Utama Bank Aceh Syariah kembali memanas. Panitia Khusus (Pansus) DPRA mendesak agar Muhammad Syah dikembalikan ke posisinya, dengan alasan bahwa proses pemberhentiannya dianggap cacat hukum dan tidak sesuai prosedur.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Aceh, Muhammad Iqbal, yang akrab disapa Iqbal Piyeung, turut angkat bicara mengenai polemik ini. Dalam keterangannya kepada media pada Senin (1/10/2024), Iqbal menegaskan bahwa pemberhentian Muhammad Syah telah sesuai dengan tata kelola dan regulasi yang berlaku.

“Pemberhentian ini dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan merupakan hak penuh Pemegang Saham Pengendali (PSP),” kata Iqbal kepada Nukilan.id.

Ia menjelaskan bahwa proses pemberhentian tersebut mengikuti aturan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Tata Kelola Perusahaan. Iqbal juga menambahkan bahwa RUPS bisa diselenggarakan kapan saja, bahkan dalam waktu 24 jam atau di hari libur, selama seluruh pemegang saham sepakat.

“Yang terpenting adalah bahwa seluruh pemegang saham 100 persen sepakat dengan keputusan pemberhentian ini,” tegasnya.

Iqbal menilai bahwa di bawah kepemimpinan baru, kinerja Bank Aceh Syariah justru menunjukkan perkembangan positif.

“Bank Aceh telah meraih sejumlah prestasi, termasuk keberhasilan dalam layanan keuangan selama penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON),” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar kepentingan bisnis Bank Aceh Syariah tidak terus dipolitisasi.

“Jangan terus dipolitisasi demi kepentingan sekelompok pihak,” kata Iqbal.

Selain itu, Iqbal menekankan bahwa Bank Aceh Syariah merupakan satu-satunya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memberikan pendapatan signifikan bagi pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di Aceh.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, mana mungkin Bank Aceh Syariah dinilai sehat oleh regulator? Kalau tidak sehat, mana mungkin bisa memberikan dividen yang begitu besar kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota?” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Iqbal mengajak semua pihak untuk mendukung perkembangan Bank Aceh Syariah yang sudah berjalan dengan baik.

“Mari kita dukung Bank Aceh yang saat ini sudah baik agar bisa lebih baik ke depan. Layanan perbankan yang belum berjalan dapat segera terealisasi demi kemudahan nasabah,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

15 Mahasiswa UUI Lolos Program Wirausaha Merdeka Kemendikbudristek

0
15 Mahasiswa UUI Lolos Program Wirausaha Merdeka Kemendikbudristek. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Sebanyak 15 mahasiswa UUI berhasil lolos seleksi Program Wirausaha Merdeka yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Program ini bertujuan mendorong mahasiswa menjadi wirausaha yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi, terutama di era digital yang semakin berkembang pesat.

Rektor UUI, Prof. Adjunct Marniati Mkes, mengungkapkan rasa bangganya atas keberhasilan para mahasiswa dalam program ini. Menurutnya, capaian ini menunjukkan komitmen UUI dalam mengembangkan potensi kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

“Kami sangat bersyukur dan bangga bahwa 15 mahasiswa kami terpilih dalam Program Wirausaha Merdeka. Ini adalah bukti komitmen UUI dalam mendukung pengembangan wirausaha di kalangan mahasiswa. Kami percaya bahwa program ini akan memberikan bekal keterampilan dan pengalaman yang berharga bagi mereka,” kata Marniati kepada Nukilan.id, Selasa (1/10/2024).

Program Wirausaha Merdeka memberikan berbagai kesempatan bagi mahasiswa yang terpilih, di antaranya pelatihan intensif, akses ke mentor berpengalaman, dan pendanaan untuk mengembangkan ide bisnis mereka. Selain itu, program ini dirancang agar mahasiswa dapat belajar langsung tentang manajemen bisnis, strategi pemasaran, hingga inovasi yang diperlukan untuk sukses di dunia wirausaha.

“Mahasiswa akan belajar langsung tentang manajemen bisnis, pemasaran, serta inovasi yang diperlukan untuk sukses di dunia kewirausahaan,” ujar Marniati.

Melalui program ini, lanjutnya, diharapkan akan lahir wirausahawan muda yang inovatif dan kreatif, yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian lokal maupun nasional. UUI pun berkomitmen untuk terus memfasilitasi berbagai program pendukung pengembangan kewirausahaan bagi mahasiswanya.

“Ke depan, UUI akan terus memfasilitasi program-program yang mendukung pengembangan kewirausahaan, sehingga lebih banyak mahasiswa yang terinspirasi untuk menjadi wirausahawan yang sukses dan berdampak bagi masyarakat. Dengan semangat dan inovasi, UUI berharap dapat menciptakan generasi penerus yang mampu membawa perubahan positif bagi Aceh dan Indonesia,” tambahnya.

Berikut adalah daftar 15 mahasiswa UUI yang lolos dalam Program Wirausaha Merdeka Kemendikbudristek Tahun 2024:

  1. Taufik Hidayat (Prodi S1 Kesehatan Masyarakat)
  2. Muhammad Ihsan Hasibuan (Prodi S1 PGSD)
  3. Haruka Hizra Adilla (Prodi S1 PGSD)
  4. Nurul Adilah (Prodi S1 PGSD)
  5. Fatimah Zainab (Prodi S1 PGSD)
  6. Jahara Putri (Prodi S1 PGSD)
  7. Fazia Febriana (Prodi S1 PGSD)
  8. Sulasmi (Prodi S1 PGSD)
  9. Muhammad Risky (Prodi S1 Pendidikan Ilmu Komputer)
  10. Alifa Rahayu (Prodi S1 Kebidanan)
  11. Sulastri Yani (Prodi S1 Kebidanan)
  12. Junius Fajar (Prodi S1 Farmasi)
  13. Siska Sarina Mintia (Prodi S1 Kebidanan)
  14. Syafruddin (Prodi S1 PGSD)
  15. Ananda Saputra (Prodi S1 Akuntansi)

Dengan keberhasilan ini, UUI menegaskan perannya dalam mempersiapkan generasi muda Aceh yang berkompeten dan siap menghadapi tantangan di dunia bisnis. Program Wirausaha Merdeka dinilai mampu memberikan pengalaman berharga, sehingga mahasiswa dapat menjadi wirausaha muda yang tangguh dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

DP3AP2KB Banda Aceh Gandeng SLB TNCC Tingkatkan Layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

0
DP3AP2KB Banda Aceh Gandeng SLB TNCC Tingkatkan Layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam upaya meningkatkan pelayanan dan perlindungan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) The Nanny Children Centre (TNCC), Senin (30/9/2024). Penandatanganan MoU berlangsung di TNCC, dihadiri oleh Kepala DP3AP2KB, Cut Azharida, serta Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak bersama pihak TNCC.

Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat program pemberdayaan dan perlindungan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, terutama terkait akses pendidikan dan layanan yang lebih inklusif. Kepala DP3AP2KB Kota Banda Aceh, Cut Azharida, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan anak-anak dengan disabilitas mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan.

“Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi model bagi SLB lainnya dalam memberikan layanan yang lebih baik dan adil bagi anak-anak dengan disabilitas. Selain itu, MoU ini akan memperkuat sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan dan anak,” ujar Cut Azharida dalam rilis resmi yang diterima pada Selasa (1/10/2024).

Sementara itu, Kepala SLB TNCC Banda Aceh, DM Ria Hidayati, menyambut baik penandatanganan MoU tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan DP3AP2KB sangat penting untuk membangun sistem perlindungan komprehensif bagi siswa berkebutuhan khusus, tidak hanya di bidang pendidikan tetapi juga dalam aspek sosial dan psikologis.

“Kerja sama ini akan memperkuat perlindungan terhadap siswa kami, baik secara pendidikan, sosial, maupun psikologis, agar mereka dapat berkembang dengan maksimal,” kata Ria Hidayati.

MoU ini mencakup beberapa poin penting, antara lain penguatan layanan konsultasi psikologis bagi ABK, peningkatan program pemberdayaan perempuan dan anak melalui pelatihan dan keterampilan, kerja sama dalam penanganan kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap ABK, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan inklusif.

Dengan adanya penandatanganan MoU ini, kedua pihak berkomitmen untuk menjalankan berbagai program secara berkelanjutan, termasuk melakukan pengawasan dan evaluasi bersama guna memastikan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak berkebutuhan khusus di Banda Aceh.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif bagi seluruh anak, di mana mereka bisa tumbuh dan berkembang tanpa hambatan,” tambah Cut Azharida.

Penandatanganan MoU antara DP3AP2KB Kota Banda Aceh dan SLB TNCC ini menjadi harapan baru bagi para anak berkebutuhan khusus agar bisa mendapatkan hak-hak yang setara dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam pendidikan yang inklusif dan layanan sosial yang lebih baik.

Editor: Akil

Persiraja Banda Aceh Boyong 23 Pemain, Incar Poin Penuh di Dua Laga Tandang ke Jawa

0
Pemain Persiraja Banda Aceh di Liga 2 2024-2025. (Foto: PT LIB)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Persiraja Banda Aceh siap menghadapi dua laga tandang di Grup 1 Liga 2 2024-2025 dengan membawa 23 pemain dalam tur ke Jawa. Laskar Rencong akan bertanding melawan PSKC Cimahi pada 2 Oktober di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, dan Persikota Tangerang pada 6 Oktober mendatang.

Pelatih Persiraja Banda Aceh, Akhyar Ilyas, menyampaikan bahwa timnya telah melakukan persiapan matang guna menghadapi kedua laga penting ini.

“Kami sudah melakukan persiapan matang untuk menghadapi dua tim ini. Kami percaya bahwa semua pemain dalam kondisi baik dan siap memberikan yang terbaik di lapangan,” ujar Akhyar sesaat sebelum keberangkatan tim menuju Cimahi, Senin (30/9/2024).

Persiraja saat ini berada di peringkat keempat klasemen sementara Grup 1, dan hasil positif dari kedua laga ini sangat dibutuhkan untuk memperbaiki posisi mereka di papan klasemen.

“Kami ingin meraih poin penuh dari kedua pertandingan ini untuk memperbaiki posisi kami di klasemen,” lanjut Akhyar.

Dalam tur ke Jawa ini, Persiraja memboyong kapten tim, Andik Vermansah. Kehadiran Andik diharapkan bisa memberikan suntikan semangat dan pengalaman bagi tim, terutama bagi para pemain muda yang turut diangkut dalam skuad kali ini.

“Selain memiliki pengalaman, Andik diharapkan dapat memberi kemenangan buat timnya,” tambah Akhyar.

Selain Andik, beberapa pemain muda yang menunjukkan performa menjanjikan juga akan menjadi andalan Persiraja di dua laga tandang ini. Semangat meraih poin penuh menjadi target utama, demi membawa Persiraja semakin dekat dengan posisi puncak klasemen Grup 1 Liga 2.

Editor: Akil