Beranda blog Halaman 867

Tokoh Kristen dan Buddha Apresiasi Syariat Islam: Gang Mabok Kini Tinggal Kenangan

0
Tokoh Kristen dan Buddha Apresiasi Syariat Islam. (Foto: AcehTrend)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penerapan Syariat Islam di Aceh tidak hanya membawa perubahan dalam kehidupan umat Muslim, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih aman dan kondusif bagi semua penduduk. Salah satu bukti nyata dari perubahan ini adalah hilangnya fenomena “Gang Mabok” yang dulu terkenal sebagai pusat peredaran minuman keras di Banda Aceh.

Drh Idaman Sembiring, seorang tokoh Kristen di Aceh, mengungkapkan bahwa Banda Aceh di masa lalu tidak tertib secara sosial, di mana judi dan mabuk-mabukan menjadi masalah yang cukup serius.

“Dulu, hingga era 1990-an, Banda Aceh memiliki tempat peredaran minuman keras yang dikenal dengan nama Gang Mabok,” kata Idaman dalam pertemuan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Banda Aceh, Rabu (16/10/2024).

Menurut Idaman, kawasan yang terletak di Peunayong tersebut dikenal sebagai tempat transaksi minuman keras secara ilegal.

“Gang Mabok adalah cerita kelam masa lampau sebelum Syariat Islam diterapkan. Kini, setelah penerapan Syariat, tidak ada lagi tempat untuk pemabuk di Aceh,” jelasnya.

Dia menambahkan, Syariat Islam tidak hanya menciptakan suasana yang aman, tetapi juga mendukung keharmonisan antarumat beragama.

“Minuman keras dilarang dalam semua agama, dan pelarangan ini ikut membantu kami, umat non-Muslim, semakin taat pada agama kami masing-masing,” ucap Idaman yang merupakan pensiunan PNS Pemko Banda Aceh.

Hal serupa disampaikan oleh Yuswar, tokoh agama Buddha di Banda Aceh. Yuswar mengakui bahwa dulu bukan hanya Gang Mabok, tapi juga ada satu tempat lagi di bawah jembatan yang menjadi lokasi peredaran minuman keras.

“Sekarang tempat-tempat itu sudah hilang, dan Banda Aceh menjadi jauh lebih nyaman,” ungkap Yuswar, seorang pengusaha percetakan di Kedah, Banda Aceh.

Ketua FKUB Aceh, Haji Hamid Zein SH MH, menyampaikan apresiasi terhadap semua pemeluk agama di Aceh yang telah berkontribusi menciptakan suasana harmonis. “Toleransi beragama di Aceh sangat baik, dan hal ini perlu terus dijaga,” katanya.

Syariat Islam di Aceh, meskipun awalnya sempat memunculkan kekhawatiran bagi sebagian pihak, kini diakui memberikan dampak positif tidak hanya bagi umat Muslim, tetapi juga bagi seluruh penduduk Aceh yang menginginkan lingkungan sosial yang tertib dan aman.

Editor: Akil

Aceh Besar Targetkan Luas Tanam 25.692 Hektare pada Musim Rendeng

0
Aceh Besar Targetkan Luas Tanam 25.692 Hektare pada Musim Rendeng. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menargetkan luas tanam padi pada musim rendeng periode Oktober 2024 hingga Maret 2025 mencapai 25.692 hektare. Target ini diupayakan untuk mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan petani setempat.

“Insya Allah, kami berkomitmen memberikan pendampingan agar target luas tanam di 23 kecamatan dapat terealisasi seluruhnya,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Aceh Besar, Agus Rizal, Rabu (16/10/2024) di Lambaro.

Agus menjelaskan, hingga Oktober 2024, realisasi tanam padi sudah mencapai 300 hektare dari target bulanan sebesar 1.000 hektare. Ia optimistis target luas tanam musim rendeng akan tercapai karena daerah sentral pertanian di Aceh Besar sudah mulai bergerak melakukan penanaman.

Selain pendampingan, Dinas Pertanian Aceh Besar juga memberikan bantuan benih kepada petani untuk lahan seluas 6.000 hektare.

“Ini bagian dari upaya kami meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” ujar Agus.

Ia menambahkan, peningkatan indeks tanam dan pendampingan dari penyuluh diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola lahan, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan saat panen. Target produktivitas panen musim ini adalah 7,2 ton per hektare.

Aceh Besar memiliki luas lahan persawahan mencapai 25.692 hektare, terdiri dari 16.904 hektare lahan irigasi dan 8.770 hektare sawah tadah hujan.

Editor: Akil

Kolaborasi Pentahelix Dorong Pariwisata Berkelanjutan di Aceh Tengah

0

NUKILAN.id | Takengon – Demi mencapai pariwisata berkelanjutan di Aceh Tengah, konsep kolaborasi Pentahelix mulai diangkat sebagai model pembangunan yang melibatkan lima elemen kunci. Dialog bertema “Penguatan Kolaborasi Pentahelix dalam Mewujudkan Sustainable Tourism di Aceh Tengah” yang digelar oleh RRI Takengon, Selasa (15/10/2024), menyoroti peran penting kolaborasi ini dalam menjaga alam dan budaya lokal.

Dalam diskusi tersebut, dua pakar dari IAIN Takengon, Dr. Ramdansyah Fitrah, M.Si., dan Fachrur Rizha, M.I.Kom., memaparkan pentingnya keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dalam mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan serta berkelanjutan secara sosial dan ekonomi.

Dr. Ramdansyah menekankan bahwa Danau Laut Tawar, salah satu ikon wisata Aceh Tengah, memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi kelas dunia. Namun, ia mengingatkan agar pengelolaan sumber daya ini dilakukan secara bijak.

“Pengembangan pariwisata tidak boleh mengorbankan kelestarian alam dan budaya lokal. Kolaborasi Pentahelix bisa menjadi solusi efektif untuk mencapainya,” ujarnya.

Sementara itu, Fachrur Rizha menyoroti peran media sebagai kunci edukasi masyarakat tentang pariwisata berkelanjutan.

“Media tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga berperan dalam mempromosikan potensi wisata Aceh Tengah di tingkat nasional maupun internasional. Ini akan berdampak besar jika diiringi dengan kesadaran menjaga lingkungan,” ungkap Fachrur.

Kedua narasumber sepakat bahwa pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga mengenai dampak sosial, budaya, dan lingkungan. Komunitas lokal diharapkan terlibat aktif dalam menjaga keasrian destinasi wisata, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Dialog ini diharapkan mampu mendorong komitmen semua pihak untuk berperan aktif dalam menciptakan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga warisan alam dan budaya Aceh Tengah bagi generasi mendatang.

Editor: Akil

BSIP Aceh Fokus Kembangkan Varietas Tanaman Sesuai Iklim untuk Jaga Ketahanan Pangan

0
BSIP Aceh Fokus Kembangkan Varietas Tanaman Sesuai Iklim untuk Jaga Ketahanan Pangan. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Aceh terus memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut dengan menyesuaikan varietas tanaman terhadap kondisi iklim lokal. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BSIP Aceh, Firdaus, S.P., M.Si., dalam peringatan Hari Pangan Sedunia pada program “Banda Aceh Pagi” yang disiarkan oleh RRI Banda Aceh, Rabu (16/10/2024).

Firdaus menekankan pentingnya riset dan teknologi dalam mendorong produktivitas pertanian di Aceh, terutama di tengah tantangan perubahan iklim.

“Kami fokus mengembangkan varietas unggul lokal yang sesuai dengan iklim dan tanah Aceh. Teknologi ini akan membantu meningkatkan hasil pertanian secara berkelanjutan,” jelasnya.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan BSIP Aceh adalah menyusun kebijakan berbasis penelitian ilmiah, sehingga setiap kebijakan yang diambil tepat sasaran. Firdaus menambahkan, program utama yang diinisiasi adalah Sekolah Lapang, yang mengajarkan petani teknik budidaya modern, penggunaan pupuk organik, serta pengelolaan hasil panen secara efisien.

“Melalui Sekolah Lapang, petani tidak hanya mendapat ilmu baru, tetapi juga keterampilan untuk menjaga keberlanjutan lahan,” ujar Firdaus.

Selain itu, BSIP Aceh turut mendukung pembentukan Kelompok Tani Mandiri yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga distribusi hasil pertanian. Dengan demikian, para petani dapat memperoleh keuntungan lebih besar sekaligus mandiri dalam mengelola panennya.

Akses ke Wilayah Terpencil Jadi Prioritas

Menyadari tantangan geografis Aceh yang beragam, BSIP Aceh juga memastikan distribusi pangan ke wilayah terpencil berjalan lancar. Untuk itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sektor swasta dilakukan untuk membangun infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan yang memudahkan akses.

“Kami berupaya agar petani di daerah sulit dijangkau dapat mandiri memenuhi kebutuhan pangan komunitasnya,” kata Firdaus.

Teknologi turut memegang peranan penting dalam mendorong peningkatan produksi pangan di Aceh. Inovasi seperti sistem irigasi efisien, pemetaan lahan dengan drone, hingga aplikasi pertanian pintar telah diterapkan untuk memantau kesehatan tanaman dan cuaca. Firdaus menjelaskan,

“Semua teknologi ini membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sehingga Aceh bisa menghasilkan pangan lebih banyak dengan sumber daya yang terbatas.”

Hadapi Perubahan Iklim dengan Inovasi

Perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian di Aceh. Firdaus menyebutkan bahwa BSIP Aceh berkomitmen mengembangkan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir.

“Kami terus menciptakan inovasi untuk sistem pertanian yang berkelanjutan, yang mampu menjaga ekosistem dan kesuburan tanah jangka panjang,” katanya.

BSIP Aceh juga mendorong diversifikasi tanaman pangan guna mengurangi ketergantungan pada padi. Firdaus mengimbau petani untuk menanam jagung, kacang-kacangan, hingga hortikultura sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Diversifikasi ini mengurangi risiko gagal panen dan memperkuat ketahanan pangan secara menyeluruh,” jelasnya.

Tanggapan Positif dari Petani

Menurut Firdaus, respons petani terhadap program BSIP Aceh cukup positif. Para petani antusias saat melihat hasil panen meningkat berkat penerapan teknologi baru. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan dan pola pikir petani yang masih bertahan dengan metode tradisional.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan pendampingan intensif agar para petani mau beradaptasi dengan teknologi baru,” ucapnya.

BSIP Aceh juga menjalin kemitraan dengan pihak swasta dan institusi pendidikan untuk mempercepat inovasi di sektor pertanian.

“Kolaborasi dengan universitas dan lembaga riset memungkinkan kami memperkenalkan teknologi terbaru, sementara sektor swasta membantu mempercepat distribusi dan investasi,” pungkas Firdaus.

Dengan berbagai langkah tersebut, BSIP Aceh optimis bisa memperkuat ketahanan pangan provinsi di tengah berbagai tantangan, baik dari segi iklim maupun infrastruktur.

Editor: Akil

Apresiasi Dukungan Prabowo, Mualem–Dek Fadh Pastikan Program Nasional Berjalan di Aceh

0
Mualem–Dek Fadh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Calon Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dan Calon Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) menyampaikan apresiasi kepada juru bicara Prabowo Subianto, Daniel Simanjuntak, atas pernyataan dukungan Presiden terpilih Prabowo kepada mereka. Dukungan ini dinilai sebagai sinyal positif bagi pembangunan Aceh ke depan.

“Dukungan ini tentu sangat berarti bagi masyarakat Aceh,” kata Mualem, Rabu (16/10/2024).

Menurutnya, dengan dukungan presiden terpilih, visi Aceh Islami, maju, bermartabat, dan berkelanjutan akan lebih mudah diwujudkan.

“Program-program yang kami rancang akan lebih mudah diimplementasikan dengan adanya hubungan yang kuat antara pemerintah daerah dan pusat,” tambahnya.

Mualem juga mengakui bahwa hubungan pribadinya dengan Prabowo telah terjalin sejak lama, meskipun pernah berseberangan selama konflik Aceh.

“Setelah perdamaian, hubungan kami semakin erat dan saling mendukung,” ujarnya.

Sejak Prabowo mencalonkan diri sebagai Presiden RI, Mualem selalu berada di barisan pendukung. Pada setiap kampanye Pilpres di Aceh, Mualem menjadi salah satu juru kampanye utama. Begitu pula dalam setiap kontestasi Pilkada Aceh, Prabowo selalu memberikan dukungan kepada Mualem.

Hal serupa disampaikan oleh Fadhlullah (Dek Fadh), calon wakil gubernur yang mendampingi Mualem. Dek Fadh menyatakan bahwa dukungan dari Prabowo merupakan kabar baik bagi Aceh.

“Ini merupakan sinyal politik yang jelas dan terang,” katanya.

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Aceh, Dek Fadh menegaskan bahwa program-program nasional yang diusung Prabowo akan dijalankan dengan baik di Aceh.

“Seluruh program Presiden terpilih berhubungan langsung dengan kebutuhan rakyat Indonesia, termasuk di Aceh. Bahkan, beliau memiliki program khusus untuk membangun Aceh,” ucapnya.

Dek Fadh memastikan bahwa seluruh visi dan misi pasangan Mualem–Dek Fadh sejalan dengan program-program Prabowo.

“Kami akan menjalankan seluruh program tersebut di Aceh, karena semuanya sudah sesuai dengan alurnya,” tambahnya.

Sementara itu, Daniel Azhar Simanjuntak, juru bicara Prabowo Subianto, menyatakan dukungan penuh dari Prabowo kepada pasangan Mualem–Dek Fadh dalam Pilkada Aceh 2024. Menurut Daniel, Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra akan mengerahkan semua upaya untuk memastikan kadernya menang di Aceh.

“Bapak Prabowo ingin Mualem–Dek Fadh menjadi perpanjangan tangan beliau di Aceh, agar pembangunan di provinsi ini sesuai dengan visi yang Islami dan rahmatan lil alamin,” kata Daniel.

Prabowo juga berharap rakyat Aceh memberikan dukungan penuh kepada pasangan ini pada Pilkada mendatang. Daniel menekankan bahwa Aceh, dengan segala potensinya, bisa menjadi contoh provinsi yang sukses menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan dukungan dari pemerintah pusat, pasangan Mualem–Dek Fadh optimistis program-program pembangunan di Aceh akan berjalan lancar dan membawa perubahan signifikan bagi masyarakat.

Editor: Akil

Tim BKSDA Berhasil Pasang GPS Collar pada Gajah Liar di Aceh Barat

0
Tim BKSDA Berhasil Pasang GPS Collar pada Gajah Liar di Aceh Barat. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Meulaboh – Tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, bersama tim gabungan dari WRU BPBD Aceh Barat, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (USK), serta Balai DRH PKSL Aceh, berhasil memasang GPS Collar pada seekor gajah liar betina di Desa Babah Meulaboh, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, Selasa (15/10/2024).

Plt Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengatakan bahwa pemasangan alat pelacak ini dilakukan untuk memantau pergerakan gajah liar agar tidak mengganggu pemukiman warga.

“Dengan adanya GPS Collar, pergerakan gajah dapat terpantau secara real-time sehingga kita bisa mencegahnya masuk ke wilayah permukiman,” jelas Ronald kepada wartawan di Meulaboh.

GPS Collar merupakan teknologi modern yang digunakan untuk melacak satwa liar, dilengkapi dengan penerima GPS internal yang memantau posisi hewan secara langsung. Langkah ini dinilai sangat penting untuk mengatasi konflik antara manusia dan satwa, khususnya di kawasan yang sering mengalami gangguan dari gajah liar.

Proses Pemasangan

Sebelum pemasangan dilakukan, tim pengintai berhasil menemukan rombongan gajah di sekitar Gunung Manyang, Kecamatan Pante Ceureumen. Setelah melaporkan temuan tersebut, tim khusus penembak bius segera turun tangan.

“Gajah betina dewasa dengan berat sekitar 1.495 kilogram berhasil dilumpuhkan menggunakan obat bius,” kata Ronald.

Setelah gajah tertidur, tim langsung memasang GPS Collar pada hewan tersebut. Gajah yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun ini kini terus dipantau untuk melihat respons terhadap alat pelacak tersebut.

Patroli dan Monitoring

Tim gabungan yang terlibat dalam operasi ini akan berada di lokasi selama dua hari untuk memastikan alat pelacak berfungsi dengan baik.

“Kami masih di lokasi hingga 16 Oktober 2024 untuk memastikan GPS terpasang sesuai prosedur, sekaligus melakukan patroli di wilayah sekitar Gampong Lawet, Lango, dan Canggai,” ujar Ronald.

Patroli ini juga bertujuan untuk memantau pergerakan kawanan gajah lainnya yang mungkin berada di sekitar wilayah tersebut.

Dengan adanya pemantauan yang lebih intensif melalui GPS Collar ini, diharapkan interaksi antara gajah liar dan penduduk dapat diminimalkan.

“Kami akan terus memonitor perkembangan dan memastikan pergerakan gajah berada dalam zona aman,” tutup Ronald.

Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mengatasi konflik satwa liar di Aceh Barat dan sekitarnya.

Editor: Akil

Jokowi Soroti Harga Murah Tas Anyaman Karya Anak Aceh, Bandingkan dengan Brand Mewah

0
Presiden Jokowi Resmikan Gedung Anak Muda Aceh Unggul Hebat Amanah di Aceh Besar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Presiden Joko Widodo mengungkapkan keprihatinannya saat mengetahui tas anyaman karya anak Aceh dari program Anak Muda Aceh Unggul Hebat (Amanah) hanya dijual seharga Rp600 ribu. Menurutnya, tas dengan kualitas dan desain sebagus itu seharusnya dapat dijual dengan harga jauh lebih tinggi.

“Saya agak sedih, barang ini (menunjukkan tas anyaman karya anak Aceh),tidak kalah dengan Chanel atau Louis Vuitton,” kata Jokowi dalam sambutannya saat meresmikan gedung Anak Muda Aceh Unggul Hebat di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Selasa (15/10/2024).

Jokowi membandingkan harga tas-tas branded yang sering kali mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, seperti Chanel dan Louis Vuitton, dengan harga tas buatan anak Aceh yang dinilainya sangat murah.

“Chanel dan Louis Vuitton bisa dijual Rp50 juta, Rp100 juta, bahkan Rp500 juta. Tapi tas karya anak Aceh ini hanya Rp600 ribu,” ujarnya, menyayangkan.

Presiden menilai tas tersebut tidak hanya memiliki desain yang menarik, tetapi juga pengerjaan yang sangat rapi. Ia meyakini, jika tas anyaman itu dijual dengan harga yang lebih tinggi, terutama di Jakarta, pasti akan banyak yang berminat.

“Coba harganya dinaikkan. Barang sebagus itu, kalau di Jakarta, dalam harga jutaan rupiah saja pasti laku. Karena desainnya bagus sekali,” lanjutnya.

Tidak hanya tas, Jokowi juga mengapresiasi hasil karya anak-anak Aceh lainnya yang dipamerkan di acara tersebut. Ia bahkan sempat memakai jaket hasil karya anak Aceh dari program Amanah, yang dinilainya juga memiliki kualitas tinggi.

“Jaket yang saya pakai tadi harganya Rp2,5 juta. Menurut saya, untuk desain sebagus itu, masih sangat murah,” kata Jokowi.

Presiden juga mengungkapkan kekagumannya atas inovasi dan kreativitas anak muda Aceh dalam berbagai bidang, terutama di sektor fashion, khususnya fashion muslim.

“Hari ini saya betul-betul sangat kagum atas inovasi dan kreativitas anak-anak muda di Aceh, baik itu di urusan fashion, utamanya muslim fashion,” ungkap Jokowi.

Program Amanah sendiri bertujuan untuk mendukung perkembangan kreativitas dan inovasi anak muda Aceh, dengan harapan mampu mendorong produk-produk lokal agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Editor: Akil

USK dan ILO Kerja Sama Perkuat Ekosistem Minyak Nilam Aceh

0
USK dan ILO Kerja Sama Perkuat Ekosistem Minyak Nilam Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) menggandeng International Labour Organization (ILO) dalam upaya memperkuat ekosistem rantai minyak nilam di Aceh. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta memaksimalkan potensi minyak nilam Aceh di pasar global.

Rektor USK, Prof Marwan, menjelaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu penghasil minyak nilam berkualitas di dunia.

“Aceh telah dikenal sebagai produsen minyak nilam sejak awal abad ke-20. Melalui kerja sama ini, kami merancang rencana induk untuk memperkuat ekosistem minyak nilam, yang tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga memperkuat ekonomi lokal,” ujar Marwan dalam konferensi pers di Banda Aceh, Selasa (15/10/2024).

Peningkatan Harga dan Kesejahteraan Petani

Menurut Marwan, sejak USK mulai fokus pada pengembangan nilam 10 tahun lalu, terjadi peningkatan signifikan dalam kesejahteraan petani. Sebelumnya, harga minyak nilam hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram. Namun, saat ini, harga tersebut telah melonjak hingga Rp2,3 juta per kilogram.

“Nilam Aceh sangat diminati oleh industri dunia, dan ini adalah potensi besar yang harus kita optimalkan. Tujuan kami adalah membuat sektor ini berkelanjutan, sehingga mampu terus memberikan nilai tambah bagi para petani,” jelasnya.

Pelatihan dan Akses Pasar Global

Simrin C Singh, Direktur ILO Indonesia dan Timor Leste, menambahkan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan komprehensif, termasuk akses ke pasar internasional dan peningkatan fasilitas keuangan bagi para petani.

“Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi petani nilam di Aceh. Kami berkomitmen untuk mempersiapkan dasar bagi rantai ekosistem minyak nilam yang berkelanjutan dan memberikan dukungan penuh kepada petani dalam mengakses pasar global,” kata Singh.

Singh juga menegaskan bahwa minyak nilam Aceh memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.

“Dengan kerja sama ini, kami berharap ekosistem minyak nilam di Aceh dapat terus berkembang dan membawa manfaat jangka panjang bagi petani serta seluruh komunitas di Aceh,” tutup Singh.

Potensi Besar Minyak Nilam

Minyak nilam telah menjadi komoditas penting di pasar internasional, digunakan dalam berbagai industri seperti parfum, kosmetik, dan farmasi. Dengan kualitasnya yang tinggi, minyak nilam Aceh memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar global.

Melalui kerja sama antara USK dan ILO, diharapkan minyak nilam Aceh semakin mendapatkan pengakuan di pasar internasional dan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Aceh.

Editor: Akil

Penanganan Banjir Aceh Masih Terbatas pada Seremonial

0
Penanganan Banjir Aceh Masih Terbatas pada Seremonial. (Foto: RMOL)

NUKILAN.id | Banda Aceh Penanganan banjir di Aceh dinilai belum menyentuh akar permasalahan, masih berkutat pada respons darurat yang bersifat sementara. Hal ini membuat bencana banjir terus berulang setiap tahun, terutama menjelang akhir tahun saat intensitas hujan meningkat.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Afifuddin Ical, mengatakan bahwa pemerintah Aceh belum memiliki kebijakan yang komprehensif dalam penanganan banjir. Menurutnya, tindakan yang dilakukan selama ini hanya berupa upaya pemadaman kebakaran yang bersifat insidental, yakni baru bertindak ketika banjir telah terjadi.

“Pemerintah dalam menangani banjir hanya mengandalkan respons darurat, seperti pemadam kebakaran. Akibatnya, banjir terus berulang setiap akhir tahun, seolah-olah pemerintah tidak memiliki konsep yang matang dalam penanganan banjir,” ujar Afifuddin kepada Kompas di Banda Aceh, Selasa (15/10/2024).

Penanganan Banjir Sebatas Seremonial

Afifuddin menilai, sebagian besar penanganan banjir di Aceh hanya bersifat seremonial. Ia menyebut bahwa simulasi bencana dan penyelamatan yang sering digelar oleh pemerintah, meskipun penting, hanya bersifat formalitas belaka tanpa diiringi aksi nyata di lapangan.

“Seringkali, respons pemerintah terhadap banjir lebih banyak pada kegiatan seremonial, seperti simulasi penyelamatan bencana. Padahal, kegiatan semacam itu seharusnya diikuti dengan langkah konkret di lapangan,” tegasnya.

Menurutnya, penanganan yang efektif seharusnya dimulai dengan upaya pencegahan yang terintegrasi. Misalnya, pemerintah dapat menerapkan konsep pencegahan bencana di setiap sekolah agar generasi muda siap menghadapi situasi bencana.

Deforestasi Memperparah Banjir

Afifuddin juga menyoroti deforestasi sebagai salah satu penyebab utama banjir di Aceh. Penebangan hutan yang tidak terkendali, terutama di kawasan hutan lindung, memperburuk daya tampung lingkungan dan memicu banjir besar di sejumlah wilayah di Aceh.

“Deforestasi di Aceh sangat mengkhawatirkan dan menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi banjir. Pemerintah harus serius menangani hal ini dengan menekan angka deforestasi,” ungkapnya.

Afifuddin juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan Hak Guna Usaha (HGU) di kawasan hutan Aceh. Menurutnya, banyak HGU yang tidak lagi memenuhi daya dukung lingkungan dan keberadaannya perlu ditinjau ulang.

“HGU yang ada harus dievaluasi, terutama yang berada di kawasan hutan. Banyak yang tidak sesuai lagi dengan daya tampung dan daya dukung lingkungan,” tambah Afifuddin.

Seruan untuk Menghentikan Perambahan Hutan

Sebagai langkah konkret, Afifuddin mendesak pemerintah untuk segera menghentikan aktivitas perambahan hutan, terutama di kawasan hutan lindung, demi mencegah bencana banjir yang lebih besar di masa mendatang.

“Setop perambahan hutan, khususnya di kawasan hutan lindung, jika kita ingin mencegah banjir di masa depan,” tutupnya.

Banjir yang berulang kali melanda Aceh menunjukkan bahwa penanganan bencana di wilayah ini memerlukan langkah yang lebih dari sekadar seremonial. Aksi nyata dan kebijakan yang terintegrasi diperlukan agar bencana banjir tidak lagi menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat Aceh.

Editor: Akil

BPPA Bersama Dinas Sosial Aceh Pulangkan Mahasiswa dari Lebanon Akibat Konflik Israel

0
BPPA Bersama Dinas Sosial Aceh Pulangkan Mahasiswa dari Lebanon Akibat Konflik Israel. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta, bekerja sama dengan Dinas Sosial Aceh, kembali memulangkan mahasiswa asal Aceh yang terdampak konflik di Lebanon. Pemulangan ini dilakukan seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik antara Lebanon dan Israel.

Salah satu mahasiswa yang dipulangkan adalah Muhammad Al Hafidz Luthfi (24), yang tiba di Jakarta pada Senin, 7 Oktober 2024. Selain itu, dua mahasiswa lainnya, Wahyu Hidayatullah dan Zainal Abidin, juga tiba di Jakarta pada 10 Oktober 2024.

Plt Kepala BPPA, Said Marzuki SIP MSI, menjelaskan bahwa pemulangan ini merupakan bagian dari program evakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilakukan oleh pemerintah akibat memburuknya situasi di Lebanon.

“Pemulangan ini merupakan arahan langsung dari Pj Gubernur Aceh, Dr. Safrizal ZA, M.Si, yang meminta agar warga Aceh di Lebanon terus dipantau dan difasilitasi selama di Jakarta,” ujar Said.

Selama berada di Jakarta, Luthfi dan rekan-rekannya ditempatkan di Rumah Singgah Pemerintah Aceh di Cipinang, Jakarta Timur. Mereka berada di bawah pengawasan tim Subbidang Hubungan Antar Lembaga dan Masyarakat BPPA.

Evakuasi para mahasiswa dari Lebanon dilakukan atas kerja sama antara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut, dan perwakilan RI di Timur Tengah. BPPA kemudian memfasilitasi kepulangan mereka dari Jakarta ke Aceh.

“Kami hanya memfasilitasi tempat singgah di Jakarta serta pemulangan mereka ke Aceh,” tambah Said.

Menurut data yang dimiliki BPPA, terdapat delapan warga Aceh, termasuk mahasiswa, yang telah berhasil dievakuasi dari Lebanon dalam empat kloter.

“Kloter keempat baru saja tiba. Sebelumnya, tiga kloter telah berhasil dipulangkan dan mereka sudah berkumpul dengan keluarganya di Aceh,” jelas Said.

Muhammad Al Hafidz Luthfi, salah satu mahasiswa yang dipulangkan, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Aceh, khususnya kepada Pj Gubernur Aceh Safrizal, serta BPPA dan Dinas Sosial Aceh.

“Alhamdulillah, saya telah sampai di Indonesia. Terima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan,” ungkap Luthfi.

Luthfi dipulangkan ke Aceh dengan menggunakan penerbangan Lion Air dari Bandara Soekarno-Hatta. Koordinasi pemulangan dilakukan bersama Kasi Perlindungan Bencana Sosial Dinas Sosial Aceh, Fajri Mursidan, SE, yang turut memfasilitasi tiket penerbangan mahasiswa tersebut kembali ke Aceh.

Pemulangan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Aceh untuk melindungi warganya di luar negeri, khususnya di wilayah-wilayah konflik seperti Lebanon.

Editor: Akil