Beranda blog Halaman 864

Menyambut Program Makan Bergizi Gratis

0
Ilustrasi makan bergizi gratis. (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.id | Opini – Tidak terasa kita akan memasuki momentum transisi pemerintahan setelah melewati pemilihan presiden yang dilaksanakan pada 14 Februari 2024. Tahap demi tahap telah selesai dilaksanakan, mulai dari kampanye, mencoblos di bilik suara, penghitungan hasil, putusan Mahkamah Konstitusi atas sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres), hingga adanya Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih periode 2024-2029.

Indonesia bukan lagi di fase memperdebatkan siapa pemimpin terbaik, siapa pemimpin yang layak, siapa pemimpin yang harus dipilih. Bukan lagi berada di fase terpecah-pecah karena nomor, warna partai, pilihan politik, hingga kepentingan lainnya. Namun, Indonesia ada pada tahap di mana putusan KPU ini menjadi dasar untuk kita kembali bersatu dan berharap kepada pemimpin yang telah terpilih dapat memberikan kebijakan sebaik-baiknya dan sepenting-pentingnya untuk rakyat Indonesia.

Pada saat debat kelima Pilpres 2024 pada 4 Februari 2024 yang bertemakan kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi, salah satu program yang diusung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, adalah makan gratis. Bahkan, Prabowo Subianto sepanjang debat menyebutkan delapan kali frasa ‘makan gratis’. Dalam debat tersebut dijelaskan bahwa program makan gratis ini diharapkan dapat memastikan tercapainya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Sebelumnya, pada 20 Desember 2023 dalam acara Konsolidasi Nasional Relawan Prabowo-Gibran Digital Team di Jakarta, anggaran yang diperlukan untuk merealisasikan program tersebut mencapai Rp450 triliun, seperti yang disampaikan oleh anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Hashim Djojohadikusumo. Baru-baru ini, dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa Pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bakal menggelontorkan anggaran sampai Rp800 miliar per hari untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jika diimplementasikan secara penuh, akan menjangkau hingga 82,9 juta penerima dengan anggaran sebesar Rp400 triliun. Kepala Badan Gizi Nasional juga menyebutkan bahwa program ini menjadi bagian dari investasi besar pemerintah dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) melalui penyediaan makan bergizi secara gratis kepada jutaan penerima.

Dalam Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2024-2045, salah satu poin yang diatur adalah pemanfaatan produksi lokal, termasuk pangan daerah. Meski demikian, konsep dalam RPJPN belum memberikan target keberhasilan makan bergizi gratis dalam hal meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Dari perspektif regulasi, program Makan Bergizi Gratis ini memerlukan dukungan yang kuat dari legislatif tentu karena pelaksanaannya tidak lepas dari jumlah anggaran negara yang akan dikeluarkan dan konsistensi program selama lima tahun ke depan. Di beberapa negara, penyediaan makanan bergizi di sekolah telah diatur melalui undang-undang. Misalnya, di Amerika Serikat terdapat National School Lunch Act 1946, di Jepang ada Shokuiku Kihon Hō 1954, di Finlandia Perusopetuslaki 1998, di Brasil Lei No. 11,947/2009, di Swedia Skollagen 2010, di India National Food Security Act 2013, dan di Inggris ada Children and Families Act 2014.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 juga menjadi penting sebagai dasar penguatan program makan bergizi gratis dalam lima tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. RPJMN memberikan kerangka strategis yang jelas dalam menetapkan prioritas pembangunan, termasuk upaya peningkatan gizi masyarakat. Dengan mengikuti acuan ini, program makan bergizi gratis dapat dirancang secara sistematis dan terukur, memastikan alokasi sumber daya yang efisien serta pencapaian target-target pembangunan yang spesifik. Selain itu, integrasi program ini dalam RPJMN memungkinkan pengawasan dan evaluasi yang lebih baik, sehingga efektivitas dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dapat dipantau secara berkala, mendukung tercapainya visi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Program unggulan Presiden dan Wakil Presiden terpilih ini tentu harus dilandasi oleh perencanaan yang matang dan berkualitas. Menggelontorkan Rp800 miliar per hari tentu bukanlah angka yang kecil, apalagi sumbernya berasal dari anggaran negara. Pemerintah melalui Bappenas, Badan Gizi Nasional, serta kementerian/lembaga terkait perlu mengkaji dan merumuskan bagaimana teknis pelaksanaan di lapangan, siapa saja target penerima, tata kelola dan kewenangan, hingga apa saja indikator keberhasilan program ini.

Berbicara soal teknis pelaksanaan di lapangan, tentu cakupannya sangat luas. Mulai dari apa saja nutrisi dalam makan bergizi gratis yang tepat, siapa saja tender yang terlibat, pemilihan menu makan bergizi gratis, hingga bagaimana keterlibatan antar pihak yang mendukung berjalannya program ini. Selain itu, perlu adanya sinkronisasi data tentang siapa saja target penerima, apakah data yang ada saat ini sudah akurat sebagai calon penerima yang tepat sasaran. Karena sifatnya adalah data nasional, maka diperlukan sinkronisasi data yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. Harapannya, data yang akurat bisa menargetkan penerima makan bergizi gratis yang tepat sasaran, sehingga bisa mencapai tujuan awal dari program ini.

Hal lainnya yang perlu dirumuskan adalah bagaimana tata kelola dan kewenangan. Tentu bagian ini merupakan hal yang harus diperhitungkan secara hati-hati. Perlu adanya regulasi yang memberikan dasar hukum kepada pihak-pihak yang terlibat, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, desa/kelurahan, hingga pemangku kepentingan lainnya. Kebijakan atau keputusan yang diambil harus berasal dari adanya kewenangan yang diamanatkan oleh regulasi. Pembagian kewenangan yang jelas dapat mencegah terjadinya maladministrasi, serta titik kulminasinya menjadi upaya preventif pencegahan korupsi.

Berbicara tentang tata kelola sebagai pelaksanaan suatu program yang bersumber dari keuangan negara haruslah mengedepankan good governance. Dibutuhkan transparansi serta keterbukaan dalam pelaksanaan makan bergizi gratis. Kita perlu melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu, di mana malpraktik dan korupsi pada Proyek Strategis Nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah terjadi karena tata kelola yang tidak berkualitas, sehingga memberikan ruang/celah kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan sepihak dari berjalannya program tersebut.

Yang tidak kalah penting adalah menetapkan apa saja indikator keberhasilan pelaksanaan makan bergizi gratis. Saat ini belum tergambar secara jelas apa sebenarnya target dari makan bergizi gratis ini. Berbicara tentang perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) cakupannya masih sangat luas, apalagi jika dibayangkan sampai 2045. Apakah program ini menargetkan perbaikan gizi anak Indonesia, apakah menargetkan penurunan stunting, dan lain sebagainya. Perlu ada upaya merumuskan indikator yang tepat dari pelaksanaan program ini. Keterlibatan publik dan akademisi bisa menguatkan tercapainya pelaksanaan program ini sehingga tepat sasaran.

Menggelontorkan Rp800 miliar per hari bukanlah angka kecil yang sumbernya berasal dari anggaran negara. Pengelolaan keuangan negara dalam hal ini makan bergizi gratis harus didasarkan pada pengelolaan yang matang, sehingga setiap satu rupiah yang dikeluarkan dari uang rakyat dapat dipertanggungjawabkan.

Pelibatan publik, akademisi, teknokrasi, dan berbagai pihak merupakan langkah awal untuk memantapkan program makan bergizi gratis. Semua program tujuannya adalah baik untuk rakyat, namun tujuan ini harus semakin dimantapkan dengan pelaksanaan yang kredibel, sehingga apa yang menjadi cita-cita pemerintah melalui program ini dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Penulis: Nicholas Martua Siagian, S.H. (Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia)

PB HMI Kunjungi KIP Aceh, Bahas Persiapan Pilkada 2024

0
PB HMI Kunjungi KIP Aceh, Bahas Persiapan Pilkada 2024. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melakukan kunjungan penting ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh pada Jumat (18/10/2024) untuk membahas persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan digelar pada 27 November mendatang.

Pertemuan tersebut berlangsung di ruang kerja Ketua KIP Aceh, Agusni AH, yang menyambut langsung delegasi HMI. Tiga perwakilan HMI, yaitu Wakil Sekretaris Jenderal Rizki Alif Maulana, Mahdi Arifan, dan T. Irvan Juanda Rc, hadir dengan membawa agenda strategis yang tidak hanya membahas situasi politik lokal, tetapi juga memperhatikan perkembangan geopolitik global.

“Kami mengapresiasi komitmen HMI dalam mendukung proses demokrasi, khususnya untuk memastikan Pilkada damai di Aceh dan seluruh Indonesia,” kata Agusni AH usai pertemuan.

Rizki Alif Maulana menegaskan bahwa HMI siap berperan aktif dalam mengawal pelaksanaan Pilkada agar berlangsung lancar dan demokratis. Menurutnya, sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, HMI memiliki pengaruh signifikan, terutama di kalangan pemilih muda.

“Kami ingin berkontribusi untuk memastikan Pilkada berjalan dengan baik. Pertemuan ini menjadi sinyal positif bagi kolaborasi antara penyelenggara pemilu dan elemen masyarakat sipil, khususnya organisasi kemahasiswaan,” ungkap Rizki.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mewujudkan Pilkada yang bebas dan adil.

“Tidak hanya HMI, tetapi seluruh organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat harus berperan aktif dalam mengawal proses demokrasi ini,” tambahnya.

Rizki berharap agar kesadaran untuk mensukseskan Pilkada secara damai tumbuh di semua kalangan.

“Yang terpenting, setiap pihak memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan suasana Pilkada yang damai dan kondusif di Aceh,” pungkasnya.

Editor: Akil

Apa yang Dilakukan Pj Subandy Untuk Menyelamatkan Daerah?

0

Nukilan | Feature-  Aceh Tengah sedang mati suri. Banyak persoalan yang bermunculan, membutuhkan kemampuan dan keseriusan dalam menyelesaikanya. Apa upaya yang akan dilakukan Pj Bupati Aceh Tengah dalam “menyelamatkan” Aceh Tengah yang sedang sakit ini?

Apakah Pj Bupati Aceh Tengah Subandy hanya mengeluarkan “jurus” cari selamat? Menyelesaikan tugasnya hanya sekedar kewajiban,  hingga terlantiknya bupati/wakil bupati terpilih pada Januari 2025.

Atau benar benar serius menata negeri yang sedang “sakit” ini. Publik berharap Pj Bupati Aceh Tengah Subandy serius memperbaiki tatatan daerah yang sudah mati suri ini, lesu darah.

Bukan hanya sekedar memakai jurus mencari selamat hingga terlantiknya bupati terpilih Janurai 2025 (itu juga kalau tidak ada sengketa Pilkada). Bukan hanya melakukan sejumlah kegiatan serimonial, apalagi Pj Bupati merupakan putra daerah dan didukung oleh Pj Sekda yang dipilih Subandy.

Berbeda dengan Pj sebelumnya, T. Mirzuan yang tidak mendapat dukungan Sekda (Subandy) dalam melaksanakan kegiatanya. Mirzuan hanya melaksanakan kegiatan apa adanya, tidak berani melakukan terobosan. Dia hanya mengupayakan biduk haluan selamat sampai ke pulau harapan.

Sejumlah persoalan daerah muncul kepermukaan. Catatan penulis, semua persoalan itu muaranya ke tampuk pimpinan. Bila Pj Bupati Aceh Tengah serius mengatasinya, satu persatu persaoalan itu mampu disederhanakan, diselesaikan dengan baik.

Kondidi daerah saat ini tidak terlepas dari peran Subandy ketika memegang jabatan Sekda. Sudah menjadi rahasia publik, dinas- dinas di Aceh Tengah saat ini mati suri. Bukanlah berlebihan kalau disebutkan dinas dinas itu sepi. Apalagi Pj Bupati kurang harmonis dalam membangun komunikasi. Hanya kelompok tertentu yang menjadi kepercayaan Pj Bupati.

Persoalan anggaran, defisit daerah menjadikan dinas-dinas ini lesu darah. Jangankan untuk mengerakan kegiatan, untuk operasional dinas, banyak dinas yang “kelimpungan”. Apalagi mereka harus menyiapkan dana yang diluar perhitungan.

Catatan penulis, saat menjelang dilangsungkan PON di Aceh Tengah dan paska PON, banyak dinas yang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyukseskan PON. Misalnya, para kepala dinas mengerahkan satuanya untuk membersihkan arena.

Gotong royong itu membutuhkan biaya yang ditanggung dinas, minimal untuk minum, snack mereka dilapangan. Sementara pos untuk itu tidak ada, dan kegiatan gotong royong itu bukan hanya sekali dilaksanakan.

Pada saat gotong royong Pj Bupati Aceh Tengah, Subandy menjanjikan akan mencairkan TC (tunjangan kinerja) ASN. Namun kenyataanya janji itu sampai saat ini belum diketahui apakah akan terealisasi.

Masalah di daerah penghasil kopi ini cukup kompleks, mulai dari defisit anggaran dan sejumlah persoalan lainya. Dampak dari defisit, Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi korban. Dinas-dinas lesu darah tidak “bergerak” lebih banyak menunggu.

Ada persoalan lainya,  sejumlah jabatan banyak yang kosong, sehingga memunculkan persoalan baru bila dibiarkan. Hingga saat sekarang ini sudah menjadi rahasia umum banyak jabatan yang lowong.

Padahal di sejumlah jabatan itu banyak kegiatan yang memerlukan pertanggungjawaban. Siapa yang akan bertanggungjawab bila sampai habis masa anggaran jabatan itu masih kosong?

Dilain sisi masyarakat diberatkan dengan melonjaknya  pajak yang kenaikanya mengejutkan. Demikian dengan soal jual beli tanah, terasa di masyarakat sangat memberatkan. Daerah mengalami defisit, namun masyarakat “dipaksa” mendongkrak PAD melalui  kenaikan nilai pajak.

ASN dan Pajak

Soal defisit membawa dampak sangat besar pada ASN di Aceh Tengah. Mereka harus menanggung beban untuk menutupi defisit. Hak hak mereka hilang. Lantas bagaimana kinerja mereka? Perkantoran sepi.

“Kami menjadi korban dengan defisit anggaran. Tunjangan kinerja kami tidak jelas. Tunjangan kinerja kami untuk menutup defisit, sehingga kami tidak pernah mendapatkan TC sudah mencapai 10 bulan,” sebut salah seorang ASN yang enggan jati dirinya disiarkan.

Nilai TC ini  tergantung klasifikasinya. Secara keseluruhan cukup besar, milyaran rupiah. Padahal ASN sangat berharap ada TC yang mereka terima. Karena rata rata ASN banyak yang “menggadaikan” SK nya di bank. Otomatis nilai yang mereka terima berkurang setiap bulanya, setelah adanya pemotongan bank.

Salah satu harapan ASN dalam membantu penghidupan keluarga adalah TC. Namun daerah defisit, TC ASN tidak ada kejelasan, walau Pj Bupati Subandy menjanjikan akan merealisasikanya. Namun kapan dan berapa bulan? Defisit telah membuat TC ASN sebagai satu langkah upaya menutupi kekurangan daerah.

Sementara itu demo yang dilakukan petugas kebersihan ke DPRK Aceh Tengah soal honor mereka pada bulan Desember 2023 yang belum dibayarkan pemerintah daerah, sampai kini juga belum ada kejelasan.

Dilain sisi, masyarakat juga dikejutkan dengan kenaikan pajak, baik untuk penginapan, makanan, dan pajak jual beli tanah, serta kenaikan sewa ruko Pemda.

Publik pada prinsipnya bukan keberatan dengan pembayaran pajak, namun kenaikan yang “mendadak” tanpa mempertimbangkan keadaan ekonomi belum membaik, membuat banyak pihak yang melakukan protes atas kenaikan pajak ini.

Menyinggung soal BPRS Gayo, nasabah menyesalkan sikap Pemda Aceh Tengah yang memilih diam. Padahal Pemerintah daerah memilki sebuah bank yang mentereng, namanya BPRS. Dimana pemerintah kabupaten Aceh Tengah sebagai komisarisnya. Bank itu bermasalah, uang nasabah raib dari bank ini.

Persoalannya memang sedang ditangani pihak Polda Aceh dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan pihak penyidik. Namun nasib nasabah juga tidak ada kejelasan. Sebagai pemilik saham, pemerintah daerah tidak pernah memberikan pemahaman, penjelesan kepada nasabah yang sudah dirugikan.

Pemerintah daerah memilih diam dan menyerahkan persaoalan itu kepada OJK dan penyidik. Seharusnya demi kenyamanan dan kepercayaan publik kepada bank pemerintah, pemda memberikan penjelasan bagaimana sudah perkembangan bank ini, bagaimana nasib nasabah, apa yang sudah dilakukan Pemda. Namun pemda tidak berupaya melindungi dan memberikan kenyamanan kepada nasabahnya.

Soal defisit

Bagaimana sudah perkembangan defisit Aceh Tengah? Apa yang sudah dilakukan Subandy berduet dengan Erwin Pratama sebagai Sekda? Publik bagaikan sulit mendapatkan informasi, petinggi di Aceh Tengah ini tertutup untuk publik.

Berulang kali penulis mencoba menghubungi untuk mendapatkan keterangan, namun informasi itu masih sangat mahal didapatkan dari seorang Subandy dan Pj Sekda.

Seharus Subandy  yang lebih mengetahui secara  persoalan ini, karena sebelumnya dia menjabat sebagai Sekda Aceh Tengah yang secara otomatis menjadi ketua ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Dia harus memberikan penjelasan ke publik soal apa yang dialami daerah.

Sebelumnya disebut sebut defisit di daerah ini mencapai Rp 119 miliar lebih. Bagaimana kini keadaanya? Masih sulit didapatkan gambaranya dan apa yang sudah dilakukan Pj Bupati dan Sekda dalam menyelesaikan persoalan yang membawa dampak pada banyak sisi penghidupan ini.

Kini dikabarkan Pemerintah daerah akan mengeluarkan Perbup untuk anggaran tahun 2025. Alasanya klasik, karena Pimpinan DPRK Aceh Tengah yang baru dilantik belum mendapatkan legitimasi untuk mengesahkan anggaran.

Tetapi bila diurai akar persoalanya, bukan sepenuhnya keterlambatan itu berada di dewan. Walau Dewan sebelumnya lambat membahas anggaran. Terjadi tarik ulur, pihak eksekutif juga lambat mengajukan pembahasan anggaran yang sudah ditetapkan sesuai jadwal.

Sementara itu, komunikasi antara eksekutif dan legeslatif  saat ini belum “harmonis”.  Masing masing masih dengan prinsipnya. Penulis sampai saat ini belum mengetahui adanya pertemuan harmonis antara eksekutif dan legeslatif.  Sebuah pertemuan khusus dalam membangun komunikasi yang baik.

Sementara dilain sisi, Dinas-Dinas di Aceh Tengah “lesu” darah. Mereka lebih banyak menunggu disaat negeri ini sedang sakit, anggaran yang tidak ada, ditambah TC ASN belum ada kepastian, telah membuat aktivitas mati suri.

Aceh Tengah sedang sakit. Masyarakat berharap Pj Subandy mampu mendapatkan obat penawar, bukan membiarkanya dan hanya mencari jurus selamat dalam melaksanakan tugas. Hanya melaksanakan rutinitas dan seriomonial.

Apalagi Subandy sebagai putra daerah yang mendapat dukungan dari Sekda atas kepercayaan Subandy. Berbeda dengan Pj saat dijabat Mirzuan, yang ada batu sandungan dalam melangkah.

Publik menunggu apa yang akan dilakukan Subandy dalam “mengobati” luka, dimana hadirnya luka ini ada peran Subandy didalamnya  ketika menjabat Sekda, sebagai  ketua TAPD.

Mampukah Subandy melakukanya, atau hanya mencari jurus selamat, atau kembali melempar handuk seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Masyarakat sangat berharap, duetnya Subandy dengan Erwin Pratama mampu membawa perubahan, menjadi penawar negeri yang sedang sakit. **** Bahtiar Gayo

 

Hari Oeang ke-78: Kemenkeu Aceh Kunjungi Rumah Singgah BFLF

0
Kemenkeu Aceh Kunjungi Rumah Singgah BFLF. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati Hari Oeang ke-78, perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Aceh melakukan kunjungan ke Rumah Singgah Blood For Life Foundation (BFLF) pada Selasa (15/10/2024). Kehadiran rombongan Kemenkeu, yang dipimpin oleh Kepala Bidang P2 Humas Kanwil Pajak Aceh, Ridho Syafuddin, mendapat sambutan hangat dari Michael Octaviano, pendiri BFLF Indonesia.

Michael menjelaskan bahwa BFLF didirikan untuk membantu warga yang kesulitan mencari tempat tinggal selama menjalani perawatan medis di Banda Aceh, khususnya di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Zainoel Abidin (RSUDZA).

“Kami menyewa sebuah rumah di kawasan Lampriet yang dekat dengan rumah sakit agar memudahkan pasien yang membutuhkan perawatan intensif,” ujar Michael.

Ia juga mengungkapkan bahwa masa sewa rumah sempat berakhir pada Agustus lalu, namun berkat dukungan dari donatur, operasional rumah singgah dapat dilanjutkan. Hingga kini, BFLF telah menampung pasien dari berbagai daerah di Aceh dengan durasi tinggal mulai dari beberapa bulan hingga dua setengah tahun. Michael menegaskan bahwa seluruh operasional BFLF sepenuhnya bergantung pada donasi masyarakat.

Kunjungan ini tak hanya sekadar peringatan, namun juga bentuk apresiasi terhadap kerja sosial yang dilakukan BFLF. Ridho Syafuddin menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi BFLF dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Kami sangat berterima kasih bisa berkunjung dan memperingati Hari Oeang ke-78 di sini. Melihat langsung fasilitas yang ada, seperti ambulans, kami merasa BFLF sangat membantu meringankan beban pasien,” kata Ridho.

Lebih jauh, Ridho berharap kunjungan ini dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat antara pemerintah dan lembaga sosial di Aceh. “Kami berharap kunjungan ini bisa membawa manfaat. Kemenkeu siap mendukung misi BFLF ke depannya,” ujarnya.

Rombongan Kemenkeu yang hadir dalam kunjungan tersebut melibatkan berbagai instansi terkait, termasuk Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Aceh, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Aceh, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Aceh, dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Kanwil DJKN) Aceh.

Kunjungan ini menjadi simbol komitmen Kemenkeu Aceh dalam memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga sosial demi meringankan beban masyarakat yang membutuhkan.

Editor: Akil

MTsN 1 Aceh Barat Luncurkan Kelas Digital, Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

0
MTsN 1 Aceh Barat Luncurkan Kelas Digital untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Meulaboh – Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Aceh Barat resmi meluncurkan program Kelas Digital Jelajah Ilmu, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan berbasis teknologi. Peluncuran ini dilakukan di halaman madrasah pada Kamis (17/10/2024), dan diresmikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, H. Abrar Zym, S.Ag., M.H.

H. Abrar Zym mengapresiasi terobosan MTsN 1 Aceh Barat yang menjadi salah satu pionir dalam penerapan kelas digital di daerah tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran merupakan langkah penting untuk memajukan dunia pendidikan di Aceh Barat.

“Pemanfaatan teknologi digital harus diselaraskan dengan penguatan iman dan taqwa (IMTAQ). Langkah ini akan membawa siswa madrasah tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga berakhlak mulia,” ujarnya.

Ia juga berharap, dengan hadirnya kelas digital, siswa-siswa madrasah di Aceh Barat dapat bersaing di berbagai ajang perlombaan tingkat nasional.

Selain MTsN 1 Aceh Barat, tercatat ada tiga madrasah lain di wilayah ini yang juga telah menerapkan kelas digital, yakni MAN 1 Aceh Barat, MTsN 3 Aceh Barat, dan MTsS Harapan Bangsa Meulaboh.

Kepala MTsN 1 Aceh Barat, Dra. Asmanidar, menambahkan bahwa program Kelas Digital ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Aceh Barat. Menurutnya, MTsN 1 Aceh Barat merupakan sekolah pertama di Kecamatan Samatiga yang menerapkan konsep kelas digital.

“Kami meluncurkan dua kelas digital untuk memulai program ini. Meskipun lokasi madrasah berada jauh dari pusat kota, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelas Asmanidar.

Ketua Komite MTsN 1 Aceh Barat, Risan Ismar, turut memberikan dukungannya terhadap program ini. Ia menyatakan bahwa meskipun madrasah memiliki berbagai keterbatasan fasilitas, semangat untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi siswa tetap menjadi prioritas.

“Kami berharap, dengan adanya kelas digital ini, madrasah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lain di Indonesia, sehingga Aceh Barat dapat dikenal dengan prestasi pendidikan yang membanggakan,” pungkasnya.

Editor: Akil

25 Mahasiswa UTU Ikuti Program Student Mobility di Universiti Putra Malaysia

0
25 Mahasiswa UTU Ikuti Program Student Mobility di Universiti Putra Malaysia, (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Meulaboh – Sebanyak 25 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) berpartisipasi dalam program International Student Mobility and Events (ISME) di Universiti Putra Malaysia (UPM). Kegiatan yang berlangsung di Kolej Sultan Alaeddin Suleiman Shah (KOSASS) UPM ini berlangsung selama empat hari, dari 6 hingga 15 Oktober 2024.

Program student mobility ini bertujuan memberikan pengalaman belajar di luar negeri sekaligus mempererat hubungan akademis antara UTU dan UPM. Mahasiswa peserta mengikuti berbagai aktivitas, termasuk academic presentation, English public speaking, memasak antar budaya, futsal, pentas seni, serta mengikuti kelas BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing).

Pengetua KOSASS UPM, Prof. Madya Dr. Amini Amir bin Abdullah, dalam sambutannya pada acara pembukaan, menyampaikan bahwa program ini sudah lama direncanakan namun baru bisa terlaksana tahun ini. Ia mengungkapkan apresiasi dan harapannya agar program tersebut terus dilanjutkan di masa depan.

“Kami sangat senang akhirnya program ini bisa terwujud setelah sekian lama tertunda. Ini adalah langkah penting bagi mahasiswa dari kedua universitas, di mana mereka menjadi agen perubahan yang membawa misi budaya dan perdamaian antara Indonesia dan Malaysia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Madya Dr. Amini Amir menjelaskan bahwa program ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, baik dari sisi pengalaman maupun wawasan.

“Mahasiswa yang terlibat akan mendapatkan pengalaman menarik yang memperluas wawasan mereka. Tahun lalu, kami juga mengirim mahasiswa UPM ke UTU dalam program yang sama,” tambahnya.

Rektor UTU, Prof. Dr. Ishak Hasan, M.Si, menyatakan harapannya agar kerja sama antara UTU dan UPM terus berkembang, terutama dalam bidang pengajaran, pengabdian masyarakat, dan penelitian.

“Melalui program ini, baik mahasiswa maupun dosen memperoleh pengalaman baru yang berharga. Kami berkomitmen untuk menjalin hubungan timbal balik dengan UPM setiap tahunnya,” jelas Prof. Ishak.

Ia juga menambahkan bahwa UPM merupakan salah satu universitas terbaik di Malaysia, sehingga diharapkan para mahasiswa UTU dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menimba ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

“Tujuan utama program ini adalah untuk memberikan keberanian kepada mahasiswa dalam tampil, belajar hal-hal baru, serta beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang berbeda,” katanya.

Program ini juga diharapkan mampu memotivasi para mahasiswa untuk terus berkembang dan mengimplementasikan ilmu yang mereka peroleh selama berada di UPM. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mendapatkan wawasan tambahan tentang komunikasi antarbudaya.

Selain mahasiswa, program ISME ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UTU, H. Ibrahim Laweung HS, SKM., MNSc, Kabiro Umum dan Keuangan Zulfirman, SE., M.Si, Kabiro AKPK Renaldi Iswan, ST., M.Sc, serta Ketua Felo KOSASS UPM, En. Ahmad Alfan Hidayat Ahmad Khalili.

Editor: Akil

Ditugaskan di Komisi VI, Ghufran Komitmen Optimalkan BPK Sabang untuk Aceh

0
Ghufran Zainal Abidin. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI baru saja mengumumkan penambahan jumlah komisi dari 11 menjadi 13, sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kerja legislatif dan pengawasan pemerintah. Dalam rotasi tersebut, Ghufran Zainal Abidin, wakil rakyat dari Dapil Aceh I, mendapatkan penugasan baru di Komisi VI.

Penunjukan ini disampaikan oleh pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Kamis, 17 Oktober 2024. Komisi VI memiliki tanggung jawab yang luas, termasuk pengawasan terhadap Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN, Kementerian Koperasi, serta badan-badan penting lainnya, seperti Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Pengusahaan Kawasan (BPK) Sabang.

Dalam wawancaranya dengan Nukilan.id, Ghufran menyatakan, “Ini merupakan kepercayaan yang akan saya jalankan dengan maksimal dan nyata secara kinerja.”

Ia menganggap penugasan ini sebagai tantangan sekaligus kesempatan untuk berkontribusi lebih besar dalam pembangunan ekonomi, khususnya bagi Aceh.

Ghufran menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kepentingan Aceh, terutama dalam memperkuat keberadaan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

“Pasti saya akan perjuangkan kepentingan Aceh, terutama BUMN di Aceh, termasuk BPK Sabang yang menjadi mitra di Komisi VI,” tambahnya.

Salah satu fokus utama Ghufran adalah mengoptimalkan peran BPK Sabang dalam pembangunan ekonomi. Ia mengungkapkan pentingnya memperluas kewenangan BPK Sabang agar fungsinya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

“Kita perlu mendorong revisi regulasi yang diperlukan untuk memperkuat posisi BPK Sabang sebagai motor penggerak ekonomi di kawasan tersebut,” ujarnya.

Ghufran berencana untuk memperjuangkan peningkatan kewenangan BPK Sabang dalam pengelolaan investasi, pengembangan infrastruktur, dan fasilitasi perdagangan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Aceh, terutama melalui Kawasan Ekonomi Khusus.

“BPK Sabang harus menjadi ujung tombak dalam menarik investasi dan mengembangkan potensi ekonomi di Sabang dan sekitarnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ghufran meminta dukungan masyarakat Aceh. “Jangan saya jalan sendiri. Masyarakat Aceh wajib bersama saya mendukung pembangunan Aceh agar maju secara ekonomi,” harapnya.

Ia percaya partisipasi aktif masyarakat, termasuk pelaku usaha dan akademisi, sangat penting dalam memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sebagai langkah proaktif, Ghufran mengundang kritik dan saran dari masyarakat dalam perjuangannya di tingkat pusat.

“Saya siap untuk bekerja sama dengan rekan-rekan Aceh lainnya di DPR RI untuk mengidentifikasi isu-isu krusial yang perlu diperjuangkan di tingkat nasional,” tegasnya.

Ghufran juga menyoroti beberapa prioritas yang akan ia dorong, seperti peningkatan investasi, pengembangan infrastruktur pendukung ekonomi, dan pemberdayaan UMKM lokal.

“Kita akan berupaya agar BPK Sabang dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Aceh,” tambahnya.

Penempatan Ghufran di Komisi VI diharapkan dapat membawa angin segar bagi pembangunan ekonomi Aceh. Dengan latar belakang kuat di bidang ekonomi dan pengalamannya sebagai wakil rakyat, Ghufran diharapkan dapat menjembatani kepentingan Aceh dengan kebijakan ekonomi nasional, serta mendorong percepatan pembangunan di provinsi tersebut melalui optimalisasi peran BPK Sabang.

Editor: Akil

USK Gelar Seminar Internasional Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh

0
USK Gelar Seminar Internasional Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati dua dekade bencana tsunami yang melanda Aceh pada 2004, Universitas Syiah Kuala (USK) mengadakan seminar internasional bertajuk “Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh: Peran Beragam Pemangku Kepentingan dalam Memperkuat Ketangguhan”.

Seminar ini digelar sebagai bagian dari rangkaian acara USK Global Award on Disaster Resilience (U-DARE) 2.0 dan berlangsung pada Jumat, 18 Oktober 2024, di Aula AAC Dayan Dawood, Banda Aceh.

Acara ini dihadiri oleh para pakar dari berbagai bidang yang berfokus pada ketangguhan bencana. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., Koordinator Divisi Pendidikan Bencana TDMRC, membuka diskusi dengan memaparkan pentingnya pendidikan kebencanaan dalam menciptakan masyarakat yang tangguh menghadapi risiko bencana.

Selain itu, Ariana Leandry, Co-Founder Coronavirus Oberlin Mutual Aid Fund (COMA), berbagi pengalaman dari sudut pandang internasional mengenai pengelolaan krisis dan cara memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. Yana Levy dari Oberlin Shansi Oberlin Program juga menyampaikan gagasannya mengenai pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Sebagai pembicara tamu, perwakilan dari Human Initiative juga turut memberikan wawasan tentang peran organisasi kemanusiaan dalam memperkuat daya tahan komunitas pascabencana.

Seminar ini dipandu oleh Rizanna Rosemary, S.Sos., M.Si., MHC., PhD., yang dikenal luas melalui penelitiannya dalam mitigasi bencana. Menurut Rizanna, kolaborasi lintas sektor sangat krusial dalam memperkuat ketangguhan di berbagai lapisan masyarakat, terutama di daerah rawan bencana seperti Aceh.

Tidak hanya memberikan pengetahuan, seminar ini juga menjadi ajang memperluas jaringan antara pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga organisasi non-pemerintah.

“Ini kesempatan yang sangat berharga untuk belajar langsung dari para ahli dan berbagi pengalaman dengan peserta dari berbagai latar belakang,” kata Hendra, seorang mahasiswa kepada Nukilan.id.

Menurut Hendra, seminar ini membuka matanya tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama dalam konteks lokal di Aceh.

“Sebagai mahasiswa Aceh, ini momen refleksi yang sangat mendalam. Saya belajar bahwa pendidikan tentang mitigasi bencana harus ditanamkan sejak dini, dan itu bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga kami, sebagai generasi muda,” tuturnya dengan antusias.

Selain mendapatkan wawasan berharga, peserta seminar juga menerima e-sertifikat dan snack sebagai fasilitas tambahan. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

REI Aceh Dukung Hashim Djojohadikusumo Bangun Rumah Berbasis Bahan Lokal

0
REI Aceh Dukung Hashim Djojohadikusumo Bangun Rumah Berbasis Bahan Lokal. (Foto: Kompas)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Aceh menyatakan komitmennya untuk mendukung program pembangunan tiga juta rumah yang diusung oleh Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Gagasan ini disampaikan langsung oleh Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, yang menginginkan pembangunan rumah menyesuaikan dengan kearifan lokal di tiap daerah.

“Pelaku usaha properti siap menjadi bagian dari kesuksesan program tiga juta unit rumah. Kami juga berkomitmen mengadopsi kearifan lokal dalam pembangunan rumah di Aceh,” ujar Ketua DPD REI Aceh, Zulkifli HM Juned, dalam keterangan persnya, Kamis (17/10/2024).

Pernyataan ini merespons permintaan Hashim dalam acara Propertinomic Executive Dialogue yang digelar REI di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Hashim menekankan pentingnya desain rumah yang didanai melalui Bank BTN untuk selaras dengan budaya lokal.

“Desain rumah di Aceh harus mengadopsi arsitektur budaya Aceh yang memiliki keragaman sesuai dengan jumlah sukunya,” ujar Hashim.

Adopsi Arsitektur Lokal Ketua REI Aceh menyatakan bahwa pihaknya memahami pentingnya mengangkat budaya lokal dalam setiap pembangunan.

“Budaya dan kearifan lokal adalah khazanah kekayaan bangsa yang harus terus dipertahankan. Kami siap mendukung dengan mengaplikasikannya dalam desain rumah yang dibangun di Aceh,” jelas Zulkifli.

Menurut Zulkifli, pemanfaatan desain arsitektur berbasis lokal akan meningkatkan daya tarik calon pembeli terhadap rumah yang ditawarkan. Ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah di Aceh, sekaligus mempertahankan identitas budaya di tengah pembangunan modern.

Dukungan untuk Program Nasional Ketua Umum REI, Joko Suranto, mengapresiasi inisiatif Hashim yang melibatkan seluruh pelaku industri properti, baik di tingkat nasional maupun daerah. Menurut Joko, program tiga juta rumah per tahun merupakan lompatan signifikan bagi industri perumahan Indonesia.

“REI berkomitmen penuh mendukung program ini, karena tidak hanya mengatasi kekurangan rumah, tetapi juga mengentaskan kemiskinan dan stunting,” ujar Joko.

Dalam pelaksanaannya, program ini akan mencakup pembangunan dua juta rumah di pedesaan dan satu juta unit di perkotaan setiap tahunnya.

“Jika Prabowo menjabat dua periode, total akan ada 30 juta rumah yang dibangun, memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat,” tambah Hashim.

REI berharap, dengan terlibatnya UMKM, koperasi, serta kontraktor lokal dalam pembangunan rumah di pedesaan, lapangan pekerjaan baru akan terbuka luas. Sementara itu, di kawasan perkotaan, pihak swasta, termasuk anggota REI, dipersilakan untuk berpartisipasi dalam proyek ini, termasuk pembangunan apartemen di lahan milik pemerintah.

“Ini adalah kesempatan bagi pengembang swasta untuk berkontribusi, khususnya di perkotaan. Mari bersama-sama membangun Indonesia dengan memanfaatkan aset-aset negara yang ada,” tutup Hashim.

Editor: Akil

Tim BPA Laporkan Dugaan Pelanggaran Kampanye, Fadhil Rahmi Terancam Pidana

0
Ketua Divisi Hukum dan Advokasi BPA, Fadjri SH. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Pemenangan Aceh (BPA) melaporkan dugaan pelanggaran kampanye yang melibatkan calon Wakil Gubernur Aceh nomor urut 01, M. Fadhil Rahmi, ke Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Provinsi Aceh. Laporan tersebut disampaikan pada Jumat (11/10/2024) dengan nomor 05/LP/PG/Prov/01.00/X/2024.

Menurut Tim Hukum dan Advokasi BPA, Fadhil Rahmi diduga melakukan pelanggaran kampanye saat menghadiri acara pembukaan Olimpiade Bahasa Arab dan Konferensi Guru Bahasa Arab se-Aceh, yang digelar pada 5 Oktober 2024 di MAN 1 (MAN Model) Banda Aceh. Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Guru Musyawarah Mata Pelajaran Bahasa Arab (F-MPGP).

Dalam laporan yang disampaikan oleh Ketua Divisi Hukum dan Advokasi BPA, Fadjri SH, disebutkan bahwa kehadiran Fadhil Rahmi dalam acara tersebut dinilai sebagai bentuk kampanye terselubung. Pasalnya, berdasarkan rundown acara, tidak tercantum jadwal sambutan dari Fadhil Rahmi.

Namun, dalam kenyataannya, Fadhil Rahmi memberikan sambutan di hadapan para peserta olimpiade yang terdiri dari guru-guru Bahasa Arab di bawah naungan Kanwil Kemenag Aceh dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pendidikan Aceh.

“Kami menemukan kejanggalan dalam rundown kegiatan tersebut, di mana tidak ada agenda sambutan dari calon wakil gubernur. Namun, pada kenyataannya, M. Fadhil Rahmi memberikan sambutan di acara tersebut. Kami menduga adanya unsur kesengajaan baik dari pihak penyelenggara maupun Fadhil Rahmi sendiri, yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kampanye terselubung,” jelas Fadjri SH kepada Nukilan.id, Jumat (18/10/2024).

Selain itu, BPA juga menuding bahwa acara tersebut menggunakan anggaran pemerintah dan fasilitas pendidikan, yang dilarang digunakan untuk kegiatan kampanye. Hal ini dianggap melanggar Pasal 187 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Pasal tersebut menegaskan bahwa penggunaan fasilitas pemerintah dan pendidikan untuk kampanye merupakan pelanggaran dengan ancaman pidana penjara minimal tiga bulan hingga 18 bulan.

Panwaslih Provinsi Aceh telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada Panwaslih Kota Banda Aceh, sesuai dengan locus kejadian yang terjadi di MAN 1 Banda Aceh. “Kami berharap Panwaslih Kota Banda Aceh dapat menindaklanjuti laporan ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kami juga akan terus mengawal prosesnya hingga tuntas,” tambah Fadjri.

Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan seorang calon wakil gubernur, yang diduga memanfaatkan momentum kegiatan pendidikan untuk memperkenalkan diri di hadapan ratusan peserta.

Hingga berita ini diturunkan, tim Fadhil Rahmi belum memberikan tanggapan terkait laporan tersebut. Panwaslih Kota Banda Aceh juga belum merilis pernyataan resmi mengenai langkah lanjutan dari laporan ini. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah