Beranda blog Halaman 87

Fakultas Pertanian USK Lepas 50 Mahasiswa untuk Program Pemberdayaan Pascabencana di Pidie Jaya

0
Fakultas Pertanian USK Lepas 50 Mahasiswa untuk Program Pemberdayaan Pascabencana di Pidie Jaya. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) melepas 50 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Pascabencana Melalui Rehabilitasi Budidaya Udang dan Pengembangan Hidroponik Rumah Tangga di Desa Meunasah Bueng, Kabupaten Pidie Jaya. Pelepasan kegiatan berlangsung di Fakultas Pertanian USK, Sabtu, pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah dosen Fakultas Pertanian USK, di antaranya Dr. rer. hort. Indera Sakti Nasution, S.TP., M.Sc. selaku Wakil Dekan, Mujiburrahmad, S.P., M.Si., Prof. Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc., Ira Manyamsari, S.P., M.Si., serta Alvi Rahmah, S.Pi., M.Si.

Program pemberdayaan ini difokuskan pada upaya pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat pascabencana. Rehabilitasi budidaya udang diarahkan untuk menghidupkan kembali sumber mata pencaharian warga, sementara pengembangan hidroponik rumah tangga ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat Desa Meunasah Bueng diharapkan dapat bangkit secara ekonomi, menjadi lebih produktif, serta memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Dekan Fakultas Pertanian USK kepada Nukilan.id menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi konsep mahasiswa berdampak.

“Program ini mencerminkan semangat ‘mahasiswa berdampak’, yaitu mahasiswa yang hadir dengan solusi nyata bagi masyarakat. Fakultas Pertanian mendorong agar ilmu yang dipelajari di kampus dapat diterapkan langsung untuk membantu pemulihan ekonomi dan pangan pascabencana,” ujarnya.

Sebanyak 50 mahasiswa diterjunkan dalam kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen Fakultas Pertanian USK dalam mendukung pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat, khususnya di wilayah terdampak bencana. (XRQ)

Reporter: Akil

Tradisi Malam Dalail Khairat Tetap Lestari di Gampong Sapik, Kluet Timur

0
Tradisi Malam Dalail Khairat Tetap Lestari di Gampong Sapik, Kluet Timur. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Tradisi malam Dalail Khairat masih dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat Gampong Sapik, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Tradisi ini dilakukan pada malam keempat setelah seseorang meninggal dunia dan dikebumikan.

Amatan Nukilan.id, malam Dalail Khairat dilaksanakan di rumah duka dan dipimpin oleh perangkat masjid setempat. Kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan Dalail Khairat, kitab kumpulan shalawat yang populer di kalangan umat Islam.

Dalail Khairat merupakan amalan yang dibaca untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon syafaat Nabi Muhammad SAW. Kitab ini juga diyakini membawa keberkahan, ketenangan jiwa, dan perlindungan dari api neraka.

Di Gampong Sapik, pelaksanaan malam Dalail Khairat menjadi bagian dari rangkaian tradisi keagamaan yang menyertai peristiwa duka. Setelah pembacaan Dalail Khairat selesai, tuan rumah menyuguhkan hidangan kepada para jamaah yang hadir.

Salah satu hidangan yang disajikan secara turun-temurun adalah apam kuah santan. Sajian tersebut menjadi simbol kebersamaan dan ungkapan terima kasih keluarga duka kepada perangkat masjid dan masyarakat yang telah mendoakan almarhum.

Tradisi malam Dalail Khairat ini hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal dan praktik keagamaan masyarakat Gampong Sapik. (XRQ)

Reporter: Akil

Nazaruddin Dek Gam Percayakan Kursi Pelatih Persiraja kepada Jaya Hartono

0
Jaya Hartono, pelatih kepala baru Persiraja Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Presiden Persiraja Banda Aceh, H. Nazaruddin Dek Gam, resmi menunjuk Jaya Hartono sebagai pelatih kepala baru Persiraja Banda Aceh. Jaya Hartono menggantikan Akhyar Ilyas yang memilih beristirahat sementara untuk fokus mendampingi istrinya yang tengah menjalani pengobatan.

Melansir Serambinews.com, penunjukan Jaya Hartono ditandai dengan penandatanganan kontrak yang berlangsung di Banda Aceh pada Selasa (3/2/2026). Ia akan mulai menangani Laskar Rencong pada putaran ketiga Championship 2025/2026, fase yang menjadi penentuan perjalanan Persiraja musim ini.

Manajemen Persiraja menilai pengalaman serta rekam jejak Jaya Hartono menjadi alasan utama penunjukan tersebut. Pelatih berlisensi A AFC itu dikenal sebagai salah satu pelatih senior di sepak bola nasional.

Jaya Hartono pernah mencatat prestasi gemilang dengan membawa Persik Kediri menjuarai Liga Indonesia musim 2002/03. Selain itu, ia juga sukses mengantar Persib Bandung finis di peringkat ketiga Indonesia Super League (ISL) 2008/09, sekaligus mencatatkan rekor tak terkalahkan hingga 17 pertandingan.

Presiden Persiraja, Nazaruddin Dek Gam, berharap kehadiran Jaya Hartono dapat membawa dampak positif bagi performa tim, khususnya pada fase krusial kompetisi.

“Putaran ketiga adalah fase paling krusial. Kita berharap coach Jaya bisa membawa Persiraja tampil lebih solid dan konsisten,” ujar Dek Gam.

Sementara itu, Jaya Hartono menyatakan kesiapannya mengemban amanah sebagai pelatih kepala Persiraja. Ia menegaskan akan segera beradaptasi dengan kondisi tim dan memaksimalkan persiapan menjelang laga perdana putaran ketiga.

Persiraja dijadwalkan memulai putaran ketiga Championship 2025/2026 dengan laga kandang menghadapi PSPS Pekanbaru di Stadion H. Dimurthala, Lampineung, pada Sabtu, 14 Februari mendatang. Kehadiran Jaya Hartono diharapkan mampu memberikan energi baru bagi Laskar Rencong.

Akhyar Ilyas Izin Istirahat Sementara

Sebelumnya, pelatih kepala Persiraja Banda Aceh, Akhyar Ilyas, memutuskan untuk beristirahat sejenak dari aktivitas kepelatihan musim ini. Keputusan tersebut diambil karena ia ingin memfokuskan diri mendampingi istrinya yang sedang menjalani pengobatan akibat sakit keras.

Presiden Persiraja Banda Aceh, Nazaruddin Dek Gam, menyampaikan bahwa manajemen telah memberikan izin kepada Akhyar Ilyas setelah permohonan tersebut disampaikan usai pertandingan Persiraja menghadapi PSPS Pekanbaru di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh, Sabtu malam (31/1/2026).

“Akhyar Ilyas sudah meminta izin untuk pamit setelah pertandingan Persiraja vs PSPS tadi malam.
Kita memaklumi dan mendoakan semoga istrinya Coach Akhyar diberikan kesembuhan, dan Akhyar bisa fokus merawat istri,” ujar Dek Gam, Minggu (1/2/2026).

Menurut Dek Gam, manajemen Persiraja memahami sepenuhnya kondisi yang dihadapi pelatih kepala tersebut. Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan prioritas utama dan klub memberikan dukungan moral penuh.

“Situasi ini adalah kondisi kemanusiaan. Keluarga tentu lebih utama. Manajemen Persiraja memberikan izin dan dukungan penuh kepada Coach Akhyar untuk mendampingi istri selama masa pengobatan,” tambahnya.

Dek Gam juga mengajak seluruh elemen Persiraja, termasuk pemain dan suporter, untuk mendoakan kesembuhan istri Akhyar Ilyas serta memberikan dukungan moral kepada sang pelatih.

Pakar USK Tegaskan Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole

0
Pakar kebencanaan dan ahli geofisika Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Nazli Ismail, S.Si, M.Si, Ph.D. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pakar kebencanaan dan ahli geofisika Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Nazli Ismail, S.Si, M.Si, Ph.D, menegaskan bahwa lubang besar akibat gerakan tanah di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, bukanlah fenomena sinkhole atau lubang runtuhan akibat kawasan kars.

Menurut Nazli, kondisi tersebut dipicu oleh karakteristik tanah berpasir vulkanik yang masih gembur dan belum mengalami pemadatan sempurna. Pada kondisi tertentu, material ini memang dapat berkembang menjadi batu pasir, namun selama belum memadat, tanah sangat rentan kehilangan daya ikat.

Curah hujan tinggi yang terjadi pada akhir tahun lalu, termasuk yang dipengaruhi oleh siklon Senyar, mempercepat pelepasan ikatan tanah. Kondisi ini menyebabkan runtuhan tanah dan membentuk jurang besar. Selain hujan, pergerakan air tanah dari kawasan tinggi ke rendah turut memperburuk stabilitas lereng, bahkan berpotensi memicu longsor meski tanpa hujan.

“Secara sekilas kita lihat di sana, itu bukan bagian dari sinkhole, Karena kalau sinkhole itu terjadi penurunan tanah akibat dari daerah-daerah kars,” kata Nazli, Rabu (4/2/2026).

Meski wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah dikenal sebagai kawasan kars, Nazli menjelaskan bahwa material penutup di lokasi kejadian berupa pasir vulkanik, sehingga mekanisme kerusakannya berbeda dengan sinkhole pada umumnya.

Ia mengingatkan, tanpa langkah proteksi dan mitigasi yang serius dari pemerintah, pergerakan tanah berpotensi terus meluas, terutama pada musim hujan.

“Tanpa ada proteksi, mitigasi, itu pasti akan terjadi perluasan. Karena kita tahu sekitar situ kan semua tanah berpasir,” tambahnya.

Keberadaan jalan di sekitar lokasi juga dinilai meningkatkan risiko, karena getaran kendaraan dapat memicu longsoran lanjutan. Sebagai langkah awal, Nazli menyarankan pembangunan tanggul penahan, meski membutuhkan biaya besar. Untuk solusi jangka menengah dan panjang, ia menekankan pentingnya reboisasi guna meningkatkan daya ikat tanah.

“Pemerintah daerah bisa mengajak masyarakat, community base untuk melakukan reboisasi di situ. Itu membuat masyarakat sadar bahwa sekeliling mereka itu ada ancaman,” tutupnya.

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, luasan area terdampak lubang raksasa tersebut tercatat sekitar 28.000 meter persegi pada 2022, dan meningkat menjadi 30.172 meter persegi per Januari 2026. Data itu tercantum dalam surat resmi ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026.

Wilayah Aceh Tengah sendiri didominasi oleh batuan dan endapan vulkanik, yang sebagian besar berupa pasir hasil aktivitas gunung api pada masa lalu.

Kemenko PMK Gelar Konsultasi Publik Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Banda Aceh

0
Kemenko PMK Gelar Konsultasi Publik Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Banda Aceh. (Foto: Kemenko PMK)

NUKILA.ID | BANDA ACEH — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar konsultasi publik terkait draft Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera pada Rabu (14/01/2026) di Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Aceh.

Kegiatan ini dihadiri Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Dr. Andre Notohamijoyo, MSM; Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Fadmi Ridwan, SP, MA; Direktur Pembangunan Indonesia Barat Kementerian PPN/Bappenas Dr. rer. nat. Jayadi, S.Si., M.S.E., M.A.; serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Aceh dan para pemangku kepentingan kebencanaan.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo menyampaikan bahwa konsultasi publik ini bertujuan memperkuat substansi draft buku pedoman rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, penanganan pascabencana harus dilakukan secara cepat, tepat, berkelanjutan, dan selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat terdampak.

Andre menjelaskan bahwa Kemenko PMK menginisiasi penyusunan pedoman yang bersifat inklusif dan berkeadilan sebagai acuan bersama bagi kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) di Sumatera.

Pedoman tersebut tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga mencakup aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

“Proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya berbicara soal bangunan, jalan, atau fasilitas umum, namun juga mencakup proses pemulihan masyarakat secara menyeluruh”, ujar Andre.

Ia menambahkan, pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat harus menghormati kearifan lokal dan budaya setempat, serta menyentuh seluruh lapisan masyarakat terdampak, mulai dari petani yang kehilangan lahan dan irigasi, pelaku UMKM yang usahanya terdampak, hingga warga yang harus direlokasi dari zona rawan bencana.

Penyusunan pedoman ini dilakukan secara partisipatif dan tidak bersifat top-down, dengan melibatkan masukan dari masyarakat, organisasi sipil, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Selain itu, pemerintah menegaskan bahwa penataan ruang dan zonasi aman bencana menjadi landasan utama dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya pemulihan juga dilaksanakan melalui kerja lintas kementerian dan lembaga, dengan tujuan tidak hanya memulihkan kondisi sebelum bencana, tetapi membangun masyarakat yang lebih tangguh dan mandiri di masa depan.

Bareskrim Polri Selidiki Tujuh Perusahaan Terkait Banjir Bandang Aceh

0
Tumpukan gelondongan kayu pasca bajir di Aceh Tamiang. (Foto: CNN INDONESIA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Bareskrim Polri resmi meningkatkan penanganan kasus dugaan tindak pidana lingkungan dan pembalakan liar yang diduga menjadi pemicu banjir bandang serta longsor di Aceh ke tahap penyidikan. Dalam perkara ini, terdapat tujuh perusahaan yang terseret, meski identitasnya belum diungkap ke publik.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Moh. Irhamni, membenarkan peningkatan status hukum tersebut.

“Iya ada tujuh perusahaan naik sidik (penyidikan),” ujar Irhamni dikutip dari Tirto, Rabu (4/2/2026).

Irhamni menjelaskan, ketujuh perusahaan tersebut diproses berdasarkan tujuh laporan polisi yang berbeda. Sebelum naik ke tahap penyidikan, tim penyidik telah melakukan klarifikasi serta pengumpulan bukti langsung ke lapangan.

Menurutnya, hingga kini penyidik masih terus melengkapi alat bukti. Dari hasil sementara, perusahaan-perusahaan tersebut diduga melakukan tindak pidana yang berbeda-beda.

“Tiga tindak pidana lingkungan hidup dan empat tindak pidana pembalakan liar,” kata Irhamni.

Sebelumnya, tim dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri telah turun ke Aceh Tamiang untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang. Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari aktivitas pembalakan liar.

Irhamni menyebutkan, penyelidikan dilakukan dengan menelusuri aliran sungai yang membawa kayu gelondongan serta mencocokkannya dengan temuan di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang.

“Kemungkinan identifikasi kami adalah kegiatan-kegiatan pembukaan lahan di hutan lindung, Hutan Lindung Serba Jadi ataupun Hutan Lindung Simpang Jernih,” ungkap Irhamni kepada wartawan, dikutip Selasa (6/1/25).

Ia memastikan penyidik terus berupaya mengumpulkan informasi guna memperkuat proses hukum hingga tahap penyidikan. Informasi terkait pembukaan lahan tersebut juga diperoleh dari tokoh masyarakat dan aparat setempat.

“Tentunya legal tidak menurut kemungkinan juga adanya gampang lingkungan yang rusak ataupun apalagi kalau itu ilegal,” kata Irhamni.

Angin Puting Beliung Persulit Pemadaman Karhutla di Aceh Barat

0
Petugas pemadam karhutla di Aceh barat ketika memadamkan api di gampong Lapang (Foto: BPBD Aceh Barat)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Aceh Barat dengan total 14 titik api. Dari jumlah tersebut, 13 titik telah berhasil dipadamkan, sementara satu titik lainnya masih dalam proses penanganan. Luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 58 hektare.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan bahwa upaya pemadaman saat ini difokuskan pada titik api yang masih aktif. Petugas di lapangan terus berupaya mencegah api meluas, terutama ke kawasan yang sulit dijangkau.

Dalam proses pemadaman, petugas menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca ekstrem. Selain suhu udara yang panas, angin kencang bertiup di sekitar lokasi kebakaran. Bahkan, petugas sempat mendeteksi adanya angin puting beliung yang melintas di area pemadaman.

“Angin di lokasi karhutla sangat kencang, dan petugas lapangan juga pernah menemukan adanya angin puting beliung di lokasi Pemadaman,” kata Ronal ketika dikutip dari RRI, pada Selasa sore 3 februari 2026.

BPBD Aceh Barat mencatat, perubahan arah angin yang berlangsung cepat menyebabkan api mudah berpindah dan membesar di sejumlah titik. Meski demikian, tim gabungan tetap melakukan pemadaman darat secara intensif dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD Aceh Barat sebelumnya juga telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan perluasan kebakaran serta mempercepat penanganan karhutla guna meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Wali Nanggroe dan BPJS Kesehatan Perkuat Komitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan di Aceh

0
Wali Nanggroe dan BPJS Kesehatan Perkuat Komitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan di Aceh. (Foto: HUMAS LWN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Malik Mahmud Al-Haythar bersama BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah I membahas peningkatan mutu serta perluasan akses layanan kesehatan di Aceh.

Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (3/2/2026) di Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar.

Dalam pertemuan itu, Wali Nanggroe menyoroti kondisi Aceh pascabencana yang dinilai membutuhkan perhatian serius, khususnya di sektor kesehatan. Ia mengingatkan potensi munculnya penyakit di tengah masyarakat setelah bencana, sehingga perlu langkah konkret dalam memperluas akses serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

“Diperlukan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan mutu layanan pada fasilitas kesehatan di Aceh secara maksimal. Apalagi saat ini kondisi Aceh telah mengalami masa konflik dan bencana alam hidrometeorologi yang berdampak pada psikologis dan kesehatan masyarakat. Harapannya masyarakat yang terdampak bencana harus mendapatkan layanan kesehatan mudah dan cepat, oleh karena itu diperlukan perluasan akses layanan pada fasilitas kesehatan,” jelas Wali Nanggroe.

Ia didampingi Staf Khusus Wali Nanggroe M. Raviq dan Anggota Majelis Tuha Peut Sulaiman Abda.

Sementara itu, Asisten Deputi Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah I, Neni Fajar, bersama Asisten Deputi Kepesertaan dan Mutu Layanan Rasinta Ria Ginting menyatakan dukungan terhadap upaya perluasan akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat terdampak bencana.

“BPJS Kesehatan siap mendukung apa yang telah disampaikan oleh Wali Nanggroe untuk memperluas pelayanan di fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan terutama bagi masyarakat yang berdampak pada bencana. Kemudian peningkatan mutu layanan kesehatan juga menjadi hal penting untuk diberikan kepada masyarakat agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal,” ungkap Neni.

Terkait pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), BPJS Kesehatan menegaskan dukungan terhadap kebijakan Pemerintah Aceh agar program tersebut yang terintegrasi dengan JKN dapat terus berlanjut.

Selain itu, BPJS Kesehatan berharap Aceh mampu mempertahankan predikat Universal Health Coverage (UHC) Kategori Utama dari sisi kepesertaan.

Neni menyebut, sepanjang 2025 tercatat rata-rata 46.000 warga setiap hari mengakses layanan kesehatan di Aceh, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit.

“Tidak hanya dari peserta JKA namun semua segmen peserta. Kemudian untuk keberlangsungan Program JKA, BPJS Kesehatan mendukung setiap keputusan Pemerintah Aceh untuk terus dapat memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat Aceh. Apalagi dari sisi kepesertaan sejak tahun 2010 terus mendapatkan Predikat Universal Health Coverage (UHC) Kategori Utama artinya Pemerintah Aceh terus konsisten untuk memberikan perlindungan dibidang kesehatan,” kata Neni.

USK Kirim 50 Mahasiswa Pulihkan Kesehatan Warga Pascabencana di Blang Awe

0
USK Kirim 50 Mahasiswa Pulihkan Kesehatan Warga Pascabencana di Blang Awe. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian masyarakat dengan mengirimkan 50 mahasiswa melalui program Mahasiswa Berdampak Pemulihan Bencana ke Desa Blang Awe, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Program ini difokuskan pada pemulihan persoalan kesehatan masyarakat pascabencana serta penguatan pemberdayaan warga setempat.

Pelepasan mahasiswa dilaksanakan di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Minggu (1/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Tim Pelaksana dr. Hendra Kurniawan, M.Sc., Sp.P(K), jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran USK, serta para orang tua mahasiswa.

Mahasiswa secara resmi dilepas oleh Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa program Mahasiswa Berdampak tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga wujud kepedulian nyata USK terhadap masyarakat terdampak bencana.

“Program Mahasiswa Berdampak ini merupakan bentuk nyata kepedulian USK dalam membantu pemulihan kesehatan masyarakat Aceh pascabencana. Mahasiswa diharapkan mampu belajar langsung dari permasalahan riil di lapangan sekaligus memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Rina.

Ketua Tim Pelaksana, dr. Hendra Kurniawan, M.Sc., Sp.P(K), kepada Nukilan.id menjelaskan bahwa selama berada di Desa Blang Awe, mahasiswa akan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan kesehatan masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi edukasi kesehatan, peningkatan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pendampingan warga, serta identifikasi masalah kesehatan yang muncul akibat bencana.

“Mahasiswa tidak hanya melakukan edukasi, tetapi juga mendampingi masyarakat dan mengidentifikasi persoalan kesehatan yang muncul pascabencana,” kata Hendra.

Ia juga berharap para mahasiswa mampu berinteraksi secara aktif dengan masyarakat, menjunjung tinggi etika, serta menjaga nama baik Universitas Syiah Kuala selama menjalankan program pengabdian.

Pelepasan mahasiswa Berdampak ini turut disaksikan para orang tua yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Melalui program ini, USK berharap kehadiran mahasiswa dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Blang Awe, khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Gusmawi Mustafa: Dugaan Pelecehan di Angkutan Umum Jadi Peringatan Serius Perlindungan Perempuan di Aceh

0
Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi di dalam angkutan umum Hiace rute Nagan Raya–Banda Aceh mendapat sorotan luas. Peristiwa ini dinilai menunjukkan masih rapuhnya perlindungan keamanan perempuan di ruang publik, khususnya pada transportasi umum.

Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa, kepada NUKILAN.ID menyebut peristiwa tersebut sebagai peringatan keras bagi pemerintah, aparat penegak hukum, serta pengelola angkutan umum di Aceh.

“Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ini alarm keras. Perempuan harus bisa bepergian dengan aman, tanpa rasa takut, tanpa ancaman. Kasus ini harus menjadi yang terakhir, jangan ada korban baru,” kata Gusmawi Mustafa, Rabu (4/2/2026).

Menurut Gusmawi, kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban, masa depan pendidikan, serta rasa aman perempuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ia juga menyoroti dugaan bahwa pelaku merupakan oknum aparatur sipil negara (ASN) dari Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh. Fakta tersebut, kata Gusmawi, semakin melukai rasa keadilan publik.

“Ironis dan menyakitkan. Kalau benar dugaan itu terbukti, maka ini adalah tamparan bagi kita semua. Syariat Islam harus menjadi pelindung, bukan kontradiksi. Syariat bukan hanya simbol, tapi harus terasa dalam bentuk keamanan nyata bagi perempuan,” tegasnya.

Gusmawi menegaskan bahwa nilai-nilai Syariat Islam sejatinya menempatkan penghormatan terhadap kehormatan perempuan sebagai prinsip utama, termasuk menjaga batas pergaulan dan mencegah segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia.

Ia mendesak aparat penegak hukum menangani kasus ini secara serius, transparan, dan adil tanpa memandang jabatan maupun status sosial pihak yang terlibat.

“Kami mendesak penanganan secara khusus, pengawalan ketat, serta penegakan hukum yang adil. Siapapun pelakunya, apapun posisinya, hukum harus tegak. Korban harus dipulihkan, pelaku harus dihukum sesuai aturan,” ujarnya.

Selain proses hukum, Gusmawi menekankan pentingnya pendampingan menyeluruh bagi korban, baik secara hukum maupun psikologis.

“Korban jangan dibiarkan berjalan sendiri. Negara wajib hadir memastikan korban mendapatkan pendampingan, perlindungan, dan pemulihan trauma,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menilai kasus ini juga mencerminkan lemahnya sistem pencegahan di sektor transportasi umum. Ia meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan (Dishub) bersama Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengambil langkah konkret dan berkelanjutan.

“Dishub dan Organda harus hadir. Jangan menunggu viral baru bertindak. Harus ada SOP perlindungan penumpang, audit armada, pendataan sopir, pengawasan rute, dan sistem pelaporan darurat. Ini harus jadi program serius,” kata Gusmawi.

Ia juga mendorong penerapan konsep angkutan ramah perempuan dan anak, di antaranya melalui penyediaan kursi prioritas, pengemudi yang terdata dan tersertifikasi, identitas armada yang jelas, hingga penggunaan alat pemantau dan sistem darurat.

Gusmawi turut membuka opsi penyediaan angkutan khusus perempuan sebagai langkah perlindungan tambahan.

“Perlu dipikirkan opsi angkutan khusus perempuan, dengan sopir yang sudah dikenal dan terdata jelas. Ini bukan diskriminasi, ini perlindungan. Karena faktanya, risiko pelecehan itu nyata dan berulang,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengajak masyarakat agar tidak bersikap pasif jika melihat indikasi ancaman terhadap perempuan di angkutan umum.

“Kalau melihat ada perempuan ketakutan, ada yang gelisah, atau ada tindakan tidak wajar di kendaraan, jangan diam. Jadilah pelindung. Karena bisa jadi itu anak kita, saudara kita, keluarga kita,” katanya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar lebih waspada ketika melepas anak perempuan bepergian jauh seorang diri, terutama pada jam-jam rawan.

“Kalau bisa didampingi keluarga terdekat, dampingi. Kalau tidak, pastikan kendaraan yang digunakan aman, sopirnya dikenal, dan rute perjalanannya jelas. Jangan sampai kita menyesal setelah musibah terjadi,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Gusmawi menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum pembenahan sistem perlindungan perempuan di Aceh.

“Kami tidak ingin ada korban baru. Kasus ini harus menjadi kasus terakhir. Aceh harus menjadi tempat yang aman bagi perempuan. Syariat Islam harus hadir dalam bentuk perlindungan nyata, bukan hanya slogan,” pungkas Gusmawi Mustafa. (XRQ)

Reporter: Akil